Menang Atas Dosa Seks (Yusuf)

Menang Atas Dosa Seks (Yusuf)

Categories:

Bacaan alkitab: Kejadian 39:1-10

 

Pendahuluan

Cara Tuhan mempersiapkan Yusuf utk menjadi pemimpin di Mesir itu sangat unik. Sangat unik karena Yusuf harus keluar dari zona nyaman yaitu rumah Yakub. Ia harus keluar karena Yakub membesarkan Yusuf dengan kemanjaan. Ini membangkitkan rasa iri hati pada kakak-kakaknya karena Yusuf dianggap istimewa. Tuhan memberikan mimpi kepada Yusuf mengenai dirinya yang menjadi pemimpin. Ia menangkap visi itu karena ia peka. Ketika ia menceritakan kepada semua kakaknya, mereka menanggap itu sebagai kesombongan. Di sana mereka merencanakan pembunuhan Yusuf. Ruben menggagalkan rencana pembunuhan itu, namun kemudian Yehuda menjualnya. Ketika ia menjadi budak, ia tidak memberontak. Ia tahu pikiran Tuhan dan ia taat. Kehidupannya begitu berubah. Dulu ia dimanja namun kemudian ia harus menjadi budak. Ia harus berjuang namun ia tahu bahwa Tuhan beserta dengannya. Keberhasilan hidup tanpa perjuangan iman dan perjuangan hidup adalah warisan biasa. Kemenangan hidup karena perjuangan iman dan perjuangan hidup adalah warisan iman. Warisan dari Abraham, Ishak, dan Yakub bukan hanya bangsa yang besar secara lahiriah tetapi warisan yang paling inti dari mereka adalah warisan iman. Di dalam Alkitab Yusuf juga dicatat sehingga kita dapat mengetahui warisan iman yang diberikannya. Di dalam keluarga kita juga harus mementingkan warisan iman. Ketika kita harus mendidik dan membesarkan anak dalam perjuangan dan tantangan, di dalam semua itu ada warisan iman bagi anak. Warisan iman itu penting dan iman itu dibangun karena pendengaran akan Firman. Kita harus memiliki doktrin yang benar. Pemahaman doktrin yang benar itu sangat penting karena memengaruhi cara pandang, afeksi, dan tindakan seseorang. Namun terkadang doktrin bisa benar tetapi sikapnya salah. Di sana doktrin belum memengaruhi cara pandang, afeksi, dan tindakan kita. Yusuf menang atas dosa dan kita harus mempelajari hal itu.

 

Pembahasan

1) Dinamika Iman Yusuf

            Yusuf diberikan pengharapan melalui mimpi. Dia percaya dan itu adalah imannya. Di dalam hidup ini kita pasti memiliki pengharapan. Ketika pengharapan kita sudah selaras dengan pengharapan Tuhan, itu berarti kita sudah menangkap visi Tuhan. Jika pengharapan kita hanya berhenti sampai pada keuntungan diri kita, maka kita belum mengerti kehendak Tuhan. Karena iman Yusuf menerima visi dari Tuhan. Yusuf sudah menangkap visi Tuhan namun ia tidak tahu dimana dan bagaimana ia menjadi pemimpin. Di tengah situasi seperti itu, ia tetap menerima visi Tuhan dengan iman dan ia mau taat. Jadi pengharapan kita harus mengandung terobosan iman. Ada keluarga-keluarga Kristen di suatu daerah yang berpikir bahwa pendidikan sampai SMP itu cukup. Setelah lulus SMP, mereka menikahkan anak-anak mereka. Jadi pada usia remaja mereka sudah menikah. Ada pula pernikahan antara remaja berusia 14 atau 15 tahun dengan pria berumur 30 tahun. Mereka juga tidak memiliki smartphone canggih seperti yang kita miliki saat ini karena mereka tidak membutuhkannya. Jadi pengharapan mereka begitu sederhana. Kita harus punya pengharapan yang lebih tinggi. Kita harus berharap Tuhan memakai kita dalam segala hal yang kita kerjakan untuk kemuliaan-Nya. Yusuf selalu memegang visi Tuhan sehingga ia tidak pernah ragu dan guncang ketika ia dijual dan diperbudak. Ia mungkin merasakan kesedihan namun ia bersabar dalam menantikan visi Tuhan. Karena iman Yusuf bersikap dan berjalan dengan benar. Ia bersikap dengan benar terhadap kakak-kakaknya yang berlaku jahat kepadanya. Apapun yang Yusuf kerjakan selalu berhasil karena Tuhan menyertainya. Sikapnya selalu benar dalam menghadapi apapun. Karena iman Yusuf selalu menjadi orang yang baik. Potifar yang melihat kualitas pekerjaan Yusuf perlahan-lahan menyerahkan kepercayaannya kepada Yusuf. Semuanya diserahkan kepadanya dan semuanya berhasil. Potifar dan istrinya tidak perlu memikirkan hal-hal rumah tangga lagi karena semua sudah dipercayakan kepada Yusuf. Istri Potifar pastilah cantik dan ia menggoda Yusuf karena ia kesepian. Yusuf juga saat itu masih muda dan sangat tampan. Sikapnya juga elok sehingga istri Potifar menyukainya. Ia tahu bahwa perselingkuhan itu bisa merusak reputasi keluarganya, namun ia tetap mau melakukannya. Ia terus merayu Yusuf namun Yusuf terus menerus menolaknya. Karena iman Yusuf menang atas dirinya dan istri Potifar. Di sini ternyata wanita pun bisa melihat pria dengan berahi. Ia mau memuaskan kesepiannya dengan kepuasan seksual yang sementara. Laki-laki juga bisa melihat dengan berahi. Ternyata kecantikan dan ketampanan bisa menggoyahkan iman. Istri Potifar kemudian memfitnah Yusuf dan membuatnya dipenjara. Di sana ternyata Yusuf dipercayakan untuk mengatur penjara oleh kepala penjara. Mengatur penjara bukanlah hal yang mudah karena Yusuf harus mengatur orang-orang kriminal di dalamnya dengan berhikmat. Tuhan memberikan hikmat sehingga Yusuf bisa mengatur segala sesuatu dengan baik.

 

2) Kemenangan Iman Yusuf (Aktif)

            Sebelum Yusuf jatuh dalam dosa, ia sudah menang. Ia memiliki doktrin, cara pandang, emosi, dan perbuatan yang tepat. Ia berhasil menolak bujuk rayu dari istri Potifar. Ia tidak mau kompromi dan tidak melaporkan hal itu kepada Potifar. Ini karena Yusuf adalah orang yang baik, benar, dan berhikmat. Ia tetap bertahan dalam kesulitan itu. Doktrin itu penting karena itulah fondasi iman kita. Yusuf mengerti dengan benar maka ia tidak terguncang oleh godaan seksual. Doktrin itu sangat penting agar kita tidak berzinah. Cara pandang dan cara berpikir itu penting dan harus alkitabiah. Doktrin itu harus memengaruhi cara pandang, karena jika tidak, maka hanya akan berhenti pada doktrin. Ciri-ciri orang yang sungguh bertobat adalah mengalami perubahan total dan bukan hanya sikap karena perubahan sikap bisa terjadi karena perubahan situasi. Orang yang sudah sungguh-sungguh diubahkan oleh Tuhan akan memiliki perubahan cara pandang pada segala hal. Emosinya juga akan berubah dan pada akhirnya tindakannya juga akan berubah. Dalam Kejadian 39:9b Yusuf menyatakan tentang konsep kejahatan. Yusuf menegur istri Potifar namun ia tidak mau mendengarkan. Istri Potifar adalah orang kafir yang tidak mengerti konsep dosa. Kita adalah anak-anak Tuhan yang sudah mendapatkan status yang baru dari Tuhan. Kita diberikan anugerah kebenaran dan kesucian. Yusuf mengerti konsep dosa baik secara horizontal maupun vertikal. Ia mengakui Allah yang maha tahu, maha kuasa, dan maha hadir sehingga ia tidak berani berdosa. Pemahaman Yusuf tentang manusia dan Tuhan itu semuanya jelas. Ketika Yakub telah meninggal, semua kakaknya takut karena berpikir Yusuf akan membalas dendam. Namun Yusuf menjawab mereka: Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar (Kejadian 50:19-20). Di sini Yusuf menunjukkan bahwa ia memiliki konsep kedaulatan Tuhan. Ia percaya bahwa di balik penderitaan ada kedaulatan Tuhan yang maha kuasa. Di sanalah ia bisa melewati pergumulan dengan benar.

 

Yusuf memiliki fondasi yang kuat untuk imannya. Dari iman yang benar itu ia memiliki cara pandang yang benar terhadap segala sesuatu. Jika doktrin itu tidak mengubah cara pandang kita, maka yang kita miliki hanyalah teori. Kita belum membiarkan Firman mengubah cara pandang kita. Yusuf selalu mengaitkan dirinya dengan Tuhan sehingga ia tidak mau berdosa. Yusuf lebih takut kehilangan penyertaan Tuhan daripada jabatannya. Kita harus melakukan evaluasi terhadap diri kita. Mungkinkah kita masih menyimpan cara pandang yang duniawi? Ketika ujian itu tiba, di sanalah kita akan tahu seberapa banyak Firman sudah mengubah hidup kita. Kita harus memiliki cara pandang terhadap waktu secara benar. Kita harus selalu berpikir poin alfa. Ini agar kita selalu memiliki perjuangan iman dan perjuangan hidup. Waktu harus kita pakai secara bertanggung jawab di hadapan Allah. Yusuf menghargai waktu dan memakai waktu untuk mengerjakan semua tanggung jawabnya dengan baik. Ia selalu berpikir poin alfa dan menjalankan segala pekerjaan dengan serius. Ia berperang secara rohani dengan baik. Semua ini ia miliki karena ia sungguh-sungguh mengenal Allah yang telah memanggilnya, mengenal dirinya, dan mengenal orang lain serta benda-benda. Seluruh pengenalannya tuntas. Dari hal ini terbentuklah sikap hati dan perasaan yang benar dalam diri Yusuf. Ia punya hati yang takut akan Tuhan. Ia tidak takut kepada istri Potifar yang memfitnahnya di depan Potifar.

Seluruh puncak pembentukan rohani adalah takut akan Tuhan untuk kita percaya kepada Firman Tuhan. Kita harus percaya bahwa Tuhan akan selalu beserta kita dan tidak akan meninggalkan kita (Ibrani 13:5) agar kita tidak takut kepada manusia dan hanya takut kepada Tuhan. Yosua juga mendapatkan janji penyertaan Tuhan yang setia (Yosua 1:5). Mazmur 23 menjelaskan kepada kita tentang Tuhan sebagai gembala yang baik. Jika kita memegang teguh penyertaan Tuhan maka kita tidak mungkin digoyahkan dan tidak mungkin menjadi takut akan apapun juga. Kita tidak takut akan apapun juga kecuali kehilangan penyertaan Tuhan. Kita tidak mau kehilangan pelayanan. Seluruh nilai pikiran, emosi, dan tindakan kita harus suci. Kita tidak mau mendukakan hati Tuhan demi kenikmatan sesaat. Ketika godaan itu diberikan kepada Yusuf, ia berlari meninggalkan godaan dosa itu (Kejadian 39:13). Di sini kita belajar untuk menjauh dari pencobaan. Kita harus waspada dan jangan merasa diri kuat sehingga membiarkan diri dicobai. Yusuf dimasukkan ke penjara sebagai orang yang tidak bersalah, namun ia diam dan menjalankan tanggung jawabnya. Kemenangan iman Yusuf bersifat aktif. Tidak serta-merta imannya langsung menjadi kuat seperti itu. Ia pertama-tama harus mengenal Tuhan.

 

Penutup

Kita harus membangun fondasi iman yang memengaruhi seluruh aspek diri kita. Yusuf berhasil melakukan itu dan ia menjadi orang yang melakukan hal yang mulia di hadapan Tuhan. Proses yang Tuhan berikan padanya sungguh luar biasa. Menjadi tahanan di penjara itu lebih berat baginya daripada menjadi budak, namun ia bisa melewati hal yang lebih berat itu dengan baik. Semua ini diizinkan Tuhan untuk membuatnya naik kelas iman. Tuhan pun mendidik kita secara demikian. Tuhan tidak mau kita turun kelas iman. Ia akan memimpin kita melalui semua tantangan dalam keluarga, pekerjaan, dan studi kita.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami