Latar Belakang Reformasi

Latar Belakang Reformasi

Categories:

500 tahun yang lalu 31 Oktober 1517 Martin Luther memakukan 95 dalil di pintu Gereja Wittenberg. Pdt. Stephen Tong melihat ini menjadi satu poin yang sangat signifikan karena setelah 500 tahun masalah gereja tidak selesai dan terus menerus masih ada, maka diadakanlah Konvensi Nasional Refo500 ke berbagai kota. Di dalam setiap kota kita membahas 5 pilar reformasi yaitu Sola Fide, Sola Scriptura, Sola Gratia, Solus Kristus, dan Soli Deo Gloria. Ditambah pula 1 sesi di depan yang memberitakan latar belakang dari semua apa yang terjadi di reformasi, lalu 1 sesi di belakang yang bicarakan tantangan yang terjadi untuk kita menghadapi reformasi ke depan.

 

Apa sebetulnya yang menjadi cetusan sampai meletupnya reformasi dan 95 thesis di Wittenberg? Salah satu orang dari sekian orang yang begitu penting disebut pra-reformator. Kenapa disebut pra-reformator? Karena mereka sebetulnya juga adalah reformator, tetapi di dalam beberapa sisi mereka “tidak selesai” tugasnya karena tantangan yang mereka hadapi terlalu berat. Tadi kita bicara tentang John Wyclife. John Wyclife adalah orang yang mulai teriak keras di Inggris atas ketidakberesan gereja, ketidakberesan iman Kristen yang terjadi pada zaman itu. Dia marah sekali melihat gereja menyeleweng dari firman Tuhan, gereja dipermainkan begitu rupa oleh para pimpinan-pimpinan gereja. Dan pada saat itu ketika dia mengenalisa, menurut dia salah satu hal yang membuat gereja gampang sekali menyesatkan jemaat adalah karena gereja menjaga, membatasi orang boleh mengakses firman Tuhan. Pada jaman itu dikatakan tidak sembarang orang bisa membaca firman Tuhan, karena pada zaman itu belum ada upaya atau kemampuan mesin-mesin untuk memperbanyak Alkitab. Satu-satunya cara memperbanyak Alkitab adalah dengan ditulis, karena pada saat itu belum ada mesin pembuat Alkitab. Martin Luther waktu pegang dan membaca Alkitab langsung pada waktu dia sekolah master. Sebelum sekolah master melihat Alkitab saja tidak pernah, yang pegang adalah profesor-profesornya di depan, lalu murid-murid hanya bisa melihat dari belakang. Waktu Martin Luther sekolah master dia tidak punya hak untuk membeli Alkitab, tetapi waktu dia studi Doktor baru boleh dapat izin beli Alkitab. Jadi pada zaman itu susah sekali. dan ketika mereka mendapatkan Alkitab, Alkitabnya bahasa latin. Jadi kalau orang awam mau membaca juga tidak mengerti apa-apa, hanya profesor-profesor teologi yang bisa membacanya. Maka John Wyclife kemudian mengatakan tidak bisa, kalau cara begini jemaat tidak bisa mengerti Alkitab, maka dia kemudian menterjemahkan Alkitab kedalam bahasa Inggris. Sampai hari ini John Wyclife terkenal sekali dengan Wyclife Bible Translation. Satu semangat begitu luar biasa, ingin seluruh dunia, segala suku bisa membaca Alkitab dalam bahasa mereka. Tetapi itu tidak disambut dengan baik. Kalau waktu itu sampai tidak terjadi adanya sekelompok orang yang begitu keras membela Wyclife, hari itu Wyclife sudah dibakar hidup-hidup. Gereja Roma Katholik sengit, siapapun yang melawan mereka dianggap bidat, dan hari itu yang dianggap bidat dibakar hidup-hidup, hukuman itu adalah hukuman sah pada jaman itu. Gereja menjadi pecah dua, di Vatikan juga menjadi pecah dua, sebagian membela Wyclife, sehingga akhirnya Wyclife hanya ditahan sebagai tahanan rumah.

Tetapi tidak sebaik itu dengan yang terjadi dengan pra reformator yang lain. Kalau saudara pergi ke Praha salah satu kota yang paling indah di Eropa, di tengah-tengah sana di alun-alun kota Praha saudara akan ketemu satu patung, dan patung itu adalah patung daripada John Hus.

John Hus adalah seorang reformator yang punya hati mirip sekali sama Wyclife, tetapi nasibnya tidak sebaik Wyclife. John Hus ditangkap lalu kemudian dibakar hidup-hidup karena dianggap sebagai bidat. Selain itu sebelum Wyclife dan John Hus, di Italia yang dekat dengan pusat gereja pada zaman itu ada seorang imam yang merasa gereja sudah tidak beres, lalu dia mulai membawa gereja, menyadarkan gereja, memberikan kritik pada pemimpin-pemimpin gereja, dia adalah Guilamo Savonarola, nasibnya pun mirip John Hus. Akhirnya bukannya gereja bertobat, orang ini malah ditangkap dibakar hidup-hidup. Gereja Katholik pada jaman itu membunuh imamnya sendiri, pastornya sendiri dan ratusan orang yang dianggap memberontak kepada mereka lalu dibakar hidup-hidup. Kenapa? Karena itu hukuman terhadap bidat-bidat. Belum lagi jemaat-jemaat yang ikut pro sama mereka, ditangkap lalu dibakar hidup-hidup. Sepanjang pra refomasi ratusan ribu jemaat Katholik pada zaman itu dibakar hidup-hidup karena melawan gereja. Pada zaman itu kita melihat begitu kacaunya gereja. Dan ketika Martin Luther memakukan 95 thesis di Wittenberg itu pun kalau tidak terselamatkan, Martin Luther pun sudah siap untuk dihukum mati. Ketika sidang pada tahun 1521 di Worm, waktu itu Martin Luther dijebak, dituntut ”cabut pernyataanmu, hapus dan bakar semua bukumu, kalau itu engkau lakukan engkau diselamatkan, kalau engkau tidak melakukan kita akan menjatuhkan hukuman”. Dan disitulah teriakan Martin Luther “kalau saya membahas, mengatakan atau menuliskan yang tidak sesuai dengan firman Tuhan, saya bersedia untuk mencabut semua, saya akan minta ampun sama Tuhan, dan saya akan meminta maaf kepada semua gereja karena saya bersalah. Tetapi jika apa yang saya katakan, dan apa yang saya tuliskan sesuai dengan firman Tuhan, saya tidak akan mencabut apapun, saya akan tetap seperti ini”. Hampir dia mau ditangkap, tetapi pada waktu itu cukup banyak yang ikut dan pro kepada Martin Luther, maka Katholik agak berhati-hati, mencari kesempatan. Tetapi raja Frederick yang melihat apa yang dilakukan Martin Luther jauh lebih beres, maka dia kirim orang lebih cepat, lalu Martin Luther ditangkap, dan dikarungin. Saat itu Martin Luther hilang, dan tidak tahu berada dimana, orang berpikir Martin Luther sudah dibunuh, ternyata tidak, yang menangkap dia ternyata orang yang pro sama dia, lalu dia diselamatkan.

 

Kalau saudara melihat ini yang terjadi di abad 15, pertanyaan saya ada apa sebenarnya? Isunya disebelah mana? Mari kita kembali kepada Efesus 4: 13 – 14. 13 sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, 14 sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan.

 

Paulus melihat satu gejala yang terus menerus terjadi sepanjang zaman, yaitu ketika orang-orang Kristen seperti anak-anak yang gampang diombang-ambingkan, dipermainkan oleh berbagai macam ajaran palsu manusia, di dalam kelicikan mereka yang menyesatkan maka gereja menjadi rusak. Manusia dan Gereja di tengah dunia ini selalu menghadapi kemungkinan ancaman dan masalah yang sangat besar yaitu ketika gereja, jemaat, orang Kristen bisa dipelintir, dipermainkan oleh berbagai macam ajaran yang tidak karuan, diberikan berbagai macam isu-isu, berbagai macam pikiran-pikiran yang menyesatkan, dan ketika itu jemaat tidak tahu sama sekali ketika mereka sedang disesatkan, dan saat itulah mereka hancur. Maka pada saat seperti itu Paulus menuntut setiap kita sampai kita semua telah mencapai. Mencapai apa? Alkitab memberikan gambaran dua pikiran besar. Yang pertama adalah sampai kita semua mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Kristus atau tentang anak Allah. Berarti isu pertama yang jemaat perlu terus pertumbuhkan adalah mengerti iman kita dengan beres, mengerti dengan betul-betul, bukan hanya sekedar tahu, tetapi mendalami sampai mendapatkan pengetahuan yang benar tentang Kristus, tidak cukup hanya sekedar tahu Kristus, mendapatkan pengertian yang sungguh-sungguh benar tentang Kristus. Kenapa? Karena dis inilah inti daripada iman Kristen. Iman Kristen adalah iman yang berpusat kepada Kristus. Ketika iman itu meleset daripada Kristus ajaran apapun tidak menjadi penting lagi, dan itu menjadi bidat. Ini masalah serius bagi gereja, dan di sepanjang sejarah gereja ini berulang kali menjadi masalah, maka gereja perlu kembali mengerti iman kita, siapa yang saya percaya. Pengetahuan tentang Kristus yang benar itu menjadi kunci daripada gereja.

Paulus sangat sadar bahwa ini bahaya laten jika seseorang tidak memiliki pengetahuan yang benar tentang Kristus maka langsung dia akan terterpa dengan permainan palsu manusia didalam kelicikan mereka yang menyesatkan. Motivasi gereja terlalu banyak, motivasi pemimpin gereja terlalu banyak, motivasi berbagai macam isu gereja terlalu banyak, dan itu yang terjadi juga di abad pertengahan sampai abad ke 21, ketika jemaat tidak dididik dengan benar, tidak mengerti Kristus secara benar di situlah permainan kelicikan manusia mulai menyelewengkan gereja, menyelewengkan jemaat, menyesatkan jemaat. Ini yang terjadi kenapa pada zaman itu sampai-sampai jemaat bisa menerima penjualan surat indulgensia (surat pengampunan dosa). Martin Luther tidak habis pikir kenapa jemaat bisa menerima apa yang diajarkan oleh gereja yaitu kalau engkau membayar suatu koin emas, ketika engkau memberikan hargamu untuk membeli surat pengampunan dosa, saat surat pengampunan dosa engkau bayar satu nyawa loncat dari purgatori naik ke surga. Martin Luther berkata luar biasa orang bisa ditipu dengan cara demikian. Kalau memang benar-benar seperti itu lalu apa artinya Tuhan Yesus mati di kayu salib, apa artinya darah Tuhan Yesus mati dicecerkan diatas kayu salib kalau kita bisa membeli keselamatan dengan satu koin emas. Begitu luar biasanya merusak iman, Martin Luther tidak bisa terima konsep ini, tetapi gereja butuh duit, maka itu menjadi isu besar untuk jualan, bagaimana kita bisa mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Isu mendapatkan pengajaran yang benar itu merupakan isu penting didalam iman.

Kedua, tidak cukup cuma dengan pengetahuan yang benar, kita masih dituntut memiliki bijaksana yang menjadi kunci daripada kedewasaan seseorang. Seseorang yang dewasa adalah orang yang bisa berpikir matang. Sekali lagi saya katakan dunia tidak butuh kepintaran, bahaya sekali menjadi orang pintar, karena pintar itu sangat merusak kalau tidak hati-hati. Di tengah-tengah dunia kita, kalau Alkitab kita membaca “orang ini bodoh”, bodoh bukan berarti dia tidak pintar. Paulus mengatakan dari semua orang, aku itu yang paling bodoh. Pada waktu dia bilang bodoh, secara intelektual dia sangat pintar, tetapi bodoh. Kenapa? Karena lawan bodoh adalah bijak. Perhatikan kalimat ini. Dunia butuh bijak, manusia harus menjadi bijak. Bijak itu adalah keterampilan dalam kemampuan seseorang, mengolah pola pikirnya dia sampai dia mempertimbangkan segala sesuatu, dia mengambil keputusan, keputusan itu tepat seperti yang Tuhan mau, itulah bijak. Tidak sembrono, tidak suka-suka, tidak kekanak-kanakan, tidak egois mementingkan kepentingan sendiri, bukan hanya sekedar itu, tetapi orang yang bijak itu ketika dia mempertimbangkan sesuatu dia tidak sembrono, dia baik-baik mempertimbangkan, dan ketika dia sudah mempertimbangkan mengambil keputusan, apa yang dia putuskan tepat seperti yang Tuhan mau. Orang pintar sekali belum tentu bijak, banyak orang pintar sekali, ketika dia pikir, mengambil keputusan, bukan Tuhan yang senang, tetapi iblis yang senang. Pertanyaannya anda lebih dekat sama keputusan yang cocok sama Tuhan apa sama iblis, itu menentukan anda seperti apa. Alkitab menginginkan orang yang perlu hidup, dia perlu tahu bagaimana dia mengambil keputusan, dia perlu tahu bagaimana dia mengambil langkah, dan ketika dia mengambil langkah apakah langkah itu langkah dewasanya dia, disitulah kedewasaan itu harus diarahkan kembali kepada kepenuhan Kristus.

Kembali lagi, kenapa mesti kembali lagi kepada Kristus? Karena Kristuslah bijaksana sejati, Dia-lah pribadi bijaksana itu. Tetapi disinilah problematika abad ke 10 sampai abad 15. Saya ingin kita masuk kedalam problema riil, kehidupan sejarah di dalam kehidupan masyarakat maupun gereja antara abad 10 sampai abad 15.

Saudara kalau perhatikan diantara abad yang pertama sampai abad ke 10 Kekristenan sudah memberikan pengaruh yang sedemikan dahsyat kepada dunia, kekuatan iman Kristen menguasai dunia khususnya setelah abad ke 4, abad ke 5, yaitu ketika Konstantin Agung kemudian menjadi Kristen, mensahkan seluruh wilayah Romawi harus Kristen, maka itu menjadi satu kejayaan Kekristenan yang membawa seluruh pengaruh iman Kristen. Ajaran Kristen merambah ke seluruh Eropa sampai ke Asia memberikan pengaruh besar, membuat semua orang berpusat kepada Kekristenan. Lalu pikiran yang begitu dahsyat sebelumnya disana yaitu tradisi Yahudi yang begitu kuat habis sama sekali tidak ada sisanya lagi. Pikiran Yunani yang begitu besar sekali menjadi habis sama sekali. Kenapa? iman Kristen memberikan pengaruh besar membawa orang kembali kepada Tuhan, membawa mereka mengerti firman. Tetapi tidak lama setelah abad ke 10 terjadilah perubahan besar, dunia masuk kedalam dunia yang disebut akademis, inilah problematika yang tidak banyak orang mengerti, dan di situlah perlunya kita mengerti sejarah. Orang Kristen dan gereja yang mendirikan, maka universitas-universitas tua yang mulai di Italia, kemudian di Inggris, terus kemudian ke Perancis, yang sekarang sudah hampir 1000 tahun umurnya, membawa orang masuk kedalam dunia akademis. Tetapi ketika mulai masuk ke dalam dunia akademis yang menguasai bukan pikiran Alkitab, yang berkuasa dan berperan besar didalam dunia akademis justru anehnya adalah pikiran dari Aristoteles yang dibawa oleh orang Islam. Jadi saudara tahu universitas-universitas pertama yang menguasai justru orang Islam, 2 filsuf Islam besar sekali mengkawinkan Islam dengan Aristotelian. Kenapa bisa terjadi seperti ini? Ketika penyebaran Islam di bawah Kaisar Otoman, menjajah dan menjelajah di seluruh Asia. Mereka mulai menemukan karya-karya Aristoteles yang dicecerkan oleh Alexander Agung. Alexander Agung adalah raja Makedonia yang dahsyatnya luar biasa, meninggal umur 32 tahun, tetapi dia menguasai mulai dari Yunani, seluruh Eropa sampai pergi ke India, luar biasa jayanya, luar biasa pintarnya. Kenapa bisa begitu? Bapaknya raja Philip meminta Aristoteles menjadi guru privatenya Alexander, maka Alexander Agung punya guru private paling pintar, paling berbijaksana pada jaman itu yaitu Aristoteles.  Sambil dia perang, sambil dia baca buku Aristoteles. Dimana-mana kececer buku Aristoteles yang disisakan sama dia, lalu kemudian dia tidak balik lagi, dia mati di India. Maka pada saat seperti itu Islam kemudian menemukan buku Aristoteles, dipungut kembali, lalu dua filsuf besar yang bernama Avicenna dan Averos. Konsep Aristotalian menjadi kekuatan besar yang kemudian mulai mempengaruhi dunia akademis sampai hari ini. Jadi kalau pada hari engkau belajar di sekolah yang mempengaruhi pikiranmu adalah logika Aristoteles, anda di bawa kedalam pola batasan yang disebut the square logic of opposition, atau kotak persegi logika Aristoteles. Lalu bagaimana? Ternyata orang Yudaisme, orang Yahudi tidak mau kalah, cepat-cepat kawin juga dengan Aristoteles. Filsuf yang bernama Moses Maimonaides, yang mengkaitkan Yudaisme dengan Aristoteles. Lalu bagaimana dengan Kristen? Kristen paling telat dalam hal ini, tidak mau kalah juga, maka gereja Katholik pada waktu itu ikut kawin dengan Aristoteles dibawah pemikir yang besar filsuf bernama Thomas Aquinas. Di teologi Roma Katholik dibangun oleh seorang filsuf yang pintarnya luar biasa yang bernama Thomas Aquinas, seluruh pikiran dia kembali kepada natural logic, natural theology dari Aristoteles.

Jadi kalau saudara melihat inilah pengaruh besar yang masuk, efeknya seluruh pikiran Yunani yang sudah ditinggal seribu tahun terangkat kembali menjadi satu gerakan besar di abad 11 yang kita kenal bernama gerakan Humanism. Kenapa? Karena apa yang dipikirkan oleh Aristoteles itu kemudian masuk kedalam 3 arus besar yang begitu menguasai sampai hari ini yaitu arus Stoiksisme, Epikureanisme, dan Skeptisisme. 3 Arus besar filsafat Greek kuno yang kemudian berkembang kembali  dengan satu dasar yang dicetuskan oleh Protagoras yaitu homo mensura, artinya: homo itu manusia, mensura itu ukuran, jadi semua filsafat Grika berpusat kepada satu pikiran, manusia itu mengukur segala sesuatu, manusia itu standar segala sesuatu. Kalau saudara mengerti inilah jiwa yang muncul kemudian didalam seluruh gerak mulai abad 11 sampai abad 15, perkembangan ini kemudian didalam sejarah disebut satu gerakan pertama humanism yang disebut sebagai Reinaisance. Reinaisance adalah satu kalimat Perancis yang artinya kami bangun, kami sekarang melek, kenapa? karena selama ini kami bodoh, kami dibodohi sama Tuhan, kami dibodohi sama gereja karena kita tidak sadar kita dipermainkan sama Tuhan, kita dipermainkan sama gereja, sekarang kita yang menentukan, kita yang maju. Maka gerakan Reinaisance sampai ke puncak disebut gerakan High Reinaisance, dibawah 3 tokoh besar, yaitu Michael Angelo, Leonardo Da Vinci, dan Rafaello. Tiga tokoh besar ini menjadi penguasa membawa dunia bergerak kembali menuju kepada manusia sebagai pusat segala sesuatu. Maka gerakan High Reinaisance diwakilkan oleh satu lukisan, yaitu lukisan Monalisa mau mengajak manusia untuk bangun, sadar bahwa hidup manusia bukan disana, hidup manusia disini. Efeknya apa? Gereja juga mulai masuk ke dalam kepentingan ini. orang-orang di gereja mulai memikirkan kepentingan dunia, karena bagi Aristoteles dimana ada ide disitu ada realitanya, ide tanpa realita tidak bisa dianggap sebagai real. Ini pikiran pertama yang menerobos, merombak dari pikiran platonic menjadi pikiran Aristotalian. Dunia metafisik dan fisik digandeng, tidak dicampur tetapi digandeng menjadi satu. Aristoteles sangat menghargai ada metafisika, tetapi Aristoteles mengatakan metafisik tidak lepas dari fisik, ini bukan dua dunia, ini satu dunia, maka pikiran Aristoteles menjadi dasar yang membuat kita semua lebih suka bagaimana kerohanian itu menyatu dengan dunia kita sekarang. Maka jangan kaget seluruh konsep agama-agama yang ada di dunia cocok dengan pikiran Aristoteles. Ini yang

menjadi isu besar. Efeknya apa? Humanism mulai berkembang, tetapi Humanism pecah dua didalam perjalanan abad ke 15. Di abad 14 dan 15 ketika manusia mulai berpikir yang tadinya tidak mikir, sekarang bagaimana saya menjadi ukuran, bagaimana saya mulai menjalankan kesuksesan, bagaimana saya menunjukan eksistensi. Maka pada saat itu gereja-gereja, raja-raja mulai saling bangkit, kalau tadinya semua mengalah, sekarang tidak mengalah.

Maka bagaimana dengan gereja Katholik Roma pada saat itu? Roma pun menjadi tentara. Jadi pada zaman itu gereja tidak beda dengan sebuah negara. Di dalamnya Paus menjadi seperti presidennya, lalu punya menteri, dan bukan hanya sekedar punya menteri, mereka juga punya tentara, dan tentara itu bisa perang kemana-mana seperti sebuah negara, lalu mereka perang kepada raja-raja yang tidak mau tunduk sama mereka. Ketika kita melihat seperti ini maka mulailah gerak yang sangat tegang, semua berebutan kekuasaan. ini menjadi isu besar gereja pada zaman itu. Pada zaman itu bagaimana yang namanya pemimpin gereja itu sibuk memperkaya diri, sibuk cari apapun buat diri dan mengatasnamakan Tuhan, tetapi merampok segala sesuatu untuk kepentingan sendiri. Maka Wyclife sangat sengit melawan kemewahan gereja, karena memang liarnya sangat luar biasa, bahkan ketika Johan Tetsel jualan surat indulgensia sebetulnya uangnya cuma separuh yang pergi ke Roma, separuh lagi itu adalah uang dana kampanyenya Abisop Magdeburg.

Maka muncullah beberapa orang berteriak Sola Scriptura, kembali ke Alkitab, kita tidak bisa pakai otorisasi manusia, tidak bisa homo mensura, ukuran bukan pada manusia, ukuran harus kembali kepada firman, dorong jemaat belajar firman Tuhan. Maka semua reformator berusaha untuk menterjemahkan Alkitab. Alkitab diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, Inggris, Perancis supaya jemaat dapat membaca Alkitab supaya tidak dibodohi seperti ini. Tetapi pada saat seperti itu tidak mudah, gereja melakukan tekanan yang sangat luar biasa buat semua orang yang mau mendidik jemaat untuk kembali kepada firman. Kenapa? Karena ajaran seperti ini mengganggu eksistensi mereka, mengganggu segala kejayaan mereka. Kenapa gereja rusak? Karena gereja kehilangan esensi. Paulus mengatakan sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang anak Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Martin Luther teriak habis bagaimana harus kembali kepada firman, bagaimana membangun iman yang sejati kembali kepada Kristus.

 

Saudara dan saya bersyukur sekali kita hidup di abad sekarang di Indonesia dimana kita boleh berada didalam gereja reformed Injili. Saudara jangan pikir ini gerakan sembarangan, anda berada dalam satu gerakan, di dalam satu gereja yang betul-betul mau mencoba kita menggenapkan apa yang Alkitab bilang. Tidak ada didalam seluruh sepanjang sejarah gereja yang satu gereja mendidik jemaat dengan banyaknya seminar dan pembinaan teologi untuk awam sebanyak GRII. Anda berada di dalam satu kesempatan. Lalu apa yang diinginkan? Tuhan mau kita belajar mengerti iman Kristen kita tidak sembarangan, belajar mengerti firman Tuhan tidak sembarangan, belajar untuk hidup kita juga tidak sembrono, belajar kita punya kehidupan yang dewasa, kita punya kehidupan yang bijaksana, Tuhan ingin kita dipakai oleh Tuhan menjadi terang. Problematika yang dihadapi diawal reformasi hari ini belum selesai, pergunjingan yang terjadi di abad 11 sampai abad 15, mulai dari abad 17 sampai abad 21 kembali terulang, Tuhan mau bangkitkan sekelompok orang punya perjuangan kembali mengerjakan apa yang Tuhan tuntut untuk setiap kita menjadikan reformasi terbakar lagi dan mulai bangkit.

 

(Ringkasan kotbah ini belum diperiksa oleh pengkotbah-YFS)

Bitnami