Mengasihi karena Diampuni

Mengasihi karena Diampuni

Categories:

Khotbah Minggu 17 November 2019 (Kebaktian Umum 2)

Vik. Tommy Suryadi, M.Th.

 

 

            Kita akan membahas tema ‘Mengasihi karena Diampuni’. Pembahasan kita dimabil dari Lukas 7:36-50. Injil Lukas memiliki suatu ciri yang berbeda dengan kitab-kitab Injil lainnya. Setiap kitab Injil memiliki poin utamanya masing-masing. Dalam Injil Lukas, salah satu hal yang ditekankan adalah tentang berdoa. Injil Lukas-lah, dibanding kitab-kitab Injil yang lain, yang paling banyak berbicara mengenai kegiatan doa Yesus. Injil Lukas juga memerhatikan kaum marginal yang salah satunya adalah kaum wanita. Di dalam budaya Yahudi, wanita pada umumnya kurang dianggap dan seperti tidak ada posisi dalam komunitas. Namun Injil Lukas menyatakan bagaimana Yesus peduli terhadap kaum wanita dan menunjukkan bahwa kaum wanita itu juga melayani Yesus. Jadi kaum marginal dijangkau oleh Yesus. Injil Lukas menekankan bahwa Yesus peduli terhadap kaum marginal. Namun Injil Lukas juga menyatakan bahwa Yesus juga menjangkau orang-orang yang memiliki jabatan atau posisi di masyarakat. Jadi kita tidak menganut pandangan yang ekstrem: hanya mau menjangkau kaum marginal atau hanya mau menjangkau orang-orang kalangan menengah ke atas. Kita tidak diajarkan untuk membenci orang kaya ketika kita sedang mengasihi orang miskin. Yesus menjangkau kedua kelompok itu dalam kasih-Nya.

 

            Dalam bagian yang kita baca, Yesus diundang oleh seorang Farisi untuk makan di rumahnya. Orang Farisi adalah orang yang terpandang di masyarakat Yahudi pada saat itu. orang-orang mendengarkan pengajaran orang Farisi. Ketika orang Farisi ini mengundang Yesus, Yesus mau datang ke rumahnya. Jadi Yesus tidak hanya peduli pada kaum marginal. Dalam Kisah Para Rasul kita bisa melihat bahwa para rasul menjangkau kaum sosial-ekonomi bawah dan juga kaum sosial-ekonomi atas seperti Kornelius dan lainnya. Jadi Injil itu harus diberitakan ke segala kalangan. Maka dari itu sebagai orang Kristen kita tidak boleh mendiskriminasi target penginjilan kita. Injil itu adalah untuk semua orang. Ketika orang Farisi itu mau mengundang Yesus, itu berarti orang Farisi tersebut menghormati Yesus dan menganggap Yesus memiliki posisi yang baik di masyarakat. Di dalam pertemuan makan itu ada tamu-tamu yang lain. Mereka pasti adalah orang-orang yang juga terpandang karena orang Farisi memiliki status sosial yang cukup tinggi. Jadi di dalam rumah itu ada kumpulan orang-orang elite. Jadi Yesus dihargai sebagai salah seorang dari kalangan elite itu. mereka makan bersama. Kegiatan makan bersama itu menunjukkan identitas orang yang makan di sana. Ini karena pergaulan dianggap menentukan identitas seseorang. Kegiatan makan bersama itu mencerminkan pergaulan yang erat di masa itu. Jadi makan bersama itu bukanlah kegiatan sembarangan. Namun di Indonesia kita tidak selalu menganut pengertian ini. Terkadang di restoran yang hampir penuh, orang-orang yang tidak saling mengenal bisa makan di satu meja yang sama karena tidak ada lagi tempat yang lain. Jadi mereka bisa makan bersama tanpa ada pergaulan apapun sehingga kegiatan makan bersama itu bisa tidak memberikan arti apa-apa bagi identitas mereka. Namun di dalam budaya Yahudi, kegiatan makan bersama itu memiliki arti. Di rumah orang Farisi itu hanya kumpulan orang elite yang bisa duduk dan makan bersama.

 

            Pada ayat selanjutnya dinyatakan bahwa ada seorang perempuan yang terkenal sebagai perempuan berdosa. Perempuan itu mendengar bahwa Yesus ada di rumah orang Farisi itu sehingga kemudian ia mempersiapkan segala sesuatu dan pergi ke sana untuk menemui Yesus. Kata ‘terkenal’ tidak ada dalam bahasa aslinya yaitu Yunani. Dalam bahasa Yunani, hanya ada kalimat (terjemahan bebas) ‘seorang perempuan yang adalah seorang pendosa’. Kendati demikian, dari beberapa ayat selanjutnya kita bisa mengetahui bahwa perempuan itu memang sudah dikenal sebagai perempuan berdosa. Mungkin itu mengapa LAI menambahkan kata ‘terkenal’. Kita bisa membayangkan bahwa di rumah orang Farisi itu, di mana orang-orang elite berkumpul, tiba-tiba dimasuki seorang perempuan yang dikenal sebagai pendosa. Ini merupakan situasi yang begitu tidak enak bagi tuan rumah. Ada seorang perempuan berdosa yang tidak diundang yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah tempat orang-orang elite tersebut berkumpul. Perempuan ini tampaknya begitu keterlaluan dan begitu kurang ajar. Namun ia berani datang karena mendengar Yesus ada di sana. Perempuan ini bukan berpikir dalam kriteria malu atau tidak malu tetapi ia mengerti bahwa ia harus mencari Yesus. Ia memiliki tekad yang kuat dan tidak khawatir akan risiko yang harus ia dihadapi. Ada kemungkinan yang cukup besar bahwa perempuan tersebut akan semakin dikucilkan setelah masuk ke dalam rumah orang Farisi itu. Perempuan tersebut tentu akan semakin dipandang negatif karena perbuatan berani yang dilakukannya. Namun ia tetap berpikir harus mencari Yesus. Bagi perempuan itu, harga yang harus dibayar untuk bertemu Yesus tidaklah terlalu tinggi. Apakah kita mencari Yesus seperti perempuan ini? Apakah kita berpikir bahwa harga yang harus dibayar untuk bertemu Yesus itu terlalu tinggi bagi kita? Apakah ego kita terlalu tinggi sehingga itu membuat kita tidak mau mencari Yesus? Apakah Yesus segala-galanya bagi kita sehingga kita rela mengorbankan segala sesuatu demi Dia?

 

            Mengapa perempuan itu bisa memiliki hasrat sebesar itu untuk menemui Yesus? Pertama-tama kita melihat terlebih dahulu apa yang perempuan itu lakukan bagi Yesus. Dikatakan bahwa perempuan tersebut berada di belakang Yesus. Pada masa itu, posisi orang yang duduk dan makan tidaklah sama dengan posisi di masa kini. Kita duduk sambil menghadap meja dan kaki kita berada di bawah meja. Namun pada masa itu orang-orang yang makan, duduk sambil bersandar ke arah meja sedangkan kaki mereka menghadap ke belakang. Maka dari itu perempuan itu berada di belakang Yesus. Ia membersihkan kaki Yesus. Membasuh kaki adalah pekerjaan seorang hamba. Jadi sebenarnya perempuan itu sedang menyatakan dirinya sebagai hamba Yesus di depan semua orang itu. perempuan itu melakukan itu dengan sepenuh hatinya sambil mencucurkan air mata. Hal itu tentu saja membuat orang-orang yang melihatnya terheran-heran. Simon, orang Farisi itu (bukan Simon Petrus), kemudian meragukan kenabian Yesus di dalam hatinya. Simon berpikir bahwa kriteria kenabian Yesus terletak pada apakah Yesus tahu orang macam apakah perempuan itu atau tidak. Jadi Simon tidak melihat bagaimana perempuan itu melayani Yesus dengan sepenuh hatinya. Hal itu tidak diungkapkannya tetapi disimpan di dalam hatinya. Ia tidak berani bertanya langsung kepada Yesus. Orang Farisi itu kemungkinan salah menafsir Mazmur 1. Mazmur 1 sebenarnya ingin menyatakan bahwa kita harus berhati-hati dengan pergaulan kita, bukan menyatakan bahwa kita tidak boleh menyentuh orang berdosa. Jadi ketika perempuan itu menyentuh kaki Yesus, hal itu adalah kejijikan di mata Simon. Simon juga pasti berpikir negatif tentang Yesus yang membiarkan diri-Nya, seorang yang dihormati, disentuh oleh perempuan berdosa. Di sana Yesus tidak berkompromi karena sungkan kepada Simon. Ia tidak mengusir perempuan itu agar tetap dilihat baik oleh Simon. Yesus memuji perempuan tersebut dan membiarkannya melayani-Nya. Orang Farisi tersebut salah menilai Yesus. Padahal ia adalah orang yang sering membaca Kitab Suci. Namun karena ia melihat Kitab Suci dengan pengertian yang salah, ia menilai Yesus secara salah.

 

            Yesus kemudian menyatakan sebuah kasus sederhana kepada Simon. Ada 2 orang yang berhutang kepada orang yang sama. Ada yang berhutang banyak dan ada yang berhutang lebih sedikit. Kemudian hutang kedua orang itu dihapuskan oleh pemberi hutang itu karena mereka tidak sanggup membayar. Yesus kemudian bertanya siapa di antara kedua orang ini yang pada akhirnya lebih mengasihi pemberi hutang itu. Kata ‘mengasihi’ dalam bagian ini adalah agape. Simon menjawab bahwa orang yang lebih banyak hutangnya itu akan lebih mengasihi. Mungkin Simon merasa sedikit senang karena Yesus menyatakan bahwa jawabannya itu benar. Namun Simon tidak menyangka bahwa jawabannya itu pada akhirnya menegur dirinya sendiri. Yesus kemudian menyuruh Simon melihat perempuan itu. Simon melihat perempuan itu sebagai perempuan berdosa yang hina. Namun Yesus meminta Simon untuk melihat kepada perempuan itu agar ia belajar dari perempuan itu. Di sini Yesus mengubah posisi Simon dan perempuan itu. Secara umum seharusnya orang awam belajar dari orang Farisi dan bukan sebaliknya. Namun Yesus meminta Simon untuk belajar dari perempuan berdosa itu. Yesus membandingkan apa yang perempuan itu lakukan dengan apa yang Simon tidak lakukan. Apakah Yesus meminta setiap orang yang dikunjungi rumahnya untuk melakukan perbuatan yang sama dengan perempuan itu? Yesus tidak menuntut hal tersebut ketika ia masuk ke rumah Maria dan Marta. Yesus mungkin terlihat kurang ajar di hadapan tuan rumah itu. Yesus adalah tamu yang diundang namun Ia mempermalukan tuan rumah di hadapan para tamunya. Namun di sini Yesus ingin mengajarkan kebenaran. Menurut Tuhan, memang orang Farisi dan kitalah yang harus belajar dari perempuan itu. tentu saja ini adalah kebenaran yang menyakitkan bagi orang Farisi itu. seorang yang sering dihormati di masyarakat saat itu harus direndahkan oleh Yesus di hadapan semua tamunya. Mungkin orang Farisi itu menyesal telah mengundang Yesus untuk makan di rumahnya. Kita tidak tahu apakah orang Farisi itu kemudian menerima perkataan Yesus atau tidak karena dirinya tidak lagi disebutkan di bagian lain Alkitab. Yesus memakai perempuan berdosa itu untuk memberikan pelajaran kebenaran.

 

            Kaum Farisi adalah orang-orang yang sering mengajar, namun beberapa bagian Alkitab menyatakan bahwa mereka hanya berbicara namun tidak melakukannya. Jadi no action, talk only. Namun perempuan itu tidak berkata apa-apa tetapi ia menyatakan kasihnya lewat perbuatannya. Ini bukan berarti kata-kata itu tidak penting dan hanya perbuatan yang penting. Kata-kata itu penting dan perbuatan juga penting. Kita bisa mengatakan bahwa kita mengasihi Tuhan dan itu baik, namun jika itu hanya ucapan mulut tanpa perbuatan, maka itu tidak baik. Apa saja yang sudah kita lakukan untuk menyatakan kasih kita kepada Tuhan? Kita tidak harus melakukan perbuatan yang sama secara spesifik tetapi kita harus merenungkan bagaimana kita bisa menyatakan kasih kita kepada Tuhan melalui perbuatan kita. Dalam ayat 47 dikatakan ‘dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih’. Kalau kita salah mengerti bagian ini, maka kita bisa berpikir bahwa pengampunan itu diberikan kepada kita setelah kita berbuat kasih. Sebenarnya kalimat ini lebih tepat diterjemahkan sebagai: dosanya yang banyak itu telah diampuni, yang ditandai dengan ia telah benyak berbuat kasih. Jadi ia diampuni terlebih dahulu baru kemudian ia berbuat kasih. Kalimat berikutnya memberikan penegasan lebih lanjut ‘Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih’. Jadi pengampunan terlebih dahulu baru kemudian perbuatan kasih. Orang yang banyak diampuni akan banyak berbuat kasih, begitu pula sebaliknya. Kita mungkin pernah merenungkan bagaimana agar kita dapat menjadi orang yang lebih mengasihi. Mungkin kita berpikir bahwa kita harus melakukan hal tertentu, menyangkal diri, dan lainnya. Dalam bagian yang kita baca ini kita mengerti bahwa kita akan banyak berbuat kasih karena kita sadar bahwa kita banyak diampuni. Kalau kita salah mengerti konsep ini maka kita akan berpikir untuk berbuat dosa lebih banyak agar kita merasakan pengampunan lebih banyak sehingga kemudian kita bisa berbuat kasih lebih banyak. Ini adalah konsep yang salah. Roma 6:1-2 Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? ayat ini jelas menyatakan bahwa konsep itu salah. Kita tidak boleh dengan sengaja berbuat dosa agar kasih karunia atau pengampunan itu bertambah. Kita tidak bisa berbuat dosa demi menambah kasih kita.

 

            Lalu bagaimana kita bisa mengasihi lebih besar? Bukan dosa kita yang harus ditambah tetapi kepekaan kita akan dosa harus semakin ditingkatkan. Ini berarti kita harus sering mengevaluasi diri dan refleksi diri. Bagaimana kita bisa melakukan ini? 2 Timotius 3:16 menyatakan bahwa Alkitab berperan dalam menyatakan kesalahan kita. Apa respons kita ketika kesalahan kita dinyatakan? Apakah kita mau menerima teguran tersebut dan mau berubah? Atau kita mengeraskan hati dan mengabaikan teguran itu? Apakah kita mau menaati Alkitab yang menegur kita? Apa reaksi kita ketika pasangan kita menegur kita? Terkadang orang-orang sulit menerima teguran dari orang-orang terdekat. Jika ditegur oleh orang yang kurang dekat dengan kita, maka mungkin kita bisa berkata ‘ya’ pada hari ini namun melupakannya besok. Apakah kita malah membela diri ketika menerima teguran? Ada orang-orang yang, ketika ditegur, malah menegur kembali orang yang menegurnya. Ada orang-orang yang berkata ‘aku memang salah, tetapi kesalahanku cuma 3 sedangkan kesalahanmu ada 10, jadi kamu yang seharusnya ditegur dan kamu yang seharusnya bertobat’. Kita pada umumnya cenderung lebih mudah menyalahkan orang lain daripada menyalahkan diri sendiri. Namun ada orang-orang yang terlalu cepat menyalahkan diri sendiri sehingga selalu merasa bersalah sampai frustrasi atau depresi. Bahkan hal-hal yang memang bukan kesalahannya pun ditimpakan kepada dirinya sendiri. Ini juga tidak baik. Kita harus menilai diri kita secara adil di hadapan Tuhan. Jika kita memang bersalah maka kita harus mengaku salah dan jika kita ternyata benar maka kita jangan menyalahkan diri kita. Kita harus jujur dan terbuka terhadap Tuhan dan diri kita sendiri. Tanpa kejujuran, kita tidak mungkin bisa mengevaluasi diri dengan benar, karena kita tidak tahu secara tepat apa yang harus kita perbaiki. Kita berbohong kepada diri kita sendiri ketika kita menyatakan bahwa diri kita selalu benar dan tidak pernah bersalah. Kalau kita sungguh ada kerinduan untuk lebih mengasihi, maka kita harus jujur dan peka terhadap kesalahan-kesalahan kita. Setelah itu kita harus mengakui bahwa Tuhan memang mau mengampuni kesalahan kita yang banyak itu. Di saat kita menyadari pengampunan Tuhan yang besar bagi kita, kita akan tergerak untuk mengasihi lebih besar, seperti perempuan berdosa itu.

 

            Jadi kita harus membuka hati kita ketika kita sedang membaca Alkitab. Ketika kita membaca Alkitab, apakah kita merasa tertegur atau merasa bahwa semua perintah Tuhan yang kita baca itu kita sudah laksanakan dengan sempurna? Seandainya kita membuka hati kita lebih lebar sedikit, maka kita lebih bisa melihat teguran dari Tuhan. Perintah kelima dari 10 perintah menyatakan bahwa kita harus mengasihi orang tua kita. Sudahkah kita menjalankan perintah ini? Ada orang-orang yang berpikir bahwa jika mereka tidak ada konflik dengan orang tua maka mereka sudah menjalankan perintah kelima. Namun sebenarnya perintah kelima menuntut kita untuk menghormati orang tua secara aktif. Kepasifan kita atau tidak adanya konflik tidak menandakan bahwa kita sudah menjalankan perintah kelima. Kita bisa menilai dari hal sederhana: apakah kita sering berinisiatif untuk menghubungi dan berkomunikasi dengan orang tua kita? Atau mungkin orang tua yang sering mencari kita karena kita tidak peduli pada mereka? Pertanyaan sederhana ini harus kita jawab dengan jujur agar kita dapat mengevaluasi diri dalam bagian ini. Tuhan Yesus berkata Keluarkan dahulu balok kayu itu dari matamu sendiri. Sesudah itu, kamu dapat melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serbuk kayu dari mata saudaramu (Lukas 6:42). Apakah selama ini kita lebih sering melihat kesalahan orang lain daripada kesalahan diri sendiri? Mungkin ada perintah-perintah Tuhan yang kita pikir kita sudah jalankan dengan baik namun ternyata pada kenyataannya tidak demikian. Maka dari itu kita perlu banyak bercermin. Kita harus terus mengevaluasi diri sampai kita semakin menyadari bahwa kesalahan kita ternyata begitu banyak di hadapan Tuhan. Kita tidak perlu malu atau merasa bersalah ketika mengakui segala dosa kita. Tuhan pasti mengampuni kita, maka dari itu kita tidak perlu ragu untuk jujur mengakui dosa-dosa kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan (1 Yohanes 1:9). Kita harus menyadari bahwa apapun yang kita katakan kepada Tuhan secara jujur, Tuhan pasti mendengar dan Tuhan pasti berkenan mengampuni kita. Manusia mungkin bisa tidak menerima kesalahan kita, namun Tuhan berbeda dari manusia. Kita harus jujur di hadapan Tuhan dan ketika kita merasakan pengampunan yang besar itu, kita menjadi orang yang lebih mengasihi. Perintah mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama itu terlihat sederhana namun sulit menjalankannya. Kita bukan mengasihi berdasarkan kekuatan kita sendiri tetapi kita mengasihi karena kita terlebih dahulu merasakan pengampunan Tuhan yang besar. Inilah anugerah yang Tuhan berikan bagi kita.

 

            Tuhan Yesus kemudian menyatakan bahwa dosa perempuan itu sudah diampuni. Para tamu itu terkejut dan bertanya dalam hatinya tentang siapa diri Yesus. Tidak ada satupun di antara mereka yang berani bicara dan bertanya secara terbuka di hadapan Yesus. Mereka hanya berani berbicara di belakang. Mereka tidak hanya bertanya tetapi juga meragukan Yesus. Simon meragukan kenabian Yesus, maka sangat mungkin mereka meragukan ketuhanan Yesus. Jadi kelompok elite yang katanya suci itu tidak mengenal siapa Yesus, namun perempuan yang berdosa itu tahu siapa Yesus. Alkitab sering memberikan kita kejutan seperti ini. Secara umum mereka berpikir bahwa orang-orang Farisi itulah yang suci, namun Alkitab menyatakan hal yang berbeda. Yesus menjangkau orang-orang yang dikatakan berdosa dan dikucilkan oleh masyarakat. Kita mengucap syukur karena Tuhan juga mengunjungi kita. Ia mau mengampuni dan menyucikan kita. Setelah itu Yesus berkata kepada perempuan itu bahwa imannya telah menyelamatkannya dan kemudian Ia membiarkan perempuan itu ‘pergi dengan selamat’. Kata ‘selamat’ di sini dalam bahasa Yunani-nya adalah eirene. Kata itu lebih tepat diterjemahkan sebagai ‘damai’. Mengapa perempuan itu bisa pergi dengan damai? Bukan karena ia memiliki jabatan, uang, talenta, dan lainnya. Ia memiliki damai karena ia memiliki iman yang membuatnya mengerti seberapa besar dosanya dan yang membuatnya sadar seberapa besar pengampunan Tuhan baginya. Setelah ia menyatakan kasihnya kepada Tuhan, ia bisa pergi dengan damai. Dalam zaman ini ada banyak orang yang cepat gelisah. Penjualan obat anti depresi dan obat tidur semakin meningkat dari tahun ke tahun. Tadi kita juga membaca Mazmur 3:6 Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku! Saat itu Daud sedang diincar oleh banyak musuh. Dalam situasi seperti itu pada umumnya orang-orang tidak bisa tidur, namun Daud bisa tidur dengan tenang dan bangun dengan semangat karena ia percaya kepada Tuhan. Daud mendapatkan damai karena imannya. Kita bisa mendapatkan damai yang semu dari hal-hal di dunia, namun kedamaian yang sejati hanya kita dapatkan ketika hati kita menyadari pengampunan Tuhan yang begitu besar bagi diri kita. Orang yang tidak jujur pada dirinya sendiri akan sulit menemukan damai. Orang seperti itu selalu merasa gelisah. Jika kita merasakan hal itu, maka kita harus kembali melihat kasih Tuhan yang begitu besar bagi kita. Kiranya kita terus merenungkan pengampunan Tuhan yang berdampak besar pada kasih yang kita bagikan kepada Allah dan sesama.

 

(Ringkasan khotbah ini sudah diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Bitnami