Ketangguhan dan Keberanian Iman (Debora dan Yael)

Ketangguhan dan Keberanian Iman (Debora dan Yael)

Categories:

Bacaan alkitab: Hakim-Hakim 4:1-24

 

Pendahuluan

            Mengapa Israel cepat berubah kasih setianya kepada Tuhan setelah Yosua dan Ehud mati? Hanya setelah 1 generasi kita bisa melihat bahwa bangsa Israel tidak memiliki fondasi iman atau jangkar iman. Saat itu mereka kehilangan identitas sebagai orang yang sungguh-sungguh beribadah dan taat kepada Tuhan.

Mengapa Tuhan menyerahkan Israel kepada Yabin, raja Kanaan yang memerintah di Hazor, selama 20 tahun? Selama 20 tahun itu mereka ditindas dan mendapatkan kekerasan serta tekanan dari para penjajah. Mereka kehilangan damai sejahtera dan kenyamanan di dalam Tuhan.

Mengapa Tuhan memunculkan hakim perempuan yaitu Debora? Mengapa Tuhan memunculkan pahlawan Israel seorang perempuan yaitu Yael? Bukankah dari sejak penciptaan laki-laki yaitu Adam ditetapkan sebagai pemimpin? Seluruh catatan menyatakan bahwa Adam-lah pemimpin di dalam ciptaan Tuhan. Setelah itu dari garis keturunannya kita melihat ada Abraham, Ishak, dan Yakub. Mungkin ada dari kita yang pernah bertanya mengapa Tuhan memakai seorang perempuan untuk menjadi pahlawan rohani. Pahlawan perang yang sesungguhnya bukanlah Barak melainkan Debora dan Yael. Kedua orang ini adalah perempuan. Ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki kekuatan yang tersembunyi dan laki-laki memiliki kekuatan otot yang terlihat. Perempuan memiliki ketangguhan yang tersembunyi dan laki-laki memiliki keberanian dalam emosi.

 

Pembahasan

            Mengapa setelah Yosua meninggal (pada umur 110 tahun), tidak ada pemimpin Israel yang dipilih Tuhan lagi? Tuhan tidak mengizinkan ada pemimpin yang melanjutkan kepemimpinan Yosua. Yosua dipilih oleh Tuhan melalui Musa dan Musa dipilih oleh Tuhan. Namun setelah kematian Yosua, selama 300-400 tahun Tuhan tidak menunjuk pemimpin baru. Mengapa Tuhan tidak langsung memimpin atau tidak melahirkan, menunjuk, mempersiapkan seorang pemimpin baru? Ini sebenarnya adalah ujian kemandirian iman dan hidup sebagai bangsa teokrasi. Setelah bangsa Israel keluar dari Mesir dan pergi menuju Kanaan, mereka mendapatkan 2 pemimpin yaitu Musa dan Yosua. Setelah itu mereka harus membuktikan kemandirian iman dan hidup mereka sebagai komunitas iman yang menganut teokrasi. Teokrasi berarti tidak perlu ada pemimpin manusia. Tuhan mau agar 12 suku itu melihat Allah sebagai pemimpin secara langsung. Ketika mereka membutuhkan pimpinan maka mereka harus bertanya langsung kepada Tuhan. Ini karena Tuhan mau membangun Israel sebagai bangsa teokrasi dan bukan demokrasi. Mereka harus menjadikan Tuhan sebagai pemimpin dan andalan mereka. Tuhan harus diutamakan di dalam hidup mereka sebagai 1 bangsa, namun mereka tidak siap akan hal ini.

            Apakah Tuhan tahu bahwa mereka tidak siap? Tuhan pasti tahu, namun mengapa Tuhan mengizinkan hal ini? Inilah cara pendidikan Tuhan: tidak pernah memanjakan. Tuhan selalu meminta kita sebagai umat Tuhan untuk bertanggung jawab di dalam kebebasan kita. Kebebasan yang tidak diikat dengan tanggung jawab akan menjadi kebebasan yang liar. John Calvin menyatakan bahwa ketika Adam diciptakan, ia memiliki kebebasan dan tanggung jawab. Adam jatuh karena ia melupakan tanggung jawab dalam nilai vertikal. Ia hanya mengikat tanggung jawab dalam nilai horizontal. Pada saat itulah ia mengikuti bujuk rayu Setan dan terjatuh. Tuhan mau agar bangsa Israel menunjukkan kualitas mereka yang sudah pernah dipimpin oleh Musa dan Yosua yaitu mereka melihat bahwa Allah itu hidup, berkuasa, Allah sebagai penolong dan bahwa mereka harus beribadah kepada Tuhan dan melihat Tuhan sebagai pemimpin. Namun ternyata setelah diberikan kebebasan, mereka hanya bertanggung jawab secara horizontal dan melupakan yang vertikal. Di sana kita bisa melihat apa akibatnya. Apakah Israel berhasil menjalankan ujian ini? Akhirnya mereka gagal karena mereka tidak menjalankan hidup dalam tanggung jawab dan kebebasan yang bersifat vertikal dan horizontal. Di sini kita semakin memahami bahwa kebebasan yang diberikan untuk kita bukanlah kebebasan yang liar. Kebebasan yang kita punya adalah yang terbatas. Adam dan Hawa boleh memakan semua buah dari pohon yang ada kecuali buah dari pohon pengetahuan (Kejadian 2:17). Mereka bebas dalam batas, ibadah, dan tanggung jawab baik secara vertikal maupun horizontal.

            Tuhan tahu bahwa mereka akan gagal. Ia pasti sedih karena Israel gagal. Namun Ia ingin mendidik umat-Nya. Seorang anak yang terlalu dilindungi tidak akan bisa mandiri. Di dalam kegagalan seorang anak yang sedang belajar berjalan, kita percaya bahwa di sana ia belajar untuk lebih berhati-hati. Di sana ia belajar untuk lebih memerhatikan keseimbangannya. Orang tua yang baik menganut prinsip keadilan dan kasih dalam pendidikan anak, jadi ada keseimbangan. Pendidikan dengan cara ini akan melatih kepercayaan diri anak dengan baik. Anak bisa kehilangan kepercayaan diri jika ia selalu ditolong dan orang tua selalu melibatkan diri dalam masalah anak. Kita harus membiarkan anak merasakan dan menikmati berbagai kesulitan. Di sana ia belajar untuk mandiri dalam memecahkan masalah. Guru yang baik tidak akan menjebak murid dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyulitkan dan akan memberikan pertanyaan yang mengembangkan pengertian siswa. Jika sampai akhir pelajaran murid masih tidak mengerti, maka kita gagal sebagai guru. Namun jika semuanya dibuat terlalu mudah, maka kita juga gagal dalam mendidik. Jadi harus ada kasih dan keadilan yang seimbang. Bangsa Israel seharusnya tidak merasa berat karena diberikan kebebasan oleh Tuhan. Ujian dalam kebebasan pasti mudah. Ujian yang berat adalah ujian yang sangat membatasi kebebasan. Tuhan menguji tanggung jawab mereka dengan memberikan kebebasan. Situasi Israel tidak berat jika mereka mau taat. Jadi sebenarnya hal yang menentukan adalah apakah kita mau taat atau tidak. Hal yang mudah pun bisa menjadi sulit jika kita tidak mau taat. Tuhan mau mendidik Israel sebagai bangsa yang beribadah, beriman, taat, dan mau melayani. Ketika Ehud sudah meninggal, Tuhan tidak langsung memunculkan pemimpin baru. Di sana mereka gagal karena mereka lebih memilih untuk berjalan sendiri-sendiri dan merasa benar dengan pendapatnya masing-masing.

            Kegagalan umat Tuhan dalam kitab Hakim-Hakim adalah mereka tidak beribadah kepada Tuhan. Di dalam teori kerohanian, kewajiban dan tuntutan yang terlihat mudah justru seringkali dilalaikan. Kita harus berhati-hati terhadap racun rohani. Kenikmatan dan kenyamanan mudah sekali membuat kita tertidur ketika tidak ada orang yang mengawasi dan memperingatkan kita. Bahaya itu ada karena setiap orang masih memiliki keinginan yang liar. Kegagalan Israel diceritakan dalam kitab Hakim-Hakim yang memuat kisah Israel selama 300-400 tahun, yaitu masa di antara kepemimpinan Yosua dan Samuel. Setelah Samuel, kita mengetahui bahwa Israel dipimpin oleh Saul lalu kemudian Daud. Dengan latar belakang inilah Tuhan mengangkat 12 hakim untuk membebaskan Israel dari kesulitan hidup dan keterperosakan rohani (perjalanan sejarah setelah Yosua sampai Samuel). Israel harus benar-benar bertobat sebelum mendapatkan pertolongan Tuhan. Mengapa hanya 12 hakim? Itu sudah cukup, namun berkali-kali Israel kembali memberontak dan kehilangan identitasnya sebagai umat Allah. Tuhan mengatur segala sesuatu dan memberikan batasan. Tuhan memimpin sejarah Israel dan memberikan 12 hakim itu. Dari semua hakim, Tuhan menunjuk 1 hakim perempuan yaitu Debora. Debora adalah seorang pemberani dan tangguh. Ia berani menjadi pemimpin rohani. Debora memimpin Israel di saat Tuhan menyerahkan Israel ke dalam tangan Yabin. Selama 20 tahun Israel mengalami kesulitan yang berat. Apa artinya Tuhan menyerahkan Israel kepada Yabin? Di dalam Daniel 1:2 dinyatakan bahwa Yehuda diserahkan oleh Tuhan ke dalam tangan Nebukadnezar. Ini berarti Tuhan memberikan hukuman. Jadi Yabin bisa menaklukkan Israel bukan karena kehebatannya tetapi karena Tuhan yang menyerahkan mereka. Hukuman itu berlangsung selama 20 tahun.

            Mereka bisa lepas dari semua ini jika sungguh-sungguh bertobat. Setelah ditindas, dikatakan bahwa mereka berseru kepada Tuhan (ayat 3). Di sana mereka sungguh-sungguh bertobat dan memohon ampun dari Tuhan. Maka Tuhan memberikan Firman-Nya kepada Debora supaya ia memanggil Barak. Tuhan menyatakan pertolongan-Nya karena umat Tuhan terlebih dahulu menunjukkan kesedihan rohani. Para hakim dibangkitkan oleh Tuhan untuk menyelamatkan mereka. Setelah menderita selama 20 tahun mereka baru berseru kepada Tuhan. Mengapa harus sampai 20 tahun? Di sini kita mengetahui bahwa mereka sungguh bebal. Manusia berdosa begitu menikmati kebebasan yang menyesatkan. Manusia berdosa tidak suka ketaatan dan tanggung jawab. Mereka menolak untuk beribadah kepada Tuhan walaupun harus hidup susah di dalam penjajahan. Kebebasan dalam penjajahan lebih dipilih oleh mereka daripada ibadah kepada Tuhan. Setelah Tuhan mendengar seruan mereka, Tuhan memakai Debora dan Yael untuk membebaskan Israel. Tuhan tidak memakai laki-laki yang gagah perkasa. Di sana bangsa Israel seharusnya merasa malu karena pemimpin rohani mereka adalah wanita. Pemimpin di dalam keluarga sesungguhnya adalah laki-laki, namun mereka pada saat itu harus dipimpin oleh seorang wanita. Debora memanggil Barak dari Kedesh (ayat 6). Kuasa orang yang memanggil pasti lebih besar daripada yang dipanggil. Mengapa ia memanggil Barak? Karena ia tidak peka akan pimpinan Tuhan. Barak pasti tahu bahwa umat Israel sudah berseru kepada Tuhan, namun Debora-lah yang peka bahwa Tuhan sudah memberikan suatu solusi.

            Setelah Barak datang sesuai dengan panggilan Debora, Barak diberitahu bahwa Sisera dan tentaranya akan diserahkan oleh Tuhan ke dalam tangannya (ayat 7). Ia diminta untuk mengumpulkan 10 ribu tentara dari bani Naftali dan Zebulon dan kemudian berperang melawan Sisera (ayat 6). Apa jawaban Barak saat itu? Barak tidak langsung menjawab ya atau mengonfirmasikan panggilan Tuhan. Ia menjawab: Jika engkau turut maju akupun maju, tetapi jika engkau tidak turut maju akupun tidak maju (Hakim-Hakim 4:8). Ini berarti Barak telah menjadi pemimpin namun ia tidak memiliki keberanian. Ia kehilangan ketangguhan, iman, dan kepercayaan diri. Jadi ia memiliki status pemimpin tetapi tidak memiliki karakter pemimpin. Setelah penjajahan selama 20 tahun ternyata mereka tidak memiliki keberanian lagi. Ternyata yang memiliki keberanian adalah Yael, seorang ibu rumah tangga. Ia adalah istri Heber dari suku Keni. Heber telah memisahkan diri dari sukunya dan ia memiliki hubungan yang baik dengan Yabin (ayat 11 dan 17). Yael yang adalah seorang ibu rumah tangga dari keluarga yang telah memisahkan diri dari sukunya ternyata dipakai oleh Tuhan untuk menjalankan maksud-Nya. Di sini Tuhan mempermalukan para lelaki. Yael tidak melarikan diri ketika mendengar kabar peperangan itu. Ia menyambut Sisera dengan begitu ramah namun di balik itu ia sudah berpikir untuk membunuhnya. Tuhan memakai kedua wanita ini untuk menyelamatkan Israel.

            Mengapa Tuhan memakai dua wanita sebagai pahlawan rohani dan pahlawan perang? Karena krisis iman, krisis kepemimpinan, dan krisis kepercayaan diri. Para lelaki mengalami semua krisis ini, diwakilkan oleh Barak. Karena itulah Tuhan memakai wanita. Hal yang lebih parah adalah Barak tidak merasa malu. Ia meminta Debora ikut bersamanya dalam peperangan. Alih-alih meminta Debora untuk diam di rumah dengan aman, ia meminta Debora untuk ikut ke medan pertempuran. Barak melakukan negosiasi dengan Debora. Ia hanya mau maju jika Debora ikut maju bersamanya. Inilah akibat dari penjajahan selama 20 tahun yang membuat mereka mengalami krisis iman. Mereka mengalami penganiayaan yang berat dan seperti tidak benar-benar memiliki seorang pemimpin. Barak tidak menjalankan perannya sebagai pemimpin. Demikian pula dalam keluarga Kristen, identitas suami adalah pemimpin rohani keluarga. Krisis iman, kepemimpinan, dan kepercayaan diri dapat membuat para suami kehilangan identitasnya.

Apakah hal ini berkaitan dengan keluarga Heber yang memisahkan diri dari suku Keni? Ada beberapa penafsir yang mengatakan bahwa keluarga Heber memisahkan diri karena bangsa Israel dan suku Keni mengalami segala krisis ini. Mereka sudah kehilangan identitas dan tidak lagi beribadah kepada Tuhan. Ketika keluarga Heber memisahkan diri, ia dan istrinya masih memegang identitas dan masih memiliki pilar iman. Tuhan terkadang memberikan kita ujian kebebasan dan di sana kita dilatih untuk menggunakan kebebasan dalam tanggung jawab dan ketaatan. Kita bisa menjalankan tanggung jawab dan ketaatan di dalam kebebasan secara vertikal dan horizontal dengan baik ketika kita memiliki disiplin rohani. Ini harus ditanamkan dalam diri anak-anak kita supaya mereka tidak menjadi generasi yang terhilang. Keluarga harus dididik untuk taat dan bertanggung jawab di dalam segala kebebasannya. Israel kehilangan disiplin rohani sehingga ada generasi yang terhilang. Tuhan masih berbelas kasihan dalam memunculkan 12 hakim yang salah satunya adalah Debora.

            Apa saja ketangguhan dan keberanian iman dari Debora dan Yael? Pertama, Debora menyatakan bahwa Allah itu hidup. Debora meminta Barak untuk mengumpulkan 10 ribu tentara dan menyatakan bahwa Tuhan akan menggerakkan Sisera beserta pasukan-pasukannya dan kereta-kereta besinya untuk maju ke sungai Kison (ayat 6 dan 7). Barak dan tentaranya diperintahkan untuk naik ke gunung Tabor. Mereka harus mendaki dengan kekuatan mereka dan bukan tetap menunggu dan berperang di lembah. Dari atas gunung itu mereka bisa melihat banyaknya pasukan Sisera. Pemandangan itu bisa membuat mereka ciut. Di sana ada ujian untuk Barak. Ketika Barak meminta Debora untuk ikut, Debora menjawab: engkau tidak akan mendapat kehormatan dalam perjalanan yang engkau lakukan ini, sebab TUHAN akan menyerahkan Sisera ke dalam tangan seorang perempuan (ayat 9). Barak mungkin berpikir bahwa Sisera akan dibunuh oleh Debora, namun sebenarnya Yael-lah yang membunuhnya. Debora memberikan Barak aba-aba untuk maju: Bersiaplah, sebab inilah harinya TUHAN menyerahkan Sisera ke dalam tanganmu. Bukankah TUHAN telah maju di depan engkau? (ayat 14). Barak membutuhkan komando yang diberikan oleh Debora. Debora itu terlatih dalam peperangan rohani namun tidak pernah terlatih untuk berperang secara fisik. Ia peka akan pimpinan Tuhan dalam peperangan itu. Ia tidak ciut setelah melihat perbedaan jumlah tentara yang begitu besar. Posisi Barak dan tentaranya di atas gunung itu tidak menguntungkan, namun di sana ada ujian untuk mereka. Mereka harus taat pada pimpinan Debora.

            Kedua, Yael menyatakan keadilan Allah. Tuhan bekerja dengan mengacaukan Sisera serta segala keretanya dan seluruh tentaranya oleh mata pedang di depan Barak (ayat 15). Mereka berperang dengan kereta dan itu berarti jika 1 kereta saja terhenti maka semua kereta yang di belakangnya juga akan ikut terhenti. Banyak penafsir mengatakan bahwa Tuhan mengacaukan tentara Sisera dengan menggunakan air karena mereka ada di sungai Kison. Di sana mereka mengalami kekacauan dan kekalahan hingga akhirnya Sisera harus melarikan diri dengan berjalan kaki. Jadi 900 kereta besi Sisera mengalami kemacetan. Seluruh tentara Sisera tewas (ayat 16) dan setelah Barak diberitahu bahwa Sisera melarikan diri, ia mengejarnya (ayat 22). Kemah Yael terletak tidak jauh dari sana dan ia tidak berpindah kemah karena ia tidak takut. Yael tetap tenang dan menyambut Sisera yang kelelahan dengan ramah (ayat 18). Di balik penyambutan Yael, ia sudah menyiapkan satu rencana untuk mencelakakan Sisera. Sisera yang merasa haus kemudian meminta air dari Yael (ayat 19). Yael memberikannya susu. Air akan membuat Sisera sulit tidur nyenyak, namun susu hangat akan membuatnya terlelap. Yael tidak mungkin melawan Sisera secara fisik, maka ia melakukan peperangan batin. Yael juga memberikan Sisera selimut sehingga ia benar-benar terlelap. Sisera merasa nyaman dan ia tidak tahu bahwa itu adalah strategi yang membawa kematian. Yael kemudian mengambil patok kemah dan palu (ayat 21). Ia memegang kedua benda itu tanpa rasa takut atau gemetar. Setelah itu ia masuk ke dalam tanpa ketakutan tidak seperti Barak. Dalam sekali pukulan patok kemah itu menembus pelipis Sisera sampai tembus ke tanah. Ini berarti pukulan Yael begitu mantap tanpa keraguan. Tangannya begitu terlatih sehingga 1 kali pukulan sudah cukup. Ia tidak mencari pertolongan suaminya atau orang lain tetapi melakukan hal itu sendiri. Barak mengalami ketiga krisis itu namun Debora dan Yael tidak. Mereka memiliki iman yang teguh: iman kepada Allah yang hidup dan adil. Para wanita di Perjanjian Lama sudah sering mengurus urusan rumah tangga dan perkemahan, maka Yael tahu cara memakai patok kemah dan palu tersebut. Peran Debora dan Yael dalam menyatakan Allah yang hidup dan keadilan Allah seharusnya adalah peran yang dijalankan laki-laki. Suami harus menjalankan kedua tugas ini dalam keluarga, namun pada saat itu Tuhan memakai wanita. Ini karena para lelaki sudah kehilangan identitas.

 

Penutup

            Di sini kita melihat pentingnya disiplin rohani dan hidup supaya anak dan cucu kita tidak menjadi generasi yang terhilang. Setiap kita secara pribadi harus punya disiplin rohani. Pembacaan dan perenungan kita akan Alkitab serta doa harus menjadi hal yang pertama kita rencanakan di pagi hari. Jika kita menunda-nunda maka pada akhirnya di hari itu kita akan melalaikan waktu saat teduh dan ibadah kita. Ibadah keluarga dan pribadi harus ditegakkan dalam keluarga. Disiplin itu harus dibangun dan diterapkan dalam keluarga kita. Jika ini dilalaikan, maka tidak mengherankan jika keluarga kita menjadi generasi yang terhilang. Orang tua Kristen harus memiliki bijaksana dalam bagian ini. Kita para lelaki juga harus menyadari identitas kita dan peran kita sebagai pemimpin rohani di rumah.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami