Kubur Kosong

Kubur Kosong

Categories:

Lukas 24 menceritakan secara rinci tentang kisah kubur kosong itu. Pernahkah kita bersedih dan merayakannya? Kita melihat di sini bahwa setelah Kristus mati, ada perayaan yang besar. Jika kita tidak pernah merasakan kesedihan yang mendalam, maka kita belum mengerti tentang berempati dengan orang lain. Pernahkah kita merasakan sukacita yang besar dimana kita melupakan Tuhan sehingga kita menjadi orang yang sombong? Mungkin pernah.

Kita akan mempelajari 3 hal. Pertama, realitas kubur kosong menyatakan hal yang menyakitkan. Mengapa menyakitkan? Selama 3 hari para murid bersembunyi dan mengunci pintu. Mereka khawatir akan ketahuan dan ditangkap lalu dihukum mati oleh tentara Romawi. Tuhan yang selama ini menjadi sandaran hidup mereka selama 3 hari itu tidak ada di samping mereka. Hal ini juga menyakitkan karena seolah-olah kebenaran itu dikalahkan oleh kuasa politik dan agama. Tuhan seolah-olah dikalahkan oleh kuasa militer dan para pemimpin agama serta rakyat. Para murid berdukacita karena Tuhan yang mereka percaya dan kagumi itu harus meninggalkan mereka. Para wanita itu pagi-pagi benar mau mengunjungi kuburan Yesus (Lukas 23:55-24:1). Di sana mereka melihat batu tersebut sudah dipindahkan (Lukas 24:2). Kemudian timbul satu kekhawatiran dalam diri mereka. Mereka bingung karena mereka tidak lagi dapat melihat jasad dari Guru mereka. Malaikat datang dan kemudian bertanya kepada mereka “mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?” (Lukas 24:5). Malaikat itu kemudian melanjutkan: Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga” (Lukas 24:6-7).

Kedua, realitas kubur kosong merupakan realitas kebenaran dan realitas iman. Segala hal yang menyedihkan dan menyakitkan bisa Tuhan pakai untuk mencapai tujuan itu. Ia mau kita melihat pimpinan-Nya di masa sulit. Setelah itu mereka melihat Yesus dengan mata mereka sendiri. Kubur kosong mengajarkan bahwa hal yang menyakitkan dan menyedihkan harus diubah dalam kepastian bahwa Yesus itu hidup. Jika kita mengalami kesakitan, tusukan, dan pergumulan dan kita tidak melihat Tuhan itu hidup, maka kita akan hancur dalam kesedihan yang tidak bernilai. Kita akan merusak diri jika kita tidak melihat realitas bahwa Tuhan itu hidup dan memberikan kita kemenangan. Di sini kehadiran Kristus diperlukan untuk mengubah cara pandang sehingga kita tahu bahwa Ia adalah Allah yang menguasai kehidupan. Ia hidup dan membuktikan bahwa maut tidak bisa menahannya dan bahwa ia telah mengalahkan maut. Ada keraguan dan pesimis ketika para perempuan memberitahu murid-murid yang lain. Di sini kita akan melihat bahwa realitas yang menyakitkan akan berubah menjadi realitas yang mengandung kepastian. Di dalam semua itu ada proses. Petrus dan Yohanes kemudian berlari untuk melihat kubur kosong itu. Mereka tidak langsung percaya tetapi ada proses. Realitas yang menyakitkan itu pada akhirnya berubah menjadi realitas kebenaran. Ketika itu dinyatakan, mereka membutuhkan proses dan iman. Malaikat-malaikat memberikan konfirmasi akan kebangkitan-Nya pada hari yang ketiga. Para wanita sempat terjebak rumor yang salah yang menyatakan bahwa Yesus tidak bangkit tetapi jasadnya dicuri. Ada juga yang menyatakan bahwa Yesus tidak benar-benar mati. Namun dengan iman dan kebenaran kita tahu bahwa Yesus sungguh-sungguh bangkit pada hari yang ke-3. Kita mengetahui bahwa ada gerhana dan gempa bumi saat Yesus disalib. Tirai dalam bait Suci juga terbelah dua saat itu.

Selama 3 jam Tuhan bersedih karena manusia yang diciptakan-Nya itu memilih untuk menyalibkan-Nya. Suasana gelap itu menceritakan kegelapan hati mereka yang tidak percaya kepada Yesus sebagai Mesias mereka. Kesedihan Tuhan juga disertai dengan seruan: “Eli, Eli, lama sabakhtani?Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Matius 27:46). Kalimat pertama Yesus mengandung kata Bapa dan pada kalimat terakhir juga ada kata Bapa: ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku (Lukas 23:46). Setelah itu terjadi pembaruan dari bait Allah: tidak ada lagi pemisah antara ruang suci dan maha suci dan tidak ada lagi imam. Yesus bangkit dan Ia adalah raja gereja, imam di atas segala imam, dan nabi di atas segala nabi. Di dalam hidup, kita mengalami proses. Di tengah proses itu jangan sampai kita hanya mau mengetahui kebenaran namun tidak mengalami pertumbuhan iman. Kita memerlukan waktu dan proses dalam mencerna kebenaran firman Tuhan sampai iman kita bertumbuh. Tuhan menampakkan diri-Nya kepada para wanita lalu kepada orang-orang di jalan menuju Emaus. Setelah mereka makan bersama, mereka baru mengerti bahwa mereka makan bersama Yesus. Setelah itu Tuhan meninggalkan mereka dan mereka menceritakan hal itu kepada kesebelas murid. Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: “Damai sejahtera bagi kamu!” (Lukas 24:36). Kubur kosong harus diterima dengan iman dan membangkitkan iman kita bahwa Yesus menang atas kematian. Jika kita pernah mengalami kehilangan dan kedukaan, maka kita harus mengingat bahwa ada kebenaran dan iman. Kita harus melihat segala hal dari kacamata iman sehingga kita menanggapi dan bersikap dengan benar. Tomas salah bersikap. Tomas berkata: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya” (Yohanes 20:25). Ini karena Tomas tidak melihat peristiwa itu dengan iman. Setelah itu Tuhan berkata karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya (Yohanes 20:28). Kita belajar bahwa kita tidak hanya mengandalkan mata kita. Ketika kita membaca firman, kita harus merenungkannya, meresapinya, dan membiarkan firman membongkar hidup kita yang berdosa. Di sanalah iman kita akan bertumbuh. Iman memampukan kita mengalahkan setiap ketakutan dan melihat realitas dengan optimis di dalam Tuhan.

Ketiga, realitas yang menyakitkan ini berubah menjadi realitas komitmen untuk siap diutus. Tuhan hadir di depan para murid sebanyak 2 kali. Saat itu mereka mengunci pintu namun Yesus menyatakan bahwa Ia hadir bersama mereka. Saat Tuhan akan mengutus mereka, Ia hadir di danau Tiberias. Sebelum Ia hadir, para murid tidak tahu harus berbuat apa. Petrus kembali menjadi penjala ikan dan para murid ikut berbuat demikian. Ketika Tuhan hadir, Ia meminta makanan dan mereka menjawab bahwa mereka tidak memiliki makanan (Yohanes 21:1-5). Yesus kemudian memerintahkan mereka untuk menebar jala. Setelah mereka melakukan itu, mereka mendapatkan ikan yang begitu banyak jumlahnya (Yohanes 21:6). Di sanalah mereka sadar bahwa orang itu adalah Tuhan Yesus. Mengapa Ia harus hadir 2 kali? Karena para murid tidak mengerti. Realitas kebangkitan harus menghasilkan komitmen yang baru dan hidup dalam pengutusan Tuhan. Kita tidak boleh lagi hidup dalam ketakutan. Kubur kosong dan kebangkitan itu menyatakan bahwa keberadaan Tuhan melampaui ruang dan waktu, Tuhan adalah raja di atas segala raja, dan Yesus adalah Tuhan yang sejati. Tuhan yang sejati itu mengutus para murid untuk hidup dalam komitmen.

Melalui Paskah, kita menyatakan bahwa Tuhan menang atas kematian dan kita tidak takut akan kematian. Ini bukan berarti kita kemudian sengaja mencari maut, apalagi dengan alasan sepele. Kita tidak boleh mencobai Tuhan. Setiap kita akan mati dan bangkit bersama dengan Tuhan. Di dalam waktu yang diberikan kepada kita ini mari kita mengisinya dengan hal-hal yang berarti. Hidup kita harus mengandung komitmen, fokus, dan harus siap untuk diutus oleh Tuhan. maka dari itu segala aspek dalam hidup kita harus dikaitkan dengan kesiapan untuk diutus oleh Tuhan. Melalui hidup kita, kita mendemonstrasikan bahwa Tuhan itu hidup. Tuhan menjanjikan kebangkitan bagi kita yang tertidur dalam dosa sehingga kita bisa bangkit. Kita harus berjuang sesuai dengan komitmen kita dan menyatakan bahwa hidup kita ini berarti di dalam Tuhan. Kematian di dalam Kristus itu jauh lebih berharga dari apapun juga. Ini karena kematian orang percaya adalah kematian yang memuliakan Tuhan. Mari kita menyikapi setiap realitas dengan kebenaran, iman dan kesiapan untuk diutus oleh Tuhan. Kita harus waspada terhadap Setan yang terus mencoba untuk menjatuhkan kita sehingga hidup kita mempermalukan Tuhan. Kita tidak boleh tertidur dalam dosa, kemalasan, dan lainnya tetapi harus bangkit bagi Kristus. Ia sudah bangkit dan meninggalkan kubur kosong itu, maka dari itu kita memiliki pengharapan.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami