Kuasa Keadilan Allah terhadap Dewa-Dewa Mesir (10 Tulah)

Kuasa Keadilan Allah terhadap Dewa-Dewa Mesir (10 Tulah)

Categories:

Bacaan alkitab: Keluaran 7:1-6

 

Pendahuluan

Segala sesuatu ada waktunya (Pengkhotbah 3:1) dan manusia sulit menyelami keindahan waktu Tuhan (Pengkhotbah 3:11). Tidak ada kejadian di dalam dunia yang dapat mengejutkan Tuhan. Secara pribadi kita sulit untuk mengerti kepedihan hati, malapetaka, dan hal yang merugikan kita namun kita mudah untuk mengerti waktu kesenangan dan kesukaan. Di dalam bagian ini kita mengerti bahwa waktu Tuhan itu sudah ada dari sejak penciptaan. Waktu Tuhan terus berjalan termasuk dalam kejadian Musa dimana 10 tulah itu dinyatakan kepada bangsa Mesir khususnya kepada Firaun. Kita sulit untuk mengerti waktu Tuhan yang singkat dan panjang. Itulah pergumulan kita untuk mengerti keindahannya secara rohani. Terkadang waktu Tuhan tidak bisa dihitung secara kronologis dan tidak bisa diteliti dengan metode apapun juga. Itu hanya bisa didapat melalui kontemplasi kita ketika kita sedang bergaul dengan Tuhan secara pribadi. Di sana kita bisa mendapatkan keindahan dari waktu Tuhan. Ketika kita mengalami hal yang buruk, kita tidak boleh langsung bersungut-sungut dan protes tetapi kita harus merenungkan hal itu dan merenungkan keindahan rencana Tuhan bagi hidup kita. Di sana kita harus mencoba untuk mengevaluasi diri dan bergaul dengan Tuhan. Tuhan tidak mungkin memperlakukan kita dengan semena-mena dan tanpa tujuan. Mengapa Allah mengontrol waktu dan menguasai waktu (Pengkhotbah 3:14)? Mengapa Allah membiarkan umat-Nya masuk ke dalam situasi yang sulit seperti Allah membiarkan bangsa Israel selama 400 tahun diperbudak oleh Firaun? Di dalam masa sulit selama 400 tahun itu mereka bisa saja mempertanyakan kehadiran dan kuasa Tuhan. kitab Pengkhotbah menyatakan kepada kita bahwa Allah berkuasa atas waktu. Di dalam hati kita diberikan satu kekekalan untuk dapat memahami kairos Tuhan. Di sana pula kita mengerti tentang hidup yang takut akan Tuhan. Ketika melihat Tuhan sebagai penguasa waktu, kita menyadari bahwa diri kita begitu kecil, tidak ada apa-apanya, dan bisa dibuang oleh Tuhan dalam waktu yang sangat singkat. Jadi respons kita adalah bersikap takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan bukan berarti takut kepada konsekuensi dari kemarahan-Nya atau hukuman-Nya tetapi takut mengecewakan Tuhan karena ketidaktaatan kita. Di dalam takut akan Tuhan itu ada keindahan bagi kita umat-Nya yang percaya. Keindahan iman kita bukanlah kekayaan dunia, kelancaran, atau kemudahan tetapi menghadapi segala sesuatu dengan rasa takut akan Tuhan.

Mengapa Allah membiarkan bangsa Israel selama 400 tahun diperbudak oleh Firaun? Selama 30 tahun bangsa Israel menikmati hidup di Mesir. Setelah Yusuf meninggal, mereka terus beranakcucu sehingga jumlahnya menjadi sangat banyak. Banyak penafsir mengatakan bahwa bangsa Israel menikmati fasilitas yang diberikan Yusuf. Mereka terlalu menikmati segala hal yang disediakan bagi mereka dan mereka lupa beribadah kepada Tuhan. Mereka lupa kepada siapa mereka harus bergantung di dalam hidup mereka. Situasi mereka berubah ketika muncul seorang raja baru yang tidak mengenal Yusuf. Jadi mereka terlalu dimanjakan oleh situasi sampai mereka melupakan Tuhan. Mereka tertidur dalam kenikmatan dan Tuhan membangkitkan raja yang tidak mengenal Yusuf. Di sini Tuhan mengizinkan mereka diperbudak sampai 400 tahun. Namun kemudian Tuhan menyatakan kepada Musa bahwa Ia sudah mendengar teriakan bangsa Israel. Di sana bangsa Israel sadar bahwa mereka harus bergantung kepada Tuhan. Jadi selama 30 tahun mereka terjebak dalam kenikmatan dan sistem. Setelah itu Tuhan membangkitkan Firaun dan memperbudak mereka. 400 tahun kemudian Tuhan memanggil Musa dan mengutusnya. Mengapa Allah memakai 10 tulah untuk menyatakan kuasa dan keadilan-Nya untuk dewa-dewa Mesir? Allah memakai 10 tulah untuk menyadarkan Firaun dan ahli-ahli sihirnya bahwa ada Allah yang maha kuasa yang melampaui kuasa manapun juga. Bisakah tanpa 10 tulah Israel dibebaskan? Bisa, namun Tuhan mengatur dan memilih untuk memakai cara ini.

 

Pembahasan

Mengapa Allah memakai 10 tulah? Di setiap tulah ada tingkatannya masing-masing. Pertama-tama Allah mengubah air menjadi darah, setelah itu ada tulah katak, nyamuk, lalat pikat, penyakit sampar, barah, hujan es dan hujan api, belalang, gelap gulita, dan yang terakhir adalah kematian anak sulung laki-laki. Tuhan mengizinkan 10 tulah, dimulai dari air yang menjadi darah, lalu binatang yang keluar dari air, binatang yang bergantung pada air, hewan yang tinggal di darat, sampai ke langit, dan pada akhirnya pada manusia itu sendiri. Semua ini berkaitan dengan dewa-dewa yang disembah oleh Mesir. 10 tulah ini menjatuhkan Firaun dan para ahlinya. Dewa lalat pikat dan dewa matahari disembah sebagai dewa yang tertinggi. Dewa lalat pikat dipercaya memberikan kesuburan dalam pertanian mereka. Dewa ini dipercaya dapat memberikan kekayaan. Para petani takut pada lalat pikat yang bisa membusukkan tanaman mereka. Lalat itu bisa menanam belatung pada buah-buahan di Mesir. Mereka percaya bahwa kesuksesan pertanian mereka bergantung pada penyembahan mereka terhadap dewa lalat pikat ini. Pertanian mereka juga bergantung pada sungai Nil. Itulah sungai yang menjadi kunci kesuksesan dan ekonomi Mesir. Dewa yang tertinggi di Mesir adalah dewa Amon-Ra yang adalah dewa matahari. Nebukadnezar di kerajaan Babel juga menyembah dewa matahari. Di Babel dewa ini disebut Bel, maka dari itu anak Nebukadnezar bernama Belsyazar (Daniel 5:2). Dewa ini dipercaya bisa mengatur alam semesta dan musim namun Tuhan memberikan kegelapan selama 3 hari untuk menyatakan bahwa Amon-Ra sebenarnya tidak bisa berbuat apa-apa.

10 tulah menceritakan kegagalan dari dewa-dewa Mesir. Tulah pertama, air diubah menjadi darah, para ahli Mesir juga bisa berbuat demikian namun secara parsial (Keluaran 7:22). Mereka memakai kuasa Setan. Setan memiliki kuasa namun tidak maha kuasa. Dikatakan bahwa orang-orang Mesir menggali tanah di sekitar sungai Nil untuk mendapatkan air bersih (Keluaran 7:24). Jadi Setan memiliki kuasa namun tidak berkuasa. Tulah kedua, katak-katak keluar dari sungai Nil dan menutupi tanah Mesir (Keluaran 8:6). Para ahli itu bisa membuat hal yang sama namun secara parsial (Keluaran 8:7). Kemudian Firaun meminta agar semua katak itu disingkirkan (Keluaran 8:8). Ketika katak-katak itu mati, mereka mengeluarkan bau busuk di seluruh Mesir. Empedu yang pecah dari katak mati itu bisa menjadi racun yang mematikan. Bau katak itu sungguh tidak enak dan bau itu ada di seluruh Mesir pada saat itu. Setelah katak-katak itu disingkirkan melalui doa Musa, Firaun kembali mengeraskan hati (Keluaran 8:15). Tulah ketiga, nyamuk. Para ahli mencoba untuk meniru tetapi tidak dapat (Keluaran 8:18). Firaun tetap mengeraskan hati dan tidak mendengarkan Musa dan Harun (Keluaran 8:19). Tulah keempat, lalat pikat. Lalat pikat itu membusukkan pertanian mereka sehingga mereka mengalami kerugian secara ekonomi. Firaun kembali meminta agar tulah ini disingkirkan (Keluaran 8:28) namun setelah itu ia kembali mengeraskan hati (Keluaran 8:32). Tulah kelima, penyakit sampar pada ternak Mesir (Keluaran 9). Tulah ini benar-benar merugikan Mesir karena semua hewan ternak mereka mati. Mereka pasti sulit untuk menguburkan semua hewan itu karena terlalu banyak dan bau bangkai ternak itu pasti memenuhi Mesir. Namun Firaun masih mengeraskan hati (Keluaran 9:7). Tulah keenam, barah. Ini menimbulkan bisul bernanah yang bisa pecah dan menyebabkan rasa perih (Keluaran 9:9). Tulah ini dirasakan juga oleh manusia termasuk Firaun dan para ahlinya. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa (Keluaran 9:11). Namun sekali lagi Firaun mengeraskan hati (Keluaran 9:12). Tulah ketujuh, hujan es dan api (Keluaran 9:23). Di sini Tuhan memberikan 2 hal yang ditakuti oleh manusia. Bangsa Mesir tidak lagi bisa mengandalkan alam karena Tuhan-lah yang berkuasa atas alam. Firaun meminta kembali agar Musa berdoa dan menyingkirkan tulah ini (Keluaran 9:28), namun setelah tulah itu hilang ia kembali mengeraskan hati (Keluaran 9:34).

Tulah kedelapan, belalang (Keluaran 10). Belalang itu akan memakan habis tumbuhan orang-orang Mesir (Keluaran 10:5). Mesir menjadi gersang karena hal ini. Tuhan mendatangkan angin timur yang membawa belalang (Keluaran 10:13). Firaun kemudian meminta agar tulah ini berhenti dan Musa berdoa sesuai permintaan Firaun (Keluaran 10:16-18). Tuhan memberikan angin barat yang membawa belalang itu ke laut Teberau (Keluaran 10:19) tetapi Firaun kemudian mengeraskan hati lagi (Keluaran 10:20). Tulah kesembilan, gelap gulita (Keluaran 10:22). Di sini Tuhan menyatakan kekalahan dari dewa matahari. Selama 3 hari mereka tidak dapat melihat apa-apa, bahkan mereka tidak dapat bangun. Alam semesta tunduk kepada Tuhan dan Tuhan-lah penguasa dari segala benda penerang di angkasa. Di sini dewa Amon-Ra juga tidak bisa berbuat apa-apa. Firaun yang mengeraskan hati tidak mengizinkan Musa dan bangsa Israel pergi dan memberikan ancaman kepada Musa (Keluaran 10:28). Di sana Musa membalas perkataan Firaun dengan berkata: Tepat seperti ucapanmu itu! Aku takkan melihat mukamu lagi! (Keluaran 10:29). Terakhir, Tuhan memberikan kematian anak sulung (Keluaran 11). Pertama-tama Musa memberitahukan kepada Firaun mengenai tulah ini namun Firaun mengeraskan hati dan tidak mendengarkan Musa (Keluaran 11:4-10). Sebelum tulah itu dinyatakan oleh Tuhan, bangsa Israel diminta untuk merayakan Paskah (Keluaran 12:1-28). Bangsa Israel akan memakan daging kambing atau domba. Darahnya harus dioleskan di ambang atas dan kedua tiang pintu rumah mereka. Tuhan akan berjalan di tanah Mesir sehingga mereka yang tidak merayakan Paskah akan diambil anak sulungnya. Israel akan bersukacita namun Mesir akan berduka. Jadi Tuhan memberikan kematian dan pembebasan dari kematian dalam tulah ini. Bangsa Israel mempelajari bahwa di dalam pembebasan itu ada pengorbanan dan darah yang dicurahkan. Ini menjadi simbol Paskah.

Apa tujuan 10 tulah ini? Pertama, meyakinkan Firaun bahwa Allah bangsa Israel itu hidup (bandingkan Roma 9:17 – Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasa-Ku di dalam engkau, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi). Pada masa pemerintahan Yusuf, Israel tertidur dalam kenyamanan dan kenikmatan Mesir. Di sana mereka lupa bergantung pada Tuhan. Tuhan kemudian membangkitkan Firaun yang tidak mengenal Yusuf serta memperbudak mereka. Setelah 400 tahun Tuhan memberikan 10 tulah yang tidak membuat Firaun bertobat dan percaya. Jadi tanda dan mukjizat tidak mungkin bisa membuat seseorang beriman. Bangsa Israel berjalan di padang gurun menuju ke tanah Kanaan sambil melihat banyak mukjizat dari Tuhan namun hanya mereka yang berumur 20 tahun ke bawah yang bisa masuk ke Kanaan (Bilangan 14:29). Jadi jangan sampai kita dibohongi dengan perkataan bahwa tanda dan mukjizat bisa menghasilkan iman. Ketika Yesus menyembuhkan orang-orang, ia berkata kepada mereka agar tidak memberitahukan hal itu kepada siapapun karena keselamatan adalah ketika seseorang mengenal Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan bukan karena mukjizat. Itulah iman yang sejati. Iman tidak dibangun atas dasar kepuasan melihat, mendengar, dan emosi tetapi karena kita mengenal pribadi Yesus. Di dalam kejadian 10 tulah Firaun hanya dibuat yakin.

Kedua, Allah menyatakan keadilan untuk dewa-dewa Mesir. Semua dewa Mesir dikalahkan oleh Tuhan. Tuhan menyatakan keadilan-Nya dalam waktu-Nya. Ketika Yesus ditangkap, disiksa, dihina, dibawa berjalan ke bukit Golgota, dan ketika disalib, seolah Allah berdiam. Namun di balik itu, justru ada karya Tuhan yang besar. Tugas kita adalah memahami hal itu. Terkadang kita ingin mengerti Tuhan melalui cara-cara yang kita inginkan, namun Tuhan seringkali ingin kita memahami Tuhan di saat Ia berdiam. Mengapa kita lebih suka memahami Allah yang menyatakan mukjizat-Nya ketimbang memahami Allah yang berdiam? Ada keindahan di kala kita berkontemplasi dan merenungkan Alkitab di dalam kesunyian. Tuhan sesungguhnya hadir dan kita bisa menikmati-Nya serta mengalami mukjizat-Nya dalam kelahiran baru kita dan pertumbuhan kerohanian kita. Kita bertemu dengan Tuhan yang hidup melalui Firman-Nya. Di saat itulah iman kita akan menjadi sungguh hidup. Ada banyak gereja yang menggantikan ini dengan permainan emosi melalui musik tanpa melibatkan Firman Tuhan. Ini bukanlah ibadah yang diperkenan Tuhan. Ketika sudah keluar dari Mesir, bangsa Israel juga mengadakan ibadah yang salah yaitu menyembah lembu emas (Keluaran 32). Mereka terjebak dengan konsep penyembahan bangsa-bangsa kafir. Bukanlah hal yang mudah untuk mengubah bangsa Israel. Orang yang berada di gereja belum tentu memiliki hati dan pikiran yang sungguh-sungguh mengikut Tuhan. Ketika bangsa Israel melihat bahwa Musa tidak turun juga dari gunung Sinai, mereka meminta Harun untuk membuatkan Allah bagi mereka. Harun akhirnya membuat lembu emas dan mereka menyembah itu. Ketika Musa dan Yosua turun, Yosua berpikir bahwa itu adalah suara sorak peperangan, namun Musa menjawab bahwa itu bukanlah nyanyian kemenangan atau kekalahan tetapi bunyi nyanyian berbalas-balasan (Keluaran 32:18). Di dalam ibadah yang sesungguhnya, kita harus membiarkan Tuhan membaca diri kita. Kita membaca Firman Tuhan dan membiarkan Firman Tuhan membaca diri kita. Tuhan sudah mengalahkan para dewa Mesir namun Iblis masih ada. Peperangan itu belum berakhir. Mengapa ada daerah-daerah Kristen yang dimana penduduknya kembali menyembah berhala? Karena mereka melupakan Injil. Inilah mengapa Injil harus kembali diberitakan bagi mereka. Di kota, berhala yang disembah adalah gadget dan segala hiburan yang ditawarkan melalui itu. Banyak anak muda terpengaruh oleh hal ini dan menjadi kecanduan. 10 tulah ini diberikan karena Mesir sudah terlalu banyak berdosa. Pengaruh Mesir terhadap bangsa Israel sangat besar sampai mereka menyembah dengan cara yang salah.

Dengan terjadinya 10 tulah ini, bagaimana dengan kehidupan bangsa Israel? Bangsa Israel tinggal di Gosyen selama di Mesir (Kejadian 45:10). Ini adalah wilayah Mesir bagian tengah. Secara demografis mereka mudah untuk mengalami 10 tulah itu namun ajaibnya mereka baik-baik saja (Keluaran 8:22; 9:26). Ini menyatakan bahwa kuasa Allah bisa memelihara kita dan menopang iman kita dalam situasi apapun juga. Peperangan rohani yang terbesar adalah ketika Allah berperang melawan musuh-musuh kita. Pemeliharaan yang terbesar adalah ketika Tuhan menjadi benteng bagi kita. Ketika Tuhan berdiri di depan di dalam peperangan, maka kita akan mendapatkan perlindungan dan kuasa Tuhan. Jadi 10 tulah itu tidak dirasakan oleh Israel. Mereka tahu bahwa selama 10 tulah itu bangsa Mesir menderita dan berduka. Mereka diizinkan untuk tahu agar mereka menyadari bahwa Tuhan itu hidup. Pada akhirnya mereka menyadari bahwa Allah memang bekerja melalui Musa dan Harun. Pada tulah ke-10, mereka diminta Allah untuk mengadakan perjamuan istimewa (Keluaran 12). Mereka menikmati makanan yaitu daging empuk dari kambing atau domba berumur kurang dari setahun itu dan mereka menikmati persekutuan dengan Tuhan. Darah hewan itu harus dioleskan di ambang dan tiang pintu sehingga Allah tidak membunuh mereka. Itu berarti rumah itu sudah disucikan. Di sini ada pembebasan dengan pengorbanan. Kuasa Tuhan menyertai mereka yang merayakan paskah itu. orang Israel menikmati perjamuan namun orang Mesir menderita karena kekerasan hati mereka sendiri. Mereka kehilangan anak-anak sulung mereka. Firaun pun mengalami hal ini. Di sini 1 bangsa meratap karena hukuman Tuhan. Bangsa Israel akhirnya dibiarkan pergi dengan bebas, bahkan rakyat Mesir bermurah hati dan memberikan mereka banyak harta (Keluaran 12:35-36). Bangsa Israel mendapatkan pimpinan dan penyertaan Tuhan dan itu adalah suatu keindahan.

Penutup

Apa yang kita pelajari dari cerita 10 tulah ini? Pertama, sebagai Anak Tuhan, kita jangan sekali-kali mengecewakan Tuhan dengan tidak beribadah kepada-Nya dan tidak lagi melayani Dia. Para penafsir menyatakan bahwa bangsa Israel terlalu nyaman dengan segala fasilitas di Mesir yang disediakan oleh Yusuf sehingga mereka melupakan ibadah kepada Tuhan. Konsep Mesir yang mereka adopsi membawa mereka kepada penyembahan lembu emas di padang gurun. Di saat kita mulai tidak mengutamakan ibadah kita kepada Tuhan, di sana hukuman Tuhan akan mulai diberikan kepada kita. Generasi-generasi yang tidak beribadah kepada Tuhan akan merasakan sendiri konsekuensi dari dosa mereka karena mereka tidak mau bertobat dan kembali beribadah kepada Tuhan. Kedua, kita belajar agar tidak sombong karena kekuasaan, dan lainnya. Firaun begitu sombong dan akhirnya menentang Allah. Ketiga, kekerasan hati hanya membawa pada petaka yang lebih besar. Kekerasan hati kita akan membawa kita semakin berdosa dan itu akan semakin membuat Tuhan murka. Oleh karena itu kita harus belajar melembutkan hati dan menerima setiap Firman Tuhan yang kita baca dan dengar. Musa dikatakan sebagai orang yang paling lembut hatinya (Bilangan 12:3). Segala kekaguman kita akan hancur jika tidak berkaitan dengan Tuhan. Sesungguhnya hanya pada Tuhan-lah kita bisa berbangga (Galatia 6:14). Mereka yang bersikeras melawan Tuhan dan umat-Nya akan mendapatkan pembalasan dari Tuhan. Belajar takut akan Allah adalah guru keberhasilan hidup kita. Selama tinggal di Mesir, Musa tidak belajar takut akan Tuhan di dalam ibadah. Selama di padang gurun, Musa menjadi gembala dan di sana ia belajar beribadah dalam kesendirian. Di sana ia belajar untuk menilai diri dengan benar. Setelah berumur 80 tahun Tuhan memanggilnya dan kita melihat bahwa Musa hidup takut akan Tuhan meskipun di beberapa titik ia menunjukkan kelemahannya. Ia tidak bisa masuk ke Kanaan karena emosi yang tidak suci. Jadi kita harus takut akan Tuhan sebagai langkah awal hidup berhikmat (Amsal 1:7 dan 9:10).

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami