Kegagalan dalam Mendidik Anak (1 Samuel 2:12-25)

Kegagalan dalam Mendidik Anak (1 Samuel 2:12-25)

Categories:

Khotbah Minggu 02 Februari 2020 sore

Kesedihan Hati Imam Eli: Kegagalan dalam Mendidik Anak

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Pada masa kecilnya, Samuel mendampingi Imam Eli yang sudah tua. Samuel dididik olehnya dan menjadi orang yang baik. Namun Eli gagal mendidik anak-anak kandungnya sendiri. Nama istri Eli tidak dicatat. Kita juga tidak diberikan catatan tentang masa kecil Hofni dan Pinehas sampai mereka dewasa. Alkitab hanya menceritakan bahwa mereka tidak takut akan Tuhan. Kita akan membahas tentang Imam Eli, Hofni, dan Pinehas. Imam Eli telah gagal dalam mendidik anak-anaknya. Pembahasan kita diambil dari 1 Samuel 2:12-25.

 

 

1) Pendahuluan

 

Apa yang menyebabkan orang tua bersedih? Ketika anak sudah besar, jika ia tidak menjadi orang yang takut akan Tuhan serta terus hidup dalam dosa, maka orang tua akan bersedih. Orang tua juga bisa bersedih ketika anak gagal bertanggung jawab dalam studinya, dalam perannya sebagai anak, dan dalam perannya sebagai anggota masyarakat. Orang tua juga bisa bersedih karena anak tidak berubah karakternya ke arah yang baik. Anak bisa bertumbuh tanpa memiliki nilai perjuangan dan tanpa memiliki pertumbuhan iman, perubahan karakter, dan perkembangan talenta. Anak yang tidak punya potensi untuk meraih masa depan juga bisa membuat orang tua bersedih. Anak yang seperti ini hidup dalam kemudahan, kemalasan, dan tanpa perjuangan. Orang tua juga bisa bersedih ketika anaknya lahir dengan kebutuhan khusus. Ada anak-anak yang terlahir dengan kekurangan fisik tertentu. Ini bisa membuat orang tua bersedih. Imam Eli bersedih karena anak-anaknya selalu berbuat jahat. Apakah tidak ada belas kasihan Tuhan untuk Hofni dan Pinehas sehingga mereka bertobat? Ternyata mereka tidak bertobat. Mengapa Imam Eli gagal dalam mendidik Hofni dan Pinehas? Ini menjadi catatan penting bagi kita. Ternyata anak seorang imam bisa hidup tanpa memuliakan Tuhan. Mengapa Imam Eli berhasil dalam mendidik Samuel? Mengapa hasilnya bisa berbeda? Apakah ada pengaruh dari Elkana dan Hana yang pernah mendidik Samuel di masa kecilnya? Anak dari sejak kecilnya harus diajarkan untuk menghargai, menghormati, dan takut akan Tuhan. Di dalam kasus Samuel ada kedaulatan Tuhan dan campur tangan Tuhan melalui Elkana dan Hana. Meskipun Eli sudah tua, dalam hati Samuel sudah tertanam kerinduan untuk melayani Tuhan. Apa yang menjamin seseorang berhasil dalam mendidik anaknya? Apakah harta, fasilitas, atau peluang? Dalam Ulangan 6, orang tua diperintahkan untuk mengatakan Firman Tuhan berulang-ulang kepada anak. Mazmur 127 mengajarkan kita bagaimana membangun keluarga di dalam Tuhan. Manusia dirusak oleh dosa. Kenikmatan yang berdosa menarik manusia agar hidup bukan untuk Tuhan.

 

 

2) Kejahatan Hofni dan Pinehas

 

Mereka tidak mengindahkan Tuhan (ayat 12). Mereka tidak diajarkan untuk menghormati Tuhan, menghargai Tuhan, dan untuk takut akan Tuhan. Di masa kecil anak, hal pertama yang kita seharusnya ajarkan bukanlah doktrin. Hal pertama yang kita ajarkan adalah pengertian sikap lalu pengertian mengapa bersikap demikian. Dalam kurikulum yang baru-baru ini kita belajar bahwa pengetahuan harus memengaruhi perbuatan. Pengetahuan dan perbuatan itu harus menyatu dengan karakter serta sikap. Namun ada yang masih kurang dalam bagian ini yaitu iman. Tanpa iman, budaya hidup yang dihasilkan dari pengetahuan dan perbuatan serta karakter itu akan mengandung dosa. Dengan iman kita mengalahkan dunia (1 Yohanes 5:4). Imanlah yang memberi kemenangan. Bukanlah pengetahuan atau kemampuan yang memberi kemenangan. Iman itu memberi kita kuasa untuk menang atas dosa. Pada masa kecilnya, anak harus terus diajarkan untuk mengingat Tuhan. Ketika anak berdoa, kita harus mengajarkannya untuk bersikap sopan yaitu melipat tangan dan menutup mata. Ketika kita membacakan Firman Tuhan, kita harus mengajarkannya untuk fokus dan diam. Pada mulanya anak-anak memang sulit diatur, namun kita harus bersabar dan terus mengajarkan hal tersebut kepada anak. Setelah itu anak juga harus diajarkan untuk takut akan Tuhan. Ia harus diberitahu mana yang benar dan mana yang salah.

 

Hofni dan Pinehas tidak mengindahkan Tuhan. Apakah ini karena kesibukan Imam Eli? Apakah dalam kesibukannya ia kurang memerhatikan anak-anaknya? Mungkin saja demikian. Kita bisa saja melakukan hal yang sama. Para teolog Puritan menekankan pentingnya ibadah keluarga. Melalui sarana ini, kita menanamkan benih Firman Tuhan dalam keluarga kita. Melalui Sekolah Minggu, iman anak semakin dipupuk. Ketika ia bertumbuh dan mendapatkan pengaruh dari luar yang negatif, kita sebagai orang tua harus memotong pengaruh itu. Jadi orang tua harus menanam, menyiram, memupuk, dan memotong untuk iman anak. Ketika Hofni dan Pinehas tidak mengindahkan Tuhan, kita bisa menyimpulkan bahwa mereka tidak menghormati, menghargai, dan takut akan Tuhan. Karena itulah kita perlu menghukum anak ketika mereka bersalah. Ini agar di dalam hatinya tertanam nilai takut yang benar. Sejak tilang elektronik diberlakukan, pelanggaran lalu lintas berkurang hingga 30%. Jadi hukuman itu penting. Mengajarkan seseorang agar takut akan Tuhan bukanlah hal yang mudah jika orang itu tidak tahu siapa Tuhan dan atribut Tuhan (maha kuasa, maha hadir, dan maha tahu). Imam Eli tidak menanamkan nilai-nilai ini dalam diri Hofni dan Pinehas.

 

Kedua, mereka memandang rendah korban untuk Tuhan (ayat 17). Memandang rendah berarti mereka tidak memikirkan tentang kesucian. Mereka tidak melihat korban itu sebagai persembahan untuk Tuhan yang harus diberikan dengan iman. Ketika mereka memandang rendah korban-korban itu, mereka sebenarnya tidak takut akan Tuhan dan mereka tidak mengerti apa artinya keadilan. Anak-anak yang terus mendapatkan kasih namun tidak pernah mendapatkan keadilan akan bertumbuh sebagai orang-orang yang tidak mengerti dan tidak peduli terhadap hukuman. Ketika Hofni dan Pinehas tidak mengerti tentang Allah yang maha tahu, maha kuasa, dan maha hadir dan tidak mengerti tentang keadilan Allah, mereka memandang rendah korban untuk Tuhan. Di sini hati mereka tersesat dan berani bermain-main dengan kesucian Tuhan. Dosa mereka semakin parah. Kita harus mendidik anak-anak kita agar mereka melihat ibadah sebagai hal yang penting, suci, dan merupakan anugerah Tuhan yang tidak boleh disia-siakan. Anak-anak harus dibuat mengerti bahwa ibadah adalah waktu untuk Tuhan dan bukan untuk diri sendiri. Di sini mereka akan menyadari bahwa diri mereka harus diserahkan untuk Tuhan. Terkadang anak-anak merasa dirinya berotoritas sehingga dalam ibadah mereka tidak mau fokus dan malah asyik bermain sendiri. Maka ketika otoritas anak belum ditaklukkan, ia akan mencoba untuk menyatakan otoritasnya. Maka dari itu orang tua harus belajar untuk menaklukkan keliaran anak yang terus menerus egois. Anak yang liar bisa melakukan aktualisasi diri yang berbahaya dan berdosa. Di dalam hal itu ia menuhankan dirinya sendiri. Anak seperti ini bisa bertumbuh menjadi orang dewasa yang terus mengutamakan dirinya sendiri. Ini karena dari sejak kecilnya ia tidak belajar mengakui otoritas orang tua dan otoritas Tuhan. Ketika ia gagal mengerti posisinya, posisi orang tua, dan posisi Tuhan, ia akan menempatkan dirinya sebagai yang terpenting. Ia akan memandang rendah orang lain.

 

Ketiga, mereka semakin berani berbuat dosa – berzinah (ayat 23). Hofni dan Pinehas meniduri setiap wanita yang ada di pintu gerbang. Mereka berpusat pada kenikmatan diri yang mengandung kecemaran. Apakah Gereja mengizinkan perceraian? Tuhan membenci perceraian (Maleakhi 2:16). Musa mengizinkan perceraian karena ketegaran hati bangsa Israel (Matius 19:8). Membiarkan tidak berarti membenarkan dan mengizinkan tidak berarti merekomendasi. Mengapa Musa membiarkan? Karena bangsa Israel degil hati. Perceraian menyedihkan hati Tuhan, Gereja, dan hamba Tuhan. Bahasa Yunani berzinah adalah porneia. Dikatakan bahwa ketika seorang laki-laki memandang wanita dan menginginkankan, ia sudah berzinah dalam hatinya (Matius 5:28). Jadi ada tiga substansi perzinahan yaitu berzinah secara hati, pikiran, dan fisik. Bagi kita yang sudah menikah jangan sampai kita membuka pintu perzinahan. Jika hati dan pikiran sudah mengarah ke perzinahan, maka tinggal sedikit saja kita bisa jatuh ke dalam perzinahan fisik. Orang yang sudah menikah harus benar-benar menjaga kesucian. Jelas dikatakan bahwa Tuhan membenci perceraian. Itu bukanlah program Tuhan. Pernikahan adalah kesatuan sampai kematian memisahkan. Hofni dan Pinehas tidak menghargai lembaga pernikahan. Mereka memperlakukan perempuan lain sebagai objek seks. Kejahatan Hofni dan Pinehas begitu luar biasa. Imam Eli mendengar hal itu namun hanya menegur mereka. Mengapa tidak ada gugatan? Posisi imam saat itu adalah posisi yang tertinggi. Ini membuat mereka semakin terhilang.

 

Keempat, mereka semakin mengeraskan hati (ayat 25b). Imam Eli menegur secara normatif namun tidak memberikan disiplin yang tegas. Ini tidak membuat Hofni dan Pinehas takut. Mereka malah semakin mengeraskan hati. Ketika Tuhan menegur Kain, Kain malah semakin mengeraskan hati. Ini menunjukkan kepada kita bahwa Iblis bisa merenggut jiwa orang-orang yang berada di luar Tuhan. Iblis bisa mengambil hati Kain, Saul, dan Firaun. Berkali-kali Saul ingin membunuh Daud namun Tuhan melindunginya. Ketika Daud dua kali mendapatkan kesempatan untuk membunuh Saul, ia memutuskan untuk melepaskan Saul. Orang yang tidak lagi memiliki hati nurani ketika ditegur tidak akan bersedih melainkan mengeraskan hati. Hofni dan Pinehas tidak lagi peduli dengan ayahnya, bangsa Israel, dan Tuhan. Kita harus mengajarkan anak-anak kita untuk peduli terhadap kebenaran Tuhan. Hofni dan Pinehas tidak lagi memiliki hati nurani. Mereka tidak punya hati yang takut akan Tuhan. Hati mereka sudah terhilang. Orang yang mengetahui kebenaran namun tidak menghargai itu, hatinya akan diserahkan kepada kecemaran (Roma 1:24). Hofni dan Pinehas mengeraskan hati karena Tuhan akan menghukum mereka. Ada orang-orang yang tidak malu akan dosa-dosanya. Ini bisa karena Tuhan memang sudah menyerahkan mereka kepada kecemaran. Di saat itu semua rasa malu dan rasa takut tidak ada lagi. Sungguh mengerikan jika kita atau anak-anak kita seperti ini. Jangan sampai kita membuat Tuhan murka dan menghukum kita. Kekerasan hati kita bisa membuat kita dihukum oleh Tuhan.

 

Kita bisa melihat tahapan dosa Hofni dan Pinehas. Pertama-tama mereka tidak mengindahkan Tuhan dalam kebenaran-Nya. Mereka sama sekali tidak takut akan Tuhan. Lalu mereka memandang rendah korban untuk Tuhan. Mereka tidak melihat kesucian Tuhan. Mereka semakin berani berbuat dosa. Lalu mereka mengeraskan hati. Mereka punya status sebagai anak-anak imam namun mereka tidak punya identitas sebagai anak-anak imam. Terkadang kita mengejar status namun tidak memiliki karakter. Seharusnya kita mengejar karakter. Jika kita mengetahui tentang kesucian namun tidak hidup dalam kesucian, maka kita sesungguhnya adalah penipu. Ada penyakit jiwa yang tidak mendatangkan sakit jiwa. Itulah yang dialami Hofni dan Pinehas. Ada orang yang menikah demi status. Ketika ia sudah mendapatkan anak, mereka bercerai. Mengapa ia mau melakukan ini? Karena ia mementingkan status. Mengapa ia berani demikian? Karena ia mau mendapatkan warisan kakeknya. Ia bermain sandiwara dan pura-pura hidup baik demi meyakinkan kakeknya agar memberikan warisan kepadanya. Jadi ia adalah orang sakit jiwa namun tidak menyadari penyakit jiwanya. Kondisi ini begitu berbahaya. Manusia berdosa tidak malu hidup dalam sandiwara demi keuntungan diri. Hofni dan Pinehas tidak mendengarkan ayahnya dan tidak sedikitpun sedih karena dosa. Kejahatan mereka sudah merusak hati nurani mereka. Mereka punya status namun tidak punya identitas dan karakteristik sebagai anak-anak imam. Semua orang yang mereka layani dimanipulasi. Baik orang maupun benda mati mereka permainkan. Rutinitas mereka telah kehilangan substansi. Kita bisa beribadah setiap minggu namun kehilangan makna. Rutinitas tanpa makna itu bisa membuat kita hadir secara fisik namun membuat hati kita menjauh dari Tuhan. Hofni dan Pinehas sering melihat persembahan korban itu namun tidak menangkap makna dalam rutinitas itu. Ini sangat berbahaya. Hofni dan Pinehas juga terlalu menikmati zona nyaman. Mereka menikmati posisi mereka sebagai anak-anak imam tanpa nilai perjuangan. Ketika anak-anak kita merasa menjadi raja atau tuan di dalam komunitasnya, anak-anak kita ada dalam bahaya. Daud mengambil Batsyeba dengan kuasanya sebagai raja. Ia terlalu menikmati kenyamanan itu sebagai seorang raja sehingga ia jatuh dalam dosa. Kepada orang-orang yang seperti ini kita harus memberikan teguran dan peringatan agar mereka selalu berjalan dalam jalan Tuhan. Kisah Hofni dan Pinehas menjadi pelajaran bagi kita orang tua. Kita harus berhati-hati terhadap dosa. Dosa itu tidak kelihatan namun pengaruhnya bisa mengikat kita.

 

 

3) Kegagalan Imam Eli

 

Dalam hal rutinitas, Imam Eli tidak gagal. Dalam pelayanannya tidak disebutkan ada kesalahan. Namun ia gagal dalam mendidik anak. Pendidikan rohani melampaui komunitas kerohanian. Ini berarti dari sejak kecilnya kita harus menanamkan pendidikan sikap hati dalam diri anak. Anak belum matang dalam rasionya namun ia bisa mengembangkan sikap hati untuk menghormati, menghargai, dan takut akan Tuhan. Hal ini bisa dilakukan melalaui ibadah keluarga. Ketika anak sudah terlatih sikap hatinya, ia akan tertib ketika beribadah di Gereja. Ketika mereka diminta berdoa, mereka akan tenang dan berdoa. Ketika mereka diminta membuka Alkitab, mereka akan membuka Alkitab dan membaca. Ketika diminta memuji Tuhan, mereka akan ikut bernyanyi. Jadi pendidikan rohani anak harus dimulai dari rumah. Imam Eli terlalu sibuk dalam pelayanannya sehingga ia lupa mendidik Hofni dan Pinehas secara rohani. Ia tidak menanam, menyiram, memupuk, dan memotong. Orang tua harus bisa mengendalikan anak. Di Eropa, kamar anak tidak boleh dikunci. Ini karena orang tua punya hak untuk melihat kamar anak setiap saat. Ruang keluarga mereka ditempatkan di lantai dua, sedangkan ruang tamu di lantai satu. Ini berarti ada privasi untuk keluarga mereka. Mereka melakukan ibadah keluarga di lantai dua. Ketika anak-anak kita sering mengunci kamar, kita harus mulai berhati-hati. Mereka bisa saja melihat hal-hal yang berdosa di internet. Pendidikan rohani untuk anak wajib diberikan di rumah. Kita tidak bisa hanya menyerahkan kepada Gereja dan berharap anak-anak kita menjadi anak-anak yang baik tanpa pendidikan rohani di rumah. Di Sekolah Minggu mereka beribadah hanya sekitar sejam lebih. Jadi pembentukan mereka lebih banyak terjadi di rumah. Maka dari itu peran orang tua itu sangat besar. Samuel terdidik hatinya karena Elkana dan Hana sudah memberikan pendidikan bahkan dari sejak kandungan. Mereka juga mengunjungi Samuel dan memberikan pendidikan itu.

 

Disiplin rohani melampaui rutinitas kerohanian. Ketika anak bersalah, ia harus mendapatkan disiplin. Sebagai orang tua kita harus berani mengambil kenyamanan anak ketika ia melakukan pelanggaran. Orang tua boleh memukul anak pada waktunya bukan untuk kepuasan diri tetapi untuk peringatan dan disiplin. Kita harus melatih anak-anak kita agar disiplin sehingga mereka bisa menghargai setiap anugerah. Itulah mengapa disiplin itu sangat penting. Jika anak-anak kita melakukan rutinitas tanpa makna, maka seiring waktu mereka akan terhilang. Dalam perumpamaan anak yang hilang, anak pertama terhilang dalam keagamaan dan anak kedua terhilang dalam kebebasan. Anak yang pertama beragama tanpa Kristus. Ia melakukan rutinitas tanpa disiplin rohani.

 

Pertobatan melampaui normatif kehidupan. Imam Eli hanya memberikan teguran verbal kepada anak-anaknya. Seharusnya Imam Eli bertindak tegas. Apa yang dilakukan oleh Hofni dan Pinehas tidak lagi bisa ditegur secara verbal. Eli harus tegas secara rohani. Kita harus memberikan disiplin rohani kepada anak-anak sampai mereka sungguh-sungguh lahir baru. Ketika anak-anak punya nilai pertobatan, disiplin, dan peperangan rohani kita tidak takut ketika mengirimkan mereka sekolah ke luar negeri. Mereka sudah punya kesadaran dan kewaspadaan terhadap dosa. Inilah kerinduan kita sebagai orang tua. Kita bahagia ketika anak-anak kita sudah lahir baru dan hidup untuk Tuhan. Kekristenan tanpa pertobatan akan menjadi semu. Kekristenan tanpa pertobatan tidak akan membawa kepada kemuliaan Tuhan. Di sini kita belajar menjadi orang tua yang bijak dan belajar untuk menjadi anak yang menghormati, menghargai, dan takut akan Tuhan. Status dan identitas kita harus sinkron. Zona nyaman harus kita waspadai agar tidak membawa kita ke dalam dosa.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami