Kristus Datang Membongkar Kemunafikan Agama (Khotbah Natal 2020)

Kristus Datang Membongkar Kemunafikan Agama (Khotbah Natal 2020)

Categories:

Khotbah Natal (Jumat, 25 Desember 2020)

Kristus Datang Membongkar Kemunafikan Agama

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Di dalam masa pandemi ini kita tetap mengingat Kristus yang telah datang. Kita akan membahas ‘Kristus datang membongkar kemunafikan agama’. Kita tidak akan membahas tentang bagaimana Kristus membawa terang atau damai. Bagaimana jika Kristus tidak datang? Apa pengaruhnya bagi agama? Kita akan bersama-sama melihat dari Yohanes 1:1-5.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Apa yang terjadi jika agama tanpa Tuhan dan kebenaran-Nya? Manusia mencoba untuk menyelesaikan masalah dosa dengan pendekatan agama. Namun pendekatan dari bawah ke atas tidak bisa menyelesaikan masalah dosa, kedamaian, kekhawatiran, serta masalah alam dan segala tantangannya. Agama tanpa kebenaran dan Tuhan hanya akan merusak manusia dan mengacaukan kehidupan dunia. Agama bisa dipakai dalam politik juga sebaliknya. Inilah agama tanpa nilai identitas Tuhan. Di sana agama menjadi ancaman, bukan solusi.

 

            Tuhan Yesus datang dalam konteks zaman intertestamental. 400 tahun sebelum kedatangan Tuhan tidak ada raja, imam, dan nabi. Jika tidak ada nabi, maka tidak ada suara untuk menegur dosa. Jika tidak ada imam, maka tidak ada pendamaian. Tidak ada yang bisa menciptakan keharmonisan antara manusia dengan Tuhan dan sesama. Akhirnya manusia mencari pendamaian dan pembenaran sendiri. Jika tidak ada raja, maka semua akan menjadi pemimpin dan merasa paling benar. Jadi kekacauan pasti timbul. Di tengah zaman seperti itulah Tuhan Yesus datang.

 

            Tuhan Yesus datang ketika rumah Tuhan tanpa kesucian Tuhan. Jadi dalam rumah Tuhan saat itu tidak ada kesucian. Hal yang ada di sana adalah kepentingan pemimpin agama dan agenda untuk memperkaya diri. Kesucian tidak lagi ditegakkan dan membuat gentar. Pelataran rumah Tuhan dipakai hanya untuk berdagang dan kepentingan masing-masing. Di sanalah rumah Tuhan menjadi kacau. Rumah Tuhan yang diisi hanya oleh kepentingan pribadi atau kelompok pasti menjadi kacau. Tuhan tidak hadir di sana saat itu. Ada mekanisme keagamaan di sana tetapi tanpa nilai takut akan Tuhan. Saat itulah Tuhan Yesus datang.

 

            Tuhan Yesus datang ketika agama (Yudaisme) tanpa kebenaran Firman Tuhan. Orang-orang Yahudi menambahkan hukum Taurat, jadi tidak ada lagi kemurnian. Di sana ada keteraturan dan rutinitas tetapi tidak ada nilai kedekatan dengan Tuhan. Orang-orang takut kepada hukum tetapi tidak menghormati hukum. Maka dari itu agama mengalami kekacauan. Para pemimpin agama hanya bisa mengubah diri secara lahiriah tetapi tidak secara batiniah karena Firman Tuhan tidak ada dalam hati mereka. Mereka tahu akan Firman Tuhan tetapi mereka tidak bisa mengerti maknanya yang sejati. Jadi para tokoh agama menjadi orang-orang elit di masyarakat tetapi mereka tidak dikenal dan diperkenan oleh Tuhan. Mereka bisa terlihat rohani di hadapan manusia tetapi hati mereka jauh dari Tuhan. Dalam kondisi itulah Kristus datang. Kristus datang bukan disambut oleh pemimpin agama. Tidak ada hal spesial yang menyambut-Nya. Ini karena mereka tidak peka akan pimpinan Tuhan. Mengapa Tuhan memilih Yusuf dan Maria serta para gembala? Mereka adalah orang-orang sederhana dan terkucilkan, namun mereka merindukan kehadiran Tuhan, yaitu Mesias yang sejati. Para pemimpin agama tidak mencari Mesias tetapi hanya kepentingan pribadi. Mereka sering berada di rumah Tuhan tetapi hati mereka jauh dari Tuhan. Mereka seolah melayani Tuhan tetapi mereka menyedihkan hati Tuhan. Dalam konteks inilah Yesus datang.

 

            Tuhan Yesus datang ketika pemimpin agama tanpa pimpinan Tuhan. Berbagai tempat bisa memuaskan mata kita tetapi tidak memberikan makna hidup. Perenungan hidup yang paling dalam adalah ketika kita bisa mengaitkan segala hal dengan Tuhan. Kita bisa mencoba berbagai makanan yang enak tetapi hal yang lebih penting adalah melihat anugerah Tuhan dalam semua itu dan mengucap syukur. Ada orang-orang yang melihat makanan hanya sebagai kebanggaan dan untuk dipamerkan di hadapan orang lain. Ada orang-orang yang senang mencari makanan mahal untuk menyatakan bahwa ia bisa membayar semua itu. Jadi ada kesombongan dalam bagian ini. Kita menikmati ciptaan bukan untuk kebesaran diri tetapi untuk menikmati anugerah umum Tuhan. Ketika kita mengejar kebesaran diri, maka hidup akan terasa kosong tanpa makna. Di sana kita menjadi sama seperti Salomo yang mengaitkan hikmat dengan kepuasan diri, bukan kemuliaan Tuhan. Dalam hal itu kita kehilangan jati diri. Kristus datang ketika para pemimpin agama tidak mengerti kehendak Tuhan. Saat itu mereka memimpin berdasarkan insting mereka dan sistem dalam kacamata kuda sehingga mereka tidak bisa ikut pimpinan Tuhan. Ketika para orang majus peka, mereka tidak peka. Siapakah yang menolak dan mau menyalibkan Yesus? Para pemimpin agama. Mereka melakukan ini karena mereka tidak dekat dengan Tuhan. Firman Tuhan tidak tinggal dalam hati mereka. Kristus datang dalam situasi seperti ini.

 

            Tuhan Yesus datang ketika orang beragama tanpa iman yang menyelamatkan. Mereka mengaku beriman namun sebenarnya mereka tidak memiliki iman. Mereka tidak pernah sungguh-sungguh lahir baru. Tidak ada hati dan roh yang baru dalam diri mereka. Taurat tidak tertulis dalam hati mereka. Jadi mereka tidak mengalami hal-hal yang berhubungan dengan keselamatan yang disebutkan oleh Yehezkiel. Di situlah kita mengerti mengapa tidak ada yang menyambut kelahiran Kristus. Tidak ada orang yang menyiapkan tempat terbaik bagi-Nya. Ketika Kristus lahir, hanya para orang majus yang peka. Di manakah para pemimpin agama Yahudi? Yesus lahir dalam kesendirian tetapi mengubah dunia dalam kekosongannya karena Ia hadir sebagai terang dunia. Kristus hadir untuk mewakili Allah dalam otoritas dan kedaulatan-Nya.

 

 

PEMBAHASAN (Tuhan Yesus Datang Membongkar Kemunafikan Agama)

 

            Ada anak-anak yang lahir dan kemudian membongkar identitas orang tuanya. Mereka dititipkan di rumah nenek atau kakek mereka setelah mereka dilahirkan. Jadi mereka tidak mendapatkan cinta kasih orang tua mereka dan tidak merasakan tanggung jawab orang tua mereka. Ini karena orang tua mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Akhirnya orang-orang berkata kepada mereka “orang tuamu tidak siap menjadi orang tua”. Namun apakah mungkin kelahiran mereka bisa memunculkan tanggung jawab orang tua mereka? Mungkin saja. Jadi kelahiran bisa menunjukkan hal positif atau negatif. Ada suku-suku tertentu yang lebih menginginkan anak laki-laki daripada perempuan. Namun hal yang terpenting bukanlah jenis kelamin tetapi anak-anak yang meneruskan dan menghidupi iman. Dalam hal ini konsep kita harus benar. Kita bisa menjadi orang beragama tetapi munafik karena berstandar ganda. Kita bisa menjadi munafik ketika prioritas hidup kita tidak sesuai dengan kata Alkitab. Itulah yang dialami oleh para pemimpin agama pada masa Kristus lahir. Mereka tidak mengerti bahwa Sang Mesias telah hadir karena hati mereka sudah tumpul. Mereka tidak memiliki kepekaan rohani tetapi mereka peka ketika tidak dihormati dan dipuji. Dalam masa inilah Kristus datang.

            i) Tuhan Yesus datang mengakhiri zaman intertestamental (kegelapan agama) dan memulai dengan zaman Perjanjian Baru. Pada saat itu tidak ada raja, imam, dan nabi. Hanya ada kekacauan saat itu. Setiap pemimpin agama merasa dirinya benar dan menuhankan kekuasaan namun mereka tidak sadar bahwa mereka sudah jauh dari Tuhan. Kita bisa saja mengalami hal yang sama, jadi kita harus berhati-hati. Para pemimpin agama saat itu sudah jauh dari Tuhan dan Kristus datang untuk membawa Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Baru tidak ada lagi ruang suci dan mahasuci. Firman Tuhan ada dalam pribadi Kristus dan Ia ada bersama dengan kita. Firman Tuhan itu membarui hidup kita dalam terang. Dalam penciptaan, semuanya jadi karena Firman Tuhan. Firman Tuhan diberikan di dalam hati kita masing-masing. Di situ kita dituntut untuk taat kepada Firman. Kristus datang dan melakukan kehendak Bapa sampai Ia mati disalib untuk membuktikan bahwa Ia hidup dalam kesucian yang sempurna. Ia menyatakan ketaatan penuh. Itulah esensi dalam perjanjian. Ia taat dalam keterbatasan sebagai manusia di bawah tuntutan hukum Taurat. Iman dibuktikan dalam kesetiaan dan ketaatan. Iman yang hidup tidak mungkin tanpa kesetiaan atau ketaatan. Itulah iman yang beres. Tuhan mau kita taat dari hati kita, bukan hanya karena menjalankan rutinitas agama. Melalui Yehezkiel Tuhan sudah berjanji memberikan roh dan hati yang baru sehingga kita bisa taat.

           

            Masa di mana tidak ada raja, imam, dan nabi tidak memiliki damai yang sejati, hanya damai yang palsu. Sukacitanya pun palsu. Natal bukanlah sekadar perayaan tanpa nilai ketaatan. Kristus datang untuk membangun nilai ketaatan kita sehingga kita sungguh-sungguh menikmati Tuhan dalam hati kita. Dalam Perjanjian Baru, hukum Taurat itu tidak lagi berada di luar tetapi berada di dalam hati kita. Firman itu berada dalam hati kita. Hidup keagamaan yang sejati adalah hidup yang taat kepada Firman Tuhan. Kita dipanggil untuk menjadi terang yang menerangi kegelapan dunia. Kegelapan itu tidak akan menguasai terang karena ada perbedaan kualitas. Kita harus memerhatikan apakah hidup kita sudah menjadi berkat atau belum.

           

            ii) Tuhan Yesus datang membongkar kesesatan agama Yudaisme, karena itu Tuhan Yesus datang sebagai Logos (Yohanes 1:1-2). Orang-orang agama Yudaisme menambahkan hukum Taurat dengan ratusan hukum lainnya. Mereka terikat dengan hukum hanya secara lahiriah namun tidak secara batiniah. Mereka terlihat beragama namun tidak sungguh-sungguh takut akan Tuhan. Jadi keagamaan saat itu begitu kosong. Masalah kegelapan agama itu tidak bisa diselesaikan oleh siapapun juga. mengapa Tuhan mengizinkan ada masa intertestamental? Di sana Tuhan mau mereka sadar bahwa mereka tidak bisa beragama dengan kekuatan atau kekayaan materi mereka sendiri. Kita membutuhkan Firman Tuhan dan hidup kita harus dipimpin oleh Firman Tuhan. Kita harus belajar hidup dalam kebenaran dan menikmati kebenaran. Orang beragama yang sejati adalah orang yang mau dekat dengan Firman Tuhan setiap hari. Kekristenan tanpa saat teduh setiap hari adalah kekristenan dalam kemunafikan. Kita harus terus mencari kehendak Tuhan dalam masa pandemi ini, bukan mencari kenikmatan diri melalui teknologi. Kehadiran Covid-19 menyatakan siapa diri kita sebenarnya. Namun dalam masa ini Tuhan bisa melatih iman kita sehingga kita melihat hanya kepada Tuhan. Keagamaan tanpa Kristus itu kosong adanya. Kekristenan tidak disebut sebagai agama karena Kristus datang dari surga ke dunia. Agama yang tidak mementingkan penggenapan Kerajaan Allah adalah agama yang kosong. Kristus datang dan memberikan hidup kekal kepada orang percaya. Agama tidak bisa memberikan ini. Kristus menjanjikan kebangkitan setelah kematian. Kita diberikan jaminan bahwa kita yang percaya akan hidup bersama dengan Allah. Yudaisme tidak mengajarkan hal ini.

 

            Maka dari itu kita yang sudah mendengar kebenaran harus hidup dekat dengan Firman Tuhan. Dalam masa pandemi ini, sudahkah kita lebih mendekatkan diri kepada Firman Tuhan? Apakah kita sungguh-sungguh memakai waktu kita dengan maksimal untuk membaca Alkitab? Apakah kita mencari kehendak Tuhan dalam masa ini? Seluruh agenda dunia berubah karena Covid-19. Dalam hal ini Tuhan menyatakan bahwa diri-Nya-lah yang berkuasa. Kita bisa mengubah dan menyusun agenda kita, namun semua itu harus dikaitkan dengan agenda Tuhan. Jika itu tidak dilakukan, maka kita menjadi orang Kristen munafik. Itulah yang terjadi pada Yudaisme. Mereka melawan penggenapan kehendak Tuhan.

 

            iii) Tuhan Yesus datang membarui konsep kesucian rumah Tuhan dan umat-Nya, karena itu Tuhan Yesus datang sebagai terang dan garam dunia (Yohanes 1:4-5). Di dalam terang, semuanya terlihat. Jadi kita diajarkan untuk hidup dalam kejujuran. Di hadapan Tuhan tidak ada dosa yang bisa disembunyikan. Tuhan tahu segala sesuatu dan Tuhan mahahadir. Terang memimpin hidup kita untuk memiliki masa depan yang berarti. Mazmur 121 mengajarkan bahwa pimpinan Tuhan selalu baru untuk kita. Sebagai orang Kristen kita harus optimis memandang masa depan. Kita tidak tahu akan hari esok namun dengan iman kita tahu bahwa Tuhan memimpin kita untuk meraih masa depan. Itulah yang diajarkan Mazmur 121. Kita tidak boleh membiarkan masa pandemi ini membuat kita menjadi pesimis.

 

            Kita melawan dosa bukan dengan kekuatan diri kita. Dosa tidak hanya berbentuk perbuatan tetapi juga pikiran dan perasaan. Jadi dalam agama harus ada rasa takut akan Tuhan dan kesucian. Ketika kita melihat kesucian seharusnya kita menjadi takut berbuat dosa. Ketika Kristus lahir dalam hati kita, kita akan menjadi takut berdosa. Itu karena kita menghormati Kristus yang lahir dalam hati kita. Kita takut berdosa bukan karena situasi menghalangi kita. Ada orang-orang yang tidak mau berdosa karena situasi tidak memungkinkan, bukan karena mereka memang membenci dosa. Inilah orang yang munafik. Tuhan tidak bisa ditipu dan Tuhan bisa membongkar kemunafikan setiap orang. Daud mau menyembunyikan dosanya namun Tuhan membongkar semua itu dan menyatakan kebenaran melalui nabi Natan. Di sini kita belajar untuk tidak bermain-main dengan kesucian Tuhan.

 

            Orang yang mencintai kesucian pasti juga mencintai kedamaian. Ia tidak mau menyimpan dendam dan benci kepada siapapun juga. Ini karena Kristus sudah lahir dalam hatinya. Di mana Kristus hadir, di situ dosa dan kemunafikan disingkirkan. Kehadiran Kristus membawa kita untuk memuliakan Tuhan dan bukan diri sendiri. Ia hadir sebagai garam yang mencegah kebusukan. Kristus hadir dalam diri kita dan memanggil kita agar kehadiran kita membuat dosa tidak berkembang. Dalam masa pandemi ini kita harus tetap menjadi terang yang tidak dikuasai ketakutan. Kita harus merindukan pertemuan ibadah secara fisik karena memang itulah yang Tuhan rancang bagi kita. Jadi kedatangan Kristus mengubah konsep-konsep lama kita. Ia hadir untuk membawa perubahan sehingga kita menjadi semakin dekat dengan Allah.

 

            iv) Tuhan Yesus datang membongkar kemunafikan para pemimpin agama, karena itu Tuhan Yesus datang sebagai Kepala Gereja yang melayani dan rendah hati dengan jabatan sebagai raja, imam, dan nabi (Lukas 11:37-54, Markus 1:22, Lukas 4:24-27, Ibrani 1:1-2). Para pemimpin agama saat itu lebih suka dilayani daripada melayani. Mereka hidup dalam kesombongan hati. Jadi para pemimpin agama saat itu tidak memiliki jiwa hamba. Namun Kristus datang dalam kasih untuk menyatakan kemuliaan Allah. Ia lahir dalam kerendahan dan melayani kita, orang-orang berdosa. Ia tidak menuntut fasilitas dan kenyamanan. Ia tidak meminta yang terbaik tetapi memberikan yang terbaik. Kita harus mengerti konsep melayani Tuhan dan menjangkau jiwa-jiwa bagi Tuhan. Jika tidak, maka kita tidak akan mengerti fungsi nabi yang menegur dosa, fungsi imam yang membawa damai (karena imam seharusnya memimpin orang-orang untuk mengatasi keberdosaannya), dan fungsi raja yang memimpin. Kita bersyukur jika Tuhan memimpin kita untuk menjadi pelayan yang rendah hati dan memampukan kita untuk menjalankan tiga fungsi itu dengan benar. Tuhan Yesus membongkar sifat asli para pemimpin agama yang mengejar kemuliaan diri.

 

            v) Tuhan Yesus datang sama seperti kita untuk mencari manusia yang berdosa dan menyelamatkannya (Yohanes 1:14, Lukas 5:31-32). Berbagai bagian kitab-kitab Injil menyatakan bagaimana Tuhan Yesus menegur dosa. Ia menyatakan kemarahan-Nya untuk menegur manusia berdosa agar kembali kepada Allah. Tuhan datang untuk mencari manusia berdosa dan menyelamatkannya. Kita sebagai anak-anak-Nya dipanggil untuk berbagian dalam hal ini. Maka dari itu kita harus memberitakan Injil dan memakai mulut serta teknologi yang kita miliki agar menjadi berkat bagi banyak orang. Jadi kita harus menjalin sebanyak mungkin relasi agar kita bisa memengaruhi banyak orang. Kita harus menggarami dunia.

 

 

KESIMPULAN

 

1) Tuhan Yesus datang memberikan pengharapan baru dengan zaman yang baru. Ia memampukan kita untuk taat dan takut akan Tuhan.

 

2) Tuhan Yesus datang memberikan konsep yang baru tentang kesucian rumah Tuhan secara rohani: bait Roh Kudus. Kita harus memberikan yang terbaik untuk Gereja.

 

3) Tuhan Yesus hadir sebagai Logos supaya kita bersatu dengan-Nya dan hidup dalam kebenaran-Nya. Tuhan mau kita dekat dengan-Nya. Kita harus memerhatikan saat teduh kita dan pembacaan Alkitab kita.

 

4) Tuhan Yesus hadir membawa arti yang baru dari kesalehan dan kerohanian beragama. Kita harus berubah dalam karakter kita ke arah Tuhan dan kita harus menjalankan mandat dari Tuhan, salah satunya dalam hal membawa orang-orang berdosa kepada Tuhan.

 

5) Tuhan Yesus hadir membawa anugerah keselamatan bagi umat-Nya. Kita juga dipanggil untuk menyatakan keselamatan itu kepada orang lain termasuk dalam masa pandemi ini. Perkembangan teknologi harus kita manfaatkan secara maksimal agar penjangkauan jiwa bisa dilakukan dengan lebih baik lagi.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami