Kekuatiran Iman (Abraham)

Kekuatiran Iman (Abraham)

Categories:

Bacaan alkitab: Kejadian 15:1-21

 

Pendahuluan

Mengapa iman seseorang bisa lemah? Sebelum beriman atau percaya, biasanya seseorang memiliki kekuatiran di dalam hatinya. Mengapa seseorang bisa kuatir? Apakah itu bawaan lahiriah? Apakah seseorang yang dibesarkan di dalam lingkungan yang penuh kekuatiran akhirnya membuat dia menjadi orang yang penuh dengan kekuatiran? Ada orang-orang yang kuatir karena standar hidup yang tinggi. Setiap kita memiliki penyebab kekuatiran yang berbeda-beda. Di sini kita akan melihat kekuatiran iman Abram dan berikutnya kita akan melihat kelemahan iman Abraham dan Sara. Mungkinkah Allah ingkar janji dalam menggenapkan rencana-Nya untuk hidup kita? Tidak mungkin

 

Mengapa Abraham berani mempertanyakan janji Allah untuk dirinya dan keluarganya (75 tahun sampai 85 tahun)? Tuhan memberikan penglihatan dan berkata agar dirinya jangan takut (Kejadian 15:1). Ternyata bapa orang beriman di dalam prosesnya bisa mengalami ketakutan. Kekuatiran itu menimbulkan ketakutan karena dia sudah tua. Ia dipanggil keluar dari Ur-Kasdim pada umur ke-75 tahun. Ia dijanjikan keturunan dan tanah, namun 10 tahun sudah berlalu dan dia belum mendapatkan itu. Setelah 10 tahun itu, mulai muncul ketakutan. Abraham kemudian menjadi berani untuk berdialog tentang janji Tuhan. Ini karena ia melihat dirinya yang sudah tua.

 

Firman apa yang menguatkan atau menghidupkan iman Abraham lagi? Ia percaya bahwa Tuhan tidak akan ingkar janji melainkan menggenapkan semuanya sesuai dengan waktu Tuhan. Kebangkitan iman, fokus, dan komitmen kita harus berdasarkan firman Tuhan. Kebangkitan karena sebab situasional itu kurang sejati. Di dalam hidup kita pasti ada jatuh-bangun iman dan kebangunan iman itu harus karena firman.

 

Mengapa Tuhan menguji kesabaran Abraham? Ia berani dalam peperangan dan meninggalkan tempat tinggalnya yang dulu, namun titik kelemahan Abraham adalah dalam hal kesabaran. Ia harus belajar menunggu waktu Tuhan dan tidak berpikir untuk mempercepat waktu Tuhan berdasarkan analisanya. Abraham dan Sara jatuh karena mau mempercepat waktu Tuhan dimana Sara memberikan Hagar kepada Abraham. Abraham menerima tawaran tersebut. Mengapa Abraham pasif dalam hal ini? Ia tidak menanggapi dengan iman. Ia tidak berdebat dengan Sara tetapi menerima saran itu. Ia adalah seorang suami yang takut pada istri. Ini berbeda dengan Ayub yang berani kepada istri. Ketika ia sudah kehilangan semua harta dan anak-anaknya, di sana istrinya menyuruhnya untuk mengutuki Allah namun Ayub menegurnya. Ketika Abraham mempercepat waktu Tuhan, ia tidak lagi melihat janji-Nya.

 

Pembahasan

1) Apa yang menyebabkan iman Abraham lemah?

Abraham memandang umur atau fisik (ayat 2) dirinya yang sudah tua. Ia dan istrinya sudah tua. Tuhan berkata “Janganlah takut Abram, Akulah perisaimu” (ayat 1). Mengapa Abraham mempertanyakan Tuhan? karena ia melihat kemampuan dirinya sendiri. Secara biologis, mereka tidak mungkin lagi memiliki anak. Ketika Tuhan datang dan menyatakan lagi janji tentang anak, dikatakan bahwa Sara tertawa (Kejadian 18:12). Di sana kemudian Tuhan menegurnya. Ketika kita menjadikan kemampuan diri kita sebagai patokan, maka kita bisa salah. Di sana kita melupakan Allah kita yang maha kuasa yang sanggup bekerja melebihi kemampuan kita dan keterbatasan kita. Tuhan sedang memberikan Abraham sekolah iman sebelum ia menjadi bapa orang beriman. Tuhan mendidik Abraham yang tidak sabar dan lebih melihat kepada kemampuan diri. Abraham harus mengubah cara pandangnya agar ia tidak lagi melihat keterbatasan diri melainkan dan tidak lagi berpikir bahwa masalah itu lebih besar daripada kuasa Tuhan. Di sini kita juga belajar untuk beriman kepada Tuhan dan taat dalam menunggu waktu Tuhan.

 

Permasalahan terbesar manusia di sini adalah terlalu mengandalkan kekuatan mata dan kemampuan diri. Musa, Yeremia, dan hamba-hamba Tuhan lainnya semua memiliki titik kelemahan masing-masing. Namun saat mereka taat, di sana anugerah Tuhan dinyatakan. Yosua memiliki kelemahan dalam hal ketakutan, namun setelah Allah menyatakan janji-Nya, ia memiliki keberanian. Saat ia menapakkan kakinya di sungai Yordan, airnya tertahan dan tempat ia berpijak menjadi kering. Tugas kita adalah taat dan berjalan dalam jalan yang Tuhan sudah berikan. Tuhan mau memberikan keturunan bagi Abraham secara iman, bukan hanya rasio yaitu melalui hubungan dengan pasangan yang masih sehat dan masih mampu memberikan anak. Kita menikah dan mempunyai anak pun karena iman, bukan karena nafsu birahi. Kita berdoa agar Tuhan menguduskan segala motivasi dan cara kita sehingga Tuhan dimuliakan. Kita harus beriman dalam segala hal agar dapat melihat penyertaan Tuhan yang melebihi dari semua keterbatasan dan kesulitan kita. Abraham baru mendapatkan Ishak pada umur 100 tahun. Ini berarti ada jarak 25 tahun dari ketika ia pertama kali menerima janji dari Tuhan. Di sini harus ada kesabaran.

 

Kemampuan dan realitas itu seringkali membuat kita bergumul. Kemampuan kita sungguh terbatas namun harus menghadapi hal-hal yang kita lihat melebihi kemampuan kita. Namun di sana Tuhan sedang mengajarkan agar kita melihat Tuhan yang melebihi segala sesuatu. Tugas kita adalah beriman dan taat kepada-Nya. Fokus yang salah adalah fokus pada hal-hal lahiriah atau fisik. Tuhan selalu melatih kita untuk bergantung kepada-Nya bukan kepada kekuatan diri. Ini bukan berarti kita harus nekat tetapi kita harus melihat pimpinan Tuhan dan mengikuti waktu-Nya. Firman Tuhan apa yang menghidupkan iman Abraham? Lalu Tuhan membawa Abram ke luar serta berfirman: “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.” Maka firman-Nya kepadanya: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” Lalu percayalah Abram kepada Tuhan, maka Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran (Kejadian 15:6-7). Kekuatiran itu berubah menjadi iman karena Tuhan telah berfirman. Kemungkinan besar pada saat itu langit begitu bersih sehingga Abram bisa melihat banyak bintang di atasnya. Tuhan mengubah konsep Abram. Tuhan tidak hanya menjanjikan satu anak tetapi satu bangsa yang besar. Tuhan memberikan gambaran kepada Abram. Abram percaya kepada gambaran yang diberikan itu lalu Tuhan memperhitungkan itu sebagai kebenaran. Terjadi pemulihan iman dari Abram.

 

Bagaimana dengan kita saat ini? Mungkin kita tidak mengalami hal yang serupa dengan Abram, namun kita bisa jatuh karena lebih melihat kepada hal-hal lahiriah sehingga kita kuatir. Saat itulah iman tidak menjadi fondasi kita. Kita dapat saja berdoa tanpa iman yang benar. Kita bisa meminta hal-hal yang tidak sesuai dengan maksud Tuhan dan doa itu pasti tidak dikabulkan. Jangan sampai kekuatiran tanpa dasar dan motivasi yang tidak suci itu ada pada kita. Konteks kita sekarang yang menyebabkan iman kita lemah adalah kita lebih mementingkan hal-hal lahiriah (penampilan) daripada hal-hal batin (spiritualitas). Manusia modern sekarang  terjebak dengan penampilan fisik sebagai kesan pertama / value diri daripada ketulusan batin seseorang (bandingkan Lukas 11:39 dan 18:9-14). Kita harus lebih melihat kualitas hati daripada penampilan fisik. Paulus berkata kepada Timotius “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal” (1 Timotius 4:8). Kita harus menjaga kesehatan kita tetapi kita mengetahui bahwa latihan rohani itu jauh lebih penting dan lebih berguna. Abram menunggu dari umur 75 tahun sampai 85 tahun dan pada akhirnya ia mempertanyakan Tuhan. Ia tidak melalui prosesnya dengan indah bersama dengan Tuhan dan ia tidak dekat dengan Tuhan, oleh karena itu ia mempertanyakan Tuhan. Namun Tuhan tidak mungkin ingkar janji. Ketika kita terjebak dengan apa yang kita lihat, terutama pada zaman ini, kita akan jatuh pada konsumerisme.

 

Ada orang-orang yang bertindak dengan mengatasnamakan Tuhan namun pada kenyataannya membuang Tuhan. Tuhan mengkritik orang-orang Farisi yang hanya melihat penampilan luar namun tidak memedulikan spiritualitas. Lukas 11:39 “Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan.” Kita tidak bisa mempermainkan Tuhan dengan uang. Tuhan tidak bisa disogok dan Ia tahu apa yang ada di dalam hati kita. Dalam Lukas 18:9-14 orang Farisi ditampilkan sebagai orang yang kelihatannya beribadah namun sebenarnya hatinya tidak demikian dan pemungut cukai ditampilkan sebagai orang berdosa namun dengan tulus memohon ampun dan bergantung pada Tuhan. Pada akhirnya ibadah yang diterima adalah ibadah pemungut cukai. Tuhan bukan melihat hal-hal lahiriah. Abraham harus bersabar dalam menanti waktu Tuhan sampai Tuhan memberikan anak. Anak tersebut lahir dari sekolah iman karena itulah Abram disebut bapa orang beriman. Selama 25 tahun ia menantikan anak itu dan pada akhirnya ia mendapatkannya.

 

2) Apa yang menyebabkan iman Abraham lemah?

Abram memandang harta atau tanah perjanjian (ayat 7). Dalam waktu 10 tahun Abram menjadi orang kaya dan sukses. Ia tinggal di dekat pohon-pohon tarbantin di Mamre dan ia berhasil di sana (Kejadian 13:18). Abram bertanya kepada Tuhan “Ya Tuhan Allah, dari manakah aku tahu, bahwa aku akan memilikinya?” (ayat 8). Ia meminta jaminan dari Tuhan. Di dalam hidup kita pasti mencari jaminan. Ketika kita membeli barang yang mahal pasti kita akan mengharapkan garansi dalam jangka waktu yang lama. Di sini Abram meminta jaminan dari Tuhan dengan memakai emosinya. Tuhan menjawab dengan ibadah. Tuhan terkadang memberikan jaminan yang bersifat progresif. Kita sebagai manusia selalu ingin mendapatkan bukti yang lengkap dan konkrit di depan mata kita, namun di sini Tuhan mengajarkan kepada Abram bahwa jaminan yang diberikan itu tidak bersifat langsung melainkan di dalam proses waktu. Mengikut Tuhan bukanlah perjalanan yang instan. Setan memberikan janji yang bersifat instan, namun Tuhan memberikan proses. Paulus berkata bahwa orang yang baru bertobat, atau yang belum diuji di dalam waktu, tidak boleh melayani sebagai penilik jemaat (1 Timotius 3:6) karena ini bisa membahayakan gereja. Mendidik anak pun perlu ada proses dengan iman dan keadilan. Tuhan Yesus ketika menjadi manusia pun menjalani proses dari rahim Maria, dilahirkan sebagai bayi, bertumbuh dewasa, sampai kemudian mencapai umur 30 tahun dan langsung melayani. Ketika Abram meminta jaminan, Allah menyuruhnya untuk menyiapkan beberapa hewan. Abram menyiapkan semua itu dan menjaganya sampai ia tertidur dengan nyenyak. Tuhan kemudian menyatakan apa yang akan terjadi kepada bangsa Israel yang salah satunya adalah perbudakan selama 400 tahun. Setelah itu, ketika matahari terbenam, Tuhan melewati potongan-potongan daging itu. Abram meminta jaminan namun Tuhan memberikan janji penyertaan melalui ibadah. Di sana Abram dilatih untuk berkorban dan mengutamakan Tuhan.

 

Kita diberikan janji keselamatan oleh Tuhan dan itu bersifat pasti. Yohanes 10:28 Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku dan Roma 8:38-39 Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Matius 28:18-20 Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman. Dalam Kisah Para Rasul 1:8 Yesus menjanjikan Roh Kudus yang memberikan kita kuasa untuk menjadi saksi. Dalam Perjanjian Lama kita melihat bahwa Allah menjanjikan kepemilikan tanah Kanaan bagi umat-Nya dan di dalam Perjanjian Baru ternyata Allah memberikan penyertaan sampai ke ujung bumi.

 

Bolehkah jumlah harta menjadi tolak ukur penyertaan Tuhan? Tidak boleh. Dalam Perjanjian Baru, Tuhan memberikan janji penyertaan yang melampaui segala harta dan kuasa. Abram juga mendapatkan janji penyertaan ketika ia meminta jaminan. Kekayaan yang terpenting bukanlah harta tetapi penyertaan Tuhan. Gereja boleh saja menjadi besar, namun tanpa penyertaan Tuhan itu semua tidak ada artinya. Firman Tuhan apa yang menghidupkan iman Abraham (ayat 15-16)? Tetapi engkau akan pergi kepada nenek moyangmu dengan sejahtera; engkau akan dikuburkan pada waktu telah putih rambutmu. Tetapi keturunan yang keempat akan kembali ke sini, sebab sebelum itu kedurjanaan orang Amori itu belum genap. Abram dijanjikan kematian yang sejahtera oleh Tuhan. Ketika Abram meminta jaminan, Tuhan memberikan janji penyertaan sampai bahkan kematian Abram dibuat sejahtera oleh Tuhan. Ayat 17 Ketika matahari telah terbenam, dan hari menjadi gelap, maka kelihatanlah perapian yang berasap beserta suluh yang berapi lewat di antara potongan-potongan daging itu. Ada janji penyertaan Tuhan dalam ibadah. Tuhan bekerja melampaui akal dan pikiran kita serta apa yang kita lihat. Keraguan iman kita bisa muncul karena tidak lagi melihat Tuhan dalam ibadah dan lebih mengandalkan rasio kita. Konteks kita sekarang yang menyebabkan iman kita lemah adalah memandang harta sebagai segala-galanya untuk mengukur iman dan kesuksesan kita (self image: prosperity gospel/full gospel) dan melupakan harta sebagai tubuh Kristus (Ibrani 10:24-25 dan 1 Korintus 12) dan harta rohani (Matius 6:33 dan Roma 14:17). Teologi sukses mengajarkan bahwa harta dunia, kesehatan, dan kuasa itu pasti akan diberikan kepada setiap orang Kristen, padahal Tuhan tidak pernah berjanji demikian. Tuhan memuji kekayaan rohani jemaat Smirna yang berada dalam kemiskinan harta (Wahyu 2:9) dan meminta mereka agar setia sampai mati walaupun harus menghadapi penderitaan (Wahyu 2:10). Teologi yang salah merupakan racun bagi gereja. Racun itu mematikan pertumbuhan gereja. Ketika mereka menginjili, mereka tidak menyatakan Kristus yang menyelamatkan manusia dari dosa tetapi menyatakan janji palsu tentang kemakmuran bagi mereka yang percaya.

 

Injil adalah berita yang berfokus kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Paulus berkata bahwa kita tidak boleh malu akan Injil karena Injil itulah yang berkuasa menyelamatkan manusia serta Injil itu membawa kepada iman (Roma 1:16-17). Kita memerlukan tubuh Kristus. Ibrani 10:24 Dan marilah kita saling memerhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Kita dipanggil untuk melakukan pekerjaan baik yang sudah disiapkan oleh Allah (Efesus 2:10) dan kita membutuhkan orang-orang Kristen lainnya di dalam gereja untuk menggenapi itu. Inilah kekayaan yang terpenting. Dalam Matius 6:33 Tuhan menyatakan prioritas kita yang sesungguhnya yaitu mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya. Setelah itu dikatakan bahwa semuanya akan ditambahkan kepada kita.

 

Roma 14:17 Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Kebenaran itu diberikan agar kita mengerti bagaimana hidup di hadapan Tuhan. Damai itu diberikan kepada kita dan kita harus menjadi pembawa damai. Sukacita itu diberikan ketika kita mau taat kepada Tuhan, termasuk dalam membawa jiwa. Hal yang membuat kita bersyukur adalah karena melihat segala sesuatunya baik dalam kacamata Tuhan. Ucapan syukur itu harus kita bawa dalam ibadah kita. Ketika kita melihat orang lain yang lebih kaya dari kita, kita tidak perlu merasa iri karena kita tahu akan kelimpahan yang Tuhan janjikan untuk kita. Filipi 4:12-13 Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Paulus mengerti kecukupan di dalam Tuhan. Jika kita mengerti hal ini, maka kita akan selalu bersyukur, merasakan damai, dan bersukacita. Inilah kebahagiaan kita. Matius 16:26a Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Ini berarti bahwa harta bukanlah jaminan yang paling pokok. Jaminan paling pokok adalah penyertaan Tuhan.

 

Kesimpulan

Kelemahan iman Abraham adalah kurang sabar dalam menanti jawaban Tuhan. Kita harus belajar untuk bersabar dan menanti waktu Tuhan. Banyak orang ingin cepat menjadi kaya, namun kita harus menyadari bahwa semuanya ada di dalam proses waktu. Banyak orang tua yang dulu hidup susah, setelah menjadi kaya memberikan banyak harta kepada anak-anaknya dan tidak mau mereka merasakan hidup susah. Ini adalah konsep yang salah. Kita harus mendidik anak-anak kita dengan proses dan membiarkan mereka berjalan dalam proses waktu. Jika mereka langsung diberikan posisi atas tanpa melalui proses, maka pembentukan karakternya tidak akan berjalan baik. Maka dari itu kita sebagai orang tua Kristen tidak boleh memanjakan anak. Mari kita belajar mengerjakan apa yang bisa kita kerjakan dan setelah itu minta Tuhan yang bekerja. Di dalam semangat teologi Reformed, kita tidak boleh mematikan semangat perjuangan. Kita harus mengajarkan anak untuk hidup dalam kecukupan dan bergantung kepada Tuhan. Kita harus memiliki penguasaan diri dan penyertaan Tuhan. Kita harus taat dalam kesabaran. Taat membutuhkan waktu. Orang yang setia pada perkara kecil juga akan setia pada perkara yang besar (Lukas 16:10). Abram dituntut taat oleh Tuhan. Apa itu TAAT? Kita harus mendengarkan dan melakukan firman Tuhan karena kita tahu bahwa itulah hidup kita dan itulah yang berharga. Aku mendengar dan menerima. Semua kebenaran firman Tuhan harus kita terima dan renungkan. Aku mengerjakan yang aku bisa (kewajiban dan perjuangan). Kita bukanlah orang-orang yang memiliki iman yang pasif tetapi yang aktif. Iman yang benar tidak membuat kita pasrah dan berdiam. Di dalam segala hal, baik itu di dalam pekerjaan dan studi, kita secara aktif beribadah kepada Tuhan. Tuhan mengerjakan apa yg tidak bisa aku kerjakan. Kita mengerjakan apa yang kita bisa kerjakan lalu menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Terakhir, kita harus sabar.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami