Menang Tanpa Peperangan (Musa)

Menang Tanpa Peperangan (Musa)

Categories:

Bacaan alkitab: Keluaran 13:21-22; 14:4, 13-14; dan Mazmur 136:15

 

Pendahuluan

Hidup adalah peperangan rohani. Ini berarti kita tidak boleh hidup santai dan kita tidak boleh mencari kenikmatan yang berpusat pada diri sendiri. Kita sudah ditebus oleh Tuhan dan kita tahu bahwa dunia ini masih dikuasai oleh Iblis. Iblis menguasai dunia dengan tipu muslihatnya untuk memanjakan kita dan membawa kita kepada kenyamanan tanpa iman. Mengapa demikian? Karena kita adalah anak-anak terang yang selalu diperangi oleh Iblis agar iman kita hancur (bandingkan Kejadian 3:15). Sebelum akhir dari segala sesuatu akan ada peperangan terakhir yaitu Gog dan Magog (Wahyu 20:8). Iblis akan terus berusaha dengan segala godaan dan tipu muslihatnya untuk menghancurkan iman kita. Peperangan ini sudah dinubuatkan oleh Tuhan setelah kejatuhan Adam dan Hawa. Di dalam Kejadian 3:15 dikatakan bahwa Tuhan mengadakan permusuhan atau peperangan antara keturunan ular dan keturunan perempuan dimana puncaknya adalah kemenangan Yesus atas Iblis. Iblis meremukkan tumit-Nya namun Yesus meremukkan kepalanya. Iblis dan kejahatannya telah dikalahkan dan seluruh pengikut Iblis akan dimasukkan ke dalam neraka. Apa yang dipersiapkan Tuhan bagi kita di dalam situasi seperti ini (Efesus 6; bandingkan Matius 26:52)? Di dalam Efesus 6 dituliskan bahwa Tuhan memberikan kita perlengkapan perang. Kita diberikan ikat pinggang kebenaran (Efesus 6:14). Jadi mereka yang mengikuti Tuhan harus hidup benar. Anak-anak Allah harus berbajuzirahkan keadilan. Ini berarti hidup kita harus memancarkan keadilan. Kaki kita harus berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil (Efesus 6:15). Jadi kita harus hidup benar, adil, dan rela memberitakan Injil. Kita juga diberikan perisai iman agar kita dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, ketopong keselamatan, dan pedang Roh, yaitu Firman Allah (Efesus 6:16-17). Yesus dicobai oleh Iblis di padang gurun dan Yesus mengalahkan semua cobaan itu dengan Firman Tuhan.

Jadi kita baru bisa mengalahkan Iblis jika kita diperlengkapi dengan Firman. Maka dari itu kita harus membaca dan merenungkan Firman Tuhan. Di sana kita menyatakan ibadah kita dan Iblis membenci hal itu. Iblis tidak takut pada Firman yang hanya ditulis dan ditempel. Ia takut kepada Firman yang diucapkan dan dihidupi oleh orang-orang benar. Ketika Petrus menggunakan pedang untuk melawan orang-orang yang mau menangkap Yesus, Yesus menegurnya (Matius 26:51-52). Yesus berkata bahwa mereka yang menggunakan pedang akan binasa oleh pedang. Ini mengingatkan kita bahwa di dalam Perjanjian Baru Tuhan berdaulat atas semua peperangan dan kita tidak lagi berperang secara fisik. Apakah semua peperangan di Perjanjian Lama dilakukan oleh Allah dan umat-Nya hanya berdiam (bandingkan Yosua 10:40)? Tidak semua peperangan. Dalam Yosua 10:40, Yosua dan bangsa Israel-lah yang berperang. Terkadang kita harus taat secara horizontal lalu kemudian Tuhan turut campur dan terkadang kita diminta untuk menyembah Tuhan saja lalu Tuhan yang berperang. Tuhan-lah yang menentukan cara kita berperang, bukan kita sendiri. Kita sudah mempelajari bahwa Allah memakai 10 tulah untuk menyatakan kuasa dan keadilan-Nya pada dewa-dewa Mesir dan Allah berperang untuk umat-Nya.

 

Pembahasan

Mengapa Allah memakai 10 tulah? Kita sudah melihat bahwa sebenarnya 10 tulah ini mempermalukan dewa-dewa orang Mesir, terutama dewa lalat pikat yang memberikan kelimpahan dan kemakmuran serta dewa Amon-Ra yaitu dewa matahari yang menguasai angkasa. Setiap tulah menyatakan bahwa Tuhan berkuasa di atas setiap dewa yang disembah di Mesir. Tidak ada satupun dewa mereka yang bisa mengalahkan atau mengimbangi Tuhan. Di sini baik bangsa Mesir maupun bangsa Israel diajarkan bahwa tiada yang benar-benar berkuasa selain Allah sendiri. Di dalam tulah ke-10 Allah menyatakan kemenangan atas semua dewa dan menyatakan diri-Nya sebagai satu-satunya Allah yang sejati. Mereka bisa membuat mukjizat namun secara terbatas dan tidak semua tulah bisa ditiru oleh para ahli Mesir. Apa tujuan semuanya ini? Supaya mereka tahu siapa Tuhan dan supaya mereka tahu bahwa Allah itu hidup dan membela umat-Nya. Selama 400 tahun Tuhan tampak diam dan tidak berbuat apapun. Bangsa Mesir mempermainkan dan mempermalukan umat Tuhan melalui perbudakan mereka. Di sisi lain bangsa Israel juga tidak bertobat dan tidak mencari Tuhan. Mereka tidak menyatakan sikap sebagai orang-orang yang beribadah kepada Tuhan. Inilah mengapa selama 400 tahun mereka diizinkan mengalami perbudakan. Selama 30 tahun Israel tinggal di Mesir dalam keadaan yang baik karena ada Yusuf yang memberikan jaminan. Setelah Firaun yang baru, yang tidak mengenal Yusuf itu berkuasa, mereka menderita perbudakan selama 400 tahun. Mengapa Allah yang berperang untuk umat-Nya? Apakah ini membuat Israel manja? Jika pekerjaan sekolah kita semuanya dikerjakan oleh orang tua atau seorang asisten, maka kita akan menjadi manja. Namun di dalam tahapan perkembangan anak ada proses. Ada waktunya orang tua mengendalikan pembelajaran anak misalnya pada masa TK. Pada masa SD dan SMP, secara bertahap orang tua semakin melepas anak sehingga ia belajar secara mandiri. Namun jika pada masa dewasa seseorang masih dibantu dan tidak bisa mandiri, maka ia akan menjadi orang yang manja. Pendidikan tidak boleh memanjakan dan orang tua tidak boleh mencuri perjuangan dan tanggung jawab anak. Tuhan bukan mau memanjakan Israel tetapi mau menyatakan kuasa Tuhan kepada bangsa Israel dan bangsa-bangsa yang lain.

Apa tujuan Allah menyatakan kuasa-Nya? Pertama, untuk menyatakan kemuliaan Tuhan (Keluaran 14:4). Tuhan telah menyatakan bahwa hati Firaun akan dikeraskan. Ketika bangsa Israel sudah keluar dari Mesir, Firaun memutuskan untuk mengejar mereka. Semua ini diizinkan Tuhan untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Tahapan dari kemuliaan dimulai dari inkarnasi Kristus sampai kematian-Nya. Dari kelahiran sampai kematian-Nya ada nilai kemuliaan Tuhan. Kristus mati untuk mematikan kematian dalam diri kita. Hal ini menyatakan kemuliaan Allah. Ia mati untuk kita sehingga kita bisa mendapatkan kehidupan yang kekal. Kristus untuk mengalahkan kuasa dosa yang bisa membawa kita ke dalam maut. Ia juga bangkit pada hari ke-3 dan kita juga akan bangkit kembali ketika Tuhan Yesus datang kembali. Di sini kemuliaan Allah juga dinyatakan. Jadi di dalam seluruh apa yang Kristus kerjakan merupakan penyataan akan kemuliaan-Nya. Pada puncaknya Ia mengalahkan kuasa maut dan memberikan kita keselamatan. Di dalam kisah bangsa Israel yang keluar dari Mesir, ada tahap awal dari penyataan kemuliaan ini. Di sana Allah menyatakan diri-Nya hidup. Di sana Allah menyatakan dirinya sebagai Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Melalui itu juga Allah menyatakan diri-Nya maha kuasa, maha tahu, dan maha hadir. Di sanalah seluruh bangsa Israel melihat kemuliaan Allah. Di dalam 3 bagian ini, kita tahu bahwa Allah tidak diciptakan tetapi menciptakan segala sesuatu dan berkuasa atas semuanya. Ini sungguh berbeda dengan dewa-dewa Mesir yang diciptakan dan begitu terbatas kuasanya. Tuhan menyatakan kemahakuasaan-Nya melalui alam. Tuhan memimpin Israel bukan melalui jalan ke negerti orang Filistin tetapi menuntun mereka berputar melalui jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau (Keluaran 13:17-18). Mereka dipimpin oleh Musa dan kemudian Tuhan menyatakan kuasa-Nya dengan membelah Laut Teberau melalui Musa (Keluaran 14:21). Bangsa Israel melihat bahwa pasukan Mesir ada di belakang mereka dan sedang mengejar mereka. Orang-orang Israel ketakutan namun dikatakan bahwa tiang awan itu menimbulkan kegelapan sehingga tentara Mesir tidak bisa mendekat (Keluaran 14:20). Di sana mereka mengetahui bahwa peperangan sudah dimulai dan Tuhan memulai dengan memakai tiang awan. Tuhan menguatkan bangsa Israel melalui Musa dengan berkata ‘janganlah takut’ (Keluaran 14:13) dan ‘Tuhan akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja’ (Keluaran 14:14). Tuhan memerintahkan Musa untuk mengangkat tongkatnya dan memimpin umat Tuhan berjalan di tanah yang kering. Perjalanan Israel selama di padang gurun dipimpin oleh tiang awan dan tiang api. Jadi penyertaan Tuhan selalu ada pada mereka. Di Laut Teberau bangsa Israel tidak mungkin sempat menikmati air laut, ikan-ikan, serta bermain pasir karena semuanya ada dalam suasana waspada dan ketegangan peperangan. Mereka pasti tidak mengulur-ulur waktu ketika menyeberangi Laut Teberau.

Kedua, untuk menyatakan kesetian Tuhan (Mazmur 136:15). Meskipun umat Allah tidak setia, allah terus menyatakan kesetiaan-Nya kepada umat-Nya. Ketika umat Tuhan tidak memuliakan Tuhan, Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya melalui tiang api dan tiang awan. Ketika bangsa Israel tidak berani berperang, Tuhan menyatakan peperangan dan mengalahkan bangsa Mesir. Mereka tenggelam dan binasa. Hal itu disaksikan oleh seluruh bangsa Israel. melalui semua karya Tuhan, Tuhan menyatakan kebesaran-Nya dan kesetiaan-Nya. Tuhan membunuh seluruh tentara Mesir, apakah ini berarti Tuhan menyukai kematian? Tidak, termasuk kematian orang jahat. Tuhan mau orang jahat bertobat. Namun ketika Tuhan mau menyatakan keadilan, kemuliaan, dan kesetiaan-Nya, Tuhan tidak akan segan2 menghukum orang jahat sehingga mati dalam dosanya. Di sini ada paradoks. Tuhan tidak ingin orang jahat mati tetapi ingin agar orang jahat bertobat. Di sisi lain lain Tuhan akan membunuh orang jahat untuk menyatakan keadilan dan kemuliaan-Nya. Ini menunjukkan bahwa tentara Mesir mati dalam dosa. Tuhan membuat roda-roda kereta tentara Mesir tidak berfungsi dengan baik sehingga akhirnya mereka tidak dapat lari dari air laut itu. Ketika kita tidak sengaja menelan air laut, kita akan merasa tidak nyaman. Tentara Mesir harus mati dengan cara tenggelam dalam air laut, maka itu pasti kematian yang menyiksa. Tuhan membunuh tentara Mesir untuk meredam kejahatan dari pihak mereka dan menyatakan kuasa-Nya. Tuhan menyatakan kuasa-Nya kepada raja Yosafat ketika ia sedang berperang dengan tentara Amon dan Moab. Ia berkata kepada Yosafat: Dalam peperangan ini tidak usah kamu bertempur. Hai Yehuda dan Yerusalem, tinggallah berdiri di tempatmu, dan lihatlah bagaimana TUHAN memberikan kemenangan kepadamu. Janganlah kamu takut dan terkejut. Majulah besok menghadapi mereka, TUHAN akan menyertai kamu (2 Tawarikh 20:17). Tuhan memerintahkan Yosafat dan tentaranya untuk maju tetapi Tuhan yang berperang untuk mereka. Tugas mereka adalah beribadah yaitu bernyanyi dan berdoa. Orang-orang Lewi berdiri dan bernyanyi untuk memuji Tuhan (2 Tawarikh 20:19). Jadi ada waktu dimana kita menghadapi peperangan namun Tuhan yang berperang untuk kita. Di sana tugas kita adalah berdoa dan memuji Tuhan.

Contoh yang kedua terdapat dalam 2 Tawarikh 32:1-23 yaitu pada zaman raja Hizkia. Ia saat itu harus menghadapi tentara Asyur yang dipimpin oleh Sanherib. Hizkia menguatkan rakyat dengan berkata demikian: ‘Yang menyertai dia adalah tangan manusia, tetapi yang menyertai kita adalah TUHAN, Allah kita, yang membantu kita dan melakukan peperangan kita.’ Oleh kata-kata Hizkia, raja Yehuda itu, rakyat mendapat kepercayaannya kembali (2 Tawarikh 32:8). Dari bagian ini kita mengerti bahwa ketika Tuhan mau menyatakan kuasa-Nya dan mau berperang bagi kita, maka tugas kita adalah taat dan beribadah. Kita tidak boleh mempercepat atau memperlambat waktu Tuhan. Tuhan Yesus sudah berperang untuk kita dan menyatakan kemenangan atas maut. Darah-Nya sudah dicurahkan dan kematian tidak bisa mengikat-Nya. Ia sudah bangkit pada hari ke-3 dan memperlihatkan diri-Nya. Tugas kita sekarang adalah berperang secara rohani. Kita harus memakai seluruh perlengkapan rohani kita. Iblis dan tipu muslihatnya adalah musuh kita. Di sini kita harus memakai ikat pinggang kebenaran, baju zirah keadilan, ketopong keselamatan, kasut kerelaan memberitakan Injil, perisai iman, dan pedang Roh. Kita tidak berperang secara fisik dan memang kita tidak dipanggil untuk membalas secara fisik. Cara Tuhan itu jauh lebih indah daripada cara kita berperang.

 

Penutup

Allah berdaulat mengatur segala-galanya, termasuk cara Dia menyatakan kemuliaan-Nya dalam setiap perkara yang terjadi dalam kehidupan kita. Kita harus menyatakan ketaatan kita dalam ibadah, berdoa, dan memuji Tuhan. Tuhan tidak memerhatikan kualitas suara kita tetapi memerhatikan ketulusan kita dalam memuji dan memuliakan-Nya. Ketika kita menghadapi berbagai perkara, baik kecil maupun besar, kita harus meminta penyertaan Tuhan dan meminta agar Tuhan berperang untuk kita. Kita harus mengerjakan apa yang kita bisa kerjakan dan tidak boleh kompromi.

Kita tidak boleh memperlambat waktu Tuhan atau mempercepat waktu Tuhan menurut waktu kita. Musa tidak bisa menyuruh agar Tuhan memperlambat perjalanan karena yang mengatur bukanlah Musa tetapi tiang api dan tiang awan. Tugas kita adalah mengikuti penyertaan Tuhan dan bukan sebaliknya. Kita harus berjuang dan menerobos sehingga bisa sepenuhnya mengikuti Tuhan. Kita tidak boleh beralasan untuk tidak mengikut Tuhan.

Apa yang menjadi tugas kita harus kita kerjakan dengan full commitment: ibadah dan ketaatan – peperangan iman. Di dalam peperangan iman kita harus berdoa untuk meraih jiwa-jiwa demi Tuhan. Di dalam peperangan iman itu Tuhan menyatakan kemuliaan dan kesetiaan-Nya, maka kita harus masuk ke dalam dimensi doa dan peperangan rohani. Kita harus menjadi saluran berkat dan sarana dimana orang-orang di sekitar kita bisa melihat kemuliaan Tuhan melalui hidup kita.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

 

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami