Menolak Panggilan Tuhan (Musa)

Menolak Panggilan Tuhan (Musa)

Categories:

Bacaan alkitab: Keluaran 3:14-22

 

Pendahuluan

Sampai sejauh mana pengenalan diri itu sangat penting? Pengenalan diri kita selalu berkaitan dengan pelayanan, studi, pekerjaan, dan seluruh target kita di masa depan. Pengenalan diri itu sangat penting agar kita mengenal talenta, kemampuan, kapasitas, dan bobot kita sehingga ketika kita bekerja, kita tidak memboroskan waktu tetapi menggunakan waktu secara efektif. Musa melihat dirinya sangat rendah dan tidak bisa berbuat apa-apa jika Tuhan tidak beserta. Setelah itu diri Musa dibereskan dan ia bisa menerima diri dalam penyertaan Tuhan. Ia kemudian bertanya tentang Tuhan karena ia mau mengenal Tuhan dalam keberadaan-Nya yang nyata. Mungkinkah kita melayani Tuhan, tetapi kurang mengerti siapa yang kita layani? Kita bisa saja hanya melayani organisasi atau acara agama tanpa mengerti visi dan misi Kerajaan Allah. Kita bisa saja tidak mengerti alasan dari pelayanan dan tujuannya untuk membawa jiwa serta membentuknya dalam iman. Jika ada orang yang melayani tanpa mengerti siapa yang dilayaninya, maka pelayanannya akan pasang-surut, bergantung pada suasana hati, dan tidak konsisten. Ini karena semuanya bergantung pada dirinya sendiri. Namun jika kita melayani karena panggilan Tuhan dan kita mengenal siapa Tuhan yang sudah menebus kita, maka kita akan selalu mau melayani. Jadi kita melayani harus karena panggilan karena di sana kita akan setia, rela berkorban, dan konsisten. Pelayanan yang berdasarkan diri sendiri akan berujung pada fokus pada diri sehingga bukan Tuhan yang dimuliakan dan pelayanan itu tidak berkualitas. Musa disertai dan dipimpin oleh Tuhan serta ia harus mengenal Tuhan yang tidak dibatasi oleh sebuah nama seperti kita.

Mengapa Musa bertanya tentang keberadaan Tuhan? Musa ingin mengenal Allah. Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? –apakah yang harus kujawab kepada mereka? (ayat 13). Di sini ia ingin memiliki pandangan yang sama dengan Tuhan ketika orang Israel bertanya kepadanya tentang nama Allah. Musa mau belajar dari nol dalam pelajaran mengenal Allah. Ia mau mengerti substansi yang benar sehingga semua jawabannya kepada orang Israel selaras dengan hati Tuhan yang menyebutkan diri-Nya AKU ADALAH AKU. Kita harus mau belajar teologi agar bisa menjawab segala pertanyaan mengenai iman kita dengan bertanggung jawab. Kita harus mengalami secara benar relasi dengan Tuhan. Nama itu penting karena memiliki arti. Tuhan tidak mau manusia membatasi diri-Nya dengan sebuah nama yang diberikan-Nya.

 

Pembahasan

Mengapa Musa menginginkan nama Tuhan? Musa sudah berumur 80 tahun dan sudah biasa melihat orang-orang di sekitarnya menyembah dewa-dewa yang memiliki nama. Dewa yang terkenal adalah Baal. Penyembahnya melihat bahwa ada penguasa alam semesta dan ada kuasa di dalam benda-benda yang disebut Baal. Dewi yang terkenal setelah Baal adalah Asyera. Ia dipuja sebagai dewi kesenangan. Dari konsep ini, Musa ingin nama Allah namun ternyata Allah tidak mau dibatasi oleh nama. Tuhan memperkenalkan diri-Nya kepada Musa dengan nama I am who I am (I will be that I will be) – Keluaran 3:14. Allah tidak mau memiliki nama yang bisa dibatasi pemikiran manusia karena diri-Nya adalah pencipta dan penguasa waktu yang tidak mungkin dibatasi oleh nama. Semua data di KTP kita adalah identitas yang membatasi diri kita. Inilah mengapa Allah menjawab Musa demikian. Nama Allah pasti tidak mudah dimengerti oleh Musa. Musa mungkin saja bertanya tentang nama Allah yang lebih singkat, namun ini berarti memaksa Tuhan dalam keterbatasan pikiran kita dan ini adalah kejahatan berpikir manusia. Jika kita membatasi nama Allah dalam nilai fungsi saja, maka itu adalah kejahatan berpikir. Di Areopagus, Paulus memperkenalkan Allah yang tidak mereka kenal (Kisah Para Rasul 17:23). Allah memiliki nama yang melampaui pengertian manusia. Ketika Anak Allah menjadi manusia, ia membatasi nama-Nya menjadi Yesus Kristus. Paulus menjelaskan dalam tulisan-tulisannya apa artinya Yesus yang diurapi, apa artinya Juruselamat, dan apa artinya Yesus Kristus sebagai satu-satunya sumber keselamatan. Di sana orang-orang Yahudi sulit menerima, namun orang-orang Yunani mudah menerimanya. Ketika kita dibaptis, nama Allah Tritunggal harus disebut yaitu Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus.

Namun apakah Tuhan memiliki nama? Ya, tetapi bukan nama buatan manusia melainkan nama pemberian Allah sendiri sehingga kita bisa mengenal Allah Tritunggal. Kita tidak mungkin bisa mengerti nama-Nya secara harfiah. Keberadaan Allah Bapa tidak menandakan bahwa Allah Ibu itu ada, maka dari itu kita tidak bisa memakai pengertian yang harfiah. Kita mengenal Allah dalam bahasa manusia karena kita adalah makhluk yang terbatas. Di dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus menyatakan nama-Nya dalam pernyataan ego eimi (Aku adalah): Aku adalah terang (Yohanes 8:12), Aku adalah roti hidup (Yohanes 6:35), Aku adalah jalan dan kebenaran dan hidup (Yohanes 14:6), Aku adalah pintu (Yohanes 10:9), Aku adalah pokok anggur (Yohanes 15:1,5), Aku adalah gembala (Yohanes 10:11, 14) dan lainnya. Dari semua itu kita mengerti bahwa nama menggambarkan Allah yang melampaui pikiran manusia. Nama yang dinyatakan oleh Tuhan menunjukkan kemahakuasaan-Nya. Di sini Musa sulit mengerti namun ia harus taat. Musa belajar bahwa Allah itu self-existent. Keberadaan-Nya melampaui pikiran manusia dan tidak bisa disejajarkan dengan Baal dan Asyera. Musa juga belajar tentang Allah yang kekal, yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu sehingga hidup terus untuk selamanya. Kita mengucap syukur karena kita memiliki Allah yang kekal yang tidak bergantung pada apapun juga. Di sinilah kita bisa percaya bahwa ketika kita sudah menjadi milik-Nya, kita tidak akan mengalami kematian kekal. Inilah pengharapan kita dalam ibadah kita. Mereka yang menyembah dewa-dewa sebenarnya menyembah sosok yang tidak kekal dan bisa berubah. Musa diminta untuk memimpin bangsa Israel yang saat itu jumlah kira-kira 1 juta sampai 1,8 juta jiwa keluar dari Mesir untuk beribadah kepada Tuhan. Selama 400 tahun bangsa Israel sudah diperbudak dan mereka beranak-cucu sangat banyak. Musa pasti mengalami kesulitan dalam mengatur ibadah Israel. Di sana ia mendapatkan pertolongan Tuhan sehingga ibadah bisa berjalan dengan baik. Allah yang kekal memberikan kita pengharapan. Agama tanpa pengharapan adalah agama palsu. Jadi iman kita adalah iman yang sejati dan membawa kedamaian dalam ibadah.

Allah memperkenalkan dirinya sebagai AKU ADALAH AKU dan sebagai Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Musa juga belajar tentang Allah yang tidak berubah. Allah tidak menolong berdasarkan suasana hati yang bisa berubah. Kesetiaan-Nya itu nyata dalam setiap rancangan-Nya, pertolongan-Nya, dan pemeliharaan-Nya. Kita tidak perlu memberikan sesajen dan melukai diri sendiri untuk menyembah Allah. Seluruh pimpinan dan penyertaan berasal dari Allah dan bukan bergantung pada diri kita. Kita tidak perlu mengemis rohani. Ada kepercayaan yang dimana pengikut-pengikutnya pergi ke pantai untuk mengemis rohani yaitu memberikan sesajen demi menenangkan penguasa-penguasa laut. Ketika Allah murka, ia bisa menghakimi dengan memakai alam, namun ketika manusia salah mengerti dan berpikir bahwa di balik kedahsyatan alam itu ada sosok dewa-dewa, di sanalah manusia menjadi takut kepada alam. Kita harus tahu bahwa Tuhan menciptakan alam di bawah kita. Kita diberikan alam untuk dinikmati dan bukan untuk ditakuti. Alam menjadi ancaman bagi manusia sejak kejatuhan dalam dosa. Hanya orang berdosa yang takut kepada alam, namun kita yang sudah ditebus tidak perlu takut lagi. Tuhan sudah mengatur segala sesuatu dalam penciptaan sehingga kita seharusnya menikmati alam. Manusia berdosa terjebak pada panteisme, animisme, dan dinamisme. Setan menunggangi pikiran manusia yang berdosa sehingga tidak menyembah Allah tetapi menyembah alam dan benda mati. Kita mengucap syukur bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang tidak berubah, yang terus setia di dalam karya-Nya. Di Afrika ada seorang dukun perempuan yang menerima Injil dan bertobat. Sebelumnya ia sering melayani banyak istri yang ingin agar suaminya tidak selingkuh. Setelah ia bertobat, ia ingin dibaptis di dalam sebuah gereja. Ia menemukan bahwa jemaat gereja itu adalah klien-kliennya ketika ia masih menjadi dukun. Jadi ternyata di zaman modern ini masih ada orang-orang Kristen yang bergantung pada kuasa gelap dukun. Kita tidak perlu memakai kuasa seperti ini karena kita memiliki komitmen kesetiaan seumur hidup dalam pernikahan. Ada orang yang beribadah namun tidak mengerti kepada siapa ia beribadah. Hal yang sama juga terjadi dalam pelayanan.

 

Musa mendapatkan perintah dari Tuhan yang berinisiatif. Ketika Musa bertanya, Tuhan menjawab. Ia mendapatkan nubuat dari Tuhan. Ketika kita mendapatkan nubuat Tuhan, pasti kita ingin mendengarkan kabar baik. Namun Tuhan memberitahukan kepada Musa nubuat yang buruk terlebih dahulu yaitu Firaun tidak mau taat. Tuhan berkata: Tetapi Aku tahu, bahwa raja Mesir tidak akan membiarkan kamu pergi, kecuali dipaksa oleh tangan yang kuat (Keluaran 3:19). Setelah itu ada kabar baik yaitu orang Mesir akan bermurah hati. Tuhan berkata: Dan Aku akan membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa ini, sehingga, apabila kamu pergi, kamu tidak pergi dengan tangan hampa, tetapi tiap-tiap perempuan harus meminta dari tetangganya dan dari perempuan yang tinggal di rumahnya, barang-barang perak dan emas dan kain-kain, yang akan kamu kenakan kepada anak-anakmu lelaki dan perempuan; demikianlah kamu akan merampasi orang Mesir itu (Keluaran 3:21-22). Bangsa Israel tidak perlu mengancam dan memakai kekerasan karena orang Mesir langsung memberikan dengan murah hati. Jadi Firaun mengeraskan hati namun Tuhan melembutkan hati rakyatnya. Mengapa Allah memberitahukan nubuatan ini kepada Musa? Raja Mesir mengeraskan hati namun rakyatnya melembutkan hati. Kita pasti ingin agar keduanya lembut hati, namun ternyata Tuhan hanya melembutkan hati rakyatnya. Pengutusan Tuhan selalu melibatkan 2 sisi ini. Tuhan Yesus mengutus kita seperti domba ke tengah-tengah serigala (Matius 10:16). Ia tidak pernah menutupi apa yang bisa terjadi kepada pengikut-Nya. Tuhan Yesus tidak bermulut manis tetapi menyatakan kebenaran bagi kita. Tuhan memilih untuk memakai kita karena kita adalah ciptaan-Nya yang mulia. Kita adalah peta dan teladan Tuhan yang merefleksikan cahaya Tuhan. Jika Tuhan masih mau memakai kita, maka itu adalah suatu anugerah.

Kita yang dipakai oleh Tuhan harus mengerti siapa Dia. Tantangan dalam pelayanan pasti selalu ada. Tuhan sengaja mengeraskan hati Firaun dan melembutkan hati rakyatnya. Hati manusia ada di tangan Tuhan yang kuat (bandingkan Amsal 21:1). Kita tidak boleh percaya bahwa manusia tidak mungkin berubah. Semua hati bisa diubah jika Tuhan turut campur. Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini (Amsal 21:1). Di sini kita mempelajari tentang Allah yang self-existent, kekal, dan tidak berubah. Ia bisa mengubah hati setiap manusia, maka dari itu kita tidak boleh langsung menyerah ketika sedang menjangkau orang-orang yang keras hati. Di tengah kesulitan itu sebenarnya Tuhan sedang menguji kita dan kita harus berdoa memohon pertolongan Tuhan. Kita belum tentu menerima apa yang kita doakan. Terkadang Tuhan menghadapkan kita dengan Firaun-Firaun yang baru, namun terkadang Tuhan juga memberikan orang-orang yang lembut di sekitar kita. Ini semua ada di dalam kedaulatan Allah yang maha kuasa. Tuhan dapat dengan mudah mengubah seluruh Indonesia, namun ketika kita tidak mau menginjili, maka semua itu menjadi terlihat murahan. Ada negara yang dulunya adalah negara Kristen namun kemudian berubah karena menganggap Injil sebagai berita murahan. Mereka tidak menginjili dan bergumul dengan Tuhan. Tuhan mengajarkan Musa untuk mengandalkan Tuhan dalam mengubah hati manusia di dalam kedaulatan-Nya. Pelayanan bagi Tuhan selalu ada tantangan dan pergumulan (jangan putus asa). Tuhan-lah yang memanggil dan mengutus Musa. Di dalam pengutusan itu Musa harus menghadapi banyak tantangan dan hambatan. Di dalam setiap pelayanan yang dilakukan demi kemuliaan Tuhan, Setan tidak akan tinggal diam. Di sana kita sedang diuji oleh Tuhan dan dicobai oleh Setan.

Sebelumnya Tuhan sudah menyatakan bahwa kita ini seperti domba yang diutus ke tengah-tengah serigala. Ini berarti kita akan selalu menghadapi peperangan rohani. Ketika Musa memimpin Israel menuju tanah Kanaan, mereka juga menghadapi banyak tantangan. Mereka juga menghadapi peperangan rohani. Reformed mengingatkan kita untuk jangan lelah dan selalu memiliki semangat berjuang. Kita tidak boleh bermanja-manja dan cepat puas diri. Rasa cepat puas itu membuat kita tidak mau melakukan perkara-perkara yang besar untuk Tuhan. Pelayanan kita harus mengandung semangat juang untuk meraih jiwa-jiwa yang terhilang. Harapan kita harus seimbang. Jika kita terus menerus mengharapkan kemurahan hati, maka kita akan menjadi manja, namun jika kita terus menerus mengharapkan Firaun-Firaun yang baru, maka hidup kita akan dipenuhi air mata. Jika semua itu seimbang, maka hidup akan jadi lebih indah. Tuhan Yesus Kristus menebus kita dengan salib. Di sana ada banyak tantangan dan pergumulan. Jika tema hidup kita adalah kelancaran, maka kita harus berhati-hati karena itu bukan program Tuhan. Program Tuhan selalu melibatkan tantangan. Di dalam doa Bapa kami kita diajarkan ‘janganlah membawa kami ke dalam pencobaan’ (Matius 6:13). Ini berarti kalaupun Tuhan mengizinkan itu, maka kita harus taat di dalam peperangan rohani. Kita akan terus menerus dicobai oleh Setan dan dunia. Di sini kita harus terus waspada dan menjaga kerohanian keluarga. Keluarga kita harus menjadi keluarga yang suci, benar, dan memiliki semangat juang. Di dalam bagian ini kita tidak boleh cepat puas diri agar kita bisa merasakan sukacita karena perkara Tuhan yang besar itu dinyatakan. Melalui kekerasan hati Firaun, Tuhan menyatakan tangan-Nya yang kuat dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib (ayat 19-20). Jadi dimana ada tantangan, di sana juga ada perkara Tuhan yang besar. Itulah penghiburan kita dalam pelayanan.

 

Penutup

Inilah yang kita pelajari yaitu: pengutusan Tuhan dan pelayanan untuk Tuhan tidak selalu mulus. Terkadang ada hambatan dan tantangan. Hal ini adalah untuk melatih iman dan perjuangan kita agar kita bisa melihat kemuliaan Tuhan. Di sini iman dan karakter kita dilatih dan dimatangkan. Kita tidak boleh berpikir bahwa di dalam hidup kita harus selalu merasakan kenyamanan dan kesenangan. Tujuan pernikahan bukanlah kebahagiaan. Kita harus mengingat bahwa kita adalah manusia berdosa yang menikah dengan manusia berdosa lainnya. Setiap manusia memiliki keterbatasan sehingga manusia dari kekuatannya sendiri tidak mungkin meraih kebahagiaan. Tujuan utama pernikahan adalah kesatuan dalam iman, pembentukan iman dan karakter, serta pelayanan yang mengutamakan Tuhan. Kita harus mengerti prioritas kita dengan jelas. Dari segala tantangan yang ada kita akan bisa melihat kemuliaan Tuhan dengan lebih jelas. Perjalanan yang kita alami akan menjadi lebih berwarna ketika diisi dengan tantangan di dalam prosesnya. Itulah perjalanan yang dapat kita nikmati. Kebanyakan orang yang sudah lansia tidak menyukai tantangan karena memang tubuhnya sudah sangat lemah. Jadi jika kita masih muda namun tidak menyukai tantangan, maka sebenarnya jiwa kita sudah tua. Sebaliknya, jika tubuh kita sudah tua namun kita masih bersemangat melayani Tuhan, maka sebenarnya kita ini berjiwa muda. Teladan yang kita bisa perhatikan adalah Pdt. Stephen Tong. Musa dipanggil pada umur 80 tahun dan ia mau melayani. Terkadang kita salah menilai diri sehingga tidak mau menerima sukacita pelayanan itu. Jika gereja kita menerima banyak tantangan, maka kita tidak perlu bersedih karena di sana Tuhan juga akan memberikan banyak penghiburan.

Pelayanan bagi Tuhan jika semua beres dan tidak ada masalah, maka justru ini bermasalah. Iman kita harus dilatih dan semua perjuangan kita harus dikaitkan dengan Tuhan. Apapun yang kita harus hadapi di dalam pelayanan, semuanya tidak terlepas dari iman dan perjuangan untuk menyatakan kebesaran Tuhan. Tuhan bisa saja memimpin Israel tanpa Musa, namun Tuhan mau memakai Musa dan di sana Musa harus menyatakan iman dan perjuangannya. Iman itu berkaitan dengan nilai ibadah, dan perjuangan berkaitan dengan ketaatan. Musa diperintahkan untuk pergi kepada Firaun yang meminta izin untuk beribadah di padang gurun (ayat 18). Ternyata ibadah yang diperintahkan Tuhan harus dilakukan di tempat yang sulit. Di sini perjuangan mereka harus ada. Dalam zaman ini ada banyak orang Kristen selalu mengharapkan kemudahan dan kenyamanan dalam beribadah, padahal Israel pertama kali beribadah di padang gurun. Musa meminta izin 3 hari dan perjalanan ke padang gurun bisa mencapai 7-10 jam. Iman mereka harus memimpin mereka dalam kesulitan ini. Mereka harus berjalan kaki dan menempuh jarak yang sangat jauh. Di sana iman dan ketaatan mereka dilatih. Jadi pelayanan yang selalu mulus dan lancar itu sebenarnya bermasalah. Jika tantangan dan hambatan itu ada maka kita harus bersyukur karena itu berarti bahwa Tuhan masih ada di pihak kita. Program Tuhan bukanlah kemudahan dan kenyamanan. Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya (Mazmur 126:5-6). Prinsip ini bisa diterapkan dalam mendidik anak. Mendidik anak bukanlah hal yang mudah. Di tengah prosesnya orang tua bisa meneteskan air mata namun pada akhirnya orang tua akan menuai hasil yang menyukakan jika anak dididik dengan benar. Yesus menjalani proses kehidupan yang sama dengan manusia pada umumnya. Ia harus dilahirkan dan mengalami kehidupan sebagai bayi, anak, remaja, pemuda, dan orang dewasa. Terkadang kita tidak menyukai proses dan tidak mau menunggu waktu Tuhan. Itu adalah hal yang jahat. Di dalam bagian ini kita harus belajar mensyukuri proses dari Tuhan termasuk segala tantangan dan hambatan di dalamnya. Sikap kita harus benar dalam menghadapi semua itu sebagai anak-anak Allah. Musa mengenal siapa Allah yang disembahnya dan yang memimpinnya di dalam pelayanannya.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami