Manusia Berdosa Jauh dari Allah dan umatNya

Efesus 2:1-10 dapat dipahami menjadi tiga bagian: (1) ayat 1-3 menceritakan betapa jauhnya kita dengan Tuhan secara vertikal. Hidup kita tanpa Kristus artinya kita mati rohani, budak dosa, tunduk kepada keinginan-keinginan daripada penguasa kerajaan angkasa dan dimurkai Tuhan Allah.

Manusia Berdosa Jauh dari Allah dan umatNya

Categories:

Efesus 2:1-10 dapat dipahami menjadi tiga bagian: (1) ayat 1-3 menceritakan betapa jauhnya kita dengan Tuhan secara vertikal. Hidup kita tanpa Kristus artinya kita mati rohani, budak dosa, tunduk kepada keinginan-keinginan daripada penguasa kerajaan angkasa dan dimurkai Tuhan Allah. (2) ayat 4-18 menyatakan mengenai kondisi baru yang diubahkan oleh Tuhan Yesus Kristus. Maka kita menemukan lagi keberartian dan arah hidup yang benar. (3) ayat 19-22, mengenai kewargaan Kerajaan Allah yang kudus. Di dalam Efesus 2:11-22 berbicara tentang kesatuan dengan Kristus yaitu tentang kemenangan Kristus atas perseteruan dan segala hal yang membuat kita jauh atau terpisah dari Tuhan dan umat Tuhan. Pada kesempatan kali ini kita akan merenungkan Efesus 2:11-13 yang berbicara mengenai manusia berdosa jauh dari Allah. Mengapa kita jauh dari Tuhan? Kita akan masuk dalam pembahasan Efesus 2:11-22. Kondisi manusia yang telah jatuh dalam dosa saling berjauhan karena setelah jatuh dalam dosa terkadang kita membangun satu tembok-tembok tertentu di dalam kita berelasi dengan orang lain sehingga tidak ada kesatuan yang harmonis. Di dalam gereja kita semua menjadi satu. Ketika jatuh dalam dosa, kondisi manusia yaitu mati rohani, budak dosa, tunduk kepada iblis, dan dimurkai Tuhan. Jikalau hidup kita sudah di dalam Tuhan dan mendapatkan satu sinar kemuliaan salib maka kondisi kita berubah. Kita menjadi baru mendapatkan keselamatan dan menjadi dekat dengan Allah. Paulus ingin mengkaitkan integrasi kerohanian kita yang dahulu jauh daripada Tuhan karena Dosa kemudian mengalami Union with Christ. Relasi kita yang mengalami kesatuan dengan Kristus harusnya juga diperbaharui secara horizontal dengan orang-orang lain. Berarti panggilan spiritual kita adalah tidak boleh membeda-bedakan manusia berdasarkan suku bangsa, bahasa, dan lain-lain. Bagaimana kondisi manusia yang jauh dari Tuhan? 1. Dahulu kita adalah orang yang tidak bersunat. Salah satu ayat yang paling jelas yaitu Kejadian 17:1-27. Sunat dalam perjanjian lama menunjukkan bahwa kita masuk dalam umat perjanjian-Nya. Jadi bukan hanya mengenai kesehatan saja. Memang sunat juga mempunyai manfaat dalam hal kesehatan. Tapi lebih dari itu sunat merupakan tindakan iman daripada orang tua yang percaya bahwa anak laki-lakinya harus dijadikan milik Tuhan. Sunat dalam perjanjian lama juga merupakan tindakan ibadah. Dalam Kejadian 17:10 dikatakan “Inilah perjanjian-Ku yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku, kamu serta keturunanmu yaitu setiap laki-laki diantara kamu harus disunat.” Kata “harus” artinya mutlak tetapi bukan dari aspek kesehatan melainkan mutlak sebagai tindakan iman dari orang tua dan tindakan ibadah supaya anak itu dipersembahkan untuk hidup bagi Tuhan. Ini sama nilainya dengan konteks perjanjian baru yang diakui oleh Reformed yaitu baptis anak. Baptisan itu bukan jaminan keselamatan, tetapi iman dari orang tua menjadi suatu investasi dimana anak itu akhirnya besar dengan iman yang sejati di dalam Yesus Kristus. Anak-anak Yahudi dari umur 8 hari anak sudah menjadi anak perjanjian.; Kemudian umur 12 tahun dipersembahkan menjadi anak Tuhan. Umur 20 tahun dipersembahkan untuk melayani dan umur 30 tahun dipersembahkan untuk menjadi pemimpin. Artinya orang Yahudi sudah punya program secara rohani untuk anaknya. Maka anak kita juga harus dipersiapkan untuk punya program melayani Tuhan. Dalam Perjanjian Lama, sekolah yang paling penting adalah sekolah iman sehingga kita menjadi orang Kristen yang tidak mempermalukan nama Tuhan. Dalam bagian ini kita diingatkan kembali ketika kita sekarang hidup dalam Tuhan maka kita menjadi orang yang diberkati oleh Tuhan dalam hal Kerajaan Surga. Yaitu diberkati dalam hal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita sorgawi. Berarti menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan dalam Perjanjian Lama mendorong kita untuk selalu setia. Dalam konteks Perjanjian Lama, jika seorang dapat menjadi kewargaan Israel dan setia maka akan mendapatkan janji Allah yang diberikan kepada Abraham yaitu menjadi bangsa yang besar dan memberkati bangsa-bangsa yang lain. Sunat sebenarnya hanya janji yang bermakna rohani namun orang Israel salah mengerti. Malahan menjadikan suatu kesombongan tersendiri. Maka dalam hukum Yahudi dalam berelasi yaitu: 1. Orang Yahudi boleh mengejek orang non Yahudi dengan langsung dan tidak langsung. 2. Jikalau kamu menjadi orang Yahudi melihat orang non Yahudi istrinya sedang bersalin maka tidak boleh ditolong bahkan dibiarkan mati pun tidak apa-apa. 3. Jikalau anakmu menikah dengan orang non Yahudi maka anggap saja anakmu itu mati dan engkau membuat satu ibadah kematian anakmu. Sunat rohaniah itu karena kuasa darah Yesus. Hidup kita yang tadinya seteru Tuhan akhirnya menjadi orang yang didamaikan oleh Tuhan karena salib Yesus. 2. Hidup kita tanpa Kristus dan bukan kewargaan Israel. Paulus mengingatkan sekali lagi pentingnya hidup dalam Kristus. Jikalau hidup kita tanpa Kristus, kita berada di dalam kebahayaan dan terjebak dalam manusia lama kita. Jangan terjebak dengan kepuasan-kepuasan yang tidak suci, itu kebahayaan. Setelah kita dalam Kristus maka kita dihidupkan dan dibangkitkan kerohaniannya. Kita mendapatkan satu kuasa sebagai anak-anak Allah maka kita tidak boleh kalah dengan dosa. Tanpa Kristus status kita bukan kewargaan; Israel secara rohani tetapi setelah kita dalam Kristus kita disebut warga kerajaan Allah. Puji Tuhan kita kembali mendapatkan penyertaan Tuhan dan jaminan yang baru karena kita warga kerajaan Allah. 3. Hidup kita tanpa pengharapan dan tanpa Allah dalam dunia ini. Ketika manusia hidup tanpa pengharapan yang suci, manusia sedang dalam kekosongan hidup. Setiap kita punya pengharapan dan keinginan yang ingin didapatkan dan dicapai. Di sinilah kita melihat Paulus mengingatkan kita betapa indahnya hidup kita jikalau kita memiliki pengharapan yang mulia yaitu hidup yang kekal yang berarti bagi Allah. Pengharapan yang suci harus dipimpin oleh iman agar kita memiliki arah semangat hidup bagi Kristus. Marilah kita diingatkan oleh Rasul Paulus untuk kembali membangun hubungan kita yang dekat dengan Tuhan karena kita sudah bersatu dengan Kristus maka kesatuan itu akan mendorong kita punya pengharapan yang suci dan hidup di dalam Kristus. Kesatuan itu akan mendorong kita untuk kita lebih setia lagi, lebih taat lagi dan lebih berkorban lagi, lebih berjuang lagi bagi Tuhan.

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami