Meragukan Diri (Musa)

Meragukan Diri (Musa)

Categories:

Bacaan alkitab: Keluaran 4:1-9

 

Pendahuluan

Adakah orang yang tidak pernah takut gagal? Banyak orang yang percaya bahwa dirinya akan mengalami banyak kegagalan. Ini adalah orang yang tipenya sering ragu-ragu. Mereka takut gagal dan tidak berani berbuat apa-apa. Ada orang yang awalnya ragu-ragu namun kemudian setelah menganalisa dan mengumpulkan informasi, ia menjadi orang yang berani melangkah. Ada orang yang terus menerus mencoba dan gagal namun tetap berjuang. Jadi ada banyak macam orang. Musa berada di istana Firaun selama 40 tahun dan ia belajar tentang administrasi kerajaan dan kepemimpinan di sana. Ia belajar tentang manajemen yang rapi dan segala tujuannya dengan jelas. Setelah itu ia belajar sebagai gembala kambing domba di padang gurun selama 40 tahun. Ia belajar memiliki kepekaan, kepedulian, disiplin, tanggung jawab, dan relasi hati.

Mengapa Musa kembali meragukan dirinya? Ternyata panggilan yang diberikan di umurnya yang sudah tua membuat Musa tidak mudah untuk percaya. Ia mengkaji semuanya secara mendalam. Ketika ia ragu, ia meminta konfirmasi dari Tuhan. Ia ragu Firaun akan mendengarkannya dan taat kepadanya. Musa meragukan dirinya ketika ia menghadapi orang yang besar. Ini adalah hal yang wajar.

Mengapa Allah memakai tanda mukjizat untuk membuktikan penyertaan-Nya terhadap Musa? Bisakah Tuhan tidak memakai tanda mukjizat dan langsung melembutkan hati Firaun agar ia langsung percaya kepada Musa? Bisa, namun Tuhan memakai tanda mukjizat. Firaun berhati keras dan lebih percaya kepada seluruh dew Mesir. Saat Musa memperkenalkan Allah Yahweh kepada Firaun, Firaun lebih percaya kepada kuasanya sebagai raja. Di sini ada peperangan agama atau kepercayaan dan kuasa atau otoritas. Tuhan akhirnya menyatakan diri-Nya jauh lebih besar daripada semua yang Firaun anggap besar. Maka dari itu Tuhan memakai tanda mukjizat.

Apakah mereka yang sudah melihat tanda mukjizat pasti menjadi percaya kepada Tuhan? Belum tentu. Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa iman dibangun di atas dasar mukjizat. Mukjizat bisa membuat manusia terkagum-kagum namun belum tentu membawa manusia kepada sumber mukjizat itu. Ketika orang-orang menonton pertunjukan sulap, mereka hanya terkagum dan tidak langsung menyembah pesulap itu. Kita adalah manusia yang memiliki keterbatasan dan ketika kita melihat hal yang melampaui keterbatasan kita, kita menjadi kagum. Kita adalah makhluk yang memiliki standar kepuasan. Di sini Tuhan mau memberikan peneguhan bagi Musa dan juga kepada Firaun.

Apa artinya tanda ular, kusta, dan air yang menjadi darah? Tuhan memberikan tanda yaitu tongkat yang menjadi ular kobra, tangan sehat yang menjadi kusta, dan air yang menjadi darah. Ular king cobra saat itu dianggap sebagai raja ular dan merupakan ular yang ditakuti. Penyakit kusta adalah penyakit yang paling ditakuti saat itu karena tidak bisa disembuhkan. Air adalah kebutuhan yang sangat penting di Mesir sehingga jika air sungai Nil menjadi rusak, maka pertanian dan ekonomi Mesir pasti juga menjadi rusak. Ketiga hal ini merupakan hal yang paling ditakuti di Mesir.

 

Pembahasan

Jadi ketika Musa bertanya bagaimana seandainya jika orang Israel tidak percaya kepada Musa dan berkata ‘Tuhan tidak menampakkan diri kepadamu’, maka Tuhan menjawab dengan menyatakan tanda mukjizat-Nya. Ini adalah penegasan dari Tuhan. Tuhan memberikan bukti, namun apakah manusia bisa langsung percaya ketika melihat bukti-bukti yang ada? Belum tentu. Manusia bisa percaya kepada Tuhan sebagai pencipta namun belum tentu percaya kepada pribadi dan karya Tuhan. bangsa Israel berjalan di padang gurun selama 40 tahun dan melihat begitu banyak mukjizat namun mereka tidak percaya. Mereka tidak diizinkan masuk ke Kanaan karena memberontak. Mereka menyepelekan mukjizat dan tidak memaknai mukjizat dalam ibadah mereka. Tuhan memberikan mereka tiang awan dan tiang api setiap hari tanpa harus membayar apapun. Tuhan juga terus memberikan mereka makanan secara gratis namun mereka tidak mengucap syukur dan meminta yang lebih dari itu. Tuhan juga memberikan mereka air minum di tengah padang gurun yang gersang. Mereka sudah melihat banyak mukjizat Tuhan namun terus menggerutu dan pada akhirnya mereka meninggal tanpa iman yang benar. Mereka hanya terkagum tetapi tidak takut akan Tuhan. Tuhan mengizinkan mukjizat-Nya dinyatakan bukan agar Firaun percaya kepada Allah tetapi hanya kagum. Bukti dan mukjizat belum tentu dapat meyakinkan manusia akan Tuhan, maka dari itu Reformed memakai bukan pendekatan bukti (evidentialism) tetapi pendekatan presuposisi. Kita mengerti bahwa manusia sudah jatuh ke dalam dosa sehingga membutuhkan pengampunan. Di sini kita mengarahkan manusia kepada Allah yang suci, kekal, dan berdaulat. Jadi kita tidak memakai bukti (bukan sebagai dasar argumentasi utama) tetapi menundukkan pikiran manusia di bawah pikiran Kristus (2 Korintus 10:5). Itulah penginjilan yang sejati.

            Tanda mukjizat pertama yang Tuhan berikan adalah tongkat yang bisa menjadi ular. Tongkat gembala berfungsi untuk mengusir hewan-hewan buas. Selama 40 tahun Musa memegang tongkatnya dan ia biasa memakai itu untuk membunuh ular dan mengusir serigala-serigala. Namun kemudian Musa diizinkan untuk melihat penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Ia melihat hal yang tidak biasa dari hal yang biasa yaitu tongkatnya bisa menjadi ular. Musa tidak melihat ular yang tadinya tongkat itu sebagai fatamorgana atau ilusi. Di dalam pelayanan pengusiran Setan terkadang ada fatamorgana. Ketika tongkat itu menjadi ular kobra, Musa langsung lari meninggalkannya (ayat 3). Ia takut kepada ular kobra tersebut karena racunnya bisa membunuh dengan cepat. Di sini Tuhan membawa Musa keluar dari rutinitasnya. Benda mati diubah Tuhan menjadi benda hidup. Dukun-dukun Firaun juga memiliki tongkat yang menjadi ular (Keluaran 7:12). Mengapa Tuhan memberikan tanda itu kepada Musa? Ular kobra adalah simbol yang dipuja di Mesir. Di zaman itu di Mesir, ular tidak boleh dibunuh. Ada cerita sejarah yang menyatakan bahwa Cleopatra memakai mahkota dengan simbol ular namun kemudian ia meninggal karena racun ular. Raja kobra suka memakan ular lainnya termasuk kobra. Ular dianggap sebagai penguasa yang menjalar. Simbol ular ada di mahkota dan lengan tangan Firaun. Ini memberi tanda bahwa ia adalah orang yang luar biasa. Museum-museum di luar negeri masih menyimpan mumi dan aksesoris Firaun yang memiliki simbol ular. Ketika Musa melihat tongkat yang menjadi ular itu, itu adalah ujian iman untuk Musa (bandingkan Keluaran 7:12). Musa diminta untuk memegang ekornya (ayat 4). Musa diajarkan untuk tidak takut dan mengikuti perintah Allah. Di sini ketakutan yang tidak suci itu dikuduskan. Ia percaya kepada Tuhan, memegang ekor ular itu, dan melihat bahwa ular itu kembali menjadi tongkat. Ini berarti Tuhan memberikan kuasa kepada Musa. Benda yang mati bisa menjadi hidup dan sebaliknya. Kita juga diberikan kuasa sebagai anak-anak Allah, tetapi kuasa penciptaan itu hanya dimiliki oleh Tuhan. Kita hanya bisa meniru dan mengikuti Tuhan. Banyak orang ingin menjadi pencipta, menjadi sombong, dan lupa bahwa mereka adalah orang-orang yang terbatas dan dicipta. Musa telah menerima kuasa, namun ia masih belum cukup percaya.

Tuhan kemudian memberikan tanda mukjizat yang kedua yaitu kusta. Ciri-ciri penyakit kusta adalah kulit menjadi warna merah dan gatal-gatal lalu seiring waktu bisa menjadi putih. Jika dibiarkan lebih lama maka akan terjadi pembusukan. Saat itu kusta adalah penyakit yang sangat ditakuti dan tidak bisa disembuhkan. Di zaman Perjanjian Lama di Israel, orang kusta harus menjauh dan memberikan tanda agar orang-orang tidak mendekatinya. Jadi mereka tidak bisa membina relasi secara normal. Mereka diasingkan sampai dinyatakan sembuh. Penyakit ini tidak ada obatnya pada saat itu, bahkan para ahli dan dukun-dukun Mesir tidak bisa menyembuhkannya. Ketika Musa memasukkan tangannya ke dalam bajunya lalu menariknya keluar, tangannya menjadi putih seperti salju karena kusta (ayat 6). Musa pasti kaget melihat hal ini. Ketika ia memasukkan kembali tangannya ke bajunya dan menariknya keluar, tangannya kembali normal seperti biasa (ayat 7). Di sini kita belajar bahwa Tuhan selalu siap menyatakan kuasa-Nya. Kuasa Tuhan bisa memakai dan mengubah tubuh kita. Tuhan bisa menyatakan kemuliaan-Nya melalui penyakit-penyakit kita. Dari sana kita bisa semakin percaya kepada Tuhan. Namun orang yang tidak mau bertobat bisa dihukum oleh Tuhan melalui penyakit. Di sini Musa belajar tentang Tuhan sebagai pencipta yang sempurna. Segala ketidaksempurnaan yang dibuat manusia bisa dibuat sempurna oleh Allah. Manusia diciptakan baik adanya, namun manusia membuatnya menjadi tidak baik karena dosa, tetapi setelah itu Tuhan bisa memulihkan manusia. Allah di sini menyatakan dirinya sebagai tabib dari segala tabib. Kuasa Tuhan melampaui semua ilmu medis manusia.

Tanda mukjizat yang ketiga adalah air menjadi darah. Air bisa menjadi berwarna merah karena kimia tertentu. Tadi Tuhan memberikan tanda lewat tongkat yang menjadi ular, tangan yang menjadi kusta, dan sekarang Tuhan memberikan tanda lewat air yang menjadi darah. Air yang biasa itu bisa berubah menjadi darah. Apa artinya? Air sungai Nil adalah aset ekonomi yang paling penting untuk Mesir. Kerajaan Mesir dan transportasinya bergantung pada air sungai Nil. Sungai Nil memberikan mereka banyak ikan dan air untuk kebutuhan sehari-hari. Mesir tidak memiliki mata air jadi mereka mengandalkan sungai Nil. Air menjadi darah berarti Tuhan akan menghancurkan ekonomi Mesir. Di sini kita juga belajar bahwa Tuhan berkuasa untuk kesejahteraan suatu bangsa. Apa yang diandalkan manusia bisa menjadi tidak berguna jika Tuhan mengubahnya. Yesus berkata: Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang (Matius 5:13). Ada tempat-tempat di Timur Tengah dimana ada garam namun tidak asin lagi. Rasanya sudah menjadi tawar. Dulu orang-orang menyembah ilah-ilah di tempat itu namun Tuhan kemudian mengubah tempat itu. Apa yang dulu dipuja manusia bisa menjadi sampah karena Tuhan mengubahnya. Mesir mengandalkan air sungai Nil untuk pertanian dan peternakan mereka. Mereka juga minum dari sungai Nil (Keluaran 7:24). Di sini kita belajar untuk tidak menuhankan ekonomi. Pada tahun 722 SM bangsa Asyur diizinkan menguasai Israel, namun pada 605 SM bangsa Asyur dikalahkan oleh kerajaan Babel yang dipimpin oleh Nebukadnezar. Setelah Nebukadnezar, Koresh dari kerajaan Media-Persia menjadi penguasa menggantikannya. Setelah kerajaan Media-Persia, kerajaan Yunani berkuasa. Setelah kerajaan Yunani, kerajaan Roma berkuasa. Siapapun yang berkuasa di dunia ini pasti memiliki batas waktu. Semua yang ada di dunia ini yang dipuja dan disembah oleh manusia berdosa akan hancur di dalam waktu Tuhan. Tuhan bisa menghancurkan ekonomi Firaun yang begitu ia andalkan. Di dalam hidup kita selalu ada kedaulatan Tuhan. Apa yang kita terima dan miliki bisa menjadi ujian dari Tuhan. Setiap ujian dari Tuhan tidak boleh kita isi dengan pencobaan sehingga hidup kita menjadi jauh dari Tuhan.

 

Penutup

Penyertaan kuasa dalam pelayanan adalah karya Allah dan kedaulatan Tuhan. Jika kita bisa dipakai Tuhan, maka sebenarnya itu adalah karya Tuhan 100% karena kita ini hanyalah sebuah instrumen yang kecil. Jika kita sudah mengerti kedaulatan Tuhan, maka kita tidak bisa melihat diri kita hebat. Tanda mukjizat hanya membuat seseorang percaya pada kuasa Tuhan dan belum tentu percaya pada pribadi Allah dan karya Allah. Ini sudah terbukti dalam kisah Israel yang sudah melihat begitu banyak mukjizat di padang gurun selama 40 tahun. Mereka tetap tidak percaya dan memberontak terhadap Tuhan. pada akhirnya generasi berikutnyalah yang diizinkan masuk ke tanah Kanaan. Musa pun tidak bisa masuk ke dalamnya tetapi Tuhan mengizinkannya melihat dari kejauhan di atas gunung. Mukjizat yang Tuhan berikan setiap hari itu menjadi murahan di mata mereka. Kasih yang diumbar terlalu banyak juga bisa dinilai murahan. Merupakan suatu anugerah jika hidup kita boleh selalu dipakai oleh Tuhan. Untuk segala sesuatu ada masanya, oleh karena itu kita harus memakai waktu dengan berhikmat. Jika ada dosa yang kita simpan maka kita harus segera bertobat. Ketika Tuhan masih bersabar maka kita harus segera mendekatkan diri kepada-Nya. Kita bisa belajar dari Musa yang takut gagal jika tidak ada penyertaan Tuhan. Jika ada orang yang berhasil tanpa ia meminta penyertaan Tuhan, maka itu bisa menjadi lubang kenikmatan yang mematikan imannya. Di dalam bagian ini kita bisa terjebak dalam kenyamanan yang menjauhkan kita dari Tuhan. Maka dari itu kita harus terus mengingat dan mengutamakan Tuhan walaupun sudah menjadi orang yang sukses dalam segala hal. Hidup dengan penyertaan Tuhan walaupun di dalam kesulitan adalah hidup yang diberkati. Seiring waktu tubuh manusia akan semakin lemah dan itu bisa semakin menyadarkan kita bahwa kita membutuhkan Tuhan. Kita harus sadar bahwa keindahan hidup yang terbesar adalah jika kita bisa melayani dan berelasi dengan Tuhan. Kesedihan yang terbesar adalah ketika kita jauh dari Tuhan. Tema hidup harus seperti mendaki gunung. Kita harus terus berjuang di dalam hidup ini. Jika tema hidup kita itu datar atau menurun, maka kita bisa tertidur dalam kenyamanan. Ketekunan adalah tema hidup orang beriman.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami