Membangun Diri Sebagai Bait Suci

Efesus 2:19-22
Betapa pentingnya kita menyadari bahwa tubuh kita adalah satu nilai kemuliaan yang indah dan Tuhan akan pakai pada waktu kita berada di mana pun juga. Bagaimana kita tahu kalau kita disebut sebagai gereja yang sejati atau Kristen yang sejati? Ada proses-proses pertumbuhan iman: Diselamatkan, bertumbuh, berbuah, hidup serupa dengan Kristus dan memuliakan Dia.

Membangun Diri Sebagai Bait Suci

Categories:

Betapa pentingnya kita menyadari bahwa tubuh kita adalah satu nilai kemuliaan yang indah dan Tuhan akan pakai pada waktu kita berada di mana pun juga. Tubuh kita adalah bait Roh Kudus yang dibangun rapih tersusun menjadi tempat kediaman Allah di dalam roh. Efesus 2:19-22, ;Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang melainkan kawan sewarga bagi orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah yang dibangun atas dasar daripada Rasul dan para nabi dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru di dalam dia tumbuh seluruh bangunan rapi tersusun menjadi bait Allah yang kudus di dalam Tuhan. Di dalam Dia kami juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah di dalam roh. Status kita yang baru dalam Tuhan adalah (1) sebagai kawan sewarga dari pada orang-orang kudus. Mengapa kita bisa demikian? Karena kita sudah dikuduskan oleh Tuhan dan menjadi milik Tuhan. (2) Dalam kehidupan komunitas gereja, kita adalah anggota-anggota keluarga Allah. Artinya kita tidak bisa lagi hidup berdasarkan individualism egois. Kita memiliki satu talenta demi talenta yang harus disatukan bersama untuk menjadi keluarga yang indah di hadapan Tuhan. Maka di dalam gereja kita tidak akan mencari lagi kelemahan orang lain, tapi saling menguatkan dan melengkapi sehingga yang nampak adalah satu kekuatan demi kekuatan daripada anak-anak Tuhan untuk menyaksikan Kristus yang hidup dalam kehidupan mereka. (3) Maka yang ketiga kita menjadi bait Allah yang kudus. Artinya kita akan dibangun dengan indah dan rapi tersusun oleh Tuhan untuk menjadi satu kehidupan yang menyatakan Kristus hidup dalam kehidupan kita. Injil pernah diberitakan dan dikembangkan di dalam wilayah Minasaha dan sekitarnya yang puncaknya tahun 1917 oleh Sulos dan Riddell. Tetapi dimana dampak Injil itu sekarang? Ada banyak daerah Minahasa sekarang tidak lagi memiliki pengaruh kekristenan yang kuat. Ada banyak dosa yang berkembang seperti seks bebas dan mabuk-mabukan. Di dalam bagian ini kita melihat mereka sudah bukan lagi orang Kristen yang sejati. Ada pendeta di sana harus rela memberkati suami istri ternyata satu tahun kemudian mereka bercerai dan kembali menikah dengan selingkuhan mereka. Seharusnya orang demikian mendapatkan disiplin gereja. Tapi gereja di sana tidak menjalankan disiplin gereja yang ketat. Mereka tidak menyadari betapa penting dan indahnya hidup kudus dan menjadi anggota tubuh Kristus untuk menyatakan kemuliaan Tuhan.Demikian juga daerah-daerah dimana kekristenan lebih dahulu masuk seperti ke suku batak, ambon dan papua. Di sini kita mengerti gereja bukan gedung tetapi gereja dalam nilainya ada tiga: umat perjanjian Allah, tubuh Kristus dan bait Roh Kudus. Artinya adalah tidak semua orang bisa mengaku Kristen disebut gereja yang sejati kecuali mereka yang sungguh-sungguh percaya kepada Kristus. Bagaimana kita tahu kalau kita disebut sebagai gereja yang sejati atau Kristen yang sejati? Ada proses-proses pertumbuhan iman: Diselamatkan, bertumbuh, berbuah, hidup serupa dengan Kristus dan memuliakan Dia. (1) keselamatan di dalam Kristus bukan keselamatan karena keturunan dari keluarga. Mengapa bisa di kantong-kantong Kristen justru dosa berkembang? karena mereka tidak melihat lagi kekristenan secara rohani tapi melihat kekristenan secara nilai budaya dan lahiriah. Kita harus sungguh-sungguh mengalami suatu kelahiran baru yang sejati. Dimana kita mengalami perubahan hidup dari cara berpikir dan nilai rasa kita. Orang yang diselamatkan dalam Tuhan memiliki suatu (2) pertumbuhan di dalam Kristus. Baru sekitar 10 tahun ini, Siau dikenal sebagai kota yang kaya. Mengapa mereka bisa kaya? Karena mereka memiliki kekayaan alam dan potensi tanah yang subur. Mereka menanam tidak perlu dipupuk karena sudah subur. Banyak pala tumbuh di alam. Sampai menghasilkan kualitas pala yang terbaik di seluruh dunia. Pala bisa dipakai dalam hal masakan, parfum dan lain-lain. Alam saja bisa memberikan pertumbuhan yang begitu hebat, apalagi kalau hidup kita sudah dalam Kristus. Mungkinkah Kristus membiarkan kita menjadi kering dan mati rohani? Tidak mungkin, maka ketika kita sudah diselamatkan kita akan diubahkan hasrat dan nilai kesukaan kita sehingga Firman menjadi satu potensi energi yang kuat untuk petumbuhan iman kita. Marilah kita bersama-sama kejar sukacita dan pertumbuhan yang sejati melalui kekuatan Firman Tuhan. Maka semangat kita harus berkobar-kobar bagi Kristus. Jangan melewatkan kesempatan kita untuk mengambil pelayanan di gereja ini termasuk juga dalama pelayanan KKR Regional wilayah di tempat ini atau pun luar kota. (3) Hidup berbuah. Biarlah kita punya satu buah hidup yaitu buah jiwa yang kita bawa kepada Tuhan. Jadi kerelaan dalam pemberitaan Injil itu satu kunci kekuatan dalam peperangan rohani seperti dinyatakan dalam Efesus 6:15, ;kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera. Ketika berada dalam peperangan rohani maka kita tidak pernah mempermasalahkan masalah-masalah yang kecil karena kita melihat masalah yang besar yaitu jiwa-jiwa berteriak untuk mendengarkan Injil dari Tuhan melalui kita. (4) Kita akan diubahkan semakin serupa dengan Kristus, artinya tidak ada orang Kristen yang tidak bisa berubah. Setiap kita pasti bisa berubah karena kekuatan Firman Tuhan yang membina, mengoreksi, memperbaiki, dan memimpin kita kepada kebenaran sejati. Jadi kalau orang Kristen hidupnya tidak berubah berarti keselamatannya perlu dipertanyakan. (5) Hidup kita dengan tujuan memuliakan Kristus. Artinya setelah semua beres maka kita akan punya satu paradigma di mana pun kita berada untuk terus memuliakan Tuhan. Pengharapan yang paling tinggi kita adalah hidup memuliakan Tuhan di dunia ini karena mempunyai nilai kekal. Kita rindu sekali diselamatkan, bertumbuh, berbuah, hidup serupa dengan Kristus dan memuliakan Dia. Gereja yang sejati dibangun atas dasar pengajaran daripada nabi, Rasul dan Tuhan Yesus Kristus sebagai batu penjuru. Di Perjanjian Lama terkenal adalah pengajaran Taurat sebagai fondasi iman yang kuat menjelaskan sifat-sifat Allah seperti keadilan-Nya, kasih-Nya, kehadiran-Nya dan lain-lain. Pengajaran nabi adalah pengajaran yang paling penting untuk menyadarkan kita tidak mempermainkan Tuhan. Karena Nabi selalu menyerukan supaya kita hidup dalam kewaspadaan iman dan tidak boleh main-main dengan Tuhan. Pengajaran para Nabi membawa kita pada pengertian akan The Fear of God. Para rasul menekankan pengajaran bagaimana hidup kita harus sinkron dengan kehendak Allah untuk menghargai anugerah Allah, meresponi panggilanNya dan melayaniNya. Yohanes 1:1 dikatakan ;Pada mulanya adalah Firman dan Firman itu adalah Allah dan Dia bersama-sama dengan Allah. Itu menjelaskan kepada kita bahwa Kristus yang adalah Logos adalah perekat antara pengajaran Perjanjian Lama oleh para nabi dan Perjanjian Baru oleh para rasul. Dia adalah perekat penghubung keharmonisan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Maka kita tidak boleh terlalu menekankan Perjanjian Lama dan membuang Perjanjian Baru atau mementingkan Perjanjian Baru dan membuang Perjanjian Lama. Bait Allah dalam bahasa ibrani menggunakan istilah Naos. Idiom daripada kata Naos itu adalah Hagios (suci) yang menjelaskan kesucian yang bersifat progresif. Hagios adalah sesuatu yang proses yang berubah dan mencapai sesuatu yang terbaik. Tetapi Naos adalah satu kesucian yang bersifat status, tidak mungkin musnah dan bersifat hakikat. Maka Naos sering diterjemahkan satu nilai kesucian berkaitan dengan bait suci. Di hadapan Tuhan, kita adalah Naos, maka kita harus terus berpikir suci, bertingkah laku suci, dan berani menolak segala sesuatu yang tidak suci. Orang Kristen tidak bisa lagi bermain-main dengan dosa. Di dalam Yesus Kristus, kebanggaan kita bukan lagi terhadap bait Allah secara fisik atau gereja secara fisik. Melainkan kepada bait suci yang baru yaitu tubuh kita yang akan dibangun rapi tersusun. Dalam Efesus 2:21, ;Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Ini menjelaskan bahwa Yesus Kristus adalah perekat yang sejati atas semua orang percaya baik Yahudi dan non Yahudi. Bait Allah yang sejati sebagai tempat kemuliaan Tuhan bukan lagi gedung tetapi berdiam dalam kehidupan anak Tuhan (1 Raja-raja 8:27, Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini). Tapi banyak orang Israel tidak percaya ini lagi karena mereka sudah meninggalkan ajaran yang benar. Kemuliaannya nyata melalui ruang maha suci dan ruang suci. Tetapi sekarang sudah tidak ada, maka kemuliaan Tuhan dinyatakan kepada kita yang hidupnya sungguh-sungguh suci. Biarlah setiap kita tidak menjadi batu sandungan supaya hidup kita dipakai oleh Tuhan. Amin. Soli Deo Gloria

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami