Kemuliaan Allah Di Dalam Ibadah

Kemuliaan Allah Di Dalam Ibadah

Categories:

Bacaan alkitab: Yesaya 6: 1 – 5.

 

Kitab Yesaya yang ditulis oleh nabi Yesaya. Nabi Yesaya adalah orang yang dipakai Tuhan untuk menyampaikan kehendak Tuhan melalui mulutnya. Ia mewakili Tuhan untuk menyampaikan apa yang Tuhan mau. Mulutnya itu bagaikan pedang yang menegur raja dan umatnya. Nabi itu kalau bicara tidak bisa berhenti karena mulutnya itu tidak bisa dia tahan, mulutnya itu dikuasai oleh Tuhan. Nabi bicara untuk menyatakan isi hati Tuhan dan kehendak Tuhan. Kadang-kadang kita menjadi hamba Tuhan ada suara nabi dari mulut kami, suara dari hati Tuhan yang harus kami sampaikan kadang-kadang tidak enak, tidak sedap, bisa tersinggung, bisa punya efek samping banyak sekali, tetapi apa boleh buat kalau kami sebagai hamba Tuhan harus bicaranya firman Tuhan. Nabi Yesaya itu bukan nabi kampung, dia nabi yang lahir di kota, nabi yang lahir dan besar di lingkungan istana, bergaulnya juga dengan pejabat-pejabat dan bukan seperti Amos yang dari kampung. Menurut Alkitab ada beberapa commentary itu menafsirkan dia ini adalah sepupu dari raja Uzia. Saya mau menekankan satu hal, memang ini kitab Yesaya menulis bangsa Israel belum dibuang, Yesaya bernubuat akan dibuangnya bangsa Israel karena tegar tengkuk.

Di dalam Yesaya 6, ada perkataan celaka, celaka, celaka. Pemimpin bangsa Israel mulai tidak benar hidupnya, pemimpinnya tahu Tuhan tapi hidupnya justru mencela Tuhan, hidupnya justru mencemooh Tuhan. Kalau kita baca kelakuan-kelakuan bangsa Israel itu menakutkan sekali. Misalnya raja Uzia. Raja Uzia sewaktu dia jadi raja dia adalah raja yang hebat, raja yang membawa kerajaan selatan itu menjadi kerajaan yang makmur, dan paling makmur sepanjang setelah Salomo. Waktu itu kerajaan Israel setelah Salomo mati terpecah menjadi dua. Kerajaan selatan dan kerajaan utara. Kerajaan selatan dipimpin oleh Uzia, raja yang mempunyai pikiran yang jauh ke depan untuk menata kerajaannya. Dia membereskan infrastruktur, dia kuasai pelabuhan, karena perdagangan itu dari pelabuhan, dan dia adalah raja yang memperbaharui senjata perang. Dia memang raja yang membawa kerajaan selatan menjadi kerajaan yang kokoh, ekonomi yang tangguh, dan sukses, makmur sekali ditangan Uzia. Raja Uzia itu dicatat pada ayat 1 pasal ke 6, dalam tahun matinya raja Uzia (pasal ini tentang bagaimana Tuhan memanggil Yesaya). Ada kaitan matinya Uzia dengan panggilan Yesaya. Uzia yang sudah sukses didalam 2 Raja-Raja dan Tawarikh itu mencatat kisahnya juga, cuma waktu Raja-Raja mencatat raja Uzia ini sangat hati-hati, sedikit sekali dicatat tentang Uzia, tetapi kalau Tawarikh itu mencatat seperti ada kehidupan sehari-harinya, itu agak vulgar sebenarnya.

Dalam Tawarikh dicatat Uzia itu waktu dia sukses kemudian dicatat Uzia berubah hatinya menjadi sombong, tinggi hatinya, dia orang yang nomor satu di kerajaan Yehuda, tidak ada yang berani sentuh dia, terus dia punya prestasi, dia orang yang sukses di pemerintahan, dan dia masuk ke dalam bait suci, dia ingin menyalakan korban ukupan. Korban itu tidak seharusnya dia lakukan karena yang melakukan harusnya imam. Imam besar dan imam-imam itu sudah menegur dia, karena itu bagian yang kudus, bagian yang suci, ada imamnya, tetapi Uzia berpikir dia raja, raja bisa melakukan segala sesuatu. Tetapi pada waktu dia mau menyalakan api, Tuhan hukum dia, langsung ada kusta, kemudian ia diusir keluar oleh imam. Lalu raja Uzia mati, matinya memalukan, matinya dalam keadaan penyakit kusta, matinya najis, kira-kira tahun 740 dia mati. raja Uzia mati kemudian muncul Yesaya.

 

Hari ini saya temanya adalah “Kemuliaan Allah didalam Ibadah”. Saya mau ajak saudara sekalian untuk merefleksikan kehidupan rohani kita. Kita setiap Minggu ke gereja bagaimana nanti kita mengukur kerohanian kita? Kita lihat dalam matinya raja Uzia, aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang dan ujung jubahnya memenuhi bait suci. Menarik sekali ini dikatakan: Yesaya melihat Tuhan. Yohanes mengutip juga didalam pasal 12. Waktu Yohanes mengutip dia mengatakan Yesaya itu melihat Yesus. Yesaya melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi menjulang. Apa yang Yesaya maksudkan pada ayat ini? Yang Yesaya maksudkan adalah Yesaya mau mengajak umatnya untuk merubah konsep melihat Tuhan, Tuhan yang bertakhta di surga, Tuhan yang tinggi, ujung jubah-Nya memenuhi bait suci, lalu dilanjutkan dengan ayat 3, seluruh bumi penuh dengan kemuliaan-Nya. Tuhan itu bukan hanya di Bait Suci saja, tetapi Tuhan itu juga hadir di dunia ini. Di sini kita diajak untuk melihat Tuhan itu tinggi, kadang-kadang tidak gampang, kadang-kadang kita melihat Tuhan itu tidak tinggi, kadang kita melihat Tuhan itu rendah sekali. Yang pertama kita melihat Tuhan itu Tuhan yang dalam kemuliaan-Nya adalah Tuhan yang berkuasa, tidak ada satu jengkalpun yang Dia tidak berkuasa. Tuhan berkuasa di bait suci, berkuasa di  bumi, Tuhan yang berkuasa, itu kemuliaan Tuhan. Di dalam dunia ini kemuliaan Tuhan di dalam bait suci, kemuliaan Tuhan di dalam surga. Jadi saudara sebenarnya kita tidak bisa lari dari Tuhan.

 

Kita kadang-kadang juga melihat kemuliaan manusia itu lebih tinggi daripada kemuliaan Tuhan, kemuliaan manusia seperti Uzia ini, raja yang agung sebenarnya, raja yang sukses, makanya waktu Yesaya tulis ayat pertama dikaitkan dengan matinya raja Uzia dia mau memberitahu bahwa pemerintah manusia yang hebat, sehebat apapun itu hanya sementara, manusia yang begitu mulia itu hanya sementara. Jangan tertipu dengan kemuliaan manusia, Tuhan itulah yang paling tinggi, kemuliaan Tuhan itu yang tertinggi, kemuliaan Tuhan itu yang harus kita agung-agungkan, jadi sebelum kita datang ibadah kita perlu mempersiapkah hati, kita datang menghadap kepada Tuhan yang tinggi, Tuhan yang memenuhi bait suci ini, memenuhi ruangan ini, Tuhan yang memenuhi bumi ini, waktu kita datang ibadah kepada Tuhan. Ibadah itu apa maksudnya? Ibadah adalah menandakan bahwa ada hubungan antara kita dengan Tuhan, ada keakraban kita dengan Tuhan, ibadah itu kita datang kepada Tuhan menyatakan siapa diri kita dan siapa Tuhan. Didalam konteks Israel ini, Israel kenal Tuhan, bangsa Israel adalah bangsa yang memang Tuhan pilih, bukan bangsa ini hebat, bukan bangsa ini punya sesuatu yang mulia, ini bangsa yang sama dengan bangsa-bangsa yang lain, Tuhan memilih bangsa ini dan menjadi umat-Nya, dan umat-Nya kenal Tuhan. Tetapi mereka menganggap sepi Tuhan, mencemooh Tuhan, tidak menghormati Tuhan, ini adalah bangsa yang tegar tengkuk, bangsa yang sangat menakutkan sampai Tuhan jijik dengan mereka.

Saudara, kalau kita ibadah jangan lupa, kita ibadah kepada Tuhan yang tinggi, Tuhan yang bertakhta di surga, dan bertakhta di dunia ini, jadi memang harus menghormati ibadah. Yesaya mengajak kepada kita rubah konsep kita melihat Tuhan, Tuhan yang tinggi, Tuhan yang memenuhi bumi harusnya kita menghormati Tuhan. Waktu kita datang beribadah kita ada hubungan keakraban, kemuliaan Tuhan hadir di tempat kita ini, kemuliaan Tuhan hadir di dunia ini, dan kita menghargai Tuhan. Serafim adalah malaikat yang khusus, yang ada disekitar takhta Tuhan, dia berkeliling-keliling, dikatakan ada dua mata. Serafim ini adalah yang melayani Tuhan waktu mau ibadah, malaikat serafim ini adalah malaikat yang siap-siap melayani Tuhan ketika Tuhan ada di takhta dan stand by terus.

 

Disini Yesaya mencatat serafim. Apa bedanya malaikat serafim dan kerubim? Serafim itu adalah malaikat yang dikatakan bersinar, lain dengan kerubim, kerubim itu yang ada di taman Eden yang sedang menjaga Adam dan Hawa tidak masuk kembali, yang pintunya ada pedangnya. Kerubim itu adalah malaikat yang melayani Tuhan, yang akan membasmi orang berdosa, tetapi serafim adalah yang melayani Tuhan di takhta Tuhan itu adalah malaikat yang menggunakan kasih Ilahi Tuhan, memang dia datang kepada orang berdosa, tetapi yang dihabiskan bukan orangnya, yang dihabiskan adalah dosanya. Jadi ini adalah malaikat yang siap melayani Tuhan dalam ibadah. Kita yang melayani Tuhan, kita boleh ikut contoh serafim, stand by untuk melayani Tuhan, siap sedia melayani Tuhan, dan melayani dengan baik. Kita sudah membahas poin pertama, kemuliaan Tuhan yang Tuhan nyatakan dalam kuasa-Nya.

 

Sekarang saya masuk poin kedua yang dimulai dari ayat ke 3. Dan mereka para serafim itu berseru seorang kepada seorang katanya: Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya. Jadi kemuliaan Tuhan ada dalam ibadah ini, Tuhan nyatakan didalam sifat karakter-Nya yaitu kekudusan-Nya. Tuhan tidak nyatakan kebenaran-Nya, Tuhan tidak menyatakan keadilan-Nya, tetapi Tuhan menyatakan kekudusan-Nya. Tuhan itu kudus, kudus-Nya itu sudah sempurna kudusnya, lain dengan kita, kita masih dalam proses kekudusan. Kekudusan Tuhan itu sudah sempurna, maka itu malaikat berseru mengucap kudus, kudus, kudus. Kekudusan Tuhan sudah sempurna dan kekudusan Tuhan tidak bisa diganggu oleh manusia. Waktu malaikat Tuhan mengucap kudus, kudus, kuduslah Tuhan, lalu disambung lagi dengan ayat 4, Maka bergoyanglah alas ambang pintu disebabkan suara orang yang berseru itu dan rumah itupun penuhlah dengan asap.  Di sini ada gangguan. Dalam konteks ibadah itu ada umat yang memang belum sekudus itu, semua masih dalam proses pengudusan, tetapi Tuhan itu kudus, dan Tuhan mau bersama-sama pada umat-Nya. Ini menarik sekali. Tuhan yang disebut kudus terpisah dari manusia, tetapi Tuhan mau berdiam dengan manusia, Tuhan mau menyertai dengan manusia, bersama-sama dengan manusia. Waktu kita ibadah itu ada kekudusan Tuhan yang sudah sempurna hadir ditengah-tengah jemaat yang belum sepenuhnya kudus.

 

Yesaya menuliskan adanya ancaman gempa, bumi digoyang-goyang, dan satu lagi ancamannya adalah asap. Gempa itu adalah peringatan buat kita dan Tuhan pakai asap supaya kita tidak melihat. Tuhan meneror umat-Nya yang tidak kudus untuk menyadarkan jemaat. Kalau Bapak, Ibu datang ibadah namun tidak ada merasa diteror oleh firman Tuhan itu tidak bagus, berarti jangan-jangan hatinya sudah kebal. Justru waktu kita datang beribadah kita datang kepada Tuhan yang kudus, yang maha kudus, kita harus ada rasa itu, rasa diteror, rasa diancam. Bangsa Israel adalah bangsa yang kenal Tuhan, bangsa Israel adalah bangsa yang tidak lagi asing dengan yang namanya ibadah, itu adalah bangsa yang dipilih Tuhan supaya Tuhan pakai bangsa ini untuk menjadi contoh menyembah Tuhan yang benar, dan cara menyembah Tuhan juga benar. Jadi waktu orang kafir melihat orang Israel menyembah, orang kafir bisa tahu Tuhannya orang Israel dan caranya ada mezbahnya, ada bakarannya. Bangsa Israel tidak kurang ibadah, mereka rutin dan rajin ibadah, tetapi mereka kurang kepekaan. Waktu mereka hadir di tengah-tengah Tuhan yang Maha kudus bangsa Israel ternyata adalah bangsa yang tidak takut Tuhan, mestinya hormat kepada Tuhan, karena mereka ibadah terus tiap Minggu, tidak pernah lewat, mau hujan besar mereka tetap ibadah, mau bagaimanapun mereka tetap ibadah. Tetapi mereka kehilangan kepekaan, mereka malah mencela Tuhan, mencemooh Tuhan, mereka menantang Tuhan, mereka tidak takut Tuhan. Ini yang perlu kita refleksikan, jangan merasa firman Tuhan itu membosankan, jangan merasa firman itu membuat kita tidak mau ke gereja, justru harus membuat kita semakin datang kepada Tuhan. Kalau kita datang kepada Tuhan kita harus punya rasa itu, harus ada terror, cuma terornya teror yang positif, teror itu maksudnya menegur dosa kita, terror itu meluruskan hidup kita, firman Tuhan itu menguduskan kita, waktu kita ibadah kemuliaan Tuhan, Tuhan nyatakan, kekudusan Tuhan kita nyatakan waktu beribadah, kita mendengar firman Tuhan, hidup kita itu semakin terus dikuduskan, jangan bosan-bosan dengar firman Tuhan, jangan sampai bosan dengan firman Tuhan dan membuat kita menjadi malas ke gereja, justru itu kita harus datang beribadah kepada Tuhan, kita mau hidup lebih kudus lagi, karena Tuhan kita adalah Tuhan yang kudus. itulah poin kedua, kemuliaan Tuhan yang Tuhan nyatakan didalam kekudusan diri-Nya.

 

Di poin ketiga, “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.” Kemuliaan Tuhan itu mendesak Yesaya sampai Yesaya ada penyesalan dan pertobatan. Kemuliaan Tuhan mendesak kita sampai kita bertobat. Orang bertobat menyatakan kemuliaan Tuhan. Yesaya mengatakan “celakalah aku”, itu adalah pengakuan pribadi dihadapan Tuhan, maksudnya dia tidak mau lagi kekudusan ritual, dia maunya kekudusan moral, dia harus menyatakan dirinya tidak sanggup, dia orang berdosa, saya najis bibir, saya ada ditengah-tengah bangsa ini, saya dijepit, tetapi yang saya rindukan ada satu pengampunan dosa dari Tuhan. Ada penyesalan dalam hidupnya. Yesaya sadar dia adalah orang berdosa, dia tidak sanggup lagi hidup didalam dosa, dan dia semakin dekat dengan Tuhan semakin merasa

tidak layak, dia semakin datang beribadah dia semakin merasa tidak layak, ada perasaan itu, ada penyesalan itu. Ternyata waktu kita melihat kemuliaan Tuhan, melihat kekudusan Tuhan itu kita bisa melihat diri kita. Seperti Calvin katakan kita mengenal Tuhan kita juga mengenal diri kita, waktu kita melihat Tuhan yang kudus, terus kita bisa melihat diri kita, kita ini adalah orang yang harus diberi belas kasihan. Yesaya beribadah bukan rutin, bukan formalitas, dia beribadah ada penyesalan dalam dirinya.

Kita datang kepada Tuhan, beribadah kepada Tuhan bukan kita mau hidup kita itu lebih baik, lebih makmur, lebih sehat, lebih pintar, bukan itu, tetapi kita datang di hadapan Tuhan, kita mengatakan bahwa kita minta pertolongan belas kasihan Tuhan, kita minta pengampunan dari Tuhan atas dosa-dosa kita. Waktu Yesus mengajar, berkhotbah di bukit, Dia mengatakan berbahagialah orang yang miskin dihadapan Tuhan, karena merekelah yang punya kerajaan surga. Yesus memberitahu orang yang disebut miskin itu adalah seperti orang yang dibuang di pembuangan.

Yesaya kasih tahu “celakalah aku”, itu kalau bahasa Ibrani itu aniy, itu adalah orang yang tidak punya harapan, hopeless, karena orang pembuangan, orang yang dibuang dari tempat asalnya ketempat asing, diangkut dengan paksa oleh raja Babel, dan selfless, dirinya sudah tidak punya apa-apa lagi. Musa membawa umat Israel keluar dari tanah Mesir supaya beribadah dengan membawa hati mereka sepenuhnya kepada Allah. Tetapi apa yang terjadi pada zaman Yesaya Justru hati bangsa ini memiliki hati yang sama dengan Firaun, hati yang keras, tidak mau bertobat, hati yang tidak mau datang kepada Tuhan. Saudara sekalian, saya percaya hati kita harusnya kita mempunyai hati yang bisa remuk, hati yang bisa patah, hati yang mau dibawa kepada Tuhan, itulah hati kita semestinya. Waktu kita beribadah kepada Tuhan dan waktu kita dengar firman ada penyesalan yang dalam.

Saya tidak tahu pergumulan apa yang sedang Bapak / Ibu hadapi, dan kita tidak sanggup menghadapi pergumulan itu, tetapi kalau kita datang kepada Tuhan meminta belas kasihan Tuhan, kita mengundang janji Tuhan, kita datang kepada Tuhan meminta Tuhan untuk merubah hati kita, melunakan hati kita, meluruskan hati kita, setiap kali kita ibadah kita boleh diberkati Tuhan. Amin.

 

(Ringkasan kotbah ini belum diperiksa oleh pengkotbah-YFS)

 

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami