Keluguan yang Membawa Petaka (Yusuf)

Keluguan yang Membawa Petaka (Yusuf)

Categories:

Bacaan alkitab: Kejadian 37:1-36 dan Kisah Para Rasul 7:9-10.

 

Pendahuluan

Apakah setiap mimpi dapat disebut sebuah inspirasi dari Tuhan? Tidak bisa. Mengapa demikian? Karena Alkitab sudah lengkap dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru. Seluruh pengalaman rohani kita termasuk mimpi-mimpi kita tidak bisa menjadi dasar untuk mencari kehendak Tuhan. Setiap mimpi yang tercatat di dalam Alkitab yang menyatakan kehendak Tuhan itu dinyatakan saat Alkitab belum lengkap. Tuhan bisa memakai sarana mimpi di saat Alkitab itu belum dicatat secara lengkap. Mengapa Yusuf dengan polos menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya? Umur Yusuf saat itu baru 17 tahun dan ia begitu polos menceritakan semua hal yang dialaminya secara pribadi. Namun saat itu semua kakaknya melihat bahwa ia adalah adik yang kurang ajar. Mereka berpikir bahwa adiknya itu ingin menjadi orang besar dan ingin semua kakaknya menyembahnya. Sebelum ia menceritakan mimpinya itu, ternyata Yakub sudah memperlakukan Yusuf secara istimewa. Ini yang membuat kakak-kakaknya membencinya. Di sini Yusuf masih polos dan memikirkan segala hal secara lurus dan positif. Mengapa ayahnya yaitu Israel menyimpan semua keirian hati anak-anaknya kepada Yusuf? Jikalau Yusuf tahu bahwa semua kakaknya benci kepadanya, maka pastilah ia tidak mau taat kepada ayahnya ketika ayahnya menyuruhnya untuk pergi kepada kakak-kakaknya. Maka dari itu ayahnya menyimpan hal ini. Di sini Yusuf sebagai anak yang polos atau lugu mau taat kepada ayahnya. Maukah kita memiliki anak yang seperti ini? Bagaimana jika kita memiliki anak yang pintar namun suka memberontak? Pernahkah kita menyimpan rasa iri hati atau cemburu kepada anggota keluarga kita? Kata ‘cemburu’ dalam bahasa Yunani juga berarti jealous. Secara negatif bisa diterjemahkan sebagai envious. Suami bisa iri kepada istri dan sebaliknya. Iri yang negatif itu merusak iman, karakter, dan relasi dengan Tuhan. Itulah yang terjadi pada kakak-kakak Yusuf. Bolehkah seorang ayah menyembunyikan masalah dan tidak menyelesaikan masalah itu? Tidak boleh. Di sini Yakub menjadi ayah yang tidak berani menyelesaikan masalah. Ini tipe yang tidak baik.

Mengapa kakak-kakak Yusuf berbuat yang jahat kepadanya, kecuali Ruben? Siapakah provokator yang berbuat jahat kepada Yusuf? Tidak mungkin Benyamin karena ia masih kecil. Provokatornya kemungkinan adalah Yehuda. Namun kita mengetahui bahwa dari garis keturunan Yehuda, Tuhan Yesus lahir. Semua kakaknya menuhankan kebencian dan iri hati sampai mereka dikendalikan oleh itu. Mengapa Yusuf tidak melawan kejahatan kakak-kakaknya? Bisakah Yusuf melawan? Bukankah dia sudah cukup besar untuk melawan? Ia bisa saja melawan namun Alkitab tidak mencatat bahwa ia berteriak minta tolong atau bersungut-sungut. Ia tetap diam. Di balik kesunyian itu ada kematangan rohani dan sikap bersandar pada Tuhan. Ketika Yesus ditangkap, Ia juga diam. Ketika Ia dicambuk dan dipermainkan, Ia juga tidak melawan. Yesus bisa saja mengalahkan semua orang yang menganiaya-Nya, namun Ia tahu bahwa waktu-Nya telah tiba. Orang yang langsung berteriak histeris dalam situasi seperti ini sebenarnya belum ada kedewasaan iman untuk mengerti kedaulatan Tuhan.

 

Pembahasan

Apa itu iri hati? Pernakah kita cemburu atau iri hati? Mungkinkah ada dari kita pada hari ini masih menyimpan rasa cemburu? Mungkin saja. Segala iri hati yang negatif membuat kita tidak diperkenan oleh Tuhan. Mengapa hal ini penting? Yusuf selalu berhasil karena Tuhan menyertainya. Kisah Para Rasul 7:9-10 menyatakan bahwa para bapa leluhur iri hati sehingga mereka berbuat jahat kepada Yusuf namun Yusuf melalui semua itu dengan baik dan mendapatkan penyertaan Tuhan. Apa itu iri hati? Itu adalah respons emosi atau afeksi yang tidak senang, tidak rela, dan tidak bahagia jika seseorang lebih maju, lebih unggul, dan lainnya. Menurut bidang psikologi dan sosiologi, iri digolongkan sebagai penyakit hati yang bisa menghancurkan diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Penyakit iri ini tidak bisa dideteksi. Iri hati hanya diketahui oleh diri sendiri dan Tuhan. Mungkinkah orang yang sudah lahir baru masih menyimpan iri hati? Mungkin. Iri hati merupakan satu dosa yang bisa membuat kita dibuang oleh Tuhan. Tuhan membenci orang-orang yang iri hati. Paulus akan dibunuh saat itu karena para pembunuhnya iri kepadanya (Kisah Para Rasul 13:45). Mereka iri karena banyak orang yang mengikuti pengajaran Paulus. Di sini kita melihat bahwa iri hati adalah penyakit hati.

Kita mengetahui sejarah keturunan Israel. Yakub mencintai Rahel namun ia menikah pertama kali dengan Lea. Lea mencintainya maka menipunya, namun Yakub tidak mencintainya. Kita melihat bahwa ada 6 anak yang dilahirkan Lea bagi Yakub. Dari Rahel ia mendapatkan 2 anak. Dari Zilpa dan Bilha masing-masing Yakub mendapatkan 2 anak. Kita tahu bahwa ada persaingan cinta di antara Rahel dan Lea. Di dalam persaingan cinta ini ada misteri hidup. Apakah bagian ini mengajarkan bahwa poligami itu disetujui oleh Alkitab? Tidak. Alkitab sudah menyatakan dari awal bahwa pernikahan itu hanya di antara 1 suami dan 1 istri. Kejadian 2:18 Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia. Adam diberikan 1 penolong saja, jadi istri tunggal dan bukan jamak. Di dalam perjanjian nikah disebutkan bahwa hanya ada 1 pasangan, bukan salah satu pasangan. Tuhan menghendaki 1 pasangan, namun manusia yang sudah jatuh di dalam dosa tidak hidup sesuai dengan rancangan Tuhan sehingga banyak kekacauan terjadi. Di dalam waktu kita melihat bahwa Yesus adalah keturunan Yehuda. Ada kedaulatan Tuhan dalam bagian ini. ada begitu banyak misteri dalam Alkitab. Yefta berasal dari ibu yang adalah seorang pelacur (Hakim-Hakim 11:1). Ia hidup sebagai preman namun kemudian ia dikuduskan oleh Tuhan sehingga ia bisa menjadi pemimpin bagi Israel. Kita tidak boleh meremehkan orang-orang yang belum percaya atau belum dikuduskan oleh Tuhan. Mereka bisa saja dipakai oleh Tuhan untuk melakukan perkara-perkara yang besar.

Mengapa kakak-kakak Yusuf iri hati dan benci kepada Yusuf? Alkitab mencatat dengan jelas bahwa ini bermula dari ayah mereka yaitu Yakub yaitu ada sikap pilih kasih Yakub (Kejadian 37:4-5, 11). Ia mendidik anak dengan sistem pilih kasih. Bolehkah orang tua bersikap dengan kategori like and dislike dalam pendidikan anak? Tidak boleh. Ada orang tua yang lebih memilih salah satu anaknya karena anak tersebut rajin belajar dan terus berprestasi dibanding anak-anak lainnya. Kita harus mengingat bahwa anak-anak yang jahat bila bertobat dan dikuduskan oleh Tuhan, hidupnya bisa lebih baik daripada anak-anak yang lain. Ini bukan berarti kemudian kita sengaja membuat anak-anak kita menjadi jahat karena itu bukan kehendak Tuhan. Yehuda pada akhirnya dikuduskan oleh Tuhan sehingga ia menjadi kakek moyang dari Kristus. Di dalam bagian ini orang tua harus berhati-hati. Ketika pilih kasih itu diterapkan, mungkin orang tua merasa senang. Yakub lebih sayang kepada Yusuf karena dia adalah anak yang lahir di masa tuanya. Mungkin juga Yusuf adalah anak yang jujur yang sering melapor kepada ayahnya sehingga ayahnya semakin percaya kepadanya. Yakub adalah tipe ayah yang suka menyembunyikan masalah. Ayah yang seperti ini harus berhati-hati karena setiap masalah yang disembunyikan bisa menumpuk dan pada akhirnya menjadi bom waktu yang bisa meledak sewaktu-waktu. Sebagai orang tua kita harus bersikap reaktif. Setiap kali kita melihat bahwa ada potensi dosa dalam keluarga, kita harus segera bereaksi dalam kekudusan supaya semua masalah bisa diselesaikan. Yakub tidak melakukan ini dan ini adalah kesalahan yang fatal. Jika Yusuf itu jahat maka ia pasti akan menjelek-jelekkan semua kakaknya dan mendorong ayahnya untuk mengambil tindakan yang keras, namun Yusuf tidak melakukan itu. Ia melaporkan segala hal secara positif kepada ayahnya. Di dalam sebuah perusahaan ada yang disebut sebagai manajemen konflik dimana perusahaan itu diatur agar setiap karyawan tidak bisa bekerja sama untuk melakukan hal-hal yang buruk di dalam perusahaan. Pernahkah di dalam keluarga kita menyuruh anak-anak kita untuk saling mengawasi? Ini boleh dilakukan agar ada pengawasan dan ada keteraturan. Yusuf bukan pengadu karena ia mengasihi semua saudaranya. Yusuf bereaksi dengan semakin sayang kepada Yusuf. Ia diberikan jubah yang indah.

Yakub pernah menyuruh Yusuf menjadi gembala sehingga ia mengerti bagaimana bekerja di bawah. Ia menerima semua yang baik dari ayahnya karena ia lugu adanya. Kakak-kakaknya iri hati dan benci kepadanya karena Yusuf menerima banyak hal yang baik dari ayahnya sedangkan mereka tidak mendapatkan perlakuan tersebut. Kebencian mereka semakin besar ketika Yusuf menceritakan mimpi-mimpinya (Kejadian 37:5, 9) kepada mereka. Yakub mengetahui hal ini namun ia diam saja. Yusuf tidak mengetahui kebencian tersebut karena ia lugu. Bolehkah Yusuf menceritakan tentang mimpinya? Boleh. Ia tahu bahwa mimpi-mimpi itu dari Tuhan dan ia mau tahu pendapat dari semua kakaknya tentang mimpi-mimpinya itu. Ia tidak berpikir negatif sama sekali. Ketika ayahnya mengutusnya ke Sikhem kepada kakak-kakaknya, mereka dikuasai kebencian. Apa akibat jika seseorang dikuasai dg iri hati? Mereka kehilangan self-control yang sehat. Mereka kecuali Ruben berencana untuk membunuh Yusuf. Mereka mau memuaskan emosi iri hati dan kemarahan. Pada akhirnya mereka menjual Yusuf kepada orang Midian tanpa sepengetahuan Ruben. Ketika mereka datang kepada ayah mereka, mereka bersepakat untuk membohongi ayahnya dengan menyatakan bahwa Yusuf sudah diterkam hewan buas sehingga mati. Yakub kemudian berduka selama berhari-hari dan menolak untuk dihibur. Ia merasa mau mati saja karena sudah kehilangan anak kesayangannya. Di sini Yakub merasa kehilangan Yusuf, apakah Yusuf merasa kehilangan Yakub? Tidak. Ia juga tidak merasa kehilangan Benyamin, namun di dalam hatinya ia kehilangan figur ayah dan adiknya. Saat ia sudah menjadi raja dan kakak-kakaknya pergi ke Mesir, salah satu yang ia tanyakan adalah tentang adiknya. Di dalam bagian itu kita melihat bahwa Yusuf memiliki penguasaan diri yang begitu matang dalam menghadapi semua masalah sedangkan kakak-kakaknya tidak demikian. Mereka memuaskan iri hati dan kemarahan. Umur mereka memang lebih tua daripada Yusuf namun tidak dewasa dalam mengelola emosi dan menyelesaikan masalah. Mereka mencari jalan pintas dalam menyelesaikan masalah. Semua kakaknya tidak mengerti bahwa mimpi itu datang dari Tuhan. Mereka hanya melihat Yusuf yang sombong. Saat ia dijual ke Potifar, ia tidak bersikap secara salah, tidak merengek-rengek, dan tidak memberontak.

Mengapa Yusuf tidak melawan tindakan kakak-kakaknya atau menceritakan kepada orang Ismael agar ia dikembalikan kepada Yakub ayahnya? Ia bisa saja memohon dan mencoba untuk merayu kakak-kakaknya namun ia tidak melakukan itu. Ia bisa saja juga melakukan tawar menawar dengan penjualnya agar ia dikembalikan kepada ayahnya namun ia tidak melakukan itu juga. Mengapa demikian? Yusuf memang masih muda dan ia yakin bahwa mimpinya datang dari Tuhan. Yusuf juga mengenal Tuhan yang memberikan mimpi sebagai visi hidupnya. Ia percaya kepada Tuhan yang akan menjadikannya pemimpin. Kendati demikian, Yusuf tidak sombong dan mengancam kakak-kakaknya. Ia juga tidak mengancam penjualnya. Ia memang sedih karena harus berpisah dengan ayah dan adiknya, namun ia tenang menghadapi semua itu karena ia tahu bahwa visi itu mulai direalisasikan. Awal penderitaan itu mengantarnya kepada kesuksesan sebagai pemimpin. Ia begitu muda namun emosi dan imannya matang serta dewasa dalam menyelesaikan masalah. Semua kakaknya tidak melihat kedaulatan Tuhan tetapi melihat kuasa manusia. Kita tidak boleh berpikir ‘akhirnya’ karena itu mengandung kepuasan tanpa nilai. Kita harus berpikir awal atau alpha point. Pria yang sudah menikah dan berpikir ‘akhirnya’ membuat pernikahannya tidak bertumbuh. Kita melihat di dalam kisah yang kita baca bahwa yang hebat bukanlah Yusuf tetapi Tuhan yang memimpinnya. Yusuf menang dalam menangkap visi Tuhan. kita terkadang kurang tenang dalam menjalin relasi dengan Tuhan. kita mungkin kurang menikmati Firman. Ketika Yusuf masih berada di kemah ayahnya, saya yakin bahwa ia memakai waktu itu untuk menjalin relasi dengan Tuhan. Ia memakai kesempatan itu untuk mengenal Tuhan. Di sini kita mengerti mengapa Yusuf memiliki kedewasaan seperti itu. Ketika ia bertemu kembali dengan keluarganya, ia berkata Kejadian 50:20 Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. Di sini Yusuf menangkap visi dan kedaulatan Tuhan. Di sini kita belajar bahwa di dalam hidup kita harus ada visi. Visi kita adalah untuk memenangkan jiwa-jiwa bagi Tuhan. Di sana ada sukacita yang sejati karena para malaikat bersukacita melihat jiwa yang kembali kepada Tuhan. Kita harus melihat visi dari Tuhan dan menggenapkannya. Visi itu membuat hidup kita memiliki isi. Visi itu memimpin seluruh perencanaan kita untuk memuliakan Tuhan. Jika semua itu dikaitkan dengan kedaulatan Tuhan, maka hidup kita tidak akan mudah untuk digoncang oleh penderitaan dan kesulitan karena kita melihat Tuhan yang adalah Alfa dan Omega. Kita tahu bahwa Tuhan turut campur dan memelihara hidup kita. Tidak ada hal yang terjadi di luar kedaulatan Tuhan.

Bagian kita adalah memberikan respons yang tepat tanpa dosa terhadap setiap masalah. Sikap kita dalam menyelesaikan masalah menentukan penyertaan Tuhan (Kisah Para Rasul 7:9-10). Kita harus memberikan solusi yang tepat dan menjadi berkat. Ada orang-orang yang mau menyelesaikan masalah kejahatan dengan solusi kejahatan dan pada akhirnya kejahatanlah yang berkembang. Di saat itu kita malah menjadi batu sandungan dan tidak naik kelas iman. Ujian iman yang paling sejati adalah di dalam penderitaan dan kesulitan. Kita harus berdoa meminta tantangan dan kesulitan agar iman kita sungguh-sungguh diuji dan visi kita semakin dipertajam. Kita selalu membutuhkan penyertaan Tuhan. Penyertaan harta dan kenikmatan itu bukan yang sejati. Supremasi cinta agape itu melebihi segala harta dan kenikmatan. 1 Korintus 13:1-2 Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Cinta Yesus di kayu salib itu adalah modal bagi keluarga kita. Keluarga kita bisa bahagia bukan karena pemikiran dari luar ke dalam melainkan dengan mengaitkan cinta kita dengan cinta Yesus. Di dalam salib itu kita ditebus. Di sana ada pengorbanan, kesabaran, dan kesetiaan. Kekuatan cinta kita adalah Tuhan Yesus. Di sinilah kita mengerti bahwa yang terpenting adalah penyertaan Tuhan dan bukan penyertaan harta. Semua kakak Yusuf iri dan benci kepadanya namun Yusuf mendapatkan penyertaan Tuhan. Tuhan memberikan kasih karunia dan hikmat kepada Yusuf. Ia tidak perlu mendapatkan gelar yang tinggi karena ia sendiri belajar langsung dari Tuhan. Di sini kita harus waspada terhadap setiap sikap kita. Kita harus memakai cara Tuhan karena segala sesuatu itu indah pada waktu Tuhan.

 

Penutup

            Kita harus memerhatikan bagian ini: Roma 13:13-14 Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya. Kita harus hidup sebagai orang-orang yang sudah ditebus oleh Kristus. Kita harus hidup dengan sopan sebagai anak-anak terang. Kita harus membuang segala kegelapan dan segala kepalsuan. Untuk menang, kita harus mengenakan Tuhan Yesus sebagai perlengkapan senjata terang sehingga kita tidak dikuasai oleh kegelapan baik dalam pikiran maupun emosi termasuk kebencian dan iri hati. Kita juga tidak boleh memprioritaskan keinginan tubuh. Semua ada batasnya dan kita harus waspada terhadap hal itu. Perhatian yang berlebihan kepada tubuh kita bisa mengundang kesombongan. Di sana kita menjadi batu sandungan. Kita harus menjadi terang dimana dosa itu disingkirkan. Yusuf dijadikan pemimpin untuk menyatakan kuasa dan kebesaran Tuhan. Jadi hidup kita harus mengandung nilai misioner dan terobosan iman. Kita adalah utusan Tuhan.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami