Kuasa Doa (Yosua)

Kuasa Doa (Yosua)

Categories:

Bacaan alkitab: Yosua 10:4-43.

 

Yosua berdoa supaya matahari tidak terbenam sebelum mereka menang. Ini hanya terjadi sekali di dalam sejarah dunia (Yosua 10:14). NASA memang menemukan hari yang terhilang (the lost day) itu. Matahari memang tidak bergerak dan sebenarnya bumi-lah yang berotasi mengelilingi matahari. Secara perlahan bumi berhenti berotasi (Yosua 10:13) karena jika bumi langsung berhenti dari kecepatan 1675 km/jam maka semua akan terlempar. Kita tidak merasa pusing tinggal di bumi yang berotasi sedemikian cepat karena ada gravitasi. Mengapa tidak ada kekacauan ketika bumi berhenti berotasi? Karena ada Tuhan yang menopang (Ibrani 1:3).

 

Pendahuluan

Mengapa doa itu penting? Mengapa kita makan 3 kali sehari? Kita makan untuk hidup dan bukan sebaliknya. Doa adalah nafas hidup ktia, jadi doa itu penting untuk menunjukkan bahwa kerohanian kita itu hidup. Di dalam kerohanian yang hidup, kita menunjukkan bahwa kita mengandalkan Tuhan dan bukan kekuatan diri. Saat kita berdoa, kita memohon agar Tuhan menyertai kita sehingga kita melakukan segala hal yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Orang yang berdoa itu adalah orang yang rendah hati di hadapan Tuhan. Dia tidak mau salah dalam melakukan segala hal karena mengandalkan kekuatan dan pikiran diri.

Mengapa di dalam doa ada yang berpusat pada kekuatan diri dan pada Tuhan? Teologi Reformed menyatakan bahwa doa berpusat pada kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan yang tertinggi adalah menggenapkan Kerajaan Allah di bumi ini dan doa tidak mengubah kehendak, kedaulatan, dan rencana Tuhan yang sifatnya kekal. Saat berdoa, kita belajar mengerti kehendak Tuhan dan menyesuaikan diri dengan Firman Tuhan yang kita baca setiap hari. Di sana kita belajar untuk berubah dan mengarahkan hati untuk mengikuti kehendak Tuhan. Banyak gereja mengajarkan bahwa doa berpusat pada diri dan bahwa doa itu bisa mengubah kehendak dan perasaan Tuhan.

Apa perbedaan antara kuasa doa dengan doa yang berkuasa (Matius 7:21-22, Markus 11:24, 9:29, Yohanes 14:13-14, Filipi 4:6)? Kuasa doa menunjukkan satu substansi bahwa berdoa sesuai dengan kehendak-Nya dalam nama Allah Tritunggal akan membuat doa tersebut dikabulkan. Namun doa yang berkuasa itu seolah menunjukkan bahwa kehebatan terletak pada pendoa itu. Dalam Matius 7:21-22 menyatakan bahwa iman itu bisa memindahkan gunung dan mencampakkannya ke lautan. Pernahkah ini terjadi? Di dalam Alkitab ada tulisan yang bersifat realitas dan ada tulisan yang bersifat hiperbol. Yesus pernah berkata ‘biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka’ (Matius 8:22). Ini adalah bahasa hiperbol. Yesus mau berkata bahwa keluarga tidak boleh menjadi alasan yang menghalangi atau menunda kita untuk menggenapkan kehendak Tuhan. Tuhan bisa memelihara orang tua kita. Iman yang sempurna adalah iman yang mengerti waktu dan kehendak Tuhan.

Dalam Markus 11:24 dijelaskan bahwa doa yang sempurna adalah doa yang selaras dengan kemuliaan Tuhan. Dalam Markus 9:29 dinyatakan bahwa ada roh yang hanya bisa diusir dengan doa dan puasa. Ini menunjukkan bahwa ada kuasa doa. Jadi doa itu penting serta tidak dibatasi oleh jarak. Allah kita maha hadir dan maha kuasa. Doa kita tidak dijawab seringkali karena kita terlalu banyak memohon. Orang-orang Puritan berkata bahwa kita sebagai orang Kristen seharusnya lebih banyak berdoa bersyukur daripada memohon. Ini karena Tuhan tahu semua yang kita perlukan dan di dalam doa syukur kita mengakui dan menyadari kebesaran Tuhan yang kita pernah saksikan di dalam hidup kita. Tuhan Yesus pernah bertanya ‘Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti’ (Matius 7:9). Jawabannya pasti tidak ada. Jadi doa kita harus mengandung lebih banyak ucapan syukur dan bukan permohonan. Doa yang terpenting adalah doa yang berpusat pada kehendak Tuhan dan doa itu harus menyatakan kebesaran Tuhan, bukan kebesaran diri. Yohanes 14:13-14 menyatakan bahwa doa yang meminta keselamatan dan penyertaan dari Tuhan pasti akan dijawab. Dalam Filipi 4:6 dikatakan bahwa kita bisa khawatir karena kurang berdoa. Kita harus menyerahkan segala kekhawatiran kita melalui doa kepada Tuhan karena Tuhan paling mengerti apa yang anak-anak-Nya alami. Bagaimana Yosua dapat memberhentikan matahari dan bulan dengan doanya? Ketika kita naik kereta yang melaju dengan cepat dan kita melihat bahwa benda-benda di luar jendela bergerak dengan cepat, apakah benda-benda tersebut benar-benar bergerak? Sebenarnya kereta tersebut-lah yang bergerak. Saat Yosua berdoa meminta agar matahari dan bulan berhenti bergerak, ia berada di bumi dan merasa posisinya statis. Ia dari bumi melihat seperti matahari dan bulan bergerak mengitari bumi. Maka dari itu ia berdoa dan memohon dengan bahasa yang sederhana sesuai dengan pengertiannya. Di dalam Kitab Orang Jujur dituliskan bahwa matahari dan bulan itu berhenti bergerak (Yosua 10:13). Ini adalah doa yang luar biasa yang seturut dengan kehendak Tuhan. Bukankah hal ini bertentangan dengan ilmu pengetahuan? Bukankah matahari memang tidak bergerak? Sebenarnya bumi-lah yang berhenti berotasi. Bagaimana sikap kita melihat hal di atas? Apakah Alkitab bersalah? Tidak. Semua yang dikatakan Alkitab itu benar. Yosua meminta di dalam kebenaran yang sesuai dengan pengertiannya. Ia mau agar matahari tidak terbenam. Yosua meminta itu agar ia memiliki waktu untuk menghabiskan musuh-musuhnya yang sombong yang menyembah dewa-dewa yang juga berkaitan dengan matahari dan bulan.

 

Pembahasan

1) Peperangan Iman – Kuasa Doa

            Kita akan melihat keajaiban Tuhan kalau kita selalu memiliki nilai peperangan iman. Di dalam konsep Reformed, hidup kita harus selalu memiliki semangat juang (fighting spirit). Jadi kita harus memiliki perjuangan iman di dalam pekerjaan, studi, dan keluarga kita. Setan itu sangat tahu kelemahan kita dan ia bisa menjatuhkan kita sehingga kita terlena oleh godaan-godaannya, tertidur dalam kemalasan, banyak membuang waktu, dan akhirnya kita tidak hidup efektif bagi Tuhan. Semangat juang itu menyadarkan kita bahwa kita adalah manusia berdosa yang harus kembali kepada Tuhan dan memakai waktu dengan seefektif mungkin. Ini bukan berarti kita tidak boleh beristirahat atau memiliki waktu untuk menyegarkan diri. Semua ada waktunya dan ada batasannya. Kita adalah orang-orang yang harus berperang untuk Tuhan. Kita membutuhkan kuasa doa dan pedang Roh yaitu Firman Tuhan untuk mengalahkan si jahat. Kita harus mengenakan semua perlengkapan peperangan rohani (Efesus 6:14-17) sebagai tentara Tuhan. Kita harus memakai ketopong keselamatan, ikat pinggang kebenaran, kasut penginjilan, dan pedang Firman. Ini berarti kita mendapatkan kuasa doa jika sebelumnya kita memahami Firman Tuhan terlebih dulu sehingga doa-doa kita menggenapkan apa yang dikatakan Alkitab. Oleh karena itu sebelum kita berdoa, kita harus membaca Alkitab pada bagian yang berhubungan dengan topik doa kita. Ini karena doa bukanlah soal emosi kita tetapi tentang kehendak Tuhan. Doa bukanlah hal mistik yang harus kita naikkan dengan membacakan suatu mantra atau memerlukan tempat-tempat mistik tertentu. Doa bukanlah permainan emosi dimana kita tidak sadar diri. Setiap doa yang berdasarkan pengalaman rohani saja bisa membahayakan kita. Itu karena pengalaman rohani kita tidak selalu benar dan harus selalu dinilai berdasarkan Firman Tuhan. Ada orang-orang yang mengaku pernah pergi ke surga berkali-kali, padahal selama Yesus hidup di dunia, Ia tidak pernah naik-turun surga. Dari Alkitab kita mengetahui bahwa kita sebagai manusia biasa tidak memiliki lagi relasi dengan orang-orang yang sudah meninggal (Lukas 16:19-30). Doa yang dilakukan dengan penyiksaan diri itu tidak menumbuhkan iman. Oleh karena itu golongan asketisisme sebenarnya tidak menganut ajaran Fiman Tuhan. Jadi jauh lebih baik jika sebelum berdoa kita membaca Alkitab terlebih dulu. Iman kita bertumbuh karena perenungan kita akan Firman.

            Ketika para raja orang Amori mendengar bahwa Gibeon telah mengikat persahabatan dengan bangsa Israel, mereka menyerang Gibeon. Orang-orang Gibeon yang mendengar hal itu kemudian meminta pertolongan Yosua. Yosua kemudian mempersiapkan semua pasukan dengan baik. Yosua harus menolong mereka karena mereka sudah mengikat perjanjian dengannya. Seiring waktu Gibeon terhisap masuk ke dalam salah satu suku Israel yaitu suku Efraim. Dalam Yosua 10:8, Tuhan berfirman kepada Yosua mengenai janji kemenangan. Konfirmasi dari Tuhan menyatakan bahwa Yosua bukan berperang untuk Gibeon melainkan untuk nama Tuhan. Yosua tahu bahwa kuantitas musuh yang dihadapinya itu lebih banyak daripada jumlah tentaranya. Terkadang peperangan rohani itu melampaui akal pikiran kita. Pergumulan yang dihadapi itu bisa melebihi kekuatan kita. Iman itu berbicara hal-hal yang melampaui akal, pikiran, dan kemampuan kita. Orang Kristen berjalan dalam iman dan bukan rasio. Kita berjalan dalam penyertaan Tuhan dan bukan kemampuan kita. Di sini kita melihat bahwa Yosua memiliki kualitas iman. Alkitab tidak mencatat bahwa orang-orang Gibeon membantu dalam peperangan tersebut. Orang-orang Gibeon dikhususkan untuk melayani di mezbah Tuhan seperti orang Lewi. Jadi mereka juga mendukung dalam peperangan tersebut secara rohani. Jika kita tidak bisa mengikuti kegiatan-kegiatan penginjilian, maka kita bisa mendukung dalam doa seperti orang Lewi dan orang Gibeon. Di sini kita berbagian dalam peperangan rohani. Firman Tuhan itu begitu menguatkan Yosua dan tentara Israel. Mereka tidak takut dengan kuantitas musuh karena mereka memiliki kualitas yaitu penyertaan Tuhan. Yosua sebagai seorang pemimpin memiliki keteguhan iman (Yosua 10: 8, 25). Inilah hal yang harus dimiliki setiap pemimpin. Pengalaman Yosua pasti tidak sebanyak pengalaman para musuhnya, namun karena Tuhan ada di pihak Israel maka Israel menang. Para raja orang Amori itu kalah dan bersembunyi dalam gua di Makeda. Yosua pada ayat ke-25 menyatakan kepada bangsa Israel bahwa Tuhan ada di pihak Israel. Di sana mereka mendapatkan motivasi sebagai tentara Tuhan.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki teladan dalam keteguhan iman dan siap untuk bertempur untuk menyatakan nama Tuhan. Musuh kita bukanlah orang-orang secara fisik tetapi keinginan yang ada di dalam diri kita. Segala keinginan itu akan menjatuhkan kita namun kita harus teguh berdiri karena kita sudah ditebus oleh Tuhan Yesus Kristus. Penebusan itu sangat mahal dan kita menerimanya karena anugerah. Di dalam kesucian kita harus menolak semua godaan itu. Di dalam keteguhan itu kita tidak boleh kompromi dan melawan itu dalam nama Allah Tritunggal. Orang yang teguh selalu memiliki keberanian yang suci. Kita harus berperang dengan keberanian. Keberanian yang suci itu menunjukkan bahwa kita adalah anak Tuhan. Kita tidak boleh takut dan kompromi untuk menyatakan kebesaran nama Tuhan. Kematian itu tidak boleh menakutkan kita karena kita tahu bahwa Tuhan beserta dengan kita. Jika tentara dunia saja tidak boleh takut dengan senjata api dan kematian, maka kita sebagai tentara Kristus harus memiliki keberanian yang lebih lagi. Senjata kita bukanlah senjata api tetapi Firman Tuhan. Senjata kita adalah kekudusan, kerelaan, ketaatan, dan penyertaan Tuhan. Jadi kita berperang bukan dengan kekuatan manusia melainkan kekuatan Tuhan. Keberanian kita harus nyata ketika kita telah terbukti kuat di dalam Tuhan. Kita harus memiliki keberanian untuk menolak segala bujuk rayu setan melalui media sosial. Kita harus menunjukkan keberanian kita untuk tampil berbeda. Kenikmatan dunia bukanlah hal utama bagi kita. Mental kita harus seperti Yosua dan Israel. Tidak hanya kuat dalam mental dan karakter, seorang pemimpin juga harus mengandalkan Tuhan. Yosua adalah pemimpin yang berdoa (ayat 12). Baik secara horizontal maupun vertikal, Yosua tetap kuat. Di sini Yosua sebagai orang kuat tidak menyombongkan kekuatan dirinya. Ia justru berdoa kepada Tuhan dan itu menunjukkan kekuatan.

Mengapa Yesus berdoa setiap pagi? Kepada siapa Yesus berdoa? Itu menunjukkan bahwa Yesus juga adalah manusia biasa, maka Ia harus berdoa. Namun ada gereja yang salah mengerti akan hal ini dan berpikir bahwa Yesus tidak memiliki natur Allah yang kekal. Yesus adalah 100% Allah dan 100% manusia. Ia berdoa meskipun tetap memiliki natur Allah tersebut. Filipi 2:7 menyatakan bahwa Ia mengosongkan diri-Nya. Ini berarti Ia membatasi diri dan Ia telah membuktikan bahwa hidupnya 100% taat kepada kehendak Bapa di surga. Segala doa yang dinaikkan-Nya berhubungan dengan hal ini. Yesus menghadapi begitu banyak pergumulan, mulai dari murid-Nya yang cinta uang, para alim ulama yang tidak mengajarkan Firman Tuhan dengan benar, sampai bait Allah yang terus dicemari oleh para pencari keuntungan. Jika kita ada di posisi Tuhan Yesus, maka pasti kita tidak tahan. Ia menunjukkan ketaatan-Nya kepada Bapa salah satunya dalam berdoa. Doa itu menyatakan ketaatan dan kesabaran kita. Kekuatan orang sabar adalah doa. Yesus berdoa bukan karena Ia tidak memiliki kuasa. Ia adalah Pribadi Allah yang maha kuasa. Saat Ia menjadi manusia, Ia mengosongkan diri-Nya dan menunjukkan ketaatan-Nya secara penuh. Pemimpin yang kuat adalah pemimpin yang bersandar pada Allah. Yosua berdoa karena ia mau menyatakan kemenangan bagi Tuhan. Ia berperang untuk menang bagi Tuhan. Kemenangan kita bukanlah untuk diri kita. Doa kita yang berpusat pada diri sendiri tidak akan dikabulkan oleh Tuhan. Segala keinginan dan kepuasan yang tidak memuliakan Tuhan tidak akan dijawab oleh Tuhan. Jika suami dan istri masih menyimpan dosa, maka doa mereka bisa tidak dikabulkan oleh Tuhan. Doa dalam nama Allah Tritunggal adalah doa yang dimana kita yang berdoa harus suci. Yakobus 5:16b Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. Yakobus 5:17 Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan.

Di sini kita harus belajar untuk tekun berdoa. Di taman Getsemani itu Yesus berdoa dan dikatakan bahwa peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah (Lukas 22:44). Di dalam misi-Nya untuk menyelamatkan manusia Ia tetap berdoa. Pemimpin yang berkualitas adalah pemimpin yang kuat dalam janji Tuhan dan terus mengandalkan Tuhan dalam peperangan untuk menyatakan kebesaran Tuhan. Kita terus menerus menghadapi peperangan zaman. Kita harus menggenapkan mandat budaya untuk kemuliaan Tuhan. Orang yang kaya di dalam Tuhan tahu bahwa semuanya adalah anugerah Tuhan, jadi mereka mengembalikan semuanya untuk kemuliaan Tuhan. Orang yang hanya kaya secara materi adalah orang yang sombong serta tidak mengakui Tuhan. Setan bisa memberikan kekayaan dan kenikmatan yang menjauhkan manusia dari Tuhan. Mereka yang mencari kekayaan dengan kuasa Setan akan dihakimi pada akhirnya. Setan bisa menipu manusia dan membuat mereka menyembah di gunung-gunung untuk mendapatkan pengabulan doa, namun pada zaman ini Setan bisa memakai semua media sosial untuk menipu manusia. Jadi semua gadget kita bisa menjadi gunung-gunung penyembahan modern. Jika kita ingin menjadi orang-orang yang berkualitas dalam Tuhan, maka kita harus berperang dengan keteguhan hati dan karakter. Kita harus teguh dalam identitas iman kita dan terus mengandalkan Tuhan. Kita harus menjadi garam dan terang di tengah masyarakat yang sudah rusak dan bengkok ini dan berhati-hati terhadap segala bujuk rayu Setan.

 

2) Kuasa Doa Yosua

            Yosua menjadi pemimpin yang berkualitas, maka ketika ia berdoa meminta agar matahari dan bulan berhenti bergerak, doanya dikabulkan. Bagaimana mungkin matahari dan bulan yang berhenti? Bukankah yang berotasi adalah bumi dan bulan? Doanya tidak salah di dalam keterbatasan pengertiannya. Dikatakan bahwa matahari itu lambat-lambat terbenam. Jika bumi berhenti berputar seketika, maka semua orang akan berterbangan. Kita yang tinggal di Indonesia bisa terlempar sampai ke Kanada. Jadi bumi itu berhenti berotasi secara perlahan. Jadi Alkitab tidak berbohong atau bukan tidak akurat secara sains. NASA menemukan bahwa ada hari yang hilang. Mereka menemukan bahwa hari yang hilang itu terjadi pada 30 oktober 1207 SM. Yosua meminta agar matahari berhenti sehari penuh. Sehari penuh dalam pengertian Yahudi adalah 12 jam. Kemungkinan saat itu terjadi gerhana matahari. Sinar matahari itu terlihat seperti cincin. Semua ini mungkin terjadi pada saat itu. Tuhan adalah pencipta dari segala sesuatu dan semuanya tunduk di bawah Tuhan termasuk sains. John Calvin menyatakan bahwa benturan yang paling keras di antara agama dan ilmu pengetahuan adalah doktrin penciptaan. Para ilmuwan tidak percaya akan penciptaan. Mereka menganut teori evolusi. Mereka menolak akan kemungkinan adanya pencipta. Kita sebagai orang percaya diberikan satu mandat budaya untuk bertanggung jawab atas bumi ini dan semua isinya. Kita mempelajari sains untuk menjalankan mandat budaya. Di sini kita harus menebus sains dan budaya yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Kita harus mengerti akan wahyu umum dan wahyu khusus serta menjalankan semua mandat itu. Di sanalah kita sudah menjadi orang Reformed yang sejati. Doa Yosua adalah doa yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Di sana ia mau agar peperangan itu dapat diselesaikan di bawah sinar matahari.

Tuhan-lah yang berperang melawan orang Amori. Memang benar bahwa seluruh tentara Israel berperang, namun Tuhan melempari semua musuh dengan batu-batu besar dari langit sehingga jumlah musuh yang dibunuh oleh Tuhan itu lebih banyak daripada jumlah korban karena pedang Israel (Yosua 10:11). Mengapa Tuhan mengabulkan doa Yosua? Tuhan mengabulkan doa Yosua dimana bumi dan bulan berjalan lambat sehingga sinar matahari menjadi lambat untuk terbenam untuk menyatakan bahwa Dia adalah Allah yang sejati. Dewa-dewa yang disembah orang Amori adalah allah palsu dan tidak ada kuasa. Raja-raja Amori menyembah triteisme (Shamash, Sin, dan Ishtar). Shamash adalah dewa matahari, Sin adalah dewa bulan, dan Ishtar adalah dewa bumi dan peperangan. Di sini Tuhan mau menyatakan bahwa semua dewa itu tidak bisa menyelamatkan orang-orang Amori dari kuasa Tuhan. Semua raja Amori itu pada akhirnya bersembunyi di gua di Makeda (ayat 16). Yosua kemudian memenjarakan mereka di sana dengan menutup gua itu dengan batu-batu yang besar (ayat 18). Di dalam gua itu mungkin para raja Amori saling menyalahkan atas kekalahan mereka. Yosua kemudian menguatkan semangat Israel dengan menyatakan penyertaan Tuhan atas Israel (ayat 25). Para raja itu kemudian dibunuh (ayat 26). Tuhan menyatakan bahwa diri-Nya adalah penguasa yang melebihi dewa manapun. Doa yang benar itu selalu berdasarkan Firman Tuhan. Doa yang benar itu menyatakan kebesaran dan kekuatan Tuhan yang melebihi kuasa manapun. Maka dari itu doa yang benar selalu sesuai dengan kehendak Tuhan. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya (Yakobus 5:16b, bandingkan Matius 7:7-8, Lukas 18:1-7). Tuhan mengajarkan kita bukan untuk mengutamakan permintaan materi tetapi agar kita bisa mengampuni orang lain. Inilah konteks dalam Matius 7. Yesus berbicara tentang karakter Kristen di dalam bagian itu. salah satu karakter yang harus kita miliki adalah tidak menyimpan dendam atau kebencian tetapi karakter mau mengampuni dan mengasihi orang lain. Di dalam Lukas 18:1-7 diceritakan bahwa ada janda yang terus menerus memohon agar hakim yang jahat itu membela perkaranya. Pada akhirnya hakim itu membela perkaranya. Di sini Yesus mengajarkan kita untuk tekun menegakkan kebenaran. Janda itu tidak berhenti untuk memperjuangkan keadilan. Di sini kita belajar untuk mengandalkan Tuhan di dalam doa. Mazmur 37 menyatakan bahwa orang jahat itu akan segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuhan hijau. Di sana kita diajarkan untuk tidak cepat marah. Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya, (1 Yohanes 5:14). Doa kita pasti dikabulkan jika sesuai dengan kehendak Tuhan. Di sini kuasa doa tidak berdiri sendiri tetapi selalu terkait dengan Firman Tuhan. Maka dari itu orang yang semakin mengerti Alkitab akan semakin bersandar pada Tuhan. Orang yang semakin rajin berdoa akan semakin memiliki hasrat untuk mengerti Firman.

 

Penutup

Berdoa adalah suatu anugerah. Berdoa dalam kehendak Allah adalah doa yang benar. Kuasa doa terjadi karena sesuai dengan kehendak Allah. maka dari itu kita harus memiliki komitmen untuk membaca Alkitab dan berdoa setiap hari. Kita harus menaklukkan keegoisan kita di dalam penyertaan Tuhan.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami