Keelokan Iman Hana (1 Samuel 2:1-10, 21)

Keelokan Iman Hana (1 Samuel 2:1-10, 21)

Categories:

Khotbah Minggu 28 Januari 2020 sore

Keelokan Iman Hana

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Ini adalah pembahasan yang terakhir tentang Hana. Pada kesempatan yang lalu kita membahas tentang keelokan karakter Hana. Pada kesempatan ini kita membahas keelokan iman Hana. Kita akan membahas dari 1 Samuel 2:1-10, 21.

 

 

1) Pendahuluan

 

Pernahkah kita berjanji kepada Tuhan dan sampai saat ini belum tergenapi? Hana berjanji dan Tuhan memberikannya anak yaitu Samuel. Di dalam proses waktu ia sangat menyayangi Samuel. Ia membesarkannya sampai pada waktu ia membawa Samuel ke hadapan Eli untuk dijadikan hamba Tuhan. Ini bukanlah hal yang mudah. Apa rahasia kekuatan karakter Hana yang begitu tegar luar biasa? Setelah menghadapi pergumulan dengan Penina, sekarang ia harus memiliki karakter yang kuat. Ia harus melepaskan anak yang diberikan oleh Tuhan. Di sana ia tidak terbawa perasaan tetapi menggenapi janji yang ia telah nyatakan di hadapan Tuhan. Hana dan Elkana pasti menyayangi Samuel, namun mengapa mereka tidak berselisih paham dalam hal menyerahkan Samuel? Mereka menggenapkan janji itu karena iman dan keberanian yang suci. Mereka melihat bahwa Samuel adalah milik Tuhan dan mereka orang tua hanyalah wakil Tuhan. Dapatkah Hana mengubah nazarnya kepada Tuhan? Hana tidak meminta kepada Tuhan agar Samuel berada di sisinya sampai berumur 17 tahun. Ia tidak meminta agar Samuel bertumbuh di keluarganya sampai ia bisa membuat keputusannya sendiri. Apa yang ia pernah janjikan, itu yang dijalankan oleh Hana. Di sana ia mengandalkan Tuhan. Apa yang menggerakan Hana untuk menggenapi janjinya? Pasti iman. Seseorang dinilai dari apa yang diperbuatnya, integritasnya, dan hal terbaik apa yang ia pernah berikan untuk Tuhan. Hana memberikan buah sulung terbaiknya untuk Tuhan. Hana adalah wanita yang menyenangkan, sesuai namanya. Ia memiliki kelembutan dan kesabaran. Ia tidak mudah terpancing emosi yang tidak suci dan tidak menggunakan kata-kata yang tidak membangun. Apakah Allah akan tinggal diam terhadap orang-orang yang taat pada janjinya? Pasti tidak. Setelah menyerahkan Samuel kepada Tuhan, Hana mendapatkan lebih banyak anak. rahimnya diberkati Tuhan sehingga ia melahirkan tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan. Hana tidak pernah meminta hal itu namun Tuhan memberikan.

 

 

2) Janji yang Ditepati

 

Dapatkah Hana mengubah nazarnya kepada Tuhan? Bisa saja. Sebagai seorang manusia ia bisa berdialog dengan Tuhan. Ia bisa saja meminta belas kasihan Tuhan agar Samuel dibiarkan bersamanya sampai Samuel cukup dewasa untuk memutuskan sendiri. Namun mengapa Hana tidak berdoa seperti itu? Karena ia mengerti bahwa doa meminta anak itu bukanlah untuk dirinya sendiri. Doanya bukanlah untuk menyenangkan Elkana atau untuk berkompetisi dengan Penina. Melalui doanya ia ingin menunjukkan bahwa Allah itu hidup dan beserta dengan dirinya. Anak yang didapatkannya langsung diberikan kepada Tuhan sebagai buah sulung. Ini menunjukkan bahwa Hana mengerti bahwa Samuel adalah anugerah dan pertolongan Tuhan. Ia sadar bahwa anaknya yang laki-laki itu bisa dipakai untuk pekerjaan Tuhan. Itu pun karena pertolongan Tuhan. Di sini Hana menunjukkan integritasnya. Apa yang ia janjikan, itu yang ia tepati. Apa yang diberikan kepadanya, ia tidak terikat dengan itu. Setelah Samuel diberikan kepada Eli, ia berdoa dengan sukacita dan memuji Tuhan. Ketika kita menyerahkan anak kita untuk pekerjaan Tuhan, mungkin kita bisa merasa sedih. Hana tidak sekalipun meminta agar ia diberikan penghiburan dan kekuatan ketika menyerahkan Samuel. Doanya sepenuhnya menyatakan kebesaran Tuhan. Ia mengenal kedaulatan dan otoritas Tuhan. Seharusnya ia bersedih karena harus berpisah dengan Samuel, namun ternyata ia dengan sukacita memuji Tuhan. Teologi doanya begitu tepat. Jadi iman Hana dalam mengenal Tuhan itu begitu jelas sehingga ia tidak berani mengubah nazar itu. Perasaannya tidak terikat pada Samuel sehingga ia tidak mengingkari janjinya.

 

Di sini kita mengerti bahwa Hana dan Elkana memiliki harta yang paling berharga yaitu iman. Iman memimpin keputusan mereka dalam menyerahkan Samuel kepada Tuhan. Harta yang paling berharga dalam keluarga adalah iman. Iman tidak boleh dikompromikan. Harga diri sebagai anak Tuhan dan integritas kita juga tidak boleh dikompromikan. Iman memimpin mereka untuk bernazar, membesarkan Samuel, dan menyerahkan Samuel. Jadi iman memimpin rasio dan perasaan mereka. Iman yang mengenal Tuhan memimpin hidup mereka. Hati Hana begitu bersukacita. Maria ibu Yesus juga menaikkan doa sukacita ketika diberitahu bahwa rahimnya dipakai oleh Tuhan. Doa mereka mengandung suatu terobosan. Terobosan itu ada karena iman. Harta dunia bisa habis, namun iman itu kekal. Iman itulah yang paling berharga di dalam keluarga. Harta keluarga yang lain yang juga berharga adalah komitmen. jika di dalam keluarga tidak ada komitmen untuk saling mengasihi, bekerja sama, dan saling membangun, maka keluarga itu pasti hancur. Elkana dan Hana sudah berkomitmen untuk menyerahkan samuel kepada tuhan. Hana menyatakan integritas dan tanggung jawabnya dalam hal itu. Ketika Hana mengambil keputusan itu, Elkana tidak berdebat. Ia tidak menggunakan otoritasnya sebagai kepala keluarga untuk menggagalkan rencana Hana. Ini karena Elkana percaya kepada Hana. Dari awal Hana sudah menceritakan segala hal itu kepada Elkana. Dalam hal itu Elkana setuju dan rela.

 

Komitmen membuat kita rela untuk menjalankan tanggung jawab kita. Ada dua macam komitmen yaitu tertulis dan tidak tertulis. Komitmen yang tertulis misalnya MoU (Memorandum of Understanding). Komitmen yang tidak tertulis misalnya tujuan dan perencanaan dalam relasi pacaran. Komitmen cinta itu membuat kedua pihak rela untuk bertemu. Anak Tuhan yang memiliki komitmen akan terus melayani tanpa hitung-hitungan. Ia terus bisa diandalkan dalam tanggung jawabnya. Dalam zaman ini tidak mudah untuk menemukan orang yang benar-benar berkomitmen. Ketika memilih pasangan, kita jangan sampai memilih orang yang tidak punya komitmen atau belum teruji komitmennya. Keluarga bisa kuat karena memiliki komitmen kesucian, pengorbanan, dan lainnya. Komitmen dibangun di atas dasar iman yang mengenal Tuhan. Komitmen itu bertumbuh ketika kita mau rela untuk hidup kita dipakai oleh Tuhan. Orang yang merasa berkorban setelah berkorban berarti belum berkomitmen. Orang Kristen yang masih hitung-hitungan dalam pelayanan adalah orang yang belum berkomitmen. Orang Kristen tidak mau melayani karena tidak punya komitmen. Elkana dan Hana percaya bahwa Allah itu hidup, berdaulat, dan sanggup memelihara keluarga mereka. Inilah mengapa doa Hana penuh dengan sukacita. Ia mengandalkan Tuhan, bukan kekuatan manusia. Ia mengakui bahwa Tuhan-lah yang mematikan, menghidupkan, dan mengangkat manusia. Ia percaya bahwa Tuhan-lah yang membuat miskin atau kaya. Ia tahu bahwa Tuhan-lah empunya kekuasaan. Komitmen adalah harta kita. Itulah mengapa orang tua harus mengajarkan iman dan komitmen kepada anak.

 

Harta ketiga yang juga berharga adalah kejujuran. Mengapa Hana sudah menceritakan semua itu kepada Elkana dari awal? Di dalam pergumulan itu ia melibatkan Tuhan dan suaminya. Di dalam rumah tangga, masalah tiga menit bisa menghancurkan masa depan keluarga selama dua puluh tahun. Ada seorang suami yang ketahuan berelasi dengan wanita lain. Dalam hitungan waktu tiga menit, keluarganya menjadi hancur: istrinya hancur dan begitu pula anaknya. Saat anaknya sedang studi di luar negeri, ia mendengar bahwa ayahnya berelasi dengan perempuan lain. Hal itu benar-benar mengganggu studinya. Pernikahan yang sudah dibangun selama 22 tahun juga menjadi hancur karena perselingkuhan selama tiga menit itu. Dosa yang disembunyikan itu menghancurkan keluarga Kristen. Inilah yang terjadi ketika kita mempermainkan Tuhan. Dalam doa Hana ia menyebutkan bahwa orang sombong tidak boleh membanggakan dirinya karena Tuhan itu maha tahu dan Ia bisa mengangkat orang-orang yang terhina. Manusia bisa menipu manusia lainnya namun Tuhan tidak bisa ditipu. Dalam kasus yang lain, ada sebuah keluarga yang hancur karena terjadi perselingkuhan dengan rekan kerja. Pernikahan yang sudah dibangun selama 12 tahun menjadi hancur karena dosa itu. Di sini kita harus berhati-hati. Kita harus jujur kepada hati nurani kita dan Tuhan. Hidup kita harus terbuka untuk menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita. Hidup kita harus terbuka untuk dibaca oleh Tuhan, Firman Tuhan, dan orang-orang di sekitar kita. Di sana kita memiliki kejujuran dan kerohanian kita terpancar. Kita tidak boleh mempermainkan Tuhan dan orang lain. Daud merasa dirinya bisa memakai kuasa dan menipu orang lain setelah berzinah dengan Batsyeba. Ketika nabi Natan diutus untuk membongkar dosa Daud yang tersembunyi, Daud langsung menyesal. Terkadang keadilan Tuhan itu menyakitkan, namun rencana-Nya selalu mengandung damai sejahtera. Jadi kita tidak boleh bermain-main dengan Tuhan.

 

Elkana dan Hana tidak berdebat dan tidak meminta upah dari Tuhan karena sudah menyerahkan Samuel. Mereka menyerahkan Samuel dalam komitmen dan kejujuran. Tidak hanya Samuel, Hana juga memberikan pakaian untuk pelayanannya. Di sana Hana memberikan dengan rela dan jujur, tidak mengharapkan imbalan. Bagaimana kita bisa membangun kejujuran? Kejujuran kita dibangun berdasarkan pengenalan kita akan Allah yang maha tahu, maha hadir, dan maha kuasa. Kejujuran adalah bagian dari integritas hidup kita yang menunjukkan bahwa kita disertai oleh Tuhan. Dari tiga wanita yang sulit memiliki anak dalam Alkitab, yang paling anggun dalam menyelesaikan masalah adalah Hana. Sarah kurang anggun dalam hal ini karena ia menganjurkan Abraham tidur dengan Hagar. Rahel merengek-rengek meminta anak dari Yakub. Ia tidak bergumul dengan jujur di hadapan Tuhan. Karakter dan iman Hana begitu anggun. Ia tidak menyalahkan orang lain dan tidak merengek-rengek. Ia jujur di hadapan Tuhan tentang segala hal. Kejujuran adalah harta yang mahal. Ini harus diajarkan kepada anak dari sejak dini. Ketika kita mengajarkan anak untuk berbohong, sebenarnya kita sedang meracuni anak kita. Anak yang disesatkan pada akhirnya bisa menyesatkan banyak orang lain. Pengaruh negatif itu bisa dengan mudah disebarkan. Kita harus terbuka di hadapan Tuhan yang paling mengerti apa yang terbaik untuk kita.

 

Harta keempat yang juga berharga adalah hati yang takut akan Tuhan. Kita harus takut dibuang, tidak disertai, dan tidak dipakai oleh Tuhan. Itu adalah ketakutan yang suci. Jika kita hanya takut sakit, takut miskin, takut gagal dalam usaha, maka ketakutan kita itu belum tentu suci. Ayub diizinkan oleh Tuhan mengalami penyakit yang begitu hebat karena salah mendidik anak. Ketiga temannya menyalahkan Ayub. Elihu memberikan nasihat yang baik sampai Tuhan menyatakan diri-Nya dan Ayub pun bertobat. Ketika Tuhan sedang membangun keluarga Ayub, anak-anaknya juga mendapatkan konsekuensi. Ini karena anak-anaknya tidak hidup takut akan Tuhan. Anak-anaknya hidup dalam pesta pora. Hofni dan Pinehas adalah dua anak Eli yang sangat tidak terdidik. Ada yang menyatakan bahwa dua anak itu terhilang dalam karakter, iman, dan identitas. Ini begitu menakutkan. Eli adalah hamba Tuhan namun anak-anaknya menjadi hamba dosa. Inilah mengapa kita harus berhati-hati. Setan bisa menggoda diri kita, pasangan kita, anak-anak kita, dan keluarga besar kita sampai keluarga kita jatuh. Eli terlalu sibuk dalam pelayanan namun tidak memberikan waktu untuk mendidik anak. Di sisi lain kita tidak boleh terlalu fokus pada anak sampai tidak melayani Tuhan. Dalam bagian ini anak menjadi ilah yang baru bagi kita. Hati yang takut akan Tuhan adalah kunci untuk mengerti hikmat Tuhan. Inilah pesan Salomo dalam kitab Amsal dan Pengkhotbah. Hati yang takut akan Tuhan adalah kunci untuk mengerti hati Tuhan, kesucian-Nya, dan kehendak-Nya untuk kita laksanakan. Jika kita tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan, maka kita tidak akan bisa mengerti pimpinan Tuhan. Elkana dan Hana takut akan Tuhan sehingga mereka mengerti apa yang terbaik untuk Samuel dan keluarga mereka dalam pimpinan Tuhan. Di sini Elkana dan Hana sadar bahwa janji mereka harus ditepati. Kita menginjili karena hutang jiwa. Dalam belas kasihan Tuhan kita harus membawa jiwa-jiwa kembali kepada Tuhan. Setiap dari kita pernah berjanji dan janji itu mulia jika dikaitkan dengan Tuhan.

 

 

3) Ketika Allah seperti Terdiam Hana Semakin Tekun Berdoa

 

Ayub melihat Tuhan yang seperti terdiam. Ia bergumul dengan kemiskinannya, rasa sakitnya, dan teman-temannya. Dalam bagian itu ia jatuh. Konsepnya yang salah tentang Tuhan itu dibukakan. Elihu melihat hal itu dan ia menegur Ayub. Setelah itu Ayub baru sadar ternyata Allah tidak berdiam diri dan sedang menopang hidupnya. Penina terus menerus menyakiti hati Hana namun Hana tidak menyelesaikan itu dengan emosi. Ia memakai pendekatan rohani. Di sana ia menunjukkan bahwa ia dekat dengan Tuhan. Kapan Hana menang secara iman? Sebelum atau setelah mendapatkan anak? Sebelum ia mendapatkan anak, Hana sudah menang atas setiap serangan Penina. Hana bisa saja membalas dengan menghina Penina, namun ia tidak melakukan itu. Jiwa Hana begitu anggun. Ia memiliki kesabaran yang luar biasa. Ia mencari solusi dari Tuhan. Ia dekat dengan Tuhan, bukan gejolak emosi yang tidak suci. Iman Hana tidak pernah menyerah dengan keberadaan dirinya dan di luar dirinya, seperti yg tidak diharapkannya. Hana dihina oleh Penina karena tidak memiliki anak, namun Hana terus berdoa. Semakin sering Hana dihina, semakin ia mendekat kepada Tuhan. Terkadang Tuhan mengizinkan keberadaan orang-orang yang menyakiti hati kita untuk menguji ketegaran hati kita. Jika kita hanya menerima pujian, maka karakter kita tidak akan terbentuk. Ketika mendidik anak, kita tidak boleh hanya memberikan pujian tetapi tidak menegur kesalahannya. Anak yang dibesarkan hanya dengan pujian akan memiliki mental yang lemah. Di zaman ini, ada lebih banyak anak yang memiliki kecenderungan untuk bunuh diri. Ini karena mental yang lemah. Maka dari itu kita harus melatih mental anak-anak kita. Mental yang kuat itu harus berdasarkan iman. Apa yang membuat Hana tidak pernah menyerah? Iman yang percaya kepada Allah yang memberikan kematian dan kehidupan serta kebangunan. Abraham juga memiliki iman kepada Allah yang sanggup menghidupkan orang mati. Mereka tidak pernah mendengar tentang kebangkitan Yesus, namun iman mereka melampaui zaman mereka. Mereka sungguh-sungguh mengenal siapa yang mereka sembah. Doa Hana tidak berfokus pada manusia tetapi pada Allah.

 

Iman Hana selalu terarah pada Tuhan ketika ada pergumulan dan sebaliknya (1 Samuel 2:1-10). Ketika ia dihina, Hana selalu mengarahkan hatinya kepada Tuhan. Ia tidak bersungut-sungut dan menceritakan hal itu kepada orang-orang. Ia langsung bergumul di hadapan Tuhan. Ia tidak meminta pembelaan manusia tetapi meminta solusi dari Tuhan. Ia tidak melapor kepada Elkana dan meminta pembelaannya. Jadi Hana mau mengutamakan Tuhan dan mau memeras hati dalam pergumulan itu. Setelah mendapatkan anak pun Hana tetap mengarahkan hatinya kepada Tuhan. Ia tidak pernah melupakan Tuhan. Ia selalu konsisten dalam memegang janji Tuhan dan melibatkan Tuhan. Jika kita semua punya iman dan karakter seperti Hana, maka itu pasti sangat baik. Hana selalu memberikan yang terbaik dan selalu bersandar pada Tuhan. Iman yang memimpin sukacita Hana untuk memuliakan Allah walaupun terpisah dari Samuel (1 Samuel 2:1-10). Secara umum, seorang ibu pasti bersedih ketika harus berpisah dengan anaknya. Namun mengapa Hana bisa bersukacita? Maria bisa bersukacita karena malaikat Tuhan sudah datang dan memberikan pesan Tuhan kepadanya. Hana tidak mengalami hal itu. Ini karena iman memimpin pikiran dan perasaan Hana. Pada akhirnya iman memimpin keputusannya. Ketika kita berdoa, kita seharusnya meminta bukan untuk keuntungan kita semata tetapi terutama untuk kemuliaan Tuhan. Jadi doa kita harus teosentris dan bukan antroposentris. Segala permintaan kita harus dikaitkan dengan kemuliaan Tuhan, seperti Hana. Iman memimpin sukacita Hana untuk kemuliaan Tuhan. Ia tidak melankolis. Iman kita harus memimpin perasaan kita. Dalam segala proses yang dijalani Hana, hatinya menjadi siap karena imannya. Ketika kita tidak siap hati, kita bisa menjadi sedih. Maka dari itu kita harus senantiasa mempersiapkan hati dalam iman. Hana sudah mempersiapkan hatinya dalam iman dari sejak awal. Allah senantiasa memimpin dan menyertai Hana dalam setiap proses yang dijalaninya

 

 

4) Berkat Allah yang Tersembunyi (Misteri) untuk Hana

 

Hana diberkati rahimnya, memiliki tiga anak laki-laki lagi dan dua anak perempuan (1 Samuel 2:21). Hana tidak pernah meminta hal ini dari Tuhan. Ia tidak pernah meminta imbalan setelah menyerahkan Samuel kepada Tuhan. Hana tidak menganut teologi sukses. Dalam teologi sukses diajarkan bahwa jika seorang Kristen mempersembahkan sedikit, maka Tuhan akan mengembalikan berkali-kali lipat. Tuhan dibuat berhutang kepada orang-orang yang memberikan persembahan. Sebenarnya persembahan kita berikan bukan dengan konsep take and give. Dalam Perjanjian Lama, ketika korban persembahan itu sudah habis terkabar, maka itu sudah habis. Ketika Hana menyerahkan Samuel, ia tidak hitung-hitungan dengan Tuhan. Ia tidak berdoa meminta anak lagi namun Tuhan memberkatinya sehingga ia mendapatkan anak lagi. Ini adalah berkat yang tersembunyi untuk Hana. Tuhan tidak tinggal diam terhadap orang-orang yang taat. Tuhan selalu menyertai orang-orang yang berkenan kepada-Nya. Ketika kita menggenapkan ketaatan kita, Tuhan bisa memberikan apa yang kita tidak minta. Ketika doa dan ketaatan Hana teruji, Tuhan memberikan berkat baginya. Doa Hana menyatakan kedaulatan dan otoritas Tuhan atas segala sesuatu. Di dalam setiap doa kita harus melibatkan Tuhan dan mengaitkan permohonan kita dengan kemuliaan Tuhan. Setelah bagian ini kisah Hana tidak diceritakan lagi. Ada catatan yang menyatakan bahwa Elkana lebih dahulu meninggal. Ini berarti Hana sempat menjadi janda. Ada penafsir yang menyatakan bahwa Elkana meninggal tujuh tahun setelah kisah ini. Ini berarti Hana harus membesarkan anak-anaknya tanpa suaminya. Kita tidak menganggap ini sebagai tafsiran yang benar-benar tepat karena Alkitab tidak mengonfirmasikan hal itu. Iman harus senantiasa memimpin pikiran, perasaan, doa, dan keputusan kita di dalam setiap pergumulan. Tuhan tidak mungkin salah dalam memimpin kita. Pimpinan-Nya tidak pernah mengecewakan. Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita dan keluarga kita.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami