Misi Kemenangan

Misi Kemenangan

Categories:

Bacaan Alkitab: Yosua 1:1-9

Pendahuluan

Hidup jika disertai misi akan membuat hidup lebih bergairah untuk maju. Misi mendorong kita untuk melihat hal-hal yang akan kita kerjakan di depan dan mencapai suatu target. Hidup tanpa misi akan terjebak sehingga masuk ke dalam kondisi statis. Di sana hidup tidak akan bisa maju maupun mundur. Apakah Tuhan mau kita hidup dalam kondisi statis? Tidak. Hidup kita harus dinamis yang berkait dengan misi Tuhan. Keluarga, studi, pekerjaan dan setiap aspek hidup kita harus dikaitkan dengan Tuhan agar kita memiliki gairah untuk maju bagi Tuhan.

Bagaimana jika kita bermisi tanpa iman? Misi tanpa iman ibarat bekerja dengan kekuatan diri sendiri – melelahkan. Mari kita menguji apakah selama ini kita bekerja dengan mengandalkan kekuatan kita sendiri atau Tuhan. Misi tanpa iman tidak akan memiliki kejelasan target dan ini akan menciptakan kelelahan bagi diri sendiri. Misi tanpa target ibarat bekerja tanpa memikirkan standar dan tujuan. Jika kita menjalankan misi tanpa target maka kita akan bekerja seperti mesin yang bekerja secara statis karena tidak memiliki standar dan tujuan. Calvin dan Aquinas menganut pemahaman yang berbeda tentang keberdosaan manusia. Thomas Aquinas dalam bukunya Summa Theologica menyatakan bahwa setelah kejatuhan manusia, hanya roh manusia saja yang rusak namun rasionya tidak dicemari dosa. Bagi Aquinas, manusia masih bisa mencari Tuhan dengan menggunakan pikiran. Pemikiran ini memengaruhi gereja Katolik dari Abad Pertengahan sampai saat ini. Bagi Calvin sejak kejatuhan manusia, manusia sudah berdosa dalam pikiran, emosi, dan kehendak. Mereka yang percaya kepada Tuhan Yesus akan mendapatkan pembaruan oleh Roh Kudus sehingga hidupnya memiliki kedinamisan. Mereka tidak lagi dipimpin hanya oleh rasio tetapi oleh Allah Roh Kudus. Ketika diperbarui oleh Allah Roh Kudus maka seluruh hidup kita dipimpin oleh Allah.

Misi tanpa strategi ibarat bekerja tanpa pengetauan dan hikmat. Hidup yang seperti ini akan banyak memboroskan waktu, uang, dan tenaga. Kita harus memiliki strategi yang berasal dari Tuhan agar hidup kita efektif. Misi yang diterima Yosua dari Tuhan adalah misi kemenangan dan bukan misi murahan. Ini bukanlah misi yang bisa diselesaikan tanpa peperangan. Ia harus menang dalam ketaatan, tanggung jawab, serta memberikan bukti iman. Itulah mengapa misi yang dikerjakannya bukanlah misi murahan. Misi Tuhan tidak akan memanjakan kita dan membuat kita tidur dalam kenikmatan. Orang yang sudah terjebak dalam hedonisme adalah orang yang tidak setia dan terjebak dalam kesenangan. Ia hanya mengejar kenikmatan dan kepuasan duniawi. Semua hal yang ia lakukan berpusat pada dirinya sendiri. Orang hedonis menuhankan keinginannya di atas segala-galanya. Ia peduli pada kepuasan dan kenikmatan namun tidak peduli dengan kesucian, keadilan, dan ketaatan. Orang yang seperti ini harus sadar bahwa semua kenikmatan dan kepuasan duniawi itu fana. Jika kita terjebak dalam hal ini maka kita akan sengsara karena semuanya itu akan menjadi sampah. Misi yang dilakukan Yosua bukanlah untuk uang tetapi untuk menyatakan kebesaran Tuhan dalam ketaatan, kesucian, dan tanggung jawab.

Pembahasan

1) Iman dan persiapan (ayat 2)

Yosua 1:2 Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu. Yosua diminta untuk membuat satu lembaran yang baru. Musa telah tiada dan Yosua harus menjadi pemimpin baru yang memberikan contoh dalam kesetiaan, pengorbanan, dan keberanian. Jika kita memulai satu lembaran baru tanpa mengubah paradigma atau cara pandang, maka lembaran baru tersebut tidak akan memiliki isi yang bermakna dan perubahan yang positif. Kepada pasangan yang baru menikah saya sering menuliskan pesan ‘selamat menghadapi pergumulan yang baru’, bukan ‘semoga berbahagia’ seperti yang sering dikatakan oleh orang lain. Amsal 27:17 Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya. Di dalam pernikahan tidak semuanya berisi kebahagiaan tetapi ada penderitaan. Memang tujuan pernikahan bukanlah kebahagiaan tetapi perubahan karakter di dalam Tuhan. Suami dan istri harus mengalami perubahan cara pandang atau paradigma dan pertumbuhan di dalam Tuhan. Lembaran yang baru ini mengajarkan bahwa Yosua harus memiliki status, pergumulan, dan paradigma yang baru. Ia harus memikul visi dan misi untuk masuk ke dalam tanah Kanaan. Ia harus mengandalkan Tuhan.

 Iman tidak mematikan rasio dan tanggung jawab relasi. Yosua harus mempersiapkan bangsa Israel dalam segala aspek termasuk aspek sosial di dalamnya. Hidup, mental, dan keberanian mereka harus Yosua persiapkan. Ia harus menyiapkan setiap prajurit. Yosua menjalankan tanggung jawabnya tanpa mengorbankan tanggung jawab yang lain dalam keluarga atau hal lainnya. Iman tidak mematikan rasio melainkan sebaliknya iman mencerdaskan rasio agar hidup bisa memuliakan Tuhan. Jika ada orang yang mengaku beriman namun bermalas-malasan maka jelas bahwa orang itu belum memiliki iman yang sejati. Jika iman itu mematikan tanggung jawab dalam segala aspek, maka jelas bahwa iman itu tidak sejati. Iman yang benar itu akan menundukkan rasio di bawah pimpinan Tuhan. Iman yang benar akan menyucikan dan mencerahkan rasio sehingga bisa mengerti kehendak Tuhan yang sempurna dan tidak pernah salah.

Iman memimpin target tujuan menjadi lebih jelas. Orang yang sudah dewasa iman akan menangkap target dan tujuan yang jelas dari Tuhan. Anak kecil belum memiliki kepastian dalam target dan tujuannya, ini adalah hal yang wajar. Kita mungkin pernah melihat anak-anak yang awalnya berbicara mau satu hal, sesaat kemudian ia mau hal lain, dan terus berubah-ubah. Namun orang yang memiliki kedewasaan akan memiliki fokus. Firman Tuhan akan memberikan fokus dan terang itu kepada mereka yang mau taat. Pimpinan Tuhan akan membuat segala hal menjadi jelas, namun pimpinan Setan akan menciptakan ketidakjelasan. Saat Tuhan memimpin Musa, Tuhan memberikan tiang api dan tiang awan (Keluaran 13:21), namun saat Yosua menjadi pemimpin tidak ada lagi tiang api dan awan. Yosua juga diberikan instruksi yang jelas oleh Tuhan dimana para imam itu harus melangkah di depan.

Ada orang-orang yang sudah dewasa secara fisik namun tidak pernah punya fokus atau kejelasan dalam targetnya. Ini menunjukkan bahwa ia tidak dewasa secara rohani. Hidupnya akan penuh dengan kelelahan dan kegagalan karena tidak memiliki kejelasan. Inilah mengapa kedewasaan iman itu penting. Yosua dengan jelas memahami pimpinan Tuhan dalam memimpin bangsa Israel untuk merebut tanah Kanaan karena Tuhan sudah menyatakan janji-Nya. Ia sadar bahwa bangsa Israel harus menjadi bangsa yang beribadah dan bahwa tanah yang dijanjikan oleh Tuhan bukanlah tanah yang diutamakan kekayaan dan kesuburannya tetapi diutamakan sebagai tempat beribadah. Di sana mereka harus menyatakan kebesaran dan kesucian Tuhan. Kita semua harus memakai kacamata rohani sehingga kita tahu akan pimpinan Tuhan. kacamata fisik membuat mata fisik kita melihat lebih jelas dan fokus, begitu pula kacamata rohani akan membuat kita melihat dengan jelas pimpinan Tuhan. Ketika kita gagal untuk melihat secara rohani, hidup kita akan menjadi tidak jelas. Apapun yang kita kerjakan juga akan menjadi tidak jelas targetnya dan tujuannya. Markus 6:34 Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Saat itu para pemimpin agama Yahudi memakai kacamata yang berbeda sehingga mereka tidak mengerti kondisi kerohanian jemaat. Tuhan Yesus mengerti benar kondisi mereka, yaitu mereka tidak mempunyai gembala. Hati mereka masih belum diterangi firman dan masih terikat oleh hal duniawi, maka dari itu tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan. Kacamata rohani tidak melihat kualitas fisik atau duniawi tetapi kualitas rohani. Ketika Yosua memimpin, ia memiliki kejelasan dan bisa memimpin dengan nilai-nilai yang Tuhan berikan.

2) Melangkah dalam janji penyertaan Tuhan (ayat 3-5)

Yosua 1:5 Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau. Janji penyertaan Tuhan adalah kunci keberhasilan kita. Dalam ayat ini, Tuhan memberikan janji kesetiaan yang tidak mungkin gagal. Iman tanpa keberanian melangkah itu seperti mimpi adanya. Banyak orang tahu apa yang harus dilakukannya namun tidak berani untuk menjalankannya dengan berbagai alasan misalnya kekurangan modal, kekurangan dukungan, dan lainnya. Inilah mengapa pengetahuan kita harus ditundukkan di bawah pimpinan Tuhan. Banyak orang mengaku sudah memiliki banyak pengetahuan dan gelar yang tinggi tetapi tidak memiliki iman dan tidak membesarkan Tuhan. Ini membuktikan bahwa mereka bukanlah orang yang baik. Tuhan telah berjanji Yosua 1:3 Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa. Titik telapak kaki itu menunjukkan bahwa orang itu sedang berdiri tegak. Jejak kaki itu akan menyatakan apakah kita sedang berjalan lemas atau masih teguh. Yosua diminta untuk melangkah dengan iman. Terkadang kita menjadi orang yang lemah karena iman kita tidak kuat sehingga mengalami kekalahan sebelum berperang. Sebelum berperang, Yosua diminta untuk menguatkan hatinya (Yosua 1:6). Tuhan mengingatkan hal ini kepada Yosua karena ia masih muda. Ia belum memiliki mental yang terlatih. Imannnya harus memimpin kepada keberanian. Yosua 3 menceritakan bagaimana iman itu bekerja di dalam mengeringkan sungai Yordan. Iman akan memberikan keberanian yang suci. Kita harus menapakkan kaki bukan karena nekat tetapi karena iman. Keberanian dan ketekunan itu akan membuat kita terus melangkah maju walaupun mengalami kelelahan fisik. Telapak kaki itu menunjukkan bahwa dirinya masih kuat. Yosua diminta untuk berdiri teguh karena iman dan bukan karena keberanian lahiriah.

Misi Tuhan itu harus diselesaikan melalui peperangan. Ketaatan itu harus ada. Iman tanpa peperangan tidak akan menikmati janji kemenangan. Surat Wahyu mengajarkan kita bahwa kita memiliki status lebih dari pemenang karena ada janji Tuhan. Kemenangan iman itu berbeda dengan kemenangan lahiriah. Kemenangan lahiriah itu sesaat, namun kemenangan iman itu kekal adanya. Yosua diminta untuk berperang dengan iman dan setelah itu baru ia bisa menikmati janji kemenangan itu. Jika kita berperang dengan iman dan menyaksikan Tuhan yang memimpin kita itu bekerja, maka kita akan merasakan sukacita rohani dan mengucapkan syukur kepada-Nya. Di sinilah kita belajar bahwa kehadiran Tuhan itu sangat penting. Itulah yang membuat kita tekun dan bertahan dalam segala macam ancaman. Banyak orang gagal karena melihat kepada kelemahan diri dan tidak melihat penyertaan Tuhan. Yosua tidak melihat tiang awan dan tiang api itu namun melihat tabut Tuhan sebagai tanda penyertaan-Nya. Saat para imam yang mengangkut tabut itu melangkahkan kakinya ke dalam sungai Yordan, barulah tempat mereka berpijak itu menjadi kering. Yosua tidak melangkahi mereka dengan berjalan terlebih dahulu. Ia adalah seorang pemimpin yang menghormati hamba-hamba Tuhan. Kapan terakhir kali kita menikmati kemenangan rohani bersama dengan Tuhan? Hidup kita akan mengalami kesegaran ketika kita bersama dengan Tuhan. Orang yang bekerja untuk dunia pada akhirnya akan mengalami kelelahan dan tidak akan pulih. Ketika seorang ibu sedang melahirkan seorang anak, ia akan merasakan kesakitan yang begitu luar biasa dalam kurun waktu tertentu, namun semua itu akan digantikan dengan sukacita ketika ia bisa melihat anaknya di pangkuannya. Kemenangan iman itu akan membuat kita melupakan semua kelelahan dalam proses mencapainya. Itulah mengapa kita harus memegang janji penyertaan Tuhan dan panji-panji Tuhan yang adalah sumber penghiburan dan kekuatan kita.

3) Misi, ketaatan, dan tanggung jawab (ayat 6-9)

Misi yang diberikan oleh Tuhan selalu menuntut ketaatan dan tanggung jawab. Misi yang diberikan Tuhan bukanlah murahan. Di dalamnya ada ujian ketaatan dan tanggung jawab. Berkali-kali Tuhan berkata kepada Yosua agar ia menguatkan hatinya. Ia tidak boleh mundur dan harus terus maju karena Tuhan sudah menyertainya. Jika Tuhan menyertai, maka kita harus siap dan bergantung pada pimpinan-Nya. Mental kita kuat karena menyadari dengan jelas panggilan dan pimpinan Tuhan. Kita tidak takut akan kematian karena kita tahu benar janji Tuhan dan tujuan hidup kita. Mental kita bisa lemah ketika mengandalkan diri sendiri dan tidak memikirkan tujuan dari Tuhan. Tuhan menjanjikan kemenangan karena Ia terus beserta dengan Yosua. Tuhan menjanjikan tanah dari padang gurun dan gunung Libanon yang sebelah sana itu sampai ke sungai besar, yakni sungai Efrat, seluruh tanah orang Het, sampai ke Laut Besar di sebelah matahari terbenam (Yosua 1:4). Di sini Yosua membutuhkan mental yang tangguh (ayat 6) untuk bisa menaklukkan semua daerah itu bagi Tuhan. Mental itu harus kuat dalam satu komitmen bagi Tuhan. Ada banyak anak di zaman sekarang yang kurang terlatih mentalnya bagi Tuhan sehingga mudah menyerah dan manja. Mental rohani itu harus dilatih bukan untuk menyatakan kekuatan diri tetapi untuk menyatakan kebesaran Tuhan.

 Yosua dituntut untuk bertindak dalam kesucian dan kewaspadaan (ayat 7) agar ia bisa terus menjadi pemenang. Ketika menghadapi kesulitan, ia harus kembali kepada Alkitab. Tuhan sudah memberikan petunjuk-Nya dalam Alkitab. Semua yang ia harus lakukan dan tidak boleh lakukan sudah diberikan oleh Tuhan sehingga ia tahu bagaimana harus melangkah. Yosua tahu bahwa Musa telah melakukan kesalahan dalam menunjukkan kemarahan yang tidak suci sehingga tidak bisa masuk ke tanah Kanaan (Bilangan 20:11-12). Di sini ia sadar bahwa ia tidak boleh melakukan satu kesalahan pun di hadapan Tuhan. Ia harus selalu berdialog dengan Tuhan dan mencari kehendak-Nya. Pemimpin yang baik selalu melakukan peperangan rohani dan tidak lengah karena satu kesalahan bisa menghancurkan misinya. Di dalam peperangan, satu kesalahan kecil bisa mengakibatkan kekalahan. Oleh karena itu kewaspadaan harus selalu ada. Peperangan itu menuntut komitmen penuh dan kewaspadaan penuh.

Bagaimana agar hal ini bisa dicapai? Kita harus memberitakan Firman Tuhan dan merenungkannya sebagai kunci kesucian dan keberhasilan (ayat 8). Mazmur 109:105 Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. Yosua 1:8 Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. Mazmur 1:2-3 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Perenungan dan ketaatan kepada Firman Tuhan menjadi hal yang mutlak dalam mencapai kemenangan rohani. Firman Tuhan itu harus selalu menjadi pemimpin hidup kita. Itulah kunci keberhasilan kita. Ini nampak sederhana namun menuntut ketaatan dan ketekunan. Oleh karena itu kita harus membaca Alkitab setiap hari. Orang tua tidak bisa mengubah anak menjadi baik karena hanya Firman Tuhan yang mampu melakukan itu. Firman itu memiliki kuasa untuk mencerdaskan rasio, emosi, dan kehendak kita.

Mengapa Tuhan di dalam ayat 9 berkata “bukankah telah Kuperintahkan kepadamu”? Ini karena Yosua tidak langsung bertindak setelah diperintahkan oleh Tuhan. ia melakukan penundaan karena masih ada keraguan. Ini adalah hal yang wajar bagi seorang muda sepertinya. Namun kita tidak boleh meragukan pimpinan Tuhan. Tuhan selalu siap berperang untuk umat-Nya, maka kita tidak perlu takut. Yosua diteguhkan kembali di ayat 9 sehingga ia melihat kepada Tuhan dan bukan musuh yang terlihat kuat. Pada akhirnya sesuai ayat 10-18, Yosua menjalankan semua yang diperintahkan Tuhan sesuai standar dari Tuhan. Yosua 1:17 sama seperti kami mendengarkan perintah Musa, demikianlah kami akan mendengarkan perintahmu. Jawaban orang Israel membuat Yosua semakin teguh di dalam kepemimpinannya karena semakin jelas bahwa Tuhan memimpinnya. Tidak ada orang Israel yang meragukan Yosua sebagai pemimpin. Semuanya sudah satu hati dan siap berperang bagi Tuhan. Tuhan memberikan wibawa dan kekuatan rohani bukan dari dalam diri kita melainkan dari Tuhan dan Firman-Nya. Mari kita belajar menjadi pemimpin yang memiliki misi kemenangan di dalam keluarga, studi, pekerjaan, dan pelayanan kita untuk menyatakan kebesaran Tuhan. Ketika banyak jiwa bertobat melalui apa yang kita lakukan, di sanalah kita tahu bahwa kita telah menang. Misi kemenangan harus kita jalankan sampai kita bertemu kembali dengan Tuhan. Di sana kita harus terus berjuang untuk menyatakan misi kemenangan sebagai misi di dalam hidup kita.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

 

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami