Menjadi Umat Kristen yang Sejati (Menurut Kitab Efesus)

Efesus 3:7-10
Kita sudah membahas bahwa hidup kekristenan kita harus berpusat kepada Kristus. Karena Kristus adalah pondasi iman kita sebagaimana diajarkan oleh para nabi dan rasul. Kristus juga sebagai batu penjuru yang mengikat seluruh bangunan yang rapih tersusun. Ketika kita mengalami kelahiran baru yang sejati maka kita bersatu dengan Kristus (union with Christ) dan mengalami perubahan status menjadi warga kerajaan sorga. Kita termasuk dalam komunitas tubuh Kristus dalam ikatan gereja. Dan masing-masing

Menjadi Umat Kristen yang Sejati (Menurut Kitab Efesus)

Categories:

Kita sudah membahas bahwa hidup kekristenan kita harus berpusat kepada Kristus. Karena Kristus adalah pondasi iman kita sebagaimana diajarkan oleh para nabi dan rasul. Kristus juga sebagai batu penjuru yang mengikat seluruh bangunan yang rapih tersusun. Ketika kita mengalami kelahiran baru yang sejati maka kita bersatu dengan Kristus (union with Christ) dan mengalami perubahan status menjadi warga kerajaan sorga. Kita termasuk dalam komunitas tubuh Kristus dalam ikatan gereja. Dan masing-masing kita juga menjadi sahabat Allah, ahli-ahli waris dan bait Allah. Semuanya ini merubuhkan tembok-tembok pemisah diantara kita. Jadi jikalau ada gereja dipanggil berdasarkan kesukuan itu berarti membatasi lagi aspek apa yang sudah dikerjakan oleh Tuhan. Gereja-gereja seperti itu tidak mengerti apa yang dikatakan dalam Efesus 2:11-22 bahwa di dalam kita bergereja tidak boleh dibatasi oleh suku, bahasa, bangsa dan lain-lainya. Panggilan Paulus sebagai rasul Yesus Kristus adalah untuk mengabarkan berita Injil kepada orang-orang bukan Yahudi. Sehigga Paulus memandang seluruh hidupnya adalah panggilan dalam anugerah Allah dalam situasi yang sulit sekalipun. Di dalam ayat 6, Rasul Paulus menceritakan panggilannya untuk memberitakan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi. Paulus mendapatkan satu perintah yang spesifik memberitakan Injil kepada orang-orang bukan yahudi. Orang-orang bukan Yahudi dipandang rendah dan seperti sampah bagi orang yahudi tetapi di mata Tuhan semua jiwa sangat penting. Antiokhia menjadi pusat penginjilan pertama oleh Rasul Paulus setelah keluar dari Yerusalem. Kemudian Ia berpindah ke kota Efesus yang mulai menginjili sampai ke Eropa. Kita melihat Injil jangan dibatasi berdasarkan kesukuan dan kebangsaan karena Injil adalah berita pembebasan untuk setiap manusia berdosa kembali kepada Tuhan. Ayat 7 Paulus menjelaskan bahwa panggilannya menjadi hamba Tuhan karena Injil adalah anugerah daripada Allah. Kata ;menjadi menyatakan bahwa panggilanya menyadi hamba Tuhan adalah suatu bentuk keputusan dan tujuan hidupnya. Maka Paulus tidak pernah merasa dia menyesal menjadi hamba Tuhan. Jadi panggilan Paulus untuk hamba Tuhan murni berdasarkan kehendak Tuhan untuk memberitakan Injil. Mungkinkah ada hamba Tuhan merasa dirinya hamba Tuhan tetapi tidak pernah mendapatkan panggilan untuk memberitakan Injil? Menjadi hamba Tuhan harus punya nilai panggilan yang tuntas. Ada orang yang sehari-hari bekerja di kantor tetapi sabtu-minggu menjadi hamba Tuhan, jadi akhirnya seperti dualisme. Paulus tahu sekali panggilannya menjadi hamba Tuhan karena Injil. Pertama, Kerendahan Hati Paulus. Dalam ayat ke-7, Paulus mengatakan alasannya menjadi hamba Tuhan dan ayat ke-8, Paulus mengatakan siapa dirinya. (1) Paling Hina. Ia sadar bahwa dirinya adalah orang yang paling hina diantara orang kudus. Dalam yunaninya menggunakan istilah untuk menggambarkan satu status yang paling hina diantara yang hina. Mengapa Paulus menganggap dirinya adalah yang paling hina diantara orang terhina? Karena ketika dia menjadi pengikut Yudaisme, Ia sangat membenci dan bahkan memberontak terhadap Kristus. Paulus ketika memperkenalkan dirinya selalu menyatakan kerendahan hatinya. Rendah diri berbeda dengan rendah hati. Orang yang rendah diri melihat kelemahannya lebih besar daripada kemampuannya. Orang rendah diri melihat keterbatasan lebih besar daripada Kristus yang sudah mati baginya. Orang yang rendah diri selalu membatasi pekerjaan Tuhan atas dirinya. Sebaliknya, orang rendah hati melihat Kristus yang besar dan dirinya yang kecil. Rasul Paulus memperkenalkan dirinya dengan rendah hati sebagai hamba Kristus. Padahal dia adalah suku Benyamin asli dan masuk kelompok Sanhedrin. Dia adalah warga Kerajaan Romawi yang berarti statusnya sangat tinggi. Tapi Ia ingin menyatakan supremasi Kristus lebih besar daripada status dia. Karena itu, Ia menganggap segala sesuatu sampah demi Kristus. Maka yang ku inginkan adalah mengenal dia dalam penderitaan dalam persekutuan dengan Kristus. Seperti dikatakan dalam Filipi 3:8, ;Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus. Kerendahan hati harus kita miliki supaya tidak mencuri kemuliaan Tuhan. Kita ingin Kristus yang dinyatakan bukan diri kita yang dinyatakan. Di balik kerendahan hatinya justru menyatakan bahwa Rasul Paulus adalah hamba Tuhan yang sejati. Justru ketika kita mengaku diri besar maka sebenarnya kita kecil di hadapan Tuhan. Jangan melihat orang berdasarkan fenomena lahiriah tetapi lihatlah seseorang daripada sikap batinnya di hadapan Tuhan. (2) Tidak Layak. Paulus melihat dirinya tidak layak menerima panggilan itu. Melihat diri tidak layak itu baik, tapi beda dengan merasa tidak layak. Kalau melihat diri tidak layak itu karena kita sadar bahwa kita adalah orang berdosa dan Tuhan itu besar, agung dan suci. Kita boleh melihat diri tidak layak namun dalam pandangan alkitab yang tepat. Bukan karena perasaan kita yang tidak suci membuat kita terus merasa tidak layak melayani Tuhan. Perasaan itu terkadang membunuh potensi kita untuk dipakai Tuhan. Mari kita melihat 1 Timotius 1:1-13 dimana Paulus menceritakan siapa dirinya dan latar belakang hidupnya. Dalam ayat ke-13 dikatakan: ;aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman. Di sini Paulus mengakui kesesatan dia di dalam ajaran Yudaisme. Paulus selalu melihat panggilannya menjadi hamba Tuhan adalah karena anugerah dalam kedaulatan Allah dan supremasi Kristus. Kejujuran kita di hadapan Tuhan adalah kunci kerendahan hati kita. Jadi siapa yang tidak jujur di hadapan Tuhan berarti dia sedang meninggikan diri. Di sini Paulus begitu menekankan nilai honesty dan sincerity yaitu satu nilai kejujuran di hadapan Tuhan siapa dirinya dan akhirnya menjadikan ia rendah hati di hadapan Tuhan. (3) Merendahkan diri tapi menyadari bahwa statusnya adalah hamba Tuhan. Jadi secara lahiriah dia orang hebat tetapi setelah dalam Kristus, dia menganggap semua sampah, merendahkan dirinya dan meninggikan panggilannya menjadi hamba Tuhan. Apakah ini sombong? Tidak, Justru kebanggaannya adalah bisa menjadi hamba Tuhan karena dilayakkan memberitakan Injil kepada orang bukan Yahudi dan dia membawa orang yang belum percaya kepada Kristus. Dia merendahkan dirinya di dalam Kristus tetapi meninggikan status yang baru menjadi huma. Maka kita mellihat Paulus tidak pernah mundur dalam situasi seberat apapun juga, dianiaya, dipukuli, dipenjara, disiksa dia tidka pernah mundur daripada panggilan menjadi hamba Tuhan. Maka ada orang bertanya ujian hamba Tuhan yang paling sejati yaitu pada waktu dia diuji oleh kesulitan demi kesulitan. Maka status menjadi hamba Tuhan adalah status yang harus dipertahankan sebenar-benarnya dan sesuci-sucinya daripada hal apapun juga karena sangat mulia di hadapan Tuhan. Jadi siapa yang menjadi panggilan menjadi hamba Tuhan tidak boleh dihancurkan hanya karena keinginan sesaat dan tidak boleh dihancurkan nilai integritasnya karena hal-hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Di dalam pengertian Yohanes sering menyebut istilah dulos, di dalam pengertian Paulus untuk berbicara daripada surat-surat penggembalaan dia sering menyebut kata kailin adalah orang-orang yang dipanggil untuk menjadi hamba Tuhan. Tetapi istilah pengertian dulos hamba Allah kalin yaitu orang-orang yang dipanggil menjadi orang khusus itupun punya satu hal yang memiliki penekanan yang sama. Kedua, Kebanggaan Paulus. Mungkinkah orang Kristen hidup tidak punya kebanggaan? Pasti setiap kita memiliki kebanggaan. Ada kebanggaan yang bersifat lahiriah dan ada yang rohaniah. Ketika kita punya kebanggaan biarlah kebanggaan itu murni dan suci. Yaitu kebanggaan karena lahir baru dan dipakai Tuhan seperti Paulus berbicara dalam 1 Timotius 1:12. Ada seorang photographer yang terkenal bernama Kevin Carter. Pada tahun 1994, Ia mendapatkan penghargaan Pulitzer atas karya fotonya mengenai Sudan. Ia memperoleh foto tersebut dengan menunggu momen yang sangat jarang terjadi di Sudan. Yaitu ada seorang anak yang hampir mati dihampiri oleh Burung Bangkai. Gambar itu seolah-olah menggambarkan bahwa Burung Bangkai tersebut menunggu anak itu mati. Sesudah mendapatkan momen itu, akhirnya ia pergi mempertontonkan hasilnya dan mendapatkan penghargaan paling bergengsi dalam dunia fotografi. Tetapi momen tersebut tidak bisa ia lupakan dan membuat hati nuraninya tertuduh: Kenapa saat itu ia tidak melakukan apa pun untuk menolong orang-orang yang kelaparan tapi malahan mengambil foto dan mendapatkan penghargaan di atas penderitaan orang lain? Kemudian ia pun bunuh diri pada usia 33 tahun. Mungkinkah orang Kristen membangun satu kebanggaan yang tidak suci dan menghancurkan dirinya sendiri? Ada orang yang mau jadi artis dihancurkan karena keartisannya dan ada orang yang berambisi kaya dihancurkan karena kekayaannya. Di sini kita belajar bagaimana kita menjadi orang Kristen sama seperti Paulus membangun satu kebanggaan yang benar: (1) Memberitakan Kekayaan Kristus (Efesus 3:8): PlihanNya, pendamaianNya, KesatuanNya, Anugerah KeselamatanNya, kebaikanNya menjadikan kita warga Kerajaan Sorga, Anggota tubuh Kristus dan Bait Roh Kudus. Ini semua kita dapat rasakan dan nikmati. Kita adalah orang pilihan Tuhan dan karya Tuhan akan sangat ajaib dan tidak terduga hari demi hari bisa. Ada orang-orang yang begitu kaya dimana semuanya seolah-olah dia miliki tapi belum tentu dia kaya secara rohani. Lebih baik menjadi jemaat Smirna yang walaupun miskin tetapi kaya rohani. Paulus begitu bangga kalau dia boleh sungguh memberitakan tentang siapa Kristus kepada orang-orang yang belum mendengarkan injil. Atau bahkan kepada orang-orang yang pernah mendengarkan injil tetapi belum bertobat sehinga akhirnya orang tersebut menikmati anugerah yang baru di dalam Kristus Yesus. (2) Menyatakan Isi Rahasia Allah (Efesus 3:9) yang menciptakan segala sesuatu. Artinya, setelah kita memenangkan hati orang bagi Kristus jangan lupa untuk juga memperkembangkan orang tersebut di dalam Kristus. Kita harus memikirkan bagaimana orang tersebut bertumbuh, berbuah dan berakar di dalam kebenaran. Paulus begitu bangga kalau dia bisa menceritakan isi Firman Tuhan supaya orang itu bertumbuh dan menghasilkan buah iman yang sejati. Dia bisa bangga kalau dia bisa memimpin program pemuridan orang-orang Kristen. Dalam hal ini Paulus menggabungkan konsep penebusan dengan konsep penciptaan. Mengapa demikian? Karena ini penting, jikalau kita sudah memberitakan Injil, maka orang yang bertobat akan mendapat status baru dan menjadi manusia baru. Seperti dikatakan dalam Efesus 2:1-3 dan Efesus 2:11-13, dimana dahulu kita adalah orang berdosa dan jauh dari Allah namun di dalam Kristus menjadi dekat dengan Allah. Dahulu kita adalah orang yang mati rohani, budak dosa, tunduk kepada penguasa kerajaan angkasa, dimurkai oleh Tuhan dan jauh dari Tuhan. Tetapi sekarang kita dalam Kristus adalah orang yang menjadi dekat karena Injil pendamaian itu. (3) Memberitakan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di Sorga (Efesus 3:10). ;Ragam dalam bahasa yunaninya menggunakan istilah yang berarti ;berwarna yang banyak. Dunia ini seperti Drama Besar dimana Tuhan adalah Sutradara, kita adalah aktor/aktrisnya dan penghuni surge adalah penontonnya. Jadi dalam bagian inilah saudara kita mengerti sekali kerinduan kita adalah hidup kita dipakai untuk memberitakan Injil sehingga orang diselamatkan. Namun bukan itu saja, kita juga rindu untuk mempertumbuhkan orang lain dan menjadi berkat dalam masyarakat dimana kita berada. Soli Deo Gloria. Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LG.

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami