Kemenangan atas Emosi yang Tidak Suci (Yusuf)

Kemenangan atas Emosi yang Tidak Suci (Yusuf)

Categories:

Bacaan alkitab: Kejadian 39:1-6 dan Kisah Para Rasul 7:9.

 

Pendahuluan

Pernahkah kita mengalami kesedihan yang mendalam karena terpisah dengan orang yang kita kasihi? Setiap peristiwa yang terjadi yang Tuhan izinkan itu bisa dipakai untuk membentuk kita. Melalui peristiwa-peristiwa yang tidak kita inginkan terjadi, di sanalah iman dan emosi kita diuji dan dibentuk. Manusia tidak berkuasa atas waktu dan tidak ada yang bisa mengembalikan waktu. Waktu ada sepenuhnya dalam kendali Tuhan. Tugas kita yang hidup di dalam kronos adalah menangkap kairos. Setiap hal yang bersifat kronos akan terus menghisap kita, namun bagaimana kita bisa menangkap kairos Tuhan, itulah yang penting dan itulah tugas kita. Tuhan berdaulat membentuk iman dan emosi kita di dalam waktu. Ketika kita salah bersikap, kita bisa kehilangan penyertaan Tuhan. Yusuf menang menghadapi setiap emosi yang tidak suci yang muncul di dalam kehidupannya. Ia terpisah dari keluarganya karena kakak-kakaknya. Tentu ada kesedihan yang mendalam dan mungkin ada kemarahan. Mungkinkah pertumbuhan emosi seorang Kristen mengalami kehancuran (gagal)? Kesedihan yang mendalam dan penderitaan yang sangat kuat itu mungkin menghancurkan pertumbuhan emosi kita, namun itu bukan rancangan Tuhan. kegagalan itu bisa terjadi dalam hidup kita. Petrus mengalami kegagalan saat ia menyangkal Tuhan yang sedang disalib. Setelah itu Tuhan memproses emosi Petrus sehingga menyatu dengan emosi Tuhan dan ia menjadi orang yang siap mati bagi Tuhan. Terkadang Tuhan mengizinkan kita gagal dalam mengelola emosi kita tetapi kemudian Tuhan akan turut campur dalam pertobatan kita. Bagaimana kita tahu bahwa seseorang sudah memiliki kematangan dalam emosinya? Emosi tidak berdiri sendiri ketika matang. Emosi itu berkaitan dengan karakter kita dan iman memengaruhi semua itu termasuk pikiran. Urutan yang benar adalah: iman, pikiran, emosi, dan tindakan. Apa rahasia Yusuf dapat mengelola emosi yang suci? Ia memiliki kualitas pengenalan akan Tuhan. Apakah ada kaitan antara iman dan emosi seseorang? Kita akan membahas ini secara mendalam.

 

Pembahasan

Kita harus mengenal gejolak emosi (pemuda). Yusuf masih pemuda saat itu, mungkin sekitar 21-27 tahun. Apakah setiap remaja atau pemuda memiliki gejolak emosi? Setiap kita punya gejolak emosi. Setiap orang memiliki bagian yang berbeda-beda tergantung umur dan konteks. Pertama, setiap kita bisa marah. Mengapa orang tua bisa marah kepada anak? Di dalam kota ada begitu banyak masalah yang bisa membuat kita marah. Jika kita terus menerus dikuasai gejolak kemarahan, maka kita akan lebih mudah sakit dan meninggal. Kita boleh memiliki kemarahan yang suci dan benar. Yesus pernah marah di bait Allah (Matius 21:12-13). Ia memarahi mereka yang berdagang dan mencari keuntungan di bait Allah. Kemarahan Yesus adalah karena kesucian. Setiap anak kecil juga memiliki gejolak marah yang diekspresikan secara berbeda-beda. Kita tidak mungkin terlepas dari kemarahan sama sekali. Setiap kemarahan kita harus dikaitkan dengan kebenaran, kesucian, dan keadilan Tuhan. Ketika bencana alam datang dan ada orang-orang yang memanfaatkan situasi itu dengan mencuri, itu pasti membuat kita sangat marah. Ketika pemerintah berani untuk menegakkan keadilan dan menjalankan hukum bagi yang pantas menerimanya, kita akan merasa senang. Ketika kita marah, kita harus juga memikirkan solusi yang bisa dipakai oleh Tuhan.

Kedua, kita juga punya gejolak kesedihan. Kita bersedih ketika harus kehilangan barang yang kita sayangi atau kehilangan orang yang kita kasihi. Yusuf pasti merasa sedih karena harus berpisah dengan ayahnya dan adiknya. Kendati demikian, Yusuf tidak ditelan oleh kesedihan dan dikuasai olehnya.

Ketiga, gejolak cinta. 1 Korintus 13 mengajarkan tentang kasih. Tuhan sudah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dengan mengorbankan diri-Nya di atas kayu salib. Ini mengajarkan kita untuk mengasihi Tuhan dan sesama. Di sini kita belajar berkorban demi orang lain di dalam kasih. Setiap manusia memiliki gejolak cinta. Cinta yang salah adalah cinta yang mau menguasai dan mengikat serta menyesatkan. Alkitab menyatakan bahwa cinta itu kuat bagaikan maut (Kidung Agung 8:6). Sikhem mencintai Dina dengan cinta eros (Kejadian 34:1-4). Ia melakukan kejahatan yaitu memerkosa Dina sampai akhirnya seluruh laki-laki di kota itu dibinasakan oleh Simeon dan Lewi (ayat 25). Kita harus bisa mengelola cinta dengan baik. Ada pemuda-pemuda yang bunuh diri dan berhenti kuliah dengan alasan cinta. Ini cinta yang menyesatkan. Namun cinta bisa memberikan hal yang positif jika cinta itu tepat dalam waktu Tuhan dan dalam pengertian yang benar.

Keempat, gejolak iri. Media sosial bisa membuat orang merasa iri. Ketika media sosial menawarkan barang-barang yang terbaru dan penampilan-penampilan yang terbaru, orang-orang yang tidak memiliki penguasaan diri dan rasa bersyukur akan terbawa hanyut. Gejolak iri itu mengakibatkan para bapa leluhur menjual Yusuf. Kita harus berhati-hati terhadap dosa ini. Iri bisa membuat kita kehilangan hati nurani. Iri bisa mendorong kita untuk melenyapkan pesaing kita sehingga kita menjadi orang yang jahat. Kelima, ada gejolak jengkel dan kecewa. Kita bisa kecewa karena ada orang yang lebih berhasil daripada kita. Kita bisa jengkel bila apa yang kita kerjakan tidak berhasil. Keenam, kita memiliki gejolak malu. Kita bisa malu karena sering membandingkan diri dengan orang lain lalu menemukan bahwa orang lain terlihat lebih baik daripada kita. Kita bisa malu ketika merasa diri tidak sehebat orang lain yang ditampilkan di media sosial. Kita seharusnya malu jika hidup kita tidak dipakai oleh Tuhan. Kita seharusnya malu jika hidup kita tidak berarti bagi Tuhan. Kita seharusnya sadar bahwa kita tidak perlu malu karena hal-hal lahiriah. Itu rasa malu yang tidak suci. Ada orang-orang yang malu karena pasangannya yang terlihat kurang cantik atau tampan. Inilah penyakit zaman modern. Di dalam zaman ini juga ada gejolak pemberontakan. Anak-anak bisa memberontak terhadap orang tuanya karena mereka dirinya tidak diberikan barang sebaik anak-anak lain. Istri bisa memberontak terhadap suami karena merasa belum diberikan barang yang mahal atau belum diajak ke luar negeri. Ada pekerja yang memberontak karena merasa pekerja di tempat lain mendapatkan gaji dan fasilitas yang lebih baik. Di zaman ini juga ada banyak orang yang mengasihi diri. Di kota ada banyak tempat hiburan karena ada banyak orang yang frustrasi dan kemudian mengasihi diri. Kita boleh mengasihi diri, namun jika kasih itu membuat kita tidak lagi melihat kepada Tuhan, maka sebenarnya itu adalah kasih yang salah. Hal yang rohani itu jauh lebih penting daripada fisik. Kita boleh memerhatikan hal lahiriah namun itu bukan yang paling utama. Kita semua memiliki gejolak emosi yang berbeda-beda. Emosi itu adalah anugerah dari Tuhan dan kita harus bisa mengemasnya dengan pikiran kita sehingga emosi itu bisa diekspresikan dengan suci.

Kita akan belajar 4 hal tentang kekudusan emosi Yusuf. Pertama, tidak marah kepada kakak-kakaknya. Layakkah Yusuf marah kepada mereka? Layak. Mengapa ia tidak marah? Bukankah setiap kita memiliki potensi untuk marah? Padahal gejolak emosi anak muda biasanya labil dan bisa tidak terkontrol. Hal yang menarik adalah Yusuf tidak dicatat histeris ketika dijual kepada orang-orang Ismael. Dia tidak histeris di rumah Potifar dan tidak meminta pulang. Ia berhak untuk marah tetapi tidak marah dan dendam. Ketika pada akhirnya Yusuf sebagai pemimpin Mesir bertemu dengan kakak-kakaknya yang mau membeli makan, ia pun tidak marah. Ia mengerti pengampunan dan melihat bahwa semua ini ada di dalam waktu dan kontrol Tuhan. Di sini Yusuf menunjukkan emosi yang suci. Ketika Yesus ditangkap, dihina, dicambuk, dan disalib, Ia tidak marah (Lukas 23:34). Ia tidak marah karena Ia mengerti bahwa Ia harus menebus manusia berdosa. Ketika Stefanus dilempari batu, ia tidak marah (Kisah Para Rasul 7:60). Ia melihat kemuliaan Tuhan di tengah situasi kesakitan seperti itu (ayat 59). Di sini kita belajar untuk tidak cepat marah karena kerugian materi, dipermalukan, dan terganggu dalam hal kenikmatan. Yakub sangat mengasihi Yusuf dan ia sangat sedih saat berpikir bahwa Yusuf sudah mati. Yusuf juga pasti sedih dan ia berhak untuk marah kepada semua kakaknya namun kemarahan itu tidak tercatat. Ia bisa melewati semua itu dengan baik dan ia disertai Tuhan. Kunci kemenangan iman Yusuf dalam melewati setiap pergumulan adalah kekudusan emosinya.

Kedua, ia menerima status sebagai budak. Yusuf adalah anak yang paling dikasihi di rumahnya. Ia mendapatkan jubah yang terbaik dari ayahnya. Ia diperlakukan dengan baik di kemah Yakub. Namun sekarang ia menjadi budak. Budak tidak memiliki hak pribadi. Ia harus siap sedia bekerja 24 jam sehari. Ia harus tinggal bersama budak-budak lainnya dan tidak bisa lagi menikmati kenikmatan yang ia bisa dapatkan di kemah Yakub. Kendati demikian, ia menerima status budaknya itu dengan rela. Yusuf pasti memerhatikan mimpi yang ia pernah ceritakan kepada keluarganya. Itu menjadi visi hidupnya. Ia mengerti bahwa ada kedaulatan Tuhan dalam hal ini. Iman Yusuf membuatnya bisa menyikapi segala hal dengan benar dan rela. Ia bukan anak muda yang cepat emosi dan bukan pekerja yang cepat menggerutu. Yusuf sesungguhnya bisa meminta untuk dikembalikan kepada ayahnya yaitu Yakub. Yusuf bisa menjanjikan uang kepada Potifar jika ia mau, namun Yusuf tidak melakukan itu. Alkitab menyatakan bahwa kita adalah doulos (budak) Tuhan (Roma 6:18). Ini karena hidup kita sudah menjadi milik Tuhan. Kita sudah dibeli dan ditebus sehingga kita tidak lagi memiliki hak untuk diri sendiri karena kita adalah budak kebenaran Tuhan. Status tersebut tidak membuat kita merasa terhina. Hidup kita adalah titik alfa dan bukan omega. Ada banyak orang sukses yang dahulu merupakan orang miskin yang berjuang sungguh keras di dalam hidupnya. Mental mereka begitu kuat. Kuncinya adalah tidak marah dan tidak berdosa dengan keberadaan kita. Ada banyak orang bisa maju karena mendapatkan penyertaan Tuhan dan memberikan respons yang tepat yaitu tidak marah dengan statusnya. Banyak pemuda marah karena statusnya sehingga mereka terus berusaha dan memberontak agar terlepas dari statusnya. Tidak menerima diri dan tidak bersyukur itu bisa membuat kita kehilangan damai dan kenyamanan. Yusuf merasa nyaman karena ia menerima statusnya. Ia merasa damai karena menerima dengan rela. Ia bersukacita karena melihat bahwa ini adalah program Tuhan. Kematangan emosi kita dalam menghadapi berbagai pergumulan akan mendatangkan berkat atas diri kita karena ada penyertaan Tuhan.

Ketiga, Yusuf menjadi pekerja keras (full heart dan full commitment). Di Mesir, budak memiliki tempat tinggal sendiri di luar. Ada budak yang memiliki jabatan kepala rumah tangga. Setelah Potifar melihat kualitas pekerjaan Yusuf, ia mau Yusuf tinggal di dalam rumahnya. Ini berarti jabatannya naik. Dari budak yang biasa, ia menjadi budak yang khusus. Yusuf dijadikan kepala rumah tangga yang mengatur segala hal di dalam rumah Potifar. Ladang-ladang Potifar pun juga diberkati Tuhan. Potifar tidak perlu lagi mengatur apapun karena semuanya sudah dikerjakan oleh Yusuf dengan baik. Dari mana Yusuf belajar semua ini? Ia tidak pernah pergi ke tempat studi khusus untuk hal ini. Yusuf disertai oleh Tuhan sehingga menjadi berhasil. Hikmat dan kepintaran Yusuf adalah anugerah Tuhan karena ia takut akan Allah. Ia menjadi pekerja keras. Pekerja Kristen yang baik selalu memiliki hati dan komitmen untuk apa yang dikerjakannya. Jika kita hanya memikirkan gaji dan fasilitas maka kita sudah salah. Kita pertama-tama harus melihat pekerjaan sebagai anugerah. Seluruh tanggung jawab kita harus dipersembahkan kepada Tuhan. Yusuf telah menjadi saksi bagi Tuhan karena Potifar melihat keberhasilan Yusuf datang dari penyertaan Tuhan. Banyak orang Kristen tidak diberikati oleh Tuhan karena terus berfokus pada harta. Uang bukanlah segalanya, tetapi penyertaan Tuhan adalah segala-galanya. Kita bisa memiliki uang yang banyak namun jika kita tidak memiliki damai maka itu sia-sia. Yusuf sebagai budak tidak mendapatkan gaji, kesempatan cuti, dan bonus. Mengapa ia mau bekerja keras? Karena ia melihat semua ini sebagai anugerah Tuhan dan ia mau menjadi saksi Tuhan di sana. Yusuf bukanlah orang yang lulus dari perguruan tinggi namun ia berhasil dalam kerja kerasnya. Di sini kita belajar untuk tidak langsung meremehkan orang-orang yang tidak sekolah tinggi. Jika mereka bekerja keras dan takut akan Tuhan, maka Tuhan bisa membuat mereka menjadi orang yang sukses. Gelar bukanlah kunci kesuksesan tetapi penyertaan Tuhan adalah kunci kesuksesan. Jika kita mendapatkan kesempatan untuk belajar, maka kita harus mengambilnya. Di sana kita bisa menyatakan kebesaran Tuhan. Yusuf tidak terikat dengan kesedihannya yang dapat memengaruhi nilai kerjanya. Yusuf pasti ingin bertemu dengan keluarganya, namun ia tidak pernah meminta cuti dari Potifar dan pulang ke rumahnya. Ia meredam kerinduan dan keinginannya. Seorang pekerja Kristen yang baik selalu mengusahakan kualitas yang terbaik dalam nilai kerjanya. Ia tidak membiarkan emosi menghancurkan tanggung jawabnya.

Terakhir, Yusuf sabar dalam menanti waktu Tuhan, yaitu visi hidup melalui mimpinya. Yusuf sebagai budak biasa membutuhkan waktu paling sedikit 1-2 tahun sampai ia mendapatkan jabatan sebagai kepala rumah tangga. Di tengah proses ini perlu ada kesabaran di dalam waktu ia menunggu visi dari Tuhan. Ia sabar dalam mengalami pembentukan Tuhan sampai ia bisa menjadi pemimpin yang penting. Ia sabar dan tidak segera memberontak di rumah Potifar. Semuanya ia tunggu dengan sabar di dalam waktu Tuhan. ia sabar di dalam Tuhan dan menghargai statusnya. Ia tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain di dalam prosesnya. Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Mesias ketika berumur 30 tahun karena di dalam hukum Yahudi, seorang pemimpin yang handal harus berumur 30 tahun. Yusuf bersabar dan tidak mau mendahului waktu Tuhan karena emosi yang tidak suci. Ia memiliki relasi yang baik dengan Tuhan sehingga ia bisa terus sabar. Ia tidak bosan karena ia selalu berelasi dengan Tuhan. Seseorang bisa bosan dan tidak sabar karena tidak berelasi dengan Tuhan. Orang yang seperti ini tidak mengerti waktu Tuhan dan ingin mempercepat waktu Tuhan. Ini adalah hal yang berbahaya. Tuhan mengatur segala sesuatu di dalam alam dengan hukum alam. Ketika Tuhan sudah mengatur bahwa anak harus dikandung selama 9 bulan, kita sebagai manusia tidak bisa mempercepat atau memperlambatnya. Di sini kita harus melihat kontrol dan kedaulatan Tuhan serta menunggu waktu Tuhan dengan sabar di dalam emosi yang suci. Tuhan sangat sabar dalam menanti pertobatan kita. Tuhan Yesus begitu sabar dengan Yudas yang pada akhirnya mengkhianati-Nya. Tuhan masih menegur kita karena Ia masih bersabar dan mau membimbing kita. Roh Kudus terus mengingatkan kita agar tidak berdosa. Di sana kita harus memiliki kepekaan. Mental anak muda biasanya tidak tahan dengan pencobaan atau kesulitan yang sifatnya jangka panjang, namun Yusuf bisa tahan. Ia bekerja sebagai budak dan mengurus ladang karena sedang dipersiapkan Tuhan sebelum ia menjadi pemimpin Mesir yang harus menghadapi masa kelaparan selama 7 tahun. Terkadang langkah-langkah kecil yang kita hadapi itu merupakan satu persiapan sebelum kita mendapatkan perkara yang besar. Semua yang dikerjakan Yusuf itu berhasil sehingga Potifar tidak perlu lagi memikirkan urusan di rumah. Di dalam Mazmur 1:3 dikatakan bahwa orang yang diberkati itu bagaikan pohon yang ditanam di tepi aliran air yang selalu berbuah pada waktunya. Kunci dari penyertaan Tuhan dan berkat Tuhan adalah karena kita selalu dekat dengan Firman-Nya. Yusuf bergaul dekat dengan Tuhan sehingga ia bisa mengerti kehendak Tuhan. Mazmur 1 mengingatkan kita untuk selalu menghasilkan buah, baik dalam iman dan karakter kita. Kita harus berdoa memohon hikmat agar kita dapat mengerjakan segala sesuatu dengan baik dan menghasilkan buah yang menjadi kesaksian. Yusuf bertahan sebagai budak dan membuktikan diri sebagai orang yang berhikmat.

Penutup

Kita melihat bahwa ada kemenangan iman Yusuf atas gejolak emosi yang tidak suci yang menjadi kunci rahasia dimana Yusuf mendapatkan penyertaan Tuhan. Terkadang ketika kita menghadapi masalah, kita tidak menggunakan emosi yang suci dan benar atau menghadapi masalah secara salah. Hidup Yusuf itu terkait dengan Mazmur 1. Ini membuatnya menjadi bintang terang. Ia terus mendapatkan penyertaan di dalam pergaulannya yang karib dengan Tuhan. Setiap kita harus mengingat Firman Tuhan. Agustinus dahulu hidup dalam dosa. Ia tinggal bersama seorang perempuan tanpa menikahinya dan terikat dalam hal seksual. Ia melihat bahwa filsafat bukan jalan keluar bagi masalahnya. Ketika ia merasa hidupnya begitu hampa, ada seorang anak yang memberikan Alkitab kepadanya. Ia kemudian membaca Roma 13:13-14 tentang mengenakan Kristus. Di sana ia mengerti bahwa ia harus percaya kepada Kristus. Pada waktu itu ia bertobat dan kemudian Tuhan memakai hidupnya. Masa muda adalah masa emas untuk bertobat kepada Tuhan, mengerti kehendak Tuhan, dan meraih masa depan. kuncinya bukanlah gelar akademis tetapi penyertaan Tuhan. Jadi sekarang kita mengerti mengapa Yusuf mendapatkan penyertaan Tuhan yaitu karena iman Yusuf mengalahkan gejolak emosinya dalam menyikapi pergumulannya dan menghasilkan sikap yang manis atau anggun. Dikatakan bahwa Yusuf itu manis sikapnya atau baik sikapnya dalam terjemahan yang lain. Dikatakan baik karena ia bisa menguasai emosinya. Ia rela melewati semua itu dengan baik karena ia melihat Tuhan yang besar.

Kita akan melihat peranan iman dalam mengontrol pikiran, emosi dan perbuatan. Ini adalah bagian yang sangat penting. Yusuf mengerti visi dari mimpinya dan ia bergaul dengan Tuhan setiap waktu serta mengerjakan semua hal dengan bertanggung jawab. Iman itu memengaruhi pikirannya sehingga ia terus melihat visi Tuhan. Di sana pikirannya mengontrol emosinya dan kemudian emosinya mengontrol perbuatannya. Jadi jika kita mau segala perbuatan kita beres, pertama-tama iman kita harus beres. Iman yang beres itu akan memengaruhi pikiran dan kemudian memengaruhi emosi dengan beres. Semua ini saling berkaitan. Kita juga melihat karakter seorang Kristen. Doktrin harus menjadi fondasi, pendorong, dan pendukung. Doktrin itu membuat kita memiliki cara pandang yang beres dalam melihat apapun. Ini akan memengaruhi act dan will kita. Doktrin itu juga akan menjadi pendorong bagi afeksi atau emosi kita sehingga dikaitkan dengan Tuhan. Iman itu harus mendorong emosi agar selaras dengan emosi Tuhan. Jika tidak, maka kepuasan emosi itu akan menjadi terarah secara salah sehingga memengaruhi act dan will secara salah. Seluruh aspek dalam hidup kita harus selalu menunjukkan bahwa kita terus menerus disertai oleh Tuhan. Kita harus belajar Firman Tuhan secara konsisten untuk bisa mencapai hal ini.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami