Menang di dalam Tuhan

Menang di dalam Tuhan

Categories:

Bacaan Alkitab: Keluaran 17:8-16

Pendahuluan

Mengapa Tuhan membenci bangsa Amalek? Mengapa Amalek juga membenci Israel? Mengapa bangsa Amalek tidak bertobat? Mengapa Israel menang? Bagaimana kemenangan sejati orang kristen? Inilah beberapa pertanyaan yang akan kita renungan melalui peristiwa peperangan antara Israel dengan Amalek.

Pembahasan

Dari sejarah kita mengetahui bahwa Amalek adalah anak Elifas (Kejadian 36:12). Ibu Amalek bernama Timna. Kakek dari Amalek adalah Esau. Kita mengingat bahwa Ishak mendapatkan dua anak yaitu Esau dan Yakub. Ternyata anak-anak Yakub menjadi bangsa Israel dan anak serta cucu Esau menjadi bangsa yang “memusuhi Israel”. Jika kita melihat seluruh catatan sejarah di dalam Alkitab, maka kita akan menemukan bahwa bangsa Amalek tidak pernah menjadi bangsa yang takut akan Tuhan. Apa buktinya? Mereka sudah mendengar bahwa bangsa Israel adalah saudara mereka, yaitu keturunan Yakub, dari kakek yang sama. Mereka juga sudah mendengar bahwa bangsa Israel ditolong oleh Tuhan dengan begitu hebatnya sehingga bisa keluar dari perbudakan Mesir. Namun dalam bagian yang kita baca bahwa mereka tetap memerangi bangsa Israel. Jadi mereka benar-benar tidak takut akan Tuhan. Mereka hanya takut dengan kemiskinan dan kelaparan. Mereka juga adalah bangsa yang curang. Mereka selalu menunggu suatu bangsa menjadi lemah lalu menyerang mereka. Ketika mereka melihat bahwa bangsa Israel sedang dipimpin Tuhan menuju tanah Kanaan, mereka memerangi orang-orang di barisan belakang Israel yang sudah kelelahan. Bangsa Amalek adalah bangsa barbar, tidak takut Tuhan, dan licik/curang.

Bangsa Amalek juga tidak punya tempat tinggal (nomad). Mereka terus berpindah-pindah tempat tinggal. Bangsa ini disebut bermental teroris. Mereka tidak punya sistem sebagai bangsa dan masyarakat dan mereka tidak punya penghasilan sendiri tetapi selalu merampok dari bangsa lain. Hakim-Hakim 6:3 dan 1 Samuel 14:48 mencatat bahwa mereka selalu menyerang dan merampok. Inilah yang membuat bangsa ini layak dibenci oleh Tuhan. Esau, nenek moyang mereka, juga tidak disukai oleh Tuhan karena Esau tidak beribadah kepada Tuhan. Yakub beribadah kepada Tuhan dan salah satu pembaruan yang dilakukan Tuhan dalam hidup Yakub adalah pembaruan nilai ibadah. Pembaruan itu dinyatakan pertama dalam ibadah keluarganya. Esau hidup selalu berburu dan tidak teratur sedangkan Yakub selalu hidup teratur dalam nilai vertikal dan horizontal dan ternyata dari keturunan Yakub ada orang-orang yang sungguh takut akan Tuhan. Bangsa Amalek, seperti Esau, tidak beribadah kepada Tuhan, tidak hidup dalam keteraturan, dan tidak menghormati orang lain. Mereka hidup dengan mengandalkan kekuatan dan taktik curang mereka. Tuhan mau agar Musa mencatat peperangan itu (Keluaran 17:14). Ketika Samuel mengangkat Saul menjadi raja, salah satu perintah Tuhan yang diberikan kepada Saul adalah untuk memusnahkan bangsa Amalek (1 Samuel 15:3). Ia tidak boleh berbelas kasihan pada bangsa Amalek bahkan termasuk anak-anak mereka. Ini adalah misi yang mengerikan karena ada kekejaman, namun dari zaman Musa memang Tuhan sudah menyatakan bahwa bangsa ini harus dimusnahkan. Ketika Tuhan mau agar suatu bangsa dimusnahkan sampai semua keturunannya, maka pasti ada penyebabnya yaitu dosa. Karena itu kita harus mengajar anak-anak kita sehingga beribadah, takut akan Tuhan, dan mengandalkan Tuhan.

Perintah memusnahkan Amalek tidak selesai pada zaman Musa dan Yosua. Alkitab mencatat minimal ada 6 kali peperangan dengan Amalek dan bagian pertama adalah yang kita tadi baca. Peperangan kedua ada di Horma dan saat itu Tuhan mengizinkan kemenangan bagi Amalek (Bilangan 14:45). Peperangan ketiga adalah pada zaman Hakim-Hakim (Hakim-Hakim 6:3), lalu zaman Saul (1 Samuel 14:48). Peperangan kelima adalah pada masa Daud (1 Samuel 30:17-18). Peperangan yang terakhir adalah pada masa Ester (Ester 7:10) karena dikatakan bahwa Haman adalah keturunan Agag yaitu seorang raja Amalek. Pada akhirnya ternyata dari suku Amalek lahirlah Haman. Haman dari suku Amalek yang berbadan besar dan licik pada akhirnya dikalahkan oleh seorang yang tidak berbadan besar namun berdoa dan berpuasa yang bernama Ester. Ia menang bukan dengan berperang tetapi dengan berlutut dan berdoa. Setelah itu tidak pernah dicatat lagi tentang Amalek karena seluruh keturunannya telah habis lenyap. Dalam 5 sampai 6 generasi keturunan Jonathan Edwards, hampir semuanya menjadi orang-orang penting di Amerika seperti menteri, senat, dan profesor. Dalam pernikahan ada procreation atau menghasilkan keturunan. Jika kita mendengar bahwa keturunan kita mati dalam dosa, maka hal itu pasti menyedihkan kita. Jika kita masih diberikan umur sebagai orang tua atau kakek-nenek, maka itu berarti bahwa Tuhan masih memercayakan kita suatu tugas untuk mendidik generasi-generasi di bawah kita agar mereka takut akan Tuhan.

Bangsa Amalek benci kepada Israel karena iri hati. Mereka tahu bahwa hak kesulungan nenek moyang mereka diambil oleh Yakub. Dosa kebencian terbawa sampai keturunan-keturunan di masa depan, padahal Yakub dan Esau berasal dari orang tua yang sama. Namun bangsa Amalek terus menyimpan kebencian itu sampai mereka tidak mau bertobat dan akhirnya Tuhan memusnahkan mereka. Maka kita harus berhati-hati terhadap sejarah yang berisi dosa iri hati dan dendam. Mungkin dulu Esau bercerita kepada Elifas tentang perbuatan Yakub dalam mencuri hak kesulungannya, lalu Elifas menceritakan itu juga kepada Amalek. Amalek meneruskan itu kepada anak-anak dan cucunya sampai akhirnya satu bangsa membawa kemarahan.            Kita harus melihat bahwa memang Tuhan memberikan hak kesulungan tersebut kepada Yakub karena kasih-Nya. Kita harus membaca sejarah dalam substansi dan tidak hanya metode. Kita sering lupa dengan prinsip makna hanya melihat fenomena atau hal-hal yang dangkal. Kita bisa salah dalam membuat pilihan karena tidak membuat pertimbangan yang bersifat substansi. Mungkin kita pernah membeli barang-barang karena terbawa emosi lalu tidak menggunakannya karena ternyata memang tidak perlu. Mungkin kita juga pernah salah memilih pasangan karena lebih bersandar pada emosi daripada kecerdasan iman.

Ketika Amalek memerangi barisan belakang dari Israel, apakah Musa marah? Pasti marah. Tuhan kemudian menyuruh Musa untuk menunjuk Yosua dan orang-orang tertentu agar mereka memerangi Amalek. Di sini kita melihat ada conflict of interest. Ketika orang-orang Israel mendengar bahwa barisan belakang mereka sudah diserang, pasti mereka marah. Mereka pasti berteriak kepada Musa agar ia memimpin peperangan itu, namun ternyata Tuhan kemudian memerintahkan bahwa Yosua-lah yang harus memimpin peperangan itu. Orang-orang Israel pasti meragukan keputusan itu karena Yosua bukanlah seorang yang sudah senior. Yosua masih muda dan tidak berpengalaman perang. Orang-orang yang dipimpinnya juga tidak berpengalaman perang karena selama 400 tahun mereka sudah dibuat bermental budak. Tuhan memakai standar yang tidak disukai manusia. Musa, Harun, dan Hur naik ke atas bukit dan mereka melakukan peperangan rohani ketika Yosua dan bangsa Israel melakukan peperangan fisik. Hal ini pasti sulit dimengerti oleh orang-orang yang terbiasa mengandalkan kekuatan fisik. Namun Tuhan memiliki tujuan dalam hal ini: Ia mau agar bangsa Israel melihat Tuhan dalam kekuatan-Nya dan tidak hanya janji-Nya. Mereka diajar untuk taat kepada Yosua yang masih muda. Tangan mereka yang belum terlatih untuk berperang pasti sakit jika harus berperang selama sehari penuh. Musa pun harus dibantu agar tangannya tetap terangkat. Peperangan itu terjadi sampai petang tanpa ada istirahat atau waktu untuk makan. Bisakah Tuhan membuat perang ini cepat berakhir atau memusnahkan bangsa Amalek tanpa peperangan? Bisa. Mengapa Tuhan harus memakai Yosua dan orang-orang Israel untuk berperang? Karena Tuhan sedang mempersiapkan Yosua sebagai pemimpin yang baru dan supaya bangsa Israel melihat Yosua sebagai pemimpin yang ditunjuk oleh Tuhan dalam kacamata rohani. Mengapa perang itu berlangsung lama? Supaya mereka belajar tekun.

Peperangan rohani dalam mengalahkan diri membutuhkan ketekunan. Peperangan rohani tidak boleh berhenti ketika melihat kelemahan diri. Di saat kita tidak mau berdoa, justru kita harus berdoa. Ketika kita merasa kuat, justru kita harus merasa lemah. Mengapa ada pasangan yang bercerai setelah menikah puluhan tahun? Ternyata ada banyak orang Kristen yang tidak sadar bahwa di dalam dagingnya ada musuh. Musuh itu bisa berupa keinginan yang belum disucikan atau ketidaksiapan rohani dalam menggunakan kuasa dan harta. Di saat kita menerima kelimpahan itu, jika kita tidak siap rohani maka kita akan jatuh ke dalam dosa. Saat ini tidak ada Amalek secara fisik, namun kita masih menghadapi musuh-musuh dalam diri kita yaitu keinginan-keinginan yang belum dikuduskan. Dosa yang harus dikalahkan terlebih dulu adalah dosa yang ada di dalam diri. Peperangan rohani ini dimenangkan bukan dengan kekuatan diri tetapi firman dan kuasa Tuhan. Peperangan yang dialami bangsa Israel ini berada di tangan Tuhan yang memakai tangan Musa. Ini menunjukkan bahwa Tuhan menciptakan dan mengatur segalanya. Tuhan mendidik Israel juga untuk melihat tangan Musa. Saat tangannya terangkat, kuatlah bangsa Israel dan sebaliknya. Harun dan Hur menolong Musa dengan memberikan batu sebagai tempat duduk dan menahan tangannya agar tetap terangkat sampai matahari terbenam. Ternyata peperangan ini bukan di tangan Yosua atau pedang Israel tetapi di tangan Tuhan melalui panji yang diangkat oleh tangan Musa. Maka dari itu pada Keluaran 17:16 ditulis “tangan di atas panji-panji TUHAN! TUHAN berperang melawan Amalek turun-temurun.”

Dalam Efesus 6 dituliskan tentang peperangan rohani dan musuh kita adalah keinginan kita yang berdosa. Keinginan kita harus dikuduskan dan semua ambisi harus dievaluasi. Kita harus menghapus segala ambisi yang tidak sesuai kehendak Tuhan. Paulus berkata “aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Galatia 2:20) dan “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus” (Filipi 3:7). Ada seorang ibu yang menyesal karena anaknya bunuh diri. Dulu ia selalu memberitahu anaknya agar belajar baik-baik dan menuntut keras agar anaknya selalu juara 1. Pada suatu kali anaknya tidak mendapat juara 1, 2, atau 3 lalu kemudian ia bunuh diri. Ini karena ibunya bisa menangis jika anaknya tidak mendapatkan juara 3 atau lebih baik. Anak ini menjadi seorang budak dari kebanggaan ibunya. Dulu ternyata ibunya tidak pernah bisa membanggakan orang tuanya melalui nilai sekolah, maka sekarang anaknyalah yang dikorbankan. Anak itu bunuh diri dengan melompat dari apartemennya. Di dalam tasnya ditemukan surat yang menyatakan bahwa anak itu bunuh diri karena gagal memenuhi ambisi orang tuanya. Ada banyak orang tua yang belum sadar bahwa di dalam dirinya ada keingingan yang belum disucikan sehingga mereka menuntut anaknya untuk memenuhi ambisi yang mereka sendiri belum pernah capai. Kita sudah bertobat di dalam Tuhan namun mungkin masih ada ambisi yang belum disucikan sehingga kita menuntut keturunan kita. Kebencian Esau berbuah pada Amalek. Musuh kita bukanlah bangsa Amalek secara fisik tetapi dosa sesuai dengan peperangan rohani yang dijelaskan Efesus 6. Kuasa dosa sudah dipatahkan dalam nama Yesus dan tugas kita adalah hidup di dalam firman dan penuh dengan Roh Kudus. Kita harus membangun komitmen untuk hidup suci, benar, dan untuk kemuliaan Tuhan sehingga seluruh keinginan kita yang tidak suci perlahan-lahan akan dilenyapkan. Tugas kita yang berikutnya adalah menciptakan budaya dan disiplin rohani sehingga kita tidak diperbudak oleh tawaran dunia melainkan oleh kebenaran dan keinginan hati Tuhan. Jangan sampai kita memanipulasi Tuhan demi mencapai ambisi. Maka kita harus berhati-hati terhadap ambisi yang belum disucikan.

Ada orang yang nilai studinya dan pekerjaannya biasa-biasa saja namun ia tulus hati dan kemudian menjadi orang berhasil. Keluarganya penuh dengan kebahagiaan dan anak-anaknya sangat menghormati orang tua. Namun ada orang tua yang begitu berkelimpahan harta sehingga bisa mengirim anak-anaknya untuk belajar di luar negeri tetapi mereka tidak menghormati orang tuanya. Ada seorang anak yang pernah belajar kedokteran di Amerika. Ia diharapkan segera pulang setelah lulus dan melanjutkan usaha ibunya yang saat itu sudah tidak bersuami. Namun ternyata ia menolak untuk pulang dan meminta warisan dari ibunya. Ternyata ia sudah menikah dan ia menuruti istrinya untuk tetap tinggal di Amerika. Anak ini benar-benar tidak memiliki hati untuk ibunya dan hanya mau uang. Ibu ini sangat sedih. Kita harus menyadari bahwa membesarkan anak dengan kelimpahan harta tidak akan menjamin bahwa di depan nanti anak akan bisa menyenangkan kita di saat tua. Kita harus menanamkan prinsip menghormati orang tua sampai mati sesuai dengan Alkitab pada anak dari sejak dini. Bangsa Amalek tidak pernah menghormati Tuhan dan sesamanya. Peperangan rohani sampai hari ini masih berlangsung dan kita harus memenangkannya dengan kuasa doa. Israel menang karena Musa terus mengangkat tongkat panji kemenangan Tuhan. Yakobus 5:16b-18, “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya.” Ketika kita berdoa untuk orang yang sedang sekarat dengan iman dan firman, orang itu bisa diselamatkan. Kita yang bekerja di bidang kesehatan (medicine) bisa menyelamatkan pasien tidak hanya dalam hal fisik tetapi juga jiwa melalui firman. Doa memiliki kuasa bukan untuk mengubah Tuhan tetapi untuk mengubah hati kita sehingga kita mengerti kehendak Tuhan, mengimplementasikan firman, dan membagikannya.

Apa bedanya musisi rohani dengan duniawi? Musisi duniawi mungkin memiliki talenta dan cepat belajar, sedangkan kita mungkin tidak sehebat mereka tetapi kita memiliki hati. Orang-orang bisa kagum pada permainan musisi duniawi namun permainan mereka tidak membawa pendengarnya kepada Tuhan. Permainan musik kita mungkin tidak sehebat mereka, namun kita memiliki hati untuk memenangkan para pendengar bagi Tuhan. Musisi duniawi memiliki kepandaian namun tidak memiliki kuasa, sedangkan kita memiliki kuasa. Daud diminta oleh Saul untuk bermain kecapi agar roh jahat di dalamnya pergi. Alkitab mencatat bahwa Daud bermain kecapi dengan baik (1 Samuel 16:17). Bagaimana mungkin permainannya memiliki kuasa? Ketika kita bermain musik bagi Allah, dikatakan bahwa Allah bertakhta di atas puji-pujian (Mazmur 22:4). Saat Daud memainkan musik, Tuhan hadir dan roh jahat itu pergi. Musisi duniawi tidak dapat melakukan ini. Sebaliknya, musik duniawi justru bisa mengundang roh jahat dan keinginan berdosa. Ada musik-musik dunia yang bisa mengundang untuk menari erotis. Maka dari itu kita harus berhati-hati terhadap musik-musik tertentu. Lagu-lagu tertentu mengundang gerakan tubuh dan memengaruhi detak jantung, namun lagu-lagu himne memengaruhi jiwa dan iman dengan melodinya. Alat musik yang paling dekat dengan nyanyian jiwa adalah biola dan suaranya paling dekat dengan suara manusia. Alat musik kedua adalah piano. Maka dari itu gereja kita hanya memakai alat-alat musik tertentu karena ada kualitas yang ingin kita capai. Saya percaya saat Daud bermain musik, hatinya-lah yang bermain dan bukan hanya tangannya. Ia memainkan musik bukan untuk Saul tetapi untuk Tuhan sehingga roh jahat itu pergi. Ketika kita berdoa, kita tidak perlu berteriak. Doa kita dalam hati pun tetap ada kuasa jika didoakan dengan benar. Saat berdoa, hal yang penting adalah iman kita. Mengapa kita mengadakan doa puasa sebulan sekali? Ini untuk melatih kerohanian kita agar peka akan kehendak Tuhan. Yesus mengatakan bahwa ada jenis setan yang hanya bisa diusir dengan doa dan puasa (Matius 17:21). Puasa bukanlah untuk menambah kuasa tetapi untuk membebaskan kita dari racun-racun dunia sehingga kita suci.

Panji-panji Tuhan ada di tangan Musa dan itu membuat Yosua menang. Kita harus percaya pada kuasa doa. Alkitab menyatakan bahwa Yesus terus berdoa syafaat dengan setia bahkan sampai saat ini (Ibrani 7:25, bandingkan dengan ESV). Ia berdoa untuk menggenapkan Matius 17:11 dan 21 yaitu supaya kita bersatu dalam nama-Nya, iman, dan kehendak-Nya agar dunia tahu siapa Tuhan. Kita juga harus belajar tentang ketekunan. Bangsa Israel diizinkan berperang dari pagi sampai petang untuk dilatih ketaatannya dan ketekunannya. Ketekunan itu diperlukan dalam memenangkan peperangan rohani. Ada seorang istri yang menjadi Kristen namun suaminya saat itu belum percaya. Ia terus bersabar dan tekun bahkan sampai menahan pukulan dari suami yang tidak percaya itu selama bertahun-tahun sampai pada akhirnya suaminya percaya kepada Tuhan. Kita percaya bahwa manusia berubah bukan karena kuasa manusia melainkan kuasa Tuhan. Kuasa atau cinta manusia bisa mengubah untuk sementara waktu, namun hanya kuasa Tuhan yang bisa memberikan perubahan yang sejati. Yosua dalam bagian ini juga diuji dalam hal ketekunan dan keberanian dalam mengalahkan bangsa Amalek. Setelah itu bangsa Amalek dikalahkan dan Musa diminta Tuhan untuk mencatat bagian yang sudah kita baca. Pada akhirnya Tuhan memakai bangsa asing yaitu raja Persia bernama Ahasyweros untuk memusnahkan bangsa Amalek. Tuhan itu ajaib dan setia. Kita mau menang untuk Tuhan melalui penyertaan Tuhan dan bukan kuasa manusia. Mazmur 127 menyatakan kita tidak bisa memakai kuasa manusia untuk membangun apapun karena semua itu akan sia-sia. Ini bukan berarti kita tidak perlu bekerja keras dan pengorbanan. Sebaliknya, kita perlu bekerja keras dan berkorban tetapi di dalam Tuhan. Pada akhirnya diri kita akan teruji sehingga kita tahu apakah kita ini bangsa Israel atau Amalek. Hidup kita indah jika ada di dalam Tuhan dan Tuhan bekerja melalui hidup kita.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

 

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami