Kerendahan Hati Yang Sejati (Akulah Yang Paling Berdosa)

Kerendahan Hati Yang Sejati (Akulah Yang Paling Berdosa)

Categories:

Bacaan alkitab: 1 Timotius 1: 15 – 16; 1 Korintus 15: 9 – 10.

 

Pendahuluan

 

Bagaimana cara kita mengukur kerohanian kita atau seseorang?

Melalui firman. Hari ini kiranya kita boleh tahu pertumbuhan kerohanian kita sampai sejauh mana.

 

Apakah kita sudah sungguh memiliki kesaksian yang benar tentang diri kita kepada orang disekitar kita? Atau kita masih menutupi tentang siapa kita?

Salah satu Penginjilan yang paling efektif pada waktu engkau menceritakan bagaimana Tuhan engkau kenal, bagaimana engkau bisa hidup berubah dalam Tuhan.

 

Semua penilaian tentang siapa dirimu di hadapan Tuhan dan sesama manusia, itulah nilai dirimu.

Di sini kita akan belajar bagaimana kita mengevaluasi diri, menilai diri, dan bagaimana kita seharusnya membangun diri dengan tepat dihadapan Tuhan.

 

Hari ini kita akan belajar tentang konsep kerendahan hati daripada rasul Paulus yang mengatakan di antara semua manusia akulah yang paling berdosa, di antara rasul-rasul yang lain akulah yang paling hina. Ketika rasul Paulus berkata aku orang yang paling berdosa, dibalik itu dia berkata: Allah sungguh mengasihi aku, Allah memiliki kesabaran, dan melaluinya aku di proses untuk menjadi contoh bagi orang percaya yang selanjutnya, dan di antara rasul-rasul yang lain aku yang paling hina, tetapi aku yang paling bekerja keras, pada waktu semua berhasil semua hanya karena kasih karunia Tuhan.

 

Pembahasan

 

Dari perkataan Paulus ini, kita menyimpulkan beberapa hal, yaitu:

Pertama, Paulus memiliki kesaksian yang benar tentang siapakah dirinya.

Mungkinkah orang Kristen menutupi jati dirinya? Mungkinkah orang yang sudah lahir baru masih menutupi satu jati diri sesungguhnya? Dengan menutupi jati diri yang kelam di masa lalu, agar dinilai elit oleh orang lain. Menjadi pertanyaan kita, kenapa ada orang Kristen yang bisa menyembunyikan akan statusnya? Sebenarnya orang Kristen tidak harus mempertontonkan jati dirinya untuk mendapatkan belas kasihan orang lain, tetapi minimal pada waktu engkau memberikan kesaksian yang benar tentang siapa dirimu karena engkau sudah dibenarkan oleh Tuhan, engkau memiliki kesaksian yang benar tentang dirimu karena supaya orang lain melihat Tuhan sudah bekerja dengan penuh luar biasa merubah akan dirimu.

Di sinilah kita melihat Paulus tidak malu-malu dengan siapa dirinya. Dia menceritakan dahulu dia penghujat, sudah menangkap banyak pengikut Kristus, sudah memenjarakan begitu banyak pengikut Kristus dalam penjara, dia adalah penghujat yang tidak percaya akan Yesus yang disebut adalah Mesias dan Tuhan. Dia masuk dalam kelompok sanhedrin, ia ada di antara ahli-ahli pemuka agama pada saat itu, tetapi dia menjadi buta secara nilai iman sehingga dia tidak melihat akan rancangan Tuhan yang baru untuk dunia yang sudah gelap ini.

 

Kedua, Paulus berani mengatakan dirinya adalah penganiaya jemaat.

Berarti Paulus membunuh, memukul, menyakiti mungkin saja, tetapi yang pasti Paulus berani menyerahkan dirinya untuk memimpin penangkapan orang-orang pengikut Kristus. Dia adalah orang yang sangat ganas sekali. Ganas di sini berarti memakai istilah Yunaninya seperti binatang buas, seperti singa dan harimau pada waktu melihat rusa atau kerbau kecil, dia tangkap dan cabik-cabik, serta makan sampai habis. Jadi di sini Paulus menilai dirinya seperti orang ganas. Keganasan-keganasan Paulus pada zaman itu seperti keganasan teroris pada zaman ini. Di sinilah kita melihat inilah kesaksian yang benar tentang Paulus. Di dalam bagian ini dia tidak menceritakan dirinya hebat. Orang yang di dalam Tuhan, tidak lagi menceritakan hebatnya. Kenapa demikian? Karena dia menceritakan yang hebat adalah Tuhan, yang besar adalah Tuhan, yang berkuasa adalah Tuhan. Jadi dalam bagian ini kita belajar penilaian siapa dirimu, lihat dari kata-kata yang keluar daripada mulutmu tentang siapa engkau. Didalam bagian ini Paulus tidak menceritakan kehebatannya secara lahiriah, kehebatannya secara status, kehebatannya secara nilai keagamaannya, tetapi dia menceritakan seluruh nilai keberdosaannya. Pertanyaan kita kenapa dia menceritakan ini? Dia ingin mengungkapkan semua ini merupakan satu kelakuan tanpa iman, di luar iman. Paulus pada saat itu ada dalam kelompok sanhedrin, berarti dia adalah orang yang ahli tentang taurat, dia memiliki satu nilai spiritualitas yang baik, dia memiliki satu ketaatan Taurat yang begitu sempurna, maka dia masuk dalam kelompok sahedrin. Tetapi kenapa dia bisa berkata seluruh niat ketika dia menangkap orang-orang Kristen itu merupakan satu kelakuan tanpa iman? Berarti Paulus ingin katakan bahwa agama yang dia jalankan pada saat itu tidak memilliki iman yang benar. Taurat mementingkan manusia menggunakan kekuatan dirinya untuk bisa berkenan kepada Tuhan dan lupa untuk bersandar kepada anugerah Tuhan yang hebat. Di sini Paulus mengatakan agama dia yang lama adalah agama tanpa nilai iman.

Pertanyaan kita mungkinkah agama menyesatkan manusia? Mungkin. Kenapa agama bisa menyesatkan manusia? Di balik ajaran kebaikan, ajaran moral, ajaran tentang hidup kita mungkin bisa lebih bahagia, lebih tenang jikalau semua yang diajarkan tidak berpondasi kepada firman, apa kata hamba Tuhan, apa kata pengalamannya, apa kata orang, apa kata Tuhan. Hal ini menyesatkan manusia. Paulus menyaksikan dirinya, dia dahulu adalah orang yang tersesat didalam keagamaan, dia dahulu tersesat di dalam kegigihan beribadah tanpa mengenal siapa Allah yang sejati itu. Maka dia berani mengatakan semua diluar iman. Bahkan didalam Kisah Para Rasul 7 dikatakan Paulus sangat menyetujui hukuman mati untuk Stefanus pada saat itu. Kita tahu Stefanus dipilih oleh Tuhan untuk melayani pelayanan meja, tetapi pelayanan diakonia pada saat itu dia tahu adalah sesuatu yang lebih penting yaitu pelayanan Penginjilan. Dan Stefanus ditangkap karena memberitakan Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Juruselamat. Banyak orang yang menafsir Paulus menyetujui, artinya jikalau Paulus pada saat itu diminta pendapatnya, dirajam dengan batu atau tidak, maka jikalau Paulus mengatakan: “tidak perlu, masukan saja dalam penjara”, Stefanus pada saat itu akan selamat. Tetapi Kisah Paral Rasul 8 dengan jelas, dan Lukas mencatat dengan jelas Paulus menyetujui hukuman mati yaitu Stefanus untuk dirajam dengan batu. Berarti ini menunjukan kepada kita, Paulus pada waktu dia mengatakan ‘aku penghujat, aku penganiaya, aku orang ganas, dan kalau aku sekarang bisa ditangkap oleh Tuhan, dan kalau aku sekarang bisa diselamatkan oleh Tuhan’, maka dia berani berkata: ‘Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya’. Apa perkataan yang benar? Perkataan yang benar dan patut diterima semuanya adalah seluruh perkataan Alkitab. Alkitab tidak salah dengan isinya, Alkitab tidak salah dengan tulisannya, Alkitab salah pada waktu ada penterjemahan dari bahasa Yunani, Ibrani, Indonesia, ke bahasa-bahasa yang lain. Alkitab secara isi tidak salah karena dipimpin oleh Allah Roh Kudus, Alkitab itu sempurna untuk memimpin iman kita menuju kesempurnaan, Alkitab itu benar untuk memimpin kehidupan kita makin lama lebih benar.

Disini Paulus berani berkata: Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya. Yaitu apa? Mari kita baca: Yesus Kristus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa. Jadi Yesus datang bukan untuk mencari orang yang baik, Yesus datang bukan untuk mencari orang yang merasa suci, Yesus datang bukan mencari orang yang merasa hidupnya tidak ada dosa. Justru disini Paulus disadarkan dosanya. Saat itu Paulus tidak sadar kalau dia orang berdosa, saat itu Paulus tidak sadar dia orang yang bejat, dia penghujat, penganiaya jemaat Tuhan, dia orang yang ganas, tetapi harus dipukul oleh Tuhan dijatuhkan dari kuda itu, setelah buta baru dia sadar akan siapa Tuhan yang sesungguhnya yang harus dia kenal. Paulus memberikan kesaksiannya yang benar tentang seluruh hidupnya khususnya dalam hal kerohanian, dia tidak menceritakan dirinya yang hebat di dalam seluruh pengetahuan dia tentang Taurat, status yang hebat karena menjadi kewarganegaraan Roma pada saat itu.

 

Setelah orang bersaksi dengan benar tentang dirinya berarti dia punya nilai kejujuran, dia punya aspek honesty berkaitan dengan self dan dia punya kejujuran tentang siapa dirinya. Paulus berani berkata dalam 1 Timotius 1: 15, akulah yang paling berdosa. Pertanyaan saya mungkinkah ada pengikut Tuhan yang lebih berdosa dari Paulus pada saat itu? Mungkin. Tetapi kenapa dia berani berkata akulah yang paling berdosa? Ini mengajarkan kepada kita semakin kita mengenal Tuhan, Allah yang penuh anugerah, dan melihat diri kita adalah orang yang paling kecil, yang paling tidak layak menerima anugerah itu, maka kita akan semakin mengenal diri kita tidak layak menerima anugerah itu karena kita orang yang paling berdosa, kita orang yang paling lemah, kita orang yang paling menjadi musuh Tuhan dan kita orang yang paling melawan Tuhan. Kenapa demikian? Karena yang Paulus rindukan adalah mengenal Tuhan di dalam penderitaannya, persekutuannya, mengenal Tuhan dalam seluruh hakekatnya. Paulus yang kecil mau mengenal Tuhan yang besar, dan akhirnya pada waktu dia kenal, dia melihat dirinya yang kecil dan makin kecil, dan dia menganggap orang yang tidak ada apa-apanya. Paulus pun berani berkata: akulah yang paling hina dari semua rasul. Apakah Paulus penzinah? Bukan. Apakah dia perampok? Bukan. Apakah dia penjudi? Bukan. Paulus mengalami kesesatan karena unsur filsafat atau keagamaan. Kita lihat di 1 Korintus  15: 9, Paulus berani berkata: aku yang paling hina. Semakin kita mengenal Tuhan dengan besar, komprehensif, dengan utuh, semakin kita tidak berani membanggakan diri kita lebih dari orang lain. Kenapa banyak orang Kristen sombong? Karena dia tidak mengenal Tuhan dengan tuntas dalam sifat-sifat dan karakter-Nya. Di sinilah kita melihat seharusnya aspek nilai pietis kita, ketaatan kita, kesalehan kita, diikuti dengan kualitas pengenalan akan Tuhan akan membuat kita selalu melihat diri kita itu kecil dan tidak ada apa-apanya.

Pertanyaan kita, kenapa Paulus berkata demikian? “Kesadaran siapa dia di masa lalu dan bagaimana dia sekarang. Ini yang disebut kenangan rohani”. Setiap kita diberikan pikiran, akal budi, perasaan untuk kita bisa punya satu nilai respon emosi. Di dalam bagian inilah Paulus punya kenangan rohani. Kenangan rohani dia adalah dahulu dia penghujat, dia adalah orang yang menganiaya jemaat Tuhan, dia orang yang ganas sekali ingin menangkap, membunuh orang-orang Kristen, tetapi sekarang lihatlah, aku bukan lagi penghujat, aku bukan orang penganiaya jemaat, aku bukan orang yang ganas, tetapi sekarang aku orang yang dipakai Tuhan.

 

Pertama, Apa bedanya kenangan rohani, kesedihan hidup, dan penyesalan tanpa makna? (band, Kej 50:20). Setiap kita punya kepastian keselamatan, mungkin bukan dihitung detik, menit, jam, bulan, tahun. Tetapi minimal satu kondisi yang pernah engkau rasakan engkau punya kenangan rohani yang luar biasa dengan Tuhan dan orang disekitarmu. Kedua, bagaimana kita bisa membedakan kesedihan hidup? Setiap kita boleh mengalami kesedihan hidup, tetapi bukan kita hidup karena kesedihan. Apa bedanya penyesalan tanpa makna? Mungkinkah kita ada orang yang menyesal tetapi tidak bisa berubah lagi? Mungkin. nanti semua ini kita bandingkan dengan Kejadin 50: 20, dimana Yusuf berkata kepada teman-teman-Nya, yaitu kepada kakak-Nya, kepada adik-adik-Nya, dianggap seperti sahabat karena dia posisi-Nya sudah  menjadi raja. Kakak-kakaknya pada saat itu takut sekali karena dia tahu Yakub sudah mati. Jangan-jangan adik kita Yusuf akan balas dendam pada kita. Yusuf berkata kepada mereka: aku tahu engkau sudah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Tuhan merubahnya menjadi kebaikan bagi aku untuk memelihara bangsa yang besar ini. Ini perkataan yang luar biasa, diberikan kenangan, tetapi justru dia mengatakan semua dikaitkan dengan kadaulatan Tuhan dan rancangan Tuhan.

 

Mari kita lihat satu persatu kenangan rohani daripada Paulus. Pertama, Kenangan rohani membuat menghargai anugerah Tuhan. Jadi setiap kita boleh menghidupi lagi kasih mula-mula. Itulah sebabnya Tuhan menegur jemaat di Efesus, di dalam kitab Wahyu ditulis: hai engkau jemaat Efesus, ‘Aku tahu doktrinmu sangat hebat, pengetahuanmu semua tentang Tuhan hebat, engkau ingin mengetahui ajaran sesat dan ajaran tidak sesat engkau hebat, tetapi aku mengkritik kamu karena kamu sudah kehilangan kasihmu yang mula-mula.’ Pada waktu kita punya kenangan rohani, ingat, kenangan rohani yang paling terdalam ketika engkau diselamatkan oleh Tuhan, ketika engkau merasakan kasih mula-mula daripada Tuhan, ditanamkan dalam hatimu, dan engkau menyadari engkau orang berdosa, dan engkau melihat Tuhanlah Juruselamatmu, dan engkau mengambil tekat untuk benar-benar bertobat, engkau sungguh-sungguh ingin meninggalkan semua dosamu, dan jadi pengikut Tuhan, dan kalau itu terus mengingatkan

Di dalam sejarah dicatat bahwa teologi Reformed telah membuktikan dirinya memberikan kontribusi di dalam konsep “Demokrasi” , “Bermasyarakat” , “Pendidikan” dan “Etos Kerja”.

 

Teologi Reformed yang tanpa kompromi berani membela kebenaran, atas serangan-serangan kaum Cult. Telah membuktikan kemurnian pengajarannya dan kekonsistenannya hingga pada saat ini. Kenapa bisa bertahan? Karena kita mempertahankan iman rasuli, kita mempertahankan pengakuan-pengakuan iman dalam sejarah gereja, sampai saat ini kita berdiri teguh melawan penyesat-penyesat.

 

Konsep tentang General Revelation dan Common Grace, telah menjadi keunggulan teologi Reformed dalam menghadapi masalah-masalah culture, science, etic. Bahkan telah memberikan bimbingan dan pencerahan untuk penemuan-penemuan ilmiah hingga jaman modern ini, juga terhadap filasafat New Age dan Postmo, dll. Teologi Reformed merupakan salah satu teologi yang paling tahan uji dan paling unggul untuk memimpin orang Kristen melalui peperangan iman dan memberi petunjuk untuk hari depan umat manusia yang lebih baik lagi. Jadi teologi ini adalah teologi yang membawa kita berpikir futuris, terus kita berpikir bagaimana maju ke depan.

 

Jadi apa yang harus kita perbuat untuk masa depan reformasi?

Mari kobarkan api penginjilan hadir dalam dirimu, mari kita kobarkan semangat pengajaran firman Tuhan, mari kita kobarkan spirit mandat budaya, dan mari kita kembangkan pelayanan musik, pendidikan, dll.

 

Roma 12: 11. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.

 

Amsal 13: 13. Siapa meremehkan firman, ia akan menanggung akibatnya, tetapi siapa taat kepada perintah, akan menerima balasan.

 

Amsal 16: 20. Siapa memperhatikan firman akan mendapat kebaikan, dan berbahagialah orang yang percaya kepada TUHAN.

 

Amsal 11: 30. Hasil orang benar adalah pohon kehidupan, dan siapa bijak, mengambil hati orang.

 

Tuhan memberkati. Amin.

 

(Ringkasan kotbah ini belum diperiksa oleh pengkotbah-YFS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami