Menjadi Pahlawan Iman dan Pahlawan Hidup

Menjadi Pahlawan Iman dan Pahlawan Hidup

Categories:

Bacaan alkitab: 2 Timotius 1:5, 1 Tesalonika 5:8, dan Kejadian 22:6.

 

Timotius sempat terguncang imannya dan hampir mundur dari pelayanan karena bapa rohaninya yaitu Rasul Paulus akan mati dibunuh di Roma. Di dalam konteks itulah Paulus berbicara mengenai iman neneknya yaitu Lois dan iman ibunya yaitu Eunike yang sudah teruji di dalam setiap pergumulan dan ancaman dari orang-orang Yahudi dan Roma (2 Timotius 1:5). Di sini kita melihat bahwa neneknya dan ibunya memberikan pengaruh yang baik. Ayahnya tidak disebutkan mungkin karena tidak memberikan pengaruh. Mungkin saat itu ayahnya sudah meninggal. Iman, pengharapan, dan kasih menjadi kekuatan bagi kita untuk bisa menjadi anak-anak terang di tengah dunia yang gelap (1 Korintus 13:13). Kita harus bisa menjaga karakteristik kita sebagai orang Kristen. Abraham dan Ishak berjalan bersama-sama ketika pergi ke gunung itu. Keduanya berjalan di dalam iman untuk melewati setiap pergumulan sampai mereka tiba di puncak gunung itu. inilah bagian yang penting dari relasi orang tua dan anak. orang tua dan anak harus bersama-sama bergumul dan berdoa sampai Tuhan menyatakan kehendak-Nya. Inilah hal yang akan paling dikenang. Bukan tempat wisata keluarga yang menjadi kenangan indah tetapi pergumulan iman itulah yang menjadi kenangan indah dan sangat penting. Apakah anak-anak kita berpikir bahwa kita orang tua adalah pahlawannya dan bahwa Yesus adalah pahlawan supernya? Mengapa anak-anak kita merasa kita adalah pahlawannya? Kita menjadi pahlawan bagi anak-anak kita bukan karena kita memberikan materi tetapi karena kita bisa mendampingi anak-anak kita menjadi dewasa iman. Jika anak-anak kita membenci kita, maka kita pasti sedih. Jangan sampai anak-anak kita melihat kita sebagai batu sandungan. Kita harus menjadi teladan iman bagi anak-anak.

 

1) LATAR BELAKANG MASALAH

 

            Orang tua seharusnya menjadi pengikat iman anak-anak. Saat bonding time seharusnya orang tua harus bisa menceritakan Alkitab kepada anak-anak. Anak-anak harus tahu bahwa ada sejarah iman yang penting untuk dipelajari. Anak-anak harus mengenal Tuhan dari sejak dini. Anak-anak zaman sekarang lebih tahu film-film fiksi daripada kisah-kisah Alkitab. Di sinilah orang tua harus bisa menjadi sumber inspirasi pengajaran pahlawan-pahlawan iman yang tercatat di dalam Alkitab. Setelah orang tua pulang dari pekerjaannya, bonding time tidak boleh dipakai untuk bermain gadget atau urusannya sendiri. Bonding time yang tidak dipakai dengan baik akan mengacaukan keluarga. Orang tua yang egois tidak akan menjadi teladan yang baik. Orang tua yang sering sibuk sendiri akan ditiru anak. Di sini ada hukum tabur tuai. Anak-anak di dalam keluarga seperti ini tidak akan menemukan jati dirinya dan potensinya. Anak-anak ini akan kehilangan figur orang tua terutama figur ayah. Ini sangat berbahaya karena tidak ada nilai kepemimpinan yang baik di keluarga itu dan tidak ada teladan maskulin. Di hari Minggu orang tua harus membawa anak-anaknya ke gereja untuk beribadah dan bukan sebaliknya yaitu mengikuti keinginan anak untuk bersenang-senang di hari Minggu. Banyak orang berpikir untuk bersenang-senang di mal pada hari Minggu. Suatu penelitian membuktikan bahwa mal bisa mengubah gaya hidup seseorang sehingga menjadi hedonis dan konsumeris. Maka sebenarnya lebih baik jika pada hari Minggu sepulang dari gereja anak-anak bermain di taman dan di alam. Alkitab mengajak kita untuk mengunjungi rumah duka (Pengkhotbah 7:2). Di sana kita dan anak-anak kita belajar tentang kematian sehingga teologi hidup dapat dipelajari. Di sana anak-anak belajar untuk mengisi hidup dengan hal-hal yang bermakna. Anak-anak harus ditanya tentang kesiapan mereka menerima kematian orang tua. Hal ini berhubungan dengan kemandirian mereka. Anak-anak harus diajarkan tanggung jawab dalam membantu orang tua. Bahkan di dalam hal sederhana seperti membantu orang tua berbelanja di pasar, anak-anak belajar sesuatu yang berharga. Ini jauh lebih baik daripada mengajak anak ke mal. Anak-anak harus belajar berjuang dari sejak dini. Mereka boleh diajak ke mal jika memang ada keperluan penting. Kita pergi ke mal karena kebutuhan dan bukan karena keinginan. Jika kita terus melihat keinginan kita, maka kita bisa menjadi hedonistik.

 

2) PENDAHULUAN

 

Apa pengertian “pahlawan”? Mana yang lebih sulit: menjadi “Pahlawan Iman” atau “Pahlawan Hidup” untuk anak-anak kita? Atau kedua-duanya sulit? Pasti menjadi pahlawan iman itu lebih sulit daripada menjadi pahlawan hidup. Mengapa zaman sekarang ini banyak orang tua sulit menjadi “Pahlawan Iman”? Karateristik apa yang diperlukan untuk menjadi seorang “Pahlawan Iman” dan “Pahlawan Hidup”?

 

3) ARTI SEORANG PAHLAWAN

 

            Jika kita mempelajari dari ensiklopedia, maka kita akan menemukan bahwa seorang pahlawan pasti memiliki keberanian. Konteks keberanian zaman sekarang tidak bisa disamakan dengan konteks keberanian pada zaman peperangan di Perjanjian Lama. Keberanian di dalam konteks sekarang adalah keberanian dalam berperang, bukan secara fisik, tetapi berperang agar anak-anak bisa ditanamkan konsep hidup yang benar. Zaman pascamodernisme menanamkan konsep relativisme. Alkitab tidak dilihat sebagai otoritas yang tertinggi. Ini membuat anak-anak tidak memiliki niat untuk menghargai Alkitab. Semua direlatifkan sehingga anak-anak hanya mencari kesenangannya sendiri. Semua hal di dalam hidupnya tidak dikaitkan dengan Tuhan sehingga semuanya hanya bersifat humanis. Apakah anak-anak kita bisa berkata bahwa orang tuanya adalah pahlawan dan Yesus adalah pahlawan super? Anak-anak harus sadar bahwa pahlawan yang terbesar adalah Tuhan Yesus Kristus. Keberanian yang paling mulia berpuncak pada Yesus Kristus ketika ia berani mati untuk menebus dosa-dosa kita dan berani untuk menyatakan kebenaran. Di sini kita sedang berperang agar anak-anak kita tidak termakan oleh isme-isme zaman ini misalnya hedonisme, konsumerisme, materialisme, dan lainnya. Kita sebagai orang tua harus berani untuk membentuk konsep anak-anak kita tentang kebenaran dan tentang Tuhan secara benar.

 

            Anak-anak yang dibiarkan bebas dengan keinginannya sendiri akan menjadi pemberontak. Ketika mereka sudah menjadi pemberontak, orang tuanya juga akan dilawan. Oleh karena itu orang tua tidak boleh sembarangan memberikan games dan gadget kepada anak-anak. Orang tua harus memenangkan hati anak dari sejak dini sehingga mereka percaya kepada orang tuanya. Ketika anak-anak sudah terikat hatinya dengan orang tua, maka hatinya tidak akan dengan mudah terikat dengan orang lain. Anak-anak yang seperti ini akan mudah diarahkan untuk terikat pada Tuhan. Di sini orang tua harus berani untuk menanamkan konsep yang benar sebelum masalah timbul. Banyak orang tua baru berani mendisiplin anak setelah timbul masalah padahal jauh lebih baik jika masalah sudah dicegah sebelum timbul. Orang tua harus tegas dalam menetapkan aturan-aturan dan arah yang mau dicapai oleh keluarga. Di sana kita bisa disebut sebagai pahlawan. Kita harus berani mengarahkan anak dalam iman untuk menuju tujuan yang terbaik di dalam Tuhan.

 

Ensiklopedia juga berbicara tentang pengorbanan ketika mendefinisikan pahlawan. Pahlawan yang sejati mengorbankan dirinya sendiri dan bukan orang lain. Ini berarti orang tua tidak boleh egois. Orang tua harus berani mengorbankan waktu, tenaga, dan uang agar anak-anak bisa menemukan jati dirinya dan mengembangkan potensinya di dalam Tuhan. Orang tua yang masih hanya memikirkan kenyamanan dirinya sendiri bukanlah orang tua yang bisa disebut sebagai pahlawan. Ketika Tuhan meminta Abraham untuk mempersembahkan anaknya, ini adalah misi yang berat bagi Abraham (Kejadian 22). Abraham begitu merindukan seorang anak, namun setelah anaknya dewasa, Abraham harus mengorbankannya. Di dalam bagian ini Abraham tidak memberontak tetapi taat kepada Tuhan. Abraham memiliki tugas untuk mengerti misteri di balik ini semua. Di dalam hidup kita ada agenda Tuhan yang tersembunyi. Di balik seluruh pergumulan dan ujian hidup kita ada agenda Tuhan yang harus kita mengerti. Ada pula agenda orang tua bagi kita sebagai anak. Dengan orang tua kita bisa berdiskusi dan kita bisa memahami bagaimana cara mereka mendidik kita. Namun untuk mengerti agenda Tuhan itu sangat sulit. Di dalam kedukaan kita bisa menemukan bahwa yang meninggal adalah orang-orang yang masih muda seperti bayi, anak SD, anak SMP, dan lainnya. Terkadang kita sulit untuk mengerti apa rencana Tuhan bagi keluarga-keluarga yang kehilangan itu. Di sana kita sebagai orang tua harus membuat anak-anak mengerti dengan iman sehingga mereka bisa melihat agenda Tuhan di masa depan. Tugas kita bukan bertanya ‘mengapa ya Tuhan?’ Tugas kita adalah taat. Di tengah seluruh kesedihan, pergumulan, dan tantangan kita harus selalu taat.

 

Kita sebagai orang tua harus menjadi pahlawan iman dan pahlawan hidup yang memiliki keberanian yang suci untuk menegakkan kebenaran dan memegang kebenaran sebagai prinsip untuk membangun hidup. Orang tua harus berani berkorban dan bukan mengorbankan anak-anak demi kesombongan dan kebanggan orang tua. Investasi yang terbesar untuk keluarga bukanlah rumah, mobil atau emas tetapi anak-anak kita supaya mereka meraih masa depan. untuk pendidikan anak, orang tua tidak boleh terlalu banyak hitung-hitungan. Orang tua harus memberikan yang terbaik kepada anak. Ketika orang tua berani berkorban untuk anak, di sana orang tua sudah menjadi pahlawan. Yesus sudah berkorban bagi kita sehingga kita memiliki arti hidup. Kita berkorban supaya anak menemukan arti dalam dirinya dan menemukan potensinya untuk dipakai Tuhan dan menjadi berkat bagi dunia. Ini merupakan tugas yang berat oleh karena itu setiap kita harus berdoa.

 

4) APA YANG DIPERLUKAN OLEH ZAMAN INI UTK MERAIH MASA DEPAN?

 

            Mazmur 127 menyatakan bahwa anak-anak itu seperti anak-anak panah di tangan pahlawan. Anak-anak kita harus dididik untuk mencapai suatu sasaran hidup. Ketika mereka sudah mandiri, mereka harus hidup untuk Tuhan dalam pekerjaan, keluarga, dan semua bidang lainnya. Apakah cukup jika anak-anak kita menjadi pintar? Banyak anak sebenarnya pintar, namun pintar saja tidak cukup. Anak-anak harus bijaksana. Orang pintar bisa menjadi sombong namun orang bijaksana tidak sombong. Orang bijaksana itu rendah hati. Ia sadar bahwa dirinya bukan siapa-siapa dan ia merasa harus banyak belajar. Orang yang bijaksana tidak pernah mengaku bahwa dirinya bijaksana. Ia selalu mencari pengertian-pengertian yang baru. Orang yang bijaksana selalu mengambil keputusan tepat pada waktu, konteks, dan sasarannya. Di manakah sumber kebijaksanaan? Firman Tuhan. Jadi sekolah akademis dan les akademis saja tidak cukup. Anak-anak harus mempelajari Firman Tuhan. Firman Tuhan adalah bijaksana yang tertinggi. Wahyu khusus Tuhan itu menerangi wahyu umum. Oleh karena itu orang tua harus terus mengingatkan anak-anak untuk membaca Alkitab. Kitab Amsal bisa menjadi pilihan untuk anak-anak baca. Mereka mungkin tidak segera mengerti setelah membaca, namun mereka harus belajar taat terlebih dahulu. Perlahan-lahan mereka akan bisa mengerti dan menghidupi apa yang mereka baca. Firman Tuhan adalah seperti pedang bermata dua yang memimpin hidup orang-orang yang membaca dan menghidupinya.

 

            Mempelajari moral merupakan hal yang baik namun itu tidak cukup. Anak-anak harus menjadi orang-orang yang berintegritas. Orang bermoral ketika digoda untuk berdosa bisa jatuh dan mengikuti arus, namun orang berintegritas tahu bahwa Allah itu maha tahu dan maha hadir sehingga ia takut berbuat dosa. Ia akan bekerja secara jujur dan tidak mengikuti arus. Orang yang berintegritas melihat martabat atau jati diri sebagai hal yang penting. Ia sadar bahwa dirinya adalah anak Tuhan yang sudah ditebus oleh Kristus. Pengertiannya ini membuatnya tidak berani bermain-main dengan dosa. Ia malu menjadi orang munafik sehingga ia selalu menjaga hidupnya. Memiliki moral itu baik, namun anak-anak harus memiliki integritas. Mereka yang berintegritas tidak akan mudah digoda dengan uang. Mereka melihat penebusan Tuhan sebagai anugerah yang sangat berharga. Anak-anak yang bersosial itu baik, namun penyesatan itu sering terjadi melalui gadget di zaman ini. 1 Korintus 15:33 Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Anak-anak harus bergaul namun harus punya nilai strategis. Kita bergaul dengan suatu misi yaitu menjadi garam dan terang. Kita harus seperti ikan di laut yang tinggal di air asin namun tetap memiliki daging yang manis. Jadi kita tidak boleh dipengaruhi oleh dunia. Anak-anak kita harus diajarkan tentang hal ini.

 

Anak-anak kita harus dididik untuk menjadi pekerja yang handal. Pelatihan mereka dimulai dari tanggung jawab di rumah. Di rumah harus ditanamkan konsep self-service. Seluruh anggota keluarga harus dilatih untuk bekerja. Dalam bagian ini anak-anak dilatih dan dikembangkan sehingga mereka belajar bertanggung jawab dalam setiap pekerjaan mereka. Anak-anak tidak boleh dimanja supaya mereka bisa bekerja keras. Di dalam prosesnya mungkin anak-anak belum bisa mengerjakan secara baik, namun itulah proses belajar. Inilah sekolah di rumah. Apakah ini cukup? Dalam konsep John Calvin, kita bukanlah orang-orang yang bermental tidak mau berkembang. Kita adalah orang-orang yang in making. Kita harus mengusahakan untuk menciptakan nilai kerja. Hal-hal baru dan terobosan harus kita raih. Orang-orang Yahudi pada umur 30 tahun dituntut untuk menjadi pemimpin dan menjadi orang yang in making. Swiss sangat dipengaruhi oleh Calvin secara khusus dalam produksi jam tangan. Orang-orang yang in making selalu berpikir squeezism. Pdt. Stephen Tong mengajarkan kita untuk memeras diri agar yang terbaik bisa keluar. Kita harus memeras diri sebelum kita diperas oleh orang lain. Di sinilah kita bisa memiliki mental pencipta nilai kerja. Kita harus mengerjakan mandat budaya yaitu mengelola bumi dan seluruh isinya. Anak-anak harus ditanamkan jiwa entrepreneur. Bagaimana untuk mencapai semua ini? Semua hal di atas bisa tercapai jika orang tua bisa menjadi pahlawan iman dan pahlawan hidup untuk anak-anaknya dari sejak dini. Sebelum masalah muncul, orang tua harus memberikan disiplin. Dunia sangat membutuhkan orang-orang dengan semua hal di atas. Orang-orang Reformed harus memberikan terobosan di dalam waktu dan strategi yang tepat. Ini bukanlah hal yang sulit jikalau sejak dini kita sudah memperlengkapi diri untuk menjadi pahlawan iman dan pahlawan hidup.

 

5) KARAKTERISTIK APA YANG DIPERLUKAN UNTUK MENJADI PAHLAWAN IMAN DAN PAHLAWAN HIDUP?  1 TESALONIKA 5:8

 

Orang tua harus melengkapi diri sebagai orang beriman. Kita harus terus membaca Alkitab dan mendengarkan Firman Tuhan yang membawa kita kepada ketaatan. Di sana kita akan menjadi orang yang beriman. Ketika kita mendidik anak-anak kita berdasarkan iman, kita akan menjadi orang-orang yang bergantung pada Tuhan. Iman itu akan memengaruhi anak-anak kita menjadi orang yang beriman. Dari sana akan muncul pengharapan. Pengharapan itu mengarahkan keluarga kita ke depan. Kita mau mendapatkan pencapaian-pencapaian yang mulia berdasarkan pengharapan kita. Semua ini harus dikaitkan dengan kemuliaan Tuhan dan bukan kemuliaan diri. Anak-anak kita harus memiliki pengharapan ini agar mereka mengerjakan pekerjaan Tuhan dengan tujuan yang benar. Pertama, pengharapan orang tua yang paling dasar adalah anak-anak lahir baru. Sukacita orang tua adalah ketika anak-anak bisa menceritakan kisah pertobatan pribadi mereka. Kedua, orang tua harus berharap agar anak-anak bertumbuh takut akan Tuhan. Di dalam takut akan Tuhan itu anak-anak akan hidup dengan suci dan benar. Ketiga, kita berharap anak-anak menjadi pelayan-pelayan Tuhan. anak-anak harus diajarkan untuk mengasihi Tuhan lebih daripada mengasihi orang tuanya. Anak-anak yang mengasihi Tuhan akan secara otomatis menghormati orang tuanya. Mereka yang mengasihi Tuhan akan berpikir untuk mengasihi sesamanya. Berikutnya orang tua berharap agar anak-anak mandiri di dalam Tuhan dan menemukan pasangan hidup yang baik sesuai dengan kriteria Alkitab.

 

Orang tua juga harus memiliki kasih seperti kasih Tuhan yaitu kasih agape. Kita harus mengerti 1 Korintus 13 dan kita harus mendidik anak dalam kasih. Keadilan kita tegakkan ketika anak memberontak. Kasih dan keadilan harus seimbang, namun kasih harus muncul terlebih dahulu. Yohanes 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Di mana ada kasih, di situ ada solusi. Dengan kasih yang benar, orang tua akan mendidik anak-anak dengan tepat. 1 Tesalonika 5:8 berbicara mengenai iman, pengharapan, dan kasih dalam satu kesatuan. Orang tua harus bisa memberikan keteladanan. Ini berarti perbuatan dan perkataan harus selaras. Orang tua tidak boleh hanya berteori. Semua itu harus dibuktikan dari kualitas hidup. Anak-anak kehilangan figur orang tuanya karena mereka tidak menemukan teladan. Orang tua harus menjadi teladan dalam iman, karakter, sosial, dan lainnya. Keteladanan adalah guru bagi anak-anak supaya mereka punya standar hidup yang baik. Kekacauan terjadi ketika orang tua egois, bertikai, dan tidak menjadi teladan. Orang tua harus selalu memberikan edukasi. Ulangan 6 mengajarkan orang tua untuk terus mengatakan Firman Tuhan berulang-ulang kepada anak-anak di manapun dan kapanpun. Orang tua harus menjadi sumber pencerahan sehingga anak-anak mengerti tentang Tuhan dan tentang ciptaan. Melalui mulut dan bibir kita anak-anak harus bisa menemukan pengertian-pengertian yang baik. Orang tua harus berpikir secara futuris. Keluarga harus diarahkan untuk melihat masa depan dan meraih masa depan. Oleh karena itu orang tua harus bisa membagikan hal ini kepada anak-anak. Setiap kata orang tua adalah untuk membangun anak-anak melihat masa depan. Tuhan memerhatikan setiap kata yang kita keluarkan. Anak-anak tidak boleh sekadar menjadi penikmat tetapi menjadi peraih dan pemberi yang terbaik untuk masa depan. Terakhir, orang tua harus berani berkorban. Orang tua harus berani memberikan apapun yang terbaik sehingga mereka bisa bertumbuh di dalam Tuhan. Jika kita berani berkorban, maka kita akan berbahagia ketika kita meninggal karena anak-anak mencapai yang terbaik terutama dari segi rohani. Anak-anak yang lahir baru, takut akan Tuhan, dan mau melayani Tuhan adalah anak-anak yang membawa sukacita. Anak-anak yang mengutamakan Tuhan dan memiliki kemandirian hidup akan membuat kita tersenyum karena kita sudah memberikan yang terbaik. Pendidikan yang terbaik bukanlah tentang uang atau tentang sekolah di luar negeri. Kita harus membuat anak-anak kita kaya akan iman, pengharapan, kasih, teladan, dan lainnya.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami