Kejatuhan Gideon

Kejatuhan Gideon

Categories:

Bacaan alkitab: Hakim-Hakim 8:22-35

 

Pendahuluan

            Manusia mudah jatuh dalam ekstrim pendulum. Ketika hidupnya lancar, ia cenderung melupakan Tuhan. Ketika kelancaran itu hilang, ia akan mengalami kesesakan hati dan kemudian berdoa kepada Tuhan. Jadi adanya pendulum dalam hidup itu terkadang baik. Bagian yang baik bisa membuatnya melupakan Tuhan dan bagian yang tidak baik itu bisa membawanya kembali kepada Tuhan. Demikian juga dengan tubuh kita. Terkadang ketika kita sedang sehat, kita tidak bergantung pada Tuhan. Ketika kita jatuh sakit, kita bisa sangat bergantung kepada Tuhan dalam doa. Pada saat sedang sehat terkadang kita lupa untuk berdoa kepada Tuhan. Kita juga cenderung jatuh kepada satu ekstrim karena dibesarkan dalam budaya yang traumatis. Jika kita memiliki ayah yang boros dan ibu yang pelit, maka kita juga bisa menjadi orang yang pelit atau boros. Orang yang sering merasakan kesusahan dan kepelitan orang tuanya bisa cenderung menjadi orang yang boros.

 

Kita juga bisa melihat hal ini dalam hidup orang Israel. Mereka mengalami kehidupan yang sulit karena selama 7 tahun mereka dijajah oleh orang Midian dan Amalek. Mereka mengalami kesulitan besar sampai mereka mengalami 3 krisis: krisis rohani, krisis mental dan krisis hidup. Israel tidak lagi sungguh-sungguh dalam beribadah kepada Tuhan Allah dan tidak lagi hidup menurut perintah-Nya. Mereka mengalami krisis mental sehingga mereka menjadi penakut. Mereka juga mengalami krisis hidup karena mereka tidak dapat menikmati hasil jerih payah dari pertanian mereka. Mereka berteriak kepada Tuhan dan Tuhan kemudian mengirimkan nabi dan juga Gideon. Setelah dilepaskan dari cengkeraman penjajah, mereka jatuh kepada sisi ekstrim pendulum sebelumnya dimana mereka melupakan Tuhan sehingga mereka menyembah efod dan Baal-Berit.

 

Mengapa Gideon tidak mau menjadi pemimpin Israel, padahal dia diangkat menjadi hakim atas Israel? Keputusan Gideon untuk tidak mau menjadi pemimpin itu kelihatan baik namun belum tentu benar. Ini baik karena ia tidak gila akan kekuasaan, pujian, dan fasilitas. Ia bisa dengan mudah menjadi pemimpin pada saat itu, namun ia tidak gila akan kepemimpinan dan kekuasaan. Jadi keputusannya kelihatan baik namun tidak benar.

 

Mengapa Gideon meminta emas dari hasil jarahan dan dijadikan pakaian efod? Efod adalah pakaian kebesaran imam yang ada di rumah Tuhan. Apakah Tuhan menyuruh Gideon untuk meminta emas jarahan dan membuat efod dari emas itu? Tidak. Hal ini merupakan inisiatif Gideon.

 

Mengapa Israel menyembah efod itu? Efod itu seperti jubah dan merupakan pakaian kebesaran imam namun kemudian disembah oleh Israel. Kita juga bisa jatuh ke dalam dosa seperti itu.

 

Mengapa setelah Gideon mati Israel menyembah Baal-Berit? Di sini kita melihat Israel sudah jatuh ke dalam sisi ekstrim pendulum. Seharusnya kita senantiasa mengingat dan bersandar pada Tuhan dalam seluruh keberadaan kita. Di saat sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, ada pergumulan maupun tidak ada pergumulan, kita harus selalu mengingat dan mengandalkan Tuhan.

Pembahasan

            Dalam bagian yang kita baca kita bisa mempelajari tentang kepemimpinan rohani yang terhilang. Ketika Gideon tidak mau diangkat menjadi pemimpin Israel, alasan yang dikemukakannya sangat baik. Ia tidak mau dirinya atau keturunannya memerintah Israel. Gideon mau Tuhan sendiri yang memerintahkan mereka. Ia mau bangsa Israel menganut teokrasi dimana Allah sendirilah yang menjadi pemimpin. Namun sudah siapkah bangsa Israel menghidupi sistem seperti ini? Belum siap. Sudah terbentukkah satu pola ibadah yang benar di dalam Israel? Belum. Apakah mereka sudah teruji sebagai orang yang takut akan Tuhan? Belum. Apakah mereka sudah teruji buah imannya dalam situasi yang baik maupun yang sulit? Belum. Mengapa Gideon tidak mau mengambil tugas itu? Keputusan Gideon itu baik namun tidak benar. Mengapa keputusannya tidak benar? Karena Israel pada saat itu adalah seperti domba yang tidak memiliki gembala. Mereka tidak punya akar rohani, pertumbuhan rohani, dan buah rohani. Gideon seperti melepaskan mereka dan akhirnya Israel mencari bentuk kerohanian mereka sendiri. Apa yang tidak benar dari hal ini? Seandainya Gideon tidak mau menjadi pemimpin organisasi, setidaknya ia bisa menjadi pemimpin rohani. Di sini terjadi kehilangan kepemimpinan rohani karena Gideon tidak mau menjadi pemimpin rohani. Banyak orang tua membesarkan anak secara fisik, pengetahuan, sosial, dan lainnya namun tidak membesarkan anak secara rohani. Mengapa demikian? Karena iman, karakter, sosial, talenta, dan lainnya tidak diarahkan kepada Tuhan. Ini menunjukkan bahwa ada pola yang terhilang di dalam rumah tangga. Pola yang terhilang itu adalah pola kepemimpinan rohani.

 

Dalam bagian ini kita melihat bahwa bangsa Israel membutuhkan kepemimpinan rohani. Ketika kita dimampukan menjadi pemimpin organisasi, baik yang bersifat profit atau non profit, kita harus mengingat bahwa kita memiliki tugas kepemimpinan yang lain yaitu kepemimpinan rohani. Di dalam kepemimpinan rohani itu kita sedang mendemonstrasikan bahwa Tuhan itu hidup serta berkuasa. Di sana kita menyatakan bahwa kita harus mengandalkan Tuhan. Melalui itu kita harus bisa mengarahkan anggota keluarga, sahabat, dan rekan kerja kepada Tuhan sehingga mereka melihat Tuhan. Kepemimpinan kita bukanlah kepemimpinan yang bersifat antroposentris tetapi teosentris atau kristosentris. Meskipun kita memimpin perusahaan yang mencari profit, kita harus memimpin sebagai anak Tuhan. Sebagai orang Reformed kita harus mendemonstrasikan kepemimpinan yang teosentris atau kristosentris. Dalam hal ini kita sedang bersaksi dalam nilai usaha, studi, dan kemasyarakatan. Dalam bagian ini Gideon tidak melakukan tugas kepemimpinan rohaninya. Israel dibiarkan berjalan sendiri sehingga mereka membentuk pola ibadah mereka sendiri yang tidak benar. Kepemimpinan rohani ini seringkali diabaikan atau terhilang dalam pendidikan di rumah, masyarakat, dan tempat lainnya. Teladan dan karakter kristiani sangat sulit ditemukan dalam semua tempat itu. Gideon telah jatuh karena ia membiarkan Israel tidak dipimpin secara rohani. Kita tidak boleh puas ketika sudah menyelesaikan tugas pemimpin organisasi di rumah maupun perusahaan namun belum menjalankan fungsi rohani. Di sini kita mempelajari mengapa Israel mudah melupakan Tuhan dan Gideon. Ini karena Gideon tidak mengajarkan tentang hal-hal yang bersifat rohani, tentang warisan iman, dan tentang bagaimana mereka dapat mendemonstrasikan iman yang benar. Orang tua bisa dengan mudah memberikan warisan materi namun belum tentu bisa memberikan warisan iman.

 

Ketika Israel meminta Gideon dan keturunannya untuk memimpin mereka, Gideon menolak permintaan itu. Ia tidak mau dirinya maupun keturunannya memerintah Israel. Gideon menyatakan bahwa Tuhan sendirilah yang menjadi pemimpin Israel. Kemudian ia meminta emas jarahan yang didapat dari orang Midian keturunan Ismael serta mengumpulkannya. Sesudah itu Gideon membuat baju efod. Emas yang dikumpulkan itu kira-kira seberat 19,4 kg dan ini dipakai untuk membuat baju efod yaitu baju kebesaran imam. Pada bagian dada baju efod ada 12 batu terbaik yang berbeda jenis. 12 batu terbaik itu melambangkan 12 suku Israel. 12 batu yang mewakili 12 suku Israel itu harus selalu dekat dengan hati imam. Baju efod itu dibuat juga dengan kain ungu dan kain emas. Baju efod itu diletakkan di tengah kota tempat Gideon tinggal yaitu Ofra. Kain yang banyak dipakai untuk membuat baju efod itu adalah kain emas. Emas itu dilebur dan kain itu dicelupkan ke dalamnya. Dengan bahan-bahan ini baju kebesaran itu menjadi terlihat megah dan mewah. Baju efod yang terlihat sangat indah itu diletakkan di tengah-tengah kota sehingga semua orang dapat melihatnya. Di Indonesia ada songket dari Palembang dan beberapa daerah lain. Songket yang paling terkenal adalah buatan Palembang. Ada pula beberapa ulos yang dibuat dengan menggunakan bahan yang salah satunya adalah benang emas. Songket atau ulos itu bisa bernilai ratusan juta karena nilai seninya, tergantung siapa yang membuatnya dan kapan itu dibuat. Harganya yang mahal itu juga bisa karena benang emasnya. Jika ini dijual secara murah karena pemiliknya tidak mengerti, maka ia akan mengalami kerugian.

 

Apakah Tuhan menyuruh Gideon untuk membuat baju efod? Tidak. Ini kemauan Gideon sendiri. Mengapa Gideon membuat baju efod itu? Baju efod itu tampak jelas dan itu mengingatkan orang-orang akan perjuangan Gideon dalam mengalahkan tentara Midian dengan kekuatan Tuhan. Baju efod adalah simbol kekuatan Tuhan. Kesalahan Gideon adalah dalam memposisikan keberadaan Tuhan (bandingkan dengan Daud). Seharusnya Gideon tidak meminta emas jarahan dan membuat baju efod itu tetapi membangun rumah Tuhan. Seharusnya ia menunjuk imam untuk mengajarkan bangsa Israel tentang bagaimana beribadah kepada Tuhan. Mengapa Gideon salah memposisikan keberadaan Tuhan? Gideon berpikir bahwa baju efod itu cukup untuk mewakilkan keberadaan Tuhan. Baju efod adalah baju kebesaran imam yang menjadi pengantara antara manusia dengan Allah. Mengapa Gideon tidak melakukan tugas keimaman itu? Ketika Daud sudah mendapatkan tabut Allah (2 Samuel 6), ia begitu gembira dan membawanya ke Yerusalem. Ia awalnya menyambut tabut itu dengan pakaian raja. Ketika ia sadar bahwa ia sedang mengangkat tabut Allah, ia melepaskan baju kerajaannya dan memakai baju efod yang sederhana yang berbahan kain lenan. Ia kemudian mengambil tugas para budak, penari, dan penyanyi. Jadi Daud memakai baju imam sambil menari dan menyanyi. Ada orang-orang yang berkata bahwa aurat Daud terlihat dalam proses itu, namun ini sebenarnya adalah kesalahan dalam penafsiran. Daud tidak telanjang karena ia masih memakai baju efod yang adalah simbol pengantara. Daud tidak mau disambut oleh rakyat sebagai raja karena ia sedang membawa tabut Tuhan yang adalah Raja di atas segala raja. Setelah itu Mikhal menghina Daud yang menari seperti itu. Ia tidak tahu bahwa Daud sedang merendahkan diri di hadapan Tuhan. Daud mengerti bahwa Allah adalah Raja yang sesungguhnya. Daud memakai baju efod itu dan menjadi wakil agar Israel melihat kebesaran Tuhan.

 

Mengapa mereka sampai menyembah baju? Karena Israel mengalami krisis rohani. Tuhan memberikan ketenangan dan kenyamanan selama 40 tahun setelah Midian dan Amalek dikalahkan. Di dalam masa 40 tahun itu mereka tidak punya pola ibadah dan pola hidup takut akan Tuhan. Ketenangan dan kenyamanan hidup selama 40 tahun itu membuat mereka mengalami krisis rohani. Di dalam kelancaran dan kenyamanan itu mereka tidak memiliki bentuk kerohanian dan bentuk relasi dengan Tuhan yang benar sehingga mereka menyembah baju efod itu.

 

Gideon membuat efod untuk mewakilkan kehadiran Tuhan tetapi ia sendiri tidak mau menjadi pemimpin rohani. Kita tidak mungkin bisa membuat anak-anak kita hidup suci hanya dengan memberikan perintah namun kita tidak memberikan teladan iman. Di saat kita tidak mau memberikan teladan iman, kita sedang lari dari tanggung jawab. Banyak orang tua lari dari tanggung jawab dengan menyerahkan pembentukan anak-anak mereka kepada gereja tetapi mereka sendiri tidak mau terlibat. Meskipun Gideon bisa menolak untuk menjadi pemimpin organisasi, seharusnya ia tetap menjadi pemimpin rohani bagi israel. Krisis kepemimpinan terjadi paling utama karena tidak ada “takut akan Tuhan” dalam diri pemimpin itu. Ia tidak mau memimpin secara rohani sehingga ia tidak menjadi teladan. Gideon, berbeda dengan Daud, tidak menjadi pemimpin rohani dan tidak merendahkan dirinya. Setelah Gideon meninggal, Israel menyembah Baal-Berit. Namun setelah Daud meninggal, masih ada warisan iman yang membuat Israel tetap beribadah kepada Tuhan. Gideon tidak memberikan warisan iman. Kitab pengkhotbah menyatakan bahwa warisan iman yang kita harus miliki adalah takut akan Tuhan (Pengkhotbah 12:13). Tanpa rasa takut akan Tuhan, semuanya akan sia-sia dan lenyap. Gideon tidak melaksanakan tanggung jawab sebagai pemimpin rohani tetapi menyerahkan itu semua kepada baju efod itu.

 

Mengapa Israel pada akhirnya menyembah baju efod itu? Karena Israel mengalami krisis rohani. Tuhan memberikan ketenangan dan kenyamanan selama 40 tahun setelah Midian dan Amalek dikalahkan. Di dalam masa 40 tahun itu mereka tidak punya pola ibadah dan pola hidup takut akan Tuhan. Ketenangan dan kenyamanan hidup selama 40 tahun itu membuat mereka mengalami krisis rohani. Di dalam kelancaran dan kenyamanan itu mereka tidak memiliki bentuk kerohanian dan bentuk relasi dengan Tuhan yang benar sehingga mereka menyembah baju efod itu. Mereka memberhalakan baju efod. Hal ini berarti ada dosa pemberhalaan yang menyembah baju efod sebagai Tuhan. Di sini ada peralihan dari tanggung jawab yang tidak dikerjakan kepada objek baru yang dilihat dan dinikmati oleh semua orang. Ini membuat mereka terjebak dan terikat. Jadi selama 40 tahun Israel tidak memiliki kepemimpinan rohani, dinamika rohani, dan momentum rohani. Mereka hanya melihat kepada baju efod yang menyimbolkan kekuatan Tuhan yang membebaskan mereka dari tentara Midian. Pada akhirnya mereka memberhalakan baju efod dan Baal. Ini adalah jebakan bagi Israel. Alkitab menyatakan bahwa pemberhalaan itu menjadi jerat bagi Gideon dan seisi rumahnya (ayat 27). Mereka terjebak karena Gideon tidak bertanya kepada Tuhan tentang apa yang seharusnya ia lakukan setelah menang dan bebas dari penjajahan Midian. Seharusnya Gideon memikirkan bagaimana di dalam kemerdekaan itu bangsa Israel bisa tetap melihat kepada Tuhan dengan benar. Ia mengambil inisiatif sendiri sehingga baju efod itu menjadi jerat baginya dan keluarganya. Ia mengalihkan tanggung jawab rohaninya dengan membuat baju efod itu. Salib bisa menjadi hal yang berbahaya jika dianggap seperti baju efod itu. Ada orang yang selalu membawa salib ketika akan mengerjakan sesuatu yang berat atau sangat penting. Salib itu menjadi berhala baginya. Seharusnya orang Kristen berdoa dan mengerti makna sesungguhnya dari salib itu berdasarkan Firman Tuhan, bukan menjadikannya berhala. Daud mempelajari Taurat namun Gideon tidak. Jadi peralihan itu adalah suatu dosa motivasi. Banyak orang tua membuat anaknya diam dengan memberikan gadget. Di sini ada dosa mengalihkan motivasi. Seharusnya orang tua mendidik anak dengan otoritas sehingga mereka diajar untuk memiliki penguasaan diri dalam ibadah. Pada akhirnya anak itu menuhankan gadget. Itu adalah dosa yang sama dengan dosa Gideon. Orang tua tidak boleh lari dari tanggung jawab seperti Gideon. Anak-anak harus diajar untuk mengaitkan hidupnya dan tanggung jawabnya dengan Tuhan. Gideon tidak mau menjadi pemimpin rohani dan membiarkan Israel berjalan sendiri-sendiri tanpa pola ibadah yang benar. Ia membuat baju efod dan tidak memilih untuk membangun rumah Tuhan serta tidak memberikan pengawasan rohani bagi bangsa Israel.

 

Sebagai pemimpin yang pernah dipakai Tuhan untuk membebaskan bangsa Israel dari tangan Midian, Gideon memiliki tanggung jawab namun ia terlalu asyik dalam hidupnya. Dalam waktu 40 tahun Gideon mendapatkan 70 anak. Ia sungguh menikmati hidup dan tidak peduli dengan moralitas Israel. Bolehkah kita berpikir ‘akhirnya’ dalam pelayanan? Gideon berpikir bahwa tugasnya sudah selesai setelah ia mengalahkan tentara Midian sehingga setelah menang ia meninggalkan tanggung jawab dan menikmati hidupnya. Kita tidak boleh berpikir ‘akhirnya’. Dalam pernikahan pun tidak boleh ada kata ‘akhirnya’. Setelah lulus kuliah pun kita tidak boleh berkata demikian. Jika kita berkata ‘akhirnya’, maka kita akan menjadi Gideon modern yang akan mencari kesenangan-kesenangan lain. Bolehkah kita berhenti melayani dan memberikan semua itu kepada orang-orang yang lebih muda? Tidak boleh. Bolehkah kita mencari-cari alasan sehingga kita tidak perlu melayani Tuhan? Tidak boleh. Kita harus selalu mempunyai hati yang melayani Tuhan. Setiap dari kita harus memeriksa apakah kita mempunyai dosa yang sama dengan Gideon yaitu dosa peralihan dan dosa melupakan serta mengabaikan tanggung jawab. Ketika Tuhan masih memberikan kita nafas kehidupan maka itu adalah anugerah dan kesempatan yang harus kita ambil untuk melayani Tuhan. Kita harus selalu berdoa dan bersandar pada Tuhan dalam pekerjaan Tuhan. Itulah yang menyehatkan kita. Olahraga fisik itu penting namun terbatas gunanya (1 Timotius 4:8). Kita membutuhkan olahraga rohani agar hati kita semakin dekat dengan hati Tuhan.

 

Apakah dalam zaman sekarang ada efod-efod modern? Ada yaitu gadget, kenikmatan hidup, kesuksesan, warisan fisik, dan lainnya. Israel memberhalakan efod lalu kemudian juga memberhalakan Baal setelah Gideon meninggal. Ini karena mereka tidak memiliki pola ibadah dengan iman. Mereka tidak terbiasa beribadah dengan iman tetapi terbiasa beribadah dengan mata. Mereka tidak terbiasa dengan pola ibadah menikmati kehadiran Tuhan melalui Firman Tuhan. Mereka tidak memiliki pola dan sistem yang benar sehingga terjadi pemberhalaan efod dan Baal. Bolehkah kita menikmati ketenangan hidup kita? Kita boleh menikmati berkat yang Tuhan sudah berikan kepada kita seperti uang, kesehatan, dan kuasa, namun kita harus mengingat bahwa semua itu hanya sementara. Jangan sampai kita bergantung pada semuanya itu sampai kita tidak bergantung pada Tuhan. Jika kita tidak waspada, maka kita bisa memberhalakan uang, kuasa, hobi, dan ketenangn kita. Semua itu bisa menjadi efod-efod modern. Jangan sampai ketenangan atau kenyamanan hidup itu menyingkirkan Tuhan dalam hidup kita. Setiap kita memiliki potensi untuk menciptakan efod-efod yang baru. Allah sudah menegaskan bahwa tidak boleh ada penyembahan selain kepada Allah. Kita boleh menikmati hidup namun tetap mengingat bahwa semuanya itu adalah anugerah dari Tuhan. Kita tidak boleh lupa untuk bergantung pada Tuhan dan lupa untuk menikmati Firman Tuhan.

 

Penutup

Kita tidak boleh melupakan tanggung jawab kita dan kita harus meninggalkan jejak kaki yang bersifat kekal yang bisa dilihat oleh orang lain sehingga mereka terus mengingat Tuhan. Daud berhasil dalam hal ini karena pengaruhnya tetap ada setelah ia meninggal. Namun Gideon tidak demikian karena tidak ada kepemimpinan rohani. Pemimpin yang berhasil menghasilkan pengaruh kinerja, standar, pencapaian setelah ia meninggal. Jika kita mengaitkan ini dengan Tuhan, maka segala usaha kita akan menjadi kesaksian yang baik. Orang-orang akan dapat melihat bahwa kita memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Kita harus berani berkorban dan mencapai standar yang terbaik untuk Tuhan, tanpa cacat cela, dan sempurna. Kita harus berusaha agar segala usaha kita mengandung zero defect yaitu tanpa ada kesalahan sedikitpun. Ini semua kita lakukan untuk kemuliaan Tuhan. Kalau kita berhasil melakukan semua ini maka kita berhasil dalam menjadi pemimpin organisasi dan pemimpin rohani. Setelah kita meninggal, semua ini akan menjadi warisan iman. Kita harus berhasil bukan dalam hal profit saja tetapi lebih penting lagi dalam menjadi pemimpin yang membawa orang lain kepada Tuhan. Salah satu alasan mengapa Tuhan tidak berkenan atas pekerjaan atau kerohanian kita adalah karena kita tidak setia dalam mengerjakan perkara kecil. Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar (Lukas 16:10). Semua perkara kecil harus kita kerjakan dalam nilai dan standar yang terbaik untuk Tuhan. Semua usaha yang kita kaitkan dengan Tuhan bisa dipakai oleh Tuhan. Kita bisa belajar dari Gideon yang awalnya adalah penakut namun kemudian berubah menjadi pemberani. Kita juga bisa belajar dari kesalahan Gideon yang menikmati hidup dan tidak rela menjadi pemimpin rohani serta menjadi teladan setelah peperangan dengan Midian berakhir. Israel menyembah berhala karena kekurangan kepemimpinan rohani. Mari kita merenungkan bagaimana hidup kita selama: Apakah terlarut dalam kehikmatan dunia sehingga melupakan Tuhan dan memberhalakan yang lain? Atau kita menikmati segala anugerah Tuhan dan mengembalikan segala puji sembah kepada-Nya saja?

 

(Ringkasan khotbah ini belum dikoreksi oleh pengkhotbah – LS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami