Misi Hidup yang Tergenapi (Rut 4:1-12)

Misi Hidup yang Tergenapi (Rut 4:1-12)

Categories:

Khotbah Minggu 8 Desember 2019 SORE

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Kita akan membahas tema ‘Misi Hidup yang Tergenapi’. Ayat bacaan kita diambil dari Rut 4:1-12. Pada ayat kedua kita melihat bahwa Boas mengatur tempat duduknya. Ini menunjukkan bahwa Boas memiliki pengaruh dan kuasa. Pada ayat ke-9 ada kata ‘saksi’. Ini adalah kata yang penting dalam Perjanjian Lama. Saksi itu dibutuhkan untuk menunjukkan bahwa suatu perkara itu ditentukan bukan karena paksaan tetapi karena musyawarah dan mufakat. Saksi itu memiliki peran yang penting dalam budaya Yahudi. Ayat ke-11 menyatakan bahwa yang hadir di sana bukan hanya tua-tua tetapi banyak orang lain. Ini berarti Boas memang seorang tokoh masyarakat. Kehadiran Boas mengundang perhatian orang banyak. Orang banyak itu ingin tahu apa perkara yang sedang diselesaikan oleh Boas. Boas adalah orang yang penting dan saleh serta terkenal rohani pada saat itu. Pada ayat ke-11 dan ke-12 ada ucapan berkat bagi Boas dan Rut. Dikatakan ‘keturunanmu kiranya menjadi seperti keturunan Peres’. Jadi mereka berharap anak Boas nanti menjadi anak yang unggul, beriman, membangun masa depan, dan membanggakan orang tua.

 

 

1) Pendahuluan

 

Boas memiliki semangat hidup yang baru. Mengapa demikian? Rut berkata ‘kembangkanlah kiranya sayapmu melindungi hambamu ini, sebab engkaulah seorang kaum yang wajib menebus kami’ (3:9). Itu adalah suatu ajakan atau permintaan supaya Boas menikahi Rut. Saat itu Boas menjawab dengan bijaksana. Ia tidak menjanjikan apapun ‘memang aku seorang kaum yang wajib menebus, tetapi walaupun demikian masih ada lagi seorang penebus, yang lebih dekat dari padaku’ (3:12). Setelah pagi tiba, Boas menyuruhnya pulang dan menanti jawaban darinya. Pada hari itu juga Boas langsung pergi ke pintu gerbang untuk menyelesaikan perkara itu. Ini adalah semangat yang luar biasa. Boas sudah tua. Ia tidak pernah berpikir untuk menikah di masa tuanya dan mendapatkan anak. Ia hanya berpikir untuk bekerja dan menjadi berkat bagi orang lain. Ternyata di masa tuanya ia mendapatkan kejutan yang baru dan semangat yang baru. Setiap kita seharusnya bersemangat meskipun tidak ada kejutan. Mengapa kita harus bersemangat? Karena kita selalu bergerak dalam hidup ini. kita bergerak karena kita mengejar, mengikuti, dan menggenapi waktu Tuhan. Semangat kita muncul karena kita percaya bahwa penyertaan Tuhan selalu baru bagi kita. Di sini Boas memiliki semangat yang melampaui itu semua. Bisakah Boas menunda semua itu dan berdoa selama sebulan? Bisa, namun ia tidak melakukan itu. Mengapa demikian? Pertama, Boas sudah tua. Ia tidak perlu lagi menunda. Bisakah Boas meminta untuk berpacaran setahun dahulu? Ini tentu saja permintaan yang wajar. Namun Boas memilih untuk langsung menyelesaikan perkara itu. Terkadang ada pasangan yang sudah berumur dan ingin menikah. Sebaiknya mereka tidak menunda lagi. Jadi orang-orang seperti ini harus dipercepat waktunya. Boas langsung memutuskan tanpa berpacaran lagi.

 

Mengapa Boas begitu bersemangat untuk menyelesaikan semua perkara itu? karena Boas mendapatkan satu visi hidup yang baru. Ia mendapatkan target dan tantangan yang baru. Ia mendapatkan satu tujuan yang baru untuk hidupnya. Mengapa Boas dari pagi sudah menunggu di pintu gerbang? Mengapa ia tidak mengundang kerabatnya dan para tua-tua untuk datang ke rumahnya? Dalam kebiasaan Yahudi, para tua-tua berkumpul di pintu gerbang dari pagi untuk menyelesaikan setiap perkara. Mereka tidak boleh menunda. Jadi pintu gerbang itu adalah pintu penyelesaian masalah. Di pintu gerbang itu juga para tua-tua mengawasi orang asing yang masuk. Jadi ada kontrol dan pengawasan. Boas hadir saat itu di pintu gerbang untuk mencari solusi. Adakah peran Tuhan dalam perkara ini? Ada. Bagaimana kita mengetahui hal ini? Boas tidak perlu memanggil saudaranya yang lebih berhak menebus Rut. Dituliskan bahwa ‘kebetulan’ penebus itu lewat. Di dalam teologi Reformed tidak ada istilah ‘kebetulan’. Apapun yang berkaitan dengan penggenapan rencana Tuhan dan penyataan kemuliaan Tuhan, tidak ada yang kebetulan. Jadi semuanya ada dalam nilai kedaulatan Allah. Mengapa mereka lebih cenderung berdiskusi tentang tanah daripada Rut? Apa yang disampaikan oleh Boas itu bersifat materi yaitu tanah. Jadi mereka berkecenderungan untuk berdiskusi tentang tanah. Ketika mereka berbicara tentang Rut, kerabat yang paling dekat untuk menebus itu langsung mundur karena ia sudah memiliki keluarga.

 

 

2) Semangat Hidup yang Baru

 

            Bagaimana dengan bulan Desember ini? Apakah semangat kita semakin besar? Apakah target-target kita tercapai atau kita mengalami lebih banyak kegagalan? Setiap dari kita perlu mendapatkan tantangan. Kita memerlukan tantangan-tantangan dari Tuhan. Ketika kita mengalami tantangan itu dan melihat Tuhan yang lebih besar daripada semua itu memimpin kita, kita akan mendapatkan semangat yang murni. Itulah semangat yang dibutuhkan dalam gerakan Reformed. Pdt. Stephen Tong terus mengingatkan kita akan visi gerakan Reformed untuk menjangkau jiwa-jiwa sehingga muncul zaman Reformed Injili. Untuk menjadi orang yang terus bergerak kita membutuhkan otot yang kuat, minyak di persendian kita, dan mental yang kuat. Otak kita juga membutuhkan cairan otak agar bisa bekerja dengan baik. Jadi kita butuh menantang diri kita sendiri untuk menggenapkan nilai Kerajaan Allah. Kita butuh tantangan dari Firman Tuhan dan gerakan Reformed supaya kita selalu memiliki semangat yang baru. Siapa yang menantang Boas? Rut. Banyak orang yang sudah tua memiliki suatu kebanggaan yaitu cucu. Namun dalam kasus Boas, kebanggaannya adalah pernikahannya. Bukan Boas yang melamar tetapi Boas yang dilamar. Jadi ini bukan hal yang biasa. Boas mendapatkan misi hidup yang baru (menikah). Ini merupakan hal yang benar-benar baru bagi Boas. Ia sudah terbiasa hidup sendiri dan tiba-tiba ia menikah. Rut menantang dan melamarnya sehingga ia mendapatkan misi hidup yang baru. Kita diciptakan sebagai peta teladan Allah dan setiap kita memiliki jenis kelamin laki-laki atau perempuan untuk kita menikah.

 

Di dalam pernikahan ada perubahan paradigma yang baru. Banyak orang Kristen yang berpikir untuk tidak mau menikah dan tidak mau mendapatkan banyak anak. Akhirnya jumlah orang Kristen berdasarkan kelahiran itu berkurang drastis. Maka dari itu kita harus berpikir untuk memiliki banyak anak. Kita melakukan ini pun untuk Kerajaan Allah. Saat tua-tua dan banyak orang menyaksikan perkara itu, mereka mendoakan dan menyatakan pengharapan mereka untuk pernikahan Boas. Mereka tidak hanya memikirkan Boas tetapi lebih besar lagi yaitu untuk bangsa Israel. Mereka berharap keturunan Boas akan seperti keturunan Peres yaitu keturunan yang bermutu, unggul, dan bisa dibanggakan untuk memberikan pengaruh rohani dalam bermasyarakat. Jadi ada kualitas di dalam dan kualitas di luar. Jadi di dalam pernikahan yang dikaruniakan anak itu ada misi hidup yang baru untuk membangun suatu keluarga yang baru sehingga orang-orang melihat Tuhan melalui keluarga kita. Di sini Boas tidak egois. Ia tidak menolak Rut karena menikmati kesendiriannya. Jadi Boas rendah hati dalam menanggapi semua itu. Ia mau menjalankan misi hidup yang baru itu. ia juga memiliki target hidup yang baru (membangun keluarga). Dahulu Boas hanya berpikir untuk bekerja dan menjadi berkat. Ternyata ia harus membangun keluarga. Jadi ia berani untuk pergi ke pintu gerbang. Ia memiliki misi dan target. Kedua hal ini tidak bisa dipisahkan. Kemajuan hidup kita bisa diukur dari banyaknya target yang kita capai. Boas mendapatkan doa dan restu dari para tua-tua dan orang banyak itu sehingga ia menjadi keluarga yang menyatakan kebesaran Tuhan. Jadi ada pemikiran ke arah luar.

 

Boas juga mendapatkan tujuan yang mau dicapai (keluarga bagi Allah). Boas membangun keluarga bukan hanya untuk cinta atau sukunya. Boas menikah untuk melanjutkan keturunan dari Elimelekh. Ia tidak mau garis keturunannya terhapuskan. Jadi ada nilai penebusan, keagungan, dan nilai yang lebih besar daripada cinta atau kesukuan. Ketika ketiga hal ini ada (misi, target, dan tujuan), itu semua membuat Boas berani melangkah ke pintu gerbang. Di sini kita melihat bagaimana Boas berani menghadapi realitas. Terkadang kita hanya bermimpi atau berfantasi tanpa keberanian untuk menghadapi realitas. Seorang pemimpin harus berani menghadapi realitas untuk menerobos realitas. Jika kita tidak berani menghadapi realitas dan tidak berani menerobos realitas, maka kita hanya akan menjadi pekerja biasa. Di sana kita tidak bisa menjadi penerobos. Kita semua hidup dalam sistem, namun ketika Allah bekerja, Ia bisa bekerja melampaui semua sistem itu. Allah bisa bekerja melampaui akal dan pikiran kita. Setan dan manusia bisa mencoba untuk menggagalkan kita, namun ketika Allah Roh Kudus bekerja, pekerjaan Tuhan tidak mungkin bisa digagalkan. Maka dari itu kita harus bersatu secara rohani dalam visi Tuhan. Kita harus berani menghadapi kenyataan dan tantangan. Di dalam semua itu kita harus menjalani dengan bergantung pada Tuhan. Ketika kita ingin membangun gereja pun, kita menjalaninya dalam rencana Tuhan. Ini semua bukan untuk diri kita tetapi untuk Tuhan dan untuk anak-cucu kita bisa nikmati. Jadi kita harus berani menghadapi masa depan. Tantangan merupakan kenyataan hidup namun kita tidak perlu takut jika Tuhan beserta kita. Boas berani menghadapi realitas. Ia pergi ke pintu gerbang dan saudaranya itu lewat. Ia mau duduk dan berdiskusi dengan Boas. Boas mau menjalani proses penggenapan itu. Jadi ia tidak mau semua hal itu dilakukan secara tertutup.

 

 

3) Realitas Proses Penggenapan

 

            Boas tidak mau pernikahan itu terjadi hanya karena keinginan Rut dan keinginannya sendiri. Keinginan itu bisa didorong oleh nafsu, tawaran, dan umur. Boas juga mengerti realitas yaitu ada orang yang lebih layak untuk menebus Rut. Boas di awal pagi sudah menunggu di pintu gerbang. Di sana ada para saksi yang melihat perkara itu. Dia membutuhkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Jika pernikahan kita hanya didasari keinginan tanpa aspek rohani atau tanpa pimpinan dalam waktu Tuhan, maka pernikahan kita bisa gagal. Maka dari itu kita harus merenungkan hal ini sebelum menikah. Hal ini harus dilakukan supaya tidak terjadi penyesalan. Ketika kita merasa bahwa pasangan yang kita pilih adalah yang terbaik, kita harus merenungkan mengapa kita berpikir bahwa ia adalah yang terbaik. Dari sisi mana kita bisa mengatakan bahwa ia adalah yang terbaik? Apakah hati kita masih menyimpan kekhawatiran terhadap pasangan dari berbagai aspek? Jika ada banyak kekhawatiran, maka kita harus merenungkan kembali pilihan kita. Mengapa Boas tidak mau melalui semua itu dan tidak mau menunda? Ia langsung menikah tanpa berpacaran terlebih dahulu. Sebelumnya Boas sudah mendengar tentang Rut termasuk bagaimana ia meninggalkan Moab untuk tinggal bersama Naomi di Israel. Boas menyukai keputusan Rut dalam hal itu. Jadi dari sanalah Boas mengenal Rut. Maka bagi Boas yang sudah tua, tidak perlu ada lagi masa pacaran. Setiap dari kita mengalami masa pacaran yang berbeda-beda. Ada yang berpacaran selama setahun, 2 tahun, 5 tahun, dan seterusnya. Namun yang paling penting bukanlah kuantitas tetapi kualitas. Di dalam semua itu harus ada proses yang harus dijalani. Pengujian dan pematangan itu tidak boleh dilewatkan. Di sini Boas melampaui semua itu. ia rohani, saleh, teruji dalam hidupnya, teruji kualitasnya sebagai tua-tua, dan dihormati masyarakat. Baik saudaranya juga para tua-tua menghormati Boas. Di sini Boas aktif dan tidak menunggu di rumah untuk menciptakan komunikasi dan menyelesaikan masalah.

 

Boas dan orang-orang di sana melakukan diskursus. Diskursus ini dilaksanakan berdasarkan data dan fakta secara terbuka. Kita melihat bahwa Boas tidak mengusir orang-orang yang hadir di sana. Boas bisa saja melakukan diskusi secara tertutup, namun ternyata ia melakukan itu secara terbuka dan orang-orang mendukungnya. Mengapa mereka membicarakan tanah? Bukankah manusia lebih penting? Boas juga membicarakan tentang Rut setelah pembicaraan tentang tanah. Kerabatnya menolak menebus Rut agar milik pusakanya tidak rusak. Setelah itu Boas mengambil keputusan untuk menebus Rut. Keputusan itu didukung oleh orang-orang di sana dan mereka mendoakan Boas serta Rut. Di dalam pernikahan kita tidak hanya memikirkan tentang diri sendiri dan pasangan. Kita juga harus memikirkan keturunan. Dari keturunan ini kita ikut serta dalam membangun bangsa yang takut akan Tuhan. Ini merupakan bagian dari membangun Kerajaan Allah di dunia. Kita harus mendidik anak-anak kita menjadi anak-anak berkualitas yang membangun bangsa dan memberikan kebaruan. Jadi di pintu gerbang itu ada keputusan dan ada dukungan. Dukungan yang diberikan itu bersifat futuris. Mereka tidak tahu apakah pasangan itu bisa mendapatkan anak atau tidak, namun mereka sudah memiliki visi. Selama Rut menikah dengan Mahlon, mereka belum pernah mendapatkan anak. Mungkin saja orang-orang saat itu sempat berpikir bahwa Rut itu mandul. Jadi iman mereka luar biasa. Iman kita harus membawa kita untuk mendidik anak-anak kita sehingga mereka bisa mandiri dalam hal kerohanian, hidup, dan dalam menerobos setiap tantangan sampai mereka bisa diperhitungkan sebagai anak-anak yang bisa diandalkan. Orang-orang di sekitar Boas-lah yang bersemangat. Mungkin di antara orang-orang itu ada pekerja-pekerja Boas dan keluarga mereka. Tidak ada seorang pun yang meragukan keputusan itu. Tidak ada yang menentang keputusan dari Boas yang sudah tua untuk menikahi Rut yang masih muda. Dukungan visi untuk pernikahan itu lebih penting daripada dukungan dana. Ada pasangan-pasangan yang mau menikah hanya karena dukungan dana tetapi belum mengerti apa itu pernikahan Kristen. Ini akan menjadi tidak baik ke depannya.

 

Realitas proses penggenapan itu harus dialami oleh Boas. Semua berakhir dengan kabar yang baik. Keputusan pernikahan mereka didukung penuh oleh orang-orang di sana. Misi hidup kita bisa digenapi jika kita melangkah dengan iman. Selangkah demi selangkah kita harus berjalan untuk menggenapi visi Kerajaan Allah. Kita menikah bukan hanya sekadar membangun keluarga. Visi kita bukanlah visi yang kecil tetapi visi yang besar. Sebagai orang tua kita harus mendoakan anak-anak kita sehingga mereka bisa menjadi orang-orang yang besar. Keputusan Boas membawa suatu keceriaan dan semangat yang baru untuk penduduk Betlehem. Saat itu Tuhan Yesus belum lahir. Mengapa mereka memiliki iman yang luar biasa? Garis keturunan Boas nanti akan sampai kepada Yesus. Orang-orang di sana memikirkan hal yang besar untuk Boas. Kita pun juga harus berani mendoakan hal-hal besar untuk keluarga kita, anak-anak kita, dan gereja kita. Kita yang terlihat kecil ini bisa Tuhan pakai untuk hal-hal yang besar. Visi, target, dan tujuan dari Tuhan bisa membuat kita menerobos setiap situasi. Kita harus memikirkan masa depan kita dan anak-anak kita serta menetapkan target yang besar untuk kemuliaan Allah. Kita ditebus untuk menjadi alat kemuliaan Tuhan. Kita mempersembahkan seluruh hidup kita karena itu adalah nilai ibadah kita kepada-Nya.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami