Menanam dan Membangun Nilai-Nilai Iman dalam Pengaruhnya

Menanam dan Membangun Nilai-Nilai Iman dalam Pengaruhnya

Categories:

Bacaan alkitab: Ulangan 6:7; 2 Timotius 1:5; Roma 10:17

 

            Kita sebagai orang tua pasti memiliki pikiran yang positif dan berpengharapan bahwa anak-anak kita akan bisa dipakai oleh Tuhan di masa depan. Kita berdoa agar mulut kita dipakai Tuhan untuk menanam benih Firman Tuhan. Ibarat biji, itu akan bertumbuh, memiliki akar tunggal yang sangat kuat, berakar di tanah secara kokoh, mendapatkan nutrisi yang baik, memiliki batang yang tinggi, dan berbuah dalam setiap sudut hidup. Orang tua harus mengajar berulang-ulang dan membagikan Firman Tuhan agar setiap momen menjadi kairos dalam seluruh kehidupan keluarga. Pengaruh iman Lois dan Eunike berkaitan dengan iman ternyata memengaruhi seluruh kehidupan Timotius. Mengapa demikian? Kita percaya bahwa Lois dan Eunike membacakan dan mengajarkan Firman Tuhan.

 

1) LATAR BELAKANG MASALAH

 

            Orang tua harus menanamkan benih Firman Tuhan sejak dini. Setiap momentum dalam hidup harus menjadi kairos sehingga anak-anak bisa bertumbuh melalui cerita dari orang tuanya. Setiap keluarga harus berkomitmen mengkhususkan akhir pekan untuk Tuhan. Anak-anak harus mengerti bahwa hari Sabat itu khusus untuk Tuhan. Ketika mereka besar, mereka akan memiliki gaya hidup mengutamakan Tuhan dan bukan diri sendiri pada akhir pekan. Mengapa perlu ada bonding time dan kairos? Kita semua berada dalam proses waktu. Penyesalan bisa terjadi ketika kita sudah tua dan anak-anak kita menjadi sumber kesedihan kita. Anak-anak bisa menjadi duri dalam daging kita yang membuat kita tersiksa karena mereka tidak menyenangkan Tuhan dan keluarga tetapi terus menyenangkan diri dan terus berbuat jahat di mata Tuhan. Jadi waktu itu berharga dan penting. Di dalam waktu yang ada kita harus terus menjalin relasi dengan anak-anak kita. Kita jangan terlena dalam waktu sehingga kita berkompromi dan membuang waktu atau mengisi waktu tanpa makna yaitu tanpa benih Firman Tuhan. Jika anak-anak kita mengambil gaya hidup orang dunia, maka mereka akan berpesta pora, menyalahgunakan kebebasan, bersukacita tanpa kesucian, dan bersukaria tanpa makna di dalam emosi yang liar. Orang-orang yang menikmati kesenangan dunia malam 90% melakukan seks bebas dan 40-50% terjerat narkoba. Mereka tidak menyembah Tuhan tetapi menuhankan diri dalam kebebasan dan keinginan mereka. Kita harus merebut hati anak-anak dari sejak dini. Orang tua harus merancang hati anak menurut kehendak Tuhan. Sebagai anak kita juga harus mengerti apa yang terbaik yang bisa kita kerjakan untuk orang tua dan untuk Tuhan. Kita harus mengerti panggilan kita dalam keluarga, gereja, dan masyarakat.

 

2) PENDAHULUAN

 

Ada pepatah yang mengatakan bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Apa maksudnya? Anak sangat dipengaruhi oleh orang tuanya. Ada sebuah keluarga yang memiliki 3 anak kandung, namun setiap anak memiliki bakat dan sifat yang berbeda-beda. Itu adalah anugerah. Di sana ada keunikan tersendiri. Manusia bisa berbeda dari segi bakatnya namun substansinya tetap sama yaitu manusia berdosa. Ada banyak hal yang anak warisi dari orang tua, namun karakter itu harus dibentuk dengan Firman Tuhan. Amsal 27:17 Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya. Ujian iman berkaitan dengan kedewasaan iman bisa dilihat dalam Roma 12-15. Semua mutiara iman dalam setiap pasal itu bisa kita pelajari. Roma 1-11 berbicara mengenai doktrin. Pasal-pasal selanjutnya berbicara tentang teologi praktika. Orang-orang yang melakukan semua itu adalah orang-orang yang sudah dewasa iman. Kedewasaan iman itu begitu penting dan itu menjadi salah satu cara kita mengukur kesiapan seseorang sebelum menikah. Orang yang tidak dewasa iman akan selalu bermasalah dalam dirinya. Orang yang masih belum dewasa rohani akan terus konflik karena masalah-masalah kecil sehingga ia tidak fokus pada perkara Tuhan. Orang tua harus sepakat mendidik anak-anak dari sejak dini. Dari sejak kecilnya, anak-anak memiliki potensi dosa, namun orang tua harus mendidik agar potensi buah iman itu muncul dalam diri anak-anak. Maka dari itu setiap keluarga Kristen harus memiliki program. Salah satu program yang harus terus dijalankan adalah menanam dan membangun benih Firman Tuhan. Jika pengaruhnya masih belum terlihat, maka program itu harus terus diulang.

 

Apa yang paling dikhawatirkan atau ditakuti oleh orang tua terhadap anaknya? Orang tua khawatir jika anak-anaknya tidak terbentuk karakternya di dalam Tuhan. Kita khawatir jika anak-anak kita tidak punya fighting spirit, tidak punya jiwa pengorbanan di dalam Tuhan, dan tidak punya fokus untuk Tuhan. Orang tua sedih bila anak-anak terhisap oleh dunia sehingga mereka hancur. Sebagai orang tua, kita harus bisa mengelola kekhawatiran itu untuk memunculkan sesuatu yang suci. Suami dan istri harus kompak dan sepakat untuk menanamkan benih Firman Tuhan dan terus menyiram serta memelihara agar benih itu bertumbuh. Semua benih yang liar harus disingkirkan sehingga anak-anak dikhususkan untuk Tuhan Yesus Kristus.

 

Mengapa membangun keluarga memerlukan desain yang komprehensif? Karena anak yang kita hadapi adalah orang berdosa. Anak yang kita hadapi memiliki sifat yang unik sehingga kita harus memakai cara yang berbeda, namun substansinya dan tujuannya tetap sama. Kita mau agar anak-anak kita mengenal Kristus. Kita mau agar mereka berakar dalam Firman Tuhan, bertumbuh, dan berbuah bagi Kristus di dalam Kerajaan Allah. Itulah substansinya. Maka dari itu peran iman orang tua sangatlah penting. Di sini orang tua harus peka akan kemauan Tuhan. Anak-anak harus dibentuk sesuai kehendak Tuhan. Apa yang Tuhan mau harus kita cari sehingga kita bisa secara komprehensif mendidik anak. Orang tua bisa dipakai sebagai alat di tangan Tuhan sehingga anak-anak tetap berjalan di jalan Tuhan.

 

Mengapa program menanam dan membangun iman untuk anak (keluarga) itu penting? Karena kita tahu bahwa selain kita yang menanam Firman Tuhan ada Setan yang juga menabur benih yang lain (Matius 13:24-30). Tanaman itu baru dipisahkan di akhir zaman. Mengapa ini penting? Karena ada peperangan rohani. Ini melibatkan hati kita. Kita tidak menabur benih di tepi jalan, di tanah berbatu, dan di tanah bersemak belukar. Kita harus menanam dalam hati anak-anak kita. Nilai hati anak harus digarap.

 

Benarkah pertumbuhan iman ada prosesnya? Benar. Jika ditinjau dari proses waktu, keselamatan ada 3 aspek. Pertama, keselamatan yang sejati bergantung pada apakah kita mengalami pertobatan yang sejati atau tidak. Kita harus memiliki kesungguhan di dalam Tuhan dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat kita. Kedua, kita harus menyadari keberdosaan kita dan mengejar kesucian Tuhan. Komitmen perubahan harus kita pegang sehingga kita mengalami pembaruan jati diri berdasarkan iman yang hidup. Ketiga, saat konsumasi nanti kita akan diangkat oleh Tuhan menjadi mempelai Tuhan. Di dalam proses itu kita akan melihat semua ini dan akan mengetahui apakah kita benar-benar orang-orang pilihan atau bukan. Apakah kita bersungguh-sungguh atau pura-pura percaya? Jika kita bersungguh-sungguh, maka kita akan melihat perubahan karakter di dalam Kristus. Perubahan karakter itu tidak bisa dipalsukan. Orang yang benar-benar percaya pasti akan membenci dosa, menjauhi kepuasan diri, dan semakin rela berkorban demi Tuhan. Proses itu mengarahkan kita untuk hidup bagi Tuhan dan untuk menghasilkan buah-buah iman melalui semua proyek iman termasuk penginjilan. Kita tidak perlu takut akan kematian karena kita mati di dalam Tuhan. Jiwa kita dijamin oleh Allah Tritunggal.

 

3) STAGES OF FAITH: JAMES FOWLER

 

            James Fowler membahas 6 tahapan atau tingkatan perkembangan iman anak yang dikaitkan dengan perkembangan pengetahuan anak. Pada bagian pertama yaitu umur 4-8 tahun, iman anak bersifat intuitif-proyektif. Ini berarti anak suka mencontoh dari orang tua dan orang-orang di sekitarnya. Anak belajar berbudaya dan beragama dari hal ini. Anak paling mudah dipengaruhi oleh orang tuanya dalam masa ini. Di masa ini anak-anak akan suka mencoba hal-hal baru yang unik dan aneh. Pada masa ini mereka belum memiliki standar dan ini adalah hal yang wajar. Setiap ekspresi, fantasi, dan imajinasinya harus dikaitkan dengan sejarah Tuhan dalam Perjanjian Lama dan karya Tuhan dalam Perjanjian Baru. Di sana orang tua memperkenalkan Kristus yang mati menebus dosa dan mengasihi anak-anak. Melalui hal ini anak-anak akan belajar kagum kepada Tuhan. Namun melalui acara-acara televisi, Setan bisa menabur benih lalang di dalam hati anak-anak. Jika anak-anak lebih banyak menonton televisi maka pelajaran rohani dari sekolah Minggu dan dari orang tua akan digantikan oleh pengaruh dunia. Di sini orang tua harus bergumul untuk memengaruhi anak-anak dengan Firman Tuhan. Kita harus membentuk gaya hidup anak-anak sehingga mereka terbiasa berdoa dan membaca Alkitab. Ketika anak sudah mencontoh budaya yang takut akan Tuhan, mereka akan mulai mengerti apa artinya mengikut Kristus. Kekompakkan orang tua diperlukan dalam bagian ini. Ketika istri berdoa sebelum makan, maka suami harus berbuat demikian juga. Perbedaan kebiasaan berdoa akan membuat anak kebingungan. Pada zaman ini ada tantangan kecanduan gadget sehingga orang tua harus bisa menerapkan gaya hidup yang seimbang dan sehat. Anak-anak pada zaman ini lebih suka bermain gadget daripada melatih tubuh dalam permainan-permainan masa lalu. Tidak mengherankan jika anak-anak masa kini lemah secara fisik. Mereka dimanjakan secara fisik sehingga tidak kuat mental. Di dalam masa umur 4-8 tahun ini orang tua harus mengajarkan Firman Tuhan dengan penuh ekspresi dan gaya. Hati anak harus dimenangkan untuk Kristus.

 

            Pada bagian kedua yaitu umur 8-11 tahun, iman anak bersifat afiliatif-harfiah. Ini berarti anak-anak pada masa ini sudah bisa mengerti pengetahuan yang bersifat harfiah. Di sini orang tua harus mengajarkan tentang Tuhan yang maha kuasa, maha hadir, dan maha tahu. Minimal 3 sifat ini harus diajarkan. Di dalam ketiga hal ini orang tua harus memberikan contoh-contoh dari kisah-kisah Alkitab. Semua ini harus diajarkan berulang-ulang. Mereka bisa menangkap melalui contoh karena berpikir harfiah. Kita mengajarkan ini agar mereka tunduk pada otoritas Tuhan yang memiliki 3 sifat itu. Jika anak tunduk pada otoritas Tuhan, maka ia akan taat dan takut akan Tuhan. Di dalam masa ini anak juga harus diajarkan untuk taat kepada otoritas orang tua. Di sana anak akan menjadi takut untuk mengecewakan orang tua. Ini harus ditegakkan. Anak juga harus diajarkan untuk tunduk kepada otoritas negara sehingga ia tidak melawan hukum negara. Roma 13 mengajarkan kita untuk tunduk kepada pemerintah sebagai wakil dari Tuhan. Di sana anak juga diajarkan untuk mengasihi dan menghormati orang lain. Anak pada masa ini berpikir secara afiliatif dan harfiah. Jika anak sudah mengerti tentang kemahatahuan Allah, maka ia akan takut berdosa. Ketika ia mengerti tentang kemahahadiran Allah, anak akan senantiasa berdoa. Ketika anak mengerti tentang kemahakuasaan Allah, ia akan terus bergantung pada Allah. Ia juga akan belajar menghormati orang tua sebagai wakil Allah dalam keluarga. Anak harus diberikan kesadaran akan hidup yang menjadi berkat dan bukan menjadi batu sandungan. Jika anak mengerti semua ini dalam masa umurnya, maka ia akan menjadi anak yang baik. Kita harus merenungkan bagaimana sebagai orang tua kita menanamkan benih Firman Tuhan itu di tengah peperangan rohani. Anak harus mengerti bagaimana menundukan dirinya di bawah otoritas Tuhan dan orang tua. Di sini disiplin rohani harus ditegakkan. Di dalam disiplin itu anak harus bersama-sama orang tua membaca Alkitab. Tuhan harus diutamakan dan anak harus belajar tentang tanggung jawabnya di sekolah. Jika disiplin rohani tidak ditegakkan, anak akan mengambil posisi otoritas sehingga ia menjadi liar. Orang tua yang terus menuruti kemauan anak akan diperbudak oleh anak. Orang tua harus mengerti mana yang memang kebutuhan dan mana yang hanya bersifat keinginan. Orang tua yang memanjakan anaknya sebenarnya sudah mencuri nilai perjuangan anak.

 

            Pada bagian ketiga yaitu umur 12-18 tahun, iman anak bersifat sintetis-konvensional. Pada umur 12 tahun, Yesus belajar di Bait Allah. Ini karena anak-anak Yahudi sudah bisa berpikir sintetis dan konvensional di mana di dalamnya ada pengertian. Ketika mereka diuji, mereka akan menunjukkan pengertian mereka. Jadi pada masa umur ini anak-anak tidak boleh diremehkan. Di masa ini anak-anak membangun pengertian mereka. Pada masa ini anak-anak bisa diajarkan untuk berpikir kritis. Mereka belajar pertanyaan ‘mengapa’ dan tidak hanya ‘apa’ supaya mereka bisa memikirkan substansi. Inilah mengapa masa ini begitu penting. Apa yang diketahuinya pada masa ini harus dikaitkan dengan iman sehingga jati dirinya dibentuk dalam iman kepada Tuhan. Ketika menjadi seorang Kristen, kita tidak boleh berpikir duniawi dan bersifat duniawi. Pada masa umur 12-18 tahun anak-anak memiliki potensi yang besar untuk menyerap banyak pengetahuan. Kesempatan ini harus dipakai orang tua untuk mengisi Firman Tuhan. Namun pada masa ini emosi anak tidak stabil bahkan anak berani memberontak. Orang tua bisa begitu terkesima karena anak-anak pada masa ini bisa banyak belajar dan memiliki banyak pengetahuan namun mereka belum memiliki kestabilan emosi. Di sini orang tua harus memiliki kesabaran dan penguasaan diri. Anak-anak pada masa ini memerlukan teladan yaitu orang tuanya. Konflik bisa lebih mungkin terjadi jika orang tua sudah berumur terlalu lanjut dan harus menghadapi anak dalam masa usia ini. Di sana bisa terjadi peperangan emosi. Ini berarti orang tua harus lebih kuat, lebih sabar, dan lebih menguasai diri. orang tua tidak boleh cepat marah dan harus cepat mengerti.

 

Bagaimana mengajarkan Firman Tuhan dalam masa anak berumur 12-18 tahun? Anak harus menjadi teman diskusi kita. Setelah ia mempelajari firman tuhan di gereja, orang tua harus bertanya kepadanya tentang pelajarannya di gereja. Anak yang hanya memerhatikan hal-hal fisik bisa menjadi sombong ketika memiliki barang yang bagus. Di sini orang tua harus memperbaiki komunikasi. Anak-anak juga harus diajarkan untuk bertanya dan membagikan kerohaniannya kepada teman-temannya. Di sana anak-anak kita menjadi agen moral dan agen iman di tengah komunitasnya. Setiap komunitas harus ditebus dan itu bisa dilakukan melalui anak-anak kita. di dalam hal itu mereka juga dibentuk untuk tidak mengutamakan hal-hal duniawi atau keegoisannya sendiri. Di tengah masa itu kita jangan sampai lelah dan hilang fokus. Mata rohani kita harus terus terbuka karena di masa ini anak lebih pintar untuk menyembunyikan berbagai hal. Di dalam hal ini kejujuran dan keterbukaan anak harus dilatih. Di masa umur 12-14 tahun ada krisis pembentukan jati diri yang kedua setelah masa 9-11 tahun. Orang tua harus menjadi partner iman atau sahabat rohani. Pada umur 15-18 tahun ada krisis yang ketiga. Orang tua harus mendampingi anak melewati krisis itu sehingga ia menjadi anak yang kuat dan memiliki pengertian yang komprehensif. Orang tua harus memantau anak-anak pada masa umur ini sehingga potensi mereka bisa dikembangkan dengan baik. Jadi kebebasan anak harus tetap dibatasi. Ada seorang muda yang hidup bebas di luar negeri. Ia sekolah sambil tinggal bersama pacarnya seperti teman-temannya. Beberapa waktu kemudian ia mau menikahi pacarnya, namun sebenarnya kesucian dan penguasaan dirinya belum teruji. Orang-orang yang pada masa mudanya tidak menjaga kesucian biasanya jatuh ke dalam perzinahan setelah menikah. Pernikahan itu kudus jadi tidak boleh dianggap sepele. Maka dari itu orang tua harus menjaga anak-anak dalam masa umur ini. Ini adalah masa yang menentukan pengertian imannya. Anak-anak pada umur ini belum boleh berpacaran agar ia bisa fokus pada hal-hal yang penting. Ketidakstabilan mental dan emosi bisa menimbulkan bahaya dalam relasi pacaran.

 

Pada bagian keempat yaitu masa usia 18-30 tahun, iman seseorang bersifat individual-reflektif. Di sini anak mulai belajar mandiri dalam berpikir dan dalam beriman. Di masa ini ia akan menguji segala pengertiannya dan kemudian menghidupinya. Bagi orang Yahudi, ini adalah masa di mana anak harus mulai dilepas untuk menjadi pemimpin. Yesus menyatakan diri-Nya pada umur 30 tahun. Jadi pada umur 30 tahun kita harus mandiri dan bisa memimpin. Iman pada tahap ini harus memengaruhi jati diri kita. Ketika anak menghadapi tantangan pada umur ini, ia akan memiliki refleksi iman. Di sana ia akan mengaitkan semua itu dengan Tuhan yang ia percaya. Setelah semua ini imannya dan pengalaman rohaninya akan teruji. Pada masa ini anak tidak hanya tahu dan mengerti Firman Tuhan tetapi juga mengalami Firman Tuhan secara pribadi. Di sana kita sebagai orang tua mengingatkan anak untuk memiliki ekspresi iman. Orang tua tidak bisa lagi memaksa anak, namun orang tua bisa menjadi teman berbagi. Kita tetap memegang otoritas kita untuk memimpin anak tetap mengutamakan Tuhan dan mendemonstrasikan hidup bersama dengan Tuhan.

 

Pada bagian kelima yaitu masa usia 30-40 tahun, iman seseorang bersifat konjungtif. Ini artinya imannya sudah komprehensif. Ia sudah bisa mengaitkan banyak doktrin tentang Allah dengan hidupnya dan ia bisa melihat seluruh wahyu umum dalam sudut pandang Alkitab dengan limpah. Imannya juga sudah menjadi sumber solusi. Ia tidak memakai emosi sebagai dasar. Pada masa ini imanlah yang memengaruhi pikirannya, perasaannya, dan sikapnya. Pada masa ini komitmennya akan teruji tangguh. Gaya hidupnya tidak akan sembarangan di dalam kesombongan dan keegoisan. Hidupnya akan menunjukkan Kristus yang ia percaya. Jika seluruh program penanaman iman dan bangunan iman di dalam masa ini beres, maka semua komitmen dan gaya hidupnya akan beres. Jika sampai umur ini seseorang belum memiliki iman yang komprehensif, maka ia harus belajar teologi. Jika iman belum menjadi dasar, maka ia harus belajar Firman Tuhan kembali.

 

Terakhir, pada masa usia 40 tahun ke atas, imannya bersifat universalitas. Ia sudah membereskan segala masalah di dalam. Imannya, pandangannya, dan gaya hidupnya sudah beres. Imannya sudah matang dan ia mengaktualisasikan imannya. Ia bisa menjabat sebagai pengurus, aktivis, atau diaken di gereja karena ia bisa mengatasi berbagai masalah di luar dirinya. Ia bisa bersikap benar di dalam dunia yang berdosa. Pada masa ini orang itu sudah teruji dalam nilai penginjilan karena kesadaran iman dan bukan karena ikut-ikutan. Ia memiliki komitmen iman dan belas kasihan untuk jiwa-jiwa. Inilah teori sumbangsih dari James Fowler yang bisa kita pakai sebagai pertimbangan untuk membuat program pendidikan iman bagi anak sesuai dengan tahapan umurnya. Kita tidak memutlakkan teori James Fowler. Semua yang dikatakannya ini benar, namun perkecualian bisa tetap ada. Anak berumur 7 tahun bisa saja sudah mengalami pertobatan sejati dan memiliki pengertian sejati tentang Tuhan yang menebusnya. Kita tidak perlu menunggu anak ini mencapai umur 12-18 tahun untuk bisa menyaksikan pertobatan sejati. Allah Roh Kudus bisa mempertobatkan anak umur berapapun. Allah Roh Kudus bisa berkarya sehingga pengertian anak melampaui umurnya. Inilah mengapa kita juga harus menginjili anak-anak. Yesus mau anak-anak datang kepada-Nya. Pendekatan pengajaran yang kita pakai tidak harus selalu bersifat untuk anak-anak tetapi kita bisa memakai pendekatan pengajaran orang dewasa jika kita melihat bahwa itu bisa diterapkan untuk anak-anak kita. Dari sejak dini anak-anak harus diajar untuk berpikir kritis. Anak-anak yang sudah bisa berpikir sintetis akan bisa berpikir kritis. Teori James Fowler ini bisa kita terapkan dalam pendidikan anak. Iman harus dipertumbuhkan secara integratif dan komprehensif sampai pada tahap aktualisasi iman yaitu penginjilan dan menjadi terang dan garam. Pada tahap ini anak tidak egois tetapi sudah peduli kepada jiwa-jiwa. Dari sejak kecil anak bisa saja memiliki iman yang seperti ini. Orang tua harus terus memberikan contoh-contoh dan Firman Tuhan. Anak-anak kemudian bisa menghidupi apa yang ia pelajari sampai ia mendemonstrasikan imannya. Ketika kita meninggal, kita akan tersenyum jika kita sudah mengerjakan bagian kita untuk anak-anak kita. kita tidak akan menyesal jika anak-anak sudah terdidik untuk mencapai yang terbaik bagi Tuhan. ketika kita dahulu bertumbuh, mungkin kita tidak dididik dengan pola yang benar, namun jangan sampai kita mengulangi hal yang sama pada anak-anak kita. semua ini kita lakukan dalam anugerah dan kedaulatan Tuhan. kita harus memiliki kerinduan untuk menjadi teladan dan menjadi guru yang mengajarkan hal-hal yang kita sudah bahas. Allah mampu bekerja melampaui tahapan-tahapan yang kita pelajari. Kita harus mendidik juga berdasarkan kebutuhan yang ada. Suatu kali kelak kita semua akan menjadi tua. Doa kita adalah bagaimana kita bisa hidup dengan tidak menyusahkan orang lain dan hidup mengabdikan diri dalam pelayanan. Di dalam hidup kita, kita harus senantiasa memberikan yang terbaik.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami