Mengenal Pimpinan Tuhan di saat Sulit

Mengenal Pimpinan Tuhan di saat Sulit

Categories:

Bacaan alkitab: Rut 1:1-18 dan Roma 10:17.

 

1) Pendahuluan

 

Naomi mendapatkan penderitaan yang bertubi-tubi mendengar bahwa di Yerusalem umat Tuhan mendapatkan kesejahteraan dan penyertaan Tuhan. Oleh karena itu ia memutuskan untuk pulang ke tanah Yehuda yaitu di Efrata. Pernahkah anda mengalami penderitaan hidup atau penderitaan karena salib (penginjilan, perkataan jujur, dan lainnya)? Penderitaan adalah alat Tuhan untuk memurnikan kita. Penderitaan dan kesulitan itu dipakai Tuhan untuk membentuk iman kita. Seseorang yang belum pernah mengalami penderitaan sebenarnya tidak akan menghargai hidup. Orang yang pernah menderita karena ingin menjadi berkat bagi orang lain pada akhirnya akan menghargai hidup. Hidupnya menghasilkan mutiara iman dan tetesan embun yang bisa dirasakan oleh orang lain. Hidupnya itu menjadi madu yang manis bagi orang lain. Banyak orang menjadi berkat seperti ini karena mereka berjalan melalui penderitaan bersama dengan Tuhan. Tuhan bisa membentuk melalui peristiwa yang sangat sulit yaitu melalui dukacita sampai akhirnya Rut dan Naomi bisa melihat pimpinan Tuhan yang begitu indah untuk masa depan mereka semua.

 

Pernakah penderitaan itu mengalahkan pengharapan dan masa depan kita? Apakah iman kita bercahaya dalam kesulitan hidup atau sebaliknya kita malah merusak diri dan hal-hal di sekitar kita di saat sulit? Mengapa ada orang Kristen yang kalah oleh penderitaan, pergumulan, dan kesulitan? Mungkinkah orang itu tidak memiliki iman? Jika ia memiliki iman, maka mengapa iman itu tidak mengalahkan penderitaan dan kesulitan itu? Para murid Tuhan ketika berada di atas perahu diombang-ambingkan oleh angin sakal (Matius 14:24). Mereka tidak berdoa dan bernyanyi tetapi berusaha memakai kekuatan dan pengalaman sendiri dalam menghadapi angin sakal itu. Pertolongan Tuhan datang tepat pada waktunya. Ketika Tuhan datang, mereka tidak peka bahwa itu Tuhan. Mereka mencurigai kedatangan-Nya. Petrus kemudian berkata “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air” (ayat 28). Petrus mempertanyakan Tuhan dan ia mencari pembuktian. Bukankah ini hal yang kurang ajar? Tuhan bisa saja menolak permintaan Petrus. Namun saat itu Tuhan menuruti permintaan Petrus. Pada mulanya Petrus bisa berjalan di atas air karena mukjizat Tuhan. Namun ketika ia merasakan tiupan angin, ia ketakutan dan mulai tenggelam. Tangan Tuhan memegangnya sehingga ia tidak tenggelam. Tuhan bisa saja membuat kapal para murid tenggelam lalu menolong mereka. Mengapa Tuhan tidak memakai cara ini? Karena pertolongan Tuhan selalu datang tepat pada waktunya. Di sini kita belajar bahwa jika pencobaan itu datang dari Setan, maka tujuannya adalah untuk menggagalkan iman kita. Jikalau ujian itu datang dari Tuhan, maka iman dan karakter kita sedang dimurnikan.

 

Bagaimana seharusnya sikap orang Kristen dalam menghadapi penderitaan hidup baik secara fisik (sakit penyakit) maupun perasaan, dan batin? Sebagai orang Kristen kita bisa mengalami pengucilan karena ingin mendemonstrasikan iman kita. Yusuf, Daniel, dan kawan-kawannya mengalami hal ini. Mereka semua menyikapi dengan iman. Mereka berjalan dalam iman dan mendapatkan kemenangan iman.

Bagaimana mengenal pimpinan Tuhan di saat sulit? Semua harus bisa kita mengerti dalam nilai kesucian dan pembaruan. Kita harus menilai perintah Tuhan lebih penting daripada emosi kita misalnya kemarahan dan kekecewaan kita.

 

2) Pengharapan yang Tidak Sesuai dengan Realitas

 

            Mengapa Elimelekh, Mahlon, Kilyon, dan Naomi pergi ke Moab? Mereka mendengar situasi di Moab itu lebih baik. Di Efrata hidup begitu sulit karena paceklik. Mereka akhirnya pergi ke Moab dan tinggal sebagai orang asing karena mengharapkan hidup yang lebih sejahtera. Manusia bisa merencanakan hidupnya namun kehendak Tuhan yang jadi. Ternyata apa yang diharapkan Elimelekh itu tidak sesuai dengan realitas. Ia meninggal di Moab dan pasti Naomi berduka. Tidak lama kemudian Mahlon dan Kilyon juga meninggal. Di sini Naomi merasakan penderitaan yang begitu besar. Setelah 10 tahun tinggal di Moab, ia harus mengantar jenazah suami dan anak-anaknya di Moab. Ini pasti membuatnya bertanya kepada Tuhan. Kedua menantunya adalah Orpa dan Rut. Naomi mengalami penderitaan fisik, pikiran, emosi, dan batin yang begitu berat. Selain menjadi seorang janda, ia juga mengalami beban sebagai seorang ibu bagi Orpa dan Rut. Menurut hukum Yahudi, Rut harus tetap menopang kedua menantunya. Ketiga orang itu bersikap dengan benar dalam menanggapi semua penderitaan itu bersama dengan Tuhan. Rancangan Tuhan bagi anak-anak-Nya bukanlah kecelakaan, kehancuran, atau hidup yang memalukan nama Tuhan. Melalui penderitaan seperti itulah iman dan identitas Kristen kita diuji dan karakter kita dibentuk.

 

3) Membaca Situasi di saat Sulit

 

Ada beberapa sikap kita ketika menghadapi kesulitan? Pertama, manusia di dalam penderitaan hidup bisa menangisi nasib dengan apatis-emosi. Apa artinya apatis? Ia berserah seperti karena kalah oleh hukum alam dan situasi tantangan serta pergumulan. Orang itu hanya terus menangis. Ia tidak memikirkan sesuatu yang melebihi situasi itu. Jadi kedukaannya berlarut-larut. Ia tidak melihat dengan iman tetapi hanya dengan emosi. Ada pria yang begitu hancur hatinya ketika mendengar mantan pacarnya mendapatkan pacar baru dan menikah. Ia tidak mau tidur di kamar dan memilih untuk tidur di gudang. Ia tidak bisa melupakan kesedihannya selama setahun. Ia sampai pergi ke psikiater, minum obat, dan dibimbing melalui konseling. Orang tuanya mengizinkannya tidak bekerja selama setahun agar fokus pada pemulihan. Ini semua terjadi karena patah hati. Orang itu tidak belajar dari kesedihan itu dan tidak memikirkan masa depannya. Pengharapannya pada mantan pacarnya itu terlalu besar. Ia tidak membaca situasi ini dengan iman dan tidak berani membuka lembaran yang baru. Menghadapi penderitaan dengan apatis atau emosi tidak akan memberikan jalan keluar. Itu hanyalah penyiksaan diri tanpa makna. Kita tidak boleh menghadapi penderitaan hidup dengan apatis atau emosi.

 

            Kedua, Ada orang-orang yang menghadapi penderitaan hidup dengan optimis. Jadi sikap ini adalah kebalikan dari yang sebelumnya. Mereka tidak meneteskan air mata dan terlihat selalu tegar karena mereka begitu optimis. Ketika sahabatnya meninggal pun ia tidak menangis tetapi optimis bahwa ia akan mendapatkan sahabat yang baru. Ini adalah respons yang salah. Bolehkah orang Kristen bersedih dan menangis? Yesus pernah menangis. Ketika Ia melihat Maria, Marta, dan orang-orang Yahudi yang tidak percaya pada kuasa-Nya untuk membangkitkan orang mati, Yesus menangis (Yohanes 11:35). Namun air mata Yesus bukanlah air mata murahan atau dibuat-buat. Ketika mereka sampai pada kuburan Lazarus, kuburan itu dibuka dan Tuhan Yesus memerintahkan Lazarus untuk pergi keluar dari kuburannya. Di sana mukjizat terjadi. Lazarus hidup kembali dan tidak ada tanda-tanda pembusukan. Kita boleh menangis namun tetap dalam penguasaan diri. Ada orang yang begitu optimis sampai tidak mau meneteskan air mata karena dari sejak kecilnya tidak diajarkan untuk berempati dan bersimpati. Jadi kita sebagai orang tua harus mengajarkan anak emosi yang benar.

 

            Ketiga, ada orang yang menanggapi penderitaan dengan rasio. Orang ini melakukan kajian, analisa, dan evaluasi ketika penderitaan itu datang. Naomi pasti memikirkan mengapa suami dan anak-anaknya meninggal. Kita boleh memakai rasio namun itu bukan alat yang satu-satunya dan mutlak untuk mengerti pimpinan Tuhan. Rasio kita sudah jatuh ke dalam dosa, jadi jika kita menilai hanya dengan rasio maka kita bisa salah.

 

Bagaimana kita membaca penderitaan kita? Kita harus menggunakan iman dan rasio. Naomi yang harus menjadi pemimpin atas Orpa dan Rut mendengar bahwa Tuhan memberikan kesejahteraan bagi kampung halamannya. Maka dari itu ia meninggalkan Moab dan kembali ke Yehuda. Di sini imannya bertumbuh karena mendengar Firman Tuhan.

 

4) Mengenal Pimpinan Tuhan di saat Sulit

 

Ketika Naomi akan pergi, ia berbicara kepada kedua menantunya. Naomi tidak langsung membuat keputusan untuk pergi dalam emosi yang tidak suci. Ada waktu di mana Naomi berdiam sampai ia memutuskan untuk pergi. Suami dan anak-anaknya meninggal, namun itu tidak membuatnya menjadi gila atau kehilangan iman. Ia tetap percaya kepada Tuhan. Jadi tugas kita yang terpenting ketika Tuhan mengizinkan penderitaan dan kesulitan hidup adalah berdiam untuk masuk dalam pergumulan iman. Semuanya harus kita bisa lihat dalam kacamata Tuhan. Manusia bisa merancang namun Tuhan yang menentukan (Amsal 16:9). Di dalam pergumulan iman itu kita mencoba untuk mengerti maksud Tuhan dan mengerti apa yang Tuhan mau dari diri kita. Melalui pergumulan iman itu kita harus membangun satu pengharapan yang baru. Di tengah jalan, Naomi menyuruh kedua menantunya pulang agar mereka bisa membangun pengharapan yang baru di Moab. Kedua menantunya menangis dan tidak mau pergi. Ternyata hubungan mereka begitu dekat. Naomi adalah mertua yang baik. Ia memikirkan masa depan kedua menantunya. Menantu yang membenci mertuanya tidak mungkin menangis seperti ini. Jadi Naomi telah menjadi teladan yang baik. Pada akhirnya Orpa pergi meninggalkannya dengan air mata namun Rut tetap mengikuti Naomi. Rut berkata “bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!” (Rut 1:16-17). Ini adalah kesaksian yang luar biasa. Rut mendemonstrasikan dirinya dengan perkataan iman. Ia percaya bahwa pengharapannya yang baru ada di Efrata. Jadi ia membaca dengan iman. Rut tidak hanya taat kepada mertua tetapi juga melihat pengharapan yang dimiliki Naomi. Naomi telah menjadi teladan iman bagi Rut sampai ia percaya. Mungkin sebelumnya suami Rut meninggal, ia telah menjadi suami yang baik. Mungkin suaminya mengajarkan hal-hal yang baik dan mengajarkan tentang Tuhan kepada Rut. Perkataan Rut mencerminkan bahwa ia berani mengambil langkah iman. Rut tidak tahu apakah di Efrata ia akan diterima atau apakah ia akan menikah lagi. Ia tidak tahu namun ia melangkah dengan iman.

 

Lembaran yang baru ini membuat Rut dan Naomi optimis untuk pulang ke Yerusalem. Lembaran baru itu mengingatkan kita bahwa berkat Tuhan itu selalu baru bagi kita (Ratapan 3:22-23). Kita bisa merasakan berkat Tuhan yang baru itu jika kita memiliki hati yang baru yaitu hati yang penuh dengan syukur dan terus percaya kepada Tuhan. Jadi di dalam setiap pergumulan dan penderitaan hidup, kita harus tetap percaya. Jikalau ujian itu datang dari Tuhan, maka itu berarti Tuhan ingin kita melangkah lebih maju lagi. Jikalau pencobaan itu datang dari Setan, maka Tuhan ingin melihat kualitas kemenangan iman kita. Di sini kita percaya Roma 8:28. Di dalam segala sesuatu yang terjadi, Tuhan turut bekerja. Jikalau kita sudah ditebus oleh Tuhan Yesus Kristus dan kita sudah percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Gembala Agung kita, maka di dalam situasi apapun juga Ia tidak akan membiarkan dan meninggalkan kita. Segala sesuatu yang terjadi adalah untuk kebaikan kita yang mengasihi Tuhan. Kita bisa dengan mudah mengasihi Tuhan dalam situasi yang lancar. Namun ketika situasi itu buruk, kita akan sulit mengasihi Tuhan. Sebaliknya di dalam situasi sulit itu kita bisa mengasihi diri sampai kita tenggelam dalam masalah dan mempertanyakan Tuhan. Namun kita harus mengingat Roma 8:28. Allah turut bekerja dalam segala hal untuk kebaikan kita yang mengasihi Dia. Jadi di dalam setiap masalah kita harus semakin banyak berdoa dan melayani Tuhan. Ketika kita mundur iman di tengah kesulitan, Setan dan dunia menjadi senang namun Tuhan menjadi sedih karena iman tidak mengalahkan semua kesulitan itu. Kita bisa mengaku Kristen namun terkadang identitas kita tidak bercahaya di dalam kesulitan karena kita tidak mengandalkan Tuhan. Naomi dan Rut tidak seperti itu. Mereka berpadu dalam iman. Mereka percaya bahwa Tuhan membangun pengharapan yang baru di Yerusalem. Saat itu tidak ada alat komunikasi secanggih hari ini, maka dari itu tidak ada seorangpun yang mengerti situasi Naomi dan Rut. Ketika ia pulang ke Yerusalem, ia tidak bisa mengabari siapapun. Ia sendirian namun ia percaya kepada Tuhan. Ia tidak tahu bahwa Boas saat itu masih belum menikah dan telah menjadi orang kaya. Rut juga tidak tahu dari siapa ia mengambil gandum. Namun Tuhan memimpin mereka ke sana. Di sana ada iman dari Rut dan Naomi. Rut melangkah dengan iman.

 

5) Sikap Iman: Kemenangan Iman

 

Di sini kita bisa belajar bahwa sikap iman menentukan kemenangan iman atas pergumulan, kesulitan, dan tantangan. Jika sikap iman Naomi salah, maka ia akan menyalahkan Tuhan, Orpa, dan Rut atas kematian suami dan anak-anaknya. Ia tidak akan menyelesaikan masalah tetapi akan menambah masalah. Alkitab tidak menyatakan apa penyebab kematian suami dan anak-anak Naomi. Jika Naomi hanya memakai emosi, maka ia akan menyalahkan kedua menantuanya. Namun Naomi melihat kepada Tuhan dengan sikap iman yang benar. Ketika ia mendengar tentang penyertaan Tuhan di Yerusalem, ia pulang dan mengajak kedua menantunya karena ia merasa bertanggung jawab sebagai mertua. Rut mengikuti Naomi karena ia sadar akan tanggung jawabnya dalam mendampingi mertuanya. Jadi Rut memiliki full heart dan full commitment. Dia adalah contoh menantu yang baik. Sikap imannya memberikan kemenangan iman. Di dalam iman ada muatan pengharapan. Jadi orang yang beriman memiliki jalan pengharapan di dalam Tuhan. Ibrani 11:1 menyatakan kaitan iman dengan pengharapan, bukti, dan proses atau perjuangan. Kita mendapatkan kepastian karena iman. 1 Petrus 1:3-7 menyatakan bahwa kuasa Allah bisa menjaga kita sebagai orang yang sudah ditebus oleh Tuhan. Iman kita dijaga oleh Tuhan karena Tuhan sudah mempersiapkan warisan di surga bagi kita. Kita tidak akan dibiarkan tercemar, jatuh tergeletak, dan mempermalukan Tuhan karena Tuhan adalah Gembala Agung kita. Surat 1 Petrus dituliskan dengan maksud agar orang Kristen menang atas penderitaan karena salib. 1 Yohanes 5:4 menyatakan bahwa iman itu mengalahkan segala penderitaan dan kesulitan serta godaan dunia. Jadi iman itu begitu penting dan harus nyata serta terpancar dalam hidup kita ketika kita menghadapi penderitaan. Di dalam janji pernikahan terkandung full heart dan full commitment dalam situasi suka maupun duka. Jadi cinta itu harus melampaui kondisi. Cinta itu bersifat total seperti tanpa syarat. Seperti yang dinyatakan oleh Rut kepada Naomi, ia tidak membiarkan mereka dipisahkan kecuali oleh maut.

            Di sini kita belajar untuk tidak takut terhadap kesulitan hidup. Sikap iman yang benar itu mengalahkan ketakutan kita. Jika kesulitan maupun kelancaran membuat kita jatuh, maka itu membuktikan bahwa kita belum memiliki iman yang benar. Di sini kita mengingat untuk terus bergantung pada Tuhan dan terus hidup bagi Tuhan. Kita percaya bahwa Allah tidak pernah membiarkan dan meninggalkan kita (Yosua 1:5). Dengan bergantung kepada Allah kita berkomitmen untuk terus menjadi garam dan terang di dunia ini.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami