Membangun Nilai Kejujuran Diri: Integritas Diri

Orang yang rohani adalah orang yang bertingkah laku rohani setiap saat. Orang yang rohani harus punya kejujuran (honesty atau sincerity). Mungkinkah orang yang rohani justru jatuh kepada kerohaniannya? Mungkinkah dia jatuh karena kerohaniannya?

Membangun Nilai Kejujuran Diri: Integritas Diri

Categories:

Orang yang rohani adalah orang yang bertingkah laku rohani setiap saat. Orang yang rohani harus punya kejujuran (honesty atau sincerity). Mungkinkah orang yang rohani justru jatuh kepada kerohaniannya? Mungkinkah dia jatuh karena kerohaniannya? Dalam Kisah Para Rasul 5:1-15, dosa dari Ananias dan Safira adalah ketidak-jujuran. Dalam Lukas 18:10-14 menceritakan perbedaan antara doa orang farisi dengan pemungut cukai berdoa. Orang farisi berdoa dalam kejujuran: ;aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Sedangkan pemungut cukai melihat diri tidak layak maka dia memukul diri. Pemungut cukai ini jujur melihat diri tidak ada apa-apanya di hadapan Tuhan tetapi orang Farisi itu jujur terhadap kebesaran dirinya. Ternyata pemungut cukai itu justru yang pulang sebagai orang yang dibenarkan. Mana yang akhirnya ditinggikan oleh Tuhan: Jujur melihat diri di hadapan Tuhan atau jujur melihat kebesaran diri di hadapan Tuhan? Tuhan ingin kita jujur melihat diri di hadapan Tuhan. Ananias dan Safira tidak jujur dalam memberikan janji iman mereka. Mereka janji akan memberikan hasil penjualan sebidang tanah yang cukup berharga kepada Tuhan. Ini adalah hal luar biasa. Tetapi sesudah berhasil dijual, ternyata mereka tidak memberikan semuanya kepada Tuhan. Ananias dan Safira dihukum mati karena dosa ketidakjujuran ini.Kellihatannya rohani tetapi tidak memiliki iman yang menyelamatkan. Jadi bukan berarti orang yang berani berjanji iman pasti sudah rohani belum tentu. Buktinya kelihatan tidak jujur sehingga dihukum mati. Jikalau Ananias dan Safira punya anak dan anaknya tahu papa mamanya mati dihukum karena janji iman, kira-kira dia akan marah tidak? Pasti pertama sedih bukan, tetapi ketika tahu matinya hanya karena Petrus memberikan janji iman pasti dia marah dengan gereja. Di dalam bagian ini saudara setiap kita akan melihat segala sesuatu di dalam satu terang kebenaran artinya orang yang rohani selalu hidupnya benar secara menyeluruh, tidak ada orang yang rohani hidupnya tidak benar secara keseluruhan. Orang yang rohani adalah orang yang memiliki hidup benar secara utuh dihadapan Tuhan. 1. Honesty For God Kita melihat 1 Yohanes 1:5-6, ;Dan inilah berita yang telah kami dengar dari Dia dan kami sampaikan kepada kamu, Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. Jikalau kita katakana bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia namun kita hidup dalam kegelapan kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran. Allah itu adalah terang dan di dalam dia sama sekali tidak ada kegelapan. Ini menjelaskan kepada kita bahwa Allah adalah Allah yang Maha Tahu. Seluruh hidup kita terbaca oleh Dia. Kita tidak bisa bermain-main dengan the hidden sin (dosa yang tersembunyi). Jikalau kita mengatakan bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia namun hidup dalam kegelapan maka kita berdusta dan tidak melakukan kebenaran. Roma 1:18 & 21 menjelaskan: ;Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman…. Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Ternyata kebenaran bisa ditindas dengan kelaliman. Kebenaran ditindas oleh karena sikap kita yang mendua dan tidak mengutamakan Tuhan. Dalam Roma 1:23 dikatakan bahwa mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang manusia yang fana atau dengan binatang-binatang yang menjalar. Akhirnya standar keinginan mereka menjadi rusak karena dihukum oleh Tuhan. Tidak semua orang yang tahu kebenaran Firman Tuhan memiliki hidup yang benar. Tidak semua orang yang mengaku mengenal Allah hidupnya rohani. Jikalau kita menyatakan bahwa kita memiliki fellowship atau persekutuan dengan Tuhan tetapi tidak hidup dalam kebenaran maka kita berbohong. Berarti mungkin sekali kerohanian kita hanya terikat dengan penerangan kita bahwa kita adalah orang yang sudah ditebus. Kita mengerti orang yang memiliki kerohanian yang punya aspek integritas kerohanian yang menyeluruh bukan parsial (sebagian). Orang yang rohani memiliki aspek revival menuntut diri dengan jujur. Artinya orang itu semakin hari semakin terbuka hidupnya di mata Tuhan. Orang yang berpegang pada teologi yang salah tidak akan memiliki fondasi yang benar, sehingga akhirnya akan jauh dari Tuhan. Wahyu 16 dan 17 menyatakan bahwa pekerjaan setan selalu meniru apa yang Tuhan kerjakan. Setan menjanjikan sumber pemeliharaan hidup, berkat dan kenikmatan tetapi semuanya itu palsu adanya. Dia memunculkan mesias-mesias palsu dan meniru pekerjaan Tuhan. Jadi setan dengan kecerdikannya begitu luar biasa menipu kita semua. Kita belajar bagaimana kebenaran itu menjadi satu nilai yang harus kita hidupi sehingga kita mempunyai kejujuran terhadap Tuhan. 2. Honesty for Self Bagian yang kedua, kita melihat 1 Yohanes 1:8, ;Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Tidak mungkin setiap kita bisa mengaku diri kita sempurna. Ada hamba Tuhan yang dalam mimbarnya mengatakan bahwa dia adalah orang yang sempurna dan sama seperti rasul-rasul karena itu bisa naik turun bumi dan sorga. Setiap kita tidak boleh mengklaim kita sebagai orang yang tidak ada dosa. Tokoh-tokoh reformasi selalu mengatakan orang yang dipenuhi Roh Kudus makin lama makin peka terhadap dosa yang kecil. Salah satu dosa yang paling kecil adalah dosa karena tidak bisa bersyukur. Yang mudah untuk dilakukan tetapi paling sering untuk dilalaikan yaitu membaca Alkitab. Di sinilah kita diingatkan oleh Yohanes bahwa kita harus tahu diri kita itu orang berdosa dan semakin menuntut diri untuk tidak berdosa. Di sini kesadaran iman sangat penting. Kita diingatkan untuk melihat diri sebagai orang berdosa sehingga kita tidak mau menyakiti hati Tuhan dan Ia adalah setia dan adil sehingga akan mengampuni dan menyucikan kita. Roma 3:10-12, seperti ada tertulis: Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. Ini mengingatkan bahwa kita dahulu adalah orang yang bobrok dan tidak mencari Allah. Kita melihat diri sebagai pusat kepuasan diri kita. Ketika kita ditebus oleh Kristus, maka kita memiliki kebebasan. Kebebasan itu bisa menjebak kita untuk jatuh dalam dosa. Kita harus sadar bahwa kita pasti masih potensi untuk jatuh dalam dosa. Kejadian 39:1-10 menceritakan bagaimana Yusuf bisa bertahan untuk tidak jatuh dalam dosa. Kenapa? karena Tuhan berkenan kepada dia. Yusuf diperkenankan Tuhan karena hidup selalu takut akan Tuhan. Yusuf mengerti dengan jelas konsep kedaulatan dan anugerah Allah. Ketika ia dijual kepada bangsa asing, ia bisa saja protes dan lari kembali kepada ayahnya. Tapi ia tidak lakukan karena ia percaya bahwa Tuhan itu berdaulat. Di sinilah kita harus mengerti bahwa di balik kesusahan dan penderitaan ada mengandung kedaulatan Allah. Sehingga hidup kita yang sudah terlatih saat menghadapi hal demikian memiliki mutiara iman. Yusuf yang hidup selalu takut akan Tuhan melihat anugerah lepas anugerah akan diberikan kepada setiap anak-anak Tuhan yang sungguh-sungguh takut akan Tuhan. Keberhasilan Yusuf bukan karena sekolah ekonomi atau bisnis tetapi karena sekolah iman. 3. Honesty for Others Yang ketiga, Yohanes 8:7, ;Barang siapa diantara kamu tidak berdosa hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu. Tuhan Yesus mengajak orang banyak untuk terlebih dahulu melihat ke diri sendiri sebelum menghakimi orang lain. Orang yang tidak jujur mungkin akan melempar batu kepada perempuan itu. Tetapi setelah dia melempar maka bertahun-tahun hati nuraninya menuduh dirinya sendiri maka ia putuskan untuk tidak melempar dan pergi. Memang perempuan itu ditangkap untuk menjebak Yesus. Tetapi setelah mereka mendengarkan perkataan dari Tuhan Yesus tersebut, amak pergilah mereka seorang demi seorang mulai daripada yang tertua Firman Tuhan lebih berguna dan lebih berkuasa daripada banyak kata-kata kita berdasarkan nilai emosi yang tidak suci. Lebih baik menegur anak kita dalam terang Firman daripada menegur anak kita dalam kepuasan emosi yang tidak suci. Apa akibatnya jikalau hidup tidak memiliki kejujuran? (1) Sombong Rohani seperti orang Farisi berdoa (Lukas 18:10-14). (2) Direndahkan oleh Tuhan dimana tidak lagi memiliki kebenaran dari Tuhan. (3) Hidup bisa menjadi batu sandungan bagi orang lain seperti beberapa jemaat di Korintus. (4) Dihukum oleh Tuhan seperti Kisah Para Rasul 5:1-11. Ananias dan Safira mati dihukum Tuhan karena tidak jujur dalam menepati janji iman. Betapa pentingnya kita punya kejujuran yang utuh di hadapan Tuhan. Kita harus jujur mengembangkan nilai kerja kita untuk Tuhan. Kita harus jujur mengembalikan setiap hidup kita menjadi persembahan yang kudus dan berkenan di hadapan Tuhan. Biarlah Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk semakin takut akan Tuhan dan membangun nilai kejujuran kita hari demi hari bagi Tuhan.

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami