Kejatuhan Salomo dalam Dosa (1 Raja-Raja 11:1-13)

Kejatuhan Salomo dalam Dosa (1 Raja-Raja 11:1-13)

Categories:

Khotbah Minggu 8 November 2020

Kejatuhan Salomo dalam dosa

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Kita menantikan waktu di mana kita akan melaksanakan kebaktian secara fisik penuh (tanpa online). Dari Kisah Para Rasul kita belajar bahwa kebaktian yang sesungguhnya adalah kebaktian fisik di mana orang-orang percaya berkumpul bersama. Kita harus terus mendoakan hal ini. Pembahasan kita pada hari ini masih berkenaan dengan Salomo. Kita sudah membahas tentang kemerosotan iman Salomo dan pada saat ini kita akan membahas tentang kejatuhan Salomo di dalam dosa. Kita akan melihat 1 Raja-Raja 11:1-13.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Benarkah filosofi hidup ‘hidup adalah pilihan’? Kita sering mendengar kalimat ini. Kita akan melihat apa kita Alkitab berkenaan dengan hal ini. Apa pandangan Alkitab tentang kebebasan hidup? Kebebasan anak-anak Tuhan harus memiliki kualitas yang berbeda dengan orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan. Di dalam kebebasan kita tidak boleh menuhankan diri kita. Mengapa Salomo jatuh di dalam kebebasannya memilih dan bergaul? Kita juga bisa jatuh dalam hal ini. Mengapa Salomo menjadi bercabang hati dalam mengikuti Tuhan? Ia bercabang hatinya karena wanita. Salomo tidak mengikuti Tuhan dengan sepenuh hati karena cintanya kepada wanita. Mengapa iman Salomo tidak tampak berperan ketika ia jatuh dalam dosa? Salomo sudah mengalami keterpurukan iman. Di dalam waktu dosanya berbuah dan ini adalah suatu kejahatan di mata Tuhan. Jadi imannya tidak tampak. Bagaimana sikap kita sebagai anak Tuhan menyikapi kejatuhan Salomo ini? Kita akan melihat perspektif Perjanjian Baru dan Alkitab secara keseluruhan.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Kejatuhan di dalam pilihan hidup

            1 Raja-Raja 11:1a Adapun raja Salomo mencintai banyak perempuan asing (bandingkan dengan 2 Korintus 6:6-18). Manusia memiliki potensi untuk mencintai dan dicintai. Keindahan hidup kita adalah kita bisa mengembangkan nilai kasih kita. Cinta yang suci adalah cinta yang mengandung agape. Cinta suami-istri itu bersifat pribadi dan tunggal, bukan jamak. Di dalam mencintai, orang lain tidak kita anggap sebagai objek semata. Manusia harus kita anggap sebagai subjek atau pribadi yang diciptakan oleh Tuhan. Kita harus menghormati pasangan kita sebagai orang yang sudah ditebus oleh Tuhan dan sama-sama melayani Tuhan. Ketika kita mengasihi orang lain sebagai subjek, kita akan melihat orang itu seperti Tuhan melihat orang itu. Jadi kita tidak akan menghina, mempermalukan, dan merendahkan orang itu. Alkitab jelas mengatakan bahwa perkataan kita tidak boleh kotor dan tidak membangun. Kalimat kita harus mengandung damai, kebenaran, dan makna di dalam Tuhan. Kesalahan kita adalah menganggap manusia sebagai objek kepuasan kita. Di sana kita berdosa di hadapan Tuhan. Kita mengasihi dalam kehormatan dan kesopanan. Mengasihi Tuhan dan mengasihi manusia itu tidak bisa dipisahkan. Mencintai adalah suatu anugerah. Cinta yang mengandung kemuliaan dan salib Kristus adalah cinta agape. Cinta tanpa salib Kristus adalah cinta yang antroposentris. Namun cinta Kristus selalu berkaitan dengan pengorbanan, kesetiaan, dan penebusan. Kasih kita membuat kita selalu merindukan agar orang-orang percaya kepada Tuhan. Itulah kasih yang benar. Jika cinta kita malah membuat hidup orang lain tidak bermakna, maka cinta kita itu salah.

 

            Cinta suami-istri itu bersifat pribadi dan tunggal. Tidak pernah ada istilah jamak dalam cinta pernikahan. Kata ‘penolong’ dalam Kejadian 2:18 itu bersifat tunggal. Jadi pernikahan Kristen itu monogami, bukan poligami. Tokoh-tokoh beriman dalam Alkitab menganut poligami karena keberdosaan mereka. Tuhan tidak pernah merangan poligami. Rancangan Tuhan adalah monogami. Namun karena keinginan kita yang liar, Tuhan membiarkan kita jatuh dan menikahi banyak perempuan. 2 Korintus 6:6-18 menjelaskan bahwa kita harus menikah dengan pasangan seiman. Gelap dan terang tidak mungkin bersatu. Bait Allah dan penyembah berhala tidak mungkin berpadu. Bersatu atas nama cinta itu biasa, namun kita bersatu karena iman kepada Tuhan. Prinsip hidup kita didasarkan pada Firman Tuhan dan tubuh kita adalah Bait Allah. jadi kesatuan cinta harus diikat dengan iman. Tuhan sudah memperingatkan Salomo agar tidak bergaul dengan perempuan-perempuan asing, begitu pula sebaliknya. Sesama manusia bisa saling memengaruhi. Situasi dan gaya hidup bisa memengaruhi kita. Orang yang tidak merokok bisa kemudian merokok karena bergaul dengan orang-orang yang suka merokok. Jadi pergaulan itu bisa memengaruhi kita. Manusia adalah makhluk yang berelasi. Nilai-nilai dalam relasi itu bisa memengaruhi kita. Semua itu bisa terjadi karena tidak ada perlindungan iman. Jadi dalam pergaulan kita harus memiliki misi iman untuk memengaruhi orang-orang dalam pergaulan kita. Dalam misi iman kita harus membawa orang-orang kembali kepada Tuhan. Salomo tidak melakukan ini.

 

            Mengapa Salomo memilih untuk mencintai banyak wanita? Apakah 1 wanita saja tidak cukup? Kita mungkin belum memberikan yang terbaik kepada 1 wanita. Alkitab menyatakan bahwa kita menjadi satu dengan pasangan kita dalam visi, misi, keharmonisan, tujuan, dan lainnya. Itu pun mungkin kita belum jalankan dengan maksimal, apalagi jika dalam pernikahan kita ada banyak pasangan. Itulah mengapa Alkitab menyatakan bahwa pernikahan itu monogami. Pernikahan bukanlah untuk menyatakan kehebatan kita tetapi kehebatan Tuhan. Pasangan yang memiliki kelebihan dan kekurangan bisa bersatu dengan sempurna karena Kristus. Jika pernikahan bertujuan untuk menyatakan kehebatan kita maka kita sudah berdosa. Di dalam bagian ini Salomo tidak bisa mengucap syukur untuk rancangan monogami dari Tuhan. Ia tidak bisa memahami monogami. Ia juga tidak mempelajari bagaimana ayahnya jatuh dalam dosa perzinahan. Itu membuat kandungan dalam rahim ibunya mengalami keguguran. Salomo tidak mempelajari sejarah Tuhan dan hidup ayahnya. Mengapa iman Salomo bisa tertidur? Mengapa Salomo bisa menjadi lebih jahat daripada ayahnya? Salomo merasa percaya diri karena kuasa, hikmat, dan pencapaiannya.

 

            Salomo terjatuh dalam kebebasannya sebagai raja yang berkuasa. Kita tidak boleh menuhankan kebebasan kita. Anak yang terhilang itu memilih untuk bebas dari ayahnya. Ia pergi jauh untuk mencari kenikmatan duniawi. Namun anak yang berdiam di rumah itu juga terhilang. Ia memang secara fisik masih ada di rumah namun iman dan hati nuraninya itu terhilang. Kedua anak itu kehilangan kebebasan berkaitan dengan nilai kemuliaan Tuhan. Anak pertama kelihatannya beragama namun tidak sungguh-sungguh menyembah Tuhan. Ia tidak memiliki kasih terhadap Tuhan dan sesama. Ini tampak pada responsnya ketika adiknya pulang, yaitu ia menjadi marah. Ia tidak punya belas kasihan. Namun anak kedua yang pergi itu telah menuhankan kebebasannya. Orang berdosa berpikir bahwa dalam kebebasannya ia bisa menikmati segala hal untuk kepuasan dirinya. Salomo jatuh dalam kebebasan yang tidak berkaitan dengan kemuliaan Tuhan. Ia tidak mengaitkan itu dengan terobosan iman dan kesenangan Tuhan. Daud jatuh dalam dosa karena ia bermalas-malasan dan memanjakan diri. Waktu itu bisa menjadi baik dalam kebebasan, namun waktu itu bisa menjadi jahat ketika kebebasan kita tidak terikat pada Firman Tuhan. Di dalam bagian inilah Salomo jatuh. Apakah benar bahwa hidup adalah pilihan kita? Itu tidak benar. Hidup kita adalah kedaulatan Tuhan. Hidup adalah pilihan pribadi bagi orang-orang di luar Tuhan. Hidup kita adalah ketaatan kepada Tuhan. Salomo lupa diri dan merasa bahwa hidup adalah pilihannya sendiri. Ketika manusia kehilangan fokus dan orientasi, ia akan jatuh ke dalam dosa. Jadi kekuasaan dan kenikmatan bisa menidurkan kita. Waktu bisa menjadi jahat dan menidurkan kita dalam kepuasan dan kenikmatan. Saat itu Salomo tidak memiliki penasihat rohani. Kita harus memiliki penasihat rohani. Pasangan kita bisa menjadi penasihat rohani kita. Orang tua harus menjadi penasihat rohani bagi anak-anak sehingga mereka berjalan dalam kebenaran dan keadilan. Saudara seiman kita juga bisa menjadi penasihat rohani kita. Salomo merasa dirinya berhikmat sehingga ia merasa tidak membutuhkan penasihat rohani. Ia merasa dirinya adalah raja di atas segala raja. Itulah kejatuhan Salomo.

 

            Kedua, Salomo mengejar kepuasaan duniawi yang semu. Ia mencintai banyak perempuan asing demi kenikmatan pribadi. Manusia yang mengejar kepuasan dunia tidak akan mencapai kepuasan. Dunia memiliki standar kepuasan yang tinggi, namun itu belum tentu bisa memuaskan manusia. Ada seorang petinju terkenal yang terus mencari kepuasan seksual. Ia tidak pernah puas mengikuti keinginannya yang liar. Pada masa akhir hidupnya Salomo menulis tentang kebahayaan perempuan yang suka menggoda dan menjebak. Itulah yang Salomo sampaikan setelah ia sadar bahwa ia telah jatuh. Seks bukanlah sumber kebahagiaan tetapi hanyalah sarana. Kebahagiaan dalam pernikahan bersumber pada Kristus. Jadi pasangan harus terus membangun relasi dengan Kristus yang adalah Tuhan. Kita harus bisa mengendalikan diri. Jika mulut kita tidak dikendalikan, maka kita akan terus membicarakan hal-hal yang buruk. Mulut kita akan terus mencari kepuasan sampai kita mengendalikannya. Salomo mengejar kepuasan yang liar. Ia melewati batas yang Tuhan berikan dan akhirnya ia mengejar hal-hal duniawi. Seks liar bisa menghancurkan kita. Di zaman dahulu ada banyak pria yang meninggal karena penyakit seksual. Mereka melakukan seks liar dengan banyak pasangan sampai akhirnya penyakit seks itu ditularkan kepada banyak orang. Namun setelah obatnya ditemukan, mereka kembali menjadi liar. Pandemi ini mengajarkan kepada kita bahwa manusia itu kecil dan terbatas. Dalam masa ini Tuhan juga memunculkan orang-orang yang memiliki iman yang sejati. Kita harus waspada agar tidak menuhankan kepuasan. Kita dipanggil bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani. Kalau kita terus menerus mencari kepuasan maka kita sudah kehilangan identitas kita seperti Salomo. Salomo jatuh karena ia lupa bahwa takhtanya itu adalah perwakilan takhta Tuhan. Takhtanya seharusnya dipakai untuk menyatakan keadilan dan kebenaran tetapi ia memakainya untuk mencari kepuasan.

 

            Ketiga, kita membahas tentang tujuan Salomo. Orang-orang memuji Salomo karena ia bisa menyelesaikan banyak perkara dengan bijak. Ketika Salomo membangun istana yang besar dan megah sebenarnya Salomo sedang mempertontonkan kehebatannya yang semu. Ia membangun rumah untuk para istri dan anak-anaknya. Ketika ia memamerkan semua itu, sebenarnya ia sedang melukai hati Tuhan. Ia mencuri kemuliaan Tuhan dan menurunkan kemuliaan takhtanya menjadi kemuliaan duniawi. Memamerkan apa yang kita miliki demi kepuasan diri adalah dosa. Melalui surat Kolose kita diajarkan untuk memuliakan Kristus dalam perkataan dan perbuatan. Semua yang kita lakukan haruslah dalam nama Tuhan Yesus dengan ucapan syukur. Setelah itu Paulus menjelaskan bahwa suami-istri harus saling mengasihi. Ia juga membahas tentang relasi orang tua-anak dan tuan-hamba. Paulus kemudian menulis: Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23). Nilai hidup kita adalah ibadah. Hidup kita harus menyatakan Kristus yang hidup dalam diri kita. Kita harus bertanya apakah hidup kita membuat orang-orang melihat Kristus atau tidak. Ketika kemuliaan diri kita tonjolkan, saat itu kita sedang mengecilkan Kristus. Di sana kita sudah berdosa. Salomo mencintai banyak wanita mungkin karena ia mengalami krisis identitas. Namun sampai sejauh mana seorang bisa mengalami krisis identitas? Orang Kristen bisa terjatuh dalam dosa namun ia akan kembali kepada Tuhan. Pada masa tuanya Salomo kembali kepada Tuhan. Ia menulis kitab Amsal, Pengkotbah, dan Kidung Agung pada masa tuanya. Kita bisa terjatuh ketika kita melupakan Tuhan. Kita bisa kehilangan identitas untuk sementara waktu ketika kita tidak berelasi dengan Tuhan.

 

            Paulus menulis: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus (Filipi 3:13b-14). Paulus tidak mengutamakan seks atau keuntungan materi. Ia mengejar panggilan surgawi dari Tuhan. Jadi hidup kita adalah untuk memuliakan Tuhan. Salomo telah melupakan panggilannya sebagai raja. Kita bisa lupa diri untuk sementara waktu. Namun kita tidak boleh kalah dari hewan-hewan tertentu yang tidak pernah melupakan jasa penolongnya. Kristus mati untuk menebus kita dan mengubah kita. Ia memberikan kesucian dan kebenaran kepada kita. Keselamatan itu juga diberikan kepada kita. Kita tidak boleh sampai melupakan semua ini demi uang, seks, dan lainnya. Kita bisa menjadi siapa diri kita saat ini karena anugerah Tuhan. Kesuksesan itu bisa menjadi ujian bagi kita. Jadi kita harus selalu waspada

 

2) Kejatuhan karena pergaulan hidup

            Kita adalah makhluk sosial, namun apakah kita harus memenuhi semua nilai sosial kita? Tidak. 1 Raja-Raja 11:4 (bandingkan dengan 1 Korintus 15:33) Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya. 1 Korintus 15:33 Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Dalam pergaulan, orang-orang bisa saling memengaruhi. Ketika kita berelasi, kita harus berelasi dalam misi Tuhan. Di sana kita menjadi garam dan terang. Kehadiran kita harus membuat orang-orang takut berbuat dosa. Kita bergaul agar kita bisa dipakai oleh Tuhan untuk menjangkau banyak orang. Pergaulan Salomo begitu sempit. Ia dilayani oleh banyak wanita. Mereka suka melayani Salomo karena mereka mendapatkan banyak hal yang mereka inginkan. Salomo terpenjara dalam kenikmatan yang semu. Ia mendapatkan begitu banyak pelayanan yang membuatnya melupakan Tuhan. Mengapa Salomo salah dalam bergaul? Ini karena Salomo bergaul tanpa iman. Ia memilih banyak wanita tanpa standar iman. Ia tidak mencari wanita yang sepadan imannya. Salomo hanya memikirkan kenikmatan. Pada akhirnya itu membuatnya terjatuh dalam dosa. Pada masa tuanya ia memperingatkan kaum muda agar tidak mengikuti godaan perempuan fasik. Kita harus bergaul dengan orang-orang seiman, namun kita tidak boleh melupakan orang-orang di luar Gereja. Mereka harus dijangkau agar mereka kembali kepada Tuhan. Kita boleh memiliki banyak komunitas, namun kita tidak boleh melupakan iman kepada Tuhan. Komunitas yang baik bagi kita adalah komunitas yang membangun iman kita. Salomo bergaul tanpa iman karena hatinya tidak terpaut pada Tuhan sepenuhnya. Hatinya sudah bercabang sehingga ia tidak fokus beribadah kepada Tuhan. Jadi kita harus berhati-hati dalam pergaulan. Iman Salomo tidak mencerdaskan dirinya. Seharusnya Salomo memilih hanya 1 istri, namun ia tidak melakukan itu. Imannya tenggelam karena kenikmatan. Ia tidak lagi mengutamakan Tuhan karena kenikmatan. Iman mengikat pergaulan kita.

 

            Kedua, Salomo bergaul karena cinta. Setelah bertobat, Salomo menulis ‘cinta itu kuat seperti maut’ (Kidung Agung 8:6). Cinta yang salah bisa mematikan iman kita dan hati nurani kita. Cinta bisa mematikan relasi kita dengan Tuhan. Cinta itu tidak terlihat namun energinya begitu besar. Kasih itu membuat suatu ikatan. Ikatan itu bisa indah atau juga bisa buruk jika ikatan itu membuat kita menjauh dari Tuhan. Maka dari itu kita harus berhati-hati dalam pergaulan dan juga hobi kita. Salomo tidak sadar bahwa cintanya kepada Tuhan sudah digeser oleh cintanya kepada para wanita asing. Para wanita itu dianggap lebih menarik daripada Tuhan. Cinta kita kepada keluarga pun bisa menggeser cinta kita kepada Tuhan. Keluarga yang indah adalah keluarga yang saling mendukung untuk lebih mengasihi Tuhan. Akhirnya kerutinan agama Salomo tidak lagi memiliki makna. Ia menjalankan semua itu tetapi hatinya tidak sungguh-sungguh berfokus pada Tuhan. Imannya sudah tertidur. Akhirnya ia menyembah berhala. Ini pasti sungguh menyakiti hati Tuhan. Pada masa hidup Daud, semua berhala itu dihancurkan, namun Salomo membangun kembali semua berhala itu. saat itu banyak orang pasti bersedih. Alkitab tidak menceritakan proses pertobatan Salomo, namun kita bisa melihat hasil pertobatannya. Ia harus mengembalikan takhta itu untuk kemuliaan Tuhan dan mengembalikan identitasnya sebagai raja yang menyatakan Tuhan. Setelah jabatannya beralih kepada anaknya, Rehabeam, Alkitab tidak mencatat keberadaan para berhala dan istana para istrinya. Itu menjelaskan bahwa Salomo akhirnya bertobat. Ia telah sadar dan imannya telah kembali kepada Tuhan. Namun tidak semua orang itu seperti Salomo yang pada akhirnya kembali kepada Tuhan.

 

 

KESIMPULAN

 

1) Hidup adalah ketaatan pada ketetapan Tuhan (bandingkan dengan Filipi 3:1-16 dan Roma 6:17-19). Hidup bukanlah suatu pilihan bagi orang Kristen. Kita harus melupakan masa lalu yang penuh dosa dan berfokus untuk melayani Tuhan. Setiap hari kita harus memiliki perjuangan iman. Kita tidak hidup untuk masa lalu. Kita dahulu adalah hamba dosa, namun kita sekarang adalah hamba kebenaran. Jadi anggota-anggota tubuh kita harus dipakai untuk menyatakan kemuliaan Tuhan. Hidup kita adalah ketetapan Tuhan untuk menjalankan apa yang Tuhan inginkan. Jadi kita harus senantiasa taat.

 

2) Hidup tidak cukup jika secara rasio kita tahu mana yang boleh dan tidak boleh serta mana yang suci dan tidak suci (bandingkan dengan Roma 7:19). Di dalam diri kita ada 2 hukum yaitu hukum surgawi dan hukum duniawi. Jika iman tidak memimpin, maka kita akan mengikuti hukum duniawi. Pengetahuan saja tidak cukup. Kita boleh berpikir begitu rupa, namun iman harus tetap memimpin. Rasio kita akan menjadi semakin cerdas jika iman menerangi rasio kita. Iman itu bertumbuh karena Firman Tuhan yang kita baca setiap hari. Jadi kita harus mendidik keluarga kita untuk senantiasa membaca Firman Tuhan.

 

3) Hidup adalah keberanian iman untuk menyatakan kehendak Tuhan di atas kehendak diri kita sendiri. Kita harus berani menolak segala keinginan yang tidak suci. Kita harus berani melakukan peperangan iman. Kita tidak mau dibodohi oleh Setan, dunia, dan nafsu kita yang liar. Kita harus terus mengingat Kolose 3:23. Apapun yang kita lakukan, kita harus terus mengingat prinsip-prinsip Firman Tuhan.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami