Kemenangan yang Membawa Kesedihan

Kemenangan yang Membawa Kesedihan

Categories:

Bacaan alkitab: Hakim-Hakim 11:12-40

 

Pendahuluan

Sampai sejauh mana peranan rasio di dalam mengambil pertimbangan? Terkadang kita bisa mengambil keputusan yang salah karena berdasarkan emosi. Namun terkadang kita bisa salah mengambil keputusan walaupun sudah memakai rasio.  Seharusnya ketika kita sudah percaya kepada Tuhan, kita harus mengambil keputusan berdasarkan Alkitab. Kita harus memikirkan apakah setiap keputusan kita berkenan kepada Tuhan atau tidak. Setiap keputusan yang kita ambil harus merupakan keputusan yang tepat, penting, dan bukan karena keinginan pribadi kita saja.

Mungkinkah seseorang yang dipenuhi Roh Kudus salah mengambil keputusan? Orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus tidak mungkin salah karena Roh Kudus adalah Roh yang sempurna. Roh Kudus akan memampukan kita yang lemah, terbatas, dan tidak mengerti masa depan. Dia pasti membimbing kita dengan hikmat-Nya. Dalam ayat 29 dikatakan bahwa Yefta dipenuhi oleh Roh Kudus, namun dalam ayat selanjutnya ia membuat nazar yang salah.

Mengapa Yefta bernazar tanpa pengetahuan dan lebih karena emosi? Yefta adalah seorang laki-laki yang biasanya lebih mengandalkan rasionya daripada emosinya. Ternyata euforia sesaat itu membuat Yefta salah mengambil keputusan di dalam emosinya.

Bisakah Yefta menebus nazarnya? Imamat 27 menjelaskan tentang penebusan nazar. Mengapa Yefta tidak menebus nazarnya? Mengapa anaknya tidak protes pada nazar ayahnya? Karena nazar Yefta, anak perempuannya tidak bisa menjalin relasi dengan lawan jenis dan tidak bisa menikah. Anaknya juga tidak meminta Yefta untuk menebus nazarnya. Seandainya kita ada di posisi Yefta, apakah kita akan menebus nazar kita? kata ‘apa’ dalam ayat 31 memiliki gender maskulin. Yefta mengharapkan ‘apa’ yang menyambutnya itu bergender laki-laki. Ini bisa merujuk kepada ajudannya, kepala rumah tangganya, atau penjaga rumahnya. Ada penafsir yang mengatakan bahwa Yefta ingin mempersembahkan istrinya, mungkin karena ia ingin menikah lagi. Ini bukan tafsiran yang baik. Kita akan membahas apa nazar itu, mengapa Yefta bernazar, dan mengapa nazar bisa ditebus.

 

Pembahasan

1) Pendekatan Rasio vs Pendekatan Emosi

            Tuhan memanggil Yefta sebagai pahlawan yang gagah perkasa (ayat 1). Ia dipimpin oleh Tuhan sehingga statusnya sebagai orang yang terbuang dan terhina berubah menjadi orang yang sangat dihormati dan sangat dipentingkan oleh tua-tua Gilead (ayat 8). Yefta tidak hanya melihat kepada janji para tua-tua Gilead tetapi membawa semua perkara itu kepada Tuhan (ayat 11). Ini menunjukkan bahwa walaupun Yefta menjadi seorang perampok, ia tetap mempelajari Firman Tuhan. Di tengah situasi itu Yefta tidak menghina tua-tua Gilead yang sudah mengusirnya dan mempermalukannya. Sebaliknya ia mengikat janji dengan para tua-tua dan dengan Tuhan. Ketika ia sudah jelas harus melawan bani Amon, ia tidak langsung melawan mereka dengan kekuatan kekerasan atau kekuatan militer. Yefta mengirim utusan (ayat 12) kepada raja bani Amon. Ia berkata (ayat 12): Apakah urusanmu dengan aku, sehingga engkau mendatangi aku untuk memerangi negeriku? Raja Amon menjawab (ayat 13): Orang Israel, ketika berjalan keluar dari Mesir, telah merampas tanahku, dari sungai Arnon sampai ke sungai Yabok dan sampai ke sungai Yordan. Maka sekarang, kembalikanlah semuanya itu dengan jalan damai. Yefta menjelaskan sejarah dan mengingatkan raja Amon bahwa nenek moyangnyalah yang memulai peperangan itu (ayat 15-22). Yefta sebagai orang yang terbuang dan perampok ternyata mengerti sejarah dengan baik. Apa yang dikatakannya mengenai sejarah Israel itu tepat seperti apa yang Alkitab katakan. Di sini Yefta memakai pendekatan persuasif dan rasio. Mengapa ia memakai pendekatan ini? Mengapa ia tidak langsung saja menyerang bani Amon? Di sini kita belajar bahwa Yefta sudah berubah. Ia tidak memakai pendekatan perampok. Jadi Yefta bukanlah pemimpin yang sembarangan dikendalikan oleh emosinya. Yefta tidak menginginkan pertumpahan darah, oleh karena itu ia mencoba pendekatan persuasif.

 

Kendati demikian, raja bani Amon menanggapi dengan keras kepala karena emosi. Ia merasa memiliki kerajaan yang besar, kedudukan yang begitu tinggi, jumlah rakyat yang banyak, dan persenjataan yang lengkap. Baginya mengalahkan orang-orang Gilead adalah suatu hal yang kecil. Raja Amon begitu sombong dan tidak mau mengerti kenyataan. Setiap pemimpin yang membenarkan diri berdasarkan hal-hal yang salah dan tidak mau mendengarkan fakta adalah pemimpin yang sombong. Pemimpin seperti ini mudah ditipu karena kurang berhikmat. Mengapa raja bani Amon hanya percaya kepada pendapatnya sendiri? Mengapa ia tidak meminta para ahli sejarah untuk menyelidiki dengan cermat? Ini karena raja Amon begitu sombong sehingga ia tidak mau mendengarkan saran. Ia tidak mau belajar dari sejarah. Pemimpin yang tidak rendah hati seperti ini akan cepat jatuh. Yefta sudah memakai pendekatan yang baik namun raja Amon menolaknya. Setelah itu Yefta baru membuat rencana untuk berperang secara fisik.

 

2) Roh Kudus dan Emosi Yefta

Mungkin Yefta merasa khawatir karena jumlah pasukannya terlalu sedikit dibandingkan jumlah pasukan Amon dan karena ia belum pernah menjadi panglima besar. Namun Roh Allah memenuhi hati Yefta (ayat 29) sehingga ia memiliki keberanian. Ia berjalan melalui daerah Gilead dan daerah Manasye, kemudian melalui Mizpa di Gilead, dan dari Mizpa di Gilead ia berjalan terus ke daerah bani Amon (ayat 29). Roh Kudus memimpin keberanian Yefta dalam peperangan yang suci. Pimpinan Allah Roh Kudus dalam hidup kita selalu berkaitan dengan kesucian, kebenaran, dan hidup yang diserahkan demi Injil. Namun setelah itu Yefta menjadi terlalu percaya diri sehingga di dalam euforianya ia mengucapkan suatu nazar: Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu ke dalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi kepunyaan TUHAN, dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran (ayat 30-31). Nazar ini dibuat tanpa pengetahuan dan hanya dengan emosi. Amsal 20:25 Suatu jerat bagi manusia ialah kalau ia tanpa berpikir mengatakan “Kudus”, dan baru menimbang-nimbang sesudah bernazar. Kita harus menimbang nazar kita dengan pikiran yang matang agar kita tidak salah bernazar dan berdosa. Setiap nazar yang kita ucapkan harus berkaitan dengan tujuan kemuliaan Tuhan. Nazar kita bukanlah untuk menyedihkan hati Tuhan tetapi agar kita bisa menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita. Jika nazar kita tidak ditujukan untuk menyenangkan hati Tuhan, maka nazar kita bukanlah untuk kemuliaan Tuhan. Kalau kita bernazar untuk tidak memakan makanan tertentu hanya demi menguruskan badan, maka itu bukanlah nazar untuk Tuhan tetapi untuk diri sendiri saja. Nazar yang kita buat harus selalu berkaitan dengan kemuliaan Tuhan. Kalau kita bernazar untuk menjadi lebih serupa Kristus, itu adalah nazar yang benar.

 

Yefta mengucapkan nazar yang antroposentris. Seandainya Yefta tidak bernazar, ia akan tetap menang. Orang yang sudah dipenuhi oleh Roh Kudus tetapi bisa lupa menjaga kesucian dalam nilai emosi, sikap, dan pengetahuan. Kita harus berdoa meminta kepenuhan Roh Kudus berarti kita harus berjalan dalam kesucian dan terang Tuhan supaya hidup kita mewakili kebenaran Tuhan. Yefta bernazar tanpa pengetahuan. Ia berniat untuk mempersembahkan manusia sebagai korban bakaran, padahal ini tidak dikehendaki oleh Tuhan. Ia melakukan itu karena gerakan emosi. Jadi salah satu kelemahan Yefta adalah mulutnya. Amsal 18:21 Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya. Orang yang memilih untuk terus diam juga bersalah karena tidak berani menyelesaikan masalah. Jadi orang pendiam juga bisa jatuh ke dalam dosa karena emosi. Kita harus mengatakan kebenaran dengan porsi yang cukup. Kata-kata kita harus membawa damai dan memiliki makna, bukan kesia-siaan. Terlalu banyak bicara tidak mungkin membuat kita berhasil sebagai agen perubahan, terutama sebagai orang tua. Yefta seharusnya mengerti bahwa nazar itu bukanlah tentang dirinya sendiri tetapi tentang Tuhan.

 

3) Sukacita yang Membawa Kesedihan

            Di dalam peperangan itu, Tuhan memberikan bani Amon ke dalam tangan Yefta. Setiap kota bani Amon dikalahkan oleh Yefta. Rakyat melihat Yefta sebagai pahlawan yang gagah perkasa. Yefta bisa saja menyuruh ajudannya pergi ke rumah Yefta dan mengatur agar orang yang diinginkannya menyambutnya terlebih dahulu. Sebelum presiden mengunjungi suatu daerah, ia bisa mengutus ajudannya untuk mengatur segala sesuatu termasuk orang-orang yang menyambutnya. Mengapa Yefta tidak mengatur orang-orang yang menyambutnya? Yefta mau semuanya berjalan secara natural. Ternyata anak satu-satunya menyambut dia di rumahnya. Anaknya menyambut Yefta dengan rebana dan tari-tarian dengan sukacita. Itu membawa kesedihan bagi Yefta karena nazarnya. Dalam ayat 31, kata ‘dan’ (bahasa Ibrani: vav) sebagai kata disjungtif bisa diterjemahkan sebagai ‘atau’. Jadi 1 objek bisa memiliki 2 makna dalam bagian ini. Kalimat ‘Pak Tumpal pergi naik ke gunung’ bisa memiliki 2 makna yaitu ‘Pak Tumpal pergi ke gunung dan naik ke gunung’. Di Indonesia ada beberapa gunung yang memiliki helipad. Jadi orang yang naik ke gunung itu bisa melalui 1 dari 2 cara ini: berjalan kaki atau dengan helikopter. Pada waktu Yefta pulang, ia bersedih karena nazarnya. Anak perempuan Yefta rela menjalankan nazarnya. Ia berkata (ayat 37): berilah keluasan kepadaku dua bulan lamanya, supaya aku pergi mengembara ke pegunungan dan menangisi kegadisanku bersama-sama dengan teman-temanku. Yefta dan anaknya bersedih dalam bagian ini. Dalam ayat 31, kata ‘apa’ memiliki bentuk maskulin. Jadi Yefta sebenarnya menginginkan seorang laki-laki menyambutnya ketika ia pulang. Orang itu mungkin ajudannya, kepala rumah tangganya, atau penjaga rumahnya. Alkitab tidak memberitahu kita. Alkitab tidak pernah mengizinkan persembahan manusia sebagai korban bakaran. Kita bisa melihat paralel ayat dengan kata ‘vav’ disjungtif dalam: Keluaran 20:4; 21:15, 17, 18; dan Bilangan 16:14. Dalam ayat 31 dikatakan bahwa apa yang menyambut Yefta pertama kali akan menjadi kepunyaan Tuhan dan menjadi korban bakaran. Di dalam Perjanjian Lama, korban bakaran adalah hewan. Namun ‘kepunyaan Tuhan’ merujuk kepada manusia. Jadi di sini kita melihat bahwa Yefta kurang pengetahuan. Sukacita atas kemenangan Yefta justru mengantar pada kesedihan yang mendalam baginya.

 

4) Penggenapan Nazar dan Pemulihan Hati

Mengapa Yefta tidak menebus nazarnya? Mengapa anak Yefta tidak meminta untuk ditebus? Sebenarnya nazar ini bisa ditebus (Imamat 27). Mengapa anaknya meminta izin selama 2 bulan? Bisakah dalam 2 bulan itu Yefta berdoa agar anaknya mendesaknya untuk mengubah keputusannya? Yefta sebagai seorang hakim dan pemimpin Israel harus melakukan seluruh hal yang dikatakannya. Apa yang ia janjikan harus ia genapi sebagai pemimpin yang berintegritas. Mengapa anaknya mengembara selama 2 bulan di pegunungan? Karena pegunungan merupakan tempat yang baik dan sunyi untuk berdiam. Ayat 37 menyatakan bahwa anak Yefta menangisi kegadisannya, bukan kematiannya. Jika ia menangisi kematiannya, maka jelas bahwa Yefta akan membakarnya hidup-hidup. Anak Yefta menangisi kegadisannya karena ia tidak bisa menikah seumur hidup. Anak Yefta rela menjadi pelayan Tuhan yang tidak menikah. Teologi Reformed berkesimpulan bahwa Yefta tidak mempersembahkan anaknya sebagai korban bakaran. Yefta tidak mempersembahan anaknya menjadi korban bakaran karena Allah menolak perkara ini (Mazmur 106:35-38; Yesaya 57:5, Keluaran 38:8). Pengikut Baal mengizinkan persembahan manusia, namun pengikut Tuhan memberikan persembahan hewan. Dalam Perjanjian Baru, Roma 12:1 berkata Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Dari kejadian ini muncul sebuah adat baru di mana anak-anak perempuan orang Israel selama empat hari setahun meratapi anak perempuan Yefta, orang Gilead itu (ayat 40). Sebagai orang tua secara umum kita pasti ingin anak-anak kita menikah dan memiliki anak. Kita pasti senang jika bisa menggendong cucu. Alkitab menyatakan bahwa jika kita tidak mau menikah karena mau fokus melayani Tuhan, maka itu adalah hal yang mulia (1 Korintus 7:32). Kita memilih untuk tidak menikah bukan karena alasan-alassan antroposentris karena itu bukan kehendak Tuhan. Pernikahan itu suci dan merupakan anugerah Tuhan bagi manusia.

 

Penutup

Janji Allah tidak akan berubah, walaupun ada janji kita atau nazar kita. Kita tidak boleh memaksa Tuhan dengan nazar kita. Tuhan sudah memberikan banyak janji dan Ia menuntut ketaatan kita. Kita cukup menjalankan perintah Tuhan, tidak perlu sampai membuat banyak nazar. Ada seseorang yang bernazar untuk mencukur rambutnya atau tidak memotong janggutnya demi mendapatkan nilai yang baik karena ia hampir drop out. Ini bukanlah nazar yang ditujukan untuk pekerjaan Tuhan. Kita seharusnya memikirkan bagaimana kita bisa menjalankan seluruh perintah Tuhan. Segala hal yang berkaitan dengan diri kita adalah komitmen dan bukan nazar. Doa kita harus meliputi kerinduan agar diri kita dan keluarga kita dipakai oleh Tuhan dalam pekerjaan-pekerjaan-Nya. Tuhan sudah memberikan janji penyertaan dan janji pemeliharaan. Ia adalah Gembala Agung dan kita adalah domba-domba-Nya. Tugas kita adalah taat mendengarkan suara-Nya. Oleh karena itu kita harus konsisten membaca, merenungkan, dan menerapkan Alkitab. Iman harus mengarahkan rasio dan emosi dalam mengambil keputusan. Sebagai orang Kristen, kita bukan dipimpin oleh rasio atau emosi tetapi oleh iman berdasarkan Firman Tuhan. Firman Tuhan menyucikan rasio dan emosi kita sehingga keputusan kita tidak salah. Kita tidak boleh terlalu cepat berjanji. Segala sesuatu harus diuji dalam pimpinan Tuhan. Segala janji yang sudah kita katakan kepada Tuhan harus digenapi. Itu adalah bagian dari integritas kita. Apakah sebagai orang tua kita pernah mempersembahkan anak kita untuk Tuhan? Apakah kita pernah berjanji untuk memakai sebagian uang kita demi pekerjaan Tuhan? Tuhan akan selalu memelihara kita yang mau setia dan mau mempersembahkan apa yang kita punya untuk kemuliaan Tuhan. Tuhan kita itu hidup dan selalu menyertai kita. Oleh karena itu kita tidak boleh pelit untuk pekerjaan Tuhan. Kita harus mengatur keuangan kita sebaik mungkin karena semua itu harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Jangan sampai kita terjebak dalam dosa pemborosan, dosa kemanjaan, dan dosa membuang waktu. Setiap orang yang sudah berjanji untuk menjadi hamba Tuhan tidak boleh meninggalkan janji itu. Tuhan pasti mencukupkan dan menopang mereka yang berserah kepada-Nya.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami