Mengapa Yesus Kristus Bangkit

Kelompok Rasionalisme sampai saat ini tidak bisa menerima fakta kebangkitan Kristus, karena bagi mereka Kristus adalah manusia biasa yang tidak mungkin bangkit. Dan jikalau Kristus dikatakan bangkit itu hanya mitos dan kepercayaan hiperlatif dari orang-orang beriman yang menulis Alkitab.

Mengapa Yesus Kristus Bangkit

Categories:

Kelompok Rasionalisme sampai saat ini tidak bisa menerima fakta kebangkitan Kristus, karena bagi mereka Kristus adalah manusia biasa yang tidak mungkin bangkit. Dan jikalau Kristus dikatakan bangkit itu hanya mitos dan kepercayaan hiperlatif dari orang-orang beriman yang menulis Alkitab. Menurut mereka, Kristus pada saat itu mati suri dan kemudian jenazahnya diculik. Mari kita melihat bagian-bagian penting dari kehidupan Kristus: Kristus berdoa di taman getsemani, Kristus berhadapan dengan ahli-ahli Taurat dan ulama-ulama, Kristus di hadapan Pilatus yang saat itu cuci tangan untuk menyerahkan Yesus disalibkan, dan bagaimana Kristus di dalam seluruh kekuatan yang ada, dalam penderitaan yang luar biasa memikul salib sebagai simbol bahwa Dia memikul dosa kita. Ini menunjukkan kepada kita bahwa Ia mempunyai kerelaan dan ketulusan. Tidak ada satu penderitaan yang sebesar dan sedahsyat Kristus di dunia ini. Alkitab mencatat mengenai kebangkitan-Nya sebagai pembuktian kepada Tomas yang tidak percaya yaitu dengan menunjukkan adanya bekas luka pada lambungNya. Kemudian Yesus Kristus berkata: ;Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya (Yohanes 20:29). Inilah keunikan iman orang Kristen bahwa kita tidak melihat Tuhan Yesus Kristus secara langsung seperti Tomas, tapi kita percaya apa yang dikatakan oleh alkitab. Mengapa kita percaya? Karena iman yang dijamin dalam terang firman Tuhan dan materai dari Roh Kudus. Kita percaya bahwa mengapa kita hadir adalah untuk mengenang daripada Paskah itu sendiri. Tuhan Yesus sendiri mengatakan dalam Yohanes 11:25-26, ;Akulah kebangkitan dan hidup, barang siapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati. Dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Nya tidak akan mati untuk selama-lamanya. (Lihat juga Rom.1:4, 1 Pet.1:3-4, 1 Kor.15:16-17). Kita melihat permulaan zaman modern ini ditandai dengan penemuan-penemuan teknologi yang canggih. Di sisi lain, juga ditandai dengan semakin canggihnya kolaborasi virus-virus yang menyebabkan kematian manusia. Kemajuan zaman ini tidak menjamin manusia dapat terhindar dari kematian. Artinya betapapun seseorang kaya, populer, dan cerdas tidak mungkin bisa terhindar dari kematian, termasuk orang yang membuat alat multimedia yang tercanggih seperti Steve Jobs. Tetapi yang menjadi pertanyaan: Bagaimana kita bisa melihat satu kematian yang bahagia, penuh harapan, penuh penderitaan? Walaupun alat-alat medis begitu maju tetap tidak bisa menepis kematian. Jika waktunya sudah tiba, termasuk diri kita, pasti akan mati. Kematian adalah satu peristiwa yang banyak orang coba menghindarinya dengan berbagai macam cara dan metode, oleh karena itu tidak sedikit orang hidup di dunia ini sangat takut menghadapai kematian. Maka manusia di luar Kristus banyak memiliki ketakutan yang tidak suci / mulia. Manusia takut rugi, miskin, tua, sakit, tidak dihargai, dan terkucil. Jadi manusia begitu banyak ketakutan-ketakutan, terlebih dengan kematian. Tetapi saudara, bisakah kita mengatasi ketakutan kita dalam nilai kematian? Bisakah manusia menyelesaikan masalah yang terbesar dalam hidupnya, yaitu kematian? Tidak bisa. Mengapa manusia harus mati? Karena dosa. Kematian adalah upah dosa. Apakah Allah mencipta kita untuk mati selama-lamanya? Tidak, Allah mencipta kita untuk mati di dalam Dia. Berarti kematian kita adalah kematian yang mendapatkan satu nilai penebusan dari Yesus Kristus. Dengan kata lain, kematian untuk mendapatkan satu kehidupan kekal bersama dengan Kristus. Karena itulah Kristus berkata ;Akulah kebangkitan dan hidup, barang siapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati (Yohanes 11:25-26). Puji Tuhan! Orang-orang yang telah mendahului kita percaya bahwa kematian mereka adalah kematian yang ingin mendapatkan hidup kekal bersama dengan Kristus. Kematian Kristus membuat orang-orang, termasuk kita, memiliki pengharapan dan kebahagiaan sejati. Kristus adalah pendiri agama yang datang dari atas ke bawah untuk membawa kita yang di bawah kembali kepada yang di atas. Semua pendiri agama yang dari bawah akan mati karena mereka mendirikan agama dari bawah ke atas. Maka kalau mereka mati, bagaimana jaminan kualitas iman mereka? Semuanya pun mati. Kebangkitan Kristus membuktikan Dia adalah Allah yang hidup dan Maha Kuasa. Maka kita bersyukur bagaimana kita diselamatkan oleh Dia dan diangkat menjadi anak-anakNya. Alkitab mencatat, Yesus menghidupkan kembali putri Yairus, putra dari seorang janda di Nain, dan juga Lazarus. Kemudian puncaknya, yaitu kebangkitan Kristus dari antara orang mati. Kristus bangkit, membuktikan Yesus berkuasa atas waktu. Siapakah yang mencipta waktu? Kristus. Siapakah yang hidupnya tidak diikat oleh waktu? Allah. Maka mengapa Kristus rela diikat oleh waktu? Kerena Dia mengambil rupa untuk sama dengan kita, menjadi Penebus dari seluruh kematian-Nya, untuk menebus kita. Seharusnya Kristus berada di luar waktu dan Dia ada dalam kekekalan. Ketika Dia masuk di dalam kesementaraan, diikat oleh waktu dan ruang, Ia pun mendapat siksaan, hinaan, dan penderitaan. Manusia dicipta oleh mulut Tuhan Yesus. Tetapi, pada waktu Kristus akhirnya hidup sebagai manusia, mulut ciptaan itu dipakai untuk mencaci maki Yesus. Tangan yang dicipta oleh Tuhan Yesus, juga adalah tangan yang memaku tangan Yesus dan juga kakiNya. Tangan itu juga yang memberikan mahkota duri kepada Kristus dan menusuk lambung Yesus Kristus. Mengapa Kristus diam padahal Ia sanggup meniadakan semuanya itu? Hanya karena kasihNya, maka Dia rela mati bagi kita yang berdosa. Mengapa Yesus Kristus Bangkit dari Kematian? Pertama, Yesus berkuasa atas waktu. Mengapa Kristus membiarkan Lazarus mati dalam kubur selama 4 hari? Tuhan dengan sengaja melewati 4 hari untuk membuktikan Dia Allah yang berkuasa atas waktu. Mukjizat itu dilakukan dalam garis tertentu oleh Yesus, supaya setiap orang semakin percaya kepada Yesus. Dan Yesus, pada saat itu, bukan hanya berkuasa atas waktu, tetapi juga berkuasa atas situasi dan kondisi yang ada. Ketika diberitahu Lazarus sudah mati, namun Dia tetap tenang, karena Ia berkuasa atas situasi dan kondisi yang ada. Dia adalah Allah yang berkuasa atas kematian dan kehidupan bagi orang-orang. Pada waktu orang yang kita cintai mati mendahului kita, mengapa kita tetap tenang? Karena kita percaya, kematian orang-orang di depan kita, jikalau di dalam Kristus adalah suatu kebahagiaan. Kita bisa gelisah dan tidak tenang, kalau orang yang mati mendahului kita itu, mati dalam dosa. Tidak mudah bagi seorang pendeta yang sering sekali memimpin satu penguburan orang yang tidak terlalu dikenal oleh pendeta tersebut. Kematian kita menentukan kualitas hidup kita di sorga. Jikalau kita hidup dalam dosa dan di luar Kristus, maka tidak ada jaminan masuk sorga. Maka, kita ditentukan masuk sorga adalah pada waktu kita hidup sekarang, bukan setelah kita mati. Kita mengharapkan orang-orang suci berdoa bagi kita ketika kita mati, namun tetap tidak bisa. Kualitas hidup kita itu akan membuktikan hidup kita di sorga atau di neraka. Yesus bernubuat bahwa Dia akan bangkit pada hari yang ketiga, setelah Dia disalibkan. Alkitab mencatat semuanya itu, sementara semuanya itu belum terjadi. Tuhan Yesus dengan berani berkata: ;Aku akan mati dan bangkit pada hari yang ketiga (Lukas 24:46). Karena Dia berkuasa atas waktu. Dia adalah Sang Pencipta, Allah yang bisa melampaui dan mengatur waktu. Inilah yang dikatakan oleh Agustinus, yang di dalam ke-Kristen-an tidak ada yang bisa mengalahkan teologi mengenai Kristus yang mengontrol, menerobos, mengatur dan menubuatkan waktu dalam kekekalan. Manusia sangat pandai mengatur waktu untuk dirinya, yang mana belum tentu waktu itu dalam nilai kekekalan Tuhan. Tuhan bisa mengatur waktu dalam garis kekal-Nya, karena Dia Allah yang berkuasa. Kita bisa mengatur waktu kita dalam garis untuk mengikuti kehendak Tuhan. Itulah kepekaan kemuliaan untuk Tuhan. Yesus berdaulat atas waktu, situasi dan kondisi pada saat itu. Tidak ada pendiri agama di dunia ini yang dapat melakukan seperti yang Yesus lakukan. Selain itu, kualifikasi dan standar hidup jauh daripada semua pendiri-pendiri agama. Hanya Kristus, yang satu-satunya Tuhan yang mau datang ke dunia untuk mencari orang-orang berdosa. Dan hanya Kristus, satu-satunya Tuhan, rela datang ke dunia untuk mati dan menebus orang berdosa yang seharusnya ditimpakan kepada kita. Yesus datang dari dunia kekal ke dunia yang sementara, agar kita memperoleh hidup yang kekal. Karena itu, Tuhan Yesus dapat dengan tenang mengatakan bahwa Lazarus sedang tertidur. Dan Ia datang untuk membangunkan Lazarus dari tidurnya. Ini bukan perkataan yang spekulatif, tetapi membuktikan Dia adalah yang berkuasa atas segala sesuatu. Karena Dia adalah sumber kehidupan, maka di dalam Dia semuanya bisa mungkin terjadi, walaupun Lazarus sudah mati selama 4 hari lamanya. Bagi Yesus, waktu 4 hari adalah waktu ujian untuk iman daripada murid-muridnya. Tuhan mengijinkan ini, karena Tuhan ingin menguji Maria dan Martha, dan juga murid-Nya. Terkadang, kita harus mengerti mengapa pergumulan diijinkan Tuhan berhari-hari sampai bertahun-tahun? Karena tidak lain, Tuhan sedang menguji iman kita. Bagi Yesus, iman perlu dikerjakan atau dibuktikan saat-saat genting atau saat suka. Maria dan Martha pada saat itu hancur dan sedih, karena mereka tidak percaya kepada Yesus. Ini adalah satu nilai yang harus Tuhan ubahkan. Iman tidak dibangunkan atas dasar melihat, melainkan atas dasar Firman. Pada saat Tuhan Yesus mengatakan bahwa diriNya adalah kebangkitan dan hidup, Lazarus belum dibangkitkan. Tetapi, Tuhan menuntut agar orang lain percaya kepadaNya, sebelum Ia menunjukkan kuasaNya. Karena Yesus adalah Logos itu sendiri, yaitu kebenaran itu sendiri yang ingin membuktikan kepada kita bahwa iman dibangun atas dasar Firman Tuhan. Maka, ketika mereka percaya, kemudian Tuhan Yesus melakukan semua mukjizat itu. Mengapa Yohanes menulis mukjizat yang Tuhan kerjakan selama di dunia? Supaya semua orang yang membaca Injil Yohanes, mengerti bahwa Yesus 100% Allah dan 100% manusia. Dan, supaya Yohanes bisa menonjolkan keunikan Kristus sebagai satu-satunya Penebus yang sejati. Tuhan Yesus bertanya kepada Martha: ;Percayakah engkau akan hal ini? (Yohanes 11:26). Martha yang percaya kepada Yesus, seharusnya dia hidup dalam kebenaran, karena Firman Tuhan dan bukan karena mukjizat. Oleh karena itulah, Yesus datang supaya mereka yang tidak percaya boleh mengoreksi pengalamannya akan Yesus dan hidup dalam kebenaran Yesus Kristus. Tuhan mengizinkan kepada kita untuk me-review pengenalan kita akan Allah. Jadi, kalau hal ini terjadi atas kita, maka kita harus me-review kembali pengenalan kita akan Allah bahwa Allah itu hidup. Jika kita mengaku Kristen, maka kita tidak perlu takut menghadapi kematian, karena kuasa maut sudah dikalahkan oleh Tuhan Yesus Kristus. Karena itu, dengan berani Paulus berkata: ;Hai maut dimana sengatmu? (1 Korintus 15:55) Kita paling takut kalau kita mati dalam dosa. Kalau kita yand di dalam Kristus mengalami kematian dalam kesucian maka tidak perlu takut. Dalam bagian ini kita percaya, kita adalah orang yang bahagia dalam Tuhan maka kita tidak boleh takut dengan kematian. Karena itulah, pada waktu kita masih hidup harus mengisinya dengan buah-buah keselamatan. Hidup ini harus diisi dengan anugerah yang takut dan gentar dan juga kepada Dia, tetapi jangan mengalami ketakutan yang tidak suci. Jikalau ada orang yang terus hidup dalam ketakutan maka dia belum mendapatkan kuasa kebangkitan dari Tuhan Yesus Kristus. Karena kita percaya kebangkitan Kristus adalah untuk mengalahkan kuasa dosa, dan kuasa itu diberikan kepada anak-anak-Nya untuk mengalahkan kuasa dosa. Jadi, siapa yang hidup dalam Kristus maka dia akan hidup menjadi umat pemenang. Kristus bangkit, membuat kita bangkit daripada keterpurukan dosa. Bangkit dari kemalasan kita. Bangkit daripada ikatan daging kita. Siapa yang mengandalkan kuasa kebangkitan Kristus, tidak boleh tertidur dalam dosa karena kita sudah menjadi orang yang berbeda dalam Yesus. Kedua, Yesus berkuasa atas kematian dan hidup. Upah dosa adalah maut tetapi karunia Allah adalah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus Tuhan kita. Di sini menjelaskan kepada kita ada dua macam sifat kematian: (1) Mati dalam Kristus memperoleh satu hidup yang kekal di sorga, (2) Mati di luar Kristus adalah mati dalam dosa memperoleh siksaan yang kekal di neraka. Pasti setiap kita memilih mati dalam Kristus. Tetapi yang menjadi pertanyaan saya adalah: Apakah kita yang ada di sini sungguh sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dalam hidup kita secara pribadi? Jangan hanya sekedar, aku mau supaya masuk sorga. Setiap orang punya kemauan, tetapi kita harus memiliki kesadaran iman. Kita harus percaya bahwa kebangkitan Kristus adalah kebangkitan iman kita, kebangkitan semangat kita dan kebangkitan perjuangan kita. Maka jangan melihat diri tidak bisa berbuat apa-apa dan lemah tetapi lihatlah bahwa kita kuat di dalam Tuhan. Jikalau kita bertanya, bagaimana kematian Lazarus? Lazarus mati di dalam Kristus, karena Kristus sangat mengenal dan mengasihi Lazarus. Mengapa Lazarus yang sudah percaya kepada Yesus mati dan dibangkitkan kembali? Supaya menyatakan kemuliaan Allah. Inilah tema untuk hidup kita, bagaimana pada waktu kita sukses, bahagia, studi, dan sedih, tetap nama Tuhan yang dipermuliakan. Artinya, kita harus percaya Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, karena Tuhan ingin menunjukkan satu kuasa yang hidup dalam kehidupan kita. Alkitab mencatat, Yesus hampir menangis, karena ketidakpercayaan orang banyak akan kuasaNya yang sanggup membangkitkan Lazarus dari kematian (Yohanes 11:37-38). Banyak penafsir mengatakan bahwa Lazarus yang dibangkitkan itu, keluar seperti orang yang sudah benar-benar bisa bicara. Tidak ada kematian yang merebut Lazarus. Saya percaya, kematian Lazarus adalah kematian untuk kemuliaan Tuhan. Lazarus dibuat seperti tokoh drama yang mendapatkan anugerah. Mungkinkah kita mendapatkan anugerah kedua supaya kita hidup lebih baik lagi bagi Tuhan? Mungkin. Pernahkah sakit seperti mati rasanya? Mungkin, tetapi kita harus menyadari bahwa semuanya itu supaya kemuliaan Tuhan dinyatakan. Maka, melalui peristiwa ini Yesus menggugurkan ketidakpercayaan mereka akan kuasa Yesus yang sanggup mengalahkan kematian, melalui peristiwa kebangkitan Lazarus. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah yang berkuasa atas kematian. Bahkan, Ia mengalahkan kuasa kematian melalui kebangkitan. Dalam 1 Kor.15:20 dikatakan bahwa Kristus bukan saja mengalahkan kematian, tetapi yang lebih penting lagi Kristus mengalahkan kuasa kematian. Karena kuasa kematian adalah maut. Kalau kita mati adalah wajar, tetapi mati di dalam Kristus bukan mati dalam maut. Jadi, setiap kita akan mati, tetapi bukan mati karena ditelan oleh kuasa maut. Setiap orang yang tidak percaya, bisa mati di tangan setan. Puji Tuhan! Kita tidak bisa diganggu oleh setan. Seluruh nilai jiwa kita, ada di dalam Tuhan. Dan setan tidak berkuasa atas kematian kita. Ketiga, Yesus adalah Sumber Pengharapan. Kristus ingin memberikan pengharapan yang sejati, yaitu hidup yang kekal. Kita pernah membahas 7 pengharapan mulia yang ditulis dalam kitab Wahyu, dan pengharapan yang ketujuh adalah hidup kita kekal bersama dengan Tuhan. Jadi, manusia boleh membangun satu pengharapan-pengharapan tapi belum tentu mencapai tujuh pengharapan yang mulia. Kalau kita punya pengharapan yang kekal, mari kita hidupi seluruh hidup kita dengan sesuatu yang bersifat kekal. Tanggalkan yang tidak penting, karena kita fokus untuk nilai Kerajaan Allah. Kita rindu sekali, bagaimana kita hidup sungguh-sungguh mati dalam Kristus, bangkit bersama Kristus dan kita mau sesuatu pengharapan yang kekal di tengah-tengah hidup kita. Yesus adalah Allah yang sanggup melakukan perkara yang besar dalam hidup kita semua. Pengharapan dalam Kristus adalah pengharapan yang pasti. Itulah yang dikatakan dalam 1 Petrus 1:3, ;Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmatNya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati kepada suatu hidup yang penuh pengharapan. Jika Kristus sanggup membangkitkan Lazarus, tetapi Dia sendiri tidak bangkit maka untuk apa kita percaya kepada Yesus yang mati. Jika kita bersandar kepada Yesus, tetapi Dia tidak bangkit, maka kita tidak memilliki pengharapan. Jikalau Kristus bangkit dan sanggup menyelesaikan semua perkara dunia ini, maka Kristuslah yang sanggup melakukan perkara dan yang memberikan keselamatan yang kekal dan hidup bahagia. Di dalam Kristus, tidak ada lagi kata yang tidak bisa diubah atau tidak bisa dibangun ulang. Kita percaya manusia yang percaya kepada Kristus punya kuasa untuk berubah. Kebangkitan Yesus membuktikan Dia adalah Allah yang berkuasa (Roma 1:4, 1 Korintus 19:20, 24). Di sini, kita melihat Kristus dengan rela mati untuk menebus dosa-dosa kita. Kristus mempunyai kuasa kebangkitan untuk membangkitkan seluruh hidup kita. Dan Kristus bangkit untuk mempermalukan para alim ulama, pada saat itu. Kristus bangkit untuk mempermalukan Pilatus sebagai penguasa, pada saat itu. Kristus bangkit untuk mempermalukan orang-orang yang tidak percaya kepada-Nya, pada saat itu. Inilah kemenangan yang direbut tanpa nilai dosa, dan kuasa di atas kuasa yaitu kuasa kebangkitan Yesus Kristus. Kita percaya mengapa Kristus bangkit, karena Dia membuktikan bahwa Dia berkuasa atas waktu, hidup dan kematian, dan karena Kristus adalah sumber pengharapan kita. Kita bersyukur, Kristus tidak diikat oleh ruang dan waktu, Kristus tidak bisa diikat oleh kematian dan Kristus tidak bisa diikat oleh kegagalan, karena Dia adalah Allah yang berkuasa.

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami