Mendekatkan Diri Kepada Allah

Mendekatkan Diri Kepada Allah

Categories:

Bacaan alkitab: Yakobus 4:4-10

 

Pendahuluan

Pernahkah kita merenungkan apakah sudah ada perkembangan dalam hidup kita dalam waktu 6 bulan ini?  Perkembangan yang kita pikirkan bukan saja dalam hal pekerjaan, ekonomi, dan jabatan tetapi juga kerohanian. Kita harus merenungkan apakah kita sudah menjadi pengikut Kristus yang sejati atau belum. Kita harus bertanya apakah selama ini kita merasa diri kita baik-baik saja tanpa perkembangan dalam pengenalan kita akan Tuhan atau tidak. Kita harus merenungkan bagaimana relasi kita dengan Tuhan saat ini.

 

Pembahasan

Surat Yakobus ini ditujukan untuk jemaat di perantauan. Ada beberapa masalah yang terjadi dalam jemaat ini. Yakobus menulis ayat 4:8 karena jemaat pada saat itu sedang jauh dari Tuhan atau tidak secara aktif mendekatkan diri kepada Tuhan. Masalah lain yang berhubungan dengan masalah ini adalah pemahaman mereka yang salah tentang iman. Yakobus menulis: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati (2:17). Jemaat perantauan berpikir bahwa iman itu hanya berbicara mengenai pengetahuan dan persetujuan mengenai pengetahuan itu. Mereka tidak sampai pada iman sejati yang mencakup perbuatan. Ada penafsir yang menyatakan bahwa jemaat perantauan ini mungkin salah menafsir pengajaran Paulus tentang pembenaran hanya melalui iman dan bukan perbuatan. Jemaat perantauan merasa bahwa perbuatan itu tidak penting dalam kekristenan. Namun Yakobus menjelaskan bahwa iman yang sejati itu menghasilkan perbuatan. Iman yang sejati itu bagaikan api di atas lilin dan iman yang palsu itu bagaikan gambar lilin dan api. Iman yang palsu itu hanyalah gambar dan bukan api yang hidup. Yakobus sebenarnya juga menyatakan bahwa iman kosong yang dimiliki jemaat itu adalah iman yang juga dimiliki oleh Setan. Yakobus menulis: Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar (2:19). Jadi setan-setan juga beriman atau percaya, namun mereka tidak menyembah Allah.

 

Kata ‘percaya’ pada ayat ini dalam bahasa Yunani-nya adalah pistis yang berarti iman. Definisi iman dalam surat Yakobus itu berbeda dengan definisi iman dalam surat-surat Paulus. Yakobus memakai istilah iman dalam arti orang yang beriman itu memiliki pengetahuan dan setuju dengan pengetahuan tersebut. Kalimat ‘kata Alkitab, baptisan itu penting’ adalah pengetahuan. Siapapun bisa mempelajari pengetahuan tersebut. Namun pertanyaannya adalah: apakah kita setuju dengan pengetahuan tersebut? Jika kita setuju dan menganggap perkataan Alkitab sebagai kebenaran, maka pertanyaan berikutnya adalah: apakah kita sudah dibaptis? Jika kita belum dibaptis, maka mengapa kita belum melaksanakan perintah baptis yang kita setujui itu? Iman yang dimiliki jemaat perantauan adalah iman yang hanya mengandung pengetahuan dan persetujuan namun tidak sampai kepada pelaksanaan dari Firman Tuhan. Mereka tahu tetapi tidak menghidupi Firman Tuhan dan tidak bersandar kepada Tuhan. Setan sangat setuju bahwa Yesus adalah Anak Allah. Di dalam kitab-kitab Injil berkali-kali setan-setan memberikan pengakuan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Kendati demikian, mereka tidak mau menyembah Yesus. Ini adalah iman kosong atau iman palsu yang dimiliki jemaat perantauan.. Kita bisa merenungkan dan bertanya kepada diri kita berapa banyak dari Firman Tuhan yang sudah kita pelajari itu sudah kita hidupi. Perenungan ini seharusnya kita lakukan setiap hari karena Mazmur 1:2 menyatakan: tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Kita harus memeriksa apakah iman kita sejati atau tidak. Semua teguran yang ditulis untuk jemaat perantauan berlaku juga bagi kita saat ini.

 

Apakah dengan iman yang palsu seperti itu kita bisa mendekat kepada Allah? tidak mungkin bisa. Tuhan bukan berkenan kepada orang yang hanya pintar atau hanya setuju dengan-Nya tetapi berkenan kepada mereka yang mau mengikut-Nya setiap hari (Lukas 9:23). Tuhan mau kita mengasihi-Nya dengan seluruh aspek dalam hidup kita, bukan hanya pikiran kita. Firman Tuhan itu harus mendapatkan tempat dalam seluruh aspek hidup kita. Kita diperintahkan untuk mendekat kepada Allah. Perintah ini menuntut kita untuk aktif. Di sisi lain kita melihat bahwa Allah-lah yang berinisiatif mengasihi kita sehingga kemudian kita bisa mengasihi Dia (1 Yohanes 4:19). Banyak orang yang mengaku Reformed telah terjebak dalam konsep Hypercalvinism yang menekankan kedaulatan Allah namun mengabaikan tanggung jawab manusia. Ketika mereka jauh dari Allah, mereka tidak secara aktif mendekatkan diri kepada Allah. Mereka hanya menunggu dan berharap Allah mendekat kepada mereka lagi. Allah ingin kita aktif mendekatkan diri kepada-Nya. Hal ini tidak mengurangi kedaulatan Allah sedikitpun. Ini adalah perintah yang diberikan oleh Allah yang berdaulat penuh itu sendiri. Orang yang mendapatkan anugerah dan panggilan Allah seharusnya memberikan respons yang aktif. Dalam Efesus 4:1 Paulus memerintahkan jemaat agar hidup mereka berpadanan dengan panggilan yang sudah diberikan kepada mereka. Jadi panggilan itu diberikan terlebih dahulu oleh Tuhan lalu mereka harus hidup sesuai dengan panggilan itu. Di dalam kepercayaan lain, hal yang sebaliknya terjadi. Hidup para pengikutnya harus sesuai dengan perintah-perintah agama, baru kemudian mereka diterima sebagai pengikut yang sejati. Di dalam kekristenan, relasi kita dengan Tuhan adalah seperti anak dan ayah. Ayah yang baik pasti mengakui anaknya terlebih dahulu dan mendorongnya menjadi anak yang baik. Di dalam kepercayaan lain, ayah tersebut baru menerimanya sebagai anak setelah ia menjadi anak yang sempurna di mata ayahnya.

 

Alkitab menyatakan bahwa Allah menjadikan kita sebagai anak-anak-Nya (1 Yohanes 3:1). Sebagai Bapa yang baik, Ia memimpin hidup kita sehingga kita menjadi anak-anak yang berkenan kepada-Nya. Allah sudah mencari dan memanggil kita, maka respons kita seharusnya adalah mendekatkan diri kepada-Nya. Ini berbicara mengenai relasi. Dalam Injil Lukas, perumpamaan anak yang hilang itu diletakkan dekat dengan perumpamaan domba yang hilang dan perumpamaan dirham yang hilang (Lukas 15). Di dalam perumpamaan domba dan dirham yang hilang, pihak yang aktif mencari adalah pemilik domba atau dirham itu. Domba tidak mungkin pulang dengan kemampuannya sendiri dan dirham tidak bisa berjalan mencari pemiliknya. Namun di dalam perumpamaan anak yang hilang, anak tersebutlah yang berpikir untuk pulang kembali. Bagian ini menjelaskan tentang respons aktif dari manusia berdosa yang sadar bahwa dirinya harus kembali kepada Tuhan. Jadi bagian ini tidak bertentangan dengan konsep kedaulatan Allah. perintah untuk mendekatkan diri kepada Allah itu berhubungan dengan 4:4 ‘persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah’ dan 4:7 ‘tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu’. Jika kita ingin mendekatkan diri kepada Allah, maka kita harus bermusuhan dengan dunia dan melawan Iblis. Kita tidak dapat merangkul semuanya sekaligus. Kita juga tidak bisa memilih posisi netral. Kita harus memilih antara Allah atau hal-hal selain Allah. Ketika kita memutuskan untuk memilih Allah, maka kita tidak bisa bersahabat dengan dunia dan Iblis. Bersahabat dengan dunia berarti mencintai segala hal berdosa atau melawan Allah yang ada dalam dunia ini. Ada banyak hal berdosa di dunia yang memikat hati kita. Iblis mencobai Yesus dengan menawarkan seluruh dunia kepada-Nya (Lukas 4:6-7). Satu hal yang Iblis tuntut adalah penyembahan Yesus kepada Iblis. Ia mengajak Yesus melakukan 1 dosa demi mendapatkan seluruh dunia. Iblis membujuk Yesus agar tidak mengambil jalan salib. Yesus mengalami banyak penolakan, penghinaan, dan penderitaan selama ia hidup di dunia karena Ia mengambil jalan salib.

 

Iblis menawarkan jalan yang cepat dan mudah namun berdosa. Dunia juga sering menawarkan jalan yang demikian kepada kita. Kita sering digoda oleh dunia agar mengambil jalan yang berdosa demi mencapai kesuksesan. Ada orang-orang Kristen yang akhirnya mengambil jalan berdosa demi kesuksesan namun kemudian menghibur diri mereka sendiri dengan menyatakan bahwa sebagian dari kesuksesan mereka akan dipersembahkan untuk Tuhan. Saul tidak mengikuti perintah Tuhan untuk menumpas semua hewan dengan alasan bahwa hewan tersebut akan ia berikan untuk Tuhan (1 Samuel 15:1-35). Samuel kemudian menegur Saul (ayat 22): Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. Ini bukan berarti Tuhan sama sekali tidak mengindahkan persembahan, tetapi Tuhan mau supaya umat-Nya taat. Tuhan Yesus menolak tawaran Iblis dan tetap berjalan dalam jalan salib. Yesus tahu bahwa inilah yang Bapa-Nya inginkan karena relasi-Nya begitu dekat dengan Bapa. Ketika kita mau mendekat kepada Allah, kita harus mengambil jalan salib. Tidak ada jalan instan dalam relasi kita dengan Allah. Beberapa tahun yang lalu ada berita yang menyatakan bahwa banyak calon legislatif telah membeli gelar agar tampak terdidik sehingga elektabilitas mereka meningkat. Mereka tidak mau menjalani pendidikan formal karena merepotkan dan menyita banyak waktu. Pada akhirnya mereka mengambil jalan instan yaitu membeli gelar. Inilah cara dunia yang berdosa. Jika kita mengikuti cara dunia, maka banyak hal akan menjadi mudah dan cepat, namun persahabatan dengan dunia itu merupakan permusuhan dengan Allah.

 

Komitmen kita untuk memberikan hidup kita lebih banyak kepada Allah seringkali membuat kita tidak punya waktu untuk banyak kesenangan dunia. Tidak semua kesenangan dunia itu berdosa, namun jika kita berkomitmen untuk memberikan banyak waktu kita untuk gereja, maka secara otomatis kita akan kehilangan waktu untuk menikmati kesenangan-kesenangan itu. Ketika kita memilih keputusan itu, maka kita bisa kehilangan pergaulan dengan orang-orang yang jarang melayani Tuhan. Di dalam komitmen kita untuk semakin menyerahkan diri kepada Tuhan, kita mungkin meneteskan air mata di dalam prosesnya atau perjalanannya, namun kita harus menyadari bahwa pimpinan dan penyertaan Tuhan adalah yang terbaik di dalam hidup kita. Allah mengetahui yang terbaik bagi kita dan kita harus percaya kepada-Nya. Ketika kita harus memilih di antara berbagai jalan hidup, manakah yang kita pilih? Apakah kita lebih memilih jalan hidup yang paling sesuai dengan panggilan kita atau kita lebih memilih hidup yang penuh dengan kesenangan? Setiap pilihan yang kita ambil pasti mengandung konsekuensi. Kita harus memikirkan secara matang apakah segala kesenangan yang kita inginkan itu jauh lebih baik daripada kebaikan Tuhan Yesus yang sudah mengorbankan diri-Nya untuk keselamatan kita yang kekal.

 

Firman Tuhan ini memerintahkan kita untuk melawan Iblis. Kita yang mau mengikut Tuhan harus menolak segala tawaran Iblis. Iblis menggoda Yesus untuk mengubah batu menjadi roti ketika Ia sedang merasa lapar (Lukas 4:2-3). Pada zaman itu, bentuk dan warna roti itu mirip sekali dengan batu. Ketika kita melihat batu, maka mudah sekali bagi kita untuk membayangkan batu itu sebagai roti. Yesus yang sedang lapar pada saat itu secara fisik pasti membutuhkan makanan, namun Yesus menolak godaan Iblis dengan mengutip Firman Tuhan (Lukas 4:4). Yesus yang begitu dekat dengan Bapa melawan Iblis dengan Firman Tuhan. dalam Efesus 6:17 dinyatakan bahwa pedang Roh itu adalah Firman Tuhan. Kita bisa melawan Iblis hanya ketika kita memiliki senjata rohani itu yaitu Firman Tuhan. Yesus tetap memilih untuk menyembah Allah dan tidak menyembah Iblis meskipun dengan demikian Ia harus mengambil jalan salib. Dalam Lukas 4:10, Iblis mencobai Yesus dengan mengutip Firman Tuhan. Iblis mengutip Firman Tuhan dan menyalahgunakan untuk mencobai Yesus. Yesus menjawabnya juga dengan mengutip Firman Tuhan. Inilah jawaban Yesus yang sangat dekat dengan Bapa. Sudahkah kita memiliki keseriusan dalam melawan dunia dan Iblis? Kita bisa mempelajari ketekunan Iblis dan hikmatnya dalam memakai strategi, namun hanya sampai di sana saja. Banyak orang Israel mau menjadikan Yesus sebagai raja, namun Ia menolak permintaan itu karena memang itu bukan panggilan-Nya (Yohanes 6:15). Ia sadar benar apa visi dan misi yang diberikan oleh Bapa-Nya dan Ia menjalankan itu semua.

 

Apa yang biasanya menjadi kendala sehingga orang-orang tidak mau mendekat kepada Allah? Dalam Perjanjian Lama dicatat orang-orang yang tidak mau mendekat kepada Allah dan alasannya. Esau merendahkan hak kesulungannya demi semangkuk makanan (Kejadian 25:30-34). Hak kesulungan itu tidak hanya berbicara mengenai harta tetapi lebih daripada itu yaitu penyertaan Tuhan bagi dirinya dan keturunannya. Hak kesulungan itu begitu besar namun Esau menganggap itu tidak lebih besar daripada semangkuk makanan. Kita mungkin bisa menghina Esau namun kita harus merenungkan dan memikirkan kemungkinan bahwa bisa saja kita membuat pilihan seperti Esau. Karena alasan sepele ia menolak penyertaan Tuhan. Mungkin di dalam hidup kita, kita pernah melakukan hal yang sama. Ketika kita membuat pilihan yang salah, kita harus bertobat. Jangan sampai kita berpikir bahwa segala dosa yang kita lakukan itu tidak diperhatikan oleh Tuhan. Ketika kita telah melakukan dosa dan merasa bahwa hidup kita baik-baik saja, kita tidak boleh berpikir bahwa Tuhan tetap berkenan kepada kita meskipun kita tetap melakukan dosa itu. Tuhan sebenarnya sedang bersabar dan menunggu kita untuk bertobat (Roma 2:4). Kita tidak boleh berpikir bahwa Tuhan akan terus menerus menunggu dan bahwa kita masih boleh melakukan dosa. Sebaliknya, kita harus segera bertobat ketika masih diberikan kesempatan. Contoh yang kedua adalah orang Israel di padang gurun. Dalam Bilangan 11:4-6 dikatakan bahwa orang Israel memiliki nafsu rakus. Mereka merendahkan roti manna yang Tuhan berikan dari surga dan ingin kembali ke Mesir agar mereka bisa memakan ikan, semangka, mentimun, bawang prei, bawang merah, dan bawang putih. Jadi mereka meninggalkan Tuhan dan mau kembali ke kehidupan yang lama karena alasan sepele. Kita pun bisa jatuh karena hal-hal sepele. Maka dari itu kita harus waspada. Godaan dosa itu begitu memikat. Iblis bisa menggunakan hal-hal sepele yang menyentuh titik lemah kita untuk menjatuhkan kita.

 

Ketika kita mendekatkan diri kepada Allah, Yakobus menulis: dan Ia akan mendekat kepadamu. Tuhan memberikan respons ketika kita mendekat kepada-Nya. Respons ini diberikan-Nya juga di dalam kedaulatan-Nya, jadi hal ini tidak mengurangi kedaulatan Allah sedikitpun. Ini adalah janji yang menghibur kita. Yakobus tidak menulis “mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mempertimbangkan apakah Ia akan mendekat kepadamu atau tidak”. Ada kepastian dalam janji ini. seberapa kotorpun diri kita, ketika kita mau mendekat kepada Allah, maka Allah pasti mendekat kepada kita. Dalam perumpamaan anak yang hilang itu, anak itu begitu kotor dan bau karena ia bekerja sebagai penjaga babi (Lukas 15:15). Namun ketika ia pulang, bapanya langsung menyambutnya dengan pelukan (ayat 20). Bapanya sama sekali tidak ragu untuk berlari dan memeluk anaknya. Ia tidak merasa jijik sama sekali. Kita bisa membayangkan bahwa sang bapa tinggal di lingkungan yang begitu bersih dan harum sehingga tidak terbiasa dengan bau menyengat dan lingkungan yang kotor. Namun ketika ia melihat anaknya yang pulang kembali itu, ia sama sekali tidak menghiraukan bajunya yang kotor dan bau. Tuhan tidak meminta kita untuk membersihkan diri terlebih dahulu baru kemudian mendekat kepada Tuhan. Sebaliknya, ketika kita mendekatkan diri kepada Tuhan, kita akan dibersihkan dan disucikan oleh-Nya. Ini adalah pengharapan bagi kita yang masih menyimpan dosa dan berpikir bahwa kita tidak boleh mendekat kepada-Nya karena dosa itu. Kita yang masih berdosa ini, alih-alih menjauh dari Tuhan, justru seharusnya semakin mendekatkan diri kepada Tuhan agar disucikan. Jika kita berpikir untuk membersihkan diri dengan kekuatan kita sendiri baru kemudian mendekat kepada Allah, maka kita harus mengubah cara berpikir kita. Kita tidak mungkin bisa membersihkan diri kita sendiri dengan kekuatan kita. Kita membutuhkan pertolongan Allah dalam hal ini.

 

Dalam relasi kita dengan Allah, kita harus mendekat kepada Allah terlebih dahulu kemudian Allah mengubah kita menjadi manusia yang lebih baik. Yesaya 66:2b Tetapi kepada orang inilah Aku memandang: kepada orang yang tertindas dan patah semangatnya dan yang gentar kepada firman-Ku. Mazmur 51:19 Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah. Yesaya 42:3 Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum. Pdt. Stephen Tong pernah menyatakan bahwa para arsitek dunia menggunakan bahan-bahan yang terbaik tanpa cacat untuk membangun bangunan yang indah, namun Allah menggunakan orang-orang yang hancur hatinya untuk membangun Kerajaan Allah. Jangan sampai kita percaya seperti Setan percaya. Setan takut kepada Allah namun ia lari dan tidak mau menyembah-Nya. Kita harus takut dan dengan gentar berlutut menyembah Allah. Inilah takut akan Allah yang benar. Dalam Yakobus 4:8 juga dikatakan ‘tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa’. Jadi untuk mendekatkan diri kepada Allah, kita harus punya hati yang sungguh-sungguh bertobat. Bukan pikiran saja yang kita bawa mendekat kepada Tuhan tetapi juga perbuatan. Seluruh hidup kita harus dibawa ke dekat Allah. Kita mengingat perintah untuk mengasihi Allah dengan seluruh aspek dalam kehidupan kita.

 

Dituliskan juga ‘sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati’. Mendua hati berarti memiliki 2 tuan dalam hidup. Yesus berkata: Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon (Lukas 16:13). Ini karena ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Ketika bekerja dalam suatu perusahaan, mengabdi untuk 1 atasan saja sudah melelahkan. Jika kita mau mengabdikan diri pada 2 atasan, maka itu bukanlah hal yang mungkin. Maka dari itu kita harus memilih dan mengambil komitmen pada pilihan itu. Yakobus 1:8 Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya. Dalam beberapa terjemahan bahasa Inggris ditulis ‘unstable in all his ways’. Orang yang menyembah 2 tuan tidak akan jelas jalan hidupnya. Orang seperti ini tidak mungkin menyenangkan Allah. Ia tidak bisa mengasihi Allah dengan totalitas. Banyak orang mencintai uang namun uang tersebut tidak mungkin mencintainya kembali. Namun jika kita mengasihi Allah maka Allah pasti mengasihi kita juga. Malah 1 Yohanes 4:19 menyatakan bahwa Allah telah terlebih dahulu mengasihi kita. Mengapa dalam Lukas 16:13 Allah seperti membandingkan diri-Nya dengan Mamon? Karena di dalam keberdosaannya, manusia lebih memilih Mamon daripada Allah. Mereka yang mencintai uang telah menyepelekan Allah dan membesarkan uang. Ada buku dengan judul ‘Ketika Manusia Dianggap Besar dan Allah Dianggap Kecil’. Judul buku ini menyatakan cara pandang manusia berdosa. Inilah yang menyebabkan manusia lebih takut kepada manusia lainnya daripada kepada Allah. Oleh karena itu kita harus memiliki kesadaran bahwa Allah itu lebih besar dari apapun atau siapapun juga.

 

Ketika orang yang mencintai uang bertemu dengan orang yang juga mencintai uang, maka ada 2 kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama, mereka berteman dan bekerja sama untuk mendapatkan uang lebih banyak, namun persahabatan mereka hanya sampai di sana. Mereka akan berpisah atau tidak lagi menjadi teman ketika tidak bisa lagi bekerja sama untuk mendapatkan uang. Kemungkinan kedua adalah mereka akan berkelahi demi mendapatkan uang lebih banyak. Namun ketika orang yang sungguh mengasihi Tuhan bertemu dengan orang yang juga sungguh mengasihi Tuhan, mereka akan menjadi sahabat dekat, bahkan menjadi saudara. Semakin besar cinta mereka kepada Tuhan, semakin dekat pula relasi mereka. Ini tampak dalam relasi Paulus dengan jemaat. Jadi dalam relasi antara orang yang sama-sama mencintai uang ada kebencian, kerakusan, ketamakan, dan kepahitan, namun dalam relasi antara orang yang sama-sama mengasihi Tuhan ada kasih, sukacita, dan damai sejahtera. Banyak orang mengaku sebagai Kristen namun sebenarnya lebih mencintai uang. Banyak di antara mereka melakukan kerja sama bisnis yang pada akhirnya merugikan karena penipuan dari salah satu pihak atau kedua belah pihak. Manakah yang kita pilih: cinta yang tidak terbalaskan kepada uang atau cinta kepada Allah yang pasti dihargai oleh Allah? Kita harus berhati-hati dalam menjaga hati. Dalam situasi yang baik dan tenang kita cenderung menurunkan kewaspadaan sehingga mudah jatuh ke dalam dosa. Daud setelah berhasil duduk di takhta raja dan tidak ikut berperang pada akhirnya tergoda ketika melihat Batsyeba yang sedang mandi (2 Samuel 11:1-27). Ia melakukan perzinahan, membunuh Uria, dan menipu rakyat.

 

Penutup

Ketika kita sedang menikmati situasi yang baik dan tenang, seharusnya kita memanfaatkan waktu itu untuk bergaul lebih akrab dengan Tuhan. Di dalam pergaulan dengan Tuhan, kita akan diubahkan menjadi semakin serupa dengan Tuhan. Selama kita masih belum serupa dengan Kristus, seharusnya kita tidak boleh berhenti bergumul, meskipun kita sedang berada di dalam situasi yang baik dan tenang. Setiap dari kita harus merenungkan beberapa pertanyaan. Sudahkah kita memusuhi dunia? Sudahkah kita melawan Iblis? Sudahkah kita mendekatkan diri kepada Allah dan merindukan keserupaan dengan Kristus? Kita harus merenungkan Firman Tuhan dengan tekun. Mazmur 1:2 menyatakan bahwa kita harus merenungkan Firman Tuhan siang dan malam. Ini berarti kita harus mengingat Firman Tuhan dan sering mengucapkan Firman Tuhan dalam hati kita. Jika kita jarang sekali mengingat Firman Tuhan, maka kemungkinan besar kita belum benar-benar menghayati Firman yang kita baca. Kita harus mengulang-ulang Firman Tuhan dalam hati kita sampai seperti melekat dalam hati kita. Perenungan Firman Tuhan setiap hari itu terlihat seperti hal yang sepele dan sering diabaikan. Kalau kita berencana untuk mendapatkan Firman Tuhan saat khotbah Minggu saja dan mengabaikan saat teduh setiap hari, itu berarti kita mendapatkan pengaruh dunia selama 6 hari penuh dan hanya mendapatkan pengaruh Firman selama 1 jam khotbah. Jika itu yang kita alami, maka kita tidak bisa berharap untuk bertumbuh secara rohani dalam waktu yang lebih cepat. Maka dari itu kita harus bergaul dengan Firman Tuhan setiap hari dan mengharapkan pertumbuhan rohani serta menghasilkan buah rohani yang berkenan kepada Tuhan. Melalui Firman Tuhan yang kita hayati setiap hari, kita bisa mendekatkan diri kepada Allah.

 

(Ringkasan khotbah ini sudah diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Bitnami