Murka Allah (Sodom & Gomora)

Murka Allah (Sodom & Gomora)

Categories:

Bacaan alkitab: Kejadian 19:1-29 dan 2 Petrus 2:7-9.

 

Pendahuluan

Tuhan memiliki emosi yang suci. Ini bisa kita setujui bersama. Murka Tuhan untuk Sodom Gomora adalah hukuman atas dosa. Kemarahan Tuhan mengandung keadilan karena dosa sudah begitu merajalela di Sodom dan Gomora. Para malaikat sudah mengunjungi Abraham dan Abraham sudah peka bahwa penghakiman akan datang bagi Sodom dan Gomora karena dosa-dosanya. Di pasal sebelumnya Abraham berdiskusi dengan Tuhan tentang jumlah orang benar di tempat itu dan apakah Tuhan akan tetap menghakimi dengan adanya sejumlah orang benar di kota tersebut atau tidak. Ternyata Abraham terus menawar sampai 10 orang benar (Kejadian 18:32) dan Tuhan menyatakan bahwa tidak akan ada penghakiman jika Tuhan menemukan ada 10 orang benar di sana. Di sini kita melihat kepedulian Abraham terhadap kota-kota itu dan ia juga peduli kepada Lot dan keluarganya. Untuk segala sesuatu ada waktunya. Tuhan sudah mendengar tentang keluhan karena dosa-dosa di Sodom dan Gomora. Mereka hidup berdasarkan nafsu dan melakukan dosa homoseksualitas.

 

Mengapa Allah tidak memakai Lot untuk mempertobatkan kota Sodom dan Gomora? Lot dinyatakan benar oleh Petrus, namun mengapa ia tidak mempertobatkan seorang pun? Apakah ia seperti Yeremia yang dari awal sampai akhir pelayanannya tidak ada seorang pun yang bertobat? Apakah ini berarti Yeremia telah gagal? Tidak, karena memang ia dipanggil untuk menegur dan meratapi Israel. Namun setelah ia mati, baru ada pertobatan. Lot adalah orang benar namun ia tidak memiliki keberanian untuk meninggalkan kota itu. Petrus mencatat bahwa Lot akan dihindarkan dari pencobaan (2 Petrus 2:9). Pencobaan-pencobaan itu menggelisahkan hatinya (2 Petrus 2:7). Ini menunjukkan bahwa keluarga Lot akan hancur jika terus berdiam di sana. Ketika para calon menantu Lot mendengar kabar bahwa kehancuran akan datang, mereka hanya tertawa dan menganggap itu lelucon (Kejadian 19:14). Situasi saat itu sudah genting karena semuanya hidup di dalam dosa dan ini merupakan hal yang serius di mata Tuhan.

 

Mengapa Lot betah untuk selalu tinggal di sana? Dinyatakan dengan jelas bahwa hatinya selalu tersiksa karena setiap hari melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan orang-orang di sana yang jahat (2 Petrus 2:8). Dia mengetahui keburukan tempat ini, namun mengapa ia tetap tinggal di sana? Lot memiliki istri yang sangat dekat dengan kota itu. Ia menoleh ke belakang karena tidak rela meninggalkan kota itu. Ia sudah nyaman di sana mungkin karena sudah memiliki jaminan ekonomi dan kestabilan serta harta benda di sana. Abraham mengalami kehancuran dengan istrinya karena Hagar. Istri Lot menjadi tiang garam karena tidak mendengarkan suara malaikat. Di sini kita belajar bahwa keluarga menjadi hancur karena faktor internal. Para pria harus mencari istri yang takut akan Tuhan. Para wanita juga harus mencari suami yang takut akan Tuhan. zona nyaman itu membuat istri Lot masuk ke dalam pencobaan. Tuhan menyelamatkan mereka dengan mengirimkan dua malaikat. Jika pimpinan Tuhan sudah jelas, maka kita harus terus berjalan dan tidak menoleh ke belakang. Filipi 3:13b aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku. Paulus mengarahkan matanya kepada salib Kristus. Ini berarti bahwa ketika kita sudah bertobat, kita tidak lagi melihat kepada dosa tetapi kepada salib. Istri Lot tidak memiliki sikap ini. Ini berarti ia tidak mengerti bahwa perintah Tuhan sama sekali tidak boleh dilanggar.

 

Pembahasan

1) Mengapa Lot dan keluarganya diselamatkan Tuhan? Mengapa ia disebut orang benar?

            Abraham adalah orang benar. Ia berdoa syafaat untuk Sodom dan Gomora. Mazmur 34:8 Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka. Tuhan bisa menyelamatkan seisi rumah karena 1 orang benar di rumah tersebut. Kemarahan Tuhan itu selalu suci dan penghukuman-Nya selalu mengandung kebenaran yaitu supaya dosa tidak berkembang. Lot disebut orang benar karena ia tidak berkompromi dengan dosa orang-orang di sana. Hidupnya tetap benar di Sodom dan Gomora, karena berdasarkan jalan Tuhan. Namun orang-orang di sekitarnya tidak sesuai dengan hukum Tuhan. Seseorang bisa hidup benar di antara orang-orang yang tidak benar, namun orang-orang di sekitarnya belum tentu demikian. Kedua calon menantu Lot tidak percaya akan peringatan dari Lot. Petrus menyatakan bahwa Tuhan menyelamatkan Lot dari pencobaan (2 Petrus 2:9). Kemenangan atas dosa dimulai dari menghindari pencobaan. Dalam buku John Owen ‘Indwelling Sin’ ditulis bahwa manusia yang ingin menang atas dosa harus pertama-tama menyadari bahwa kuasa dosa itu sangat besar. Itulah mengapa dosa dan pencobaan harus dihindari dan bukan dibiarkan. Ketika Yusuf digoda oleh istri Potifar, ia langsung berlari (Kejadian 39:13). Kelemahan Lot adalah ia tidak menghindari pencobaan itu. Ketika kita akan membeli rumah, kita pasti mencari lingkungan yang baik karena kita tahu bahwa lingkungan yang buruk itu dapat berdampak negatif pada anak-anak kita. Ketika kita mencari pekerjaan, kita juga tidak akan mencari pekerjaan yang menjatuhkan kita dalam dosa. Kita harus memiliki kepekaan rohani agar tidak mencobai diri. Tuhan tidak pernah mencobai kita, hanya menguji kita. Setan-lah yang mencobai kita, itupun dengan izin dari Tuhan.

Hidup orang Sodom dan Gomora sudah dikuasai Setan. Penduduk di sana, dari yang muda sampai yang tua bahkan menginginkan kedua malaikat itu. Seluruh penduduk di sana kompak dalam dosa. Dikatakan dalam Roma 1:24 bahwa Allah menyerahkan orang-orang yang suka berdosa kepada kecemaran. Ini adalah hukuman yang paling mengerikan sehingga mereka ‘menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar’ (Roma 1:26). Hati nurani mereka sudah mati dan mereka kompak dalam dosa. Kaum LGBT juga kompak dalam memperjuangkan dosa mereka agar diterima oleh dunia. Yunus berkhotbah kepada Niniwe dan mereka kompak bertobat, ini adalah kompak yang positif. Orang-orang yang berada di luar Tuhan memiliki mata rohani yang dibutakan oleh ilah zaman ini. Inilah mengapa mereka kompak dalam dosa. Orang-orang seperti ini sudah kecanduan dosa sehingga mereka hanya bisa dipuaskan oleh dosa itu. Ketika Lot menawarkan kedua anak perempuannya sebagai ganti dari kedua malaikat itu, penduduk di luar rumahnya tidak tertarik karena mereka homoseksual (Kejadian 19:8-9). Para penduduk itu tidak lagi memakai rasio mereka. Mereka ingin melakukan pemerkosaan masal. Meskipun Lot mencoba untuk bernegosiasi, mereka tidak mau lagi mendengarkan karena sudah dikuasai oleh dosa. Mereka kemudian dibuat menjadi buta (Kejadian 19:11). Tuhan bisa menghancurkan baik secara masal maupun pribadi. Kota itu sudah kompak sepenuhnya dalam dosa dan Tuhan mau menghancurkannya. Lot adalah orang benar namun ia tidak mau meninggalkan kota itu.

 

2) Mengapa Lot mengalami dukacita rohani?

Lot memiliki dukacita rohani/kegelisaan rohani (bandingkan Matius 5:4) namun tidak punya solusi atau terobosan rohani. Lot adalah orang benar namun bukan pelaku kebenaran sehingga ia tidak punya penerobosan rohani. Petrus menyatakan bahwa Lot akan dihindarkan dari pencobaan. Jika kita melihat ada budaya yang berdosa, maka kita harus gelisah. Jika kita memiliki kegelisahan ini, maka kita bisa disebut sebagai orang benar, namun jika kita bisa sampai membuat terobosan iman, maka kita disebut sebagai orang saleh. Lot ada kelebihan dan kekurangan dalam hal ini. Ia berduka secara rohani terus menerus karena orang-orang berdosa di sekitarnya, namun mengapa ia tidak pindah? Ia mungkin gelisah secara pribadi, namun istrinya dan anak-anaknya tidak merasa demikian. Di sini Lot tidak menjadi pemimpin yang baik. Seharusnya ia memimpin keluarganya ke situasi yang lebih baik. Lot memiliki konflik rohani namun tidak mempunyai solusi rohani. Dalam 2 Petrus 2:7 dikatakan bahwa Lot terus menerus menderita. Mengapa demikian? Karena cara hidup penduduk Sodom dan Gomora yang tidak mengenal Tuhan. Mereka hidup menuruti hawa nafsu mereka saja. Hati nurani mereka sudah tidak ada karena terus menerus hidup dalam dosa dan pada akhirnya hidup mereka dipimpin sepenuhnya oleh hawa nafsu mereka.

 

3) Bagaimana cara Tuhan menyelamat orang-orang saleh dari pencobaan dan penghukuman Sodom dan Gomora?

Kedua malaikat dikirim karena Lot tidak berani melangkah untuk meninggalkan kota itu. Cara Tuhan menyelamatkan Lot adalah menyuruhnya meninggalkan kota itu. Lot baru mau meninggalkan kota itu setelah Tuhan memberikan ancaman api belerang. Gaya hidup kita terkadang seperti pemadam kebakaran: sudah terjadi kebakaran baru kita bertindak. Seharusnya kita hidup seperti penyiram pohon, yaitu dari awal sudah terus menyiram sampai pohon itu besar dan berbuah. Mengapa para malaikat harus memegang tangan mereka? Karena mereka (Lot dan keluarga) berat hati untuk meninggalkan. Ketika kita dijanjikan suatu tempat yang lebih baik, maka kita bisa cepat rela meninggalkan tempat lama, namun ketika kita diminta untuk pergi dari tempat yang kita sungguh nikmati, kita akan sulit rela. Terkadang orang tua harus memaksa anak untuk meninggalkan zona nyamannya demi memberikannya pelajaran rohani. Orang tua harus berani menegakkan otoritasnya sehingga anak bisa dididik. Para malaikat menarik tangan mereka namun istri Lot menoleh ke belakang dan menjadi tiang garam. Istri Lot terikat dengan egoisme dan materialisme. Tuhan pada akhirnya menghancurkan kota itu dengan hujan belerang dan api (Kejadian 19:24). Ini adalah murka yang luar biasa dari Tuhan. Mengapa kita menolak LGBT? Karena itu bukan sifat natural yang diberikan Tuhan. Kita membenci dosa mereka namun mengasihi jiwa mereka. Mereka yang bertobat pelan-pelan akhirnya bisa lepas dari dosa itu. Di sini kita melihat bahwa kuasa Tuhan jauh melebihi belenggu dosa. Mereka yang terus menerus menikmati dosa itu lama kelamaan akan menjadi keras hati nuraninya dan hanya akan memikirkan kenikmatan. Tuhan bisa menghancurkan mereka pada waktu-Nya. Kita harus mengingat bahwa kita adalah garam dan terang. Garam itu mencegah kebusukan dan terang itu menyingkirkan kegelapan. Ketika Sodom dan Gomora itu tidak mau bertobat juga, maka harus dimusnahkan seperti kejadian air bah. Ketika Allah akan menghukum, pertama hati akan dikeraskan seperti Tuhan mengeraskan hati Firaun. Setelah itu akan ada kekacauan hidup, kemudian kematian anak sulung. Namun hal yang mengerikan adalah ketika seluruh kota itu dihancurkan oleh Tuhan.

 

4) Mengapa Tuhan Yesus bisa murka?

            Tuhan Yesus bisa murka kepada orang-orang yang memiliki kemunafikan hidup (Matius 23:13-29). Banyak orang pada zaman itu berjubah kesalehan namun sebenarnya egois. Tuhan sangat marah pada orang-orang itu. Mereka sangat terikat pada organisasi namun tidak lagi memikirkan jiwa-jiwa. Di dalam bagian ini kita harus berhati-hati. Ada orang-orang yang pada hari Minggu sungguh kelihatan rohani namun di luar itu menjadi orang fasik. Tuhan juga murka kepada mereka yang memiliki kesombongan rohani (Lukas 9:9-14). Orang yang seperti ini merasa lebih hebat daripada orang lain. Seharusnya orang yang semakin bertumbuh kerohaniannya akan merasa dirinya lebih hancur daripada orang lain. Kita harus belajar menjadi orang yang rendah hati. Kita ini sebenarnya bukan apa-apa dan Tuhan adalah segala-galanya. Semua hal baik yang kita punya berasal dari Tuhan. Ketiga, Tuhan bisa marah pada orang yang terikat dengan dosa (Matius 5:28-30). Apa maksudnya ketika Tuhan menyuruh kita untuk mencungkil mata atau memotong tangan agar tidak berdosa? Apakah kita harus melihat ini secara harfiah? Ini berarti kita harus mematikan keinginan yang liar di dalam diri kita. Masalah yang terbesar bukanlah di luar tetapi di dalam diri. Segala tindakan dosa adalah buah dosa dan semua itu berasal dari keinginan dalam diri yang belum dikuduskan. Di sini Tuhan bisa murka. Tidak ada dari kita yang bisa berkata bahwa kita tidak bisa lepas dari dosa itu. Kita diminta untuk mematikan keinginan yang berdosa itu. Cara pandang kita harus dikuduskan. Iman itu lebih penting daripada keinginan. Jika keinginan kita dipenuhi sebelum kita memiliki kesiapan iman, maka kita akan hancur dalam waktunya. Itulah mengapa kita tidak boleh mempercepat waktu Tuhan. keinginan kita harus dikuduskan sehingga menyenangkan hati Tuhan. Keempat, Tuhan murka karena ada orang yang berstatus agama tetapi tidak memiliki buah rohani (Matius 25:40-41 bandingkan Lukas 10:25-37). Tuhan mau kita berbuat baik kepada mereka yang membutuhkannya. Mereka yang melakukan kebaikan kepada orang lain itu seperti melakukannya kepada Tuhan. Orang-orang berstatus agama itu tidak menolong orang yang sekarat itu, namun orang Samaria itu segera menolongnya. Buah rohani itu sederhana: memberikan makanan kepada yang lapar, memberikan minum kepada yang haus, dan menolong mereka yang kesulitan. Apakah kita termasuk dalam orang-orang yang mungkin membuat Tuhan marah? Mungkin kita tidak separah orang-orang Sodom dan Gomora, namun apakah kita masuk dalam 4 kategori ini? Jika ya, maka kita harus segera bertobat. Kita harus menang atas dosa.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami