Menang karena Ketaatan (Gideon)

Menang karena Ketaatan (Gideon)

Categories:

Bacaan alkitab: Hakim-Hakim 7:1-25.

 

Pendahuluan

            Hidup ini adalah peperangan rohani. Setelah kita ditebus oleh Tuhan Yesus Kristus, kita diberikan kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Kuasa itu harus kita nyatakan dalam nilai perubahan hidup kita di dalam karakter yang sungguh-sungguh serupa dengan Kristus. Melalui kuasa itu kita juga menyatakan bahwa kita bukan lagi budak dosa, tidak lagi terikat dengan dosa, dan menolak segala tawaran dan bujuk rayu dunia dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Namun pada zaman ini banyak orang terjerat dengan kenikmatan gadget, media sosial, dan teknologi. Jadi orang-orang tidak perlu ke tempat perjudian dan perzinahan untuk berdosa. Mereka cukup tinggal di rumah dan menikmati media sosial, pornografi, serta perjudian online (daring) melalui gadget yang mereka miliki. Dari hal ini orang-orang bisa tercemar pikirannya. Di sini kita belajar bahwa Setan selalu kreatif dalam menjatuhkan manusia setiap waktu. Kita harus menyadari bahwa kita senantiasa hidup dalam peperangan iman. Seluruh hal yang kita pelajari mengingatkan kita bahwa hidup bukanlah sekadar untuk dinikmati. Kita tidak boleh pasif tetapi harus aktif.

Mengapa Tuhan menyaring 32 ribu orang Israel dari suku Asyer, Naftali, dan Manasye yang siap berperang melawan Midian dan hanya tersisa 300 orang? Dari 32 ribu menjadi 300 orang ada suatu loncatan yang luar biasa. Kita akan melihat mengapa Tuhan tidak mau 32 ribu orang dan mengapa Tuhan tidak mau kuantitas dan mau kualitas.

Mengapa Tuhan hanya memakai sangkakala, buyung, dan suluh obor untuk berperang? Mengapa Tuhan tidak memerintahkan Israel untuk membawa pedang, panah, pisau, perisai, kuda perang, dan lainnya? Jika kita ingin berperang dan pemimpin kita memerintahkan untuk membawa hanya gayung, ember, dan barang-barang rumah tangga lainnya, maka kita pasti kebingungan. Musuh Israel memiliki persenjataan yang lengkap sedangkan tentara Gideon tidak membawa senjata perang. Di sana Israel seolah-olah pasif namun di balik itu sebenarnya ada iman yang aktif yang mengandalkan kuasa Tuhan.

 

Pembahasan

Allah melakukan penyaringan iman. Alkitab berkata: banyak yang dipanggil namun sedikit yang dipilih (Matius 22:14). Ada orang yang mendapatkan panggilan umum namun belum tentu mendapatkan panggilan khusus, yaitu anugerah keselamatan. Banyak orang pernah diterangi hatinya oleh Tuhan sehingga mereka menyadari dosanya namun belum tentu mereka bertobat. Banyak orang mendapatkan anugerah untuk mendengarkan Firman Tuhan dan bersekutu dengan orang-orang yang baik namun belum tentu mereka sudah lahir baru. Di sini kita mengerti bahwa mereka yang sudah mendapatkan panggilan khusus dari Tuhan adalah orang-orang yang sungguh-sungguh menyadari keberdosaan dirinya, yang menyadari bahwa dirinya sudah mendapatkan anugerah khusus dari Tuhan, dan yang hidupnya mengalami perubahan sehingga mereka hidup sebagai anak-anak Allah. Ia mengalami perubahan hidup dan membawa perubahan kepada lingkungan sekitarnya. Ia menjadi orang baik dan ia menghasilkan buah yang baik. Imannya sungguh nyata karena ia mendapatkan panggilan khusus. Jadi banyak orang yang dipanggil namun sedikit yang dipilih. Ada orang yang mendapatkan panggilan umum namun tidak mendapatkan panggilan khusus. Penyaringan iman itu selalu terjadi. Ketika membangun visi Kerajaan Allah dalam Perjanjian Baru, dari sekian banyak orang Tuhan Yesus hanya memilih 12 rasul (Matius 10:2-3). Yudas Iskariot pun pada akhirnya berkhianat. Jumlah ini terlalu sedikit jika dibandingan dengan jumlah murid Gamaliel (Kisah Para Rasul 5:34) yaitu ratusan orang. Tuhan mencari kualitas dan bukan kuantitas.

 

Ketika kita ingin sungguh-sungguh dipakai oleh Tuhan dan berjalan meyatakan kemenangan Tuhan, maka keinginan saja tidak cukup. Saat Gideon meniup sangkakala, ternyata banyak orang memberikan respons tanpa Gideon harus memberikan bujuk rayu. Suku Asyer, Naftali, Zebulon dan Manasye siap berperang untuk Tuhan melawan Midian yang sudah 7 tahun menjarah mereka (Hakim-hakim 6:34). Namun kemauan saja tidak cukup. Berapa banyak dari kemauan kita yang kita sudah usahakan dan raih? Kita pasti ingin menjadi orang sukses. Dari sekian banyak mimpi kita, tidak semua kita sudah wujudkan menjadi kenyataan. Setiap kita memiliki keinginan, namun jika itu hanya dorongan emosi dan bukan suatu dorongan kesadaran yang kita usahakan untuk wujudkan di dalam pengorbanan dan ketekunan, maka keinginan itu tidak akan menjadi kenyataan. Ini karena di dalam keinginan itu ada proses yang kita belum kerjakan.

 

Ketika Tuhan melihat 32 ribu orang itu, Tuhan menyatakan bahwa jumlah itu terlalu banyak. Bagaimana seandainya jika kita ada di posisi Gideon? Gideon bisa saja mengatakan bahwa 32 ribu itu masih terlalu sedikit karena tentara Midian itu terlalu banyak. Jumlah mereka sangat banyak sampai dikatakan ‘seperti belalang banyaknya’ dan jumlah unta mereka tidak terhitung seperti ‘pasir di tepi laut’ (ayat 12). Namun di sana tugas Gideon adalah tidak berdebat dengan Tuhan dan taat sepenuhnya. Cara penyaringan Tuhan pertama-tama adalah menyuruh orang yang ketakutan untuk pulang sehingga yang tersisa 10 ribu orang (Hakim-hakim 7:3). Penyaringan ini dilakukan karena Tuhan mencari orang yang berani, tidak hanya mau. Jumlah sisa 10 ribu orang masih dianggap terlalu banyak oleh Tuhan. Tuhan kemudian menyaring mereka lagi. Tuhan menguji mereka dengan menyuruh mereka berjalan ke atas gunung. Mereka pasti kelelahan setelah sampai di puncak gunung. Di sana mereka minum air. Saat mereka sedang minum, Tuhan mau Gideon memerhatikan cara mereka minum. Ketika mereka sedang minum, bisa saja musuh tiba-tiba menyerang. Sebagian dari mereka minum dengan berlutut dan menyentuhkan mulut mereka ke dalam air. Mungkin di antara mereka ada yang langsung memasukkan muka mereka ke dalam air. Namun sebagian lainnya sebanyak 300 orang mengambil air dengan menggunakan tangan mereka (Hakim-hakim 7:5-6). Jumlah itu hanyalah 3% dari 10 ribu orang. Tuhan kemudian memakai 300 orang itu. Mengapa? Karena Tuhan mau memakai orang-orang yang tidak lupa diri ketika ada kesempatan. Saat itu mereka ada dalam situasi peperangan. Orang yang mencelupkan mukanya ke dalam air sebenarnya sedang lupa diri atau tidak waspada. Jika ada musuh di sekitar mereka pada saat itu, maka mereka pasti langsung dibunuh oleh musuh. Mereka yang minum dengan tangan bisa minum sambil melihat situasi di sekitarnya, jadi mereka tetap waspada di dalam situasi peperangan. Tuhan berkenan kepada mereka yang tidak cepat terlena ketika diberi kesempatan. Iman mereka tidak tertidur dalam kemanjaan. Jadi keberanian saja tidak cukup. Tuhan memilih orang yang mau, berani, dan memiliki kewaspadaan iman (bandingkan Matius 24:42 dan 26:41).

 

Bagaimana kita memiliki kewaspadaan iman? Orang yang memiliki waspada iman tidak pernah lengah dan tidak merasa dirinya sudah aman. Di dalam kebebasan pun ia tidak lengah. Agar dapat memiliki kewaspadaan iman kita harus taat secara total dalam membaca Firman Tuhan dan berdoa. Kita harus terus waspada karena kita tidak tahu kapan Tuhan Yesus akan datang kembali dan menjemput kita (Matius 24:42). Ada orang-orang yang kelihatannya sehat dan bersemangat namun tidak lama kemudian mereka tiba-tiba meninggal. Banyak orang lupa memerhatikan kesehatan diri dan lupa menjaga pola makan sehingga mereka mudah sakit dan berumur pendek. Maka dari itu kita harus selalu waspada. Ketika kita taat dalam membaca Firman Tuhan dan berdoa, kita memiliki kewaspadaan iman dan di dalamnya kita selalu menjaga kualitas kesucian kita. Alkitab berkata: Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu (Mazmur 119:9). Firman Tuhan adalah pelita bagi hidup kita (Mazmur 119:105). Firman memimpin setiap jalan dan keputusan kita. Setan akan selalu mencoba untuk menjatuhkan kita, karena itu kita harus terus waspada. Pertama, langkah yang paling dasar untuk membangun kewaspadaan iman adalah dengan membaca Firman Tuhan dan berdoa. Oleh karena itu setelah bangun pagi, kita harus segera membaca Firman Tuhan dan berdoa. Jika kita menunda-nunda, maka kita akan segera lupa. Ketika kita sedang melakukan peperangan iman, kita harus menjaga kewaspadaan dengan taat membaca Firman Tuhan dan berdoa. Alkitab yang kita baca adalah Firman Tuhan. Firman itu diwahyukan oleh Tuhan dan berkuasa untuk membentuk dan memimpin kita. Kita akan selalu memiliki kesadaran iman karena kita mendapatkan pelita yang baru dari Tuhan.

 

Kedua, kita harus sadar bahwa musuh senantiasa ada di sekitar kita. Iblis berjalan keliling kita seperti singa yang mengaum-aum (1 Petrus 5:8). Mereka akan siap menelan kita ketika kita sedang lengah. Musuh itu adalah Iblis. Kita harus sadar bahwa untuk mengalahkan kuasa Setan kita membutuhkan Firman Tuhan (Efesus 6:17). Dalam pencobaan di padang gurun, Yesus mengalahkan Setan dengan mengutip Firman Tuhan (Matius 4:4, 7, 10). Ini mengajarkan bahwa ketika kita sadar bahwa ada musuh di sekitar kita yang ingin menjatuhkan kita melalui pekerjaan, usaha, dan keinginan kita, maka kita harus memiliki jiwa peperangan dan mengingat identitas kita sebagai prajurit Kristus. Dengan itu, kita tidak akan mudah menyerah pada godaan Setan dan tawaran dunia. Musuh kedua adalah keinginan kita. Setiap kita memiliki keinginan dan mungkin saja ada keinginan yang tidak suci di dalam diri kita. Keinginan kita mungkin belum dikaitkan untuk memuaskan hati Tuhan tetapi sudah dikaitkan untuk kemuliaan kita sendiri demi kepuasan diri. Awal kejatuhan kita bukan saja karena ada musuh di hadapan kita tetapi karena ada keinginan (Yakobus 1:14). Kita tidak boleh langsung menyalahkan Setan ketika kita sudah jatuh ke dalam dosa. Setan itu seperti singa yang ada di dalam kandang yang terkunci. Kandang itu terbuka ketika kita mulai menuhankan keinginan kita sehingga kita berdosa. Istri Potifar berkali-kali membujuk Yusuf untuk berzinah dengannya. Nafsunya sudah menguasai dirinya sehingga ia berkali-kali mengajak Yusuf untuk tidur bersamanya. Pria juga harus berhati-hati dengan matanya dan keinginannya. Yesus berkata: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya (Matius 5:28). Kita harus mengontrol keinginan kita. Setiap orang yang sudah di dalam Kristus mengalami kuasa kemenangan atas dosa. Dosa itu tidak lagi menguasai diri kita. Di dalam pertolongan Roh Kudus memampukan kita untuk mengendalikan dan memurnikan keinginan kita.

 

Bagaimana dengan orang yang terus menerus dikuasai dosa seperti Yudas? Itu berarti Roh Kudus tidak ada di dalam hatinya sehingga ia hanya melihat kepada kesenangannya sendiri dan hati nuraninya sudah menjadi tumpul. Simson ketika melihat Delilah ia langsung jatuh cinta (Hakim-Hakim 16:4-31). Delilah bertanya tentang kelemahannya dan pada akhirnya Simson menjawabnya dengan jujur. Ia akhirnya ditangkap oleh orang Filistin. Matanya dicungkil dan ia dipenjara. Sampai waktu ketika ia dijadikan tontonan bagi orang Filistin, mata fisiknya tidak kembali namun mata rohaninya dan kekuatannya kembali. Di akhir hidupnya ia berdoa kepada Tuhan. Ia meminta kekuatan agar ia bisa membunuh orang Filistin dan dirinya sendiri. Banyak orang Kristen bertobat setelah dipukul oleh Tuhan. Kita seharusnya segera bertobat ketika Roh Kudus sudah menegur hati kita. Ada orang-orang yang begitu kaya yang sering mengundang pengkhotbah-pengkhotbah yang terkenal namun memiliki ajaran yang sesat. Mereka memberikan persembahan begitu banyak kepada gereja tertentu yang tidak mementingkan doktrin. Namun setelah mereka menyadari bahwa doktrin itu penting dan bahwa fenomena itu bisa menipu, mereka langsung bertobat. Ada orang kaya yang begitu sombong dan merasa banyak wanita ingin berselingkuh dengannya, namun Tuhan kemudian memberikan penyakit untuk menegurnya sehingga ia bertobat. Setiap orang mengalami pertobatan secara unik. Tuhan memakai cara yang berbeda-beda pada setiap orang yang dipertobatkan-Nya. Ketika kita memiliki keinginan-keinginan tertentu, di dalam kewaspadaan iman kita harus mengujinya terlebih dahulu dalam roh (1 Tesalonika 5:21). Ini agar kita tidak mudah diperdaya oleh keinginan kita dan segala tawaran berdosa di sekitar kita.

 

Ketiga, ada musuh yaitu konsep-konsep dunia dan segala tawarannya. Zaman ini bisa disebut sebagai zaman pasca milenial. Di dalam zaman ini semua bisa diakses melalui gadget dan internet. Itu bisa menjebak kita sehingga kita memanjakan diri, memboroskan waktu, dan mendapatkan pengaruh buruk. Itu semua akan mengganggu relasi kita dengan Tuhan serta sesama. Jika kita tidak waspada dalam hal ini, maka kita akan mementingkan kepuasan diri dan melupakan perjuangan untuk jiwa-jiwa. Di sini kita mengerti mengapa Tuhan mencari orang yang mau, berani, dan tetap waspada iman. Oleh karena itu kita harus selalu merenungkan Firman Tuhan, berdoa, dan tetap waspada terhadap musuh yang ada di dalam dan di luar diri kita. Kita harus sadar bahwa diri kita ini terbatas dan bahwa kita tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi semua musuh itu. Kita membutuhkan kekuatan Tuhan untuk menang, oleh karena itu kita harus bergantung total pada Tuhan. Semua manusia sudah berdosa. Pikiran manusia sudah menyeleweng dan tidak ada yang mencari Tuhan (Roma 3:10-11). Ini berarti diri kita tidak mungkin menjadi sumber kekuatan. Hati nurani kita bukanlah sumber kekuataan, begitu pula dengan norma-norma yang diajarkan kepada kita. Budaya juga bukanlah sumber kekuatan. Kebergantungan total kepada Tuhan membuat kita memiliki kesadaran iman yang kuat. Kita harus senantiasa waspada karena kita tidak tahu kapan kita akan dipanggil oleh Tuhan. Ketika Yesus sedang berdoa di taman Getsemani ternyata Petrus, Yakobus, dan Yohanes sudah tertidur (Matius 26:36-43). Yesus kemudian mengajarkan mereka untuk senantiasa siap sedia dalam peperangan rohani dan tidak tertidur. Matius 26:41 Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah. Kita semua bisa mendapatkan pencobaan, namun jika semua prinsip di atas selalu kita terapkan, maka kita tidak akan mudah jatuh ketika menghadapi pencobaan. Setan selalu ingin mencobai dan menjatuhkan kita tetapi Tuhan ingin menguji dan memurnikan iman kita sehingga iman kita senantiasa diarahkan kepada Tuhan. Galatia 5:16-26 mengajarkan kita untuk berhati-hati terhadap keinginan daging. Jika kita sudah sadar bahwa kita sedang dicobai, maka kita harus segera menjauhi pencobaan itu. Roh itu penurut, tetapi daging itu lemah.  Kita harus segera meninggalkan segala pencobaan dan mementingkan roh yang berelasi dengan Tuhan.

 

Diri kita ini bagaikan lampu. Jika lampu kehilangan listriknya, maka lampu itu tidak akan bersinar. Lampu yang terus menerus mendapatkan listrik akan terus menyala. Di daerah-daerah tertentu, listrik tidak selalu stabil. Ini membuat lampu dan alat elektronik cepat rusak. Jika relasi kita dengan Tuhan tidak selalu stabil, maka kita tidak bisa memancarkan terang dengan baik dan konsisten. Kita tidak boleh menjauhkan diri dari persekutuan ibadah (Ibrani 10:25). Sebaliknya kita harus terus bersekutu dengan Tuhan melalui persekutuan dengan orang-orang kudus. Di sana teman-teman kita yang rohani bisa terus mengingatkan kita untuk hidup dalam terang. Kita membutuhkan hal itu. Jika kita terus menerus bersekutu dengan orang-orang yang mementingkan kedagingan, maka kita akan terus ditarik untuk hidup dalam kedagingan. Teman-teman kita di gereja bisa membagikan saat teduh mereka kepada kita. Itu adalah hal yang baik. Kondisi ini baik untuk memupuk kewaspadaan kita. Orang-orang yang meninggalkan saat teduhnya sebenarnya sudah menurunkan kewaspadaan dan sedang masuk ke dalam jurang. Jadi kewaspadaan itu sangat penting. 3 karakter yang dicari Tuhan itu sangat penting untuk kita miliki. Jadi kita harus mau, berani, dan waspada. Kewaspadaan itu harus bangsa Israel miliki agar mereka tidak berpikir bahwa peperangan itu dimenangkan karena kekuatan mereka sendiri sehingga mereka menjadi sombong. Kita harus senantiasa berdoa dan berperang dalam kekuatan iman, bukan kekuatan yang lain. Bangsa Israel menang karena Tuhan yang berperang. Kemenangan kita itu pasti karena Tuhan, bukan diri kita. Setelah kita menang atas pencobaan, kita tidak boleh berkata bahwa itu adalah karena kekuatan kita. Jikalau Tuhan ada di pihak kita, maka tidak akan ada yang bisa mengalahkan kita (Roma 8:31). Jika kita sudah ada di tangan Tuhan, maka tidak ada seorang pun yang dapat mengambil kita (Yohanes 10:28). Ini berarti jiwa dan roh kita ada di tangan Tuhan. Ketika Setan ingin mencobai ayub, Tuhan hanya mengizinkan Setan menjamah tubuhnya tetapi bukan rohnya. Sebagai anak Tuhan, jiwa dan roh kita ada di dalam tangan Tuhan sehingga tidak ada kuasa gelap manapun yang bisa mengontrol kita. Hidup adalah peperangan rohani. Tugas kita dalam peperangan rohani adalah taat. Kemenangan itu diraih bukan karena kekuatan kita. Mari kita melakukan yang kita bisa dan Tuhan melakukan yang kita tidak bisa.

 

Setelah penyaringan Tuhan, tentara Israel hanya tersisa 300 orang. Mereka tidak membawa senjata apapun, hanya sangkakala, suluh obor, dan buyung. Mereka tidak bisa berbuat apapun selain membagi tentara itu menjadi 3 grup, meniup sangkakala, memecahkan buyung, dan menyalakan obor (Hakim-hakim 7:16). Ternyata Tuhan kemudian membuat tentara Midian menjadi kacau balau. Tuhan-lah yang bekerja di dalam hal itu. Sebelumnya Tuhan menyuruh Gideon untuk mengintai kemah orang Midian bersama bujangnya yaitu Pura. Saat mereka turun, mereka mendengar seseorang yang menceritakan mimpinya kepada temannya. Melalui mimpi itu, Tuhan menubuatkan kemenangan Israel atas Midian. Secara psikologis, tentara Midian sudah dikalahkan. Segera setelah itu Gideon langsung mengajak bangsa Israel untuk maju berperang. Setelah setiap grup menempati posisi mereka masing-masing, mereka berseru ‘pedang demi Tuhan dan demi Gideon’ (Hakim-hakim 7:18). Mereka bersama-sama meniup sangkakala, memecahkan buyung, dan memegang obor. Di perkemahan Midian, Tuhan membuat tentara Midian saling membunuh satu sama lain. Sisa tentara Midian yang melarikan diri kemudian dibunuh oleh tentara dari suku Naftali, Manasye, dan Asyer serta Efraim yang juga kemudian ikut dalam peperangan itu. Sebelumnya suku Efraim tidak mau ikut berperang ketika diajak oleh Gideon. Jadi Gideon memiliki kepekaan dalam hal ini sehingga ia memanggil suku Efraim juga untuk menghabisi sisa tentara Midian (Hakim-hakim 7:24). Ia mau suku Efraim berbagian dalam peperangan ini dan mendapatkan berkat Tuhan. Ini menunjukkan kebesaran hati Gideon. Suku Efraim tidak mengakui Gideon sebagai pemimpin dan mereka takut menghadapi orang Midian. Ini berarti iman dan mental mereka tertidur. Keberanian mereka tidak ada dalam hal ini. Jadi Gideon tidak mau mempermalukan suku Efraim yang tidak mengakui Gideon dan sedang mengalami kelemahan iman. Gideon berbesar hati terhadap suku Efraim yang bersikap negatif kepadanya. Jika kita sudah bekerja keras untuk mengembangkan suatu usaha keluarga sampai berhasil lalu kemudian pada waktu pembagian warisan ternyata semua anggota keluarga termasuk anak yang malas mendapatkan bagian secara rata, maka ini adalah hal yang sulit untuk diterima. Kita mungkin tidak mendapatkan banyak warisan harta, namun kita harus bersyukur jika kita memiliki warisan iman. Jika menurut aturan atau adat suku kita mendapatkan warisan paling banyak, maka sebaiknya kita sebagai orang Kristen berbesar hati untuk membagikan warisan itu secara merata kepada semua saudara. Gideon tidak mau menyombongkan diri di hadapan suku Efraim tetapi berbesar hati kepada mereka. Gideon tidak termakan oleh emosi kemuliaan diri yang tidak suci. Ia mau semua ikut berbagian dan ia tidak merasa bahwa kemenangan itu adalah karena dirinya sendiri melainkan karya Tuhan yang memakai setiap orang yang terlibat dalam peperangan ini.

 

Penutup

Ketaatan dan fokus adalah kunci kemenangan hidup (bandingkan Roma 8:31 Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?). Kita harus berfokus pada setiap langkah dalam menjalankan visi dan misi kita. Tuhan kita adalah pencipta dari seluruh alam semeta ini beserta semua isinya. Tidak ada yang bisa mengalahkan kuasa Tuhan. Maka dari itu kita harus taat dan fokus dalam nilai tanggung jawab. Di dalam pekerjaan, usaha, dan studi, kita harus fokus dan bertanggung jawab dalam menjalankan setiap langkah. Ketaatan kita harus menghasilkan ketekunan. Itulah kunci kemenangan hidup kita. Kepintaran kita bukanlah jaminan atau kunci kemenangan. Banyak orang pintar belum tentu berhasil. Orang yang berhasil di mata Tuhan adalah orang yang menolak konsep-konsep dan tawaran dunia serta godaan Setan dengan mengandalkan Tuhan. Di dalam ketaatan dan fokus kita, kita harus mengaitkan semua tanggung jawab kita dengan kemuliaan Tuhan, bukan dengan kesenangan manusia. Di sini kita berpihak pada Tuhan dan Tuhan akan menyatakan kemenangan-Nya.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami