Mengajar Perintah Tuhan atau Perintah Orang Tua?

Mengajar Perintah Tuhan atau Perintah Orang Tua?

Categories:

Bacaan Alkitab: Ulangan 6:6-7

 

Sekolah dalam bangsa Yahudi adalah homeschooling. Dari sejak Abraham, Ishak, Yakub, sampai seterusnya tidak ada sekolah resmi. Kurikulum yang terpenting bagi mereka adalah teologi. Seorang ibu di rumah mengajarkan hal-hal yang bersifat wahyu umum dan seorang ayah mengajarkan tentang wahyu khusus atau hal-hal yang berhubungan dengan ketuhanan. Di dalam konteks zaman ini, banyak orang tua lemah dalam pengajaran seperti ini. Sharing hidup kita kepada anak akan menentukan berapa besar pengaruh kita pada anak-anak. Jadi orang tua harus mengajar anak-anaknya, secara khusus ibunya. Dari sejak kandungan, kepintaran seorang anak dipengaruhi oleh ibunya sebanyak 70%. Setiap wanita Kristen harus sadar berapa besar pengaruh mereka untuk anak-anak mereka. Bagian berikutnya yang berpengaruh adalah perkembangan otak anak dari usia 1-3 bulan.

 

Latar Belakang Masalah

 

            Ajaran yang harus diberikan paling utama adalah perintah Firman Tuhan kemudian perintah orang tua yang bersifat normatif. Pengajaran spiritual harus diprioritaskan. Semuanya harus diajarkan sesuai tahap umur anak-anak. Seringkali orang tua mengajarkan anak berdasarkan budaya namun mengabaikan perintah Firman Tuhan dari sejak kecilnya. Akibatnya keluarga bisa menjadi kacau. Sesama saudara kandung bisa saling tidak memerhatikan dan bisa membuat orang tua marah. Apakah ini yang Tuhan inginkan? Tidak. Tuhan tidak pernah memprogram agar keluarga menjadi berantakan atau kacau. Kita harus bisa menanamkan prinsip keteraturan Tuhan di dalam keluarga. Kita teratur bukan karena takut dengan hal-hal yang bersifat eksternal tetapi karena hati yang taat. Yehezkiel 36:26 menyatakan bahwa Tuhan memberikan kita hati yang taat. Hukum Tuhan dituliskan di dalam hati kita ketika kita percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Saat kita lahir baru, kita diberikan hati yang takut akan Tuhan karena Allah Roh Kudus. Anak harus diajarkan untuk takut berbuat dosa dan takut egois. Firman Tuhan harus ditanamkan sebagai sumber keteraturan di dalam hati anak-anak. Firman Tuhan bisa mengoreksi dan membimbing anak-anak kita supaya mereka mengerti keteraturan. Program Tuhan adalah keteraturan. Ibadah jemaat di Korintus menjadi kacau karena mereka tidak mengerti bahwa pusat ibadah adalah Kristus dan Firman-Nya. Mereka diajarkan bahwa ibadah harus dijalankan dengan teratur. Pekerjaan Allah Roh Kudus selalu mendatangkan keteraturan dan bukan kekacauan. Maka jelas sekali bahwa keluarga harus mementingkan Firman Tuhan. Di dalam setiap keluarga harus ada mezbah untuk mencapai keteraturan itu. Sebagai orang tua kita harus meminta hikmat, kekuatan, dan penyertaan Tuhan dalam mendidik anak-anak karena yang terpenting bukanlah jumlah anak tetapi anak-anak itu hidup dan menjalankan perannya di dalam Tuhan.

 

            Terkadang orang tua tidak mengerti tentang etika dan cara untuk menyelesaikan masalah hubungan suami istri. Terkadang orang tua tidak punya penguasaan diri dalam menyelesaikan masalah di situasi-situasi tertentu. Anak-anak seringkali menjadi korban dalam konflik orang tua. Mereka bisa menjadi trauma serta nilai afeksi dan emosi mereka menjadi rusak karena emosi yang tidak suci dari orang tua. Ini bukanlah program Tuhan. Tuhan tidak mau kita menjadi budak emosi. Kita seharusnya menjadi budak kebenaran dan kesucian Tuhan. Ketika kita hadir di dalam kepenuhan Roh Kudus, semua yang kacau menjadi teratur dan semua yang tidak jelas menjadi jelas. Kedamaian juga adalah tanda bahwa hidup kita dipenuhi Roh Kudus. Di dalam rumah kita harus mengusahakan untuk mengerjakan segala tanggung jawab kita sendiri tanpa harus konflik dan dipaksa. Di dalam semua itu ada proses yang di mana kita membutuhkan kesabaran dan kita harus peka akan setiap masa. Kita harus menjadi penyelesai masalah di dalam kehadiran kita, bukan menambah masalah. Kehadiran kita harus membawa damai Tuhan di manapun kita berada. Di dalam kehidupan bersama, kita harus menjadi pemberi solusi dan bukan malah membalas orang lain yang bersalah terhadap kita. Kita tidak boleh menjadi sumber konflik dan harus mengomunikasikan segala sesuatu di dalam kasih. Edukasi harus kita berikan kepada mereka yang memerlukannya agar semuanya dapat dibangun. Amsal 27:17 Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya. Itulah yang terjadi dalam kehidupan bersama. Di dalam prosesnya kita harus membawa damai dan membawa solusi, bukan membawa masalah.

 

            Tangan orang tua harus memegang tangan anak. Orang tua harus mendidik anak-anaknya sejak dini. Hati anak-anak harus diambil orang tua dari sejak kecilnya. Bimbingan harus mulai diberikan dari sejak dini. Pendidikan kepada anak bukan dimulai ketika sudah ada masalah atau ketika anak-anak sudah menjadi kurang ajar. Jika ini kita lakukan, maka kita sudah menjadi pahlawan iman bagi anak-anak kita (Mazmur 127). Anak-anak kita seperti anak-anak panah yang dilepaskan untuk mencapai tujuannya mulai sejak dini. Semua dimulai dengan Ulangan 6:6-7. Pendidikan untuk anak harus diberikan selama ia masih tinggal bersama dengan kita. Firman Tuhan itu harus diajarkan berulang-ulang. Caranya harus dinamis, bukan kaku, dan substansinya harus tercapai. Kebaktian keluarga dan saat teduh bersama itu sangat penting untuk dilakukan setiap hari. Di dalam semua itu ada pengorbanan, komitmen, dan ketekunan, namun di sini ada hukum tabur tuai. Setiap anak harus dididik mulai sedini mungkin. Anak-anak yang sudah belajar tertib di rumah akan tertib beribadah di gereja. Di sini kita belajar untuk mengajar perintah Tuhan dan bukan sekadar perintah orang tua kepada anak-anak. Kita orang tua adalah alat di mata Tuhan. Anak-anak kita adalah titipan atau anugerah Tuhan. Mereka sudah jatuh di dalam dosa, maka dari itu kita harus mengambil hati mereka dengan pendekatan Firman Tuhan, bukan pendekatan budaya dan normatif orang tua.

 

Mengapa Hal Ini Penting? Hukum Tabur Tuai

 

Mengapa mengajarkan Firman Tuhan itu penting? Ada hukum tabur tuai di dunia ini. Penguasa dunia ini adalah Setan setelah manusia jatuh dalam dosa, namun penguasa dari seluruhnya adalah Tuhan. Setelah berdosa, manusia dihukum dan Setan diizinkan memiliki kuasa untuk sementara waktu sebelum akhir zaman. Pertama, orang tua memiliki peran untuk mengajarkan anak-anak tentang takut akan Allah. Takut bukan terhadap hukuman-Nya tetapi takut yang mengandung rasa hormat terhadap semua keputusan Tuhan. Anak-anak harus diajarkan untuk bersikap hormat dalam ibadah di dalam kekudusan. Mereka harus mengenal Allah yang maha kudus. Kita yang sudah ditebus tidak boleh lagi bermain-main dengan dosa. Anak-anak juga harus mengenal Allah yang maha tahu, maha kuasa, dan maha hadir. Di dalam takut akan Allah anak-anak diajarkan untuk tidak menyembunyikan dosa dan tidak bermain-main dengan dosa. Perlahan-lahan mereka akan bertumbuh untuk semakin melihat kepada Allah dan bukan guru mereka. Kelahiran baru anak-anak adalah kebahagiaan orang tua. Benih Firman Tuhan itu memerdekakan hati anak-anak. Di dalam hati mereka Kristus bertakhta dan Allah Roh Kudus memeteraikan keselamatan. Jika hal ini tidak ada, maka Setan akan bekerja untuk membuat anak-anak kita tidak senang akan nilai-nilai ketuhanan, keteraturan, dan kesucian sampai akhirnya anak-anak kita menolak dan membenci Tuhan. Ada seorang anak yang berasal dari keluarga yang terpecah (broken home). Ketika dewasa, ia belajar di Amerika dan menjadi penganut free thinker. Ia merasa nilai-nilai ketuhanan itu tidak penting. Namun setelah ia mendengar kesaksian seorang anak muda yang beriman kepada Tuhan dan sangat dekat dengan orang tuanya, ia menangis dan kemudian menjadi orang Kristen. Ia berasal dari keluarga yang beragama lain, namun ketika ia mendengar tentang kasih yang diceritakan anak muda itu, ia tergerak dan menjadi percaya setelah membaca Alkitab. Setan bisa merebut hati dan pikiran anak-anak kita sampai mereka membenci Tuhan. Itu bisa disebabkan karena kita sebagai orang tua gagal mengajarkan Firman Tuhan kepada anak-anak.

 

Kedua, dengan Firman Tuhan kita harus mengajarkan anak-anak untuk menjaga pikiran yang baik, benar, dan suci. Rasul Petrus dan Rasul Paulus menulis tentang hal ini di dalam surat-surat mereka. Kita tidak boleh menjadi sama dengan dunia ini karena akal budi kita sudah diperbarui (Roma 12:2). Kita harus mengerti kehendak Tuhan yang baik dan sempurna. Setan menjatuhkan manusia pertama-tama melalui pikiran. Setan menggoda pikiran Hawa sehingga ia jatuh. Pada zaman ini gadget bisa dengan sangat mudah menjatuhkan pikiran kita. Gadget bisa mencuri produktivitas kita. Filipi 4:8 Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Ini bisa diraih dengan mengajarkan Firman Tuhan. Peperangan iman kita yang pertama adalah menjaga kualitas berpikir agar kita memiliki pikiran Tuhan. Keinginan kita harus selaras dengan keinginan Tuhan. apa yang kita lakukan harus sesuai apa yang Tuhan mau. Peperangan iman tidak berbicara mengenai perasaan saja. Anak-anak kita harus dibuat sadar bahwa mereka sedang menjalani peperangan iman. Ini agar mereka selalu waspada terhadap Setan, pertama-tama dalam pikiran mereka. Mereka yang mengerti hal ini pasti akan segera mengaku dosa setelah melakukan dosa di dalam hati atau pikiran. Inilah mengapa anak-anak harus dididik sebelum mereka menjadi kurang ajar atau keras kepala. Anak-anak harus dididik sejak dini. Mereka yang baru mendidik anak setelah anak menjadi kurang ajar memang belum terlambat namun harus menanggung salib yang berat. Ada anak-anak di keluarga-keluarga Kristen, meskipun tidak belajar beribadah dalam ibadah keluarga rutin, diberikan anugerah sehingga mereka lahir baru. Ada pula keluarga-keluarga yang terlalu keras mendidik anak sehingga mereka tidak mendapatkan berkat.

 

Ketiga, anak-anak harus diajar untuk menaati orang tua. Orang tua adalah alat di mata Tuhan. Ketika anak-anak sudah diajar untuk melihat kepada Tuhan, mereka juga akan belajar untuk taat total. Hukum Taurat mengajarkan untuk menghormati orang tua. Jadi kita tidak boleh membenci orang tua. Kata-kata kita tidak boleh menghina orang tua kita. Kita memiliki orang tua kita yang sekarang karena kedaulatan Tuhan. Kita harus menerima itu. Meskipun orang tua kita mengalami kelemahan fisik karena penyakit dan usia, kita harus tetap menghormati mereka. Di dalam setiap kesulitan dan tantangan kita harus menunjukkan pengabdian kita kepada orang tua. Di dalam semua itu kita harus menjaga perasaan agar tidak marah, mengeluh, dan kecewa. Jika anak-anak tidak diajarkan untuk menghormati orang tua, maka mereka akan memberontak dan menyakiti hati orang tua. Inilah mengapa setiap orang tua Kristen harus memenangkan hati anak-anak mereka. Setiap anak harus dibuat tunduk di hadapan Tuhan. anak-anak bisa menjadi pemberontak di rumah karena kita sebagai orang tua tidak menjadi teladan atau contoh. Jadi bukan hanya kata-kata kita yang penting tetapi juga contoh hidup. Apa yang kita ajarkan dan contoh hidup kita harus sejalan.

 

Keempat, orang tua zaman sekarang perlu turut campur dalam memilih teman atau pergaulan bagi anak-anak kita, termasuk melalui media sosial. Anak-anak tidak boleh menyembunyikan sesuatu yang berdosa dari orang tuanya. Orang tua harus selalu memerhatikan apa yang anaknya lakukan termasuk dalam media sosial. Semua teman atau pergaulan yang negatif harus dijauhkan dari anak. Pengaruh pergaulan itu begitu kuat, maka dari itu kita harus waspada. Orang tua harus berperan dalam hal ini dan anak harus percaya kepada orang tuanya. Orang tua tidak boleh memberikan kebebasan kepada anak yang belum teruji iman dan karakternya. Semua harus ada dalam kendali orang tua sampai anak itu dewasa. Orang tua harus mengetahui siapa orang-orang yang mendekati atau didekati anak-anaknya. Setan bisa menawarkan pergaulan yang menarik namun merusak, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Penyesatan bisa masuk melalui pergaulan. Anak-anak kita harus memiliki komunitas di gereja sehingga mereka terjaga. Ini adalah program Tuhan.

 

Kelima, orang tua harus mengajarkan anak untuk mengontrol keinginan, baik itu keinginan mata, mengatur waktu, keinginan makan, dan lainnya. Semua harus dikontrol dengan iman. Anak-anak tidak boleh diberikan gadget sebelum iman, kemandirian, dan tanggung jawab mereka teruji. Jika anak-anak sudah bisa mengatur waktu dan tanggung jawabnya, maka boleh pelan-pelan dipercayakan untuk menggunakan gadget, itu pun sesuai dengan kebutuhannya. Jika tidak demikian, maka Setan bisa menanamkan keinginan dan kepuasan yang tidak suci sehingga perlahan-lahan anak-anak akan menjadi rusak dan hancur. Di sinilah orang tua harus menabur benih-benih yang baik. Setan bisa menabur benih yang buruk pada malam hari, jadi di sini ada peperangan. Dari sejak dini kita harus mengarahkan hati anak-anak kita kepada Tuhan. Mazmur 126:5 Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang tua bisa mendidik dalam kesedihan namun tidak boleh berputus asa karena ada harapan dan arahan dari Tuhan. Tuhan memercayakan anak-anak kepada kita dan kita harus bertanggung jawab kepada Tuhan. Orang tua yang mendidik anak-anak bukan berdasarkan Firman Tuhan tetapi pengalamannya akan salah mendidik anak. Jika orang tua menabur benih Firman Tuhan, maka kelak mereka akan menabur dengan sukacita. Banyak anak yang sudah salah didik dari kecilnya akhirnya ketika menjadi dewasa mereka memberontak dan melawan orang tua.

 

8 Perintah Allah dalam Mendidik Anak

 

            Pengajaran orang tua kepada anak setidaknya harus mengandung 8 aspek ini. Baik secara formal atau non-formal, anak-anak harus diajarkan untuk mengasihi Tuhan. Pada hari Minggu kita harus mengajak anak-anak beribadah dan pada hari biasa anak-anak harus diajar untuk membaca Alkitab. Anak-anak harus diajar untuk takut akan Tuhan sehingga mereka tidak bermain-main dalam dosa. Anak-anak harus sadar bahwa di dalam setiap dosa ada konsekuensi. Kita harus mengajar agar anak-anak bersandar pada Tuhan dalam situasi apapun juga, minimal dalam sikap berdoa, punya hati bersyukur, dan punya hati yang terus meminta kekuatan dari Tuhan. Anak-anak harus belajar untuk menaati orang tua secara total sepanjang orang tua mengatakan dan melakukan apa yang Tuhan inginkan. Anak-anak harus memiliki kekudusan pikiran secara total. Mereka harus memiliki hikmat dan penguasaan diri secara penuh. Perjuangan dan tanggung jawab juga harus mereka miliki di dalam setiap tahap hidup mereka. Di dalam hal ini anak-anak harus belajar untuk menghargai setiap anugerah Tuhan. Terakhir, anak-anak harus belajar untuk mengasihi sesama manusia. Orang lain bisa melihat Tuhan melalui relasi kita. Di situ mereka menjadi kesaksian.

 

Penutup

 

            Anak-anak harus dididik dari sejak dini dalam prinsip-prinsip Firman Tuhan. Hati anak harus dimenangkan oleh orang tua dari sejak mereka kecil. Anak-anak harus diarahkan untuk berjalan menuju tujuan yang ditetapkan Tuhan. Masa depan anak-anak kita bergantung pada relasi kita dan anak-anak kita dengan Tuhan. Kepekaan kita akan kehendak Tuhan itu menentukan apakah kita akan mengikuti program Tuhan atau tidak. Sebagai keluarga Kristen kita harus mengikuti program Tuhan.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami