Menolak Panggilan Allah (Musa)

Menolak Panggilan Allah (Musa)

Categories:

Bacaan alkitab: Keluaran 4:10-17, Kisah Para Rasul 7:22, dan Yesaya 6:5.

 

Pendahuluan

Pernahkah kita menolak perkara yang besar dalam hidup dan sampai saat ini kita tidak pernah menyesal atau sebaliknya? Pernakah kita puas dalam menilai diri dan membuat standar diri atau sebaliknya? Semua ini bisa memengaruhi hidup kita ketika kita diminta untuk mengambil suatu keputusan. Penilaian tentang Tuhan dan diri yang salah bisa membuat kita mengambil keputusan yang salah untuk masa depan kita. Musa berani menolak Tuhan. Jika Musa benar-benar ditolak sepenuhnya oleh Tuhan, maka mungkinkah ia mengalami penyesalan sampai seumur hidup? Mungkin.

Mengapa Musa kembali melihat dirinya yang selalu lemah? Selama 40 tahun ia seperti dibiarkan oleh Tuhan menjadi gembala kambing domba. Selama itu ia sering menyendiri dengan kambing domba. Di sana ia selalu memeras diri dan melihat diri dalam kesendirian. Ada penafsir yang mengatakan bahwa Musa merasa dirinya lemah karena ia merasa kesepian. Ini adalah siksaan baginya. Jadi selama 40 tahun hati Musa diperas agar ia belajar melihat Tuhan dan diri. Sisi positifnya adalah Musa melihat dirinya bukan apa-apa. Inilah pelajaran yang ia dapatkan. 40 tahun di istana Firaun membuat Musa terlalu percaya diri, maka dari itu Tuhan mendidiknya dalam kondisi yang rendah. Setiap kita yang adalah anak Allah pasti diajar dan dibentuk oleh Allah seperti bapa yang mengajar anak-anaknya (Ibrani 12:6). Kita dianggap berharga dan bukan anak-anak murahan di mata Allah, maka dari itu kita menerima didikan. Ini membuat kita menghasilkan buah kebenaran dan hidup yang benar (Ibrani 12:11).

Mengapa Allah akhirnya murka kepada Musa? Tuhan murka karena Musa sudah menolak 5 kali. Kita dimurkai Tuhan, karena kita tidak mau taat. Tuhan sudah bersabar untuk menjelaskan panggilan itu bagi Musa sampai ia mengerti, namun Musa tetap menolak. Apakah sehat atau baik jika dalam sebuah pengutusan seperti ada paksaan? Di dalam pendidikan, ada masa-masa kompromi tetapi ada pula masa-masa tangan besi. Ini berarti kita harus menggunakan otoritas kita sebagai pendidik. Musa diutus oleh Tuhan dan ia dipaksa untuk taat. Setelah 40 tahun akhirnya ia dapat bertemu dengan kakaknya yaitu Harun untuk melayani bersama-sama.

 

Pembahasan

            Musa menyatakan bahwa dirinya tidak pandai berbicara (bandingkan Keluaran 6:11b). Setelah bertemu dengan Harun pun ia masih menyatakan hal yang sama. Selama ia menjadi gembala kambing domba, ia tidak banyak berbicara tetapi banyak bekerja. Di sini Tuhan mendidik Musa untuk bertanggung jawab dalam nilai kerjanya sehingga yang ada di depannya adalah nilai ketaatan dan tanggung jawab. Kita sebagai anak-anak Tuhan harus terlatih dalam ketaatan dan tanggung jawab. Kita mengasihi Allah juga dengan perbuatan-perbuatan kita (1 Yohanes 3:18). Musa tidak pandai berbicara karena selama 40 tahun ia tidak banyak menjalin relasi dengan manusia. Ia lebih sering bersama dengan kambing domba serta hewan-hewan yang memburu mereka. Selama 40 tahun Musa berkontemplasi dan ia menyadari bahwa memang dirinya tidak pandai berbicara walaupun ia pernah dididik untuk pandai berbicara dan mengatur banyak hal dalam kerajaan. Yakobus 3:1-12 mengajarkan kita untuk berhati-hati terhadap dosa lidah. Dosa lidah itu sangat berbahaya. Di zaman ini banyak orang tidak bertanggung jawab sering menyebarkan berita-berita palsu. Ini adalah dosa yang sama. Pada intinya mereka memengaruhi orang lain untuk memercayai kebohongan. Tuhan masih bersabar dan menyatakan bahwa diri-Nya-lah yang menciptakan lidah. Di sini Musa sadar bahwa Allah-lah yang memiliki kuasa untuk menciptakan. Ia sadar bahwa Allah yang berbicara kepadanya itu maha kuasa. Ketika kita mempelajari alam ciptaan, maka kita bisa terkagum-kagum akan kebesaran Allah. Jika kita bisa terpesona oleh ciptaan-Nya, maka jauh lebih lagi kita akan terpana oleh Sang Pencipta itu sendiri. Setiap hewan memiliki keunikannya masing-masing dan mereka mengajarkan kepada kita kebijaksanaan Tuhan yang begitu tinggi. Tuhan menunjukkan kedaulatan-Nya dan ia mau memakai Musa sebagai alat-Nya. Tuhan bisa membuat Musa berbicara lancar dan mengajarkan kepadanya bagaimana dan apa yang harus dikatakan.

            Apakah masalah selesai di sana? Belum. Musa tahu bahwa dirinya tidak pandai berbahasa Ibrani. Ia lebih fasih dalam bahasa Mesir. Di sini Musa kembali melihat diri dalam kelemahan. Apakah ini hal yang baik? Ini baik, namun jika kita terus menerus melihat diri dalam kelemahan maka itu menjadi tidak baik. Kita harus melihat diri dalam kelemahan dan melihat kuasa Tuhan yang sangat besar. Jika kita hanya melihat diri dan tidak melihat Tuhan, maka kita akan merasa sangat kecil. Di sana kita akan salah menilai diri dan kita akan menghukum diri kita sendiri. Tuhan mau agar Musa melihat kepada Tuhan. Ia melihat diri terlalu rendah meskipun saat itu sudah didampingi Harun (Keluaran 6:11b). Di sini ada proses. Kata-kata kita harus memiliki nilai kebenaran, hikmat, sukacita, dan damai. Ini bisa kita pelajari dari Alkitab. Kata-kata Tuhan Yesus mengandung berita Injil. Di dalam kitab Wahyu, kita belajar bahwa kata-kata harus mengandung pengharapan dan bukan keputusasaan. Musa belum bisa memakai kata-kata itu karena ia masih melihat kepada dirinya yang tidak bisa apa-apa. Oleh karena itu Musa berkata: Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa yang patut Kauutus (Keluaran 4:13). Seandainya kita adalah seorang atasan dan seorang karyawan menolak perintah kita sebanyak 5 kali, maka kita akan merasa karyawan itu kurang ajar. Di sini Musa bersikap kurang ajar terhadap Tuhan. Musa juga keras kepala dalam melihat dirinya yang lemah. Musa tidak mau membuka hati dan pikirannya terhadap pengajaran Tuhan.

Musa sudah menutup pikirannya dan menolak perintah Tuhan. Ia merasa dirinya pernah gagal dan akan gagal lagi. Ia tidak membuka hati untuk penyertaan Tuhan dan kesempatan untuk melayani sebagai pemimpin. Ia sempat membuka hati untuk menjadi pemimpin saat ia membunuh orang Mesir itu, namun ini adalah gerakan dari bawah ke atas. Di umurnya yang ke-80 tahun, Tuhan memanggilnya menjadi pemimpin. Sebagai orang tua kita belajar dari Tuhan yang menggarap cara pandang, teologi, sikap hati, dan attitude dari anak-anak. Di sini ada proses yang tidak nyaman dan tidak instan, maka kita harus bersabar dan terus berjuang. Musa sudah terlalu nyaman dalam hidupnya sebagai gembala, jadi ia tidak mau keluar dan mengikuti arahan Tuhan. Tuhan mau menjadikan Musa gembala bagi umat-Nya namun ia menolak. Di sini Musa membuat Tuhan marah. Tuhan murka karena dosa atau ketidaktaatan. Setelah itu Tuhan menyatakan tentang Harun kepada Musa. Dikatakan bahwa Harun menjadi penyambung lidah Musa dan Musa menjadi seperti Allah baginya (ayat 16). Jadi Tuhan mengutus mereka berdua dan di dalam prosesnya Musa dibentuk dan diajar. Ketika kita diutus oleh Tuhan, kita pun mengalami proses, tidak ada yang instan. Di dalamnya kita harus belajar dengan ketekunan, pengorbanan, fokus, dan kerelaan. Musa diperintahkan untuk membawa tongkatnya dan itu akan dipakai ketika Tuhan menyatakan mukjizat-Nya. Bisakah Tuhan membuat mukjizat tanpa tongkat itu? Bisa. Tuhan Yesus tidak selalu memakai benda apapun ketika membuat mukjizat. Ketika Ia meredakan ombak dan angin, Ia hanya memakai kata-kata-Nya (Markus 4:39). Musa diperintahkan untuk memakai tongkatnya. Itu menjadi simbol dari kuasa Tuhan yang dinyatakan. Di dalam militer, ada yang disebut sebagai tongkat komando dan itu juga adalah simbol kuasa. Mukjizat itu datang dari Tuhan dan kita tidak bisa memaksa Tuhan. Tuhan bisa memberikan mukjizat yang tidak terlihat namun melampaui akal dan pikiran kita.

 

Penutup

Pengutusan Tuhan selalu bernilai anugerah. Jika kita sadar benar bahwa kita telah menolak panggilan Tuhan, maka itu bisa mendatangkan penyesalan bagi kita seumur hidup. Sudah ada banyak orang yang menyatakan penyesalannya karena tidak mau taat pada panggilan Tuhan. Banyak orang juga menyesal karena salah membuat keputusan dalam urusan cinta. Seringkali kita salah mengambil keputusan karena tidak berdoa dan tidak bertanya kepada Tuhan. Kesalahan itu mendatangkan penyesalan bagi kita. Jadi ketika Tuhan memberikan kita kesempatan kita untuk melayani, maka kita harus mengambil itu. Di sana kita dipakai untuk menyatakan kasih dan kebesaran Tuhan. Penyertaan Tuhan tidak selalu bersifat tunggal, tetapi bisa bersifat jamak. Tuhan memanggil kita bukan sendiri-sendiri tetapi dalam satu kelompok. Kita harus bersatu sebagai tubuh Kristus untuk mengerjakan hal-hal yang besar yang Tuhan telah siapkan bagi kita. Banyak orang yang terlalu percaya diri akhirnya mendaki gunung-gunung yang sangat tinggi sendirian. Banyak dari mereka yang ditemukan telah meninggal. Kita tidak dipanggil untuk melayani sendirian. Alkitab sendiri menyatakan: Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja (Kejadian 2:18). Allah tidak selalu melengkapi setiap anak-Nya dalam pengutusan menjadi sempurna (siap secara kapasitas 100%). Tuhan bisa mengirim orang lain untuk melengkapi kekurangan kita. Musa tidak bisa melayani sendiri dan ia membutuhkan Harun. Mereka saling melengkapi di dalam kekurangan mereka masing-masing. Tuhan-lah yang memberikan kesempurnaan di dalam setiap pelayanan hamba-hamba-Nya. Di dalam pengutusan dan pelayanan kita, kita harus bekerja sama dan bersama-sama berjuang untuk memuliakan nama Tuhan.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami