Mempersenjatai Diri dengan Pikiran Salib Kristus

Mempersenjatai Diri dengan Pikiran Salib Kristus

Categories:

Bacaan alkitab: 1 Petrus 4:1-2

Kita akan membahas mengenai penderitaan di atas kayu salib. Penderitaan karena disalib itu berbeda dengan hukuman-hukuman yang lain. Hukuman yang lain misalnya pembakaran hidup-hidup itu sangat menyakitkan tetapi hanya menyiksa sebentar. Dalam Daniel 3 ada tertulis kisah tentang Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang melawan perintah Nebukadnezar. Mereka tidak mau menyembah kepada patung yang dibuat oleh Nebukadnezar sehingga mereka dihukum mati olehnya. Mereka diikat dan dilemparkan ke dalam api yang dipanaskan 7 kali lebih panas dari biasanya. Banyak orang Kristen yang mati dibakar itu sebelumnya telah berteriak karena kesakitan, namun penderitaan mereka itu singkat. Hukuman yang lain bisa berupa kematian di mulut singa. Orang-orang Kristen zaman dahulu pernah dimasukkan ke dalam arena dan dikunci bersama singa-singa. Singa memiliki rahang yang kuat dan gigi yang tajam sehingga tulang manusia pasti hancur ketika digigit. Namun seperti hukuman api, kematian karena singa itu menyakitkan namun hanya sebentar. Daniel pernah dilempar ke gua singa (Daniel 6:17) karena melanggar perintah Raja Darius yang saat itu dihasut oleh orang-orang pemerintahan untuk menjebak Daniel. Sebenarnya Darius sangat menyayangi Daniel, namun karena perintahnya itu tidak bisa dibatalkan, maka ia harus menghukum Daniel. Tuhan melindungi Daniel dan membuat semua mulut singa itu tertutup. Setelah Daniel dikeluarkan dari gua itu, Darius memasukkan orang-orang yang menghasutnya ke dalam gua singa tersebut. Dikatakan bahwa Daniel 6:25b Belum lagi mereka sampai ke dasar gua itu, singa-singa itu telah menerkam mereka, bahkan meremukkan tulang-tulang mereka. Mereka merasakan kesakitan itu namun hanya sebentar lalu mati.

Pemerintahan Romawi menemukan satu hukuman yang sangat menyakitkan namun tidak langsung membuat mati: salib. Yesus disalib selama berjam-jam. Ia mengenakan mahkota duri yang menusuk kepalanya sampai berdarah-darah selama berjam-jam. Tangan dan kaki-Nya juga dipaku dengan paku yang cukup besar yang saya yakin masih kotor dan berdebu. Ia mengalami rasa sakit di kepala, tangan, dan kakinya. Tidak hanya itu, sebelumnya Yesus dicambuk dengan duri besi yang merobek dagingnya. Luka di punggung Yesus itu dibiarkan dan tidak diobati sehingga ada bagian-bagian yang masih meneteskan darah dan menyakitkan. Ketika ia disalib, luka-luka yang masih terbuka di punggung-Nya itu harus bergesekan dengan kayu salib yang kasar. Kedua lengan Yesus yang sudah ditarik dengan paksa itu membuat Ia sulit bernafas. Jika orang yang disalib itu ingin bernafas lega, maka ia harus menarik badannya ke atas dengan menggunakan tangan dan kakinya, namun kita harus mengingat bahwa tangan dan kaki orang itu sudah dipaku. Jika ia mau menarik badannya ke atas agar bisa bernafas, maka ia harus merasakan kesakitan yang besar di tangan dan kakinya. Jika ia memilih untuk tidak menarik badannya, maka ia akan sulit bernafas. Penderitaan ini terjadi berjam-jam. Sebelum disalib, Yesus juga harus memikul salib yang berat itu ke atas bukti Golgota. Jadi tidak hanya rasa sakit, Yesus juga harus menderita kelelahan dan kurang tidur. Di sini tubuh-Nya harus menerima tekanan yang luar biasa selama berjam-jam. Jadi hukuman salib itu sangat menyiksa dan bisa menyiksa selama berjam-jam. Ini baru berbicara mengenai penderitaan badani.

Para murid yang terus bersama-Nya selama 3 tahun lebih itu telah kabur dan meninggalkan-Nya. Ini pasti memberikan luka di hati. Yesus telah menjadi Guru mereka dan begitu baik kepada mereka, namun pada akhirnya mereka meninggalkan Yesus. Tetapi bagian yang paling menyakitkan dari semua ini adalah ketika Yesus berkata: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Matius 27:46). Itulah penderitaan yang terbesar yaitu keterpisahan dengan Allah. Tuhan Yesus tidak pernah mengeluh ketika cambuk itu dilemparkan atau ketika paku itu ditancapkan, tetapi ketika dosa itu ditimpakan kepada-Nya, Ia berseru kepada Allah. Neraka yang sebenarnya adalah ketika terpisah dari Allah yang adalah sumber kehidupan. Rasul Petrus telah berpesan sesuai dengan ayat yang kita baca bahwa kita harus mempersenjatai diri kita dengan pikiran tentang penderitaan badani Kristus. Ini adalah ayat yang menyeramkan. Penderitaan Kristus sebenarnya telah dimulai saat Ia lahir di palungan. Ia lahir di antara hewan-hewan yang kotor dan mati di antara penjahat-penjahat. Saat orang-orang Majus datang dan bertanya kepada Herodes tentang kelahiran Yesus, ia menjadi terkejut dan mau membunuh Yesus (Matius 2). Ketika Herodes ditipu oleh orang-orang itu, ia menjadi sangat marah dan membunuh semua bayi berumur 2 tahun ke bawah di Betlehem. Bahkan ketika Yesus masih bayi pun ada yang mau membunuh-Nya. Bagian ini sebenarnya mengkonfirmasi bahwa bayi Yesus adalah bayi yang istimewa. Ia adalah Raja di atas segala raja namun dunia membenci-Nya. Di dalam catatan Injil pun kita melihat bahwa ada banyak orang yang mau menjatuhkan Yesus. Yesus merasakan penderitaan yang sangat amat besar, dan kita sebagai pengikut-Nya harus siap dengan pikiran yang demikian.

Kata mempersenjatai memiliki kata dasar dalam bahasa Yunani yaitu hoplizo. Kata ini berkaitan dengan hoplite, yaitu tentara Yunani yang memakai ketopong, jubah, tameng, dan bersenjatakan tombak. Ada yang menyatakan bahwa kata hoplizo ini berhubungan dengan jubah dari hoplite. Kata ini juga berhubungan dengan hoplon yaitu senjata. Jadi kata hoplizo ini bisa berarti mempersenjatai atau memperlengkapi. Ini adalah bahasa peperangan. Efesus 6 berbicara mengenai peperangan rohani. Paulus memakai bahasa peperangan yaitu perlengkapan senjata rohani yang harus dipakai oleh orang Kristen untuk menghadapi tipu muslihat Iblis dan kegelapan. Kita dipanggil bukan untuk mempersenjatai diri dengan senjata dunia seperti uang, kuasa, dan senjata fisik tetapi kita dipanggil untuk mempersenjatai diri dengan pikiran salib. Kita harus melihat kepada salib itu. Inilah keunikan orang Kristen. Di salib itu Tuhan terlihat lemah dan mungkin ada yang bertanya bagaimana mempersenjatai diri dengan kondisi Tuhan yang seperti itu. Namun di salib itu ada suatu paradoks. Di dalam Kristus yang nampak lemah itu justru ada kemenangan. Di salib itu Ia sudah menggenapi semua kehendak Bapa. Di salib itu maut dikalahkan dan Iblis ditundukkan. Setelah Ia bangkit, Ia berkata Matius 28:18 Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Paulus juga menulis dalam 1 Korintus 1:23-24 tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Bagi orang dunia yang tidak mengerti, salib itu kebodohan dan kita dihina oleh mereka. Namun bagi kita, salib adalah kemenangan. Petrus di sini bukan hanya berbicara mengenai mempersenjatai pikiran tetapi juga hati. Hati kita harus siap ketika harus menghadapi hal yang serupa dengan yang dialami oleh Kristus.

Di dalam kitab Injil, Yesus memberitahukan dengan penderitaan dan kematian-Nya beberapa kali. Di dalam Injil Matius dicatat sebanyak 4 kali dan di dalam Injil Markus dicatat sebanyak 3 kali. Di dalam Injil Matius, ketika Tuhan pertama kali menyatakan pemberitahuan itu, Petrus menegur-Nya. Matius 16:21-23 Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia. Allah sudah memerintahkan misi salib itu namun Petrus mau hal itu jauh dari Tuhan Yesus. Di sini perkataan Petrus tidak sejalan dengan Doa Bapa Kami. Di dalam Doa Bapa Kami dikatakan ‘jadilah kehendak-Mu’, namun Petrus tidak berpikir demikian. Tuhan Yesus berkata ‘enyahlah Iblis’. Teguran ini sangat keras. Saat itu mereka berpikir bahwa Yesus akan duduk di takhta Daud dan para murid akan menjadi menteri-menteri-Nya. Yakobus dan Yohanes pun pernah meminta untuk duduk di sebelah kiri dan kanan Tuhan Yesus (Matius 20:20-21). Ini adalah posisi yang begitu tinggi seperti Yusuf di hadapan Firaun. Di sini para murid masih menganut pikiran kerajaan manusia dan tidak mengerti pikiran Kerajaan Allah itu seperti apa. Ketika Petrus masih belum mempersenjatai dirinya dengan pikiran salib, ia masih memiliki pikiran dunia yang bertentangan dengan Kerajaan Allah. Itulah mengapa Yesus menegurnya ‘enyahlah Iblis’. Mungkin saat itu Petrus bermaksud baik dan tidak ingin Yesus mengalami bahaya, namun pikirannya tidak sesuai dengan pikiran Tuhan, maka dari itu ia mendapatkan teguran keras. Kita tidak cukup hanya menjadi baik saja tetapi kita juga harus mengerti pikiran Allah.

Saat Yesus dan para murid-Nya pergi ke taman Getsemani, para murid masih memakai pikiran duniawi. Petrus mempersenjatai dirinya dengan pedang fisik. Saat Yesus akan ditangkap, Petrus memotong telinga dari hamba imam besar. Tuhan Yesus menegur Petrus dan menyembuhkan telinga hamba itu. Petrus menyerang dengan kuasa fisik karena pikirannya masih duniawi. Saat itu ia menyerang dalam ketakutannya dan bukan keberaniannya, karena setelah Yesus ditangkap, ia juga kabur. Ada orang-orang yang suka menyerang karena takut diserang terlebih dulu. Orang yang ketakutan itu cenderung melindungi diri dan mengorbankan orang lain dan bukan mengorbankan diri demi orang lain. Itulah pikiran Petrus. Ini kegagalan Petrus. Sebelumnya Petrus berkata bahwa ia tidak akan goyah iman walaupun Yesus ditangkap dan dibunuh. Ia bahkan menekankan bahwa dirinya lebih baik daripada murid-murid yang lain (Matius 26:33). Namun ternyata pada kenyataannya Petrus menyangkal Yesus 3 kali sebelum ayam berkokok 2 kali (Markus 14:30). Petrus bahkan sempat bersumpah ketika menyangkal Yesus (Markus 14:71). Di sini dia masih berpikiran dunia dan bukan salib. Setelah kegagalan-kegagalan itu, Yesus bangkit dan bertemu dengan Petrus dan bertanya: apakah engkau mengasihi Aku? (Yohanes 21:16-17). Ia baru saja menyangkal Gurunya sebanyak 3 kali namun Yesus kemudian bertanya tentang kasihnya kepada Yesus. Yesus bisa saja membalasnya dengan berkata “Aku juga tidak mengenal engkau” namun itu bukan cara Tuhan. Tuhan mengampuninya dan bahkan memercayakan domba-domba-Nya kepada Petrus. Petrus pasti sangat tertegur. Ia bahkan belum menyatakan maaf tetapi Tuhan sudah bertanya tentang kasih (agape) lalu memercayakan jemaat-Nya kepada Petrus. Saat itu Petrus belum bisa memberikan kasih yang tertinggi kepada Yesus. Petrus kemudian menjalankan misinya termasuk dalam menulis surat yang kita baca ini. Saat ia menulis 1 Petrus 4:1-2, saya yakin Petrus teringat akan kegagalannya. Dahulu ia belum memiliki pikiran salib namun kemudian ia memilikinya dan menulis surat itu untuk jemaat Tuhan. Mungkin saja ada orang-orang yang menuduh dan mengingatkan Petrus akan kegagalannya di masa lampau, namun ia tahu bahwa dirinya sudah dibarui oleh Tuhan. Ia mendapatkan lembaran baru dan tugas kerasulan itu masih dipercayakan kepadanya.

Di dalam film ‘Paul, Apostle of Christ’ terkandung cerita yang bisa membuat kita merenung meskipun banyak dari bagian film itu merupakan imajinasi dari sutradara dan bukan bersumber langsung dari Alkitab. Saat itu Paulus sudah dipenjara oleh Nero yang waktu itu membakar Roma dan memfitnah orang Kristen. Komunitas orang Kristen bersembunyi karena mereka dianggap kriminal pada waktu itu. Di dalam komunitas itu terdapat suatu perdebatan tentang apa yang mereka harus lakukan. Kaum yang muda mengatakan bahwa mereka harus membebaskan Paulus dengan pedang dan kekerasan. Kaum yang tua termasuk Priskila dan Akwila menyatakan bahwa itu bukan cara Tuhan. Lukas menyatakan bahwa cara Tuhan adalah kasih dan bukan kekerasan. Di dalam film itu diceritakan bahwa kaum yang muda akhirnya mengambil pedang dan menyerang penjara pada waktu malam hari. Mereka mau membebaskan Paulus dan Lukas namun mereka menolak untuk dibebaskan dengan cara seperti ini. Di sini ada pergumulan antara kaum muda yang mempersenjatai diri dengan senjata dunia dengan kaum yang mempersenjatai diri dengan pikiran salib. Mungkin ada saat di dalam hidup kita dimana kita memegang uang, kuasa, dan jabatan itu lalu berpikir bahwa kita bisa menghabisi orang-orang yang memusuhi kita. Namun ketika kita melihat salib Kristus, kita akan sadar bahwa jalan yang diberikan Tuhan adalah jalan kasih. Kristus mau mengampuni mereka yang masih menghina Dia di depan salib. Bagaimana seandainya jika kita berada di posisi Kristus? Kristus memberikan jalan kasih kepada kita. Ini merupakan hal yang sangat berat untuk kita jalani karena bertentangan dengan kedagingan kita.

Apakah mereka yang sudah mempersenjatai diri dengan pikiran salib dan sudah mengalami penderitaan badani berarti sudah tidak lagi berbuat dosa? Tidak demikian. Paulus menceritakan tentang penderitaan badaninya di 2 Korintus 11:23-28 Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat. Paulus sudah banyak mengalami penderitaan fisik yang sangat berat. Apakah ia masih bisa berdosa? Masih. Paulus mendapatkan duri dalam daging dan ia menuliskan alasan dari duri itu. 2 Korintus 12:7 Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. Di sini Paulus masih ada kecenderungan untuk meninggikan diri dan ia melihat bahwa duri itu mencegahnya dari berbuat demikian. Paulus sudah menderita begitu berat dan ia masih bisa berdosa. Jika demikian, maka apa arti dari ‘karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa’? ESV memakai frasa ceased from sin dan NIV memakai frasa done with sin. Beberapa penafsir menyatakan bahwa ketika orang Kristen sudah mempersenjatai diri dengan pikiran salib Kristus dan ia rela untuk mengorbankan dirinya sendiri demi Kristus bahkan sampai kematian, ini berarti visi hidupnya bukan lagi tentang dosa atau ia tidak lagi memikirkan dosa secara aktif. Di dalam hidupnya tetap ada potensi untuk berbuat dosa, namun kasihnya kepada Kristus yang sudah dibuktikan melalui pengorbanannya itu menjadi bukti bahwa dirinya tidak lagi berpikir untuk berbuat dosa. Ia hanya memikirkan kemuliaan Allah.

1 Petrus 4:2 supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah. Setelah kita mempersenjatai diri dengan pikiran salib dan mengalami penderitaan badani, kita mengalami pengudusan. Sebagai orang Reformed kita percaya bahwa kita sudah dibenarkan dan kita sedang mengalami tahap pengudusan. Alkitab menyatakan bahwa cara yang Tuhan sering pakai untuk menguduskan kita adalah melalui penderitaan. Kita harus siap dengan hal ini. iman itu dimurnikan melalui penderitaan. Alkitab memberikan gambaran bahwa iman itu seperti emas yang dimurnikan dalam api (1 Petrus 1:7). Kita mengalami pembakaran itu, yaitu penderitaan yang begitu hebat, agar kita bisa dimurnikan. Penderitaan itu bukanlah penderitaan yang sia-sia atau tanpa makna melainkan penderitaan yang membawa hasil yang kekal. Tuhan mau agar kita memiliki iman yang murni. Seperti Kristus yang telah menderita, kita pun juga harus bersiap untuk menghadapi penderitaan. Seiring waktu fokus hidup kita diubah menjadi untuk Allah dan bukan dosa. Ada seorang penginjil di Padang yang dipenjara karena memberitakan Injil. Ia dimasukkan ke dalam penjara yang tidak ada atapnya sehingga jika hujan datang, maka orang-orang di dalamnya pasti basah dan kedinginan. Suatu kali ia merasa sangat kelaparan dan sangat kedinginan sehingga ia memakan kotorannya sendiri yang masih hangat. Ketika ditanya apakah ia menyesal menjadi pengikut Tuhan atau tidak, ia sama sekali tidak menyesal. Saya yakin ini karena ada pimpinan dari Roh Kudus. Hal yang ia takutkan adalah anak-anaknya menjadi goyah iman karena mendengar kisah ayahnya ini. namun ketika anak-anaknya sudah mendengar hal tersebut, mereka menyatakan bahwa mereka mau menjadi penginjil seperti ayah mereka. Hal ini sungguh mengharukan. Suatu kali ia melayani di sebuah kampung dan ia tidak memiliki uang, sedangkan anaknya ingin kuliah di kota. Anaknya meminta uang dari ayahnya, namun ayahnya tidak memiliki uang dan kemudian ia berdoa. Tidak lama kemudian ada orang yang tidak dikenal menelponnya dan menyatakan bahwa biaya kuliah anaknya sudah dilunasi sehingga anaknya bisa belajar. Penginjil ini bersaksi bahwa memang mengikut Tuhan itu bisa mendatangkan penderitaan yang luar biasa namun penyertaan dan pemeliharaan Tuhan itu sungguh luar biasa.

Kita sebenarnya juga mengalami pemeliharaan Tuhan setiap waktu, namun karena kita sudah terbiasa dengan hidup yang nyaman, kita berpikir bahwa semua ini kita nikmati karena kemampuan kita dalam bekerja dan mencari nafkah. Namun Alkitab sudah memperingatkan akan hal ini dalam Ulangan 8:17-18 Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini. Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak sombong. Bangsa Israel tidak melihat peringatan ini dan mereka akhirnya melupakan Tuhan dan menjadi sombong. Kita semua makhluk yang lemah dan membutuhkan pertolongan Tuhan. Mungkin ada dari kita yang bertanya apakah kita bisa kuat atau tidak jika harus menghadapi penderitaan yang sebesar penderitaan Kristus. Saya secara pribadi pun mungkin masih akan sangat bergumul jika harus menghadapi beban yang sangat berat itu. Namun kita memiliki jawaban dalam Markus 9:24 Segera ayah anak itu berteriak: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!”. Ayah dari anak ini meminta pertolongan dari Tuhan dan ia bergumul dalam imannya. Bagian ini saya sebut sebagai paradoks iman. Bagian ini mungkin membuat kita bingung: ia percaya atau tidak percaya? Tuhan Yesus tidak mempertanyakan iman orang ini dan Ia tahu benar kondisi imannya. Apa maksud dari perkataan orang ini? Kita semua memiliki iman dan mungkin kita sudah belajar tentang kedaulatan Allah, pemeliharaan Allah, dan doktrin-doktrin lainnya termasuk bagian dimana Bapa tahu segala sesuatu tentang kita sampai setiap helai rambut kita. Kendati demikian, kita yang sudah belajar ini ketika menghadapi kenyataan yang berat di depan mata kita, kita bisa merasa lemah dan putus asa. Kita mungkin sudah banyak tahu tentang Tuhan dan bahkan yakin tentang Tuhan tetapi masih ada ketakutan. Itulah kenyataan kehidupan Kristen. Ayah itu sudah tahu Yesus bisa menyembuhkan banyak orang, namun ketika anaknya sendiri sakit dan ia meminta pertolongan Tuhan, ia masih ada keraguan. Mungkin di dalam tahap kehidupan kita, kita pernah meragukan apakah diri kita ini sudah Kristen atau belum. Kita sebenarnya memiliki iman namun belum mencapai kematangannya yang sempurna. Kita mau percaya namun masih ada ketakutan dalam diri kita. Di sana kita memohon pertolongan Tuhan. Di tengah kegalauan imannya, ayah itu memohon kepada Tuhan. Itulah respons iman yang tepat.

Saat Luther diperhadapkan di Diet of Worms, ia diminta untuk menarik kembali semua karya tulisnya karena pada saat itu dianggap menentang ajaran gereja. Saat itu ia ketakutan dan tidak berani berbicara, namun kemudian ia diberikan waktu sampai ia dipanggil kembali untuk memberikan jawaban. Ketika ia dipanggil kembali, ia bertanya karyanya yang manakah yang harus ia tarik kembali, karena ada tulisan-tulisannya yang mendukung ajaran gereja saat itu. ketika yang mendakwanya tidak bisa menjawab, ia mengatakan suatu kalimat yang terkenal kira-kira seperti ini: ‘aku tidak bisa menyangkal hati nuraniku. Di sini aku berdiri dan aku tidak dapat melakukan hal yang lain. Tuhan tolonglah saya.’ Luther adalah seorang yang hebat yang menjadi teladan rohani bagi kita, namun pada akhirnya ia pun harus berkata ‘Tuhan tolonglah saya’. Justru inilah respons dari orang yang dewasa iman. Orang yang dewasa iman itu bukanlah orang yang sudah mandiri dari Tuhan, tidak perlu lagi bergantung kepada Tuhan. orang yang dewasa iman itu adalah orang yang setiap hari berdoa memohon pertolongan Tuhan. Dalam sebuah lagu yang berjudul Help Me Believe, ada lirik yang mengatakan bahwa kita ini sebenarnya pengemis-pengemis di hadapan Allah yang begitu rindu akan kehadiran Allah dan bahwa kita ini sebenarnya bisa melihat secara iman namun masih samar-samar. lagu itu juga mengutip doa dalam Markus 9:24. Ketika penderitaan itu datang, ingatlah akan salib Kristus. Salib Kristus adalah pusat dari iman kita. Itulah mengapa kita terus berbicara tentang salib Kristus. Kita bukan kehabisan bahan khotbah tetapi kita harus terus merenungkan salib Kristus. Semua hal dalam iman kita harus dikaitkan dengan salib Kristus. Itulah iman Kristen yang sejati.

(Ringkasan khotbah ini sudah diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Bitnami