Menjadi Murid Yesus

Menjadi Murid Yesus

Categories:

Bacaan alkitab: Matius 28: 19-20; Lukas 14:25-33.

 

Perhatikan di dalam ayat ini, ada mandat Injil yang kata perintahnya adalah matetes yaitu murid-Ku. Jadi Penginjilan itu hanya kalimat penyerta, sedangkan tujuan dan kalimat penyerta yaitu ada di kata muridkanlah atau jadikanlah mereka murid-Ku. Ayat 20, berbicara bagaimanakah supaya mereka menjadi murid? Ajarkanlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Ku perintahkan kepadamu. Jadi kita semua adalah murid kebenaran, dan kita harus punya hati untuk terus mau belajar secara pribadi tentang firman, dan juga secara kelompok, bahkan melalui Pendalaman Alkitab pun kita juga harus banyak belajar. Ingat janji Tuhan: Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman. Suami kita belum tentu setia kepada kita, istri kita belum tentu setia kepada kita, karena masing-masing akan meninggalkan kita, harta yang kita miliki mungkin bisa hilang, kenyamanan, ketenangan kita akan bisa hilang, tetapi satu hal disini Tuhan berjanji Aku akan menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.

 

Mungkin kita melihat harta yang kita miliki yang paling karena punya nilai investasi, tetapi jikalau harta itu mengikat kita sampai tidak mengutamakan Tuhan, kita tidak bisa disebut murid Tuhan. Waktu engkau bisa berkenan kepada Tuhan, bukan karena Tuhan lihat pakaianmu, hartamu, bukan itu yang paling penting. Yang paling penting adalah pada waktu kita menjadi pengikut Tuhan yaitu hatimu. Karena dari hati Tuhan menilai kita, dari hati Tuhan akan memberikan satu junjungan ketika kita disebut umat yang setia. Jadi yang paling penting dalam hidup ini jaga hatimu, itu adalah harta kita. Dan untuk menjaga hati butuh pertumbuhan iman, disinilah kita akan fokus pada bagian itu.

 

Pendahuluan

 

Setiap kita memiliki keinginan, baik yang bersifat lahiriah dan rohaniah. Adakah diantara kita tidak punya keinginan? Jika tidak ada engkau bukan orang normal. Di dalam seluruh hidup ini kita punya keinginan, tetapi permasalahannya keinginan yang berpusat untuk Tuhan atau keinginan yang berpusat untuk diri? Di sini kita melihat adakah permasalahan dengan keinginan kita? Ada. Kenapa? Karena kadang-kadang kita tahu apa yang baik, yang benar, yang mulia, dan kita tahu apa yang sungguh-sungguh punya sesuatu nilai keagungan. Akan tetapi di dalam program hidup kita terkadang itu tidak kita jalankan. Kenapa? Karena tidak selaras antara pikiran kita, perasaan kita, hati kita, sikap kita. Akhirnya dalam hidup ini kita tidak punya program hidup yang baik, tidak punya fokus hidup, dan tidak punya perjuangan yang hidup. Ada pepatah yang mengatakan kegagalan bukan akhir dari segalanya, jadi kalau engkau patah hati jangan berpikir semua sudah berakhir, itu baru awal engkau sekolah hidup, dan jikalau engkau gagal dalam studi, misalnya dalam satu semester nilaimu dibawah rata-rata itu merupakan baru satu pembelajaran untuk engkau sekolah hidup, karena didalam hidup ini yang paling penting adalah kita berjuang dalam ketekunan. Disitu kita akan belajar bahwa perjuangan itulah tekat hidup kita, ketekunan adalah komitmen kita untuk kita hidup bagi Tuhan.

 

Terkadang apa yang kita ingin secara lahiriah belum tentu Tuhan juga rancang demikian. Ini juga permasalahan yang kedua. Kita mau kaya tetapi Tuhan tidak mau membuat kita kaya, kita mau sukses tetapi Tuhan tidak mau membuat kita menjadi orang sukses, kita hanya dijadikan orang yang berkecukupan. Di sinilah kepekaan kita harus menangkap sebetulnya kita ini mau menjadi orang apa dan bagaimana dimata Tuhan, dan berkat secara fisik itu akan menyusul. Jangan kaitkan berkat secara fisik menentukan engkau orang rohani atau tidak. Begitu banyak orang kaya didunia ini tetapi belum tentu rohani. Tetapi orang rohani pasti kaya, karena kekayaan kita bukan dinilai daripada uang, tetapi dinilai dari hati dan imanmu yang bisa selalu bersyukur.

 

Pembahasan

 

Apakah setiap orang Kristen, setelah lahir baru otomatis sudah menjadi MURID Yesus?

Belum. Kita mungkin menjadi pengikut Kristus secara teori, tetapi secara sikap hidup belum tentu menjadi pengikut Kristus. Buktinya belum tentu setiap hari kita baca Alkitab, hari Minggu pun belum tentu ibadah, pelayanan pun belum tentu diutamakan, cuma menjadi orang Kristen status saja di KTP. Penting bagi setiap kita memahami Kekristenan. Kita tidak boleh berhenti belajar. Kekristenan tidak boleh membuat kita puas dalam status, tetapi Kekristenan menjadi satu nilai anugerah yang menyadari kita setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap waktu menjadi nilai tanggung jawab untuk kita selalu berubah dan maju bagi Tuhan.

 

Di sini kita akan melihat apa pentingnya setiap kita memahami satu siklus nilai hidup ini, maka ada satu pembelajaran yang disebut lingkaran pemuridan. Matius 28: 18 – 20 mengingatkan kepada kita perintah amanat agung adalah matetes, pemuridan itu sendiri. Didalam 2 Timotius 2: 2 rasul Paulus mengingatkan kepada Timotius supaya senantiasa membuat multiplikasi rohani. Bagaimana caranya? Ajarkanlah firman yang kau ketahui kepada orang yang layak menerima pembelajaran itu. Ulangan 6 dan 13 diterjemahkan dalam konsep Perjanjian Baru menjadi rumah pembelajaran untuk setiap orang yang di dalam Tuhan  harus senantiasa punya hati seorang murid. Hati seorang murid adalah orang yang haus akan firman Tuhan, dan kita juga harus terus mengajar orang-orang untuk terus bertumbuh imannya dalam Tuhan. Di dalam Kolose 1: 28 – 29 rasul Paulus mengatakan: aku memberikan pengajaran, aku memberikan nasihat, sesuatu yang berasal daripada Tuhan itu sendiri. Paulus di ayat 29 mengatakan: aku selalu berjuang dan berusaha untuk bisa mengajar orang lain hidup didalam Firman.

Di sini baru kita mengerti itulah yang disebut murid Tuhan, jadi hidup kita harus berpusat kepada firman, maka di dalam firmanlah kita bisa sadar siapakah Tuhan, siapakah Juruselamat kita, siapakah kita. Penginjilan menjadi sesuatu yang gagal jikalau kita tidak menyadari orang itu adalah orang berdosa, Penginjilan akan gagal jikalau kita tidak memberitahu bahwa setiap manusia membutuhkan pengampunan dan penebusan dari Kristus, Penginjilan itu akan gagal kalau tidak menyatakan siapakah Tuhan yang sesungguhnya, yang sejati, dan siapakah Tuhan yang sungguh-sungguh menjamin akan keselamatan kita. Maka setiap kita punya pengalaman rohani secara pribadi, kapan engkau mula-mula menjadi orang Kristen? Itulah yang menentukan kita disebut menjadi pengikut Kristus secara imani, bukan saja menjadi pengikut Kristus secara budaya, atau nilai kebiasaan nenek moyangmu yang sudah menjadi orang Kristen, dan bukan pula menjadi pengikut Kristus karena merasa cocok menjadi orang Kristen. Karena Kekristenan bukanlah pilihan kita, tetapi karena Tuhan yang memilih kita.

Di dalam bagian ini setiap kita harus sadar bahwa kita semua adalah orang yang berharga di mata Tuhan. Kita berarti di mata Tuhan maka Tuhan pilih kita. Tetapi pada waktu kita sudah dipilih Tuhan, jauh lebih lagi yang Tuhan inginkan adalah kita menjadi murid-Nya. Maka dari itu kita membutuhkan proses pembelajaran firman dan itu yang disebut proses pemuridan. Itu yang disebut discipleship, suatu proses dimana kita ingin menjadi murid Tuhan. Berhenti disitu? Tidak. Tuhan akan membuat kita mempunyai mental orang-orang yang diutus. Kita adalah orang-orang yang punya hati untuk senantiasa memahami nilai panggilan Tuhan, utusan Tuhan. Jadi di manapun engkau berada, ingat engkau adalah saksi Tuhan. Engkau tidak boleh lagi hidup untuk dirimu sendiri berdasarkan kedaginganmu. Kenapa? Karena engkau sudah menjadi milik Kristus yang diutus menjadi saksi-Nya. Jadi dengan demikian setiap kita belajar bagaimana kita mengerem mulut kita untuk kita bisa menyaksikan siapa Tuhan, dan memunculkan nilai keteladanan Kristus dalam hidup kita. Jadi disitulah kita perlu hidup sebagai terang. Setelah kita diutus, diutus untuk apa? Diutus untuk melahirkan jiwa-jiwa baru. Sekarang saya tanya mungkinkah di antara kita ini ada yang mandul rohani? Mungkin. Siapa yang paling tahu? Diri kita sendiri. Menjadi pertanyaan apakah kita orang-orang yang mandul secara rohani membuat Tuhan senang? Tidak, pasti Tuhan sedih.

 

Menjadi pertanyaan kita, apa program yang harus kita utamakan dalam hidup ini? Kita harus mementingkan program Tuhan di dalam keseluruhan hidup kita.

 

Di dalam hidup ini setiap kita punya nilai dasar kehidupan Kristen. Yang paling dasar adalah kita sudah tahu kita diselamatkan dalam Kristus, dan setiap kita membutuhkan keselamatan itu. Basic yang paling dasar adalah kita mengerti keselamatan di dalam Kristus (1). Setiap kita diselamatkan untuk kita bertumbuh didalam Kristus, karena kita sudah ditanamkan satu benih iman, dan benih iman itulah yang membuat kita sadar kita adalah orang berdosa, dan kita sadar hanya didalam Yesuslah dosa kita bisa diampuni. Benih iman itu diberikan untuk apa? Untuk iman kita bertumbuh di dalam Kristus (2). Bertumbuh untuk apa? Bertumbuh bukan untuk sesuatu yang tidak punya arah, tetapi bertumbuh untuk kita berbuah didalam Kristus (3). Dan buah itu pasti harus manis dikecap oleh orang lain, bukan pahit ataupun asam. Setelah itu untuk kita mengalami hidup serupa dengan Kristus (4), berarti pembaharuan karakter, pembaharuan karakter dari hari demi hari. Dan yang terakhir hidup kita memuliakan Kristus (5). Jadi disini minimal ada lima langkah. Dan setiap kita harus belajar berjuang untuk lima langkah ini senantiasa ada dalam kehidupan kita.

 

Hal-hal lain apa lagi yang Tuhan anggap penting untuk memprogram hidup kita? Setiap kita harus punya bagian yang kedua, bukan hanya basic Christian life, tetapi progressive Christian life. Setiap kita harus belajar bagaimana hidup mandiri (1). Ini adalah tema yang paling penting daripada seluruh ajaran Alkitab. Pada waktu nilai pendidikan dihadirkan dalam bentuk rumah menjadi pusat pengajaran, yaitu home schooling, maka pada waktu kita baca Alkitab dari Kejadian sampai dengan yang terakhir tidak ada pendidikan secara formal. Siapa gurunya? Guru di rumah pada waktu pagi adalah ibu, pada waktu malam siapa yang mengajar? Bapak. Maka jikalau engkau siap menjadi seorang istri, engkau siap menjadi seorang ibu mentalmu sudah dipanggil menjadi seorang guru. Di dalam bagian inilah setiap kita pada waktu mendidik anak jangan lupa kita mendidik anak supaya anak kita mandiri, mandiri imannya, mandiri hidupnya secara lahiriah. Belajar untuk hidup mandiri, kemudian belajar untuk berjuang bagaimana kita harus hidup mandiri (2). Kegagalan bukan akhir dari segala sesuatu. Kenapa? Selama kita hidup punya nilai perjuangan itulah yang membuat engkau berhasil. Orang yang berjuang di dalam Tuhan, orang yang berjuang untuk kuat menghadapi setiap tantangan dan setiap pergumulan itulah yang akan dibukakan jalan oleh Tuhan.

Sebagai orang Reformed kita harus tahu Tuhan menyertai kita untuk kita menjadi orang-orang yang berjuang dalam iman untuk meluaskan kerajaan Allah. Kita harus menjadi orang-orang yang berjuang dalam studi, pekerjaan, dan usaha kita sambil kita minta penyertaan Tuhan. Orang yang berjuang tidak pernah mau putus asa dan merasa gagal. Untuk apa engkau berjuang? Untuk engkau punya hidup yang matang (3). Supaya engkau punya nilai yang disebut dalam dunia manajemen sekarang engkau punya aspek human capital dalam aspek nilai kompetensimu, keilmuanmu, soft skillmu, nilai berorganisasimu, nilai-nilai apapun. Jika engkau punya aspek nilai human capital dengan lengkap, bukan saja knowledge, tetapi juga punya pengalaman, bahkan soft skill di dalam segala hal, engkau punya satu nilai hidup yang bisa menghasilkan suatu karya. Bukan saja engkau punya aspek soft skill, tetapi engkau bisa mengembangkan banyak hal yang punya nilai produktifitas berkaitan dengan uang dan segala sesuatu, maka hidupmu menjadi orang yang lengkap karena engkau punya kategori human capital di dalam nilai hidupmu.

 

Selanjutnya meningkat dengan engkau bisa mensejahterakan hidup orang lain (4). Jangan hanya berhenti untuk diri kita, tiba saatnya kita yang membuat nilai kerja itu. Maka kalau kita lihat rancangan Tuhan pada Abraham untuk bangsa yang besar, dan melalui Abrahamlah bangsa-bangsa akan diberkati. Apa yang dikatakan oleh Tuhan kepada Yeremia juga benar, jikalau engkau merantau disuatu kota buatlah kota itu menjadi sejahtera. Berarti ini panggilan hidup kita memang kita dalam umur-umur tertentu tanamkan dalam jiwamu jiwa enterpreuner, jiwa wirausaha, jiwa untuk mandiri, untuk orang lain bisa merasakan sejahtera melalui hidupmu disertai oleh Tuhan. Disinilah setiap kita harus memahami itu. Tetapi akhir semuanya sama yaitu melalui hidup kita harus memuliakan Kristus (5). Jadi melalui hartamu, melalui pendidikanmu, melalui kesuksesanmu kita harus memuliakan Kristus. Jadi basic Christian life, progressive Christian life itu sama. Tidak ada yang dikatakan orang Kristen rohani dan orang Kristen sekuler, kita semuanya dalam hidup ini harus rohani.

 

Mengapa orang Kristen sering gagal menjadi murid Yesus?

Karena kita gagal di dalam prosesnya. Kadang-kadang hari minggu kita dapat input yang baik, tetapi kita gagal dalam menghidupinya, dalam prosesnya, sehingga output kita sama saja. Jadi problemnya dimana? Problemnya kita tidak masuk dalam proses yang disebut pemuridan itu. Melalui Lukas 14: 25 – 33 yang tadi kita baca kita melihat bahwa proses itu penting. Di sini kita melihat proses yang pertama adalah ayat 26, engkau ingin menjadi murid Tuhan? Ya. Jangan berhenti hanya jadi pengikut, harus sampai benar-benar menjadi murid Tuhan yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan lebih daripada segala sesuatu, bahkan daripada dirimu sendiri, bahkan daripada keluargamu. Jadi ayat 26 ketika keluar kata “benci” itu adalah bahasa hyperbole. Itu artinya kita harus mengasihi Tuhan lebih daripada diri kita, kita harus mengasihi Tuhan lebih daripada keluarga kita, kita harus mengasihi Tuhan lebih daripada hobi kita, jadi Tuhan yang paling utama.

Yang kedua didalam ayat 27, dikatakan ada orang yang tidak rela menderita dan tidak setia mengikuti Kristus karena tidak berani menyangkal diri, tidak berani pikul salib. Di dalam bagian ini dikatakan banyak orang menjadi pengikut Kristus tetapi kenyataannya bukan murid Kristus karena dia tidak rela menderita dan tidak setia mengikuti Kristus karena tidak mau menyangkal diri. Dalam hal inilah setiap kita harus rela untuk menjadi pengikut Tuhan yang setia dan harus menyangkal diri. Daging itu lemah tapi roh itu penurut, dan kita yang hidupnya sudah menjadi milik Tuhan, kekuatan hidup kita adalah ketika kita taat kepada suara Tuhan, maka Allah Roh Kudus akan memimpin kita untuk kita kuat menyangkal diri dan kita fokus untuk hidup, kita akhirnya mengisi waktu dan mempertanggungjawabkan setiap waktu bagi Tuhan.

Yang ketiga ini menarik, ayat 28 – 32 dikatakan ada orang mau bangun rumah, maka kata Tuhan Yesus dia perlu rancangan. Di dalam bagian ini Tuhan ingin mengatakan, kenapa orang Kristen gagal menjadi murid Tuhan? Karena tidak berpikir yang matang, cepat puas diri, hanya berpikir tujuan, tidak pernah berpikir proses. Dan yang kedua ayat 33 dikatakan ada orang kurang komitmen untuk memberikan yang terbaik bagi Yesus Kristus. Jadi penting sekali kita komitmen yang terbaik bagi Tuhan, yang terbaik untuk gereja, waktuku, uangku, tenagaku yang terbaik bagi Tuhan.

 

Bagaimana mencapai hal diatas?

Masuk dalam proses pemuridan. Harus rela kalau engkau sungguh-sungguh mau hidupmu mencapai semua yang terbaik. Kalau engkau diberitahu tentang firman, engkau punya pengetahuan, jangan berhenti pengetahuan itu sampai level sekedar tahu. Coba tuntut untuk kamu mau mengerti lebih dalam lagi, di rumah engkau baca lagi, setelah itu engkau bandingkan dengan apa yang engkau tahu, dari sebelum engkau tahu dengan setelah engkau tahu (1). Setelah engkau tahu bagaimana seharusnya engkau hidup (2). Setelah itu bagaimana melalui pemuridan secara kelompok, secara keluarga, secara cluster untuk membangun karakter kita. Minimal hidup kita punya nilai kasih, kerendahan hati, kesetiaan, ketekunan, hidup takut akan Tuhan, nilai disiplin dan lain-lain. Jadi seluruh nilai character building ini harusnya menjadi satu tujuan, jadi bukan hanya diajarkan doktrin sistematik. Pemuridan selalu ada program ketaatan. Tujuan yang ketiga bagaimana melalui proses pemuridan setiap kita bisa membangun satu nilai skill hidup, ada hard skill, ada soft skill dalam nilai pendidikan, tapi dalam satu nilai soft skill itu disitulah setiap kita harus mengembangkan bakat dan talenta kita dalam nilai tanggung jawab hidup kita (3). Jadi dalam bagian ini akhirnya setiap kita pada waktu pemuridan mengembalikan seluruh hidup kita dipersembahkan bagi Tuhan (4). Setiap kita harus sadar, kita hidup tidak boleh egois. Pada waktu engkau punya hati untuk Tuhan, pada waktu engkau sudah memenangkan jiwa, ingat, jiwa-jiwa itu harus diajar masukan dalam pemuridan.

 

Jadi disini bisa kita simpulkan, jangan puas kalau engkau tahu Alkitab, tapi bagaimana Alkitab itu menjadi kredomu, menjadi satu nilai pengakuanmu, sampai menjadi nilai pondasi hidupmu, doktrin hidupmu, pilar hidupmu, kalau ini semua sudah beres mari kita uji. Kita ukur apakah Alkitab yang engkau tahu sudah mengubah akan seluruh sikap, tingkah laku, kebiasaanmu, dan nilai budayamu? Kalau ini semua sudah engkau jalankan dengan baik maka otomatis hidupmu akan berubah, sikapmu akan diubah, budaya hidupmu akan berubah.

 

Bagaimana menguji akan pengakuan kita? Lihatlah apakah pengakuan itu nyata mengubah karaktermu, nyata membuat engkau serupa dengan Kristus, itu menjadi sesuatu yang penting. Setelah itu bagaimana menguji doktrin kita? Lihatlah apa yang sudah engkau pegang dalam hidupmu itulah yang engkau lakukan, itulah yang engkau kerjakan. Jadi disini Bible mempengaruhi behavior (tingkah laku), creed (pengakuan iman) mempengaruhi karakter, doktrin mempengaruhi deed (perbuatan). Jadi disini kita harus mencapai yang disebut namanya Bible, creed dan character, ini penting sekali.

 

Akhir kata mari kita baca: Mari Kita Berjuang untuk Menjadi Murid Yesus yang Sejati.

 

Amin. Tuhan memberkati.

 

(Ringkasan kotbah ini belum diperiksa oleh pengkotbah-YFS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami