Hidup Benar di Zaman yang Rusak (Nuh)

Hidup Benar di Zaman yang Rusak (Nuh)

Categories:

Bacaan alkitab: Kejadian 6:5, 8, 9; Roma 1:17

Pendahuluan

Allah berdaulat dan berotoritas untuk sejarah manusia. Keturunan Kain menjadi orang-orang yang jahat dan tidak beribadah. Mereka tidak takut akan Tuhan dan tidak memiliki norma atau sopan santun. Mereka mau hidup bebas dan mementingkan kepuasan diri. Keturunan Kain ini menguasai bumi saat itu dan mereka selalu melakukan kejahatan. Kebebasan dipakai oleh mereka untuk melakukan kecemaran. Ini menyedihkan hati Tuhan. Di sini kita melihat bahwa Tuhan berdaulat untuk menciptakan manusia yang baru dalam rancangan Tuhan. Keadilan Tuhan dinyatakan secara global bagi orang-orang fasik melalui air bah.

Mengapa Allah menyesal terhadap manusia jahat di zaman Nuh? Bisakah Tuhan membuat mereka bertobat tanpa air bah sehingga mereka beribadah kembali kepada Tuhan dalam takut akan Tuhan dan hidup teratur? Bisa. Tuhan sudah memakai Nuh untuk memberitakan firman dan menyatakan bahwa Allah itu hidup kepada mereka tetapi mereka mengolok-olok. Ketika Allah menyesal, ini bukan berarti bahwa Allah tidak tahu, tidak maha kuasa, atau tidak maha hadir. Kata ‘menyesal’ menunjukkan bahwa Alkitab ditulis dalam bahasa manusia (antropomorfis). Menyesal dalam bagian ini berarti Tuhan sangat amat sedih secara mendalam karena manusia yang diciptakannya tidak menghormati Sang Pencipta.

Apakah cara Allah membinasakan orang-orang jahat ini adalah bijaksana? Hukum tentang hukuman mati menjadi suatu pro dan kontra di berbagai negara. Ada negara yang mengizinkan dan ada yang tidak. Di dalam kekristenan pun ada denominasi yang menyetujui dan tidak menyetujui. Perjanjian Lama setuju dengan hukuman mati. Dituliskan ‘nyawa ganti nyawa’ (Ulangan 19:21). Pembunuhan yang tidak disengaja diatur oleh hukum Taurat agar ada tempat persembunyian bagi pembunuh tersebut (Ulangan 4:41-43). Maka ketika Allah mau memusnahkan orang-orang jahat di zaman Nuh, kita tidak bisa mengatakan bahwa Allah tidak bijaksana. Kita percaya bahwa Allah itu sempurna dalam kebijaksanaan, keadilan, dan dalam menentukan cara keadilan itu ditegakkan. Jika kita memakai perspektif antroposentris, maka kita akan berkata bahwa Allah tidak berjiwa kemanusiaan. Ini adalah penilaian yang tidak bijaksana.

Mengapa hanya Nuh dan keluarganya saja yang rohani di tengah zaman itu? Setelah Kain membunuh Habel, Tuhan memberikan garis keturunan yang baru yaitu Set. Dari Set pada pada akhirnya sampai kepada Nuh. Garis keturunan Set diajar untuk takut akan Tuhan, beribadah, dan taat. Inilah mengapa Nuh dan keluarganya masih mengutamakan Tuhan di zaman yang bengkok itu.

Pembahasan

1) Kualitas kerohanian Nuh

Kejadian 6:5, 8, 9 menyatakan bahwa Nuh hidup benar dan tidak bercela di tengah zaman yang bengkok, rusak, cemar, dan penuh kecurangan tersebut. Dikatakan juga bahwa Nuh bergaul dengan Allah atau berjalan dengan Allah. Ia tidak mau mengikuti jalan atau tawaran dunia yang inovatif dan menyenangkan. Di zaman Hakim-Hakim kita dapat melihat bahwa bangsa Israel yang sudah masuk ke tanah Kanaan mengambil dan hidup sesuai budaya Kanaan sehingga mereka tidak lagi menyembah Tuhan tetapi menyembah berhala. Berhala dunia dan penyembahannya itu selalu dibuat secara kreatif. Permainan-permainan di gadget bisa menjadi berhala baru di zaman ini. Setan bisa menunggangi teknologi dan menciptakan keterikatan sehingga manusia menikmatinya dan menghabiskan waktu di dalamnya sampai manusia dibuang oleh waktu. Nuh dan keluarganya berani tampil berbeda. Ia taat selama 120 tahun dalam membangun bahtera itu. Ia tidak mengikuti budaya pada zaman itu. Ketika ia hidup benar, itu bukanlah karena kekuatannya sendiri. Alkitab menyatakan bahwa kita bisa menjadi rohani bukan karena kekuatan kita melainkan karena kita mengenal Tuhan yang menciptakan, menebus, dan membarui kita. Yesus Kristus mengubah status kita yang berdosa menjadi dibenarkan. Tanpa Yesus Kristus, kita masih ada di dalam dosa. Ketika Nuh dikatakan benar, itu berarti ia memiliki hidup yang berfondasikan iman. Orang benar akan hidup oleh iman (Roma 1:17). Alkitab menyatakan bahwa orang yang benar pasti hidup dalam kebenaran. Kita hidup dari iman menuju kepada iman. Iman yang benar akan memimpin untuk hidup dalam kebenaran sehingga kita disebut sebagai orang benar.

Dari manakah datangnya iman Nuh? Kakek buyut Nuh adalah Henokh. Ia, seperti Henokh, bergaul dengan Allah. Dari mana Nuh tahu tentang Henokh? Ini pasti karena Metusalah mengajarkan kepada Lamekh dan kemudian Lamekh mengajarkan kepada Nuh dengan teratur dan sepenuh hati sampai Nuh takut akan Tuhan. Ini menyatakan bahwa mereka melakukan pendidikan iman. Kita sebagai orang tua harus mengutamakan pendidikan iman. Maka dari itu kita harus memiliki iman dan keteladanan iman sehingga kita bisa memberikan warisan iman dan tidak hanya warisan lahiriah bagi anak-anak kita. Lamekh juga mendapatkan pengajaran langsung dari kakeknya karena ketika Lamekh berumur 113 tahun, Henokh baru terangkat. Lamekh telah menjadi guru iman yang baik bagi Nuh. Amsal 10:1 Anak yang bijak mendatangkan sukacita kepada ayahnya, tetapi anak yang bebal adalah kedukaan bagi ibunya. Sistem pendidikan dalam Perjanjian Lama adalah homeschooling. Di sana para ibu sendiri yang mengajar anak-anaknya. Pembinaan karakter dilakukan oleh ayah. Jadi semua anak dilatih menjadi mandiri oleh orang tuanya. Jika anak itu menjadi orang yang tidak bijaksana, melawan Tuhan, dan melawan orang tua, maka orang tua pasti mengalami dukacita. Iman memberikan kuasa yang besar kepada Nuh sehingga ia berani membuat penerobosan. Iman menjadi fondasi hidup Nuh sehingga ia bisa hidup benar di tengah zaman yang mementingkan kesenangan dan diri sendiri.

Dikatakan juga bahwa Nuh hidup tidak bercela (kudus). Ini berarti bahwa ia tidak mau berkompromi dengan arus zaman itu. Dalam sepuluh perintah kita mempelajari bahwa kita tidak boleh menyembah allah lain, tidak boleh menyembah berhala, tidak boleh menggunakan nama Allah dengan sembarangan, harus menguduskan hari Sabat. Pada zaman ini Setan begitu kreatif dan bisa membuat berhala-berhala dari teknologi yang ada untuk memikat hati kita. Kita juga tidak boleh memakai Tuhan untuk kepentingan pribadi serta kita harus mengudukan hari Sabat. Ketika kita hidup tanpa cela, itu berarti bahwa kita telah melaksanakan sepuluh perintah Allah dan kita memiliki kemenangan iman. Ketika Yesus hidup di dunia, Yohanes mencatat bahwa mukjizat yang pertama terjadi di Kana (Yohanes 2:11) namun orang-orang Yahudi saat itu percaya bahwa mukjizat pertama yang dilakukan oleh Mesias terjadi di bait Allah. Saat Setan mau mencobai Yesus, ia membawa Yesus ke bait Allah. Ini menyatakan bahwa saat itu terjadi peperangan melawan kebenaran. Yudaisme tercipta dengan begitu banyak aturan manusia dan bukan Alkitab. Kita dikatakan tidak bercela ketika memenuhi standar kesucian Tuhan dalam relasi vertikal maupun horizontal dan memenuhi seluruh perintah Allah.

Godaan dalam zaman Nuh pasti besar, maka bisa saja keluarga Nuh menjadi sesat dan ikut dalam kawin campur. Ada peperangan budaya dalam bagian ini juga dalam zaman ini. Kita harus sungguh-sungguh berdoa kepada Tuhan. Dalam doa, kita memuji Tuhan dalam kebesaran-Nya, mengucap syukur, mengaku dosa, dan menaikkan permohonan kita. Kita tidak hanya memohon di dalam doa. Kita juga harus sering mengaku dosa dalam doa kita. Doa peperangan rohani juga kita harus naikkan sesuai dengan Efesus 6. Dalam peperangan rohani, pertama kita melawan keinginan dalam diri. Setiap kita memiliki keinginan liar, egois, dan berpusat pada diri. Keinginan inilah yang membuat kita berdosa. Kita juga harus memerangi semangat dunia dan kuasa Setan. Setan bekerja begitu giat pada masa Nuh. Ia menggoda manusia untuk membentuk budaya yang tidak memikirkan dosa dan mengandung kebebasan liar. Keturunan Kain melakukan kejahatan dan akhirnya dimusnahkan oleh Tuhan. Kain tidak pernah mengajarkan keturunannya untuk mengutamakan dan beribadah kepada Tuhan sehingga mereka tidak takut akan Tuhan serta hukuman-Nya. Nuh hidup kudus, maka ia bisa berbicara dengan Tuhan. Kita harus menguduskan hidup kita sesuai perintah Alkitab karena kita sudah dikuduskan oleh Tuhan. Kita tidak boleh berkompromi dengan dosa dan menikmatinya sedikitpun karena dosa memiliki kuasa untuk mengikat dan menghancurkan kita. Kita dapat melihat bahwa Nuh menang atas dosa.

Kita juga melihat bahwa Nuh berjalan dengan Allah dan dikenan oleh Allah. Ia hidup seperti Henokh. Nuh mencari dan memperkenan hati Tuhan melalui segala hal yang dikerjakannya termasuk di dalam keluarganya. Ia tidak takut diasingkan oleh orang-orang sekitar sehingga selama 500 tahun ia hidup sendiri dengan keluarganya. Setelah berumur 500 tahun, ia mendapatkan 3 anak yaitu Sem, Ham, dan Yafet (Kejadian 5:32). Ia meninggal pada umu 950 tahun (Kejadian 9:29). Kita dapat melihat bahwa umur manusia terus turun seiring waktu sampai Musa mengatakan “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun” (Mazmur 90:10a). Sepanjang umur Nuh, ia dan keluarganya beribadah kepada Tuhan. Ia konsisten dalam menjaga hatinya untuk Tuhan. Ini bukanlah hal yang mudah. Kita saat ini bisa mendidik anak-anak kita untuk hidup bagi Tuhan, namun apakah anak-anak kita juga akan mendidik cucu-cucu kita secara demikian? Kita hanya dapat bergantung kepada Tuhan. Nuh bisa mendemonstrasikan imannya di zaman itu dalam waktu yang lama.

 

2) Warisan iman, peperangan iman, dan ketekunan iman

a) Nuh mendapatkan warisan iman dari Lamekh—Henokh (kakek buyut)

Nuh mendapatkan warisan iman dari Lamekh dan Lamekh mendapatkan warisan iman dari Metusalah dan Metusalah mendapatkan warisan iman dari Henokh. Seluruh warisan iman ini dipelajari oleh Nuh. Ulangan 6:7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Mengapa berulang-ulang? Karena manusia mudah lupa, kehilangan fokus, dan kehilangan prioritas. Apa yang harus diulang? Pengajaran bahwa Allah itu hidup dan besar. Kita bisa melihat bahwa warisan iman itu penting bagi generasi-generasi berikutnya. Pengkhotbah 12:13 menyatakan pentingnya takut akan Tuhan. Hati yang takut akan Tuhan dimulai dari pengenalan akan Tuhan Allah yang sejati. Warisan iman ini hanya bisa diberikan jika kita memiliki disiplin rohani di dalam keluarga, memiliki keteladanan iman, dan menghidupi firman itu bersama di dalam keluarga. Kita sebagai orang Kristen harus memiliki disiplin rohani. Bukan anak yang mendisiplinkan orang tua berdasarkan keinginannya tetapi orang tua yang harus mendisiplinkan anaknya secara rohani. Jangan sampai kita sebagai orang tua dikendalikan oleh anak. Ada banyak orang tua dalam zaman ini yang sudah tidak lagi menunjukkan disiplin dan keteladanan rohani. Lamekh memiliki disiplin dalam mengajarkan Tuhan kepada Nuh. Lamekh beriman bahwa Nuh akan menjadi anak yang menghibur, bukan saja dalam hal pekerjaan tetapi juga dalam menghasilkan satu generasi yang baru dengan iman yang berkualitas.

Kita memiliki peran dalam mendidik anak dan cucu kita. Apa yang ditabur akan dituai sesuai dengan hukum tabur tuai. Kita tidak boleh mengutamakan warisan lahiriah. Jangan sampai kita menjanjikan harta materiil kepada anak-anak kita sehingga mereka tidak memiliki nilai perjuangan, mandiri, dan mengembangkan talenta di tengah zaman ini. Kita harus meminta hikmat dari Tuhan untuk bisa memberikan warisan iman. Warisan duniawi itu bisa menghancurkan. Anak yang hilang itu berfokus pada warisan dunia dan pada akhirnya ia berfoya-foya dan bersenang-senang sampai hidupnya melarat dan merana (Lukas 15:11-32). Kita harus menilai anak dengan kritera-kriteria yang benar. Hal yang harus kita utamakan adalah kerohanian anak. Pendidikan iman itu membutuhkan proses, waktu, dan perbaikan demi perbaikan. Komitmen orang tua harus terus dipegang serta anak juga harus berkomitmen sehingga keluarga bisa mencapai yang terbaik untuk Tuhan. Mungkinkah kita bertobat tanpa warisan iman? Mungkinkah orang tua sudah memberikan warisan iman namun ternyata anak menjadi orang fasik? Mungkin. Namun kita melihat dari sisi lain yaitu kehidupan Jonathan Edwards. Ia adalah seorang yang hidup benar dan hampir semua keturunannya menjadi berkat bagi sekitarnya. Di sini kita melihat ada hukum tabur tuai. Marilah kita mempelajari bahwa karena warisan iman, Nuh bisa hidup benar selama 500 tahun.

b) Nuh melakukan peperangan iman

 Nuh bisa bertahan dalam zaman yang bengkok karena ia melakukan peperangan iman. Kekudusan yang dimilikinya bukanlah bersifat pasif tetapi aktif dalam melawan serangan Setan dan dunia serta tidak kompromi dengan ajakan-ajakan dari orang-orang fasik di sekitar kita. Hidup kita dan keluarga kita diincar oleh Setan dan dosa yang seperti singa yang mengaum dan ingin memakan kita (1 Petrus 5:8). Mereka selalu memasang perangkap bagi anak-anak Allah, maka dari itu kita harus memakai perlengkapan perang rohani. Efesus 6:13-17, Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera;dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah. Ia tahu siapa lawannya dan ia tahu bagaimana mengatur strategi untuk menjatuhkan anak-anak Tuhan. Kita harus berani menghancurkan kubu-kubu dosa yang ada di sekitar dan di dalam keluarga kita. Kita membenci dosa tetapi kita mengasihi jiwa. Dalam peperangan rohani itu mungkin kita harus sampai kehilangan keuntungan materi demi bisa menang. Kita tidak memerangi mereka secara fisik dengan tongkat pemukul atau pedang tetapi secara rohani. Kita harus mendoakan lingkungan kita.

Seorang wanita datang kepada saya dan menceritakan bahwa dirinya dulu adalah seorang pelacur, namun saat ini sudah bertobat karena mendengarkan firman yang pernah disampaikan oleh Pdt. Stephen Tong di Medan. Ia adalah seorang yang berbakat dalam bahasa dan menyanyi, maka dari itu banyak tempat hiburan malam mencarinya. Saya yakin orang ini harus mengalami peperangan rohani yang begitu luar biasa setelah bertobat. Dulu saat masih berdosa ia sungguh mudah mendapatkan uang. Penghasilannya mencapai jutaan sehari. Namun setelah bertobat, ia tidak bisa lagi seperti ini. Dosa masa lalu mungkin masih bisa menghantui kita. Peperangan rohani harus kita lakukan agar tidak terjebak lagi dengan dosa yang sama. Kita harus terus merenungkan firman, bernyanyi bagi Tuhan, dan berdoa. Orang-orang di sekitar kita harus dijangkau dengan berhikmat dan di sanalah kita berperan sebagai garam. Allah menghukum manusia karena mereka terus menerus hidup fasik saat itu, namun Nuh mendapatkan kasih karunia Tuhan. Ini karena hidupnya kudus. Kepada orang-orang yang akan menikah, saya berkata bahwa mereka tidak boleh mengadakan pesta besar-besaran tetapi cukup yang sederhana saja. Hal yang terpenting dalam pernikahan adalah kehadiran Tuhan. Ketika Tuhan menyertai keluarga kita dalam segala aspek, kita akan menjadi seperti Nuh. Nuh berhasil menjadi anak yang menghibur karena ia mendapatkan kasih karunia Tuhan. Tuhan menjanjikan penyertaan yang tak berkesudahan bagi kita yang memberitakan firman-Nya (Matius 28:19-20). Jika kita terus berjalan dalam jalan Tuhan maka kita akan mendapatkan kasih karunia Tuhan.

c) Ketekunan iman

            Mengapa Nuh bisa sampai akhir menjaga iman bahkan sampai memimpin seluruh keluarganya? Karena ia memiliki ketekunan iman. Nuh berjalan atau berkenan kepada Allah. Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya dan Ia memberikan ketekunan iman kepada umat-Nya. Dalam TULIP kita melihat ada total depravity, unconditional election, limited atonement, irresistible grace, dan perseverance of the saints atau ketekunan orang kudus. Jika kita memiliki 4 poin yang pertama maka kita akan memiliki ketekunan iman. Jika kita memiliki ketekunan iman, maka itu berarti kita sudah mendapatkan anugerah Tuhan. Ketekunan iman merupakan kunci agar kita bisa memiliki konsistensi iman. Ini membuat kita tekun dalam mengikuti Tuhan. Pintu ketekunan itu dimulai saat mata kita terbuka. Ini berarti setelah kita bangun di pagi hari, kita langsung berdoa dan membaca Alkitab. Di awal kita memulai hari kita mengutamakan Tuhan dan berdoa agar Tuhan memimpin kita dalam satu hari itu.

Nuh memiliki warisan iman, peperangan iman, dan ketekunan iman sehingga hidupnya bisa terus benar sampai akhir. Ia hidup di hadapan kehadiran Allah. Kehadiran Allah itu penting dan penyertaan-Nya itu selalu kita perlukan. Kita hidup benar bukan karena situasi sedang mudah saja. Jika demikian, maka sebenarnya kita belum teruji. Jika kita hidup benar di masa sulit, maka itu menunjukkan bahwa kita sudah lulus ujian iman. Dalam Yesaya 32:17 dikatakan: Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya. Yesaya meneriakkan kebenaran. Ia berkata bahwa Israel harus bergantung pada Tuhan dan bukan bangsa Asyur yang kuat dalam militer dan ekonomi. Nuh dan keluarganya memiliki damai sejahtera karena mereka hidup benar walaupun mereka harus terasing selama 500 tahun lebih. Penghiburan mereka datang dari Tuhan karena mereka bergaul akrab dengan Tuhan. Dikatakan bahwa damai sejahtera itu bertumbuh dan ini berarti bahwa kekacauan dan rasa bersalah itu hilang. Kebenaran itu menghasilkan ketenangan. Walaupun Nuh diancam oleh orang-orang fasik, ia tetap tenang. Ketenangan di dalam Tuhan itu menunjukkan adanya iman. Kita tidak tahu kapan kita mati, namun ada satu hal yang kita percaya yaitu bahwa kita tidak takut dengan kematian. Ini bukan berarti bahwa kita sengaja menantang maut dengan alasan yang remeh. Petrus berkata bahwa kita harus menenangkan diri sebelum berdoa (1 Petrus 4:7). Mungkin ada banyak hal di sekitar kita yang bisa membuat kita tidak tenang, namun kita harus menguasai diri dan tetap berdoa. Ketika kita disertai Tuhan, kita akan damai dan tentram. Damai yang sejati datang dari atas ke bawah. Damai yang kita miliki mendorong kita untuk membawa damai bagi orang lain. Kiranya kita dapat menjadi saksi Kristus melalui hidup benar di tengah-tengah dunia ini.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

 

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami