Mengerti Pimpinan Tuhan di saat-saat Sulit (2)

Mengerti Pimpinan Tuhan di saat-saat Sulit (2)

Bacaan alkitab: Rut 1:19-22 dan Roma 8:28.

 

1) Pendahuluan

 

Tidak mudah bagi Naomi melewati kesulitan hidupnya. Perasaan kecewa, marah, dan lainnya berkecamuk dalam iman. Satu per satu orang-orang yang dikasihinya meninggal. Pertama dari suaminya lalu kemudian anak-anaknya. Ia pasti merasa kecewa dan ia juga marah terhadap Tuhan. Di antara iman dan realitas, kesejatian iman kita diuji. Tantangannnya adalah bagaimana melihat semua peristiwa yang menyakitkan itu dalam kacamata Tuhan. Walaupun Naomi pulang ke Betlehem karena iman (ayat 6). Mengapa ia masih salah membaca masa lalunya: Mara? Ia sampai di Betlehem dan ditemui banyak perempuan saat itu. Di sana kita menemukan konsep pandangnya terhadap segala peristiwa yang terjadi. Ia melihat ada peran iman yang memimpinnya ke Betlehem. Mungkin peran iman itu sekitar 15-20%. Namun sisa 80% adalah kemarahan terhadap Tuhan. Ia meminta para perempuan itu untuk tidak memanggilnya Naomi yang berarti anak kesayangan dan anak yang manis. Ia minta dipanggil sebagai Mara yang berarti pahit. Ini karena ia merasa Tuhan sudah mendatangkan malapetaka dalam hidupnya. Ia mengalami kepahitan demi kepahitan. Apakah hal ini menunjukkan bahwa iman Naomi belum menang atas semua penderitaan dan kesulitan dalam hidupnya? Jawabannya adalah: ya. Apakah proses itu dibutuhkan sampai kemenangan iman yang sejati itu dinyatakan melalui dukacita demi dukacita pada saat itu? Dalam kasus Naomi, proses itu dibutuhkan. Sikap bagaimana yang seharusnya anak Tuhan tunjukkan di kala kesulitan hidup tiba? Kita harus belajar untuk tidak mengulang kesalahan Naomi. Kita bisa belajar dari Yusuf, Daniel, dan kawan-kawan Daniel yang juga mengalami kesulitan namun menyatakan kemenangan iman.

 

2) Mengapa kota Betlehem gempar ketika melihat Naomi dan Rut?

 

Pernakah kepulangan kita ke kampung membuat orang-orang di sana gempar? Pernahkah kita setelah sekian lama baru pulang ke rumah dan itu mengagetkan banyak orang?  Ada orang yang hidupnya hancur namun kemudian menjadi baik tetapi terjerat dalam paham radikal. Ketika ia pulang, ia melakukan hal-hal yang mengerikan karena paham radikalnya.  Namun kegemparan karena kepulangan Naomi bukanlah disebabkan oleh perubahan konsep pandang Naomi. Dahulu Elimelekh dan Naomi adalah keluarga yang terkenal di Betlehem. Ini karena Elimelekh sangat kaya. Boas masih merupakan orang kaya ketika Naomi pulang. Nama Naomi berarti “manis”. Orang-orang kaget karena Naomi yang kaya dan ceria pulang dengan begitu banyak penderitaan. Mereka bertanya-tanya penderitaan macam apa yang mencuri kegirangan Naomi. Perempuan-perempuan bertanya “Naomikah itu?” Pertanyaan itu berarti mereka mencari kepastian. Naomi dahulu dikenal memiliki senyum yang indah, selalu girang, dan ramah. Namun ia pulang dengan wajah dukacita dan penuh penderitaan. Di sana Naomi meminta untuk tidak dipanggil sebagai Naomi. Ketika pertanyaan itu muncul, Naomi langsung mengungkapkan emosi dukacitanya. Ia belum bisa menerima semua itu di dalam kedaulatan Tuhan. Di dalam hidup ini terkadang kita susah menerima kesulitan yang terjadi di luar dugaan kita. Kita kadang sulit menerima secara iman dan sulit menerima kedaulatan Tuhan. Jadi Naomi pulang dengan permasalahan dalam dirinya. Walaupun Naomi pulang dengan secercah harapan (iman) tetapi problematik di dalam dirinya belum selesai. Ia pulang dengan 20% pimpinan iman, namun sisa 80% itu adalah kemarahan yang masih berkecamuk dalam dirinya. Ia masih belum bisa menerima semua itu. Ada hal-hal yang ia tidak mengerti tentang kedaulatan Tuhan yang mengizinkan semua itu. Ini membuat Naomi sulit sinkron dengan seluruh rancangan Tuhan untuk masa depannya.

 

Mengapa terkadang iman kita gagal mengerti semua itu ketika penderitaan tiba? Mengapa ketika setiap kesedihan dan kesulitan datang, kita gagal mengerti kedaulatan Tuhan dan rencana Tuhan yang berkaitan dengan semua itu? dalam ayat ke-13 Naomi pernah berbicara kepada Orpa dan Rut bahwa Naomi mengalami hal yang lebih pahit daripada Orpa dan Rut. Ia merasa dirinya paling menderita. Ini menunjukkan bahwa Naomi sedang mengalami depresi. Perasaannya berkecamuk dan mengandung ketidaksucian. Jika masalah ini tidak diselesaikan dengan segera, maka ia akan semakin stres bahkan ia mungkin mengalami gangguan jiwa. Namun Naomi masih ada potensi iman, oleh karena itu ia mau pulang. Seandainya tidak, ia akan tinggal di Moab dan menangisi dirinya dalam penderitaan dan kesusahan serta ia akan memohon belas kasihan dari orang-orang di sana. Ia akan mengalami kehancuran mental, karakter, dan jiwa di Moab jika ia tidak beriman. Tuhan menanamkan langkah iman sehingga Naomi meninggalkan Moab. Ketika ia mendengar bahwa Tuhan memberkati Betlehem, ia pergi ke sana. Jadi ia meninggalkan Moab dengan alasan iman 15-20%. Ia masih memikirkan apakah langkahnya itu merupakan program Tuhan atau tidak. Ia tidak tahu bahwa nanti melalui Rut dan Boas, Daud akan lahir. Dari garis keturunan Daud, Yesus lahir. Ia belum mengerti semuanya itu. Di manapun kita hidup, kita harus menampakkan diri sebagai anak Tuhan yang menang pertama-tama dengan mengalahkan semua masalah dalam diri kita secara iman. Kalau tidak, kehadiran kita akan menjadi sumber masalah.

 

3) Mengapa Naomi salah membaca masa lalunya – penderitaannya?

 

Ia kehilangan suami dan anak-anaknya dan ia salah membaca masa lalunya. Apakah Naomi tidak mengerti tentang masalah kejahatan (problem of evil) dan tidak mengerti tentang iman yang berkemenangan serta kedaulatan Allah di atas kedaulatan manusia? Mungkin saja Naomi memang tidak mengerti semua itu. kesejatian orang Kristen bisa dilihat ketika konsep pandangnya berubah misalnya tentang uang, kesenangan, materi, dan penderitaan. Membuat perubahan fisik itu mudah namun perubahan konsep pandang itu sulit dan perlu diuji. Salah satu ujiannya adalah kesulitan. Di dalam bagian yang kita bahas, Naomi sedang diuji imannya dan konsep pandangnya. Kita menemukan bahwa Naomi salah menangkap rancangan Tuhan dan salah menangkap nilai kedaulatan Tuhan. Naomi memosisikan dirinya sebagai orang miskin (tangan kosong). Ia ingin dipanggil sebagai Mara. Ia berkata Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong TUHAN memulangkan aku (ayat 21). Berikutnya, kita melihat Naomi menyalahkan Tuhan. Di sini kita melihat bahwa masalah terdalamnya adalah iman. Cara pandang Naomi terhadap kesulitan mirip seperti cara pandang istri Ayub. Ketika Ayub kehilangan harta dan anak-anaknya, ia masih mau tekun dan taat beribadah kepada Tuhan. Namun istrinya marah dan menyuruh Ayub mengutuk Tuhan. Ayub menentang hal itu dan menyatakan kalimat iman Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? (Ayub 2:10). Sebelumnya ia juga mengakui kedaulatan Allah dan rancangan-Nya Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN! (Ayub 1:21). Istri Ayub berpikir bahwa kalau mengikut Tuhan pasti ia akan selalu mendapatkan hal-hal yang ia sukai. Ia berpikir bahwa kalau Tuhan memberikan kesulitan, maka Tuhan pantas dihujat. Ini adalah konsep teologi sukses. Apakah ini kelemahan setiap wanita? Tidak. Ketika kesulitan itu tiba, iman dan cara pandang kita diuji.

 

Pada puncaknya, Naomi merasa dirinya sudah menjadi korban (victim) dan menamakan dirinya Mara (ayat 13 dan 20). Seharusnya Naomi melakukan evaluasi diri dan retret secara pribadi. Ia seharusnya belajar dari Yusuf yang menangkap visi Tuhan di dalam kesulitan. Kita sangat mudah menangkap visi dalam kesuksesan dan kelancaran, namun kita sangat sulit menangkap visi Tuhan dalam kesulitan. Di sana kita membutuhkan seni untuk mengerti pimpinan Tuhan. Yusuf bisa menangkap visi Tuhan ketika ia dipisahkan dari ayahnya dan adiknya, ketika ia dijual sebagai budak, ketika ia bekerja sebagai pembantu, ketika ia dipenjara, dan ketika ia bekerja di penjara. Di balik setiap kesulitan Yusuf mencoba menangkap visi Tuhan. Kepekaan Yusuf menyatakan bahwa imannya melampaui setiap penderitaan dan kesulitan yang dialaminya. Naomi tidak memiliki iman yang seperti ini. Naomi tidak menangkap visi Tuhan di tengah kesulitannya. Namun sekarang Naomi pasti bersukacita di surga karena ia sudah mengerti dan mengalami rencana indah Tuhan. Ketika pulang ke Betlehem, Naomi menunjukkan ciri-ciri orang yang sedang mengalami depresi. Ia menyalahkan semua hal yang berada di luar dirinya dan ia merasa dirinya paling menderita. Ia menyalahkan Tuhan dan merasa dirinya adalah korban. Depresi yang menghadapinya begitu kuat. Ini karena ia sangat ingin memiliki Elimelekh dan anak-anaknya melebihi waktu Tuhan. Saat orang yang kita kasih dipanggil oleh Tuhan, kita bisa merasa diri telah menjadi korban dan sulit menerima situasi itu. Kita bisa mengerti mengapa Tuhan meminta Abraham mempersembahkan Ishak. Allah kita adalah Allah yang cemburu. Allah memiliki keadilan dan kasih. Ketika kita mengasihi Tuhan, kasih kita kepada Tuhan harus melebihi kasih kita kepada yang selain Tuhan. Tuhan telah memberikan Ishak dan ternyata Abraham mengasihi Ishak melebihi Tuhan. Cara Tuhan untuk menunjukkan keadilan-Nya adalah dengan menguji iman Abraham melalui perintah untuk mempersembahkan Ishak. Di sana Abraham berhasil menangkap visi Tuhan. Ia tidak mempertanyakan Tuhan tetapi langsung taat. Abraham telah menangkap visi Tuhan di masa sulit sehingga kemenangan imannya nyata. Ketika ia akan membunuh Ishak, malaikat menahan tangan Abraham dan Tuhan menyediakan korban pengganti untuk anaknya.

 

Jika kita membiarkan masalah jiwa membesar bahkan melebihi rasio dan iman kita, maka kita akan menjadi seperti Naomi dan istri Ayub yang menyalahkan Tuhan dan tidak bersyukur. Seharusnya Naomi melakukan evaluasi diri dan bersyukur atas segala rencana Tuhan. Naomi seharusnya sinkron dengan kehendak Tuhan dan menundukkan dirinya di bawah kedaulatan Tuhan. Kedaulatan Tuhan itu suci, sempurna, kekal, dan tidak mungkin salah. Kedaulatan manusia itu terbatas, bisa mengandung dosa, bisa gagal, dan tidak sempurna. Apa yang kita inginkan belum tentu juga diinginkan oleh Tuhan. Di sini kita melihat bahwa Naomi adalah istri yang sangat menyayangi suami dan anak-anaknya. Ketika dukacita datang satu per satu, benteng iman dan kekuatan jiwanya hancur serta mentalnya menjadi rapuh. Ketika ditanya “Naomikah itu?” seharusnya Naomi cukup menjawab “ya, benar”. Namun ternyata ia mencurahkan isi hatinya Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku (ayat 20). Para perempuan itu sudah lama tidak bertemu dengan Naomi dan ketika bertemu lagi dengannya, Naomi menyatakan kepahitannya. Di balik curahan hatinya, ia sedang meminta belas kasihan dan sedang meminta untuk dimengerti. Ketika kita sedang mengalami kesulitan, kita tidak perlu berkoar-koar tentang kesulitan kita. Itu adalah tanda bahwa kita ini kuat. Ketika orang-orang bertanya tentang alasan kesuksesan kita, kita cukup menjawab dengan anugerah Tuhan. Di sini Naomi sedang menyombongkan penderitaannya. Seandainya Elimelekh yang pulang, maka ia bisa pulang dengan sombong sambil menutupi kegagalannya. Inilah laki-laki yang menyimpan gengsi. Para perempuan yang mendengar Naomi pasti kaget. Jadi sungguh jelas bahwa Naomi sedang mengalami depresi walaupun iman memimpin dia sebanyak 15-20%. Semua ini terjadi dalam kedaulatan Tuhan. Setiap kali kita mengalami penderitaan, jangan sampai kita melihat bahwa semua itu melebihi kekuatan iman kita. Tuhan mengizinkan semua itu agar iman kita diuji.

 

4) Benarkah Allah adalah sumber malapetaka dari Naomi dan Rut?

 

Allah pasti bukan sumber malapetaka mereka. Pertama, Allah itu berdaulat utk seluruh alam ciptaan-Nya, untuk mencapai tujuan-Nya. Teologi Reformed selalu melihat waktu secara linear di mana ada titik Alfa dan titik Omega serta ada kairos dan kronos. Kairos adalah waktu kekal Tuhan yang bisa masuk ke dalam kronos. Kronos adalah waktu di mana kita hidup dan pada akhirnya manusia akan masuk ke dalam penghakiman. Allah itu berdaulat dan melampaui segala pikiran manusia. Ia bisa memakai apapun juga sehingga tujuan dan penggenapan keselamatan-Nya bisa terjadi. Naomi tidak sadar bahwa melalui Rut, Daud akan lahir. Dari Daud akan lahir Sang Mesias. Allah itu berdaulat, oleh karena itu kasih kita kepada Tuhan harus melebihi kasih kita terhadap yang lainnya. Kasih kita kepada Tuhan harus melebihi kasih kita kepada sesama. Jadi ada kasih dan keadilan dalam keseimbangan. Keseimbangan itu indah. Kita boleh banyak makan namun harus seimbang dengan banyak olahraga. Ketidakseimbangan dalam hal ini akan membuat kita sakit. Dalam hal rohani pun ada keseimbangan. Keadilan dan kasih itu bertemu dalam salib. Di dalam keadilan-Nya, Allah mau menghukum manusia berdosa. Namun Allah dalam kasih-Nya mau mengutus anak-Nya yang tunggal untuk mati di atas kayu salib sehingga murka Allah diredam. Di sana ada propisiasi. Di dalam titik itu selalu ada keadilan dan kasih. Kita melihat keseimbangan dalam kacamata Tuhan ketika realitas yang baik maupun buruk itu terjadi pada kita. Iman memimpin kita dalam hal ini. Kita membutuhkan keseimbangan juga dalam hal pekerjaan dan istirahat serta pelayanan dan retret. Kita harus menemukan titik ini dalam Tuhan supaya iman kita terus dikuatkan.

 

Kedua, kita percaya bahwa Allah tidak mencobai manusia untuk jatuh dalam dosa (Kejadian 50:20, Yakobus 1:13). Daniel dan kawan-kawannya harus terpisah dari keluarga mereka dan dilatih untuk melayani Nebukadnezar. Secara lokasi mereka boleh terpisah dari kampung halaman mereka, namun mereka tetap memegang identitas iman mereka. Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya melalui Daniel dan teman-temannya. Demikian pula Yusuf. Yusuf pasti bersedih ketika ia harus berpisah dengan ayah dan adiknya. Ia biasanya dimanja di rumah, namun ketika ia menjadi budak, ia harus bekerja keras. Ini pasti sulit bagi Yusuf. Namun kita melihat bahwa Yusuf pada akhirnya tidak menyalahkan kakak-kakaknya. Ketika Yakub sudah meninggal, kakak-kakaknya ketakutan dan memohon belas kasihan dari Yusuf. Yusuf menjawab mereka dengan kalimat iman Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar (Kejadian 50:20). Yusuf menerima semua keadaan sulit itu dengan iman. Ia berhasil menangkap visi dan kedaulatan Tuhan. Jadi Yusuf tidak ada dendam sama sekali terhadap kakak-kakaknya. Yusuf hanyalah manusia biasa, bukan malaikat, namun pengenalannya akan Allah itu tuntas. Ia mengenal Allah sebagai gembala hidupnya secara tuntas. Iman itu dibutuhkan dalam mengerti visi Tuhan di saat sulit. Tuhan mengizinkan kesulitan itu terjadi dalam hidup kita untuk mematangkan iman kita. Dalam Yakobus 1:13 jelas dinyatakan bahwa Tuhan tidak mencobai siapapun. Tuhan memberikan ujian iman, namun pencobaan itu datang dari Setan. Setan harus mendapatkan izin Tuhan ketika ia ingin mencobai Ayub. Tuhan tahu yang terbaik dalam hal bagaimana Ia bisa memelihara anak-anak-Nya.

 

Di sini kita mengerti bahwa teologi Naomi itu salah dalam mengerti setiap dukacita yang terjadi dalam hidupnya. Teologi Naomi salah ketika ia berpikir bahwa krisis ekonomi itu bersumber dari Tuhan. Yakobus menyatakan bahwa yang membuat kita berdosa adalah keinginan yang tidak suci. Mungkin Naomi memiliki keinginan seperti itu. ia mungkin menginginkan semuanya secara ideal menurut standarnya sendiri, namun itu bukan rencana Tuhan. Kita bisa memiliki keinginan yang belum selaras dengan keinginan Tuhan. Terkadang pengharapan kita tidak seperti apa yang Tuhan rencanakan. Dalam buku “Apa yang Anda Harapkan?”, Paul David Tripp menjelaskan tentang masalah keluarga di mana suami dan istri belum sinkron dalam pengharapan masing-masing. Seringkali harapan suami untuk istri dan anak itu tidak sinkron dengan harapan istri untuk suami dan anak. Hal ini bisa menimbulkan banyak konflik sehingga keluarga tidak bersatu. Buku itu mengajarkan kita untuk menyucikan pengharapan kita berdasarkan iman dan karakter yang benar. Harapan kita untuk keluarga kita harus selaras dengan keinginan Tuhan. Di sana kita baru bisa mengerti indahnya program Tuhan atas hidup kita. Damai Tuhan itu indah ketika kita bisa mengerti visi Tuhan di dalam masa-masa sulit.

 

Pada akhirnya Tuhan mengizinkan Naomi dan Rut tiba di Betlehem. Saat itu adalah masa panen gandum. Naomi nantinya akan mengerti bahwa pimpinan Tuhan itu tidak pernah mengecewakan dan membuat pahit ketika ia melihat apa yang terjadi pada Rut. Kitab yang kita kutip ini bukan dinamakan kitab Naomi atau kitab Boas tetapi kitab Rut. Ini karena iman Rut-lah yang luar biasa. Naomi juga adalah mertua yang luar biasa. Jadi kita harus belajar dari mereka untuk bisa mengerti pimpinan Tuhan di masa-masa sulit. Kita harus belajar berdiam dan tidak langsung meluapkan emosi yang tidak suci ketika kesulitan itu datang. Semua harus dikaitkan dengan ketaatan. Ketika melewati semua itu, kita harus beriman bahwa Tuhan tidak mungkin meninggalkan kita. Tuhan adalah Gembala Agung kita. Dari Mazmur 23 kita belajar bahwa Tuhan tidak mungkin mengecewakan kita. Tuhan selalu beserta dengan kita bahkan dalam bayang-bayang maut sekalipun. Ketika kita mengerti dan mengakui bahwa Allah adalah pencipta dan kita adalah ciptaan, bahwa kedaulatan Allah itu sempurna dan kedaulatan kita itu terbatas, dan bahwa apa yang Allah pikirkan itu melampaui segala sesuatu, di saat itu kita akan mengerti bahwa pimpinan Tuhan itu melampaui zaman. Inilah yang Naomi tidak mengerti yaitu bahwa melalui Rut, Daud akan lahir dan bahwa melalui Daud, Mesias itu lahir. Inilah visi yang harus ditangkap Naomi secara jangka panjang. Kita harus bisa mengalahkan dan meredam emosi-emosi kita yang tidak suci di tengah situasi-situasi yang sulit dan melihat kasih Tuhan. Di saat itu kita harus bisa menyatakan kemenangan iman kita. Setiap dari kita pasti pernah mengalami masalah. Kita harus bisa membedakan mana masalah yang penting dan yang tidak penting. Semuanya harus kita nilai dengan tepat dalam kacamata Tuhan. Kita dipanggil bukan untuk menjadi pembuat masalah tetapi penyelesai masalah. Waktu kita menyelesaikan masalah di dalam dan di luar diri kita, orang-orang bisa melihat Tuhan melalui kita.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami