Keluarga yang Dipulihkan

Keluarga yang Dipulihkan

Categories:

Bacaan alkitab: Kejadian 45:1-28 dan 50:20.

 

Pendahuluan

Pernakah kita mengalami perlakuan yang tidak baik atau tidak adil dari keluarga kita? Kita percaya bahwa Allah berdaulat dalam mengatur dan mengontrol segala sesuatu. Kekecewaan itu wajar dialami oleh setiap manusia yang memiliki emosi. Namun jika kita selalu kecewa sampai timbul kebencian dan amarah karena ada orang-orang yang membuat kita rugi, sedih, dan kecewa, maka itu menjadi tidak baik. Di dalam bagian yang kita baca, Yusuf bisa mendemonstrasikan seluruh ketulusan hatinya dalam menghadapi dan menyelesaikan masa lalunya. Ia tidak marah, dendam, dan tidak ada kebencian dalam responsnya. Bagaimana respons kita atau sikap kita? Keagungan, kestabilan, iman, dan kedewasaan karakter seseorang dapat dilihat ketika ia mengalami kesulitan, kehilangan, dan penderitaan. Yusuf terpisah dari ayahnya dan adiknya. Ini bukanlah hal yang mudah tetapi Tuhan memakai cara ini untuk melatihnya. Yusuf mengajarkan kepada kita tentang konsep pengampunan dan pemulihan keluarga yang tuntas. Ada yang berkata sudah mengampuni namun di dalam hatinya masih tersimpan dendam. Ia bahkan masih mengingat kejadian pahit itu dengan detail. Jadi forgive tetapi tidak forget. Itu bukanlah pengampunan yang sejati tetapi pembiaran. Yusuf sungguh-sungguh mengampuni saudaranya tanpa ada kemarahan, dendam, dan tidak mengingatkan kepada kakak-kakaknya tentang dosa di masa lalu. Sebaliknya, ia menguji kejujuran dan emosi kakak-kakaknya untuk melihat apakah mereka sudah berubah karena Yusuf sudah terpisah dari mereka selama 14 tahun. Bisa saja Yusuf marah atau dendam ketika ia sudah memiliki kekuasaan terhadap kakak-kakaknya, tetapi ini tidak ia lakukan. Ia sudah benar-benar mengampuni. Yusuf masih menyimpan kesedihan hati dan kita akan membahas hal itu. Mengapa Yakub yang sudah tua memiliki semangat hidup yang baru setelah mendengar kabar sukacita tentang Yusuf? Yakub sangat mengasihi Yusuf dan sangat berduka ketika berpikir telah kehilangan Yusuf. Yakub juga sangat melindungi Benyamin yang adalah anak dari istri tercintanya yaitu Rahel. Ia tidak mau kehilangan Benyamin seperti kehilangan Yusuf. Ketika ia mendengar bahwa Yusuf masih hidup, ia menjadi bersemangat dan mau segera menemui Yusuf.

 

Pembahasan

1) Faktor-Faktor Penyebab Keluarga Tidak Harmonis

            Apa yang menyebabkan keluarga menjadi tidak harmonis? Pertama, dosa menyebabkan keluarga kehilangan nilai keteraturan. Dosa mengakibatkan kekacauan dan membuat kita egois sehingga keluarga tidak mengalami keharmonisan dan tidak dekat dengan Tuhan. Penyebab dari ketidakharmonisan keluarga bisa dilihat dari aspek spiritualitas. Ada yang menganalisa dari aspek psikologis namun ini melelahkan karena manusia berdosa mau menganalisa sesama manusia berdosa. Ini seperti mau menyelesaikan benang kusut dari bawah ke atas dan ini adalah hal yang sulit. Penyelesaian masalah manusia berdosa harus dilakukan dari atas ke bawah. Oleh karena itu kita harus memandang segala masalah dalam semua aspek dari atas ke bawah. Ketika kita naik ke atas gunung, dari sana kita akan bisa melihat pemandangan di bawah dengan jelas. Jika kita melihat dari bagian bawah gunung maka tidak akan jelas. Kita terkadang tidak sadar sudah kehilangan identitas rohani. Di sana kita mengalami krisis dan kemudian dari sana masalah dalam keluarga itu timbul satu per satu. Kita tidak boleh menjadi pembawa masalah tetapi menjadi penyelesai masalah seperti Yusuf. Penyebab yang pertama dari aspek spiritualitas adalah iman yang lemah. Jika salah satu dari pasangan memiliki iman yang lemah, maka akan rentan mengalami kekacauan. Ini karena rasio dan emosi tidak dipimpin oleh iman sehingga timbul kekacauan berpikir dan emosi. Kondisi ini membuat masalah semakin banyak dan tidak terselesaikan. Keluarga kita ada untuk mewakili Tuhan. Untuk melakukan ini, keluarga harus hidup berdasarkan Firman Tuhan. Di sini orang tua Kristen harus menganalisa kemandirian rohani anak sebelum melepasnya untuk tinggal di luar rumah. Jika anak sudah mandiri rohani, maka ia akan menjaga kekudusan hidup dan selalu taat kepada Tuhan. Kakak-kakak Yusuf iri karena iman mereka lemah. Hanya Ruben yang mau melindungi Yusuf dari kematian namun Yehuda kemudian menjadi provokator dan mengusulkan untuk menjual Yusuf. Yakub terlalu pilih kasih dan kakak-kakak Yusuf kurang rohani. Iman yang lemah ini menimbulkan masalah di dalam keluarga.

Kedua, krisis visi hidup (beda prinsip dan fokus hidup). Ketika keluarga tidak memiliki visi hidup, banyak hal penting dan baik akan tergeser. Yusuf kemudian diberikan visi oleh Tuhan melalui mimpi tentang berkas gandum dan matahari, bulan, serta bintang-bintang. Anak yang paling besar di rumah belum tentu Tuhan pilih sebagai pemimpin. Semuanya bergantung pada kedaulatan Tuhan. Jadi kita harus mengerti visi dari Tuhan bagi keluarga kita. Visi kita adalah menyatakan kebesaran Tuhan melalui seluruh hal yang kita kerjakan dan bukan menyatakan kebesaran diri kita. Visi kita adalah menyatakan terang dan bukan kegelapan. Prinsip ini dan alasan-alasannya harus diajarkan kepada anak-anak kita. Kita sebagai orang tua Kristen harus melakukan sharing iman dan hidup serta visi kepada seluruh anggota keluarga. Ketika visi anak mulai bergeser, maka orang tua harus membawanya kembali kepada visi yang mula-mula.

Ketiga, karakter yang lemah. Kakak-kakak Yusuf mudah iri karena mereka dibesarkan dalam kondisi persaingan. Yakub lebih menyayangi Yusuf lebih daripada kakak-kakaknya dan ini membuat mereka membenci Yusuf. Setelah Yusuf menceritakan mimpi-mimpinya, mereka menjadi kesal dan mau membunuh Yusuf. Mereka memiliki emosi yang tidak suci karena tidak sungguh-sungguh mengikut Tuhan. Mereka tidak belajar dari iman Yakub yang bergumul dengan Tuhan. di sini ada titik kelemahan Yakub sebagai orang tua. Yusuf juga kurang mempersiapkan keluarganya ketika pindah ke Mesir sehingga setelah Yusuf mati, generasi berikutnya tidak mengenal Yusuf dan keluarganya. Setelah itu Firaun yang baru memperbudak Israel. Karakter itu penting dan mulai dibentuk sejak di rumah. Orang tua melalui Firman Tuhan dan situasi harus membentuk anak-anak sehingga mereka memiliki karakter yang kuat. Jika anak memiliki kelebihan dalam kepintaran dan keahlian namun tidak memiliki karakter yang kuat maka ia akan gagal juga. Maka dari itu anak harus diajar untuk tekun berjalan bersama Tuhan.

Keempat, hilangnya komitmen keluarga. Jika keluarga kehilangan komitmen untuk beribadah kepada Tuhan, maka kesucian, keinginan menjadi berkat, dan kerinduan untuk melayani itu akan hilang dari keluarga. Namun ketika komitmen itu kuat, maka keluarga akan kuat dalam menghadapi kesulitan. Jika salah satu anggota keluarga mulai kehilangan komitmen, maka masalah akan mulai timbul di dalam keluarga itu. Banyak hal bisa mengaburkan komitmen di dalam keluarga. Jika keluarga terlalu fokus pada hobi dan keasyikan sendiri maka komitmen itu akan dilupakan. Di sini akan terjadi keretakkan keluarga. Maka dari itu keluarga harus sering bersekutu dan kembali mengingat komitmen keluarga. Keluarga berkumpul bukan hanya untuk makan tetapi untuk bersekutu dan beribadah kepada Tuhan. Banyak keluarga telah kehilangan komitmen dan akhirnya mengalami perpecahan karena harta dan hal lainnya. Perbedaan teologi, spirit hidup, dan konsep pandang dalam keluarga mengakibatkan perpecahan. Perbedaan teologi itu berarti ada perbedaan dalam iman. Ini akan membuat perbedaan dalam semangat hidup dan konsep pandang. Maka dari itu kita tidak bisa kompromi dalam teologi. Perbedaan selera dan makanan kesukaan bukanlah hal yang esensi dan kita tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, namun hal-hal yang bersifat pokok seperti teologi dan prinsip hidup tidak boleh berbeda. Ketika keluarga sudah mengerti mana yang boleh dan tidak boleh dikompromikan, keluarga itu akan beres. Kita tidak boleh mengutamakan yang bukan esensi lalu mengkompromikan yang bersifat esensi. Yesus berkata Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu (Matius 7:6). Dunia sekarang ini memiliki ideologi yang bersifat sempit, kecil, individual, dan tidak membangun persatuan. Tidak mengherankan jika pada akhirnya akan timbul kekacauan. Di sinilah setiap keluarga Kristen harus kembali melihat kepada komitmen dan menjaganya serta memegang hal-hal yang tidak boleh dikompromikan.

Kelima, dosa yang berkembang. Kakak-kakak Yusuf iri selama bertahun-tahun dan ingin membunuhnya. Dari kecil semua kakaknya sudah menyimpan iri hati karena ia dianggap anak istimewa. Semua tugas yang melelahkan diberikan kepada kakak-kakaknya sedangkan Yusuf menerima perlakuan istimewa. Mereka memelihara dosa dari sejak muda dan membiarkan itu berkembang. Mereka kemudian bersatu dalam ambisi yang tidak suci. Dosa yang terlihat kecil, ketika dibiarkan berkembang dan bersatu dengan dosa-dosa lainnya, akan berkembang menjadi hal yang sangat berbahaya. Di sinilah keluarga Kristen harus terus mengingat kesucian. Dosa tidak boleh dibiarkan masuk ke dalam keluarga. Keluarga kita adalah keluarga milik Tuhan. Jika kita memegang prinsip ini maka kita akan merasakan damai di rumah. Rumah yang mewah dengan fasilitas yang lengkap tetap akan terasa seperti neraka jika keluarga di dalamnya tidak menjaga kesucian. Jika suami dan istri tidak memiliki relasi yang baik, maka kehadiran pasangan itu tidak akan membawa damai sejahtera. Dosa yang dibiarkan berkembang itu seperti bola salju yang semakin lama akan semakin besar dan dapat menghancurkan. Oleh karena itu keluarga harus memiliki kepekaan terhadap dosa dan iman untuk menghancurkannya. Orang tua harus memantau kehidupan anak sehingga tidak dicemari oleh dosa dari luar. Selama anak masih tinggal bersama orang tua, maka anak boleh diawasi dan tidak boleh diberikan privasi berlebihan. Suami boleh membuka isi telepon genggam istri dan juga sebaliknya. Tidak boleh ada dosa yang disembunyikan dalam keluarga dan tidak boleh ada rahasia di antara suami-istri. Jauh lebih baik jika dosa di dalam keluarga itu segera dibereskan daripada dibiarkan dan mempermalukan seluruh keluarga. Anak melihat teladan hidup orang tua, maka dari itu teguran seperti apapun tidak akan didengarkan oleh anak jika orang tua belum memberikan teladan yang baik.

Para ahli psikologi juga melakukan analisa dan memberikan jawaban-jawaban mengapa keluarga bisa menjadi tidak harmonis. Mereka memberikan jawaban dari segi lahiriah, namun ada bagian dari analisa mereka yang kita dapat setujui dan pelajari. Pertama persoalan ekonomi. Benarkah kondisi ekonomi yang buruk membuat keluarga menjadi tidak harmonis? Ada keluarga-keluarga Kristen yang begitu sulit ekonominya namun mereka hidup harmonis dengan kesederhanaan iman mereka. Ekonomi dianggap menjadi penyebab ketidakharmonisan keluarga ketika keluarga itu memiliki standar ekonomi yang tinggi. Jadi penentu kebahagiaan itu bukanlah tingkat ekonomi tetapi hati yang memiliki kerelaan atau tidak. Kita sebagai orang Kristen harus memiliki rasa cukup untuk apa yang Tuhan berikan kepada kita. Kedua, cara komunikasi. Perbedaan cara komunikasi bisa membuat kesalahpahaman yang akhirnya mengakibatkan ketidakharmonisan dalam keluarga. Suku yang satu berkomunikasi secara terbuka dan langsung mengajak lawan bicara kepada poin utama, tetapi suku yang lain tidak demikian. Perbedaan ini juga bisa mengakibatkan kesalahpahaman. Suami dan istri harus berubah dan belajar untuk saling mengerti. Kita harus menggunakan bahasa kasih dan menyatakan isi yang membangun. Di sini keluarga akan menjadi beres. Ketiga, ketidakpedulian atau kurang perhatian. Orang yang tidak peduli tidak akan mau melayani serta mengasihi sehingga akhirnya relasi kasih itu tidak akan terbangun dalam keluarga. Keempat, mementingkan pekerjaan atau studi. Ketika keluarga lebih mementingkan pekerjaan, studi, atau hobi lebih daripada keluarga, maka keluarga itu akan mengalami ketidakharmonisan. Kita sebagai keluarga Kristen dipanggil untuk berkomunikasi dari hati ke hati dan untuk melayani satu sama lain dan bukan diri sendiri. Keluarga harus sering berkumpul dan berdiskusi untuk menyelesaikan semua masalah relasi dalam keluarga. Kelima, perbedaan prinsip. Sebagai keluarga Kristen, prinsip yang kita bangun harus berdasarkan Firman Tuhan. Jika ada anggota keluarga yang membangun prinsip yang lain, maka akan terjadi ketidakselarasan yang mengakibatkan ketidakharmonisan. Keenam, kurangnya persekutuan atau kebersamaan. Terkadang setiap anggota keluarga sibuk dengan urusannya masing-masing sampai lupa berkomunikasi dengan seluruh anggota keluarga. Kita harus melakukan sharing hidup dan iman dengan seluruh anggota keluarga kita. Keluarga harus saling membangun dan memberikan evaluasi. Di sini keluarga harus melibatkan Tuhan. Ketujuh, kritik tanpa solusi. Keluarga yang saling mengkritik tetapi tidak memberikan solusi yang membangun akan menjadi keluarga yang tidak harmonis. Jika di dalam keluarga ada rasa saling curiga dan saling menghakimi, maka relasi kasih tidak akan terbangun di dalam keluarga itu. Kita dipanggil untuk memberikan solusi. Terakhir, kejenuhan. Di dalam keluarga harus ada dinamika dan terobosan yang menjauhkan dari kejenuhan.

 

2) Proses Pemulihan Keluarga Yusuf – Yakub

            Yusuf adalah agen perubahan yang menyelesaikan masalah. Ia juga menjadi agen pemulihan. Ia tidak mau cepat-cepat percaya kepada kakak-kakaknya ketika bertemu dengan mereka lagi. Pertama-tama Yusuf menguji kejujuran dan perubahan karakter kakak-kakaknya (Kejadian 42). Saat itu Yusuf memakai penerjemah dan menuduh mereka sebagai pengintai (ayat 9 dan 23). Yusuf kemudian menahan salah satu dari mereka yaitu Simeon dan menyuruh mereka untuk membawa saudara mereka yang bungsu kepada Yusuf. Di sana kemudian Yusuf mengetahui bahwa kakak-kakaknya tidak iri hati kepada Benyamin. Kakak-kakak Yusuf berdiskusi dan melihar bahwa apa yang mereka alami itu adalah akibat dosa mereka karena menjual Yusuf (ayat 21-22). Ketika mereka pulang, mereka menemukan bahwa uang mereka ada di dalam karung-karung berisi gandum tersebut dan mereka merasa ketakuan (ayat 35). Yusuf juga menguji emosi dan kasih kakak-kakaknya (Kejadian 43). Ketika gandum yang mereka beli telah habis, mereka harus kembali ke Mesir dan membeli lagi, namun kali ini mereka harus membawa Benyamin beserta dengan mereka. Yakub pada awalnya tidak rela membiarkan Benyamin pergi, namun setelah berdiskusi dengan anak-anaknya, Yakub merelakannya (ayat 13). Yusuf harus mengendalikan dirinya ketika bertemu dengan Benyamin karena ia rindu kepada adiknya yang seibu dengannya itu (ayat 29-31). Ternyata mereka semua tidak mengenal Yusuf karena Yusuf memakai penerjemah dan mereka sudah lupa akan wajah Yusuf. Tanpa sepengetahuan mereka semua, Yusuf meletakkan uang mereka kembali ke karung mereka masing-masing dan meletakkan pialanya ke dalam karung Benyamin (Kejadian 44:1-2). Ketika mereka baru saja keluar dari kota, Yusuf menyuruh kepala rumahnya mengejar mereka dan memeriksa karung mereka (ayat 4-6). Kakak-kakak Yusuf kemudian berkata: Pada siapa dari hamba-hambamu ini kedapatan piala itu, biarlah ia mati, juga kami ini akan menjadi budak tuanku (ayat 9). Kepala rumah itu mengusulkan hal yang berbeda yaitu hanya dia yang membawa piala itu dalam karungnyalah yang dijadikan budak sedangkan yang lainnya boleh bebas (ayat 10). Ketika piala itu ditemukan dalam karung Benyamin, mereka mengoyakkan pakaian mereka (ayat 12-13). Mereka kemudian kembali ke rumah Yusuf dan Yehuda membela Benyamin ketika Benyamin akan dijadikan budak (ayat 14-34). Di sini Yusuf menguji emosi kakak-kakaknya terhadap Benyamin. Dari percakapan mereka Yusuf tahu bahwa kakak-kakaknya sudah berubah.

Kemudian Yusuf memulihkan hubungannya dengan kakak-kakaknya (Kejadian 45-46). Ia menyuruh semua orang keluar sehingga hanya tersisa Yusuf dan saudara-saudaranya (ayat 1). Setelah itu ia mulai mengadakan pemulihan. Sebelumnya Yusuf masih menahan emosinya, setelah itu ia menangis (Kejadian 42:24, 43:30), tetapi akhirnya ia tidak bisa menahan lagi emosinya. Yusuf memperkenalkan dirinya dan menangis keras-keras (Kejadian 45:1-5). Semua saudaranya tidak bisa menjawab karena mereka takut dan gemetar (45:3). Yusuf memakai penerjemah sebelumnya dan mereka tidak lagi mengenal wajah Yusuf yang sudah berubah sehingga mereka tidak mengenal Yusuf. Yusuf kemudian menghibur mereka dan menyatakan kebesaran Allah (45:6-8). Yusuf tidak mau mereka bersusah hati dan menyesali diri. Ia tidak menyalahkan Yehuda yang saat itu mengusulkan untuk menjualnya. Jadi Yusuf tidak mengungkit-ungkit kesalahan orang lain di masa lalu. Yusuf juga menyelesaikan masalah keluarga ini di dalam keluarga tanpa melibatkan orang Mesir. Di dalam percakapan itu juga Yusuf mengajak ayahnya dan kakak-kakaknya pindah ke Mesir (45:9-13). Ia berjanji untuk memelihara seluruh keluarganya di Mesir. Jadi Yusuf tidak sombong tetapi menyatakan program Tuhan. Ia menunjukkan kebesaran Tuhan dan bukan dirinya sendiri. Inilah kerendahan hati Yusuf. Ia melakukan sharing hidup dan iman dengan saudara-saudaranya. Yusuf tetap mau seluruh keluarganya pindah ke Mesir meskipun tahu bahwa Yehuda pernah melakukan hal yang memalukan yaitu tidur dengan menantunya sendiri (Kejadian 38:18). Setelah itu Yusuf memeluk dan mencium keluarganya (45:13-15). Di sanalah terjadi pemulihan.

Saudara-saudara Yusuf pulang ke rumah ayahnya dan menceritakan bahwa Yusuf masih hidup (Kejadian 45:25-26). Pada mulanya Yakub tidak memercayai mereka namun setelah ia melihat kereta dari Mesir, ia kembali bersemangat dan mau pergi ke Mesir (ayat 27). Di sana Yakub tidak mengungkit dosa anak-anaknya di masa lalu ketika mereka berbohong tentang kematian Yusuf. Ia sudah memberikan pengampunan dan kemudian pergi ke Mesir. Yusuf bertemu dengan ayahnya (ayat 28-30) di sana dan pemulihan itu terjadi. Pada akhirnya mereka semua hidup dengan damai. Kita sebagai anak-anak Tuhan harus menjadi seperti Yusuf yang membawa pemulihan dalam keluarga dan membawa damai. Kita harus meminta hikmat dari Tuhan dan menjadi penyelesai masalah untuk kemuliaan nama Tuhan. Yakub masih hidup belasan tahun kemudian dan setelah ia meninggal, Yusuf menangisinya (Kejadian 50:1). Setelah kematian Yakub, kakak-kakak Yusuf berpikir bahwa Yusuf masih menyimpan dendam dan akan menggunakan kesempatan yang ada untuk membalaskan dendamnya, namun Yusuf menjawab: Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga (Kejadian 50:19-21). Yusuf begitu baik namun ia lupa mengajarkan kepada keluarganya bagaimana menjadi pemimpin di Mesir. Setelah kematian Yusuf, tidak ada orang dari keluarganya yang dicatat prestasinya. Bangsa Israel yang jumlahnya sudah menjadi sangat banyak akhirnya dijadikan budak setelah beberapa waktu lamanya karena Firaun yang selanjutnya tidak mengenal Yusuf dan keluarganya.

 

Penutup

Rancangan Allah bagi keluarga adalah mewakili Tuhan sebagai komunitas gereja yang kecil. Keluarga Yakub diwakili oleh Yusuf. Kita harus mengingat mengapa kita membangun keluarga. Prioritas kita bukanlah kekayaan atau kebahagiaan tetapi kita membangun keluarga karena mau membuat gereja kecil. Keluarga kita harus menjadi komunitas Tuhan agar orang-orang tahu bahwa keluarga kita adalah keluarga Kristen yang mencintai Tuhan, yang suci, dan yang diberkati oleh Tuhan. Rancangan Allah bagi keluarga adalah kebahagiaan dan kerukunan. Sebelum menikah, kita harus membangun konsep pernikahan dan keluarga yang benar terlebih dahulu. Kebahagiaan bukanlah tujuan tetapi akibat. Kerukunan pun juga demikian. Jadi relasi keluarga dengan Tuhan harus beres terlebih dahulu. Pembentukan karakter yang efektif adalah melalui keluarga. Setelah Yusuf dijual, kakak-kakaknya menyesal dan saling menyalahkan. Ayahnya pun merasakan kesedihan. Setelah mereka pergi ke Mesir dan mereka diuji oleh Yusuf, kita mengetahui bahwa kakak-kakaknya sudah berubah. Dari garis keturunan Yehuda, Tuhan Yesus Kristus lahir. Jadi tidak ada yang bersifat akhir di dalam hidup kita tetapi semuanya bersifat awal. Dari keturunan Yusuf tidak lahir banyak orang penting karena ia terlalu baik dalam mendidik anak tanpa ada aspek keadilan yang kuat. Itulah kelemahan Yusuf. Pemulihan keluarga bisa terjadi jika kasih dan pengampunan terjadi. Segala masalah relasi dalam keluarga bisa diselesaikan jika ada kasih dan pengampunan. Itulah teladan yang diberikan Tuhan Yesus Kristus. Kita harus menjadi keluarga yang mengutamakan Tuhan dan memancarkan terang-Nya. Oleh karena itu kita harus melihat visi dan program Tuhan bagi keluarga kita.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami