Anak yang Menghibur (Nuh)

Anak yang Menghibur (Nuh)

Categories:

Bacaan Alkitab: Kejadian 5:29, 6:9; Amsal 10:1, 15:20 

Pendahuluan

Apa arti seorang anak bagi orang tua? Terkadang saya menemukan orang yang menikah lebih cepat daripada waktu Tuhan karena seks, uang, dan alasan-alasan lainnya. Ada pula yang sudah menikah namun tidak siap menjadi orang tua sehingga anak tidak diberikan pendidikan iman, karakter, pengetahuan, talenta, dan sosial. Mereka tidak mengerti apa arti anak di hadapan Tuhan.

Apa arti orang tua bagi seorang anak? Orang tua bisa salah konsep tentang anak, apakah anak juga bisa salah konsep tentang orang tua? Ada anak yang melihat orang tuanya sebagai bos atau sumber uang. Ia hanya berkomunikasi dengan orang tuanya jika ada perlu. Ada yang menganggap orang tuanya sebagai pahlawan. Ia mencari orang tuanya hanya di saat sulit. Ada anak yang melihat orang tuanya sebagai polisi moral. Ia melihat orang tuanya sebagai penghalang dari kebebasannya sehingga ia memilih untuk hidup jauh dari orang tuanya.

Setiap orang tua pasti memiliki pengharapan untuk anak-anaknya. Ini adalah hal yang wajar, namun apakah pengharapan itu suci, mengandung kesombongan, serta dikaitkan dengan kemuliaan Tuhan atau tidak? Demikian juga seorang anak punya pengharapan untuk orang tuanya. Nilai pengharapan harus ada. Anak tidak boleh terus menerus mengandalkan orang tua dalam semua hal. Ada pasangan yang ingin menikah karena dorongan dari orang tua dan kakek yang mau segera menggendong cucu. Mereka menikah dengan uang kakeknya dan berencana tinggal di rumah yang dibelikan kakeknya. Saya tidak menyetujui pernikahan mereka. Selain karena alasan yang salah, mereka juga baru berpacaran selama setahun. Itu bukanlah waktu yang cukup untuk menguji relasi mereka. Mereka juga belum bisa hidup mandiri tetapi masih mengandalkan orang tua dan kakek. Mereka sedang mempercepat waktu Tuhan padahal cinta mereka belum teruji dan karakter mereka belum matang. Alkitab menyebutkan tentang meninggalkan orang tua setelah menikah (Kejadian 2:24). Ini bukan berarti bahwa setelah menikah, anak harus segera meninggalkan orang tua. Bagian ini berbicara tentang kemandirian. Kita harus melatih anak-anak agar bisa berjuang dan mandiri.

Mengapa Nuh diharapkan menjadi anak yg menghibur? Apa artinya seorang anak sebagai penghibur untuk orang tua? Dalam terjemahan lain, ia adalah anak yang memberikan kenyamanan (comfort). Kita bisa salah mendidik anak sehingga anak bukan menjadi penghibur melainkan pemberi sakit hati bagi orang tua. Ada banyak orang tua yang menangis karena anak-anaknya mendatangkan air mata ketika sudah dewasa. Kita harus belajar tentang prinsip-prinsip mendidik anak dan kita akan melihat bagaimana Nuh bisa bertumbuh menjadi anak yang menghibur.

Pembahasan

1) Pengharapan dan realitas

Kita terkadang memiliki mimpi akan masa depan bagi diri kita, keluarga, dan anak-anak kita. Namun pada kenyataannya, seringkali tidak ada proses dan target. Ada kesenjangan di antara pengharapan dan realitas. Ini membuat orang tua merasa frustrasi, putus asa, dan gagal. Orang tua harus terlibat secara langsung dengan penuh dalam pendidikan anak. Terkadang kita hanya berperan sebagai bos yang banyak menuntut namun tidak pernah menempatkan diri sebagai pengajar dan pembina.

a) Kesalahan orang tua dalam membangun pengharapan: miss-perception, miss-process, dan miss-target

Anak bisa menjadi korban dari pengharapan ayahnya atau ibunya yang memiliki ambisi tertentu. Pengharapan kita harus dikaitkan dengan pengharapan Tuhan. Roma 5:3-10 mengungkapkan rahasia proses dari pengharapan akan kemuliaan Kristus. Tripp mengingatkan agar orang tua memiliki pengharapan Tuhan dalam keluarga. Orang tua tidak boleh menyimpan pengharapan atau ambisi pribadi yang kemudian dipaksakan kepada anak demi kesombongan orang tua. Apa kesalahan orang tua dalam membangun pengharapan? Kesalahan yang pertama adalah miss-perception (salah persepsi). Anak adalah subjek di mata Tuhan dan merupakan titipan Tuhan. Anak juga adalah gambar rupa Allah. Ia harus dididik dalam segala aspek untuk kemuliaan Tuhan bukan kemuliaan orang tua. Pendidikan iman harus diberikan agar anak mengenal Tuhan, lahir baru, memiliki rasa takut akan Tuhan, mau melayani Tuhan, dan mengaitkan masa depannya untuk Tuhan. Ketika orang tua melihat anak sebagai subjek, mereka akan bergantung pada Tuhan. Namun jika orang tua menganggap anak sebagai objek yang mati dimana orang tua berperan sebagai pemilik yang berotoritas penuh, maka anak hanya akan menjadi alat kepuasaan orang tua. Orang tua bisa mendidik secara salah karena menyimpan motivasi yang salah dalam pendidikan anak. Dengan demikian anak akhirnya diperas, dianiaya, dan dipaksa untuk selalu mengikuti kemauan orang tua sedangkan orang tuanya tidak mengaitkan semua itu untuk Tuhan.

Anak harus dididik untuk disiplin dalam menggunakan waktu. Ia tidak boleh dibiarkan bebas secara liar. Dalam mendidik anak, orang tua harus mengingat bahwa dirinya hanyalah alat di tangan Tuhan. Tuhan adalah Sang Arsitek jiwa yang tertinggi dalam membentuk anak sebagai subjek sedangkan kita hanyalah alat. Kita harus melihat anak sebagai gambar rupa Allah. Kita sebagai orang tua harus gentar ketika mendapatkan anak. Kita memikirkan bukan kuantitas tetapi kualitas anak. Dulu orang-orang berpikir bahwa jumlah anak akan memengaruhi rezeki karena pekerjaannya berkenaan dengan pertanian, namun pemikiran sekarang sudah berbeda. Kita juga tidak boleh berpikir untuk tidak punya anak. Ketika anak itu diberikan kepada kita, kita harus mendidiknya dalam segala aspek terutama aspek iman. Lamekh memberikan nama Nuh kepada anaknya karena ia memiliki kerinduan agar anaknya menjadi anak yang menghibur (Kejadian 5:29). Nuh mengerti tentang iman, kesulitan hidup, dan tantangan masa depan. Ini berarti Lamekh membesarkan Nuh di dalam takut akan Tuhan. Kita sebagai orang tua harus terlebih dulu memiliki persepsi yang benar tentang anak di mata Tuhan. Orang tua tidak hanya membesarkan fisik dan memberikan pengetahuan karena hal itu bisa dilakukan oleh dunia. Orang tua Kristen mendidik dalam nilai iman sampai anak mengenal Tuhan. Jika persepsi sudah benar, maka prosesnya akan benar pula.

Orang tua bisa melakukan kesalahan miss-process. Ada orang tua yang menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada sekolah dan gereja. Segala kesalahan dalam pembentukan anak akhirnya dilimpahkan kepada sekolah dan gereja. Orang tua yang seperti ini tidak pernah merasa dirinya bersalah dalam mendidik anak (self-righteous). Sesungguhnya yang pantas disebut orang benar adalah Nuh karena Alkitab menyatakan bahwa Nuh tidak bercacat cela (Kejadian 6:9) meskipun ia pernah tidak taat kepada Tuhan (walaupun belum disebut ada kandungan dosa). Lamekh memiliki pengharapan bahwa Nuh akan menjadi anak yang menghibur. Ada banyak anak hari ini yang sampai berumur 12 tahun masih membutuhkan penghiburan dari orang tua. Ini karena orang tua menggunakan pendekatan kondusif-persuasif sehingga mereka terus menghibur anak. Dalam konsep Alkitab, anak tidak hanya diberikan kasih dan kebebasan tetapi juga keadilan. Ketika ia bersalah, maka ia harus ditegur dan dihukum. Kasih dan keadilan harus seimbang. Namun pada hari ini, banyak orang tua mendidik anaknya tanpa atau dengan sedikit nilai keadilan. Ada banyak anak pada zaman sekarang yang terus dihibur dengan televisi atau gadget. Di saat itulah sebenarnya orang tua sedang merusak karakter anak. Mereka berpikir bahwa itu membuat mereka nyaman dan aman tetapi sebenarnya saat itu anak tidak dilatih untuk berjuang. Anak boleh diberikan waktu untuk menonton dan menggunakan gadget, namun isinya harus sesuai dengan umur dan mengandung nilai edukasi. Jika anak terus dimanja dengan penghiburan sampai besar, maka ia akan bertumbuh menjadi orang yang manja dan tidak mau berjuang. Ia akan menjadi orang yang hanya bisa menerima dan tidak mandiri.

Lamekh menghadapi kesulitan iman karena menghadapi zaman yang fasik dan tidak takut akan Tuhan (Kejadian 5:29; 6:5-6, 11-12). Di zaman yang demikian, pasti sulit bagi Lamekh untuk membesarkan Nuh dalam iman. Namun mengapa Lamekh berhasil dalam membesarkan Nuh? Karena Lamekh melihat Tuhan ketika mendidik Nuh. Tuhan dianggap sebagai tuan dan pemilik dari keluarganya. Jadi ketika kita mendidik anak, jangan melihat dunia terlebih dulu karena ketika kita tergiur dengan tawaran dunia, kita akan memaksa anak untuk memenuhi ambisi kita yang tidak suci. Orang tua harus menemukan bakat anaknya, mengembangkannya, dan mengaitkannya untuk Tuhan. Ketika anak berada di dalam proses mencari identitas, orang tua harus mendampingi sebagai pendidik untuk mengarahkan anak secara andragogi dan bukan pedagogi. Pendekatan andragogi itu kritis dan berhubungan dengan epistemologi dalam proses pembelajaran orang dewasa (adult learning) tetapi pendekatan pedagogi itu untuk anak-anak. Andra berarti orang dewasa dan paida berarti anak-anak. Pendekatan pedagogi mengajarkan tentang ‘apa’ dan pendekatan andragogi berbicara tentang ‘mengapa’. Ketika anak sedang mencari identitas, orang tua harus bertanya mengapa anak memilih pilihan itu. Semua pilihan anak harus dikaitkan dengan kemuliaan Tuhan agar tidak antroposentris. Tidaklah mudah untuk mendidik anak di zaman ini karena ada terlalu banyak hal yang merusak dan berbahaya di dunia ini. Anak harus dibentuk bukan sebagai penikmat tetapi sebagai pembuat atau pencipta.

Orang tua juga harus memberikan syarat atau standar yang sesuai dengan Alkitab kepada anak. Banyak orang tua telah gagal dalam mendidik anak karena hanya memperhitungkan aspek ekonomi. Anak bisa merasakan sakit hati jika segala hal dalam hidupnya hanya dibandingkan dengan uang. Anak harus dididik dan dikaitkan dengan Tuhan agar pembentukannya berhasil. Prinsip take and give tidak boleh diterapkan pada anak, namun anak tetap harus diajarkan untuk menghormati orang tuanya dalam memberikan hal-hal yang baik bagi orang tuanya ketika anak sudah mulai bekerja. Pemberian yang terpenting dari anak bukanlah materi tetapi waktu dan hidup bersama dengan orang tua. Mendatangkan sukacita bagi orang tua itu lebih penting daripada harta. Orang tua harus memiliki mata yang tajam dalam menilai anak sehingga orang tua tahu bagian mana yang harus dikoreksi dari anak. Proses itu penting, oleh karena itu orang tua harus berperan sebagai guru, pembina, dan sahabat di dalam waktu-waktu yang ada.

Orang tua bisa melakukan kesalahan miss-target. Orang tua bisa menetapkan target yang terlalu tinggi untuk anak atau memaksakan target yang salah pada anak. Jika ini terjadi, maka orang tua bisa merasa gagal pada akhirnya, padahal kegagalan yang terjadi itu adalah karena kesalahannya sendiri. Ada banyak orang tua yang merasa dirinya harus memikul salib di masa tua, padahal itu bukanlah salib yang diinginkan Tuhan tetapi beban yang dihasilkan ambisi pribadinya yang tidak suci. Orang tua harus mengingat bahwa dirinya bukanlah arsitek jiwa yang utama. Tuhan adalah Sang Arsitek jiwa yang sesungguhnya bagi anak sedangkan kita hanyalah alat. Anak adalah subjek dan bukan objek. Mengapa orang tua dapat miss-target? Karena salah memandang anak sebagai objek dan mendidiknya secara antroposentris. Target pendidikan seperti yang Lamekh terapkan pada Nuh adalah ia menjadi anak yang menghibur, mendatangkan sukacita, kebahagiaan, kebanggaan, dan menjadi anak yang bisa diandalkan. Tujuan pendidikan yang pertama adalah mendidik anak sampai takut akan Tuhan. Jika Tuhan memberikan anak kepada suami dan istri, maka mereka sebagai orang tua harus mendidik anak sampai takut akan Tuhan karena mengenal Yesus Kristus. Mendidik anak bukan hanya karena takut miskin, takut rugi, dan takut anak mati muda. Seluruh bagian Alkitab menyatakan bahwa anak harus dididik dalam nilai takut akan Tuhan sampai takut mengecewakan Tuhan. Pendidikan anak tidak hanya mencakup pengetahuan dan talenta tetapi juga iman, karakter, dan sosial. Semua ini tidak boleh dipisahkan. Ketika anak sudah takut berdosa karena takut akan Tuhan, orang tua sudah berhasil dalam mendidik. Berikutnya, anak harus dididik sampai memiliki kerinduan untuk melayani Tuhan dan bukan dirinya sendiri atau orang tua saja. Ketika anak sudah menyerahkan segala sesuatunya untuk kemuliaan Tuhan, di saat itulah kita sudah menjadi pendidik yang berhasil.

Target pendidikan anak yaitu anak-anak menyerahkan seluruh hidupnya bagi kemuliaan Tuhan. Dalam teologi Reformed tentang mandat budaya diajarkan transform culture (mengubah budaya) dengan menebus budaya untuk kemuliaan Tuhan. Kita tidak membuang budaya. Paulus menjadi orang Yunani ketika menginjili orang Yunani dan menjadi orang Yahudi ketika menginjili orang Yahudi agar ia bisa memenangkan jiwa sebanyak-banyaknya (1 Korintus 9:20-22). Hudson Taylor selalu berpakaian adat Tiongkok ketika menginjili orang-orang di sana. Ini menunjukkan bahwa budaya itu alat. Budaya yang baik kita boleh ambil dan yang buruk kita harus tolak. Patung adalah karya seni, bukan produk budaya yang jahat untuk dihancurkan. Demikian dalam hal pendidikan anak, kita harus mengubah pendidikan yang antroposentris menjadi Christ-centered.

b) Kesalahan anak dalam membangun pengharapan (bandingkan Roma 5:3-5): miss-perception, miss-process, dan miss-target

Mungkinkah anak membangun pengharapan yang salah? Mungkin. Dalam Roma 5:3-5, pengharapan dikaitkan dengan kemuliaan Tuhan dan anak dilatih menikmati kesengsaraan, ketekunan, tahan uji, dan pada akhirnya ia menikmati pengharapan. Ini berarti anak harus mengalami kesulitan. Pendidikan harus menyatakan itu sebagai wadah bagi anak-anak. Amsal 10:1 (Amsal 15:20) menyatakan anak yang bijak itu membahagiakan orang tuanya sedangkan anak yang bebal itu menyedihkan dan menghina orang tuanya. Terkadang anak melakukan kesalahan: persepsi yang salah. Ia bisa salah melihat orang tuanya sebagai bos dan ia hanya berkomunikasi dengan orang tuanya ketika membutuhkan uang. Orang tua adalah pendidik yang dititipkan Tuhan bagi kita. Ada waktunya mereka menolong kita dan ada waktunya kita harus mandiri. Kita terlalu banyak menuntut orang tua karena memandangnya sebagai bos. Kita juga bisa memandang orang tua sebagai pahlawan sehingga kita tidak bergantung pada Tuhan di masa-masa sulit melainkan terus mengandalkan orang tua. Pada akhirnya orang tua dianggap seperti Tuhan. Kita bisa menjadi manja dan malas karena salah memandang orang tua. Orang tua tidak boleh memberikan atau menjanjikan harta kepada anak terlalu dini. Kita sebagai anak harus mendoakan orang tua agar mereka bisa mendidik kita dengan berhikmat dan mendoakan agar ketika waktunya tiba, kita bisa hidup mandiri. Di dalam proses pendidikan, kita bisa merasakan kepahitan, hal yang keras, tetapi juga keindahan. Ibrani 12:511 menyatakan bahwa Tuhan mendidik anak-anak yang disayanginya dengan keras dan bahwa kita bukanlah anak-anak gampangan. Jika orang tua kita mendidik dengan keras, maka kita harus bersyukur. Jika kita sebagai orang tua tidak bisa mendidik dengan keras sampai anak bisa mengembangkan talentanya, maka kita telah gagal. Jika kita sebagai anak melihat kesalahan-kesalahan orang tua, maka janganlah kita menyimpan kepahitan tetapi lihatlah hal baik yang mereka lakukan bagi kita untuk mempersiapkan masa depan kita.

Suatu kali ada seorang pemuda yang pulang dari Amerika ke Indonesia karena ia sedang libur kuliah dan orang tuanya akan merayakan ulang tahun pernikahan. Ia begitu kaget ketika mendengar bahwa orang tuanya akan segera bercerai karena ayahnya berselingkuh. Hatinya begitu sakit dan ia terus menangis sampai akhirnya ia tidak mau melanjutkan kuliahnya. Apa yang salah dalam proses dan persepsi anak ini? Anak ini berpikir bahwa gelar yang akan dicapainya dapat membanggakan orang tua. Namun ia mendengar bahwa orang tuanya akan bercerai sehingga ia merasa gagal dan tidak mau melanjutkan kuliah. Ia tidak mengaitkan studinya dengan Tuhan. Di sini ada kesalahan di pihak orang tua dan anak. Kita sebagai anak-anak harus mendoakan orang tua kita sehingga mereka terus hidup suci. Ketika orang tua kita sudah berusia lanjut, maka kita tidak boleh menghina mereka karena penyakit-penyakit tertentu tetapi kita harus mengarahkan mereka agar terus bersandar pada Tuhan. Orang tua harus mendidik anak melalui sengsara, ketekunan, dan tahan uji, sehingga pada akhirnya anak akan melihat kemuliaan Tuhan.

Anak juga bisa melakukan kesalahan: tidak mencapai target. Anak bisa memandang orang tuanya hanya sebagai mesin ATM. Ia hanya mencari orang tuanya di saat kehabisan uang. Anak ini tidak berpikir untuk membahagiakan orang tuanya tetapi hanya melihat orang tua hanya sebagai jaminan hidupnya bahkan sampai tua. Banyak orang tua telah menangis karena anaknya. Kita sebagai anak harus berdoa agar kita menjadi seperti Nuh yang membanggakan Tuhan dan orang tua, menjadi anak yang tidak bersungut-sungut, dan menjadi anak yang bisa diandalkan serta penuh pengorbanan dan perjuangan. Di saat itulah kita sudah memandang orang tua dengan tepat karena orang tua juga adalah titipan Tuhan. Waktunya akan tiba dimana orang tua kita akan meninggal dan kita harus hidup mandiri. Maka kita harus siap belajar dan diajar serta mengaitkan pengharapan dan realitas ktia untuk kemuliaan Tuhan. Kita sebagai anak harus memberikan hati dan komitmen untuk mencapai target takut akan Tuhan, melayani Tuhan, dan memuliakan Tuhan dalam segala aspek. Ini akan membuat kita berhasil.

2) Dari manakah timbul pengharapan Lamekh terhadap Nuh?

Pengharapannya timbul dari realitas hidup dan realitas iman. Kita tahu bahwa ada banyak sekali anak yang tidak takut akan Tuhan dan tidak menghormati orang tuanya, namun Nuh hidup berbeda dari mereka semua. Ia sungguh menjadi anak yang menghibur orang tuanya. Ia bisa membahagiakan orang tuanya di tengah kondisi zaman yang begitu rusak dan di tanah yang sudah dikutuk oleh Tuhan. Orang tua berhasil jika anak-anaknya mengenal Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

3) Apakah Nuh gagal memenuhi pengharapan Lamekh?

Nuh tidak gagal. Dalam Kejadian 6:9 dicatat: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah. Nuh adalah orang benar. Ia hidup tidak bercela dan bergaul dengan Allah. Nuh hidup benar di zaman yang fasik. Ia juga memiliki kecerdasan iman dalam menjalankan semua perintah Tuhan baginya. Pendidikan anak yang sesuai dengan kehendak Allah akan membentuk anak-anak yang takut Tuhan sekalipun dalam zaman yang sangat rusak. Nuh menjadi seperti yang diharapkan oleh orang tuanya yaitu anak penghiburan yang takut Tuhan dan bergaul dengan Tuhan di tengah zaman yang melawan Tuhan.

Penutup

Nuh adalah seorang anak yang menghibur. Hal ini berarti ia memberikan kenyamanan pada sekitarnya. Ia menjadi seorang anak yang menghibur di tengah zaman yang rusak. Orang tuanya mendidik Nuh menjadi orang yang takut Tuhan. Karena anugerah pemeliharaan Tuhan maka ia menjadi seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya. Sudahkah kita menjadi penghiburan di tengah zaman yang rusak ini? 

(Ringkasan khotbah ini sudah dikoreksi oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami