Kebahagiaan Orang yang Berjalan dalam Kekuatan-Nya (Mazmur 84:6-8)

Kebahagiaan Orang yang Berjalan dalam Kekuatan-Nya (Mazmur 84:6-8)

Categories:

Khotbah Minggu 15 Maret 2020 Pagi

HUT ke-13 GRII Cikarang

Kebahagiaan Orang yang Berjalan dalam Kekuatan-Nya (Mazmur 84:6-8)

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

Kita sudah berada di sini selama 13 tahun. Waktu berlalu begitu cepat. Banyak peristiwa terjadi dan banyak pengalaman rohani diizinkan oleh Tuhan. Di dalam semua itu Tuhan mengajarkan kita untuk bergantung pada-Nya hari demi hari. Iman kita harus terus bertumbuh dan berkembang. Kita memohon kekuatan dari Tuhan bagi Gereja-Nya. Kita akan melihat Firman Tuhan dari Mazmur 84:5, Yeremia 9:23, Mazmur 127:1, dan Kisah Para Rasul 20:35. Ada orang-orang yang bermegah akan kebijaksanaannya namun pada akhirnya mereka jatuh. Nebukadnezar mengandalkan kekuatannya namun pada akhirnya kerajaannya ditaklukkan. Banyak pemimpin mengandalkan kekayaannya, namun pada akhirnya semua itu sia-sia. Kita harus membangun keluarga kita dalam kekuatan Tuhan. Ia-lah yang melindungi kita. Sebagai anak-anak Tuhan, kita tidak boleh menabur kekhawatiran dan kekacauan. Sebaliknya, kita harus menabur pengharapan akan kekuatan di dalam Tuhan. Orang yang memberi lebih berbahagia daripada orang yang menerima. Kita memberi bukan hanya uang tetapi juga perhatian, pikiran, tenaga, kata-kata yang baik, dan pengalaman kita. Jika semua itu kita berikan dengan tulus, maka Tuhan pasti berkenan.

 

 

1) Pendahuluan

 

Apa itu bahagia (blessed)? Apa artinya sungguh-sungguh diberkati oleh Tuhan? Ada gereja-gereja yang berorientasi pada kesenangan jemaat. Para pemimpinnya tidak mau membicarakan soal dosa atau teguran dari Tuhan. Mereka mau semua jemaat tersenyum, namun mereka tidak pernah mementingkan kekudusan. Ada banyak pengkhotbah dalam sejarah yang tidak benar-benar menyampaikan kehendak Tuhan secara utuh dari Alkitab. Mereka hanya menyampaikan apa yang menyenangkan dan apa yang menarik perhatian orang-orang secara umum. Mereka semua memberitakan tentang kebahagiaan duniawi. Pada akhirnya kebenaran Tuhan diabaikan dan Gereja Tuhan dipermainkan. Di sana ada investasi Setan yang pada akhirnya begitu menghancurkan. Kita akan merenungkan tentang kebahagiaan yang memang merupakan berkat Tuhan, bukan berkat dunia. Dari mana sumber kebahagiaan seseorang? Kita harus mengerti hal ini agar kita tidak menjadi Kristen yang ternyata isinya hedonisme, teleologisme, atau eudaimonisme. Apakah benar kebahagiaan tergantung kepuasaan indra (sense – hedonisme)? Benarkah kebahagiaan karena tujuan akhir yang tercapai (eudaimonisme)? Apa kata Alkitab tentang bahagia?

 

 

2) Kebahagiaan Dunia (Semu)

 

Kita bisa melihat kebahagiaan dunia yang semu dalam eudaimonisme. Penganut paham ini berpikir bahwa menjadi orang baik atau bermoral saja sudah cukup untuk mencapai kebahagiaan. Pengajaran ini berasal dari Socrates, Plato, dan Aristoteles. Kebahagiaan yang dipahami adalah kebahagiaan yang bukan berasal dari luar tetapi dari menjadi orang yang lebih baik daripada orang lain. Menurut mereka, menjadi orang baik pasti melibatkan tuntutan hati nurani dan rasio. Ini semua terdengar baik. Namun masalahnya rasio kita sudah jatuh dalam dosa. Ketika kita memang terlihat lebih baik, rasio kita bisa menyombongkan dirinya. Kita bisa merasa lebih superior dalam hal moral dan ini adalah dosa kesombongan. Menjadi baik bukanlah suatu kompetisi. Sebagai orang Kristen kita harus memikirkan tentang kehidupan sebagai orang Kristen dan kematian sebagai orang beriman.

 

Kita juga bisa melihat konsep kebahagiaan yang semu dalam hedonisme (indra). Hedonisme berkembang di Amerika terutama dalam budaya populernya dan Hollywood. Mereka sering berbicara mengenai kepuasan indrawi. Namun semua kepuasan itu bisa memperbudak kita. Orang-orang yang hedonis tidak memikirkan orang lain. Mereka hanya memikirkan diri sendiri. Kebahagiaan indrawi sesungguhnya tidak akan bertahan selamanya. Itu tidak memberikan kebahagiaan jiwa karena tidak pernah sampai ke dalam jiwa kita.

 

Kita juga bisa melihat konsep kebahagiaan yang semu dalam teleologi (tujuan akhir). Ada orang yang senang setelah musuhnya dibunuh. Saul benar-benar bersikeras ingin membunuh Daud. Ada orang-orang yang merasa bahagia setelah mencapai semua mimpinya. Ada orang-orang yang berinvestasi pada barang-barang yang begitu mahal. Mereka berkompetisi dan juga mengoleksi semua itu. Semua ini mereka lakukan untuk kepuasan diri. Namun kebahagiaan mereka sungguh semu adanya. Kita harus berhati-hati ketika fokus dari semuanya adalah diri kita sendiri. Ada orang-orang Kristen yang melakukan investasi besar pada barang-barang yang sangat mahal, namun mereka rela banyak memberi untuk pekerjaan Tuhan. Ada yang memandang kebahagiaan sebagai proses dan ada yang memandang sebagai akhir. Ada orang yang bermimpi untuk tinggal di sebuah pulau pribadi di masa tuanya. Mimpi ini tidak salah jika pulau itu tidak ia pakai untuk dirinya atau keluarganya sendiri. Jika ia bisa menyiapkan pulau itu untuk pekerjaan-pekerjaan Tuhan, maka itu sangat baik. Intinya adalah kita tidak boleh egois.

 

Kita harus berhati-hati terhadap konsep-konsep kebahagiaan yang semu ini. semua itu bisa menjebak kita dalam kekosongan.

 

 

3) Kebahagiaan di dalam Tuhan

 

Apa kata Alkitab mengenai kebahagiaan? Pertama Alkitab mengatakan bahwa kita harus memiliki karakter rohani (Matius 5:3-11) yaitu miskin di dalam roh (ayat 3), berdukacita di dalam Tuhan (ayat 4), lemah lembut (ayat 5), lapar dan haus akan Firman Tuhan (ayat 6), murah hatinya (ayat 7), suci hatinya (ayat 8), membawa damai (ayat 9), menderita karena kebenaran (ayat 10), dan menderita karena Kristus (ayat 11). Ini semua berasal dari dalam ke luar. Kebahagiaan bukanlah berasal dari luar ke dalam. Kekuatan kita sendiri terbatas adanya dan bisa membawa ke dalam kesombongan. Maka dari itu kita harus memiliki karakter rohani di dalam Kristus. Kita harus memiliki perasaan miskin dalam roh. Kita juga harus memiliki air mata untuk jiwa-jiwa yang belum kembali kepada Tuhan. Di dalam situasi seperti sekarang, kita harus bisa menjadi saksi untuk mengarahkan orang-orang melihat kepada Tuhan dan bukan penyakit. Kita harus memberitakan kabar baik dan bukan kabar buruk. Kita percaya akan kedaulatan Allah. Hidup dan mati kita ada di tangan Allah. Kita juga harus memiliki hati yang mau diajar dan mau dibentuk oleh Tuhan. Kepekaan untuk melihat pimpinan Tuhan harus kita miliki. Kita bukan agen kekacauan atau kepanikan. Kita harus siap untuk menderita bagi Tuhan. Sembilan karakter rohani yang ditulis di atas merupakan kebahagiaan kita. Itu semua adalah kekuatan yang mendorong kita untuk beribadah kepada Allah. Mereka yang memiliki karakter ini akan senantiasa menang atas dosa. Pada akhirnya Tuhan dipermuliakan. Jadi kita harus mengerti apa yang kita seharusnya kejar. Kebahagiaan kita bukanlah karena apa yang kita miliki. Kita berbahagia karena memberi dan bukan karena menerima (Kisah Para Rasul 20:35). Kita memiliki iman, ketaatan, dan tanggung jawab. Itulah karakter kita. Ada orang-orang yang berpikir bahwa banyaknya barang yang dimiliki itu bisa menjamin kebahagiaan. Namun itu semua semu. Kita belajar bahwa yang memberi itu lebih berbahagia daripada yang menerima. Kita memberi agar orang-orang dapat melihat kasih Tuhan. Pujian bukanlah tujuan kita. Kita harus berhati-hati terhadap sikap haus pujian. Semua yang kita lakukan adalah untuk kemuliaan Tuhan.

 

Pdt. Stephen Tong telah menjadi teladan yang sungguh baik dalam hal memberi. Sebagian dari semua yang dikumpulkannya dengan susah payah disimpan di museum agar semua orang yang ke sana dapat menikmati. Ia juga memberikan hadiah kepada para hamba Tuhan yang terus setia melayani. Namun ia tidak pernah meminta pujian atau balas budi. Semua itu juga ia lakukan untuk memberikan edukasi bagi banyak orang. Tuhan Yesus memberikan bahkan diri-Nya untuk keselamatan kita. Dalam Roma 12:1 kita diajarkan untuk memberikan diri kita. Kita berbahagia karena kita memberi apa yang kita punya untuk pekerjaan Tuhan. Apa kita berikan itu adalah untuk Kerajaan Allah. Jadi kita harus memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Kita mungkin merasa tidak memiliki banyak harta sehingga tidak bisa mempersembahkan banyak uang bagi Kerajaan Allah. Namun kita harus berbagian dan kita harus memberi dengan hati yang tulus. Tuhan bukan melihat jumlah yang dipersembahkan tetapi melihat hati kita yang terdalam. Di tengah situasi yang meresahkan seperti sekarang pun kita harus belajar memberi.

 

Kebahagiaan kita adalah karena kekuatan dan hasrat kita selaras dengan Kerajaan Tuhan (Mazmur 84:5). Motivasi kita yang paling utama haruslah untuk Kerajaan Allah. Kita boleh berkompetisi dan kita boleh ingin sukses, namun itu semua tidak boleh menjadi yang utama. Yeremia sudah mengingatkan kita agar tidak bermegah dalam kekuatan, kebijaksanaan, dan kekayaan manusia. Semua keinginan kita harus sinkron dengan Kerajaan Allah. Itulah kebahagiaan kita. Harta kita yang terbesar adalah keselamatan yang kita terima dari Tuhan. Uang bisa hilang, namun keselamatan kita itu kekal. Jika kita bergantung pada uang, maka ketika uang itu hilang kita akan menjadi depresi. Namun jika kita bergantung pada Tuhan, maka Tuhan tidak akan pernah mengecewakan kita. Di beberapa negara, salah satunya Tiongkok, ada sekumpulan orang yang berjiwa sungguh nasionalis. Mereka tidak mengharapkan gaji ketika menolong negara mereka keluar dari masalah penyakit mewabah. Sebagai anak-anak Tuhan kita seharusnya bisa bertindak lebih dari itu. Orang yang mengandalkan kuasa Tuhan tidak akan mengandalkan diri sendiri (Yeremia 9:23 & Mazmur 127:1-2). Pemeliharaan Tuhan itu begitu ajaib. Kita tidak perlu takut karena Tuhan menyertai kita. Orang yang berbahagia adalah orang yang mengutamakan Tuhan dan menikmati pimpinan Tuhan. Dari wabah penyakit kita juga diingatkan untuk mengutamakan Tuhan lebih dari apapun. Iman kita harus melebihi kekhawatiran kita. Takut akan Allah (bandingkan Yeremia 17:5, 23:10) itu indah, tidak seperti takut akan penyakit. Pengalaman kita dan kepintaran kita akan menjadi sia-sia jika kita tidak takut akan Allah. Takut akan Allah mendorong iman dan perjuangan kita.

 

Kebahagiaan orang percaya adalah karena hidupnya dipakai Tuhan (Efesus 2:10 dan 2 Timotius 2:21). Jika kita yang kecil dan terbatas ini boleh dipakai oleh Tuhan, maka itu adalah kebahagiaan yang besar. Bagaimana kita bisa blessed in Christ (diberkati dalam Kristus)? Pertama karena kita memiliki karakter rohani (Matius 5:3-11). Kedua karena memberi daripada menerima (Kisah Para Rasul 20:35). Kita memberi untuk menyatakan kasih Tuhan. Ketiga karena kita memiliki kekuatan dan hasrat kita selaras dengan Tuhan (Mazmur 84:5). Terakhir karena hidup kita dipakai Tuhan (Efesus 2:10; 2 Timotius 2:21). Semua yang kita miliki harus kita persembahkan kepada Tuhan. Kita harus berjuang dan mempersiapkan generasi selanjutnya untuk terus beribadah kepada Tuhan. Apa yang kita kerjakan mengandung nilai kekal. Kita bahagia karena kita berbagian dalam Kerajaan Allah yang kekal.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).

Bitnami