Kelemahan Iman (Abraham & Sarah)

Kelemahan Iman (Abraham & Sarah)

Categories:

Bacaan alkitab: Kejadian 16:1-16

 

Pendahuluan

Semua janji Allah kepada Abraham menjadi tidak berarti ketika ia dan istrinya mengalami kelemahan iman dalam pengharapan ketika menginginkan anak. Apa yang menyebabkan kerapuhan iman Sara dan Abraham? Mengapa Sara berpikir yang salah tentang janji keturunan melalui Hagar? Mengapa Sara berkata ‘mungkin oleh dialah aku dapat memeroleh seorang anak’? Ini adalah suatu spekulasi yang akan kita dalami. Apa akibatnya jika kita salah dalam mengerti kehendak atau janji Tuhan? Sara pada akhirnya harus menuai akibat dari kesalahannya dan kemudian ia melakukan lagi kesalahan yang lain. Di sini kita bisa melihat banyak titik kelemahan Sara dalam perjalanan imannya ketika ia bertemu dengan kesulitan-kesulitan.

 

Pembahasan

1) Apa yang menyebabkan iman Sara dan Abraham lemah atau rapuh?

“Engkau tahu, Tuhan tidak memberi aku melahirkan anak… mungkin oleh dialah aku dapat memeroleh seorang anak” (Kejadian 16:2). Di sini Sara tidak sungguh-sungguh mengerti bahwa anak perjanjian itu akan lahir dari rahimnya sendiri. Mengapa ia sampai mengalami kerapuhan seperti ini? Apakah ini tanda dari kekecewaan Sara terhadap Tuhan atau dirinya sendiri? Atau ia sedang putus asa? Selama 10 tahun ia menunggu janji Tuhan namun janji tersebut belum digenapi juga. Di sini ada ujian iman melalui kesulitan dan titik terendahnya. Tuhan bisa menguji kita di titik yang terendah dengan pergumulan yang berat. Di sana respons kita akan terlihat: apakah kita menyikapi kesulitan tersebut dengan emosi, putus asa, atau hal lainnya. Seluruh sikap Sara menunjukkan bahwa ia sudah putus asa dengan dirinya sendiri. Ia melihat dirinya sudah tua dan tidak bisa mengandung lagi sehingga ia memutuskan di dalam pikirannya bahwa tidak mungkin anak itu lahir dari rahimnya. Pada akhirnya ia membuat keputusan berdasarkan spekulasi iman. Ini berbahaya karena spekulasi iman itu didasari bukan dari pengenalan akan Allah yang sejati dan benar. Spekulasi iman sesungguhnya adalah suatu iman yang memaksa Allah untuk bekerja dengan cara kita. Orang yang berspekulasi iman berpikir bahwa dirinya bisa membuat barter atau tawaran iman dengan Tuhan. Ia merasa bahwa jika ia menawarkan suatu janji kepada Tuhan maka Tuhan akan menjawab doanya. Sara berpikir dengan pola ini. Ia melihat dirinya yang sudah tidak mampu dan kemudian memakai hambanya yang masih mampu mengandung anak. Dalam barter iman, ada sikap yang memanipulasi Tuhan.

 

2) Apa yg menyebabkan iman Abraham lemah?

Apakah Hagar itu godaan, tawaran, cobaan, atau ujian bagi Abraham? Dikatakan bahwa Abraham langsung menerima usulan Sara dan tidak menguji kehendak Sara. Ini berarti bahwa Abraham melihat usulan Sara sebagai tawaran iman. Keputusan Abraham menyedihkan hati Tuhan. ia sama sekali tidak bertanya terlebih dulu kepada Tuhan. Di sinilah kita harus waspada. Jika ada hal yang kelihatannya masuk akal dan baik yang ditawarkan kepada kita, maka kita harus meminta hikmat terlebih dahulu dan bukan langsung menerimanya. Pengenalan Sara akan Tuhan itu tidak baik. Ia tidak mengerti Allah yang maha kuasa dan maha hadir. Sara dikuasai dengan ketakutan karena tidak bisa punya anak (kejenuhan hidup). 10 tahun waktu berlalu namun ia tidak juga mendapatkan anak sehingga ia mengalami kejenuhan. Kita harus waspada karena kita bisa jatuh pada hal yang sama. Hagar sebagai pilihan jalan keluar atau sumber masalah? Ini adalah sumber masalah. Mengapa Sara menganggap ini solusi? Karena menganut konsep barter iman. Abraham juga melihat ini sebagai tawaran iman. Titik kelemahan Abraham adalah dia tidak berani menguji kehendak istrinya di dalam hikmat Tuhan. 1 Tesalonika 5:21 Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Orang terdekat kita mungkin bisa membuat kita terjatuh. Rancangan Tuhan adalah damai sejahtera, kesejahteraan, dan keteraturan. Abraham melakukan ketaatan yang salah karena cinta. Seharusnya Abraham bersikap seperti Ayub yang menegur kesalahan istrinya. Ayat 4a Abram menghampiri Hagar, lalu mengandunglah perempuan itu. Tindakan ini menyedihkan hati Tuhan. Abraham dan Sara keduanya bersalah. Mereka sudah menerima janji Tuhan, namun Abraham ragu dan tidak melihat janji Tuhan karena cintanya kepada Sara. Di sini terjadi penyelewengan iman. Abraham mau menyenangkan hati Sara dan tidak menguji usulannya. Jadi, Abraham adalah suami yang takut istri secara salah. Kita boleh takut terhadap pasangan dalam arti takut melanggar kesetiaan kepadanya. Ketakutan itu harus berkaitan dengan Tuhan.

 

3) Apa konsekuensi yang harus diterima Sara?

Ayat 4b Ketika Hagar tahu, bahwa ia mengandung, maka ia memandang rendah akan nyonyanya itu. Hagar menghina Sara, mungkin bukan secara verbal dan langsung tetapi melalui cara-cara tidak langsung. Hubungan Sara dengan Abraham menjadi buruk ketika Sara menyalahkan Abraham dan meminta agar ia bertanggung jawab (ayat 5). Kita mengetahui bahwa ada kesalahan dari pihak Sara yang memberikan usulan itu dari awal. Ia juga salah mengenal Hagar dan Sara baru tahu kelicikan Hagar setelah ia mengandung. Hal yang lebih parah lagi yang dilakukan adalah membawa nama Tuhan untuk menjadi Hakim atas perkara itu. Sebelum masalah ini ada, mereka tidak melibatkan Tuhan sama sekali, namun ketika sudah terjadi hal buruk, Sara baru melibatkan Tuhan ke dalam masalahnya. Ada kesalahan ganda di sini. Ia tidak berpikir panjang untuk tindakannya. Spekulasi imannya mengakibatkan konsekuensi yang berat. Menanggapi masalah ini, Abraham mencuci tangan. Ayat 6 Kata Abram kepada Sarai: “Hambamu itu di bawah kekuasaanmu: perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik.” Lalu Sara menindas Hagar, sehingga ia lari meninggalkannya. Sara meluapkan emosi yang tidak suci dan Hagar tidak tahan akan hal itu. Hati Sara dipenuhi dengan kebencian dan kemarahan sehingga damai di hatinya hilang. Hal ini jelas sekali bukan program Tuhan. Program Tuhan adalah damai sejahtera, kesejahteraan, dan keteraturan dalam hidup kita, bukan kemarahan dan kebencian. Sara terus menerus membuat keputusan yang salah karena dikuasai emosi. Abraham di sini juga melepaskan tanggung jawabnya. Seharusnya mereka bersama-sama memohon ampun dari Tuhan. Abraham tidak menjadi suami yang baik dalam hal ini. Ia membiarkan kedua perempuan itu menyelesaikan masalah mereka sendiri namun pada akhirnya masalah lain timbul. Hagar pun juga bersalah karena ia memandang rendah nyonyanya. Ketiga pihak ini semuanya bersalah.

 

4) Mengapa Allah turut campur dalam perkara Hagar?

            Hagar adalah orang Mesir yang tidak beribadah kepada Tuhan, namun mengapa Tuhan turut campur? Tuhan bisa saja menggugurkan kandungan Hagar sebelum Ismael lahir, namun itu bukan cara Tuhan. 14 tahun kemudian Ishak lahir dan setelah itu ada masalah lain lagi yang terjadi. Malaikat Tuhan menjumpai Hagar di padang gurun setelah ia lari meninggalkan tuannya (ayat 7-12). Di sana Malaikat Tuhan menyuruhnya kembali pulang, menahan penderitaan, dan menyebutkan nama anak yang akan dilahirkannya yaitu Ismael. Ismael dikatakan memiliki tingkah seperti keledai liar (ayat 12). Keledai liar itu sangat sulit dijinakkan. Pada saat Yesus akan masuk ke Yerusalem, ia menunggangi keledai betina yang diikuti oleh anaknya (Matius 21:2). Sebenarnya keledai betina tidak mau ditunggangi jika sudah memiliki anak karena ia secara insting hanya mau mengasuh anaknya. Ini adalah mukjizat. Ismael juga dikatakan akan melawan setiap orang dan menantang semua saudaranya (ayat 12). Apakah turut campur Tuhan ini berkat atau nubuat? Jika berkat maka seharusnya mengandung kedamaian dan keselamatan, hal itu adalah nubuat. Anak perjanjian adalah Ishak. Tuhan mengizinkan kelahiran Ismael karena ia akan menjadi anak penguji dari anak perjanjian itu. Ini karena Abraham tidak berani menguji saran dari Sara. Ia tidak mau bergumul dengan Tuhan. Ketika nubuat itu dinyatakan, Hagar tidak berdebat dengan Malaikat Tuhan. Ia malah memanggil Tuhan dengan nama El-Roi karena dia tahu bahwa Tuhan melihat dirinya (ayat 13).

 

Siapakah yang bersikap lebih baik: Sara atau Hagar? Sara meluapkan emosinya yang tidak suci sedangkan Hagar mau taat kepada Malaikat Tuhan, maka dari itu kita bisa menyimpulkan bahwa Hagar menunjukkan sikap yang lebih baik. Hagar telah menjadi korban dari emosi Sara namun ia tetap mau pulang. Tuhan mengizinkan Ismael tetap hidup dan memakainya sebagai alat di tangan Tuhan. Tuhan menyatakan bahwa akan ada persaingan dan pergulatan di antara umat pilihan-Nya dan orang-orang dunia (Matius 13:24-30 dan 25:32). Melalui hal itulah iman kita diuji. Di sana akan terlihat mana umat Tuhan yang sejati dan mana yang bukan. Selain Abraham dan Sara, ada tokoh lain di dalam Alkitab yang menanggung penderitaan yang sungguh berat selama puluhan tahun namun tetap bersikap dengan benar yaitu Paulus. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat (2 Korintus 12:10). Seharusnya Sara di tengah kelemahannya berdoa kepada Tuhan dan memohon kekuatan dari-Nya. Iman Kristen diuji oleh Tuhan di titik yang terendah dalam kehidupan. Jika kita bisa memberikan respons seperti 2 Korintus 12:10 ini, maka terbukti bahwa iman kita hidup. Orang yang semakin beribadah kepada Tuhan akan memiliki hati yang semakin takut kepada Tuhan, semakin mengasihi sesama, semakin menyadari dirinya bukan apa-apa dan Tuhan adalah segalanya. Paulus tetap senang meskipun sedang lemah dan disiksa. Di dalam responsnya juga ada satu paradoks yaitu ‘sebab jika aku lemah, maka aku kuat’. Di dalam kelemahan, ia semakin bersandar kepada Tuhan. Jadi ia bisa melewati semua itu karena anugerah dari Tuhan.

 

Kesimpulan

1) Pentingnya mengenal Allah dengan benar

            Kita tidak boleh cepat puas diri. Ada orang-orang yang lebih mementingkan praktek dan pengalaman pribadi, namun tidak mau melihat kepada doktrin. Mengapa ada orang-orang yang ditolak oleh Tuhan seperti dalam Matius 7:22? Karena mereka lebih mementingkan praktek daripada pengenalan akan Tuhan yang benar. Mereka tidak mengenal Tuhan dengan benar karena tidak punya fondasi iman. Dalam Lukas 13:6-9 Yesus menceritakan tentang pohon ara yang tidak berbuah yang akan ditebang jika masih ditemukan tidak berbuah. Ibrani 6:4-6 menceritakan tentang orang percaya yang murtad. Mengapa bisa murtad? Karena dari awal ia tidak beribadah dengan sungguh-sungguh. Inilah mengapa pengenalan akan Tuhan itu sangat penting. Abraham dan Sara salah bersikap karena mereka belum mengenal Allah secara komprehensif.

 

2) Pengharapan harus berdasarkan iman dan bukan penglihatan

            Sara menyarankan agar Abraham mengambil Hagar dan Abraham menyetujuinya karena mereka lebih bersandar pada penglihatan. Iman dibangun bukan berdasarkan penglihatan tetapi berdasarkan firman (Roma 10:17). Orang Israel melihat begitu banyak mukjizat dari Tuhan, namun pada akhirnya mereka tidak bisa masuk ke tanah Kanaan karena tidak memiliki fondasi iman dan pengenalan akan Tuhan yang benar.

 

3) Berani menguji kehendak diri atau keinginan diri

            Kita yang sudah percaya kepada Tuhan harus menguji setiap kehendak, baik itu kehendak diri maupun orang-orang dalam keluarga kita. Tuhan kita maha tahu dan Ia-lah yang paling tahu bagaimana memimpin hidup kita sehingga kita harus menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Ketika kita hidup bersandar pada Tuhan, kita akan melihat bagaimana Tuhan menyertai hidup kita dalam segala hal. Dengan demikian kita akan memiliki iman yang menang dalam menghadapi berbagai situasi yang sulit.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

 

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami