Meninggalkan Takhta Sorgawi

Meninggalkan Takhta Sorgawi

Categories:

Bacaan alkitab: Matius 1: 23; Matius 19: 27 – 28; Filipi 2: 6 – 8.

 

Pendahuluan

 

Mengapa Allah rela meninggalkan takhta sorgawi dan datang ke dunia,  untuk inkarnasi jadi manusia? Mengapa Allah yang berkuasa tidak menggunakan kuasa-Nya saja untuk menyelamatkan umat pilihan-Nya? Bukankah suatu resiko yang besar, jika Allah menjadi manusia dan tinggal di dunia yang berdosa ini? Mungkinkah Allah bisa gagal dan menjadi tidak suci karena Dia 100 persen manusia, 100 persen Allah? Mungkinkah misi ini gagal?

Ini pertanyaan-pertanyaan yang perlu kita pikirkan. Jikalau kita tidak mengerti nilai peperangan Tuhan dengan setan, kerajaan terang dengan kerajaan gelap, pasti kita tidak mengerti kedalaman mengapa Allah rela menjadi manusia, kenapa Allah rela memiliki daging. Melalui Kejadian 3: 15 kita mengerti ada peperangan di dalam dunia, ada peperangan di dalam ranah seluruh sejarah Tuhan dimana Tuhan sudah menubuatkan setan akan terus berupaya menggagalkan kelahiran Yesus di dunia ini. Bagaimana kita tahu seluruh peristiwa itu? Pada waktu kita baca kitab Wahyu. Seluruh sejarah Tuhan akan coba digagalkan dalam upaya dan strategi setan. Setan tidak kalau misi keselamatan itu sukses, maka dia akan menggagalkan melalui pilihan Tuhan pada Maria. Relasi Maria dan Yusuf pada waktu membesarkan Yesus, relasi pada waktu Yesus mulai besar, sampai Dia menyatakan dirinya Mesias, setan tidak pernah berhenti untuk mengagalkan misi itu. Tahukah setan bahwa Tuhan tidak mungkin gagal? Mungkinkah setan tahu bahwa Tuhan Yesus mungkin gagal? Mungkin. Kenapa dia bisa melihat kemungkinan itu? Karena Yesus 100 persen adalah manusia, Dia bisa merasakan kecapean, bisa tidur, bisa merasakan kehausan, bisa merasakan kelelahan, Dia memiliki emosi dan satu nilai perasaan untuk Dia menangis. Mungkinkah Yesus suatu waktu memiliki emosi yang tidak suci karena Dia merasa sebagai anak pertama dan kesal sekali kepada adik-adik-Nya? Mungkinkah Yesus pada waktu kecil mempunyai emosi yang tidak suci, menangis terus? Kita percaya sekali, Tuhan pada waktu menjadi manusia sama seperti kita Dia meninggalkan tahta sorgawi menuju kepada satu misi dunia untuk menyelamatkan kita seluruhnya ada perlindungan dari Allah Roh Kudus, ini berarti menunjukan kepada kita Tuhan ketika menjadi sama seperti kita, Allah Bapa tidak meninggalkan Dia, Allah Anak di dalam pribadi Yesus yang sudah inkarnasi sama seperti kita mendapatkan juga penyertaan daripada Allah Roh Kudus. Ini menunjukan kepada kita misi Tuhan tidak mungkin gagal untuk mengalahkan setan itu. Walaupun dikatakan: setan meremukan tumit dari Tuhan Yesus, tetapi Tuhan Yesus akan mengagalkan seluruh nilai upaya setan dengan kepalanya dihancurkan.

Ada janji kemenangan dalam Kejadian 3: 15. Jikalau sudah ada janji kemenangan kenapa masih ada drama Yesus harus inkarnasi? Benarkah doktrin sejarah kemanusiaan sampai kita selamat, sampai nanti kita di surga itu merupakan drama doktrinal? Di dalam bagian ini kita percaya hidup ini ada alfa, ada omega, hidup ini ada awal, ada akhir, kita secara pribadi ada awal, ada akhir, tetapi semua menjadi indah jikalau ada dalam kedaulatan Tuhan, sehingga manusia dengan segala upayanya, pemerintah dengan segala kekuasaannya, militer dengan segala kekuatannya tidak mungkin bisa melampaui program dan nilai kedaulatan Tuhan. Ketika Allah memiliki kuasa, Allah memiliki kedaulatan, Allah tidak memakai itu untuk memanjakan kita. Bisakah Allah menyelamatkan kita tanpa mengorbankan anak-Nya? Bisa. Tetapi kenapa Dia harus melakukan itu? Karena ada nilai penebusan. Ada redemption by substitution, satu penebusan melalui pengganti. Itu adalah sesuatu yang Tuhan tidak mungkin langgar. Maka ketika Adam dan Hawa jatuh di dalam dosa untuk menutupi seluruh nilai keberdosaan Adam dan Hawa Tuhan harus membuat satu binatang untuk pertama kali dikorbankan, dan kulitnya dikasih kepada Adam dan Hawa untuk mereka bisa menutupi seluruh auratnya. Ini menunjukan kepada kita Tuhan ingin melatih kita dalam nilai kebebasan, tetapi kebebasan dalam ketaatan, bukan kebebasan dalam pemberontakan. Kebebasan dalam ketaatan membuktikan kita punya pengenalan akan Tuhan. Kebebasan dalam pemberontakan itu menunjukan kepada kita, kita tidak mau mengenal Tuhan. Di dalam kita mengikuti Tuhan, Tuhan punya aspek boundary life, punya satu konsep nilai keterbatasan dalam nilai hidup, secara nilai status kita hidup untuk mati, tetapi mati untuk diselamatkan dan hidup kembali dalam Yesus Kristus. Di dalam satu aspek boundary life kita diberikan tata nilai normatif sehingga segala sesuatu boleh engkau gunakan, dan boleh engkau makan, tetapi pohon pengetahuan yang baik dan jahat tidak boleh kamu makan. Ini berarti menunjukan kepada kita Tuhan di dalam memberi kita kebebasan, Dia menuntut kita punya ketaatan, tetapi jikalau kita mau punya ketaatan karena kita punya pengenalan akan Tuhan dengan benar.

Kenapa dalam kebebasan kita, justru menunjukkan kita orang berdosa? Kenapa dalam kebebasan kita, justru menunjukkan kita orang pemberontak? Kenapa dalam kebebasan kita, justru kita menunjukkan kita orang yang liar? Karena kita tidak mengenal siapa Tuhan. Melalui Perjanjian Lama kita mengerti seluruh nilai taurat yang tidak memungkinkan setiap orang mengerti Allah dengan benar, sehingga kita mengerti satu nubuatan dari taurat di dalam satu teologi covenant yang diintisarikan di dalam Yehezkiel dan Yeremia pasal 31. Taurat itu nanti kelak di depan bukan di tulis di batu, bukan lagi di tulis di luar dari diri kita, tetapi ditanamkan dalam hati nurani kita. Pertanyaan kita, bagaimana taurat itu bisa ditanamkan dalam hati nurani kita? Harus melalui satu jalan, Tuhan menjadi manusia, Tuhan harus menjadi firman, dan firman itu tinggal dalam hati kita sehingga kita bukan takut akan Tuhan karena situasi, konsekuensi, hukuman, tetapi kita pada waktu takut akan Tuhan karena kita sudah beribadah, dan hati kita sudah dimiliki oleh Tuhan dan kita mengakui keberdosaan kita. Di situlah pada waktu kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, hati kita dipenuhi oleh Kristus, hidup kita dipimpin oleh Allah Roh Kudus, untuk kita berjalan dalam kesucian Tuhan, untuk kita mampu menjadi alat misi Tuhan untuk membawa dunia yang gelap ini kembali kepada Tuhan.

 

Pembahasan

 

Mengapa Tuhan Yesus rela meniggalkan takhta-Nya?

Karena untuk mencari kita semua yang berdosa. Di sinilah baru kita mengerti bagaimana Tuhan harus berani membuktikan nilai kasih-Nya. Dia tidak hidup di dalam takhta-Nya, karena ciptaan-Nya terus dirongrong oleh dosa, Dia tidak rela kalau kita yang dicipta menurut peta dan teladan-Nya tidak memiliki kuasa kemenangan atas dosa. Tuhan meninggalkan takhta-Nya, kita pun harus belajar berani meninggalkan kenyamanan kita yang membuat kita tidak punya nilai kemuliaan. Kenapa Tuhan Yesus harus rela meninggalkan takhta-Nya:

  1. Untuk menyelamatkan kita. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Dia mengutus anak-Nya yang tunggal ke dunia, supaya kita yang percaya kepada Dia, tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Kita diingatkan kepada teriakan Hosea bahwa apa yang Tuhan inginkan bukan korban bakaran, bukan setiap ritual keagamaan, tetapi yang Tuhan inginkan adalah pengenalanmu dan kasih setiap kepada Tuhan. Ini berarti menunjukan kepada kita di dalam Perjanjian Lama banyak orang melakukan keagamaan tetapi hidupnya tidak ada jaminan keselamatan. Mereka berbuat akan ritual agama supaya diselamatkan. Kita jangan pernah berpikir kasih perpuluhan, berbuat baik, membaca Alkitab supaya kita diselamatkan, kita terlebih dahulu harus diselamatkan baru engkau punya kesalehan, bisa melakukan ketaatan dalam Penginjilan, baca Alkitab, saat teduh, pendalaman Alkitab, memberikan perpuluhan, memberikan syukurmu kepada Tuhan. Jadi bukan karena kita berbuat supaya diselamatkan, tetapi kita pertama diselamatkan baru kita bisa berbuat sesuatu dalam anugerah Tuhan. Jadi beda terminologinya. Jadi di sinilah Tuhan memulai satu perjanjian yang baru, Tuhan memulai satu nilai jalan dimana untuk menyelamatkan manusia, Yesus harus sama seperti kita. Ini yang disebut kasih yang ajaib, ini yang disebut rahasia kasih yang dimana Allah dari surga menuju kepada bumi yang penuh dengan kesementaraan ini, rahasia kasih harus mengandung pengorbanan. Jadi kalau engkau dikasihi oleh orang yang mengasihi engkau, orang itu akan rela berkorban untuk engkau. Ketika Tuhan berkorban, Tuhan tidak merasakan itu suatu korban yang besar, tetapi Dia rasakan itu keharusan, karena manusia dicipta menurut peta dan teladan Tuhan, maka Tuhan tidak rela kalau manusia harus hancur karena kuasa setan, manusia tidak dibiarkan Tuhan tenggelam dalam kematian. Jadi disini kita belajar konsep sacrifice, bukan konsep victim. Mengorbankan orang lain untuk kepuasan dan keuntungan kita. Di dalam bagian ini kita melihat rahasia itu ketika Allah mengutus anak-Nya yang tunggal datang ke dunia, kedua kita melihat rahasia kasih ini untuk membangun kita secara total. Kita sebagai peta dan teladan Tuhan, kita sudah rusak cara berpikirnya, rusak cara emosi ibadah kita, cara emosi kita berelasi dengan manusia juga rusak, cara emosi kita dengan alam juga sudah rusak, maka dengan apakah manusia bisa dipugar? Efesus mengatakan hanya satu jalan yaitu dengan manusia itu mengenal siapa Yesus. Manusia harus mengenal Yesus, harus bersungguh-sungguh mau menerima Yesus, baru manusia bisa dibangun ulang. Dibangun ulang itu adalah program Tuhan karena kita memperoleh lagi kekudusan kita, dibangun ulang kita memperoleh lagi status kita yang suci, dibangun ulang kita kembali memperoleh satu status disebut orang benar, jalannya harus Yesus lahir dalam hatimu. Inilah mengajarkan kepada kita inilah kasih yang benar, kasih yang punya nilai pengorbanan, kasih yang punya nilai misi untuk membangun.

 

  1. Untuk bersama-sama dengan kita. Siapa kita? Orang berdosa. Tuhan yang suci, Tuhan yang mulia, Dia mau bersama dengan kita, sehingga disitu dikatakan bahwa anak dara itu akan mengandung, dan di rahimnya akan melahirkan anak laki-laki, Dia disebut Imanuel, Allah beserta dengan kita. Pertanyaannya, siapa yang menolak Yesus untuk lahir? Yaitu pemerintah, ahli-ahli agama, dan semua orang yang tidak suka mendapatkan penyertaan Tuhan. Penyertaan Tuhan tidak mungkin gagal, penyertaan orangtua kita bisa gagal, penyertaan dunia ini kepada kita bisa gagal, tetapi seluruh program Tuhan berdasarkan Roma 8: 28 – 29, program Tuhan untuk kita tidak mungkin gagal karena Allah beserta dengan kita. Keberhasilan Yusuf memimpin Mesir melewati masa-masa paceklik, masa kesulitan karena penyertaan Tuhan, keberhasilan dari Daniel bagaimana dia melewati raja Nebukadnezar karena dia disertai oleh Tuhan. Di dalam bagian ini berarti menunjukan kepada kita Allah rela meninggalkan takhta-Nya untuk bersama-sama dengan kita, ini satu anugerah yang besar. Kenapa Allah ingin bersama dengan kita? Karena Dia ingin menjadi kita pemenang bagi Tuhan. Kenapa Allah ingin bersama kita? Karena kita ingin dijadikan orang yang berubah sesuai dengan kehendak-Nya. Kenapa Allah ingin beserta kita? Karena Allah ingin memakai kita punya relasi untuk membawa orang di dunia kembali kepada Dia. Di situlah janji Tuhan di dalam Matius 28: 19-20, pergilah ke seluruh dunia, jadikan mereka murid-Ku, dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus, dan ketahuilah Aku menyertai kamu sampai akhir zaman. Ini berarti mengajarkan kepada kita satu konsep rahasia relasi. Di dalam bagian ini kasih kepada Tuhan akan melekat dalam dirimu, dan dirimu yang sudah dimiliki oleh Tuhan dimana engkau berelasi dengan Tuhan, engkau harus berelasi dengan orang disekitarmu sebanyak mungkin. Milikilah sikap rendah hati. Di dalam Filipi yang tadi kita baca, Ia tidak merasa harus memiliki kekuasaan Dia seperti Dia di surga pada waktu Dia menjadi manusia, Dia justru meninggalkan semuanya itu untuk sama dengan kita. Ini berarti mengajarkan kepada kita, orang yang rendah hati tidak harus melihat dirinya harus dihormati, orang yang rendah hati tidak merasa dirinya dianggap penting, orang yang rendah hati tidak mau orang lain mengenal dia karena punya kekuatan dan kelebihan, justru membiarkan orang lain melihat dia tidak ada apa-apanya. Ini mengajarkan kepada kita misi yang agung pada waktu kita hidup milikilah relasi dengan setiap orang supaya mereka boleh kembali kepada Tuhan.

 

Apa yang ditinggalkan oleh Tuhan Yesus?

  1. Takhta kekuasaan-Nya. Apakah itu penting? Sangat penting. Di dalam Wahyu 3: 21 dikatakan pada waktu nanti kita akan bersama-sama dengan Tuhan Yesus, kita akan berdiri bersama Tuhan Yesus, kita akan menjadi penghakim untuk 12 suku yang hidupnya tidak taat kepada Tuhan. Ini mengajarkan kepada kita waktu Tuhan menunjukkan Dia punya takhta otoritas yang begitu kuat, lalu Dia masuk ke dunia, Dia dihina, Dia dipermalukan, Dia dipukul, dan saat itu bisakah Tuhan menggunakan kuasa-Nya? Bisa. Semua yang kita lihat rahasia inkarnasi, Yesus sama dengan kita, berarti Dia menunjukan Dia pun lahir tidak ada apa-apanya, lahir di kandang domba. Tuhan meninggalkan takhta-Nya ini bukan suatu yang mudah. Ketika Dia turun ke dunia, Dia tidak punya sesuatu yang harus dianggap penting, Dia sama dengan kita di caci maki, di hina, dan Dia harus berjuang, semua itu karena kasih-Nya kepada kita. Disini kita bandingkan dengan Matius 19: 27 – 28, 27 Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” 28 Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Konteks Matius 19 ada orang kaya mendekati Yesus dan bertanya, apa yang harus dia lakukan lagi untuk memperoleh suatu hidup yang kekal? Dan Yesus berkata kepada orang yang muda, yang kaya, yang saleh, jikalau engkau ingin memperoleh semuanya itu jual-lah seluruh hartamu dan ikutlah Aku. Setelah itu pemuda yang kaya itu tidak kembali kepada Tuhan. Tuhan Yesus berkata kepada orang itu bahwa orang itu tidak mengenal Tuhan, orang itu tidak diselamatkan karena kekayaan-Nya. Saat konteks itulah maka Petrus bertanya, aku sudah menjual seluruh hartaku, orang itu tidak pasti diselamatkan apalagi aku. Ternyata apa yang aku beri tidak menjamin keselamatanku, justru kita lihat Petrus berani melakukan itu karena dia sudah mengenal Tuhan, baru dia berani meninggalkan seluruh hartanya, Sedangkan pemuda itu melalui harta dia menganggap penting dihadapan Tuhan. Maka Tuhan Yesus berkata: Siapa yang sudah meninggalkan semuanya itu, pada waktu nanti Aku bertakhta di surga akan dibalas berkali-kali lipat, dan yang dibalas bukan berbicara harta, tetapi berbicara anugerah engkau akan bersama-sama dengan Aku. Di sinilah Tuhan Yesus berkata: Ada orang terdepan menjadi terbelakang, yang terbelakang menjadi yang terdepan. Jadi artinya jangan engkau setelah berkorban buat Tuhan terus hitung-hitungan. Waktu engkau memberi tetapi tidak dengan iman, maka engkau tidak akan mendapatkan berkat-Nya. Jadi disini kita belajar bagaimana seharusnya kita mengerti Allah pun berani meninggalkan seluruh takhta-Nya demi kasih-Nya kepada kita. Jadi berani memberikan yang terbaik untuk Tuhan salah satunya karena engkau mengasihi Tuhan, dan engkau mengasihi sesama manusia.

 

  1. Keilahian-Nya.

Tuhan meninggalkan takhta ke-Ilahian-Nya, dan dia sama seperti kita seperti di Filipi 2: 1 -11, Dia mengambil aspek humility, Dia mengosongkan diri, Dia sama seperti kita. Di dalam keilahian-Nya Dia di puji dan di sembah, dalam kemanusiaan-Nya Dia dihina.

 

  1. Takhta suci-Nya.

Di dalam Mazmur 11: 4 dan Mazmur 47: 8, dikatakan Tuhan bersemayam di takhta suci-Nya yang kudus, segala umat malaikat menyembah Dia, sekarang Dia harus datang ke dunia untuk dihina, untuk direndahkan, kenapa? Tuhan ingin memberitahu kemah Tuhan bukan lagi bait Allah dalam Perjanjian Lama, kemah Tuhan yang suci bukan lagi ruang

maha suci dan ruang suci, kemah Tuhan yang suci adalah adalah dirimu, dimana engkau menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Di sinilah kita harus belajar, berarti pada Tuhan meninggalkan surga, masuk ke dunia, takhta suci-Nya bukan lagi tempat, bukan lagi diikat oleh ruang, takhta suci-Nya adalah diri-Nya, dan diri-Nya sendiri menjadi satu nilai objek untuk orang-orang pada saat itu menghina Dia, tetapi pada saat itu Dia mendemonstrasikan kualitas kesucian yang benar. Yesus datang ke dalam dunia yang gelap, melalui kegelapan itulah bersinar terang, itulah diri-Nya, dan diri-Nya sebagai terang punya resiko untuk digelapi, bisa dijatuhkan, tetapi Dia bisa terus berjalan dalam nilai terang itu, berjalan dalam nilai kesucian itu. Ini berarti membuktikan kepada kita hidup kita setelah di dalam Tuhan, setiap kita di dalam situasi kondisi apapun juga kita bisa menerobos kegelapan, kita bisa mengalahkan keberdosaan, kenapa? Sudah terbukti waktu Yesus meninggalkan takhta suci-Nya, Dia hidup di dunia, Dia tetap suci. Waktu Dia sama dengan kita seperti anak kecil, remaja, pemuda, Dia tetap melewati dalam nilai kesucian. Maka disitulah kita melihat murid-murid tetap menyembah Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Di sinilah kita belajar mengapa Allah meninggalkan takhta sorgawi? Supaya kita mendapatkan potensi sorgawi itu. Engkau yang sudah mendapatkan potensi sorgawi itu engkau akan merasakan damai, engkau akan merasakan sukacita, engkau akan merasakan sesuatu penyertaan Tuhan yang luar biasa, karena surga bukan lagi disana, tetapi surga disini, di bumi, siapa itu? Kepada kita yang mengasihi Dia. Jadi jelas yang dikatakan Lukas, kemuliaan Allah nyata di bumi, dan kepada kita yang berkenan kepada-Nya, damai sejahtera beserta dengan kita, berarti surga itu bukan lagi disana, disana setelah nanti kita mati, kita hidup, tetapi Tuhan sekarang memberikan karakter surga kepada kita di bumi. Siapa yang bisa menikmati surga itu? Kita yang sudah di dalam Tuhan.

 

Maukah engkau merasakan karakteristik surga itu hadir dalam hidupmu? Hadir dalam nilai keluargamu? Hadir dalam nilai bisnismu? Hadir dimanapun engkau berada?  Engkau harus berani berkata milikmu adalah milik Tuhan. Jangan engkau merasa seluruh takhta-takhta yang engkau miliki itu paling penting, karena yang paling penting itu penyertaan Tuhan, karena Allah hadir untuk menyelamatkan kita, Allah hadir untuk beserta dengan kita.

 

Tuhan memberkati. Amin.

 

(Ringkasan kotbah ini belum diperiksa oleh pengkotbah-YFS)

 

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami