Mengampuni karena Diampuni (Matius 18:21-35)

Mengampuni karena Diampuni (Matius 18:21-35)

Categories:

Khotbah Minggu 15 Desember 2019 (SORE)

Vik. Tommy Suryadi M.Th.

 

 

            Kita akan merenungkan tema “Mengampuni karena Diampuni”. Sebelumnya kita pernah merenungkan tentang tema “Mengasihi karena Diampuni”. Kita akan membahas dari ayat Matius 18:21-35. Dalam bagian ini, kata kuncinya adalah pengampunan dan belas kasihan. Petrus bertanya kepada Yesus tentang berapa kali ia harus mengampuni orang yang bersalah kepadanya. Alkitab tidak menjelaskan mengapa Petrus bertanya tentang hal ini. Mungkin saja ia bertemu dengan seseorang yang pernah berkali-kali berbuat salah kepadanya dan terus memohon maaf kepadanya. Setelah mengampuni berkali-kali mungkin Petrus jadi bertanya-tanya adakah batas maksimal bagi seorang Kristen dalam memberikan pengampunan. Mungkin Petrus sudah habis kesabarannya sehingga ia mencari tahu di mana batas pengampunan itu. Kita tidak tahu pasti apa yang sedang terjadi, namun kita mengetahui bahwa topiknya adalah tentang pengampunan. Petrus mengusulkan angka tujuh. Dalam budaya Yahudi, angka-angka tertentu memiliki makna. Tujuh adalah angka kesempurnaan. Yesus memberikan angka yang berbeda yang juga mengandung angka tujuh yaitu tujuh puluh kali tujuh kali. Jadi angka yang Yesus berikan itu jauh lebih besar. Jika dijabarkan, maka angka yang Yesus berikan adalah tujuh kali tujuh kali sepuluh. Jadi sempurna kali sempurna kali bilangan desimal. Secara matematis hasilnya adalah empat ratus sembilan puluh. Ini bukan bicara kuantitas semata. Kita tidak menghitung jumlah pengampunan kita sampai sejumlah angka itu. Angka ini bicara mengenai kualitas. Pengampunan kita harus benar-benar genap dan sempurna. Pengampunan tidak hanya diberikan beberapa kali atau sampai tahap tertentu saja. Harus ada kesempurnaan dalam pengampunan itu.

 

            Jika Yesus hanya berhenti sampai di sana, maka kita pasti akan mengalami kesulitan. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana memberikan pengampunan yang sempurna. Kita adalah manusia biasa yang tidak bisa memberikan pengampunan sempurna. Kekuatan untuk mengampuni tidak berasal dari diri kita sendiri tetapi dari Tuhan. Jika kekuatan itu berasal dari diri kita, maka pengampunan kita akan begitu terbatas, berkualitas rendah, dan sementara. Namun jika kita mengampuni karena suatu modal atau kekuatan yang sudah Tuhan berikan sebelumnya, maka kita bisa melakukan hal itu. Kita bisa mengampuni secara sempurna karena kita diberikan kekuatan oleh Allah yang sempurna. Jika perkataan Yesus hanya sebatas ayat 22, maka pikiran kita akan dipenuhi dengan pertanyaan. Yesus menjelaskan lebih jauh dalam ayat-ayat selanjutnya. Yesus menyebutkan tentang ‘hal Kerajaan Surga’. Ini berarti pengampunan bukanlah hal sepele di antara dua orang saja. Pengampunan itu berkaitan dengan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah bukan hanya berbicara mengenai khotbah penginjilan kepada ribuan atau puluhan ribu orang. Pengampunan untuk seorang pribadi juga merupakan hal Kerajaan Allah. Jadi kita mengampuni atau tidak, hal itu berkaitan dengan Kerajaan Allah. Maka dari itu kita harus memerhatikan apakah kita sudah mengampuni atau belum. Dalam perumpamaan ini ada disebutkan tentang seorang raja dan hamba-hambanya. Salah seorang hamba itu berhutang sepuluh ribu Talenta. Di dalam masa kini, nilai itu mungkin setara dengan jutaan Dolar Amerika. Seorang hamba tidak mungkin bisa membayarnya.

 

Pada zaman itu, satu Talenta adalah enam ribu Dinar. Satu Dinar adalah upah seorang pekerja dalam sehari. Jadi seorang pekerja harus bekerja selama enam ribu hari untuk mendapatkan satu Talenta. Dalam pengukuran waktu, seorang hamba harus bekerja selama kurang lebih dua puluh tahun untuk mendapatkan satu Talenta. Jadi untuk mendapatkan sepuluh ribu talenta, seorang hamba harus bekerja selama dua ratus ribu tahun. Ini adalah angka yang tidak mungkin dicapai manusia biasa. Adam sebagai manusia pertama hanya hidup sampai umur sembilan ratus tiga puluh tahun (Kejadian 5:5). Jadi Adam pun tidak bisa mencapai angka itu. Inilah posisi kita di hadapan Tuhan. Hutang kita di hadapan Allah terlalu besar untuk kita tanggung dengan kekuatan kita. Kita tidak bisa menebus dosa kita sendiri. Dosa itu terlalu besar untuk kita tanggung. Hanya Tuhan Yesus Kristus yang bisa menebus kita. Hamba itu tidak bisa melunaskan hutangnya sehingga raja itu memutuskan untuk menjualnya dengan keluarganya. Pada zaman itu memang orang yang tidak bisa membayar hutang bisa dijual untuk melunaskan hutangnya. Namun ini pun tidak mungkin cukup untuk bisa membayar hutangnya yang terlalu besar itu. Hanya Tuhan yang bisa melunasi hutang ini. Hamba itu kemudian sujud menyembah dan memohon kesabaran raja itu. Ia berjanji untuk melunaskan segala hutangnya meskipun itu adalah hal yang mustahil. Mungkin dia mengucapkan ini karena merasa sudah terpojok dan tidak tahu lagi apa yang ia bisa lakukan.

 

Kemudian dikatakan bahwa raja itu tergerak oleh belas kasihan. Jadi raja itu bukan memberi waktu agar orang itu bisa melunaskan hutangnya (karena hal itu juga tidak mungkin). Raja itu menghapus seluruh hutangnya. Jadi semua daftar hutangnya diputihkan. Hamba itu mendapatkan kesempatan untuk memulai dengan awal yang baru. Namun setelah hamba itu keluar, ia bertemu dengan kawannya yang berhutang seratus Dinar. Ia langsung mencekik kawannya dan menuntutnya untuk segera melunasi hutangnya. Seratus Dinar berarti sama dengan upah bekerja selama seratus hari. Ini berarti seorang hamba membutuhkan waktu sekitar tiga sampai empat bulan untuk mendapatkan uang sejumlah itu. Hamba yang pertama berhutang sampai sepuluh ribu Talenta sehingga ia tidak mungkin bisa membayarnya. Namun hamba yang kedua hanya berhutang seratus Dinar. Ini adalah angka yang masih bisa diraih oleh seorang pekerja. Jadi ini adalah angka yang realistis. Seratus Dinar memang merupakan angka yang tidak kecil, namun masih bisa dicapai. Hamba yang kedua kemudian bersujud dan memohon kesabaran hamba yang pertama. Respons hamba kedua dan respons hamba pertama ketika ditagih hutangnya itu sangat mirip. Namun hamba yang kedua ini bisa melaksanakan janjinya ketika ia berkata bahwa hutangnya akan dilunaskan. Hamba yang pertama tidak memberikan belas kasihan. Ia menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara. Beberapa tafsiran menyatakan bahwa ini adalah tindakan yang keji. Orang itu tidak mungkin bisa melunaskan hutangnya di penjara, apalagi penjara zaman dahulu bisa lebih sadis situasinya. Ada juga yang menyatakan bahwa mungkin hamba yang pertama itu berharap ada sanak saudara dari hamba yang kedua itu yang bisa membebaskannya dari penjara dan melunaskan hutangnya. Namun intinya kita melihat bahwa hamba yang pertama itu tidak memiliki belas kasihan.

 

Di bagian berikutnya dinyatakan bahwa hamba-hamba yang lain melihat itu dan menjadi sedih lalu melaporkan kejadian itu kepada raja. Jika kita menjadi salah seorang dari hamba-hamba itu, maka apakah kita juga akan merasa sedih? Kawan-kawannya masih ada hati untuk keadilan dan belas kasihan. Sebagai seorang pengikut Kristus kita juga harus memiliki hati seperti ini. Ketika kita melihat ketidakadilan dan kejahatan, seharusnya kita memberikan respons. Setidaknya kita bisa berdoa dalam hal itu. Ada orang-orang yang mencoba mencari keadilan dengan melakukan demonstrasi dengan kekerasan sampai mengorbankan orang lain. Ada orang-orang yang mengatasnamakan keadilan melakukan revolusi dan menunggangbalikkan pemerintahan dengan kekerasan. Itu adalah respons ekstrem yang pertama. Di ekstrem yang lain, ada orang-orang yang pasrah pada situasi dan menerima semua itu tanpa berharap apapun dari Tuhan. Namun jika kita melihat kepada Alkitab, maka respons seperti apa yang seharusnya kita berikan? Yesus tidak pernah pasrah. Ia selalu aktif. Yesus bertindak secara radikal. Radikal bukan berarti menyakiti orang lain atau menghancurkan milik orang lain. Radikal berarti mengakar atau tuntas sampai ke akarnya. Tindakan radikal apa yang Yesus lakukan di dunia ini? Tindakan kasih. Ini adalah kisah kekristenan yang berbeda dari kisah dunia. Kita tidak menciptakan perubahan dengan memaksa orang lain apalagi dengan kekerasan. Yesus memakai cara yang bukan menghancurkan orang lain tetapi menghancurkan diri-Nya sendiri di atas kayu salib. Kasih itu dinyatakan agar ada restorasi atau pemulihan. Kisah hidup Yesus begitu berbeda dengan kisah dunia. Dunia percaya bahwa kuasa politik, militer, dan lainnya itu mutlak penting untuk menciptakan perubahan, namun Gereja tidak diajarkan demikian oleh Tuhan Yesus. Ketika orang-orang Romawi menyaksikan apa yang dilakukan oleh orang-orang Kristen mula-mula, mereka merasa aneh. Bagi mereka, tindakan egois adalah hal yang wajar. Semua orang pada saat itu hanya memikirkan diri masing-masing. Namun orang Kristen menunjukkan hal yang berbeda. Mereka menunjukkan belas kasihan kepada anak yatim piatu, lansia, dan orang sakit. Mereka disebut sebagai kelompok aneh yang tidak logis. Jadi kisah yang mereka hidupi adalah kisah kasih Yesus yang mengorbankan diri demi orang lain.

 

            Kita harus memiliki hati yang peka terhadap kondisi di luar dan terus berdoa kepada Tuhan. Kawan-kawannya itu merasa duka karena melihat ketidakadilan. Mereka melaporkan hal itu kepada raja sehingga raja itu memanggil hamba yang hutangnya dihapuskan itu. hamba pertama yang sudah mendapatkan belas kasihan namun tidak memberikan belas kasihan itu disebut sebagai hamba yang jahat. Ketika kita kurang mengampuni atau kurang berbelas kasihan, kita bukan hanya orang yang kurang baik. Kita adalah hamba yang jahat. Dosa kurang pengampunan atau kurang belas kasihan tidak lebih sepele daripada dosa-dosa lainnya. Meskipun kita tidak menyakiti siapapun ketika kita kurang mengampuni, kita tetap dinilai sebagai hamba yang jahat. Pengampunan itu berkaitan dengan Kerajaan Allah dan pengampunan kita harus sempurna. Kita sudah mendapatkan pengampunan dan belas kasihan Allah, maka kita harus juga bersikap demikian terhadap orang lain. Kata ‘jahat’ juga bisa berarti ‘fasik’. Sehebat apapun pelayanan kita, tanpa belas kasihan dan pengampunan, kita hanyalah hamba yang jahat. Pengampunan dan belas kasihan itu begitu penting dalam relasi apapun. Jika di dalam keluarga tidak ada pengampunan, maka keluarga akan hancur perlahan-lahan. Ada keluarga-keluarga Kristen yang terus menerus mengalami konflik tanpa pengampunan. Setelah sekian tahun keluarga-keluarga itu pada akhirnya bercerai. Sebuah pasangan pernah bertikai karena masalah foto. Sang istri menyatakan bahwa suaminya kurang pintar dalam memotret. Sang suami kemudian juga menyatakan kelemahan istrinya. Konflik itu terus berlanjut sampai kedua pihak terus melontarkan kalimat-kalimat amarah dan kebencian. Sampai pada satu titik, salah satu pihak berkata ‘seandainya saya tidak menikah denganmu, hidup saya pasti lebih baik’. Ini merupakan bahasa lain dari kalimat ‘saya menyesal menikah denganmu’. Di dalam kalimat itu tidak ada kata ‘cerai’, namun maknanya sudah mengarah ke sana. Jika di dalam gereja tidak ada pengampunan, maka gereja tidak mungkin bisa hidup. Pengampunan itu begitu besar nilainya. Jika pengampunan merupakan hal Kerajaan Allah, maka Gereja tanpa pengampunan bukanlah perwakilan Kerajaan Allah. Jika kita mengatakan bahwa kita ini mengasihi, maka itu berarti kita juga harus mengampuni. Kedua hal ini tidak bisa dipisahkan.

 

            Bagaimana dengan kita hari ini? Sudahkah kita memiliki hati yang mengampuni? Apakah kita sudah menjadi perwakilan Kerajaan Allah dalam hal pengampunan? Bisakah kita membawa pengampunan itu ke dalam keluarga, Gereja, dan tempat kerja kita? Kita sudah sering mendengar bahwa dosa kita yang begitu besar itu sudah diampuni oleh Tuhan. Namun apakah kita sudah membagikan pengampunan dan kasih Tuhan kepada orang-orang di sekitar kita? Atau kita selama ini hanya menampung anugerah Allah tanpa mau menjadi saluran berkat? Tuhan memberikan kita kasih dan tanggung jawab kita adalah membagikan kasih itu kepada orang lain. Kita mengasihi karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita (1 Yohanes 4:19). Jadi anugerah Tuhan bukanlah untuk kita nikmati sendiri. Ketika kita menjadi saluran berkat, orang lain bisa melihat Tuhan di dalam kita sehingga mereka memuliakan Allah. Mengapa ada Laut Mati di israel? Air dari laut mengalir ke Sungai Yordan lalu kemudian berakhir di Laut Mati. Sampai di sana, air itu tidak kemana-mana lagi. Kadar garam di Laut Mati begitu tinggi sampai tidak ada ikan yang bisa hidup di sana. Kita bisa seperti Laut Mati itu ketika kita hanya mau menampung berkat namun tidak mau membagikan semua itu kepada orang lain. Ketika kita hidup sebagai orang egois, orang-orang di sekitar kita tidak akan bisa hidup. Kita hidup harus menjadi saluran berkat. Maukah kita menjadi saluran berkat yang efektif? Apakah kita saat ini seperti saluran yang bocor sehingga berkat itu tidak tersampaikan dan anugerah itu terbuang? Apakah kita ini seperti saluran kotor yang mengotori air murni yang lewat? Ketika Tuhan memerintahkan kita untuk mengampuni, Tuhan tidak membiarkan kita tanpa modal atau kuasa. Tuhan memberikan pengampunan sepuluh ribu Talenta bagi kita namun kita hanya perlu mengampuni sebesar seratus dinar. Jadi apa yang Tuhan berikan dan apa yang dituntut dari kita itu sangat jauh perbandingannya.

 

            Pada masa kerusuhan bertahun-tahun lalu, ada seorang gadis yang diperkosa dan dipermainkan sampai meninggal. Ayah gadis itu begitu terpukul dan tidak bisa memaafkan orang-orang itu. Ia adalah seorang Kristen dan ia tahu bahwa dirinya harus mengampuni namun ia tidak bisa melakukan itu. Sebagai seorang manusia kita pasti berpikir bahwa wajar saja jika ayah itu tidak bisa mengampuni. Namun bagaimana dengan pandangan Tuhan? Kita tahu bahwa apa yang orang-orang itu lakukan kepada gadis itu begitu keji, namun dosa kita terhadap Tuhan itu bisa bernilai jauh lebih keji daripada itu. Jika kita gagal untuk mengerti kengerian dosa sampai kepada titik intinya, maka kita akan berpikir bahwa dosa itu sepele atau kecil. Jika kita berpikir demikian, maka kita akan berpikir bahwa kita tidak benar-benar membutuhkan pengampunan. Di sana kita akan berpikir bahwa kita hanya memerlukan sedikit pengampunan sehingga kita hanya sedikit mengampuni orang lain. Kita semua membutuhkan pengampunan yang total dari Tuhan. Tidak ada satupun dari manusia yang bisa dinilai cukup baik sehingga hanya membutuhkan sedikit saja pengampunan Tuhan. Semua manusia telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Kita semua seharusnya menerima maut kekal. Kita bukan membandingkan diri kita dengan orang lain tetapi dengan standar Tuhan. Semakin kita mengerti tingginya standar Allah, semakin kita mengerti pula bahwa kita masih terlalu jauh dari itu. di sana kita akan mengerti bahwa kita memang adalah orang-orang jahat yang sungguh-sungguh memerlukan belas kasihan Allah. semakin besar kepekaan kita akan dosa, semakin besar pula kesadaran kita akan perlunya kasih karunia Tuhan. Kita bisa semakin mengerti akan dosa kita ketika kita terus menerus mendalami Firman Tuhan dan terus berdoa. Dua hal ini begitu sederhana namun seringkali diabaikan atau tidak dipandang serius.

 

            Raja itu kemudian menyerahkan hamba yang jahat itu kepada algojo-algojonya. Dikatakan bahwa ia diperlakukan seperti itu sampai ia bisa melunasi hutangnya. Ini berarti ia akan terus menerus berada di sana seumur hidupnya. Jadi bisa dikatakan ada hukuman kekal di sini. Orang yang tidak memiliki belas kasihan dan pengampunan layak menerima hukuman kekal di mata Tuhan. Tuhan Yesus pernah berkata ‘Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan’ (Matius 12:7). Ini bukan berarti persembahan itu tidak penting. Yesus mau menyatakan bahwa ada hal yang lebih penting daripada persembahan yaitu belas kasihan. Orang-orang Farisi bisa dengan tekun memberikan persembahan sesuai aturan yang ada. Dalam Lukas 18:9-14 Tuhan Yesus mengajarkan perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai. Orang Farisi itu berdoa dan membanggakan apa yang telah dipersembahkannya kepada Allah serta merendahkan pemungut cukai itu. Namun pemungut cukai itu memukul diri dan memohon belas kasihan Allah bagi dirinya yang berdosa. Tuhan Yesus menyatakan bahwa pemungut cukai itu dibenarkan sedangkan orang Farisi itu tidak. Jadi belas kasihan itu penting dalam kekristenan. Pada ayat ke-35 Yesus mengajarkan bahwa kita harus mengampuni dengan segenap hati. Pengampunan itu tidak hanya pada kata-kata tetapi segenap hati. Kita harus banyak berdoa jika kita belum sampai pada tahap ini. Pengampunan itu seringkali sulit, maka dari itu kita harus memohon kepada Allah.

 

            Seorang wanita Kristen bernama Corrie Ten Boom pernah ditangkap oleh tentara Nazi dan dimasukkan ke dalam penjara wanita. Di sana wanita-wanita tahanan itu disiksa baik secara fisik maupun mental. Wanita-wanita itu sering dilihat dengan tatapan yang jahat oleh para tentara pria termasuk ketika mereka sedang mandi dan sedang telanjang. Ketika wanita-wanita itu harus berjalan telanjang kembali ke tempat mereka, para tentara pria berbaris, menatap tubuh mereka, dan menertawakan mereka. Mereka hanya diberikan pakaian seadanya yang kotor. Di dalam perjalanan waktu, teman baik Corrie yang bernama Betsie meninggal di penjara itu. setelah sekian tahun, Corrie dibebaskan dan ia kemudian berkhotbah tentang pengampunan Tuhan di suatu gereja. Di sana ia memberitakan tentang pengampunan dosa secara sempurna yang diberikan oleh Tuhan bagi orang yang percaya. Setelah kebaktian itu usai, ada seorang pria yang berjalan menghampiri Corrie. Ketika Corrie melihat pria itu, ia begitu kaget. Pria itu adalah salah satu tentara yang menyiksa Corrie dan wanita-wanita tahanan itu di masa lalu. Di sana Corrie seperti membeku. Pria itu kemudian menyatakan bahwa setelah kejadian itu ia bertobat dan menerima Tuhan. Ia bersyukur atas khotbah Corrie tentang pengampunan dan menyatakan bahwa ia percaya akan apa yang dikatakannya. Kemudian ia bertanya apakah Corrie secara pribadi bisa mengampuninya atau tidak. Pria itu menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan, namun Corrie terdiam. Di dalam hatinya Corrie begitu bergumul dan memohon Tuhan untuk memberikannya hati yang mengampuni. Corrie menulis dalam bukunya bahwa ketika ia berjabat tangan dengan pria itu, ia merasa ada kuasa ilahi yang menyembuhkan hatinya sehingga ia bisa mengampuni orang itu dengan sempurna. Ini merupakan hal yang sulit, namun kita bisa mengikuti teladan Corrie yaitu ia berdoa dan bergantung pada Tuhan. Pengampunan itu terlihat mudah namun sebenarnya sulit.

 

            Berapa seringkah kita memohon maaf dan memaafkan ketika terjadi suatu kesalahan di dalam keluarga kita? Berapa kali kita pernah mengucapkan kata maaf dan kata memaafkan? Jika kita melakukan survei pada sekian banyak keluarga Kristen, maka mungkin kita hanya akan menemukan sedikit keluarga yang benar-benar punya hati yang mengampuni. Ketika kita mengampuni, itu berarti kita tidak lagi mengungkit kepahitan masa lalu. Dalam Ibrani 8:12 ditulis ‘Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka’. Dikatakan bahwa Tuhan tidak lagi mengingat dosa kita. Apakah Tuhan bisa lupa? ‘Tidak lagi mengingat’ bisa berarti ‘tidak lagi mengungkit’. Ketika Tuhan memandang kita yang sudah percaya, hal yang Tuhan lihat bukanlah dosa kita lagi. Ketika kita memandang orang lain, kita pun juga harus demikian. Ketika kita bertemu dengan orang yang pernah bersalah kepada kita, apakah yang kita ingat adalah dosanya atau pemulihan relasi? Ketika kita sudah mengampuni, itu artinya kita bersedia untuk tetap berelasi dengan orang itu. Jika setelah mengampuni kita mengusir orang itu, maka itu berarti kita belum benar-benar mengampuninya. Setelah Tuhan mengampuni kita, Ia memanggil kita untuk datang kepada-Nya. Ia mau kita rajin beribadah kepada-Nya ‘Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita’ (Ibrani 10:25). Setelah Tuhan mengampuni kita, Tuhan mau kita memiliki relasi yang erat dengan-Nya. Jika kita tidak mau berelasi dengan orang yang kita ampuni, maka kita sebenarnya masih menyimpan kepahitan dan kebencian. Di dalam mengampuni, kita tidak berkompromi dengan dosa. Dalam perikop sebelumnya, Tuhan Yesus mengajarkan agar jemaat memperlakukan seseorang yang tidak mau bertobat dari dosanya seperti pemungut cukai atau orang yang tidak mengenal Allah. Dari sini kita belajar bahwa pengampunan itu tidak berarti kompromi dengan dosa. Kita tidak boleh berdosa karena merasa telah mendapatkan pengampunan sempurna dari Tuhan. Kesucian itu penting di mata Tuhan. Ketika kita sudah diampuni, kita hidup dengan tanggung jawab. Jadi pengampunan itu tidak meniadakan tanggung jawab. Setelah Zakheus bertobat, ia berjanji untuk mengembalikan segala harta yang ia rampas secara ilegal sesuai dengan hukum Taurat. Ia tahu bahwa dirinya sudah diampuni dan ia hidup dalam tanggung jawab. Kita yang sudah diberikan anugerah harus hidup dalam tanggung jawab. Maka dari itu pengampunan dan belas kasihan yang kita terima juga harus kita pertanggungjawabkan. Pengampunan itu harus terpancar dalam hidup kita.

 

 

(Ringkasan khotbah ini sudah diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Bitnami