Keelokan Karakter Hana (1 Samuel 1:1-20)

Keelokan Karakter Hana (1 Samuel 1:1-20)

Categories:

Khotbah Minggu 19 Januari 2020 Sore

Keelokan Karakter Hana

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

Kita akan membahas tentang Hana. Arti nama Hana adalah ‘menyenangkan’. Ia adalah seorang yang sabar. Kita akan melihat apa keelokan karakter Hana dari 1 Samuel 1:1-20. Kita juga akan melihat perbedaannya dengan Sara dalam hal responsnya terhadap suami yang berpoligami. Sampai ayat ke-18 masalah Hana belum selesai namun bagi Hana itu sudah selesai karena Hana memegang janji Tuhan dan ia percaya akan pertolongan Tuhan.

 

 

1) Pendahuluan

 

Rancangan Allah bagi keluarga adalah menjadi unit Gereja terkecil yang memuliakan Tuhan, menikmati penyertaan Tuhan, dan melayani Tuhan. Saat itu Elkana sudah berpoligami namun ia tetap membawa keluarga ke Silo untuk beribadah. Namun apakah benar bahwa keluarga ini memuliakan Tuhan? Ternyata tidak. Terjadi persaingan cinta dan kecemburuan. Penina senantiasa ingin menyakiti Hana. Dikatakan bahwa setiap tahun mereka beribadah dan di saat itu Penina terus menyakiti Hana. Jadi ada dosa di dalam ibadah. Di sini Penina tidak peduli lagi dengan memuliakan Tuhan. Sebaliknya ia memuliakan diri karena ia memiliki anak sedangkan Hana tidak. Apakah mereka menikmati penyertaan Tuhan? Di dalam bagian ini tidak ada suatu penyertaan Tuhan yang mendatangkan damai. Perang dinginlah yang terjadi khususnya ketika Penina merasa bahwa musuhnya adalah Hana namun Hana tidak merasa demikian. Pernikahan yang Tuhan rancang adalah monogami bukan poligami. Dalam Alkitab Allah menyatakan bahwa Adam tidak baik jika seorang diri saja (Kejadian 2:18). Tuhan memberikan seorang penolong bagi Adam. Penolong Adam hanya satu, tidak lebih dari itu. Penolong tersebut juga sepadan dengan Adam. Penolong itu seimbang dalam cara berpikir, merasa, dan bersikap. Kekacauan terjadi di dalam keluarga ketika rancangan monogami Tuhan dilawan dengan adanya poligami. Dalam Perjanjian Baru Tuhan juga menekankan bahwa hanya boleh ada satu suami dan satu istri (monogami). Apa yang dipersatukan Tuhan tidak boleh dipisahkan manusia (Matius 19:6). Di sana tidak dikatakan ‘salah seorang yang dipersatukan Tuhan’. Menjalani monogami saja sudah sulit, apalagi poligami. Jadi dalam kekristenan itu jelas bahwa monogami bukan poligami.

 

Mengapa Penina selalu menyakiti Hana ketika beribadah di Silo? Dicatat bahwa Penina menyakiti Hana pada saat beribadah. Mungkin saja Penina menyakiti Hana di waktu-waktu yang lain namun Alkitab tidak mencatat. Kita bisa bertanya bagaimana Penina menyakiti Hana di sana, karena tempat itu adalah ruang publik. Mungkin Penina menyakiti Hana melalui ibadahnya. Bagaimana sikap Hana menghadapi Penina? Ini adalah hal yang penting. Hana tidak dendam dan tidak membalas perbuatan Penina. Keelokan karakter seseorang terlihat ketika hidupnya teruji melewati setiap kesulitan serta tantangan dan di sana ia menjaga kesucian serta menyatakan kematangan karakternya.

 

 

2) Problematik Kehidupan Hana

 

Di dalam setiap keluarga pasti ada masalahnya masing-masing. Masalah relasi suami-istri pasti ada. Mengapa demikian? Karena kita adalah manusia yang dibesarkan dengan cara pandang, sikap, nilai, dan standar yang berbeda-beda. Di dalam membangun kesatuan di dalam Tuhan, perlu ada seni berkomunikasi. Di sana juga perlu ada seni untuk mengalah, sabar, dan harmonisasi untuk kemuliaan Tuhan. Masalah pasti ada, namun bukan masalah itu yang harus dibesarkan. Solusi-lah yang paling penting. Masalah pertama dalam keluarga Elkana adalah hidup berkeluarga yang poligami. Sebelumnya Elkana pasti meminta izin Hana untuk berpoligami. Saat itu hal itu terlihat wajar namun itu tidak benar. Elkana ingin memiliki anak dan itu adalah keinginan yang baik, namun caranya tidak berkenan di mata Tuhan. Sebelum menikahi Penina, Elkana tidak punya anak. Dengan menikahi Penina, Elkana seolah mendapatkan solusi untuk memiliki anak, namun ada masalah baru yang tidak disadari. Penina melahirkan anak-anak namun Hana tidak. Di dalam konteks budaya saat itu, tidak bisa melahirkan anak adalah suatu aib atau dianggap mendapatkan kutukan. Di sana Hana seperti direndahkan. Inilah mengapa Hana mengalami kesedihan sampai menangis. Ia tidak mau makan karena terus menerus dihina oleh Penina. Kita tidak diberitahu secara langsung bagaimana Penina menghina Hana, namun ada penafsir yang mengatakan bahwa hinaan tersebut disampaikan melalui doa. Mungkin melalui doanya, Penina mengucapkan kata-kata yang merendahkan Hana dan meninggikan dirinya. Kata-kata itu pasti menyakiti Hana. Jadi memiliki anak dalam pernikahan itu serius. Mengaitkan anak kita dengan pimpinan Tuhan itu lebih serius.

 

Dari kedua masalah ini, dalam konteks saat itu, masalah yang paling mudah diselesaikan adalah masalah poligami. Sara memakai cara yang keras dengan mengusir Hagar (Kejadian 21:10). Mengapa Hana tidak memakai cara Sara? Hana pasti tahu cara itu namun ia tidak menggunakannya. Dalam kasus Abraham dan Sara, Sara-lah yang menawarkan Hagar namun Sara jugalah yang mengusir Hagar. Di sini Abraham hanya mengikuti kata istri sebagai suami yang takut istri. Sara memiliki karakter keras. Ia sering memaksakan keinginannya kepada suaminya. Hana tidak demikian. Hana bisa saja melaporkan apa yang Penina lakukan kepada Elkana, namun ia tidak melakukan itu. Meskipun Elkana mencoba menghibur Hana, Hana tetap bersedih. Namun seandainya Hana meminta agar Penina diusir, apakah Elkana akan taat? Kemungkinan besar Elkana akan setuju karena ia sangat mencintai Hana. Mengapa Hana tidak memiliki karakter seperti Sara? Mengapa ia pasif dalam hal ini namun aktif berdoa kepada Tuhan? Itulah keanggunan atau keelokan Hana. Ia tidak melawan atau memberontak namun menyikapi segala hal dengan baik. Ketika kita menghadapi suatu masalah, seharusnya kita berpikir solusi dan memikirkan bagaimana agar masalah itu tidak berkembang atau tidak muncul lagi. Kita dipanggil bukan untuk menciptakan masalah atau hidup dari masalah. Kita dipanggil untuk menciptakan damai. Di surga nanti di mana tidak ada dosa, semua akan begitu damai.

 

 

3) Tersakiti namun Terobati

 

Luka secara fisik bisa disembuhkan jika diobati. Namun bagaimana dengan luka batin? Kita tidak bisa mengukur luka batin dan luka batin tidak mudah untuk diobati. Setiap orang memiliki caranya sendiri dalam menyikapi masalah. Hana memiliki caranya tersendiri. Ia menemukan obat yang paling sejati. Penina selalu menyakiti Hana setiap ibadah di Silo supaya Hana sengsara secara batin. Dalam persaingan cinta itu Penina ingin menjadi pemenang sehingga ia menyakiti Hana. Ia tidak mungkin bisa menyakiti Hana secara fisik, maka ia menyakiti hatinya pada saat beribadah. Niat Elkana itu baik yaitu membawa keluarga beribadah namun ia juga membawa Penina yang menjadi racun. Penina juga tidak bisa meminta agar Elkana mengusir Hana karena Elkana lebih mencintai Hana. Maka dari itu Penina membuat Hana susah hati. Apakah Hana menjadi dendam? Hana tidak dendam kepada Penina (ayat 6-7). Hati Hana begitu sakit namun emosinya tidak meledak. Ia tidak melanjutkan dengan perang kata-kata. Jadi Hana tidak mudah terpancing emosinya untuk membalas dendam. Sebaliknya ia membawa semua itu kepada Tuhan. Hana berdoa dengan Nazar kepada Allah (ayat 11). Bolehkah kita berdoa dengan nazar? Boleh. Bagaimana kita mengetahui apakah suatu nazar mulia atau tidak? Ketika Hana berdoa, Hana Mencurahkan isi hatinya pada Tuhan. Inilah imannya (ayat 15). Ia berdoa meminta seorang anak laki-laki dan ia berjanji bahwa anak itu akan dipersembahkan menjadi hamba Tuhan. Ia menginginkan seorang anak namun ia tidak mau menguasai anak itu. Apa yang ia minta, ia kembalikan kepada Tuhan. Inilah nazar yang mulia. Segala nazar kita harus dikaitkan dengan kemuliaan Tuhan dan pekerjaan Tuhan. Jadi doa yang mengandung nazar adalah doa yang berkaitan dengan penggenapan Kerajaan Allah. Jika doa kita tidak berkaitan dengan Kerajaan Allah, maka doa kita tidak mulia. Doa bukan berbicara mengenai apa yang kita inginkan tetapi berbicara mengenai menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak Tuhan. Doa bukan untuk mengubah waktu dan kehendak Tuhan supaya sesuai keinginan kita. Hana berdoa dan kehendaknya selaras dengan kehendak Tuhan. Jadi Hana mengerti hati Tuhan. Ia memikirkan bagaimana anaknya bisa dipakai dalam rencan Tuhan.

 

Bisakah Hana berdoa meminta lebih banyak anak? Bisa saja, namun kalau ia meminta hal itu maka pasti ada rasa sakit dalam hatinya. Ini karena permintaannya bisa berkaitan dengan hal balas dendam. Permintaan yang tidak murni dan tidak tulus tidak akan menyembuhkan hatinya. Bisakah ia meminta dua anak lalu menyerahkan hanya satu untuk Tuhan? Hana berdoa step-by-step. Ia meminta satu anak dahulu. Kadang kita tidak tahu diri dan meminta banyak hal dari Tuhan demi diri kita sendiri. Tuhan memimpin kita selangkah demi selangkah. Nazar dalam doa Hana adalah nazar yang mulia karena berhubungan dengan kemuliaan Tuhan. Ia memikirkan bagaimana anaknya bisa dipakai Tuhan. Curahan hati Hana di hadapan Tuhan menunjukkan hati dan karakternya. Dalam isi hatinya tidak ada hal yang menjelekkan Penina. Ia tidak meminta dirinya dimengerti secara egois. Kita bisa jatuh ke dalam dosa jika berdoa seperti Penina atau orang Farisi yang menjelekkan pemungut cukai (Lukas 18:9-14). Orang Farisi itu membanggakan kehebatan dirinya dan kerohaniannya di hadapan Tuhan, namun pemungut cukai yang merendahkan diri itulah yang dibenarkan oleh Tuhan. Kita bisa berdosa dalam ibadah jika hati kita tidak lurus di hapadan Tuhan. Seluruh permohonan Hana menunjukkan imannya dan karakternya kepada Tuhan. Ia meminta satu hal dan mempersembahkan hal itu untuk Tuhan. Hana pasti ingin membesarkan Samuel namun ia menyerahkan anaknya kepada Tuhan. Eli tidak bisa mendidik anak dengan baik. Hofni dan Pinehas begitu jahat di mata Tuhan namun Hana tetap beriman dan menyerahkan anaknya. Hana mencari kesembuhan hati dari Tuhan. Ia tidak mencari kepuasan emosi sesaat. Ia mencari solusi dengan mendekatkan diri kepada Tuhan. Di zaman ini banyak orang lebih suka menceritakan masalah di media sosial daripada berdoa kepada Tuhan. Jika kita demikian maka itu berarti kerohanian kita belum matang. Hana percaya kepada Allah sebagai Sumber Penghiburan, Sumber Kekuatan, dan Gembala Agung. Ia berdialog dengan Tuhan agar rahimnya bisa dipakai untuk pekerjaan Tuhan.

 

Memiliki anak dan memiliki visi untuk anak itu bagi Tuhan adalah dua hal yang berbeda. Kuantitas maupun kualitas anak itu penting. Banyak orang Kristen tidak mau memiliki banyak anak karena alasan yang egois. Allah memerintahkan kita untuk beranak-cucu. Semua anak yang Tuhan percayakan harus kita didik dengan kualitas. Hana hanya meminta satu anak namun itu menjadi yang terbaik yang ia persembahkan kepada Tuhan. Hana tersakiti namun terobati karena ia tidak mencoba untuk memuaskan emosi yang tidak suci. Ia tersakiti namun tidak menyakiti orang lain. Ia mendapatkan kesembuhan hati ketika ia datang kepada Tuhan dalam doa.

 

 

4) Disalahmengerti namun Terberkati

 

Setiap orang bisa menafsir hidup kita. Sikap, tindakan, dan doa kita bisa disalahmengerti oleh orang lain. Dalam kasus Hana, Eli salah mengerti dirinya yang sedang berdoa. Eli berpikir Hana sedang mabuk padahal sedang tekun berdoa (ayat 13-14). Jadi Eli berpikir bahwa Hana tidak punya penguasaan diri. Di tengah kesedihan itu Hana menjawab dengan sopan kesalahpahaman Eli (ayat 15). Jadi Hana memiliki karakter yang sopan. Ia sangat lembut. Ia menyelesaikan masalah dengan baik, bahkan ketika orang lain salah mengerti pun ia tetap sopan dan lembut. Masalah yang disikapi dengan hati dan cara yang salah tidak mungkin selesai dengan baik. Orang yang mudah dibawa emosi akan mudah tersinggung sehingga membuat masalah menjadi lebih parah. Hana memiliki kelemahlembutan. Kelemahlembutan merupakan hal yang diajarkan Tuhan Yesus. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi (Matius 5:5). Kelemahlembutan adalah bagian dari kasih yang mendorong kita untuk menyelesaikan masalah dan bukan menambah masalah. Kasih, bukan emosi, harus menjadi dominan dalam penyelesaian masalah. Hana memiliki hal ini. Setelah itu Hana diberkati oleh Eli (ayat 17-18). Orang yang salah mengerti Hana akhirnya memberkatinya. Jadi Hana teruji iman dan karakternya. Hana menjadi wanita teladan. Pria biasanya lebih memakai pendekatan rasio sedangkan wanita lebih memakai pendekatan emosi. Pria biasanya secara langsung menyatakan masalah namun wanita biasanya memakai bahasa tidak langsung. Setelah masalah usai, pria biasanya langsung melupakan namun wanita biasanya masih mengingat. Setelah Hana diberkati oleh Eli, mukanya menjadi berseri dan ia mau makan. Ia tidak lagi terganggu oleh masalah itu. ini karena Hana percaya pada janji Tuhan.

 

 

5) Percaya pada Janji Tuhan

 

Ia menjalani hidup seperti biasa kembali dan menyerahkan masalah itu kepada Tuhan (ayat 19-20). Ia berdoa dengan iman. Kita bisa saja berdoa namun tanpa iman dan itu tidak baik. Hana berdoa dengan iman dan iman itulah, bukan Elkana, yang menyembuhkannya. Masalah itu belum selesai secara fisik namun masalah dalam hatinya sudah selesai. Ketika kita mau mengerti tentang Allah Tritunggal, kita tidak bisa hanya menggunakan rasio. Kita memerlukan iman. Kita membutuhkan iman juga dalam mengerti tentang inkarnasi. Iman harus mendahului rasio kita dalam mengerti kemahakuasaan Allah yang mengatur segala sesuatu. Ketika menghadapi masalah, iman, bukan emosi, harus memimpin kita. Hana dipimpin oleh imannya. Ia tidak pernah merasa ada masalah dengan Penina. Penina-lah yang merasa bermasalah dengan Hana. Keindahan hidup kita adalah karena hidup kita dipimpin oleh iman dan iman itu memimpin kita untuk menyelesaikan setiap masalah. Kita dipanggil untuk menyelesaikan masalah dalam pimpinan Firman Tuhan. Setiap kita memiliki masalah di dalam diri kita yaitu keinginan yang tidak suci. Kita harus menyelesaikan itu dengan bergantung pada Tuhan setiap hari melalui Firman Tuhan dan doa. Kita menjalankan peperangan rohani setiap hari melawan si jahat. Tuhan memberikan ujian iman untuk memurnikan kita namun Setan akan terus mencoba untuk menjatuhkan kita. Kepekaan rohani itu harus kita miliki sehingga kita bisa memenangkan peperangan itu.

 

Iman menjadi kunci kemenangan rohani kita. Iman kita harus bertumbuh dan memimpin kita menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita. Ketika kita mendapatkan kesempatan untuk menjadi berkat di masyarakat, maka kita harus menyatakan kasih Kristus dalam momen itu. Kita tidak memakai cara kekerasan tetapi cara kasih. Allah menyelesaikan masalah dosa dengan cara kasih. Kita pun juga memakai cara demikian. Di sanalah kita menjadi pemenang bagi Tuhan. Hana percaya kepada janji Tuhan, maka dari itu ia bisa pulang dengan tenang. Ia kembali menjalankan kehidupannya secara normal. Mungkin saat itu Penina merasa bingung melihat Hana yang begitu tenang setelah disakiti begitu rupa. Namun itulah cara Hana memberkati Penina dan Elkana. Jika Hana membawa terus masalah itu, maka masalah itu tidak akan selesai dan terus bertambah. Setelah ia percaya akan janji Tuhan, semuanya menjadi beres. Elkana mungkin sadar bahwa dirinya tidak bisa menyembuhkan sakit hati Hana. Setelah Hana berdoa dan tidak muram lagi, Elkana mungkin menjadi mengerti bahwa Tuhan-lah yang menyembuhkan hatinya. Setelah semua itu dalam anugerah Tuhan Hana dapat mempunyai anak yaitu Samuel. Hana memiliki keelokan hati dan karakter. Karena itu ia bisa menjadi pemenang. Masalah dengan Penina diselesaikan dengan baik. Setelah kelahiran anaknya Hana memikirkan bagaimana membawa anak itu kepada Tuhan. Di dalam kesakitannya Hana menyerahkan semuanya ke dalam tangan Tuhan dan ia mendapatkan pertolongan. Tuhan adalah Gembala Agung kita yang selalu setia dan senantiasa menolong kita dengan memberikan hikmat dan pimpinan sehingga kita bisa menangkap apa kehendak Tuhan bagi kita dan keluarga kita di masa depan.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami