Lima Dosa Saul yang Menyedihkan Hati Allah Bagian 1 (1 Samuel 13:11-14)

Lima Dosa Saul yang Menyedihkan Hati Allah Bagian 1 (1 Samuel 13:11-14)

Categories:

Khotbah Minggu 8 Maret 2020 Pagi

Lima Dosa Saul yang Menyedihkan Hati Allah (Bagian 1)

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

Kita akan membahas seri Lima Dosa Saul yang Menyedihkan Hati Allah. Kita akan memulai dengan dosanya yang pertama. Pembahasan kita diambil dari 1 Samuel 13:11-14. Saul melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh Samuel karena ia ketakutan. Saul tidak mengikuti apa yang diperintahkan Tuhan kepadanya.

 

 

1) Pendahuluan

 

Bagaimana kita tahu apakah karakter seseorang sudah matang secara rohani? Ada dua macam karakter yaitu karakter lahiriah dan karakter rohani. Karakter rohani adalah yang paling sejati. Karakter lahiriah bisa muncul karena pendidikan dari lingkungan dan budaya namun itu belum tentu mencerminkan hatinya. Kematangan karakter seseorang diuji melalui proses waktu. Mengapa Saul tidak diuji sebelum ia menjadi raja? Apakah Saul dipilih oleh Israel menjadi raja karena kualifikasi karakter rohani? Tidak. Saul hanya terlihat tinggi, tampan, dan menarik. Mengapa Allah mengizinkan Samuel mengurapi Saul menjadi raja? Saul belum teruji karakternya dan kualifikasi kerohaniannya, namun Tuhan mengizinkan ini untuk menguji bangsa Israel. Tuhan bisa menguji kita karena pilihan yang kita buat sendiri. Apa yang menyebabkan Saul tidak bertahan menghadapi keberhasilan, kesulitan, ancaman, keterdesakan, kritikan, dan lainnya? Yonatan menang melawan orang-orang Filistin, namun yang gembira sampai lepas kendali adalah Saul. Dari kacamata psikologi modern, kita bisa menyimpulkan bahwa Saul memiliki kecenderungan bipolar. Ketika ia senang maupun sedih, ia lepas kendali. Setiap kita mungkin memiliki poteni bipolar, namun dalam tahapan-tahapan yang berbeda. Daud juga bisa dinilai memiliki kecenderungan bipolar. Ketika ia membawa tabut ke Yerusalem, ia menari-nari tanpa baju. Kita bisa berada di ekstrem satu atau yang lainnya, namun kita bisa memohon pertolongan Tuhan untuk menyucikan kita. Mengapa Saul tidak bertahan menghadapi banyak hal? Ketahanan mental seseorang, kerohaniannya, dan potensinya untuk menjadi baik dibentuk dari sejak lahirnya. Kita akan membahas mengapa ketahanan Saul begitu lemah.

 

 

2) Perbedaan Esensi Perubahan Karakter di dalam Kristus dan Dunia

 

Saul dipilih menjadi raja. Ia tinggi dan tampan serta memiliki kerendahan hati. Ketika Samuel mau mengurapinya menjadi raja, Saul bertanya mengapa ia yang dipilih. Ia sadar bahwa dirinya berasal dari suku yang terkecil. Meskipun ia memulai dalam kerendahan hati, ia mengakhiri hidupnya dalam tinggi hati setelah mendapatkan kuasa dan jabatan. Ia memulai pelayanannya dengan dipenuhi oleh Roh Kudus namun ia mati dengan menghujat Roh Kudus. Hal ini perlu kita analisa. Kita bisa saja bertemu dengan orang-orang yang seperti ini. Mereka mungkin pada awalnya begitu baik namun setelah beberapa waktu menjadi tidak baik. Ada orang-orang yang suka bersandiwara. Mereka terlihat baik di Gereja namun menunjukkan sifat aslinya di tempat lain. Maka dari itu kita harus sungguh-sungguh mengevaluasi diri kita apakah kita benar sudah berubah di dalam Tuhan. Orang Kristen yang sejati, saat ia mengalami perubahan karakter, tujuannya adalah menjadi serupa dengan Kristus (Matius 5:20). Orang dunia bisa ingin berubah menjadi orang baik dan bermoral. Orang Kristen melihat Kristus sebagai alasan atau motivasi perubahan hidupnya. Namun orang dunia mau berubah demi keuntungan dirinya. Ancaman bisa membuatnya terlihat berubah namun ia tidak mengalami perubahan sejati. Cara perubahan orang Kristen adalah mengganti seluruh pakaian (Lukas 5:36 dan 2 Korintus 5:17). Pakaian apa yang diganti? Pakaian keinginan, pikiran, dan hatinya. Semuanya diubah dalam proses kelahiran baru oleh Roh Kudus. Perubahannya itu mematikan aspek-aspek kedagingan (Roma 6:6; 8:13-14; Galatia 2:20). Ia harus berjuang untuk dipimpin Allah Roh Kudus dan bukan keinginannya. Orang dunia yang berubah itu tetap memakai pakaian lama. Ia hanya menambal pakaian lamanya. Kedagingannya masih ada. Ia bisa menyangkal diri bahkan menyiksa diri secara lahiriah, namun hatinya tidak berubah. Ia berubah hanya karena kondisi. Ketika diuji, ia akan jatuh lagi. Esensi perubahan orang Kristen adalah ia menjadi manusia baru dari Allah (Yohanes 15:18-19 dan 17:14). Orang Kristen memiliki status, cara pikir, cara pandang, dan emosi yang baru. Namun orang dunia masih hidup sebagai manusia lama. Ujian kenikmatan dan penderitaan akan menampilkan isi hatinya yang sesungguhnya. Sumber kekuatan perubahan kita orang Kristen adalah Firman Tuhan dan pimpinan Roh Kudus serta doa (Zakharia 4:6; Mazmur 118:9; Lukas 24:49; 1 Petrus 5:8). Kita selalu memandang kepada Tuhan di dalam kondisi apapun. Orang dunia meletakkan sumber kekuatannya pada diri sendiri dan kesadaran diri. Jadi ia tidak mungkin benar-benar berubah. Upah perubahan orang Kristen adalah tubuh yang dimuliakan (Roma 8:23; Filipi 3:21) dan kekekalan (1 Yohanes 3). Upah Perubahan orang dunia adalah tubuh yang tersiksa dan penghukuman.

 

Tempat dan relasi perubahan orang Kristen adalah dalam Dunia Anak Allah (Kerajaan Allah) – Kolose 1:13. Kita ditempatkan untuk menjadi agen perubahan. Setelah diubah oleh Tuhan, kita memiliki misi untuk menjadi pengaruh sehingga orang-orang bisa melihat Tuhan melalui hidup kita. Hukum yang dipakai orang Kristen adalah Hukum Roh yang mendatangkan hidup (Roma 8:2). Roh Kudus membuat hidup kita semakin menjadi baik. Orang yang menabur kedagingan akan menuai kedagingan. Maka dari itu kita harus hidup oleh Roh. Daging itu lemah namun Roh itu penurut. Standar perubahan kita adalah kemenangan atas dosa (Galatia 5:16-17 dan Roma 8:14). Kemenangan yang sejati adalah ketika kita menang atas dosa. Tempat dan relasi perubahan bagi orang dunia adalah dalam dunia yg dikuasai Iblis – Yohanes 14:30. Ia hanya berubah karena situasi dan kondisi. Ia bisa terlihat teguh berdiri namun seiring waktu ia akan jatuh. Hukum yang dipakainya adalah hukum situasi dan kondisi yang masih diikat dosa, yang mendatangkan kematian. Ia bisa menghindari perbuatan-perbuatan buruk namun dalam hatinya ia tetap mau melakukan semua itu. Ia tidak menilai dosa sebagai hal yang menjijikkan. Orang Kristen melihat dosa dengan kebencian karena dirinya sudah ditebus Tuhan Yesus Kristus. Standar perubahan orang dunia adalah moralitas humanisme yang terlihat baik. Hatinya tidak berubah. Ada banyak orang baik namun belum tentu benar. Kita harus menjadi orang yang takut akan Tuhan, berhikmat, hidup benar, dan baik. Kesuksesan materi bukan standar kita. Kemenangan seseorang akan dosa membuktikan bahwa karakternya sudah berubah.

 

 

3) Dosa Saul

 

Dosa pertama yang dilakukan oleh Saul ketika ia menjadi raja adalah mempersembahkan korban tanpa Samuel (1 Samuel 13:11-14). Saat itu Tuhan mengizinkan orang-orang Filistin menyerang Israel. Saul hanya memiliki 3000 tentara. 2000 orang mengikutinya dan 1000 orang mengikuti Yonatan. Yonatan berhasil mengalahkan orang-orang Filistin. Di saat itu Saul menyerukan kemenangan Yonatan atas Filistin agar tentara Israel menjadi lebih bersemangat. Namun hal itu seharusnya tidak dilakukan. Akibat dari perbuatannya adalah ia membangkitkan macan yang tertidur. Filistin kemudian mengirimkan pasukan yang jauh lebih banyak. Situasi itu pasti mengagetkan Saul. Di sana ia dan semua tentaranya mengalami ketakuan. Sebagian besar pasukannya bersembunyi sehingga hanya tersisa 600 orang. Saul mengalami kepanikan karena para prajurit terpencar dengan ketakutan. Di tengah situasi yang mencekam itu Saul menantikan Samuel. Ia tidak sabar menunggu waktu Tuhan selama 7 hari (mengandalkan diri sendiri). Akhirnya Saul memutuskan untuk mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan tanpa Samuel. Ia bukan orang Lewi dan bukan imam namun ia berani melakukan itu. Jadi Saul di sini bukan beriman tetapi mendahului waktu Tuhan. Seharusnya Saul dan pasukan Israel memegang prinsip siap mati demi bangsa. Pasukan Israel yang kabur tidak memiliki mental yang dipimpin iman. Mereka mengandalkan rasio sendiri sehingga mereka ketakutan melihat orang banyak. Di tempat lain, Yonatan begitu beriman. Ia bersama bujangnya begitu berani mengalahkan 20 orang tentara Filistin sehingga mereka terpukul mundur. Keberanian Yonatan adalah karena iman. 2400 orang itu ketakutan karena tidak ada benteng iman. Sisa 600 orang itu memiliki keberanian untuk bertahan sampai mati. Kita seharusnya seperti Yonatan atau 600 orang itu.  Apa akibat perbuatan Saul? Karena Saul tidak menaati Tuhan, Samuel menegur bahwa takhtanya akan berlalu. Apa respons Saul? Ia tidak peduli. Setelah Samuel menegurnya, Samuel tidak memimpin ibadah tetapi langsung kembali pulang. Di sana Saul tidak menyesal. Orang yang setelah ditegur tidak mau bertobat adalah orang bebal.

 

Dalam Efesus 4 kita diajarkan untuk memiliki kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran. Ketiga hal ini diikat dalam kasih yang terus bertumbuh. Kesatuan kita adalah kesatuan dalam iman yang diikat oleh damai sejahtera. Tindakan Saul itu tidak taat. Ia tidak membaca situasi dengan iman. Terkadang kita tidak membaca situasi berdasarkan iman. Kita terkadang mengandalkan rasio dan perasaan sehingga akhirnya tidak memuliakan Tuhan. Saul tidak bertanya kepada Tuhan dan mengandalkan Tuhan. Pada akhirnya ia melakukan dosa. Iman dan ketataan seseorang kepada Tuhan diuji dalam kesuksesan dan situasi yang mengancam, genting, atau mencekam. Bandingkan Matius 26:36-46, Yohanes 11:1-45, dan Covid-19). Yesus berdoa di Taman Getsemani. Ia tahu bahwa diri-Nya akan menghadapi penderitaan yang begitu besar. Pergumulannya begitu berat sehingga dikatakan bahwa keringat-Nya itu seperti tetesan darah. Menurut ilmu medis, ini berarti pembuluh darah-Nya pecah. Ini berarti pergumulan-Nya sangat serius dan berat. Di sini kita melihat bahwa iman dan ketaatan itu diuji dalam penderitaan. Ketika Tuhan Yesus mendengar bahwa Lazarus sakit keras, ia tidak langsung pergi untuk mengunjunginya. Ia sengaja tinggal selama 2 hari. Ketika Yesus tiba di kuburnya, Lazarus sudah mati selama 4 hari. Ia sengaja melakukan itu untuk menguji iman Maria dan Marta. Ia juga sedang menguji orang Yahudi yang katanya beragama. Tuhan Yesus menangis bukan karena kematian Lazarus tetapi karena orang-orang tidak percaya bahwa diri-Nya adalah Sang Kebangkitan dan Hidup. Kemudian Tuhan membangkitkan Lazarus untuk menyatakan diri-Nya sebagai Kebangkitan dan Hidup. Maria dan Marta diuji dalam ruang dan waktu. Mereka menangis selama 4 hari sampai Tuhan Yesus tiba. Terkadang kita juga mengalami ujian seperti itu. Di sana iman dan ketaatan kita diuji. Kita harus bersandar pada Tuhan ketika ujian datang.

 

Saul gagal karena ia dipimpin oleh ketakutan dan bukan iman. Ia menjadi panik dan melihat masalah itu jauh lebih besar daripada Tuhan. Ketika kita hampir lepas kendali dan dikendalikan oleh emosi, kita harus mengingat Tuhan yang sudah menebus kita. Iman dan ketaatan menjadi senjata kita. Pelayanan tidak boleh kita abaikan karena sukacita akan datang ketika kita melayani Tuhan. Kesulitan pasti akan kita alami dan kita harus menghadapinya dengan iman. Kita harus percaya pada Tuhan yang maha kuasa yang senantiasa memelihara kita. Kita harus menyerahkan segala kekhawatiran kita kepada Tuhan. Tuhan adalah Gembala Agung yang tidak pernah gagal memelihara kita, umat-Nya.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami