Melangkah dalam Pengharapan (Menuai dalam Kemurahan)

Melangkah dalam Pengharapan (Menuai dalam Kemurahan)

Categories:

Bacaan alkitab: Rut 2:1-17.

 

  1. A) Pendahuluan

 

Faktor apa yang memberanikan Naomi dan Rut pulang ke Betlehem? Dalam Rut 1:6 dikatakan bahwa itu karena iman. Naomi mendengar bahwa Betlehem sudah mendapatkan kesejahteraan. Tuhan memberikati pertanian di kota Betlehem. Apa yang didengarnya membuat Naomi mengambil satu langkah iman sehingga ia mau pulang ke Betlehem. Namun apakah langkah iman Naomi menunjukkan bahwa ia sungguh-sungguh memiliki kemenangan iman atas segala kesedihan dan penderitaannya ketika kehilangan suami dan anak-anaknya? Ternyata tidak. Iman memimpin langkah Naomi namun ia belum sampai pada tahap memiliki kemenangan iman untuk dapat melihat seluruh peristiwa hidupnya dalam kacamata Tuhan. Oleh karena itu Naomi tidak rela untuk dipanggil sebagai Naomi (yang artinya ‘manis’). Ia meminta untuk dipanggil sebagai Mara (pahit) karena ia merasa Tuhan membuat hidupnya pahit. Jadi walaupun Naomi pulang dengan iman, ia belum mendapatkan kemenangan iman. Namun di dalam proses waktu, imannya terus dibentuk sampai ia memiliki kemenangan iman. Tuhan memakai Rut untuk mencelikkan mata Naomi sehingga ia bisa melihat pemeliharaan dan penyertaan Tuhan yang baru.

 

Apakah Naomi dan Rut pulang ke Betlehem sudah memiliki rencana atau strategi untuk hidup mereka ke depan? Belum ada. Rencana itu penting. Tuhan Yesus berkata Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? (Lukas 14:28). Naomi dan Rut pulang seperti orang yang gagal. Oleh karena itu Naomi meminta agar ia dipanggil Mara. Ia pergi dengan kekayaan namun pulang dengan tangan kosong. Dalam keputusasaan itu mereka tidak memiliki strategi. Mereka hanya mengandalkan iman dan mereka tidak tahu masa depan mereka di Betlehem seperti apa.

 

Mengapa Rut berani menjadi pemungut gandum yang tersisa dari hasil panen? Jelai-jelai dan buli-buli itu diizinkan Tuhan untuk diambil. Mengapa ia berani melakukan itu? Bukankah dikatakan dalam hukum Taurat bahwa sisa hasil panen dikhususkan untuk orang miskin dan orang asing yang belum memiliki pendapatan (bdk. Imamat 19:10)? Rut adalah seorang janda muda dari latar belakang keluarga yang sangat kaya. Sekarang ia rela disebut sebagai orang miskin. Ini bukanlah hal yang mudah bagi Rut yang dahulu kaya namun sekarang miskin.

 

Apa yang diharapkan Rut ketika ia menjadi pemungut sisa gandum? Ia berharap dari sana ia mendapatkan makanan. Namun ia tidak mungkin bisa berharap bahwa dari sana ia bisa mendapatkan makanan terus menerus dalam jangka waktu panjang. Di sini kita melihat bahwa Rut mau mengerjakan apa yang bisa ia kerjakan. Ia tidak memiliki mental seorang pengemis. Ia tidak berpikir untuk meminta belas kasihan orang lain tanpa bekerja. Ia tidak bermental pengemis tetapi ia mau bertanggung jawab dalam segala pekerjaannya. Di sini kita bisa belajar tentang melangkah dalam pengharapan.

 

 

  1. B) Melangkah dalam Pengharapan

 

            Setiap dari kita memiliki pengharapan. Jika pengharapan kita tidak sesuai dengan pengharapan Tuhan, maka kita bisa gagal. Jika pengharapan kita tidak sesuai dengan waktu Tuhan, maka kita bisa menjadi sedih dan frustrasi. Ketika hujan mulai turun, siapa yang senang? Petani. Siapa yang paling tidak senang? Nelayan. Mengapa nelayan tidak suka hujan? Karena gelombang akan menjadi sangat kuat. Ini membuat ikan sulit dijala. Namun bagi petani ini menyenangkan. Jikalau hujan turun terus menerus, maka petani pasti berbahagia dan nelayan pasti menderita. Terkadang hidup ini serasa tidak adil. Sebagai manusia kita bisa mengeluh dan protes. Di masa hujan berkepanjangan, nelayan mengeluh. Namun dalam masa kemarau berkepanjangan, petani mengeluh. Kita semua memiliki keinginan masing-masing, namun Tuhan memiliki keadilan-Nya dan ia menguji hati setiap orang apakah orang itu bersyukur, mengeluh, atau lainnya. Di sini kita melihat bagaimana Rut menerobos setiap situasi yang sulit. Ia tidak mau menjadi orang yang pasif, menangisi diri, dan ia tidak mau seperti Naomi yang merasa dirinya sebagai korban. Naomi mau agar orang-orang mengerti bahwa hidupnya sudah dipersulit oleh Tuhan. Di sana kita melihat bahwa Naomi sedang depresi. Ia meminta dirinya dimengerti orang lain dan tidak bisa menerobos situasi itu dengan iman. Namun Rut berbeda dengan Naomi. Ia memilih untuk bekerja sehingga mereka berdua bisa makan. Ketika Rut akan pergi memungut jelai, sebenarnya Naomi bisa saja memilih untuk ikut memungut jelai, namun mengapa ia tidak melakukan itu? karena Naomi masih menangisi dirinya. Naomi masih merasa dirinya korban dan ia belum melangkah dari sana. Ia masih belum memiliki pengharapan yang baru. Rut berbeda dari Naomi, karena itulah ia berani melangkah keluar dengan pengharapan.

 

  1. Melangkah dengan Kerendahan Hati

           

            Di dalam bagian ini kita bisa melihat bahwa Rut melangkah dengan kerendahan hati. Ini menunjukkan kepada kita bahwa apa yang ia harapkan dan apa yang ia ingin capai sudah ia serahkan ke dalam kedaulatan Tuhan. Bagaimana kita tahu bahwa Rut rendah hati? Ia rela meninggalkan gengsi diri – selfish. Ia dahulu adalah istri seorang yang kaya. Sekarang ia menjadi orang miskin yang harus memungut jelai gandum. Dahulu ia memiliki hamba yang bisa ia perintah, namun sekarang ia harus bekerja dengan tangannya sendiri. Dahulu ia biasa dilayani namun sekarang ia harus mandiri. Hal ini tidaklah mudah bagi Rut, seorang janda muda yang dahulu menikmati statusnya. Ia sekarang tidak memiliki apa-apa dan harus memulai segala sesuatu dari nol. Ia memikul tanggung jawab di dalam kesulitan hidupnya dan ia tidak menangisi dirinya sendiri. Di sini kita bisa bertanya: bagaimana Rut memiliki kerelaan untuk menjadi orang yang berjuang dari nol? Bagaimana seandainya apa yang terjadi pada Rut terjadi dalam hidup kita? Pasti ini tidak mudah. Beranikah kita memiliki sikap yang baru ketika kita berubah status dari orang penting menjadi orang yang tidak penting? Beranikah kita memulai perjuangan dengan tanggung jawab dari nol? Rut berani melakukan semua itu. Ketika Boas bertanya kepada para penyabit tentang Rut, ia menjadi tahu tentang latar belakang Rut. Apakah Rut merasa gengsi dalam hal itu? Tidak. Rut tidak menutupi mukanya. Kerelaannya meninggalkan status dan kebiasaan yang lama menunjukkan kepada kita bahwa Rut rendah hati. Penyakit kesombongan adalah kita menikmati status kita dan kita merasa diri lebih baik daripada orang lain. Rut tidak memiliki kesombongan itu.

 

Kedua, Rut rela disebut orang miskin atau asing (Imamat 19-9-10; Ulangan 24:19). Dalam hukum Taurat jelas dinyatakan bahwa mereka yang memiliki hasil panen tidak boleh mengambil semuanya tetapi ada bagian yang dikhususkan untuk orang miskin atau orang asing. Jadi dari prinsip ini kita diajarkan untuk tidak serakah. Sebagai umat Tuhan kita harus bekerja dan berkontribusi agar tempat di mana kita tinggal itu menjadi lebih sejahtera. Jadi seorang pengusaha tidak boleh berpikir untuk memperkaya diri sendiri saja. Sebagai seorang pempimpin kita tidak boleh berpikir untuk menindas semua pekerja kita. Kita harus memahami prinsip blessing in disguise. Ada prinsip di mana kita harus mencukupkan diri kita dan menjadi berkat bagi orang lain termasuk mereka yang bekerja untuk kita. Di Australia ada pemiliki kebun anggur yang sengaja menyisakan hasil panennya untuk dinikmati oleh pengunjung. Jika kita mendapatkan kesempatan pergi ke sana, maka kita bisa menikmati itu juga, namun kita tidak boleh rakus. Pemiliki kebun anggur itu sengaja menyisakan hasil panennya untuk orang asing dan para tamu kebun anggur itu. Bagaimana dengan kita? Tuhan mengajarkan kita untuk tahu diri. Seluruh keberhasilan kita adalah anugerah Tuhan. Tuhan mengizinkan Boas menjadi kaya. Dia adalah pria tua yang kaya serta saleh. Bagaimana kita tahu bahwa ia saleh? Ketika bertemu dengan pegawai-pegawainya, Boas berkata “Tuhan menyertai engkau”. Para pegawainya pun membalas dengan kalimat yang serupa. Boas tidak langsung bertanya tentang hasil kerja para pegawainya. Di sini Boas mementingkan prinsip menjadi berkat bagi orang lain. Dari semua hal yang kita miliki, kita harus memikirkan untuk memakai semua itu sehingga bisa menjadi berkat bagi orang lain. Dalam salah satu teologi diakonia Calvin kita bisa melihat bahwa Calvin sungguh peduli pada masyakarat Swiss. Ia mengajar umat Tuhan di sana untuk menyisihkan sebagian apa yang didapatkan agar diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Jadi umat Tuhan diajarkan untuk menjadi berkat dan membangun orang lain. Mengapa Calvin bisa memiliki teologi seperti itu? Karena Alkitab memang mengajarkan hal itu. Jadi Rut rela disebut sebagai orang miskin dan orang asing.

 

Boas memerhatikannya dan Rut sampai berlutut di hadapan Boas. Rut bertanya mengapa Boas bisa begitu peduli padanya yang adalah orang asing. Apa yang dilakukan Boas kepadanya itu di luar apa yang dipikirannya. Ia berpikir hanya akan mendapatkan sedikit gandum namun ternyata ia mendapatkan begitu banyak. Boas berkata bahwa ia telah mendengar apa yang Rut telah lakukan bagi Naomi. Ia tidak langsung memberitahu siapa dirinya dan apa relasinya dengan Naomi. Boas sudah mendengar tentang Rut. Itu berarti kepulangan Naomi sudah menjadi bahan pembicaraan orang-orang. Boas mengetahui semua itu dan menyatakan kepada Rut bahwa Tuhan akan membalas semua perbuatannya serta memberikan upah dan bahwa Tuhan akan melindunginya. Boas memanggil Rut “anakku” bukan “wanita”. Ini karena Boas sudah tua dan Rut masih muda. Boas itu tulus dan saleh. Rut menyatakan kerendah-hatiannya dan kerelaannya. Ketika Rut bekerja, ia mungkin memakai pakaian sederhana untuk bekerja. Boas melihat Ruth sebagai seorang yang tulus bekerja dan mendukung Naomi.

 

  1. Melangkah dengan Mental yang Kuat

 

            Rut melangkah dengan mental yang kuat. Setiap kita diajar untuk memiliki mental yang kuat karena iman, bukan mental yang kuat karena dilatih seperti tentara. Kita harus memiliki mental yang kuat untuk menunjukkan bahwa kita adalah orang yang benar, kudus, dan saleh. Ketika Tuhan Yesus mengalami banyak penderitaan dan mati di kayu salib, seluruh sikap dan perkataan-Nya menyatakan bahwa Yesus memiliki mental yang kuat. Ia sama sekali tidak terganggu untuk membalas orang-orang yang menhina dan mencaci-maki-Nya. Ia tidak mengutuk sama sekali ketika orang-orang mengumpat-Nya. Ini semua karena mental yang kuat yang dibangun oleh satu nilai misi di mana Kristus datang untuk menebus dosa-dosa manusia. Di dalam menghadapi suatu ujian dan serangan terhadap kita, hanya satu hal yang ingin kita buktikan yaitu bahwa Tuhan tetap beserta dengan kita. Di sini kita bisa melihat bahwa Rut memiliki mental yang kuat. Ia bukan seorang melankolis ataupun plegmatis. Ia rela meninggalkan kampung halamannya untuk tinggal di Betlehem. Mengapa ia berani melakukan hal itu? karena ia dahulu adalah seorang istri dari orang Betlehem. Ia sadar ia memiliki nilai tanggung jawab keluarga yang baru. Ketika Naomi menjadi janda, ia mengerti bahwa ia harus menyertai Naomi di masa tuanya. Jadi di sana ia sudah memiliki mental untuk memelihara mertuanya. Ketika kita menikah, kita memiliki tanggung jawab juga untuk orang tua pasangan kita. Sebagai seorang mertua, pasti Naomi senang melihat sikap Rut. Jika kita memiliki anak perempuan, maka kita harus siap ditinggal oleh mereka. Ketika menikah mereka akan membina suatu keluarga yang baru. Mereka akan menanggung tanggung jawab yang baru. Jadi Rut adalah menantu yang baik. Ia tidak mau meninggalkan Naomi sampai kematian memisahkan mereka. Ketika Rut sudah menikah dan ia melahirkan Obed, orang-orang menyebut bahwa Naomi itu berbahagia. Di sana Naomi pasti sudah melupakan semua kesedihannya di masa lalu. Tekad dan mental Rut itu luar biasa. Dalam iman dan tanggung jawab ia menjaga mertuanya. Jika kita memiliki anak laki-laki, maka kita pasti menginginkan menantu seperti Rut. Seorang anak harus diajar untuk menghormati orang tuanya.

 

Rut memiliki tekad untuk bekerja dengan maksimal (Pagi – Petang). Jadi ia memiliki tanggung jawab dalam pekerjaannya. Ia tidak mau bermalas-malasan. Ia tidak mau berdiam di dalam kesedihan dan tidak mau menolak untuk melangkah maju. Ketika ia akan memungut jelai gandum, Alkitab menyatakan bahwa ia memungut di tempat yang dimiliki Boas. Di sana ada kebun-kebun lain, namun mengapa Tuhan mengarahkannya untuk pergi ke kebun Boas? Itu semua kedaulatan Tuhan. Kedua, Rut memiliki tekad siap untuk ditanya-tanya atau diminta penjelasan. Rut adalah orang asing. Pasti para penyabit Boas tidak menerima orang dengan sembarangan. Ketika Rut datang, pasti orang-orang berbicara tentang dirinya dan pasti bertanya tentang dirinya. Namun Rut siap dengan semua itu dan ia tetap bekerja dengan lurus dan jujur. Para penyabit itu mendapatkan informasi yang tepat karena Rut menjawab dengan jujur. Rut sudah berpindah dari masa lalunya dan ia mau bekerja untuk masa depan. Saat Rut memberikan semua informasi dengan jelas, di sana kita tahu bahwa Rut sudah siap.

 

  1. Menuai dalam Kemurahan hati Boas

 

            Ketika ia berani melangkah dalam pengharapan, ia menuai dalam kemurahan hati Boas. Boas menyambut kehadiran Rut dengan baik dan ia sudah memerintahkan para penyabitnya untuk tidak mengganggunya. Boas sudah memerintahkan para pegawainya perempuan untuk memperlakukan Rut dengan baik. Boas juga menyediakan minuman bagi Rut jika ia merasa haus. Pada hari itu Rut mendapatkan perhatian dan kebebasan dari Boas. Ini karena Boas sudah melihat karakter yang baik dari Rut. Boas tahu bahwa Rut adalah bagian dari keluarga besarnya. Ini semua di luar dugaan Rut. Ternyata semua sudah disediakan baginya. Ia juga tidak menyangka bahwa Boas sudah memerintahkan para penyabitnya untuk sengaja menjatuhkan gandum yang sedang dipanen. Ini agar Rut bisa mengambil gandum lebih banyak. Di sini kita melihat bahwa Tuhan bisa memakai tangan orang lain untuk memberikan kemurahan-Nya kepada kita. Inilah blessing in disguise. Boas memberkati orang-orang di sekitarnya. Ini adalah teladan yang perlu kita pelajari. Apapun yang kita peroleh adalah anugerah Tuhan. Kita tidak boleh merasa bahwa semua itu adalah hasil kerja kita dan milik kita seorang diri. Kita diajarkan untuk memiliki karakter kemurahan hati (merciful). Boas memiliki karakter itu sehingga ia memberikan kebebasan kepada Rut. Ia juga memberikan jelai gandum lebih banyak dengan cara menyuruh para pekerjanya dengan sengaja menjatuhkan lebih banyak gandum. Di sini Boas tidak memanjakan Rut. Ia menghargai perjuangan Rut yang mau bekerja.

 

            Rut berlutut di hadapannya karena ia tidak menyangka bahwa pada hari pertamanya bekerja, ia sudah mendapatkan belas kasihan dari seorang tuan bernama Boas. Di dalam rasa syukurnya ia berlutut. Ia berpikir mendapatkan sisa namun ia mendapatkan lebih dari itu. Di sini kita belajar bahwa kemurahan Tuhan itu bisa melebihi dugaan kita. Pertemuan ini adalah awal yang baik untuk bagaimana Boas tetap memosisikan dirinya sebagai orang yang bisa dihormati dan sebagai orang yang saleh. Rut pun demikian. Di sini kita percaya bahwa saat kita melangkah dalam pengharapan karena iman yang mendorong kita, kemurnian hati kita, dan mental kita yang kuat, maka Tuhan akan memberkati kita. Ketika pengharapan kita dikaitkan dengan kemuliaan Tuhan, pengharapan itu adalah pengharapan yang suci. Jika segala harta kita tidak dikaitkan dengan kemuliaan Tuhan, maka pengharapan itu sementara dan mengandung dosa. Di sini kita melihat Rut memiliki pengharapan dan ternyata Tuhan memberikan lebih daripada itu. Saat Rut pulang, ia sungguh bersukacita karena ia membawa hasil yang begitu banyak. Di sini kita juga melihat bagaimana pergumulan itu melatih kita untuk melihat kepada Tuhan.

 

Gereja kita memiliki visi yang sangat mulia yaitu untuk menegakkan teologi Reformed di tengah arus teologi yang mementingkan rasio yaitu teologi Liberal yang tidak lagi mementingkan Alkitab dan penginjilan. Kita juga melawan arus teologi yang mementingkan emosi dan mementingkan pengalaman lebih daripada doktrin yang berakar pada Alkitab. Reformed melawan semua arus ini sehingga iman sejati yang berdasarkan Alkitab itu dimunculkan. Kita harus menegakkan prinsip-prinsip Alkitab dan mengobarkan api penginjilan baik secara perorangan maupun massal. Selain itu kita juga harus memerhatikan mandat budaya. Sudahkah kita mengerjakan semua ini? Bagaimana dengan musik, pendidikan, profesionalisme, dan nilai kemasyarakatan? Jadi masih banyak tugas yang harus kita kerjakan. Kehadiran kita di Cikarang ini untuk menjadi mercusuar iman yang melihat kemuliaan Tuhan melalui api penginjilan dan mandat budaya yang mengembalikan seluruh aspek kepada kemuliaan Tuhan. Itulah panggilan kita sebagai hamba yang harus mengikuti prinsip-prinsip seperti yang dijabarkan oleh Pdt. Stephen Tong. Di sana kita diingatkan bahwa kita datang untuk melayani, sinkron, taat, dan berkorban. Kita tidak datang untuk pertama-tama memberikan kritik yang menjatuhkan. Kita bukan menolak kritik tetapi kita mengusahakan untuk memberikan kritik yang membangun. Di sana kita melakukan evaluasi dan perbaikan. Kita datang ke Gereja bukan dengan jiwa penolong karena merasa Gereja membutuhkan pertolongan kita. Kita datang untuk melayani karena Tuhan memanggil kita untuk melayani-Nya. Tuhan-lah yang memberikan pertumbuhan bagi Gereja-Nya, maka dari itu kita harus senantiasa ikut pimpinan Tuhan. Gereja-Gereja Reformed Injili ada di dalam negeri dan di luar negeri karena kita memiliki visi global. Kita memiliki panggilan dan visi. Kita harus memikirkan hal-hal yang penting untuk Kerajaan Allah. Setiap dari kita akan mengakhiri hidup kita, namun setiap hal yang kita lakukan demi kemuliaan Tuhan pasti akan diingat oleh Tuhan. Jadi kita harus membawa jiwa-jiwa kembali kepada Tuhan. Kita harus memiliki kerohanian yang kuat, menangkap visi dengan tepat, mengerti teologi Reformed dengan tuntas, dan memiliki semangat pelayanan yang benar. Semua ini akan mendorong kita menjadi saksi bagi Tuhan. Firman Tuhan yang kita bahas mengingatkan kita akan pengharapan yang suci, bagaimana kita bisa memiliki itu, dan bagaimana kita mengaitkan semua pengharapan kita untuk kemuliaan Tuhan. Ketika Rut melangkah dalam pengharapan, semua itu adalah pimpinan dan penyertaan Tuhan. Rut adalah teladan bagi kita semua agar kita bisa menjadi umat Tuhan yang baik.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami